Jurnal Kebebasan: Akal dan Kehendak
Volume II Edisi No. 66, Tanggal 2 Februari 2009
Oleh: Admin
Sekali lagi Friedrich Naumann Stiftung der Freiheit (FNS) Jakarta menerbitkan buku baru: Membela Kapitalisme Global. Ini terjemahan sebuah best-seller yang cukup terkenal dan telah diterjemahkan ke dalam banyak bahasa di dunia-In Defense of Global Capitalism, karya pemikir muda kelahiran Swedia, Johan Norberg.
Ada [...]
Tragedi of the Commons adalah tragedi khas yang muncul akibat sikap aji mumpung manusia, ketika kondisi kepemilikan properti tidak terdefinisikan dengan jelas, atau gagal ditegakkan dengan baik, sehingga orang cenderung termotivasi untuk memuaskan keinginannya dalam jangka pendek dan mengabaikan sama sekali kepuasannya di masa mendatang. Tragedi ini muncul ketika sistem penyelenggaraan properti yang berlaku di masyarakat sedemikian rupa sehingga pihak-pihak yang terlibat mendapat insentif untuk bertindak, meski tetap rasional, seolah tidak ada hari esok….
Isu sentral sosialisme, komunisme, kapitalisme, anarkisme, libertarianisme, etatisme, dirigisme, dan isme-isme lainnya berpusat pada konsep satu ini. Kemajuan peradaban bangsa-bangsa di dunia bermula dari sini; dan sebaliknya, hampir semua krisis berdarah yang menghancurkan capaian peradaban manusia, dari jaman prasejarah hingga pasca-kolonialisme, juga berawal persis dari persoalan tentangnya. Di Indonesia, berbagai konflik yang telah dan akan terus meletus di sepanjang eksistensi bangsa ini, yang kadang tampil dan dimaknai secara artifisial atau mewujud dalam konfik-konflik berparas SARA, isu-isu demokrasi/demokratisasi, atau dikotomi nasionalisme/internasionalisme, muncul tepat dari isu fundamental ini. Dengan kata lain, jika kita berhasil membenahi urusan satu ini, maka beribu bahkan berjuta konflik yang mengiringinya dapat terpecahkan dengan mudah, bahkan mungkin dengan sendirinya.
Halo, apa kabar? Semoga hari ini Anda berada dalam kondisi sehat atau jauh lebih sehat dari sebelumnya.
Melalui artikel ini, untuk pertama kalinya Akal & Kehendak bermaksud melakukan survei kecil, atau tepatnya brainstorming, tentang akibat/manfaat penggunaan ponsel (telepon seluler; handphone) dan kepemilikan sepeda motor. Survei kecil ini direncanakan berlangsung hingga akhir Agustus 2008.
Seperti telah umum [...]
Saya teringat betapa almarhum ayah saya sangat anti terhadap petasan. Sejak kecil saya tahu bagi beliau petasan termasuk satu bentuk penyiaan. Yang tidak diketahu beliau (hingga beberapa saat) adalah bahwa salah seorang anaknya justru menjadi penjual petasan di lingkungan tempatnya tinggal. Kalau saya ingat-ingat lagi sekarang, anaknya ini boleh tersebut penjual petasan paling laris di wilayahnya.
Waktu itu saya masih kelas 5 SD; jam sekolah dimulai siang, sekitar jam 12, hingga petang. Setiap subuh saya berjalan kaki bolak-balik sekitar 20 km ke daerah Tanah Abang untuk belanja petasan dan kembang api. Paginya, setelah ayah berangkat kerja, saya menjajakan dagangan tersebut di depan rumah.
Oleh: Sukasah Syahdan
Jurnal Kebebasan: Akal dan Kehendak
Vol. II, Edisi 28, Tanggal 05 Mei 2008
Hilangnya rimba belantara digantikan kota besar dengan segala kenyamanan yang ditawarkan pada dasarnya tidak mengubah karakter sejati kehidupan, tapi hal ini tidak jarang kita lupakan.
Sejak ratusan abad silam hingga di jaman sekarang dan juga kelak di abad-abad mendatang, semua makhluk hanya bisa [...]
Oleh: Sukasah Syahdan
Jurnal Kebebasan: Akal dan Kehendak
Vol. I, Edisi 13, Tanggal 05 Desember 2007
[Update 24/12): versi mutakhir (bhs. Ingg.), yang sedikit memperluas dan memperjelas artikel ini, dapat dibaca di sini.]
Bahwa bumi bukan warisan kakek-nenek moyang melainkan titipan dari anak cucu kita, akhir-akhir ini seringkali diucapkan. Mungkin ini salah sepotong justifikasi kita untuk menyongsong tanggung jawab [...]
Komentar & Diskusi