Dalam banyak seminar dan diskusi, kadang terdengar keluhan bahwa ilmu pengetahuan sosial telah tersub-ordinatkan oleh pengetahuan alam. Hal ini memang disayangkan dan, bahkan, menurut saya, tidak terjadi secara kebetulan. Keluhan tersebut sering timbul sebagai reaksi terhadap berbagai kebijakan-kebijakan politik pendidikan ataupun kebijakan lain yang terkait dengan kepentingan kebutuhan-kebutuhan praktis (misalnya dalam “mencetak” tenaga-tenaga teknis terdidik).
Apakah benar landasan pemikiran di balik kebijakan-kebijakan semacam itu? Sejauh mana pengaruh ilmu pengetahuan alam telah menyilaukan para pakar ilmu sosial? Dan siapakah yang bertanggungjawab atas keyakinan filosofis dari penyimpangan yang terjadi sekarang ini?
Apabila para ekonom ingin terbebaskan dari asumsi-asumsi yang keliru serta dari klaim-klaim yang mengatakan bahwa mereka dapat memprediksikan masa depan dengan tepat dan bahwa negara dapat merencanakan perekonomian secara lebih baik daripada pasar, maka yang perlu mereka lakukan adalah meninjau kembali kekeliruan-kekeliruan mendasar dalam metodologinya. Bila semua ini terjadi, maka hal tersebut tidak dapat dipisahkan dari peran penting yang dimainkan Professor Hoppe, seorang praksiolog terkemuka saat ini….
Berikut tanggapan atas dua artikel yang pernah dimuat di harian Kompas, dan dijadikan kliping di sini, yaitu Ketercerabutan Ekonomi (KE) dan Pasar Bebas adalah Segalanya (PBS). Kedua tulisan terpisah oleh dua penulis berbeda ini kiranya berkelindan sangat erat, seolah terlukiskan dalam gerakan tunggal dengan satu kuas besar yang sama. Meski keduanya berisi dua topik ekonomi berbeda, keterkaitan keduanya tidak dapat disangsikan; keduanya pelebaran dari suatu konsep fundamental: homo oeconomicus. Tanggapan ini mengasumsikan pemahaman terhadap konsep sederhana bernama ekonomi pasar. Jika hal-hal dalam artikel ini sahih bagi tulisan pertama, maka ia juga sahih bagi yang kedua; dan sebaliknya.
Kata Prof. Azis, “Seandainya perbankan tidak ikut bermain, maka keparahan krisis tidak mungkin sedalam ini.” Bravo, Prof! teriak saya dalam hati. Ini mengimplisitkan “kontribusi” sektor perbankan terhadap krisis. Prof. Azis tidak menjelaskan lebih jauh. Ini dapat dimaklumi, sebab jika Anda ekonom/pengamat ekonomi, penjelasan tentang krisis juga tergantung seberapa dalam Anda bersedia mengusutnya. (Aturan mainnya adalah Anda bisa fokus pada sisi mana saja, tapi jangan mempertanyakan pemerintah atau sistem perbankan, sebab itu tabu.)
Dengan diselenggarakannya penganugerahan hadiah Nobel untuk sains ekonomi, siapapun yang namanya tercantum sebagai salah seorang penerima medali bersama pasti akan merasakan rasa syukur yang dalam. Semua ekonom pun tentunya memiliki alasan yang kuat untuk berterimakasih kepada Swedish Riksbank yang telah menilai bahwa bidang studi studi mereka layak dianugerahi kehormatan yang tinggi ini. Namun demikian, harus saya akui bahwa seandainya kepada saya ditanyakan apakah Hadiah Nobel perlu dianugerahkan untuk bidang ekonomi, akan langsung saya katakan bahwa saya menentangnya.
Ini esei singkat tentang opini. Di dunia modern, sains telah menguak begitu banyak fakta empiris dan menggeser batas-batasnya semakin jauh dan terbuka, kebenaran faktawi hampir-hampir tidak perlu perlu didebat. Ini, mungkin, manfaat terpenting sains. Di sisi lain, perkembangan sains tidak menggusur opini atau menggerus signifikansinya. Bahkan bagaimana opini itu terbentuk, telah menjadi bahan kajian ilmiah atau paling tidak semi-ilmiah. Tidak berlebihan untuk dinyatakan bahwa yang berlaku dewasa ini sepertinya justru berupa kebalikan pandangan di atas. Opini justru seringkali lebih superior dan penting daripada fakta.
Orang-biasa pada umumnya tidak memiliki kesempatan untuk bergaul dengan mereka yang telah mendulang kesuksesan melebihi dirinya. Ia bergerak dalam lingkaran sesama orang biasa. Ia tidak pernah bertemu dengan bosnya secara sosial. Ia tidak pernah belajar dari pengalaman pribadi tentang betapa berbedanya seorang pengusaha atau eksekutif dalam hal-hal menyangkut kecakapan dan kemampuan yang diperlukan agar berhasil melayani konsumen. Rasa iri dan kesal yang timbul kemudian ini tidak dapat dilampiaskan kepada orang lain yang sama-sama terdiri atas darah dan daging, kecuali pada pada abstraksi-abstraksi yang samar seperti “pengelola”, “modal”, dan “Wall Street.” Kebenciannya kepada bayangan samar tersebut tidak mungkin dapat dilampiaskan dengan kegetiran yang sama seperti yang mungkin dirasakannya terhadap sesamanya, yang ditemuinya sehari-hari.
Catatan kaki di artikel tentang Empirisme, Praksiologi dan Kepastian Pengetahuan baru saya mutakhirkan, dengan menyitir ‘justifikasi’ filosofis terhadap tilikan sederhana saya tentang peran emosi vs. akal dalam kehidupan. Ini saya dapat dari artikel cemerlang berjudul Can We Be Free if Reason is the Slave of the Passions? dari Frank van Dun.
Di artikel ini juga Prof. [...]
Di masyarakat yang berbasis kasta dan status, setiap individu dapat menyalahkan nasib buruk yang mereka alami kepada kondisi-kondisi di luar kendalinya. Kalau ia menjadi budak, itu disebabkan oleh sebuah kekuatan non-manusiawi yang telah menakdirkan segalanya dan telah memberinya kelas demikian. Oleh karena status tersebut bukan akibat dari perbuatannya sendiri, tidak ada alasan baginya untuk merasa nista atas kepapaannya. Istrinya tidak bisa menyalahkan dirinya atas statusnya itu. Jika sang istri bertanya: “Mengapa Kang Mas bukan seorang bangsawan? Kan kalau Kang Mas bangsawan, aku jadi permaisurinya,” ia mungkin akan menanggapinya begini: “Seandainya aku terlahir sebagai pangeran, Dik, aku tidak bakal mengawini putri budak, melainkan Tuan Putri dari bangsawan lain; mengapa sampeyan bukan putri, itu jelas kesalahan adik semata, sebab adik tidak pintar dalam memilih orang tua!”
Tergantikannya metode-metode pengelolaan perekonomian pra-kapitalistik dengan kapitalisme laissez-faire telah berhasil melipat-gandakan angka populasi dan meningkatkan standar kehidupan rata-rata dalam cara yang belum pernah terjadi sebelumnya. Sebuah bangsa dewasa ini akan menjadi semakin makmur ketika bangsa tersebut berupaya menciptakan sesedikit mungkin aral rintangan terhadap semangat kewirausahaan bebas dan inisiatif pihak swasta. Penduduk Amerika Serikat lebih makmur daripada kebanyakan penduduk di negara-negara lain oleh karena pemerintahnya paling akhir dibandingkan pemerintahan di belahan dunia lain dalam hal melompat kepada kebijakan yang menghabat bisnis. Namun demikian, banyak orang, dan terutama para intelektual, dengan penuh gairah membenci kapitalisme….
Komentar & Diskusi