Dalam banyak seminar dan diskusi, kadang terdengar keluhan bahwa ilmu pengetahuan sosial telah tersub-ordinatkan oleh pengetahuan alam. Hal ini memang disayangkan dan, bahkan, menurut saya, tidak terjadi secara kebetulan. Keluhan tersebut sering timbul sebagai reaksi terhadap berbagai kebijakan-kebijakan politik pendidikan ataupun kebijakan lain yang terkait dengan kepentingan kebutuhan-kebutuhan praktis (misalnya dalam “mencetak” tenaga-tenaga teknis terdidik).
Apakah benar landasan pemikiran di balik kebijakan-kebijakan semacam itu? Sejauh mana pengaruh ilmu pengetahuan alam telah menyilaukan para pakar ilmu sosial? Dan siapakah yang bertanggungjawab atas keyakinan filosofis dari penyimpangan yang terjadi sekarang ini?
Kata Prof. Azis, “Seandainya perbankan tidak ikut bermain, maka keparahan krisis tidak mungkin sedalam ini.” Bravo, Prof! teriak saya dalam hati. Ini mengimplisitkan “kontribusi” sektor perbankan terhadap krisis. Prof. Azis tidak menjelaskan lebih jauh. Ini dapat dimaklumi, sebab jika Anda ekonom/pengamat ekonomi, penjelasan tentang krisis juga tergantung seberapa dalam Anda bersedia mengusutnya. (Aturan mainnya adalah Anda bisa fokus pada sisi mana saja, tapi jangan mempertanyakan pemerintah atau sistem perbankan, sebab itu tabu.)
Jurnal Kebebasan: Akal dan Kehendak Vol. II, Edisi 35, Tanggal 23 Juni 2008 Oleh: Sukasah Syahdan Tidak ada yang rasional ataupun irrasional perihal kehidupan, tetapi akal adalah satu-satunya peranti yang dimiliki manusia untuk memaknai kehidupan dan alam semesta secara sistematis. Emosi sering dikatakan ikut berperan dalam proses pengambilan keputusan; namun, dalam kesadaraan dan kedewasaan tiap [...]
Oleh: Sukasah Syahdan Jurnal Kebebasan: Akal dan Kehendak Vol. II, Edisi 30, Tanggal 19 Mei 2008 (Kolom: Catatan Bawah) APA PULA ITU EKONOFISIKA? Di koran Media Indonesia beberapa hari lalu diberitakan bahwa ilmu “baru” ini akan mampu mengatasi permasalahan ekonomi Indonesia. Bukan main! Ini catatan singkat saja: kalau harus dianggap ilmu baru, dia cocok jadi [...]
Oleh: Giyanto Jurnal Kebebasan: Akal dan Kehendak Vol. II, Edisi 28, Tanggal 05 Mei 2008 Pasca perang dingin, berbagai spekulasi wacana mencoba menangkap berbagai akar permasalahan sosial yang akan muncul. Huntington, dengan keras kepala, menawarkan paradigma peradaban dalam upaya menganalisis akar konflik dunia. Sebagai tanggapan terhadap tesis Fukuyama, bahwa sejarah telah berakhir, Samuel Huntington beranggapan [...]
Oleh: Giyanto Jurnal Kebebasan: Akal dan Kehendak Vol. II, Edisi 23, Tanggal 31 Maret 2008 Beras Bulog Setiap pulang kampung, saya terkadang disuruh ibunda tercinta untuk mengambil jatah beras miskin di Balai Desa. Barangkali karena administratur desa mengkategorikan kami sebagai keluarga miskin, jadi kami mendapat jatah beras miskin. Saat mengambil jatah beberapa waktu lalu, di [...]
Oleh: Giyanto Jurnal Kebebasan: Akal dan Kehendak Vol. II, Edisi 19, Tanggal 03 Maret 2008 (Bag. 2 – Tamat) Tidak bermaksud menjadi kiri, tulisan ini sebenarnya ingin mengatakan bahwa apa yang kita yakini dalam epistemologi yang dipakai secara umum oleh ahli ilmu sosial sebenarnya semakin menjauhi kebenaran atau realitas itu sendiri. Dengan kata lain, saya [...]
| Ludwig von Mises | ( Bagian 2 – Tamat; diformat ulang 25 Maret 2008 ) 8. Konsepsi dan Pemahaman Tugas ilmu-ilmu kajian tentang tindakan manusia adalah memahami makna dan relevansi tindakan manusia. Untuk tugas ini, disiplin-disiplin tersebut menerapkan dua prosedur epistemologis yang berbeda, yaitu konsepsi dan pemahaman. Konsepsi adalah peralatan mental dari praksiologi; sedangkan [...]
| Ludwig von Mises | Pengantar: Artikel ini berasal dari Bab II buku Ludwig von Mises, Human Action, Edisi Khusus. Diterjemahkan oleh Sukasah Syahdan untuk diterbitkan di Jurnal Kebebasan: Akal dan Kehendak. Versi hasil pemutakhiran 22 Mei, 2008 ini dapat diunduh di: http://akaldankehendak.com. Ludwig von Mises 1. Praksiologi dan Sejarah ADA dua cabang utama ilmu [...]
Komentar/Diskusi Terkini...