Dalam banyak seminar dan diskusi, kadang terdengar keluhan bahwa ilmu pengetahuan sosial telah tersub-ordinatkan oleh pengetahuan alam. Hal ini memang disayangkan dan, bahkan, menurut saya, tidak terjadi secara kebetulan. Keluhan tersebut sering timbul sebagai reaksi terhadap berbagai kebijakan-kebijakan politik pendidikan ataupun kebijakan lain yang terkait dengan kepentingan kebutuhan-kebutuhan praktis (misalnya dalam “mencetak” tenaga-tenaga teknis terdidik).
Apakah benar landasan pemikiran di balik kebijakan-kebijakan semacam itu? Sejauh mana pengaruh ilmu pengetahuan alam telah menyilaukan para pakar ilmu sosial? Dan siapakah yang bertanggungjawab atas keyakinan filosofis dari penyimpangan yang terjadi sekarang ini?
Jurnal Kebebasan Akal dan Kehendak
Volume II Edisi no. 63 Tanggal 5 Januari 2009
Judul Asli: Economic Science and the Austrian Method
Penerbit: Mises Institute
Pengarang: Prof. Hans-Hermann Hoppe
Draft Terjemahan: Nad
(Kembali ke Bagian 1)
TENTANG PRAKSIOLOGI DAN LANDASAN PRAKSIOLOGIS EPISTEMOLOGI
III
Saya cukupkan hingga di sini penjelasan saya terhadap jawaban Mises sehubungan dengan pencariannya terhadap landasan ilmu ekonomi. Kini saya akan beralih ke [...]
Sebagaimana kebanyakan ekonom besar dan inovatif lainnya, Ludwig von Mises secara intensif berulang kali menganalisis persoalan seputar status logis proposisi ekonomi, misanya tentang bagaimana kita dapat mengetahuinya dan bagaimana kita menentukan kesahihannya. Mises jelas termasuk tokoh utama yang percaya bahwa kepedulian semacam ini tidak terpisahkan dalam upaya mencapai kemajuan sistematis di bidang ilmu ekonomi. Sebab miskonsepsi apapun sehubungan dengan jawaban terhadap pertanyaan-pertanyaan mendasar mengenai upaya intelektual seseorang akan secara alamiah membawanya kepada malapetaka intelektual, sebagaimana doktrin ekonomi yang salah. Oleh karena itu, tiga buah buku didedikasikan oleh Mises secara khusus sepenuhnya untuk mengklarifikasi dasar-dasar logis ekonomi: yaitu karya awalnya dalam bahasa Jerman, Epistemological Problems of Economics, pada tahun 1933; Theory and History, 1957; dan Ultimate Foundations of Economic Science, 1962, yang juga merupakan buku terakhir Mises, yang terbit saat ia melewati ulang tahunnya yang kedelapan puluh. Karya-karya lainnya di bidang ekonomi proper juga senantiasa memperlihatkan betapa Mises menganggap penting analisis terhadap persoalan-persoalan epistemologis. Di lebih dari seratus halaman pertama adikaryanya yang berjudul Human Action Mises secara eksklusif membahas persoalan-persoalan tersebut, sementara hampir 800 halaman selanjutnya sarat berisi pertimbangan-pertimbangan epistemologis.
Apabila para ekonom ingin terbebaskan dari asumsi-asumsi yang keliru serta dari klaim-klaim yang mengatakan bahwa mereka dapat memprediksikan masa depan dengan tepat dan bahwa negara dapat merencanakan perekonomian secara lebih baik daripada pasar, maka yang perlu mereka lakukan adalah meninjau kembali kekeliruan-kekeliruan mendasar dalam metodologinya. Bila semua ini terjadi, maka hal tersebut tidak dapat dipisahkan dari peran penting yang dimainkan Professor Hoppe, seorang praksiolog terkemuka saat ini….
Melalui eseinya yang luar biasa ini, Hans-Hermann Hoppe mengembangkan argumen Ludwig von Mises yang mengatakan bahwa metode yang terkait ilmu alam tidak akan dapat diterapkan secara sukses untuk teori ekonomi. Dalam pemaparannya Professor Hoppe mendukung keberadaan pengetahuan yang apriori, kesahihan teori murni, penerapan logika deduktif, dan keniscayaan hukum ekonomi. Ia juga mengatakan bahwa ilmu ekonomi adalah bagian dari satu disiplin yang lebih besar, yaitu praksiologi: ilmu pengetahuan tentang tindakan manusia….
Berikut tanggapan atas dua artikel yang pernah dimuat di harian Kompas, dan dijadikan kliping di sini, yaitu Ketercerabutan Ekonomi (KE) dan Pasar Bebas adalah Segalanya (PBS). Kedua tulisan terpisah oleh dua penulis berbeda ini kiranya berkelindan sangat erat, seolah terlukiskan dalam gerakan tunggal dengan satu kuas besar yang sama. Meski keduanya berisi dua topik ekonomi berbeda, keterkaitan keduanya tidak dapat disangsikan; keduanya pelebaran dari suatu konsep fundamental: homo oeconomicus. Tanggapan ini mengasumsikan pemahaman terhadap konsep sederhana bernama ekonomi pasar. Jika hal-hal dalam artikel ini sahih bagi tulisan pertama, maka ia juga sahih bagi yang kedua; dan sebaliknya.
Kata Prof. Azis, “Seandainya perbankan tidak ikut bermain, maka keparahan krisis tidak mungkin sedalam ini.” Bravo, Prof! teriak saya dalam hati. Ini mengimplisitkan “kontribusi” sektor perbankan terhadap krisis. Prof. Azis tidak menjelaskan lebih jauh. Ini dapat dimaklumi, sebab jika Anda ekonom/pengamat ekonomi, penjelasan tentang krisis juga tergantung seberapa dalam Anda bersedia mengusutnya. (Aturan mainnya adalah Anda bisa fokus pada sisi mana saja, tapi jangan mempertanyakan pemerintah atau sistem perbankan, sebab itu tabu.)
Jika tujuan ultimat kehidupan manusia di dunia kita supersederhanakan dan namakan sebagai End (E) dan cara manusia dalam mewujudkannya disebut Means (M), maka ternyatalah betapa dahsyatnya perkara M dan E ini, sebab dia melibatkan kehidupan semua orang di muka bumi….
Diskusi ini saya tulis beberapa minggu yang lalu. Setelah membaca kritik Victor Aguilar terhadap praksiologi, saya beranggapan perlu ada refleksi mendasar untuk hal ini. Dalam pandangan saya, permasalahannya bukanlah pada berapa ‘jumlah’ aksioma yang dibutuhkan untuk dapat mengembangkan praksiologi/ekonomi—atau meruntuhkannya, tetapi lebih pada keterkaitan antara suatu aksioma utama—tindakan manusia—dengan kategori-kategori tindakan yang secara universal ada [...]
Ini esei singkat tentang opini. Di dunia modern, sains telah menguak begitu banyak fakta empiris dan menggeser batas-batasnya semakin jauh dan terbuka, kebenaran faktawi hampir-hampir tidak perlu perlu didebat. Ini, mungkin, manfaat terpenting sains. Di sisi lain, perkembangan sains tidak menggusur opini atau menggerus signifikansinya. Bahkan bagaimana opini itu terbentuk, telah menjadi bahan kajian ilmiah atau paling tidak semi-ilmiah. Tidak berlebihan untuk dinyatakan bahwa yang berlaku dewasa ini sepertinya justru berupa kebalikan pandangan di atas. Opini justru seringkali lebih superior dan penting daripada fakta.
Komentar & Diskusi