<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Akal &#38; Kehendak</title>
	<atom:link href="http://akaldankehendak.com/?feed=rss2" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://akaldankehendak.com</link>
	<description>Jurnal Kebebasan</description>
	<lastBuildDate>Sat, 01 May 2010 23:32:34 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.9.2</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Sikap adalah segalanya</title>
		<link>http://akaldankehendak.com/?p=461</link>
		<comments>http://akaldankehendak.com/?p=461#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 07 Oct 2009 04:08:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://akaldankehendak.com/?p=461</guid>
		<description><![CDATA[Jurnal Kebebasan: Akal &#38; Kehendak
Vol. III, Edisi no. 72
Tanggal: 07 Oktober 2009
Oleh: Nad
(Pengantar &#8211; Mengawali “comeback” saya ke dunia maya setelah absen lebih dari 3 bulan, saya tulis tips praktis di bawah ini, yang selama ini saya terapkan bagi diri sendiri, dan yang saya harap berguna juga bagi Anda pembaca. Tulisan ini juga mengawali tulisan-tulisan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Jurnal Kebebasan: Akal &amp; Kehendak<br />
Vol. III, Edisi no. 72<br />
Tanggal: 07 Oktober 2009<br />
Oleh: Nad</p>
<p>(Pengantar &#8211; Mengawali<em> “comeback” </em>saya ke dunia maya setelah absen lebih dari 3 bulan, saya tulis tips praktis di bawah ini, yang selama ini saya terapkan bagi diri sendiri, dan yang saya harap berguna juga bagi Anda pembaca. Tulisan ini juga mengawali tulisan-tulisan saya berikutnya, yang dapat digolongkan ke dalam seri: <em>praxeology in action.</em>)</p>
<p><em>Attitude is everything.</em> Mungkin Anda pernah mendengar kalimat tersebut.  Padanannya dalam bahasa kita k.l.: sikap adalah segalanya.  Bahkan kadang, sikap adalah satu-satunya yang terpenting, <em>the only thing</em>.<em> Attitude is everything</em>, dan di balik sikap kita adalah perspektif yang kita pilih, sadar atau tidak, ataupun ketidak(mau)tahuan kita.</p>
<p>Di dunia kerja dan dalam kehidupan sehari-hari, kita akan mendapati dua jenis orang yang bekerja di lingkungan yang berbeda, namun menjalankan hari demi hari mereka secara berbeda, dengan kinerja berbeda.</p>
<p>Sebut saja tokoh ini A, yang mungkin Anda kenal.  Ia sepertinya bekerja separuh terpaksa, bermalas-malasan, dan bahkan “merugikan” tempat/teman sekerja dengan mengelak dari tugas, menunda-nunda pekerjaan, memilih-milih pekerjaan yang lebih ringan dan menghindari tugas “ekstra”, atau sering mengeluh, kombinasi semua ini.</p>
<p>Di lain pihak, ada pula rekan sekerja seperti B, yang profesionalitasnya berbeda dari A.  B orang yang menerima pekerjaannya sepenuh hati; bekerja keras; siap menjalani tugas dan tanggung jawabnya.</p>
<p>Sadar atau tidak sadar, kita adalah A atau B.  Perilaku dan kinerja kita di tempat kerja selalu didasari oleh sesuatu—apapun itu namanya—yang berada di benak kita. “Sesuatu” tersebut ikut memengaruhi motivasi kerja kita.   Apapun itu, sesuatu tersebut “bersemayam” di  dalam diri kita.</p>
<p>Baik secara eksplisit dan implisit, semua ekonom dan pemikir dari mazhab Austria, dari Menger, Bawerk, Bawerk hingga para Misesian, menggarisbawahi pentingnya kewirausahaan dalam kehidupan.  <em>Enterpreneurship</em> adalah kunci kemajuan ekonomi bagi setiap individu, keluarga dan bangsa. Dan karena semua manusia pada hakikatnya berekonomi untuk mencapai kebahagiaan <em>(happiness), </em>dalam arti untuk<em> </em> memperbaiki atau meningkatkan suatu keadaan dari keadaan sebelumnya, kewirausahaan adalah sesuatu kualitas yang dipentingkan.</p>
<p>Dalam adikarya masing-masing, baik Mises maupun Rothbard bahkan mengatakan bahwa kemajuan peradaban amat terkait kemampuan wirausahawan dalam memproduksi secara massal hal-hal yang berguna bagi kemanusiaan kita.</p>
<p>Jadi, kalau bisa, jadilah pengusaha.  Titik.  Tapi sudah terang, tidak semua orang tertarik ataupun punya kemampuan menjadi pengusaha.  Kita-kita yang lebih suka aman—dan ini amat manusiawi—dapat menjadi pekerja, karyawan, staf pada perusahaan-perusahaan, yang siap membayar kita di depan, atas suatu proyeksi keuntungan yang baru bakal terwujud, atau gagal terwujud, kemudian.</p>
<p>Motivasi atau sikap kita terhadap perusahaan tempat kita bekerja pada dasar yang lebih dalam pastilah berdasar pada sesuatu. Ini bisa berupa <em>ignorance</em> ataupun pada suatu doktrin/stereotyping terhadap bisnis atau pengusaha.</p>
<p>Satu faktor penting lain adalah faktor moral.  Kita sering lupa moralitas yang terlibat di pasar bebas.   Semua kontrak kerja di pasar bebas adalah sesuatu yang <em>win-win</em>, tanpa paksaan.  Dengan kata lain, itu adalah sesuatu yang pada dasarnya moral, yang dengannya tidak ada satu pihak pun yang per definisi bakal dirugikan.  Tanyakan diri kita: apakah ada yang lebih bermoral daripada kesepakatan semacam ini?</p>
<p>Untuk dapat menghargai semua ini, kadang kita sebagai (calon) karyawan cukup membayangkan apa yang kiranya kita harapkan dari pekerja-pekerja kita seandainya kita berada dalam posisi majikan/pemberi kerja.</p>
<p>Mari lakukan yang terbaik di posisi kita masing-masing. <em>Good luck</em> bagi para pencari kerja.  Selamat bekerja bagi yang sudah di dalamnya.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://akaldankehendak.com/?feed=rss2&amp;p=461</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title></title>
		<link>http://akaldankehendak.com/?p=457</link>
		<comments>http://akaldankehendak.com/?p=457#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 02 Oct 2009 14:45:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Asides]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://akaldankehendak.com/?p=457</guid>
		<description><![CDATA[Restorasi Jurnal A&#38;K dari serangan hacking berhasil dilakukan tim Customer Service dari Dapur Hosting (terima kasih!) dengan memanfaatkan data backup per 19 Agustus 2009.  Sayangnya, semua komentar dan pembaca yang masuk setelah tanggal tersebut tidak  berhasil dipulihkan, dan untuk itu saya mohon maaf dan maklum&#8230;.
]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Restorasi Jurnal A&amp;K dari serangan hacking berhasil dilakukan tim Customer Service dari Dapur Hosting (terima kasih!) dengan memanfaatkan data backup per 19 Agustus 2009.  Sayangnya, semua komentar dan pembaca yang masuk setelah tanggal tersebut tidak  berhasil dipulihkan, dan untuk itu saya mohon maaf dan maklum&#8230;.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://akaldankehendak.com/?feed=rss2&amp;p=457</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title></title>
		<link>http://akaldankehendak.com/?p=452</link>
		<comments>http://akaldankehendak.com/?p=452#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 02 Oct 2009 14:21:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Asides]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://akaldankehendak.com/?p=452</guid>
		<description><![CDATA[Menurut kabar yang sangat bisa dipercaya, Giyanto (kontributor di Semarang), sudah &#8220;bersedia&#8221; lulus skripsi.  Selamat, selamat!
]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Menurut kabar yang sangat bisa dipercaya, Giyanto (kontributor di Semarang), sudah &#8220;bersedia&#8221; lulus skripsi.  Selamat, selamat!</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://akaldankehendak.com/?feed=rss2&amp;p=452</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>A&amp;K dan Mises Institute</title>
		<link>http://akaldankehendak.com/?p=449</link>
		<comments>http://akaldankehendak.com/?p=449#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 02 Oct 2009 14:10:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Asides]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://akaldankehendak.com/?p=449</guid>
		<description><![CDATA[Jörg Guido  Hülsmann dan Stephan  Kinsella, dua tokoh Mises Institute mengutip A&#38;K dalam esei mereka di Mises Daily bulan Agustus lalu.
]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Jörg Guido  Hülsmann dan Stephan  Kinsella, dua tokoh Mises Institute mengutip A&amp;K dalam <a href="http://mises.org/story/3603" target="_blank">esei</a> mereka di Mises Daily bulan Agustus lalu.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://akaldankehendak.com/?feed=rss2&amp;p=449</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Buku Norberg dan Drama Hongaria</title>
		<link>http://akaldankehendak.com/?p=443</link>
		<comments>http://akaldankehendak.com/?p=443#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 04 May 2009 15:44:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Asides]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://akaldankehendak.com/?p=443</guid>
		<description><![CDATA[Bulan April lalu buku yang saya terjemahkan dan sunting di penghujung 2008, Membela Kapitalisme Global, sempat didiskusikan di TB. Walisongo, Jakarta, 17 April (trims atas kabarnya, Ed!). Sayang saya tidak bisa hadir; seperti apa jalannya diskusi barangkali akan ada kabarnnya dari Freedom Institute?
Di waktu yang kurang lebih bersamaan, Keluarga Tot&#8211;terjemahan naskah drama asal Hungaria yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Bulan April lalu buku yang saya terjemahkan dan sunting di penghujung 2008, <em>Membela Kapitalisme Global</em>, sempat didiskusikan di TB. Walisongo, Jakarta, 17 April (trims atas kabarnya, Ed!). Sayang saya tidak bisa hadir; seperti apa jalannya diskusi barangkali akan ada kabarnnya dari Freedom Institute?</p>
<p>Di waktu yang kurang lebih bersamaan, <em>Keluarga Tot</em>&#8211;terjemahan naskah drama asal Hungaria yang saya garap bersama 2 konco baik saya (Adi Krishna di Padang dan Wendy Bale di Cilandak)&#8211;berhasil dipentaskan di TIM oleh Teater Gandrik-nya Butet dan Agus Noor. (Trims atas kabarnya, Dito!)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://akaldankehendak.com/?feed=rss2&amp;p=443</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>To Facebook or not?</title>
		<link>http://akaldankehendak.com/?p=442</link>
		<comments>http://akaldankehendak.com/?p=442#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 04 May 2009 15:32:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Asides]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://akaldankehendak.com/?p=442</guid>
		<description><![CDATA[Tahun 2004 saya sebetulnya sempat coba-coba Facebook.  Tiga tahun kemudian, per 2007, teman saya baru 5. Lalu saya non-aktifkan.  Sampai sekarang belum saya aktifkannya lagi&#8230;.
]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Tahun 2004 saya sebetulnya sempat coba-coba Facebook.  Tiga tahun kemudian, per 2007, teman saya baru 5. Lalu saya non-aktifkan.  Sampai sekarang belum saya aktifkannya lagi&#8230;.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://akaldankehendak.com/?feed=rss2&amp;p=442</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Melawan Positivisme</title>
		<link>http://akaldankehendak.com/?p=440</link>
		<comments>http://akaldankehendak.com/?p=440#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 24 Mar 2009 01:12:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Epistemologi]]></category>
		<category><![CDATA[Praksiologi]]></category>
		<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>
		<category><![CDATA[Auguste Comte]]></category>
		<category><![CDATA[ilmu sosial]]></category>
		<category><![CDATA[positivisme]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://akaldankehendak.com/?p=440</guid>
		<description><![CDATA[Dalam banyak seminar dan diskusi, kadang terdengar keluhan bahwa ilmu pengetahuan sosial telah tersub-ordinatkan oleh pengetahuan alam. Hal ini memang disayangkan dan, bahkan, menurut saya, tidak terjadi secara kebetulan. Keluhan tersebut sering timbul sebagai reaksi terhadap berbagai kebijakan-kebijakan politik pendidikan ataupun kebijakan lain yang terkait dengan kepentingan kebutuhan-kebutuhan praktis (misalnya dalam "mencetak" tenaga-tenaga teknis terdidik).

Apakah benar landasan pemikiran di balik kebijakan-kebijakan semacam itu? Sejauh mana pengaruh ilmu pengetahuan alam telah menyilaukan para pakar ilmu sosial? Dan siapakah yang bertanggungjawab atas keyakinan filosofis dari penyimpangan yang terjadi sekarang ini?]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h3>Jurnal Kebebasan: Akal dan Kehendak</h3>
<p>Volume III, Edisi No. 70, Tanggal 22 Maret 2009<br />
Oleh: <strong>Giyanto<br />
</strong><br />
<em> </em></p>
<p style="text-align: center;"><em>From science comes prevision, from prevision comes actions.</em></p>
<p style="text-align: center;">(Auguste Comte, <em>The Positive Philosophy)</em></p>
<p style="text-align: center;"><em>One of the fundamental conditions of man&#8217;s existence and action is the fact that he does not know what will happen in the future</em></p>
<p style="text-align: center;">(Ludwig von Mises<em>, Theory and History)</em></p>
<p style="text-align: left;">Apabila dilihat secara jeli, ada kesan bahwa ilmu pengetahuan sosial telah menuju pada kematian.</p>
<p>Dalam banyak seminar dan diskusi, kadang terdengar keluhan bahwa ilmu pengetahuan sosial telah tersub-ordinatkan oleh pengetahuan alam. Hal ini memang disayangkan dan, bahkan, menurut saya, tidak terjadi secara kebetulan. Keluhan tersebut sering timbul sebagai reaksi terhadap berbagai kebijakan-kebijakan politik pendidikan ataupun kebijakan lain yang terkait dengan kepentingan kebutuhan-kebutuhan praktis (misalnya dalam &#8220;mencetak&#8221; tenaga-tenaga teknis terdidik).</p>
<p>Apakah benar landasan pemikiran di balik kebijakan-kebijakan semacam itu? Sejauh mana pengaruh ilmu pengetahuan alam telah menyilaukan para pakar ilmu sosial? Dan siapakah yang bertanggungjawab atas keyakinan filosofis dari penyimpangan yang terjadi sekarang ini?</p>
<div class="captionleft"><img src="http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/b/b3/Auguste_Comte.jpg" alt="" width="329" height="477" /><br />
<em>(Auguste Comte)</em></div>
<p>Adalah Auguste Comte pihak yang bertanggungjawab di sini.  Comte memberi kita visi tentang idealitas keilmuwan; tentang ilusi keagungan penerapan prosedur eksperimen dalam penyelidikan sosial; tentang pentingnya &#8220;memajukan&#8221; masyarakat untuk lepas dari belenggu pemikiran teologis serta metafisis menuju masyarakat positif yang &#8220;ilmiah&#8221;.</p>
<p>Ironisnya, pandangan ini sekarang telah menjadi satu-satunya norma ilmiah&#8211;sebuah norma yang tanpa pernah dipertanyakan, telah menjadi tradisi untuk mengklaim diri paling ilmiah dan yang lain sebagai tidak ilmiah. Atas visi yang <em>keblalasan</em> tersebut, cabang ilmu yang pada awalnya murni logika, misalnya ekonomi dan ilmu sosial, telah ikut-ikutan mengadopsi visi filosofis Auguste Comte. Setiap pernyataan atau proposisi, menurut klaim positivis, tidak akan pernah dapat dibuktikan kebenarannya apabila tidak melalui prosedur eksperimen yang empiris.</p>
<p>Monopoli terhadap klaim bahwa prosedur kaum positivistik sebagai satu-satunya prosedur yang paling ilmiah merupakan satu bentuk <strong><em>kebebalan</em> </strong>akademik.  Positivisme dalam ranah epistemologi mensyaratkan bahwa ilmu tindakan manusia harus menerapkan prosedur yang sama seperti yang dilakukan dalam ilmu alam.</p>
<p>Dalam ranah aliran psikologi, kaum positivis terjelma dalam aliran behaviorisme, atau sering disebut neopositivisme. Dalam bidang budaya dia muncul dalam kritik sastra serta kritik seni. Dalam bidang politik dia tampil dengan pemberlakuan hukum positif dsb.  Karena keterbatasan ruang serta kemampuan, di sini saya akan menunjukkan beberapa kesalahan dari sudut pandang epistemologi ilmu pengetahuan terhadap keyakinan-keyakinan filosofis kaum positivis.</p>
<h2><strong>&#8220;Teori&#8221; Positivisme</strong></h2>
<p>Dalam <em>The Positive Philosophy, </em>tujuan<em> </em>utama Comte adalah menelaah sejarah perkembangan ilmu serta menciptakan teori tentang tiga tahap perkembangan masyarakat. Ia membagi perkembangan masyarakat ilmiah menjadi tiga: tahap <em>teologis</em>, tahap <em>metafisik</em> dan tahap <em>‘ilmiah&#8217;</em> atau <em>positif</em>. Dalam penafsirannya, penemuan ajaran Bacon, konsep Descrates dan pandangan Galileo ialah salah satu bentuk semangat perkembangan masyarakat positif dalam melawan sistem skolastik. Untuk itu Comte mengajukan sebuah cabang ilmu yang, menurut dia, seharusnya memiliki keteraturan yang sama seperti ilmu alam, ia menyebutnya fisika sosial (<em>Social Physic</em>s).</p>
<p>Alih-alih menelaah sifat manusia secara utuh, dalam karyanya Comte malah lebih banyak mengulas Matematika, Astronomi, Statistik, Geometri, Fisika, Kimia. Konon, menurut Comte, hal itu dimaksudkan untuk mencari prasyarat bagi tahap-tahap menuju masyarakat positif. Di sini Comte cukup &#8220;sukses&#8221;. Kita sekarang telah dibingungkan oleh ajaran Comte yang sesat. Bagi Comte, masyarakat positif dikatakan dapat berhasil secara ilmiah ketika para ilmuwan telah meninggalkan sesuatu yang <em>a priori</em>. Metode yang paling tepat, menurut Comte, ialah pencarian hukum-hukum ilmu sosial melalui eksperimen. Baginya hanya metode eksperimenlah yang dapat mendekatkan kita pada objek observasional.</p>
<p>Prasyarat kedua, menurut Comte, dalam menuju masyarakat positif adalah dengan menggantikan pendidikan teologi, metafisika dan sastra dengan pendidikan filsafat positif. Comte mengartikan pendidikan positif sebagai ajaran yang mendidik masyarakat agar persepsinya dapat sesuai dengan objek faktual&#8212;dengan kata lain gagasan-gagasan abstrak serta fiksi seharusnya ditiadakan. Dengan demikian ajaran-ajaran teologis, metafisik dan sastra merupakan ajaran yang tidak sesuai dengan objek faktual. Jadi keberadaan mereka perlu digantikan dengan ilmu-ilmu alamiah, atau dengan kata lain hal-hal yang bukan fakta non-metafisis tidak bermakna apa-apa. Sekali lagi, di sini Comte mengalami kesuksesan. Dan sekarang sistem pendidikan kita melaksanakan dengan konsisten usulan ajaib dari Auguste Comte!</p>
<p>Ketiga, bagi Comte, masyarakat ilmiah dalam menelaah ilmu sedapat mungkin harus mampu mengombinasikan beberapa sudut pandang cabang ilmu. Baginya, kombinasi dalam berperspektif sangatlah penting.  Ia mencontohkan bahwa kimia seharusnya dipadukan dengan fisiologi&#8212;seperti kebodohan kita dalam mengubah manusia menjadi sekedar ilmu statistik atau melihat trend-trend saat ini munculnya kajian ekonomi perilaku, ekonomi fisika dsb. Kesalahan Comte di sini sangat fatal. Ia tidak menyadari bahwa setiap cabang ilmu itu terkait cara berfikir. Setiap disiplin ilmu memiliki logika formalnya sendiri-sendiri. Ada perbedaan antara yang ada dalam pikiran dengan kenyataan luar.</p>
<p>Terakhir, masih menurut Comte, untuk mengatasi krisis masyarakat, hanya pandangan filsafat positivisme-lah yang mampu mengatasi krisis sosial. Dengan filsafat positif anarkisme intelektual, yang biasanya melewati jalan rumit untuk diperdebatkan dalam mencari kebenaran, harus dilenyapkan. Pandangan ini jelas-jelas memberi jalan panjang bagi kematian karya-karya klasik. Bagi Comte, ide-ide masa lalu yang mengarah pada anarkis adalah musuh keteraturan masyarakat.  Anggapan tersebut jelas keliru. Musuh keteraturan bukanlah anarkisme intelektual tetapi imoralitas perilaku.</p>
<h2><strong>Permasalahan Epistemologi Positivisme</strong></h2>
<p>Kesalahan Comte yang paling mendasar adalah memperlakukan setiap fenomena seperti hukum ilmu alam&#8212;yaitu memiliki sifat yang tak berubah serta beroperasi melalui sebab-sebab konstan. Dia menganalogikan setiap fenomena harus mengikuti jalan yang sama bagi penemuan teori ilmu alam, khususnya ilmu fisika. Ini kebodohan tingkat tinggi. Comte mengatakan:</p>
<p style="padding-left: 30px;"><em>The first characteristic of the Positive Philosophy is that it regards all phenomena as subjected to invariable natural Laws. Our business is,&#8212;seeing how vain is any research into what are called cause, whether first or final,&#8212;to pursue an accurate discovery of these Laws, with a view to reducing them to the smallest possible number. By speculating upon cause, we could solve no difficulty about origin and purpose.  Our real business is to analyze accurately the circumstance of phenomena, and to connect them by natural relations of succession and resemblance. The best illustration of this is in the case of the doctrine of Gravitation.<a name="_ftnref1" href="#_ftn1"><span style="text-decoration: underline;"><strong><u>[1]</u></strong></span></a></em></p>
<p>Tujuan utama ilmuwan yang berpandangan positivis ialah mencari keteraturan dari sebuah fenomena. Senjata pamungkasnya: statistik. Alasannya, hanya statistiklah yang dapat menguji fenomena sosial layaknya pengujian ilmu alam. Bagi kaum positivis, sebuah teori yang tidak dapat diverifikasi atau difalsifikasi oleh pengalaman empiris&#8212;yang biasanya melalui data statistik&#8212;tidak akan dapat dianggap sahih. Bahkan sebuah pernyataan tanpa dukungan analisa statistik tidak bisa disebut &#8220;ilmiah&#8221;.</p>
<p>Dapat dipahami tentang penekanan penggunaan statistik dalam ilmu sosial disebabkan oleh <em>kesilauan</em> ahli ilmu sosial terhadap prosedur induktif yang digunakan dalam ilmu alam. Dengan prosedur induktif, para ahli ilmu sosial berharap akan menemukan hukum-hukum sosial seperti layaknya hukum fisika; sehingga penggunaan prosedur yang kaku, dengan berbagai varian metodologi kuantitatifnya, telah berhasil membuat sebagian besar akademisi kita sudah merasa &#8220;paling ilmiah&#8221;.</p>
<p>Doktrin tersebut, tidak dapat dipungkiri, menyiratkan pandangan yang kacau. Statistik tidak menggambarkan keteraturan. Dia hanya sebuah kumpulan kejadian-kejadian yang beragam, yang kemudian direduksikan menjadi angka-angka. Dengan demikian, kejadian-kejadian tersebut bukanlah sebuah variabel yang dapat dipastikan akan mempengaruhi kejadian di masa depan. Fenomena yang telah direduksi ke dalam angka statistik pastilah fenomena masa lalu. Dia merupakan sejarah masa lalu; sehingga sangat musykil untuk membangun teori dari data statistik.</p>
<p>Sekarang ini ilmu sosial seolah-olah telah menjadi cabang dari ilmu matematika ataupun statistik. Kita hampir tidak pernah diberikan telaah tentang problem epistemologi. Dalam hal prosedur penelitian, hampir semua kurikulum perguruan tinggi telah mengajarkan filsafat ilmu&#8212;bukannya epistemologi ilmu. Sebagai akibatnya, telah menjadi keyakinan umum bahwa tanpa prosedur metodologis, sebuah temuan yang ‘hanya&#8217; berdasar reflektif tidak akan pernah dianggap sahih.</p>
<p>Dampak lebih jauh dari pandangan tersebut ialah matinya sensitifitas serta kemampuan refleksi filosofis para ahli ilmu sosial. Mahasiswa dan calon sarjana ilmu sosial, atau secara umum bidang manusia, telah benar-benar menjadi positif. Mereka hampir-hampir tidak memiliki kemampuan analisis logis yang mumpuni terhadap problem sosial. Sarjana-sarjana kita telah menjadi robot-robot akademik yang mudah untuk ditakut-takuti oleh wajah seram metodologi ilmu.</p>
<p>Entah berapa banyak lagi buku-buku metodologi penelitian sosial yang sekarang terserak di toko-toko buku mengasumsikan hal yang sama. Asumsi filosofis yang sejak zaman Locke, Hume serta Berkley hingga memuncak menjadi filsafat Positivis Auguste Comte, menganggap akal manusia hanyalah ‘tabula rasa&#8217;, yang hanya tunduk pada rangsangan inderawi. Mereka tidak mempercayai bahwa manusia memiliki benak yang aktif. Anehnya, determinisme filosofis yang semakin berlarut-larut saat ini tidak pernah dipertanyakan ataupun diresahkan oleh kalangan akademis kita.</p>
<p>Dengan demikian apabila ditelusuri secara logis, determinisme filosofis akan mengarah ke empirisme, dan apabila ditambah dengan prasyarat perlunya verikasi dan falsifikasi dia akan menjelma menjadi keyakinan positivis. Dengan kata lain, positivisme merupakan bentuk ekstrim empirisme serta bagian besar dari pandangan determinis.  Determinisme adalah kakek positivisme. Begitu juga empirisme; dia anak determinisme, serta bapak dari positivisme.</p>
<p>Artinya, ketiga pandangan tersebut adalah keluarga besar yang menyamakan manusia seperti batu. Bagi determinisme,  manusia adalah hasil endapan serta bentukan dari budaya, sejarah ataupun pengaruh perubahan iklim, seperti bebatuan yang berasal dari sedimen yang tererosi oleh iklim di luarnya (dalam derajat tertentu pandangan ini memang dapat diterima). Sementara, para empiris tidak cukup yakin bahwa yang dihadapi adalah batu, maka mereka belum puas apabila belum &#8220;meng-indera-I&#8221; sang batu. Positivisme jauh ingin lebih meyakinkan, dengan membawa sang batu ke laboratorium untuk mendapatkan pengujian hingga benar-benar dibuktikan bahwa yang ditelitinya adalah batu yang lapuk karena tererosi oleh perubahan iklim.</p>
<p>Satu hal yang dilupakan bagi kaum <em>determinist empirist positivistic</em> adalah bahwa manusia sesungguhnya mampu belajar. Mereka bukan sekumpulan bebatuan, atom-atom, molekul-molekul, serta agregat-agregat angka yang dengan sederhana dapat dirumuskan menjadi teori melalui kalimat; jika Y, maka X. Tapi sebaliknya, manusia adalah makhluk yang bertindak, berpikir, menilai dan memilih.  Kehendak bebasnya merupakan sarana untuk mengatasi keterbatasan-keterbatasan hidup yang telah menjadi kodrat kehidupan.  Manusia akan dapat belajar baik dari pengalamannya sendiri maupun pengalaman orang lain untuk mencapai tujuan-tujuan bagi kepuasan serta eksistensinya.  Singkatnya manusia bukanlah materi fisikal yang tak bertindak, sekali lagi, dia adalah makhluk yang bertindak.</p>
<p>Jadi, jika mayoritas kalangan akademik sekarang masih berkutat melalui asumsi-asumsi positivistik yang keliru, maka tidak ada cara lain kecuali mengkaji ulang asumsi-asumsi tersebut. permasalahan tentang apakah suatu bidang  ilmu bisa dikatakan ilmiah atau tidak ilmiah bukanlah terletak pada penggunaan model matematis dan analisis statistik yang  canggih maupun yang tidak canggih. Tapi pada kesesuaian asumsi-asumsi dalam epistemologisnya dalam melihat objek material ilmu tersebut&#8212;yang tentunya dalam ilmu-ilmu sosial berbeda jauh dengan asumsi epistemologis ilmu alam.</p>
<h2><strong>Kembali pada Logika Tindakan</strong></h2>
<p>Untuk melawan positivisme salah satu jawaban alternatifnya ialah kembali kepada kajian logika, logika tindakan (<em>praksiologi</em>) atau membuka kembali keran perdebatan metafisis. Teori ilmu sosial tidak akan dapat dihasilkan melalui prosedur eksperimen.  Alasannya: manusia bukanlah batu, atom, molekul, planet bahkan tikus ataupun anjing. Setiap eksperimen yang dilakukan oleh peneliti sosial tidak akan dapat menjamin munculnya tanggapan yang sama pada masing-masing manusia.</p>
<p>Sebaliknya, Manusia adalah makhluk yang bertindak. Artinya, manusia akan selalu bertindak berdasarkan penilaian subyektifnya. Tindakan tersebut akan selalu berbentuk cara-cara yang terbatas serta berbeda-beda bagi setiap individu. Atas dasar itulah basis tindakan manusia dapat dipahami.</p>
<p>Oleh karena itu pemahaman terhadap basis ‘nilai&#8217; manusia menjadi sangat penting. Sebuah penilaian manusia tidak dapat direduksi ke dalam sesuatu yang cardinal. Penilaian manusia akan selalu berbentuk ordinal. Sebuah nilai tidak akan dapat direduksi ke dalam agregrat-agregat melalui bahasa matematis dan juga statistik.  Tetapi sebaliknya, nilai adalah sebuah prioritas. Dia tidak dapat menjadi A sekaligus dalam waktu yang sama menjadi B. Manusia akan selalu dibatasi untuk memilih&#8212;melalui penilaiannya&#8212;prioritas antara A atau B, ataupun memprioritaskan B daripada A.</p>
<p>Akan tetapi, kaum positivis barangkali akan tetap menolak dengan mengatakan bahwa logika, dan juga logika tindakan, tidak dapat disebut sebagai pengetahuan tentang realitas. Alasan mereka adalah karena pernyataan-pernyataan logika maupun praksiologi tidak dapat dibuktikan secara empiris.  Dengan demikian, menurut anggapan yang berpandangan positivis, logika dan praksiologi hanya bersifat analitis dan bukan sintetis.</p>
<p>Untuk melawan argumen ini kita boleh saja mempertanyakan kesasihan kesimpulan non empiris dari 2 + 2 = 4. Apakah untuk menyimpulkannya kita memerlukan pengujian empiris? Jawabnya jelas tidak. Tapi kemudian pertanyaannya adalah, <strong>justifikasi apakah yang menyebabkan kesimpulan tersebut sahih baik secara <em>empiris</em> maupun <em>logis</em></strong><em>?</em> Yang pasti melalui hukum-hukum epistemologis dengan menyelidiki cara kerja akal, tentang refleksi melalui hukum non-kotrakdiksi, kausalitas, hukum identitas, dsb. Dalam ranah ini maka sangat penting bagi setiap ahli ilmu sosial untuk mempelajari epistemologi ilmu.</p>
<p>Namun cara kerja epistemologi bidang kajian ilmu manusia berbeda dari matematika. Dia beroperasi berdasarkan hukum-hukum logika tindakan. Walaupun preposisi apriori matematis berbeda dengan preposisi apriori dalam logika tindakan, keduanya mengkarakteristikan hal yang sama, bahwa kedua proposisi apriorinya tidak mungkin lagi dianalisis menjadi lebih kecil lagi. Artinya,  dia menjadi batas akal/rasio dalam bekerja.  Proposisi apriori matematis seperti; +, -, /, x adalah kaidah-kaidah yang membatasi hukum-hukum berfikir tentang realitas (yang dalam hal ini bukan ranah tindakan), yang apabila diuji secara empiris akan membawa pada kesimpulan yang sahih&#8212;dengan syarat tidak terjadi kesalahan logis dalam pendeduksiannya. Dengan demikian, dia sahih baik secara apriori maupun riil.</p>
<p>Begitu juga dalam logika tindakan. Kaidah-kaidah tentang identitas dan kontradiksi ialah kaidah yang membatasi dalam memandang realitas. Kategori-kategori logika seperti &#8220;ada&#8221;, &#8220;semua&#8221; serta implikasi-implikasinya seperti &#8220;dan&#8221;, &#8220;tidak&#8221;, &#8220;atau&#8221;, &#8220;jika-maka&#8221; merupakan batas-batas yang tidak dapat dianalisis lebih lanjut. Dia akan begitu dan tetap seperti itu, baik secara logis maupun riil.</p>
<p>Walaupun karakter apriori logika tindakan serta karakter apriori matematis memiliki karakteristik yang sama, akan sangat keliru bagi kaum positivistik, yang menekankan fungsi prediktif, dengan cara menggunakan perhitungkan matematis dalam menggambarkan realitas tindakan. Alasannya, kerena proses pendeduksian matematis tidak dapat ditarik dari aksioma tindakan. Dalam perspektfi ini, maka sebenarnya positivisme tidak memiliki basis epistemologi apapun.</p>
<p>Di sinilah pentingnya kajian praksiologi atau logika tindakan. Pencarian kebenaran dalam logika tindakan tidak dilakukan dengan cara mengukur;  dia hanya dapat ditelaah melalui identifikasi reflektif.  Identifikasi tersebut mengisyaratkan bahwa setiap tindakan manusia sepenuhnya subyektif.  Jadi memprediksikan sebuah tindakan adalah sesuatu yang muskil, karena ketika kemarin saya bangun jam 6 pagi, hal tersebut tidak akan menjamin bahwa saya besok akan bangun pada jam yang sama seperti kemarin; secanggih apapun metode statistik yang Anda gunakan, Anda tidak akan mampu memprediksikan jam berapa besok saya akan bangun. Karena sebab-sebab konstan dalam sebuah tindakan tidak akan pernah ada sama sekali.</p>
<p>Kemudian kaum positivis mungkin akan bertanya-tanya, untuk apakah <em>science</em> jika tidak memiliki fungsi prediktif? Yang jelas tanpa memiliki fungsi prediktif suatu ilmu tetap akan dapat memberi petunjuk bagi manusia untuk memahami dunianya. Dengan tujuan yang lebih sederhana, tugas ilmu pengetahuan adalah menguak realitas-realitas yang masih terhalang. Sains tentang manusia tidak dapat membangun ide-ide apapun; dia hanya dapat menguak realitas&#8212;-setidaknya agar kita tidak selalu dibohongi oleh ahli propanda serta menjaga peradaban dalam menciptakan individu-individu yang bebas, bermoral, kritis, kreatif serta inovatif.</p>
<p>Hanya melalui strategi perubahan cara pandang&#8212;atau setidaknya kembali mengkaji&#8212;epistemologi-lah krisis kemanusiaan dapat diperbaiki. Tanpa ada usaha perubahan tersebut maka kita akan selalu dihadapkan pada problem-problem sosial yang disebabkan oleh kesalahan kita dalam memahami fenomena realitas manusia. Entah sampai kapan kita meyakini anggapan bahwa alat tukar/uang ialah hasil ciptaan pemerintah, atau bahwa harga barang seharusnya dapat dikontrol oleh politisi, atau menganggab hasil belajar pesertadidik harus dievaluasi serentak melalui Ujian &#8220;Nasional&#8221;. Tanpa disadari, dengan klaim jubah ilmiah oleh kalangan akademis, kita telah menciptakan bencana kemanusiaan yang berasal dari kesalahan pemahaman atas ilmu-ilmu tentang manusia itu sendiri!</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>REMOKENDASI</strong></p>
<p>Hoppe, Hans-Hermann. 2008. <em>Ilmu Ekonomi dan Metode Austria</em>. Terj. Sukasah Syahdan. Jurnal Kebebasan: Akal dan Kehendak (<a href="http://akaldankehendak.com/">Http://akaldankehendak.com</a>)</p>
<p>John J. Toohey, S.J., 1952. <em>Notes on Epistemology</em>. Washington, D.C.: Georgetown University Press</p>
<p>Mises, Ludwig von. 1957. <em>Theory and History: An Intrepertation of Social and Economic Evolution</em>. Washington, D.C.: Ludwig von Mises Institute</p>
<p>Rothbard, Murray N. 1960, &#8220;The Mantle of Science,&#8221;<em> </em> Princeton, N.J.: D. Van Nostrand</p>
<p>Spencer, Herbert. 1864. <em>Reasons for Dissenting from the Philosophy of M. Comte</em></p>
<p>Wutscher, Robert. 2005. <em>Foundations in economic methodologies: The use of mathematics by mainstream economics and its methodology by Austrian economics</em>. Economics Honours Long Paper, 5 September 2005. Department of Economics. University of Cape Town</p>
<hr size="1" /><a name="_ftn1" href="#_ftnref1">[1]</a> Lihat dalam pendahuluan karya Auguste Comte, <em>The Positive Philosophy of Auguste Comte</em>, diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris oleh Harriet Martineau (London George Bell &amp; Son, 1986), hal. 31.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://akaldankehendak.com/?feed=rss2&amp;p=440</wfw:commentRss>
		<slash:comments>15</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Stop Press: Kabar dari Canberra</title>
		<link>http://akaldankehendak.com/?p=438</link>
		<comments>http://akaldankehendak.com/?p=438#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 04 Mar 2009 01:32:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>
		<category><![CDATA[Canberra]]></category>
		<category><![CDATA[Hughes]]></category>
		<category><![CDATA[Ultah A&K]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://akaldankehendak.com/?p=438</guid>
		<description><![CDATA[Di awal Maret 2009 ini Akaldankehendak.com berulang tahun, genap berusia 2 tahun dan telah memasuki tahun ke-3 penerbitannya!  Terima kasih banyak kami haturkan kepada Anda yang selama ini ....]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://akaldankehendak.com">Jurnal Kebebasan: Akal dan Kehendak<br />
</a>Volume III, Edisi 68, Tanggal 1 Maret 2009<br />
Oleh: Admin</p>
<p>Di awal Maret 2009 ini Akaldankehendak.com berulang tahun, genap berusia 2 tahun, dan siap memasuki tahun penerbitannya yang ke-3!</p>
<p>Terima kasih banyak kami ucapkan kepada Anda yang selama ini setia mengunjungi kami, terus tanpa pamrih mendukung penerbitan ini lewat berbagai komentar, tanggapan dan masukan yang berharga, baik lewat kolom diskusi maupun silaturahmi via email secara langsung dengan kami.  Terima kasih!</p>
<p>Tahun 2009 penuh tantangan besar.  Sebagaimana sinyalemen dalam beberapa artikel terkait resesi di Jurnal ini, kita semua kini &#8220;resmi&#8221; telah memasuki awal periode resesi global, yang <em>akan </em>menjelma sebagai periode depresi berkepanjangan.</p>
<p>Tantangan ekstra kami alami sejak awal tahun.  Ini terkait kepindahan kami dari bumi Ciputat tercinta, ke negara tetangga, Australia.  Sebagaimana kabar kami kepada beberapa rekan A&amp;K, sejak awal Januari lalu sebenarnya Jurnal ini sudah kami kelola dari &#8216;kecamatan&#8217; Hughes, Canberra, habitat baru kami sekeluarga untuk sementara waktu.</p>
<p>Sejumlah masalah logistik dan akomodasi terkait kepindahan ini ternyata telah menyebabkan ketersendatan penerbitan Jurnal.  Ini kami sesali; mohon maaf dan maklum. Kabar baiknya adalah: satu per satu hambatan tersebut berhasil diatasi. Akaldankehendak.com pun siap terbit rutin dalam edisi-edisi mendatang.</p>
<p>Demikian kabar kami.  Dan dukungan Anda semakin kami harapkan.  (Nad)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://akaldankehendak.com/?feed=rss2&amp;p=438</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tentang Mal-Mal Besar di Kampung Besar</title>
		<link>http://akaldankehendak.com/?p=436</link>
		<comments>http://akaldankehendak.com/?p=436#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 23 Feb 2009 03:09:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>
		<category><![CDATA[Mal]]></category>
		<category><![CDATA[mall]]></category>
		<category><![CDATA[Property]]></category>
		<category><![CDATA[property rights]]></category>
		<category><![CDATA[pusat pertokoan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://akaldankehendak.com/?p=436</guid>
		<description><![CDATA[Tulisan ini melengkapi sekaligus memperbaiki masukan dari tulisan saya beberapa tahun lalu, tentang pembangunan mal-mal di Jakarta.  Kalau dalam tulisan sebelumnya saya terkesan agak "sinis" terhadap pembangunan mal-mal di ibukota-dan dengan skeptis memperkirakan bahwa mal-mal baru di Jakarta sudah dirundung kegagalan sejak awal, saya dalam artikel singkat ini sikap saya amat positif!]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Jurnal Kebebasan: Akal dan Kehendak<br />
Volume II, Edisi No. 68, Tanggal 9 Februari 2009<br />
(Diterbitkan tanggal 22 Februari 2009)<br />
Oleh: Sukasah Syahdan</p>
<p>Tulisan ini melengkapi sekaligus memperbaiki masukan dari <a href="http://nadsnotes.blogspot.com/2005/12/dismall-malls.html" target="_blank">tulisan saya beberapa tahun lalu</a>, tentang pembangunan mal-mal di Jakarta.</p>
<p>Kalau dalam tulisan sebelumnya saya terkesan agak &#8220;sinis&#8221; terhadap pembangunan mal-mal di ibukota-dan dengan skeptis memperkirakan bahwa mal yang waktu itu baru berdiri, sudah dirundung kegagalan sejak awal, saya dalam artikel singkat ini sikap saya amat positif terhadap mal.</p>
<p>Sudut pandang saya, meski sangat sederhana, terus terang agak baru.  Saya sendiri merasa agak aneh mengapa selama ini berpandangan agak negatif terhadap pusat-pusat perbelanjaan yang &#8220;mewah&#8221; atau  &#8221;baru&#8221;.  Selama bertahun-tahun saya tidak pernah &#8220;happy&#8221; membawa keluarga saya ke PI Mall; saya jarang mau mengajak atau mengantar istri dan anak saya ke tempat semacam itu. Berhubung dalam beberapa tahun terakhir kami tinggal di Ciputat, selama ini saya cukupkan mengajak anak dan istri ke Bintaro Plaza saja, yang letaknya tidak terlalu jauh dari rumah (lewat jalan tikus).  Konsekuensi ini juga saya sesalkan; dan saya cukup sadar, perlu waktu untuk &#8220;meralatnya.&#8221;</p>
<p>Terus terang dengan pandangan baru ini saya merasa sedikit tercerahkan.  &#8220;Pencerahan&#8221; pribadi ini baru saya alami setelah mendalami sedikit banyak tentang konsep <em>property</em> dan <em>property rights</em> (dalam beberapa artikel terakhir saya pernah mengulas tentang hal-hal ini).</p>
<p>Singkatnya, pandangan-baru terhadap mal-mal di Jakarta ini terkait mesra dengan perkembangan dan pembangunan kota Jakarta, juga dinamika dan mobilitas para penduduknya.  Ibukota yang disebut metropolitan dan diimpikan sebagian orang untuk menjadi megapolitan, dalam banyak hal yang sangat mendasar, pada hakikatnya tidak lain adalah sebuah kampung besar.</p>
<p>Ya, Jakarta adalah sebuah dusun mahabesar!  Dusun mahabesar ini adalah hasil evolusi <em>tragedy of the commons</em> akibat keterjebakan hampir semua pihak pada kondisi atau sistem pengaturan properti<em> </em>yang tidak pernah jelas dan andal, serta inkompetensi segelintir orang yang konon disebut pengelola kota dan penegak aturan.  Kondisi ini seperti telah menjebak kita semua sehingga berperilaku &#8220;kampungan&#8221; meski tinggal di kota paling besar, paling ramai di negeri ini.</p>
<p>Sebagian besar kita cenderung masih tergoda untuk mengangkangi aturan; sebagian besar penduduk Jakarta cenderung berperilaku ugal-ugalan di ruang publik.   Bis-bis berhenti semaunya; mobil dan motor salip sana, salip sini, lalu berhenti atau parkir seenaknya; kita buang sampah atau meludah di mana-mana; kita menyeberang jalan seenaknya; kita berebutan ruang dengan para pejalan di trotoar; dan lain sebagainya, yang hanya akan menguatkan status kita sebagai kampungan.</p>
<p>Saya tidak akan menjustifikasikan lebih lanjut mengapa Jakarta adalah sebuah kampung besar.  Mungkin saja benar, ini fenomena biasa di sebuah negara berkembang. Saya tidak bermaksud berkomentar lebih jauh.  Saya hanya ingin mengontraskan kondisi ini dengan eksistensi mal dalam konteks kesemrawutan urban, dan dengan demikian memperlihatkan kinerja ataupun aplikasi <em>private property rights</em>dalam permasalahan sosial.</p>
<p>Ketika sebuah mal baru berdiri, tentunya setelah melalui lika-liku perijinan dan berbagai persoalan teknis dan non-teknis, dia biasanya akan eksis dengan pengaturan hak-kwajiban atas properti <em>(property arrangement)</em> tertentu yang jelas.  Mal adalah <em>lebensraum</em>, sebuah ruang hidup bagi publik, dengan pengaturan hak dan tanggungjawab yang tidak rancu antara pemilik, penyewa, pengelola, dan pengunjung. Mal tumbuh dan harus mampu tumbuh hanya dengan cara beradaptasi terhadap kebutuhan pengunjung dalam semangat kompetisi yang terbuka antarpengelola mal.</p>
<p>Dalam ketiadaan taman kota yang mampu menawarkan kenyamanan dan keamanan yang mendasar, kehadiran mal-mal menawarkan keduanya.  Dengan berbagai fasilitas yang mereka tawarkan, termasuk label-label dan simbol-simbol sederhana namun sesungguhnya amat sentral dalam mendefinisikan dan menuntut perilaku tertentu bagi siapa saya yang hadir di sana, mal-mal menyuguhkan banyak kebutuhan dasar yang luput dari perhatian &#8220;pemimpin&#8221; atau &#8220;perencana&#8221;. Kebutuhan belanja hanyalah satu dari banyak hal yang ditawarkannya.</p>
<p>Kekacauan pengaturan infrastruktur dasar di ibukota membuat hidup yang bagi sebagian besar penduduk sudah sulit menjadi menjadi semakin sulit. Dengan daya tariknya masing-masing, mal-mal menjadikan kota ini menjadi lebih dapat ditolerir. Mal adalah sebuah tempat <em>rendezvous</em>, <em>melting pot</em> juga <em>escape</em> (pelarian).</p>
<p>Sebagai tempat publik, mal sebenarnya amat individualistis. Dia perwujudan atau <em>embodiment</em> dari berbagai inisiatif dan kreativitas individual dalam semangat sukarela untuk menarik, memikat individu-individu lainnya.  Tanpa paksaan! Tanpa aturan dari pihak penguasa,  kecuali dari pemilik mal dan penyewa stan-stan di sana.</p>
<p>Setiap mal mencoba menawarkan produk, informasi dan solusi terbaik bagi penduduk di sekitarnya, dan tidak semuanya harus berbayar.   Mal-mal di kampung besar semacam Jakarta bukan cuma tempat berbelanja. Anda mungkin tidak perlu diberitahu lebih jauh tentang apa saja yang dapat orang lakukan di sana.  Lagi pula, keputusan berbelanja tidak berasal dari sana dan tidak pula pernah tercerabut dari diri kita.</p>
<p>Anda yang cenderung melarang anak-anak untuk mengunjungi mal-mal (atas alasan konsumerisme, misalnya), perlu menelisik kembali alasannya. Puji Tuhan mal-mal berdiri di kampung besar Jakarta. Semoga mal-mal lama tetap bertahan dan mal-mal baru dapat terus bebas didirikan.  [ ]</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://akaldankehendak.com/?feed=rss2&amp;p=436</wfw:commentRss>
		<slash:comments>7</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Berita Buku</title>
		<link>http://akaldankehendak.com/?p=434</link>
		<comments>http://akaldankehendak.com/?p=434#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 04 Feb 2009 07:35:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[buku]]></category>
		<category><![CDATA[FNS]]></category>
		<category><![CDATA[In Defense of Global Capitalism]]></category>
		<category><![CDATA[Johan Norberg]]></category>
		<category><![CDATA[Membela Kapitalisme Global]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://akaldankehendak.com/?p=434</guid>
		<description><![CDATA[Jurnal Kebebasan: Akal dan Kehendak
Volume II Edisi No. 66, Tanggal 2 Februari 2009
Oleh: Admin
Sekali lagi Friedrich Naumann Stiftung der Freiheit  (FNS) Jakarta menerbitkan buku baru: Membela Kapitalisme Global.  Ini terjemahan sebuah best-seller yang cukup terkenal dan telah diterjemahkan ke dalam banyak bahasa di dunia-In Defense of Global Capitalism, karya pemikir muda kelahiran Swedia, Johan Norberg.

Ada [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Jurnal Kebebasan: Akal dan Kehendak<br />
Volume II Edisi No. 66, Tanggal 2 Februari 2009<br />
Oleh: Admin</p>
<p>Sekali lagi <em>Friedrich Naumann Stiftung der Freiheit  (FNS) </em>Jakarta menerbitkan buku baru: <em>Membela Kapitalisme Global</em>.  Ini terjemahan sebuah <em>best-seller</em> yang cukup terkenal dan telah diterjemahkan ke dalam banyak bahasa di dunia-<em>In Defense of Global Capitalism</em>, karya pemikir muda kelahiran Swedia, Johan Norberg.</p>
<div class="captionleft"><img src="http://akaldankehendak.com/wp-content/uploads/2009/02/buku-jadi.jpg" alt="alt text" width="349" height="484" /></div>
<p>Ada beberapa alasan mengapa A&amp;K menyambut gembira penerbitan ini dan merekomendasikannya bagi pengunjung setia Jurnal ini.  Kebetulan Nad termasuk salah satu dari dua penerjemah yang dalam beberapa bulan terakhir tahun lalu menggeluti proses penerjemahnya.  Nad juga bertanggung jawab mengoreksi, membandingkan sekaligus menyunting naskah awalnya-hasil terjemahan ke dalam bahasa Indonesia dari versi Jerman buku tersebut. ;-p</p>
<p>Tapi yang jauh lebih penting adalah kandungan buku tersebut.  <em>Membela Kapitalisme Global </em>membahas berbagai isu penting, baik yang mikro (dari kesehatan hingga penindasan perempuan, dari pendidikan hingga kemiskinan, dari proteksionisme perdagangan, perpajakan, perbatasan wilayah negara dan imigrasi, hingga lingkunganhidupisme, dari buruh anak di India dan penindasan perempuan di Cina, hingga krisis Asia, dll.) maupun yang makro (kapitalisme, pertumbuhan ekonomi, gerakan kebebasan dan globalisasi).</p>
<p>Norberg meramu dengan baik tilikan-tilikan teoritis dalam bahasa yang lugas, memikat dan menohok. Satu demi satu, ia menyingkap kesesatan pikiran <em>(fallacies) </em>publik terkait topik-topik penting yang diangkatnya. Norberg tidak ragu menunjukkan kekeliruan-kekeliruan yang sering disuarakan oleh para tokoh-tokoh terkenal di dunia.</p>
<p>Pandangan Norberg tentang kapitalisme sebenarnya cukup sederhana.  Dalam banyak hal, pandangannya mungkin akan mengingatkan Anda pada misi sederhana di balik penerbitan Jurnal A&amp;K ini: yaitu emansipasi demi dan penghargaan terhadap <em>supremasi individidu</em>.   Berikut apa yang ia maksud dengan kapitalisme, pasar bebas, atau pasar liberal:</p>
<p>&#8220;<em>Yang saya maksud dengan kapitalisme bukanlah sistem ekonomi yang secara khusus mengatur kepemilikan modal dan peluang investasi, sebab hal-hal tersebut juga dapat dijumpai dalam ekonomi yang terpimpin. Yang saya maksud adalah ekonomi pasar liberal, dengan persaingan bebas berdasarkan hak, di mana orang dapat menggunakan hak milik dan memiliki kebebasan untuk bernegosiasi, membuat perjanjian, dan memulai aktivitas bisnis. Jadi, yang saya bela adalah kebebasan individu di dalam perekonomian.&#8221;(</em>MKG, Bag. Pengantar)<em> </em></p>
<p><em> </em></p>
<p>Keyakinan Norberg pada kebebasan dan kreativitas individu juga tercermin dalam kata-katanya sendiri:</p>
<p><em>&#8220;Apa yang sebenar-benarnya saya yakini bukanlah kapitalisme dan globalisasi. Yang menghasilkan segala yang bisa kita saksikan di sekeliling kita dalam bentuk kemakmuran, inovasi, komunitas dan budaya itu bukanlah sistem ataupun sekumpulan aturan. Hal-hal tersebut adalah ciptaan manusia. Yang saya yakini adalah kemampuan manusia untuk menghasilkan hal-hal besar dan kekuatan gabungan yang muncul dari interaksi dan pertukaran kita. Saya mengimbau terwujudnya kebebasan yang lebih besar dan dunia yang lebih terbuka. Ini bukan atas dasar keyakinan saya akan adanya satu sistem yang lebih efektif daripada sistem lainnya; melainkan keyakinan saya bahwa kebebasan dan keterbukaan menyediakan latar yang sanggup membebaskan kreativitas individual. Tidak ada sistem lain yang mampu menyediakannya sebaik itu. Kebebasan dan keterbukaan menggerakkan dinamisme yang telah membawa kemajuan di bidang kemanusiaan, ekonomi, ilmu pengetahuan, dan teknologi. Menaruh keyakinan terhadap kapitalisme bukan berarti percaya pada pertumbuhan, ekonomi atau efisiensi. Meski hal-hal tersebut baik untuk dicapai, mereka hanyalah sejumlah akibat. Pada intinya, keyakinan terhadap kapitalisme adalah keyakinan terhadap kemanusiaan. &#8220;</em> (op.cit)</p>
<p><em>Membela Kapitalisme Global </em>menjawab berbagai pertanyaan penting sbb: bagaimana kaum liberal menjustifikasikan fakta bahwa sebagian besar perekonomian besar di dunia ternyata dimiliki oleh korporasi? Bagaimana pandangannya tentang kesenjangan distribusi akibat kapitalisme? Apa itu pajak Tobin? Apa pandangannya tentang perdagangan bebas dan kebijakan merkantilistik sebagian besar pemerintah dunia?</p>
<p>Dalam hemat kami, buku ini kelak akan tercatat sebagai sebuah literatur-populer kunci menuju pemahaman yang lebih baik terhadap gagasan liberalisme. <em>Membela Kebebasan Global</em> adalah sebuah tonggak dalam perjalanan perkembangan gagasan kebebasan di dalam negeri.</p>
<p>Anda yang ingin mendapatkan buku ini secara cuma-cuma kami sarankan menghubungi langsung FNS Jakarta di alamat ini: Jl. Rajasa II no. 7, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan 12110; atau melalui telepon di 021-7256012/13.  (Kesempatan ini cuma hanya berlaku selama stoknya tersedia.  Jadi, siapa cepat, dia dapat!  Kalau kehabisan, tak perlu terlalu kecewa, sebab <em>Membela Kapitalisme Global </em>segera dipasarkan dengan harga sangat terjangkau di toko-toko buku utama di kota Anda.)</p>
<p><strong><span style="text-decoration: underline;">Keterangan buku</span></strong></p>
<p>Judul versi Inggris: <em>In Defense of Global Capitalism;<br />
</em>Judul versi Indonesia: <em>Membela Kapitalisme Global;<br />
</em>Pengarang: Johan Norberg;<br />
Penerbit:  FNS bekerjasama dengan Freedom Institute;<br />
Penerjemah dan penyunting:Nad;<br />
Tahun terbit: Januari 2009;<br />
Halaman: l.k. 400 halaman termasuk Indeks;<br />
ISBN: ?<br />
Kredit foto: Husen di kawanlama.com</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://akaldankehendak.com/?feed=rss2&amp;p=434</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
