<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Akal &#38; Kehendak &#187; Epistemologi</title>
	<atom:link href="http://akaldankehendak.com/?feed=rss2&#038;cat=8" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://akaldankehendak.com</link>
	<description>Jurnal Kebebasan</description>
	<lastBuildDate>Tue, 07 Sep 2010 05:11:07 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.0.1</generator>
		<item>
		<title>Melawan Positivisme</title>
		<link>http://akaldankehendak.com/?p=440</link>
		<comments>http://akaldankehendak.com/?p=440#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 24 Mar 2009 01:12:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Epistemologi]]></category>
		<category><![CDATA[Praksiologi]]></category>
		<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>
		<category><![CDATA[Auguste Comte]]></category>
		<category><![CDATA[ilmu sosial]]></category>
		<category><![CDATA[positivisme]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://akaldankehendak.com/?p=440</guid>
		<description><![CDATA[Dalam banyak seminar dan diskusi, kadang terdengar keluhan bahwa ilmu pengetahuan sosial telah tersub-ordinatkan oleh pengetahuan alam. Hal ini memang disayangkan dan, bahkan, menurut saya, tidak terjadi secara kebetulan. Keluhan tersebut sering timbul sebagai reaksi terhadap berbagai kebijakan-kebijakan politik pendidikan ataupun kebijakan lain yang terkait dengan kepentingan kebutuhan-kebutuhan praktis (misalnya dalam "mencetak" tenaga-tenaga teknis terdidik).

Apakah benar landasan pemikiran di balik kebijakan-kebijakan semacam itu? Sejauh mana pengaruh ilmu pengetahuan alam telah menyilaukan para pakar ilmu sosial? Dan siapakah yang bertanggungjawab atas keyakinan filosofis dari penyimpangan yang terjadi sekarang ini?]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h3>Jurnal Kebebasan: Akal dan Kehendak</h3>
<p>Volume III, Edisi No. 70, Tanggal 22 Maret 2009<br />
Oleh: <strong>Giyanto<br />
</strong><br />
<em> </em></p>
<p style="text-align: center;"><em>From science comes prevision, from prevision comes actions.</em></p>
<p style="text-align: center;">(Auguste Comte, <em>The Positive Philosophy)</em></p>
<p style="text-align: center;"><em>One of the fundamental conditions of man&#8217;s existence and action is the fact that he does not know what will happen in the future</em></p>
<p style="text-align: center;">(Ludwig von Mises<em>, Theory and History)</em></p>
<p style="text-align: left;">Apabila dilihat secara jeli, ada kesan bahwa ilmu pengetahuan sosial telah menuju pada kematian.</p>
<p>Dalam banyak seminar dan diskusi, kadang terdengar keluhan bahwa ilmu pengetahuan sosial telah tersub-ordinatkan oleh pengetahuan alam. Hal ini memang disayangkan dan, bahkan, menurut saya, tidak terjadi secara kebetulan. Keluhan tersebut sering timbul sebagai reaksi terhadap berbagai kebijakan-kebijakan politik pendidikan ataupun kebijakan lain yang terkait dengan kepentingan kebutuhan-kebutuhan praktis (misalnya dalam &#8220;mencetak&#8221; tenaga-tenaga teknis terdidik).</p>
<p>Apakah benar landasan pemikiran di balik kebijakan-kebijakan semacam itu? Sejauh mana pengaruh ilmu pengetahuan alam telah menyilaukan para pakar ilmu sosial? Dan siapakah yang bertanggungjawab atas keyakinan filosofis dari penyimpangan yang terjadi sekarang ini?</p>
<div class="captionleft"><img src="http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/b/b3/Auguste_Comte.jpg" alt="" width="329" height="477" /><br />
<em>(Auguste Comte)</em></div>
<p>Adalah Auguste Comte pihak yang bertanggungjawab di sini.  Comte memberi kita visi tentang idealitas keilmuwan; tentang ilusi keagungan penerapan prosedur eksperimen dalam penyelidikan sosial; tentang pentingnya &#8220;memajukan&#8221; masyarakat untuk lepas dari belenggu pemikiran teologis serta metafisis menuju masyarakat positif yang &#8220;ilmiah&#8221;.</p>
<p>Ironisnya, pandangan ini sekarang telah menjadi satu-satunya norma ilmiah&#8211;sebuah norma yang tanpa pernah dipertanyakan, telah menjadi tradisi untuk mengklaim diri paling ilmiah dan yang lain sebagai tidak ilmiah. Atas visi yang <em>keblalasan</em> tersebut, cabang ilmu yang pada awalnya murni logika, misalnya ekonomi dan ilmu sosial, telah ikut-ikutan mengadopsi visi filosofis Auguste Comte. Setiap pernyataan atau proposisi, menurut klaim positivis, tidak akan pernah dapat dibuktikan kebenarannya apabila tidak melalui prosedur eksperimen yang empiris.</p>
<p>Monopoli terhadap klaim bahwa prosedur kaum positivistik sebagai satu-satunya prosedur yang paling ilmiah merupakan satu bentuk <strong><em>kebebalan</em> </strong>akademik.  Positivisme dalam ranah epistemologi mensyaratkan bahwa ilmu tindakan manusia harus menerapkan prosedur yang sama seperti yang dilakukan dalam ilmu alam.</p>
<p>Dalam ranah aliran psikologi, kaum positivis terjelma dalam aliran behaviorisme, atau sering disebut neopositivisme. Dalam bidang budaya dia muncul dalam kritik sastra serta kritik seni. Dalam bidang politik dia tampil dengan pemberlakuan hukum positif dsb.  Karena keterbatasan ruang serta kemampuan, di sini saya akan menunjukkan beberapa kesalahan dari sudut pandang epistemologi ilmu pengetahuan terhadap keyakinan-keyakinan filosofis kaum positivis.</p>
<h2><strong>&#8220;Teori&#8221; Positivisme</strong></h2>
<p>Dalam <em>The Positive Philosophy, </em>tujuan<em> </em>utama Comte adalah menelaah sejarah perkembangan ilmu serta menciptakan teori tentang tiga tahap perkembangan masyarakat. Ia membagi perkembangan masyarakat ilmiah menjadi tiga: tahap <em>teologis</em>, tahap <em>metafisik</em> dan tahap <em>‘ilmiah&#8217;</em> atau <em>positif</em>. Dalam penafsirannya, penemuan ajaran Bacon, konsep Descrates dan pandangan Galileo ialah salah satu bentuk semangat perkembangan masyarakat positif dalam melawan sistem skolastik. Untuk itu Comte mengajukan sebuah cabang ilmu yang, menurut dia, seharusnya memiliki keteraturan yang sama seperti ilmu alam, ia menyebutnya fisika sosial (<em>Social Physic</em>s).</p>
<p>Alih-alih menelaah sifat manusia secara utuh, dalam karyanya Comte malah lebih banyak mengulas Matematika, Astronomi, Statistik, Geometri, Fisika, Kimia. Konon, menurut Comte, hal itu dimaksudkan untuk mencari prasyarat bagi tahap-tahap menuju masyarakat positif. Di sini Comte cukup &#8220;sukses&#8221;. Kita sekarang telah dibingungkan oleh ajaran Comte yang sesat. Bagi Comte, masyarakat positif dikatakan dapat berhasil secara ilmiah ketika para ilmuwan telah meninggalkan sesuatu yang <em>a priori</em>. Metode yang paling tepat, menurut Comte, ialah pencarian hukum-hukum ilmu sosial melalui eksperimen. Baginya hanya metode eksperimenlah yang dapat mendekatkan kita pada objek observasional.</p>
<p>Prasyarat kedua, menurut Comte, dalam menuju masyarakat positif adalah dengan menggantikan pendidikan teologi, metafisika dan sastra dengan pendidikan filsafat positif. Comte mengartikan pendidikan positif sebagai ajaran yang mendidik masyarakat agar persepsinya dapat sesuai dengan objek faktual&#8212;dengan kata lain gagasan-gagasan abstrak serta fiksi seharusnya ditiadakan. Dengan demikian ajaran-ajaran teologis, metafisik dan sastra merupakan ajaran yang tidak sesuai dengan objek faktual. Jadi keberadaan mereka perlu digantikan dengan ilmu-ilmu alamiah, atau dengan kata lain hal-hal yang bukan fakta non-metafisis tidak bermakna apa-apa. Sekali lagi, di sini Comte mengalami kesuksesan. Dan sekarang sistem pendidikan kita melaksanakan dengan konsisten usulan ajaib dari Auguste Comte!</p>
<p>Ketiga, bagi Comte, masyarakat ilmiah dalam menelaah ilmu sedapat mungkin harus mampu mengombinasikan beberapa sudut pandang cabang ilmu. Baginya, kombinasi dalam berperspektif sangatlah penting.  Ia mencontohkan bahwa kimia seharusnya dipadukan dengan fisiologi&#8212;seperti kebodohan kita dalam mengubah manusia menjadi sekedar ilmu statistik atau melihat trend-trend saat ini munculnya kajian ekonomi perilaku, ekonomi fisika dsb. Kesalahan Comte di sini sangat fatal. Ia tidak menyadari bahwa setiap cabang ilmu itu terkait cara berfikir. Setiap disiplin ilmu memiliki logika formalnya sendiri-sendiri. Ada perbedaan antara yang ada dalam pikiran dengan kenyataan luar.</p>
<p>Terakhir, masih menurut Comte, untuk mengatasi krisis masyarakat, hanya pandangan filsafat positivisme-lah yang mampu mengatasi krisis sosial. Dengan filsafat positif anarkisme intelektual, yang biasanya melewati jalan rumit untuk diperdebatkan dalam mencari kebenaran, harus dilenyapkan. Pandangan ini jelas-jelas memberi jalan panjang bagi kematian karya-karya klasik. Bagi Comte, ide-ide masa lalu yang mengarah pada anarkis adalah musuh keteraturan masyarakat.  Anggapan tersebut jelas keliru. Musuh keteraturan bukanlah anarkisme intelektual tetapi imoralitas perilaku.</p>
<h2><strong>Permasalahan Epistemologi Positivisme</strong></h2>
<p>Kesalahan Comte yang paling mendasar adalah memperlakukan setiap fenomena seperti hukum ilmu alam&#8212;yaitu memiliki sifat yang tak berubah serta beroperasi melalui sebab-sebab konstan. Dia menganalogikan setiap fenomena harus mengikuti jalan yang sama bagi penemuan teori ilmu alam, khususnya ilmu fisika. Ini kebodohan tingkat tinggi. Comte mengatakan:</p>
<p style="padding-left: 30px;"><em>The first characteristic of the Positive Philosophy is that it regards all phenomena as subjected to invariable natural Laws. Our business is,&#8212;seeing how vain is any research into what are called cause, whether first or final,&#8212;to pursue an accurate discovery of these Laws, with a view to reducing them to the smallest possible number. By speculating upon cause, we could solve no difficulty about origin and purpose.  Our real business is to analyze accurately the circumstance of phenomena, and to connect them by natural relations of succession and resemblance. The best illustration of this is in the case of the doctrine of Gravitation.<a name="_ftnref1" href="#_ftn1"><span style="text-decoration: underline;"><strong><u>[1]</u></strong></span></a></em></p>
<p>Tujuan utama ilmuwan yang berpandangan positivis ialah mencari keteraturan dari sebuah fenomena. Senjata pamungkasnya: statistik. Alasannya, hanya statistiklah yang dapat menguji fenomena sosial layaknya pengujian ilmu alam. Bagi kaum positivis, sebuah teori yang tidak dapat diverifikasi atau difalsifikasi oleh pengalaman empiris&#8212;yang biasanya melalui data statistik&#8212;tidak akan dapat dianggap sahih. Bahkan sebuah pernyataan tanpa dukungan analisa statistik tidak bisa disebut &#8220;ilmiah&#8221;.</p>
<p>Dapat dipahami tentang penekanan penggunaan statistik dalam ilmu sosial disebabkan oleh <em>kesilauan</em> ahli ilmu sosial terhadap prosedur induktif yang digunakan dalam ilmu alam. Dengan prosedur induktif, para ahli ilmu sosial berharap akan menemukan hukum-hukum sosial seperti layaknya hukum fisika; sehingga penggunaan prosedur yang kaku, dengan berbagai varian metodologi kuantitatifnya, telah berhasil membuat sebagian besar akademisi kita sudah merasa &#8220;paling ilmiah&#8221;.</p>
<p>Doktrin tersebut, tidak dapat dipungkiri, menyiratkan pandangan yang kacau. Statistik tidak menggambarkan keteraturan. Dia hanya sebuah kumpulan kejadian-kejadian yang beragam, yang kemudian direduksikan menjadi angka-angka. Dengan demikian, kejadian-kejadian tersebut bukanlah sebuah variabel yang dapat dipastikan akan mempengaruhi kejadian di masa depan. Fenomena yang telah direduksi ke dalam angka statistik pastilah fenomena masa lalu. Dia merupakan sejarah masa lalu; sehingga sangat musykil untuk membangun teori dari data statistik.</p>
<p>Sekarang ini ilmu sosial seolah-olah telah menjadi cabang dari ilmu matematika ataupun statistik. Kita hampir tidak pernah diberikan telaah tentang problem epistemologi. Dalam hal prosedur penelitian, hampir semua kurikulum perguruan tinggi telah mengajarkan filsafat ilmu&#8212;bukannya epistemologi ilmu. Sebagai akibatnya, telah menjadi keyakinan umum bahwa tanpa prosedur metodologis, sebuah temuan yang ‘hanya&#8217; berdasar reflektif tidak akan pernah dianggap sahih.</p>
<p>Dampak lebih jauh dari pandangan tersebut ialah matinya sensitifitas serta kemampuan refleksi filosofis para ahli ilmu sosial. Mahasiswa dan calon sarjana ilmu sosial, atau secara umum bidang manusia, telah benar-benar menjadi positif. Mereka hampir-hampir tidak memiliki kemampuan analisis logis yang mumpuni terhadap problem sosial. Sarjana-sarjana kita telah menjadi robot-robot akademik yang mudah untuk ditakut-takuti oleh wajah seram metodologi ilmu.</p>
<p>Entah berapa banyak lagi buku-buku metodologi penelitian sosial yang sekarang terserak di toko-toko buku mengasumsikan hal yang sama. Asumsi filosofis yang sejak zaman Locke, Hume serta Berkley hingga memuncak menjadi filsafat Positivis Auguste Comte, menganggap akal manusia hanyalah ‘tabula rasa&#8217;, yang hanya tunduk pada rangsangan inderawi. Mereka tidak mempercayai bahwa manusia memiliki benak yang aktif. Anehnya, determinisme filosofis yang semakin berlarut-larut saat ini tidak pernah dipertanyakan ataupun diresahkan oleh kalangan akademis kita.</p>
<p>Dengan demikian apabila ditelusuri secara logis, determinisme filosofis akan mengarah ke empirisme, dan apabila ditambah dengan prasyarat perlunya verikasi dan falsifikasi dia akan menjelma menjadi keyakinan positivis. Dengan kata lain, positivisme merupakan bentuk ekstrim empirisme serta bagian besar dari pandangan determinis.  Determinisme adalah kakek positivisme. Begitu juga empirisme; dia anak determinisme, serta bapak dari positivisme.</p>
<p>Artinya, ketiga pandangan tersebut adalah keluarga besar yang menyamakan manusia seperti batu. Bagi determinisme,  manusia adalah hasil endapan serta bentukan dari budaya, sejarah ataupun pengaruh perubahan iklim, seperti bebatuan yang berasal dari sedimen yang tererosi oleh iklim di luarnya (dalam derajat tertentu pandangan ini memang dapat diterima). Sementara, para empiris tidak cukup yakin bahwa yang dihadapi adalah batu, maka mereka belum puas apabila belum &#8220;meng-indera-I&#8221; sang batu. Positivisme jauh ingin lebih meyakinkan, dengan membawa sang batu ke laboratorium untuk mendapatkan pengujian hingga benar-benar dibuktikan bahwa yang ditelitinya adalah batu yang lapuk karena tererosi oleh perubahan iklim.</p>
<p>Satu hal yang dilupakan bagi kaum <em>determinist empirist positivistic</em> adalah bahwa manusia sesungguhnya mampu belajar. Mereka bukan sekumpulan bebatuan, atom-atom, molekul-molekul, serta agregat-agregat angka yang dengan sederhana dapat dirumuskan menjadi teori melalui kalimat; jika Y, maka X. Tapi sebaliknya, manusia adalah makhluk yang bertindak, berpikir, menilai dan memilih.  Kehendak bebasnya merupakan sarana untuk mengatasi keterbatasan-keterbatasan hidup yang telah menjadi kodrat kehidupan.  Manusia akan dapat belajar baik dari pengalamannya sendiri maupun pengalaman orang lain untuk mencapai tujuan-tujuan bagi kepuasan serta eksistensinya.  Singkatnya manusia bukanlah materi fisikal yang tak bertindak, sekali lagi, dia adalah makhluk yang bertindak.</p>
<p>Jadi, jika mayoritas kalangan akademik sekarang masih berkutat melalui asumsi-asumsi positivistik yang keliru, maka tidak ada cara lain kecuali mengkaji ulang asumsi-asumsi tersebut. permasalahan tentang apakah suatu bidang  ilmu bisa dikatakan ilmiah atau tidak ilmiah bukanlah terletak pada penggunaan model matematis dan analisis statistik yang  canggih maupun yang tidak canggih. Tapi pada kesesuaian asumsi-asumsi dalam epistemologisnya dalam melihat objek material ilmu tersebut&#8212;yang tentunya dalam ilmu-ilmu sosial berbeda jauh dengan asumsi epistemologis ilmu alam.</p>
<h2><strong>Kembali pada Logika Tindakan</strong></h2>
<p>Untuk melawan positivisme salah satu jawaban alternatifnya ialah kembali kepada kajian logika, logika tindakan (<em>praksiologi</em>) atau membuka kembali keran perdebatan metafisis. Teori ilmu sosial tidak akan dapat dihasilkan melalui prosedur eksperimen.  Alasannya: manusia bukanlah batu, atom, molekul, planet bahkan tikus ataupun anjing. Setiap eksperimen yang dilakukan oleh peneliti sosial tidak akan dapat menjamin munculnya tanggapan yang sama pada masing-masing manusia.</p>
<p>Sebaliknya, Manusia adalah makhluk yang bertindak. Artinya, manusia akan selalu bertindak berdasarkan penilaian subyektifnya. Tindakan tersebut akan selalu berbentuk cara-cara yang terbatas serta berbeda-beda bagi setiap individu. Atas dasar itulah basis tindakan manusia dapat dipahami.</p>
<p>Oleh karena itu pemahaman terhadap basis ‘nilai&#8217; manusia menjadi sangat penting. Sebuah penilaian manusia tidak dapat direduksi ke dalam sesuatu yang cardinal. Penilaian manusia akan selalu berbentuk ordinal. Sebuah nilai tidak akan dapat direduksi ke dalam agregrat-agregat melalui bahasa matematis dan juga statistik.  Tetapi sebaliknya, nilai adalah sebuah prioritas. Dia tidak dapat menjadi A sekaligus dalam waktu yang sama menjadi B. Manusia akan selalu dibatasi untuk memilih&#8212;melalui penilaiannya&#8212;prioritas antara A atau B, ataupun memprioritaskan B daripada A.</p>
<p>Akan tetapi, kaum positivis barangkali akan tetap menolak dengan mengatakan bahwa logika, dan juga logika tindakan, tidak dapat disebut sebagai pengetahuan tentang realitas. Alasan mereka adalah karena pernyataan-pernyataan logika maupun praksiologi tidak dapat dibuktikan secara empiris.  Dengan demikian, menurut anggapan yang berpandangan positivis, logika dan praksiologi hanya bersifat analitis dan bukan sintetis.</p>
<p>Untuk melawan argumen ini kita boleh saja mempertanyakan kesasihan kesimpulan non empiris dari 2 + 2 = 4. Apakah untuk menyimpulkannya kita memerlukan pengujian empiris? Jawabnya jelas tidak. Tapi kemudian pertanyaannya adalah, <strong>justifikasi apakah yang menyebabkan kesimpulan tersebut sahih baik secara <em>empiris</em> maupun <em>logis</em></strong><em>?</em> Yang pasti melalui hukum-hukum epistemologis dengan menyelidiki cara kerja akal, tentang refleksi melalui hukum non-kotrakdiksi, kausalitas, hukum identitas, dsb. Dalam ranah ini maka sangat penting bagi setiap ahli ilmu sosial untuk mempelajari epistemologi ilmu.</p>
<p>Namun cara kerja epistemologi bidang kajian ilmu manusia berbeda dari matematika. Dia beroperasi berdasarkan hukum-hukum logika tindakan. Walaupun preposisi apriori matematis berbeda dengan preposisi apriori dalam logika tindakan, keduanya mengkarakteristikan hal yang sama, bahwa kedua proposisi apriorinya tidak mungkin lagi dianalisis menjadi lebih kecil lagi. Artinya,  dia menjadi batas akal/rasio dalam bekerja.  Proposisi apriori matematis seperti; +, -, /, x adalah kaidah-kaidah yang membatasi hukum-hukum berfikir tentang realitas (yang dalam hal ini bukan ranah tindakan), yang apabila diuji secara empiris akan membawa pada kesimpulan yang sahih&#8212;dengan syarat tidak terjadi kesalahan logis dalam pendeduksiannya. Dengan demikian, dia sahih baik secara apriori maupun riil.</p>
<p>Begitu juga dalam logika tindakan. Kaidah-kaidah tentang identitas dan kontradiksi ialah kaidah yang membatasi dalam memandang realitas. Kategori-kategori logika seperti &#8220;ada&#8221;, &#8220;semua&#8221; serta implikasi-implikasinya seperti &#8220;dan&#8221;, &#8220;tidak&#8221;, &#8220;atau&#8221;, &#8220;jika-maka&#8221; merupakan batas-batas yang tidak dapat dianalisis lebih lanjut. Dia akan begitu dan tetap seperti itu, baik secara logis maupun riil.</p>
<p>Walaupun karakter apriori logika tindakan serta karakter apriori matematis memiliki karakteristik yang sama, akan sangat keliru bagi kaum positivistik, yang menekankan fungsi prediktif, dengan cara menggunakan perhitungkan matematis dalam menggambarkan realitas tindakan. Alasannya, kerena proses pendeduksian matematis tidak dapat ditarik dari aksioma tindakan. Dalam perspektfi ini, maka sebenarnya positivisme tidak memiliki basis epistemologi apapun.</p>
<p>Di sinilah pentingnya kajian praksiologi atau logika tindakan. Pencarian kebenaran dalam logika tindakan tidak dilakukan dengan cara mengukur;  dia hanya dapat ditelaah melalui identifikasi reflektif.  Identifikasi tersebut mengisyaratkan bahwa setiap tindakan manusia sepenuhnya subyektif.  Jadi memprediksikan sebuah tindakan adalah sesuatu yang muskil, karena ketika kemarin saya bangun jam 6 pagi, hal tersebut tidak akan menjamin bahwa saya besok akan bangun pada jam yang sama seperti kemarin; secanggih apapun metode statistik yang Anda gunakan, Anda tidak akan mampu memprediksikan jam berapa besok saya akan bangun. Karena sebab-sebab konstan dalam sebuah tindakan tidak akan pernah ada sama sekali.</p>
<p>Kemudian kaum positivis mungkin akan bertanya-tanya, untuk apakah <em>science</em> jika tidak memiliki fungsi prediktif? Yang jelas tanpa memiliki fungsi prediktif suatu ilmu tetap akan dapat memberi petunjuk bagi manusia untuk memahami dunianya. Dengan tujuan yang lebih sederhana, tugas ilmu pengetahuan adalah menguak realitas-realitas yang masih terhalang. Sains tentang manusia tidak dapat membangun ide-ide apapun; dia hanya dapat menguak realitas&#8212;-setidaknya agar kita tidak selalu dibohongi oleh ahli propanda serta menjaga peradaban dalam menciptakan individu-individu yang bebas, bermoral, kritis, kreatif serta inovatif.</p>
<p>Hanya melalui strategi perubahan cara pandang&#8212;atau setidaknya kembali mengkaji&#8212;epistemologi-lah krisis kemanusiaan dapat diperbaiki. Tanpa ada usaha perubahan tersebut maka kita akan selalu dihadapkan pada problem-problem sosial yang disebabkan oleh kesalahan kita dalam memahami fenomena realitas manusia. Entah sampai kapan kita meyakini anggapan bahwa alat tukar/uang ialah hasil ciptaan pemerintah, atau bahwa harga barang seharusnya dapat dikontrol oleh politisi, atau menganggab hasil belajar pesertadidik harus dievaluasi serentak melalui Ujian &#8220;Nasional&#8221;. Tanpa disadari, dengan klaim jubah ilmiah oleh kalangan akademis, kita telah menciptakan bencana kemanusiaan yang berasal dari kesalahan pemahaman atas ilmu-ilmu tentang manusia itu sendiri!</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>REMOKENDASI</strong></p>
<p>Hoppe, Hans-Hermann. 2008. <em>Ilmu Ekonomi dan Metode Austria</em>. Terj. Sukasah Syahdan. Jurnal Kebebasan: Akal dan Kehendak (<a href="http://akaldankehendak.com/">Http://akaldankehendak.com</a>)</p>
<p>John J. Toohey, S.J., 1952. <em>Notes on Epistemology</em>. Washington, D.C.: Georgetown University Press</p>
<p>Mises, Ludwig von. 1957. <em>Theory and History: An Intrepertation of Social and Economic Evolution</em>. Washington, D.C.: Ludwig von Mises Institute</p>
<p>Rothbard, Murray N. 1960, &#8220;The Mantle of Science,&#8221;<em> </em> Princeton, N.J.: D. Van Nostrand</p>
<p>Spencer, Herbert. 1864. <em>Reasons for Dissenting from the Philosophy of M. Comte</em></p>
<p>Wutscher, Robert. 2005. <em>Foundations in economic methodologies: The use of mathematics by mainstream economics and its methodology by Austrian economics</em>. Economics Honours Long Paper, 5 September 2005. Department of Economics. University of Cape Town</p>
<hr size="1" /><a name="_ftn1" href="#_ftnref1">[1]</a> Lihat dalam pendahuluan karya Auguste Comte, <em>The Positive Philosophy of Auguste Comte</em>, diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris oleh Harriet Martineau (London George Bell &amp; Son, 1986), hal. 31.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://akaldankehendak.com/?feed=rss2&amp;p=440</wfw:commentRss>
		<slash:comments>15</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Research Day 2008 FEUI dan Masa Depan Praksiologi</title>
		<link>http://akaldankehendak.com/?p=408</link>
		<comments>http://akaldankehendak.com/?p=408#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 18 Nov 2008 05:26:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Epistemologi]]></category>
		<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Praksiologi]]></category>
		<category><![CDATA[empirisme]]></category>
		<category><![CDATA[Iwan Jaya Azis]]></category>
		<category><![CDATA[Kontrafaktualitas]]></category>
		<category><![CDATA[Research Day FEUI]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://akaldankehendak.com/?p=408</guid>
		<description><![CDATA[Kata Prof. Azis, "Seandainya perbankan tidak ikut bermain, maka keparahan krisis tidak mungkin sedalam ini."  Bravo, Prof! teriak saya dalam hati. Ini mengimplisitkan "kontribusi" sektor perbankan terhadap krisis. Prof. Azis tidak menjelaskan lebih jauh. Ini dapat dimaklumi, sebab jika Anda ekonom/pengamat ekonomi, penjelasan tentang krisis juga tergantung seberapa dalam Anda bersedia mengusutnya. (Aturan mainnya adalah Anda bisa fokus pada sisi mana saja, tapi jangan mempertanyakan pemerintah atau sistem perbankan, sebab itu tabu.)]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em><strong><a href="http://akaldankehendak.com/">Jurnal Kebebasan: Akal dan Kehendak</a><br />
</strong></em>Volume II Edisi No. 56 Tanggal 17 November 2008<br />
Oleh: <strong>Sukasah Syahdan</strong></p>
<p><em>Research Day 2008</em> di FEUI Depok kemarin (17/11/08) mengatasi rasa penasaran saya terhadap seorang profesor ekonomi <em>made in Indonesia</em> yang telah lama, hingga sekarang, mengajar di Universitas Cornell, AS: <strong>Prof. Iwan Jaya Azis</strong>.  Namanya memang tidak asing lagi, sudah sering dijumpai di banyak jurnal dan artikel ekonomi. Tapi seperti apa sih orangnya, bagaimana pandangannya?</p>
<p>Ternyata Prof. Azis masih cukup muda.  Usianya saya taksir, 51~54 tahun.  Di aula FEUI, di depan sejumlah pengajar dan ratusan calon ekonom Indonesia masa depan yang bakal diproduksi UI dan Unila (yang terhubung online),  Prof. Azis menyinggung tiga-generasi teori ekonomi yang telah dipakai selama ini untuk menjelaskan krisis yang berulang.</p>
<p>Caranya bertutur, santun, sistematis dan jelas-tipikal dosen. Teori-teorinya sebaik (atau seburuk ; tergantung bagaimana melihatnya) yang selama ini beredar dalam pemikiran ekonomi <em>mainstream</em>. Makalah tertulisnya, yang dibagikan kepada hadirin, penuh model-model yang meringkas teori ekonomi, dari teori generasi pertama hingga ketiga,  yang selama ini dipakai para ekonom untuk menjelaskan krisis.</p>
<p>Saya mau menggarisbawahi satu poin penting dari ceramah lisannya.  Ini tentang pernyataannya tentang <em>counterfactual</em> dalam penjelasan krisis 2008.</p>
<p>Kata Prof. Azis, &#8220;Seandainya perbankan tidak ikut bermain, maka keparahan krisis tidak mungkin sedalam ini.&#8221;  <em>Bravo,</em> Prof! teriak saya dalam hati. Ini mengimplisitkan &#8220;kontribusi&#8221; sektor perbankan terhadap krisis. Prof. Azis tidak menjelaskan lebih jauh. Ini dapat dimaklumi, sebab jika Anda ekonom/pengamat ekonomi, penjelasan tentang krisis juga tergantung seberapa dalam Anda bersedia mengusutnya. (Aturan mainnya adalah Anda bisa fokus pada sisi mana saja, tapi jangan mempertanyakan pemerintah atau sistem perbankan, sebab itu tabu.)</p>
<p style="text-align: center;">*</p>
<p>Sedikit banyak saya mendapat gambaran tentang pandangan umum Prof. Azis terhadap ilmu ekonomi atau teori-teori ekonomi.  Prof. Azis memandang teori sebagai seperangkat <em>tool</em> yang harus dicampakkan ketika usang. Landasan teori yang menjelaskan krisis Amerika Latin 1970, ujarnya, ternyata tidak bisa dipakai untuk menjelaskan krisis Asia 1997 apalagi kepanikan 2008.  Pandangan sang profesor mungkin terkesan dinamis (atau justru statis-pragmatis, tergantung bagaimana kita melihatnya), tapi apa implikasinya ?</p>
<p>Kalau pernyataan yang diwakilinya diasumsikan sebagai satu-satunya penjelasan yang masuk akal, maka bukankah begitu mengecewakannya kemampuan sains kita ini dalam <em>memahami </em>apa yang dicoba dipahaminya?</p>
<p>Kiranya inilah sumber satu kegalauan terbesar yang dialami banyak ekonom tentang sains dan persoalan ekonomi yang mereka geluti.</p>
<p>Hemat saya, kegalauan akan impotensi teori ekonomi yang sering mencuat tersebut tidak bersumber pada hasil pemikiran seorang ekonom manapun, melainkan lebih bersifat problem intrinsik epistemologis ilmu pengetahuan, yaitu tentang bagaimana sains ini memandang fenomena yang ditelitinya untuk kemudian diformulasi sebagai teori, (bagaimana sains ini menjerang teorinya).</p>
<p>Seperti kita pahami, dewasa ini matematika dan ekonometrika adalah andalan mayoritas ekonom dalam menilik keberekonomian kita.  Momen-momen semacam seminar di atas ketika profesor-profesor ternama dan tokoh-tokoh kondang menyampaikan pandangan mereka tidak jarang berisi ironi besar dalam praktik pengajaran/penelitian ekonomi selama ini, yang menekankan penggunaan formula, model matematis dan statistis dalam menjelaskan fenomena ekonomi, namun berujung pada konklusi yang amat relatif harus siap untuk disanggah; apalagi ketika dicoba diaplikasikan secara gegabah.</p>
<p>Kalau sistem perbankan dan moneter selama ini rawan akan dan rentan dari sentimen, maka metodologi sains ekonomi pada akhirnya, dan mau tidak mau, membuatnya rentan akan inflasi; bukan inflasi moneter, melainkan inflasi teori ekonomi. Ini kritik terhadap berbagai varian empirisme, yang memungkinkan kita berteori apa saja tentang apa saja.</p>
<p>Dalam konteks ini, kontrafaktualitas mungkin berguna.  Kontrafaktual kita terhadap pendekatan dan metodologi ekonomi arusutama akan membawa kita ke <em>praxeology</em>, atau sains tentang tindakan manusia. (Cat: Yang saya maksud dengan kontrafaktual dalam konteks ini adalah bahwa pemahaman kita terhadap fenomena ekonomi akan lebih baik, lebih dalam, seandainya kita mengenal praksiologi.) Jurnal ini telah mulai mencobanya melalui beberapa artikel praksiologis.</p>
<p>Anda yang tertarik dianjurkan membaca hasil wawancara <strong>Akaldankehendak.com </strong>dengan dengan <a href="http://akaldankehendak.com/?p=215">Profesor Hoppe</a>.  Terjemahan sebuah bab dari buku Ludwig von Mises tentang <a href="http://akaldankehendak.com/?p=47">Problem Epistemologi</a>, yang terus bertahan sebagai tulisan paling populer di <em>Akal &amp; Kehendak </em>dan sudah diklik ribuan kali, juga teramat berharga untuk dilewatkan.</p>
<p>Begitulah catatan singkat dari Research Day FEUI.  Pandangan Prof. Iwan Jaya Azis telah menimbulkan optimisme tersendiri tentang masa depan praksiologi.</p>
<p>(Diposting 18/11/08)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://akaldankehendak.com/?feed=rss2&amp;p=408</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tentang Empirisme, Praksiologi dan  Kepastian Pengetahuan</title>
		<link>http://akaldankehendak.com/?p=291</link>
		<comments>http://akaldankehendak.com/?p=291#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 23 Jun 2008 06:54:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Epistemologi]]></category>
		<category><![CDATA[Praksiologi]]></category>
		<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>
		<category><![CDATA[empirisme]]></category>
		<category><![CDATA[historisisme]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://akaldankehendak.com/?p=291</guid>
		<description><![CDATA[Jurnal Kebebasan: Akal dan Kehendak Vol. II, Edisi 35, Tanggal 23 Juni 2008 Oleh: Sukasah Syahdan Tidak ada yang rasional ataupun irrasional perihal kehidupan, tetapi akal adalah satu-satunya peranti yang dimiliki manusia untuk memaknai kehidupan dan alam semesta secara sistematis. Emosi sering dikatakan ikut berperan dalam proses pengambilan keputusan; namun, dalam kesadaraan dan kedewasaan tiap [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em><a href="http://akaldankehendak.com">Jurnal Kebebasan: Akal dan Kehendak</a></em><br />
Vol. II, Edisi 35, Tanggal 23 Juni 2008<br />
Oleh: Sukasah Syahdan</p>
<p>Tidak ada yang rasional ataupun irrasional perihal kehidupan, tetapi akal adalah satu-satunya peranti yang dimiliki manusia untuk memaknai kehidupan dan alam semesta secara sistematis. Emosi sering dikatakan ikut berperan dalam proses pengambilan keputusan; namun, dalam kesadaraan dan kedewasaan tiap individu, sesuai dengan hukum kodrati, perasaan adalah &#8216;budak&#8217; dari akal dan bukan sebaliknya.0)</p>
<p>Ketika cabang-cabang besar filsafat berhasil diformalkan sebagai sains, sains pun dikembangkan untuk dipakai sebagai instrumen yang mendekatkan manusia kepada kebenaran&#8211;kebenaran ilmiah, atau pengetahuan.</p>
<p>Satu metode sains yang paling dominan dan nyaris singular dalam mengayomi hampir semua <em>enterprise </em>pencarian kebenaran di segala bidang hingga detik ini ini adalah empirisme.   Dominasi empirisme nyaris tiada banding, nyaris zonder pertanyaan lantaran sudah dianggap sebagai pakem yang sudah semestinya demikian. Kalaupun masih ada yang mempertanyakan epistemologi di kalangan ilmuwan empiris, pertanyaannya lebih pada bagaimana mempertajam formalisasi hipotesis dan memperluas sepak terjang doktrin ini melalui <em>cross fertilization </em>antardisiplin ketimbang, misalnya, gugatan terhadap penggunaannya.</p>
<p>Sementara itu, <strong><span style="text-decoration: underline;">pertanyaan kunci</span> </strong>berikut tetap terlantarkan di satu pojok ruang dingin pemikiran, yang ditempatkan persis di sebelah tong sampah sejarah. <em>Begitu mustahilkah kemungkinan adanya kebenaran yang tidak berubah sejak Adam hingga Armageddon? Jika pengetahuan benar tidak dapat dipastikan sementara metode pencariannya menafikan keberadaannya, kemanakah akal akan membawa kemanusiaan? </em></p>
<p>Demikian duduknya perkara kebenaran yang harus diterima manusia&#8211;<em>hingga akhir jaman</em>.  Kendati tidak sepenuhnya nir-manfaat, empirisme adalah sebuah jalan tak berujung.  Dia upaya coba-coba tak berkesudahan yang dapat <em>dipastikan </em>tidak akan membawa kita kepada kebenaran. Jika ini tergolong paradoks, doktrin tersebut memaksa ilmuwan untuk mengunyahnya, dan para awam untuk menelannya.</p>
<p>Empirisme mengambil alam serta ilmu-ilmu alam sebagai modelnya. Menurutnya, bahkan proposisi ilmu sosial pun berstatus logis yang sama dengan proposisi ilmu alam.  Semua proposisinya menyatakan hubungan hipotetis semata antarsatu peristiwa dengan peristiwa yang lain.  Pada esensinya dia mengambil bentuk pernyataan-pernyataan <em>jika-maka</em>. Namun, semua proposisi sementara ini membutuhkan pengujian terus menerus terhadap pengalaman.</p>
<p>Klaim empirisme, kebenaran tidak dapat dipastikan sekali untuk selamanya.  Tidak ada kebenaran yang benar-benar dapat dipastikan. Kebenaran adalah Godot yang tidak pernah datang. Dia senantiasa ditunda sebagai hipotetis tentatif yang dapat gugur kapan saja melalui proses falsifikasi.</p>
<p>Ciri utamanya adalah bahwa pengetahuan tentang realitas, atau pengetahuan empiris, harus dapat diverifikasi atau setidaknya dipatahkan oleh pengalaman observasional. Kita tidak dapat mengetahui terlebih dahulu sebelum pengalaman-sebelum betul-betul melakukan semacam pengalaman observasional secara khusus. Sebaliknya, jika ada pengetahuan tidak bisa diverifikasi atau difalsifikasi oleh pengalaman observasional, maka hal itu bukan pengetahuan yang riil. Dia pengetahuan tentang kata-kata semata, tentang penggunaan istilah-istilah, tentang penandaan dan pengaturan transformasional atas tanda-tanda tersebut. Dengan kata lain, dia cuma pengetahuan analitis, yang tidak setara dengan pengetahuan empiris.</p>
<div class="captionright"><img src="http://akaldankehendak.com/wp-content/uploads/2008/06/hhh.jpg" alt="alt text" /></div>
<p>Hans-Hermann Hoppe dalam bukunya tentang metodologi menjelaskan bagaimana empirisme menolak pengetahuan yang bersifat apriori.  Kebenaran apriori hanya dianggap sebagai proposisi analitis, dan tidak dapat dianggap sebagai pengetahuan yang riil. Ketika pengalaman mungkin mengonfirmasi hipotesis, hal tersebut tetap tidak membuktikan kebenaran; oleh karena hipotesis tidak terbukti sebagai benar, maka hipotesis tersebut berlaku untuk kasus atau keadaan yang jumlahnya tak terhingga, sehingga selalu meninggalkan ruang kemungkinan bagi pengalaman yang memfalsifikasikannya di masa depan.</p>
<p>Asumsi lain empirisme memformulasikan perpanjangan dan pengaplikasian asumsi sebelumnya terhadap persoalan kausalitas, penjelasan sebab-akibat, dan prediksi. Dalam empirisme, penjelasan kausal atau prediksinya terhadap fenomena riil dilakukan dengan jalan memformulasikannya ke dalam bentuk pernyataan sejenis &#8220;jika A, maka B&#8221; atau, manakala variabel-variabelnya memungkinkan pengukuran kuantitatif, dia akan mengambil bentuk semacam:  &#8221;jika A mengalami kenaikan (penurunan), maka terjadi kenaikan (penurunan) pada B.&#8221;</p>
<p>Sebuah konfirmasi hanya akan membuktikan bahwa hipotesis yang dipakai sejauh ini belum terbukti salah.  Masih terbuka peluang bagi pengalaman untuk menampiknya pada suatu saat.  Sesungguhnya, ketika pengalaman membatalkan hipotesis empiris, hal tersebut hanya akan membuktikan kesalahan hipotesis tersebut. Ini tetap tidak membuktikan hubungan sejati antarperistiwa yang sedang dihipotetiskan.</p>
<p>Singkatnya, kita tidak dapat mengetahui secara pasti apakah satu hal merupakan penyebab terjadinya hal lain. Jika kita ingin menjelaskan suatu fenomena, hipotesis kita tentang penyebab-penyebab yang memungkinkan tidak terkendala dalam cara apapun oleh pertimbangan-pertimbangan apriori. Segala hal dapat memiliki pengaruh terhadap hal apa pun.  Kita harus menemukan melalui pengalaman apakah hal tersebut memang benar demikian adanya ataukah sebaliknya. Akan tetapi, sekali lagi, pengalaman tidak akan pernah memberi kita jawaban yang pasti.</p>
<p>Dalam kondisi seperti ini, dapat dipahami kalau sikap ilmiah yang tersulut oleh empirisme adalah skeptisme.  Empirisme menjunjung moto: &#8220;Tidak ada yang bisa dipastikan;&#8221; atau <em>&#8220;Impossible is nothing;&#8221; </em>atau , <em>&#8220;Anything goes&#8221; </em>atau &#8220;Apapun bisa jadi penjelasan.&#8221;</p>
<p>Jadi, klaim sentral empirisme adalah sebagai berikut: pengetahuan empiris harus dapat dikukuhkan atau dibantah melalui pengalaman; sedangkan pengetahuan analitis, yang tidak dapat disahihkan atau difalsifikasi, dengan demikian tidak berisi pengetahuan empiris apapun.  Jika ini benar, maka cukup <em>fair </em>untuk ditanyakan: Kalau begitu apa status pernyataan fundamental ini mengenai empirisme? Jelas, dia harus bersifat analitis atau empiris.  Demikianlah empirisme sesuai pandangan Hoppe.</p>
<p>Kita pun kembali kepada semacam paradoks. Dan dengan paradok yang menganga sebegitu lebar, empirisme adalah doktrin yang <em>self-defeating</em>, yang mewajarkan pertanyaan seputar popularitas penggunaannya sebagai sebuah epistemologi.</p>
<div class="captionleft"><img src="http://akaldankehendak.com/wp-content/uploads/2007/10/mises.jpg" alt="alt text" /> <span style="color: #99cc00;"><em>Ludwig von Mises</em></span></div>
<p>Adalah <strong>Ludwig von Mises </strong>yang mengangkat kembali pertanyaan kunci di atas, dan memformulasikan kembali tilikan filsafat dengan gagasannya yang tidak dapat dipandang remeh.  Hasilnya berupa sebuah disiplin dan metode orisinil yang dinamakannya <em>praksiologi</em>.  Praksiologi menyimpulkan bahwa paradoks tersebut tidak lain sebuah ketersesatan pikiran. Sebagaimana diformulasikannya, praksiologi memberi afirmasi terhadap kemampuan rasional manusia untuk memeroleh kepastian pengetahuan tentang aspek-aspek realitas.  Menurut disiplin ini, pengetahuan dapat dipastikan.</p>
<p><strong>Aksioma Tindakan</strong></p>
<p>Mises melandaskan disiplin tersebut pada sesuatu yang tak terceraikan dari kodrat manusia-pada sebuah konsep yang tidak terbantahkan logika, dan yang fenomenanya senantiasa hadir dan dapat diobservasi sehari-hari.</p>
<p>Landasan tersebut adalah <em>aksioma tindakan</em>.  Dan praksiologi bermulai dari sini.  Tindakan, sebagaimana yang diperlihatkan oleh semua manusia, menurut Mises, adalah suatu perbuatan yang bertujuan <em>(purposeful behavior) </em>(<em>Human Action</em>, h. 11)<em>.</em> Setiap manusia yang bertindak mempersepsikan seperangkat tujuan tertentu sebagai sesuatu yang secara subyektif memiliki nilai, dan kemudian memilih cara <em>(means) </em>yang dianggapnya akan membawanya kepada pencapaian tujuan tersebut.  Pada akhirnya tindakan diarahkan atau ditujukan pada pemenuhan kepuasan atau kebahagiaan, bagi sang individu pelakunya.</p>
<p>Tiga kondisi berikut harus terpenuhi sebelum tindakan terjadi.</p>
<p>Pertama, seorang individu yang berhasrat bertindak perlu terpapar pada semacam ketidakpuasan.  Orang yang sepenuhnya merasa puas tidak akan termotivasi untuk bertindak.  Orang bertindak untuk mengubah keadaan <em>(state of affair) </em>yang kurang memuaskan dengan keadaan yang lebih memuaskan.</p>
<p>Kedua, di benak pelaku tindakan tergagas bayangan akan kondisi atau situasi yang lebih baik tersebut-apapun itu, dan bahwa ia meyakini bahwa keadaan baru dalam gagasannya dapat diwujudkan dan ia memiliki kemampuan untuk mewujudkannya (elemen ini menunjukkan peran pengetahuan);</p>
<p>Ketiga, calon pelaku tindakan hanya akan melakukan tindakan tersebut jika ia menganggap upaya perwujudannya akan memberinya nilai yang lebih besar, melampaui disutilitas sumber daya yang dimilikinya untuk mewujudkan hal tersebut.</p>
<p>Patut dicatat, aksioma tindakan tidak mengasumsikan bahwa individu bebas dari kesalahan dalam penilaian.  Dia tidak mengasumsikan ketersediaan segala pengetahuan yang diperlukan bagi tujuan yang ditentukan, apalagi bahwa sumber ketersediaannya sepenuhnya berada dalam penguasaannya.  Dari perspektif pelaku tindakan, semua tindakan yang dilakukannya selalu &#8220;rasional&#8221; dalam arti bahwa tindakan tersebut selalu memiliki alasan-alasan pemilihannya.  Sang pelaku tindakan dapat keliru dalam menginterpretasikan fakta-fakta dasar atau dalam menilai kausalitas yang mungkin tidak ada. Kelak, di saat retrospeksi, ia mungkin menyadari kesalahan tersebut dan akan menyesuaikannya untuk tindakan di masa depan.  Yang pasti, ia senantiasa memiliki alasan di balik tindakan yang dilakukannya, sekalipun hal tersebut  terbukti kemudian sebagai kekeliruan.</p>
<p>Aksioma tindakan meliputi semua sifat <em>means</em> dan <em>ends</em> apapun yang dapat digagas manusia.  Tujuan tindakan dapat berupa sesuatu yang mental, fisikal ataupun keduanya. Tujuan seseorang dapat bersifat yang moral ataupun  imoral-dan ini bukan soal bagi praksiologi.  Dalam praksiologi, &#8220;Semua tujuan dan semua cara pencapaian, baik terhadap isu-isu material maupun yang ideal, yang sublim maupun yang banal, yang agung maupun yang tidak, terletak pada sebaris skedul nilai, yang tidak menganggap tinggi satu hal dari yang lain, melainkan tergantung pada keputusan yang ia pilih pada suatu kurun waktu dan dengan demikian menyisihkan pilihan-pilihan yang lain (HA, hal. 3).</p>
<p>Implikasi aksioma tindakan adalah bahwa seorang pelaku tindakan mengatur keseluruhan <em>ends </em>yang tersedia baginya pada &#8220;hirarki&#8221; ordinal yang subyektif. Di satu sisi, sang pelaku tindakan mengejar tujuan yang ia anggap paling bernilai tinggi, paling berharga pada suatu titik waktu.  Secara subyektif, ia mengetahui hirarki nilainya sendiri dan mengapa ia memilih satu tujuan ketimbang yang lain.   Di sisi lain, bagi seorang pengamat misalnya, satu-satunya cara untuk mengetahui bahwa seorang pelaku menilai A lebih tinggi dari B pada suatu waktu jika sang pelaku tersebut benar-benar memilih A ketimbang B.  Dengan kata lain, hanya melalui <em>demonstrated </em>atau <em>revealed preference</em>.</p>
<p>Tindakan adalah cara seorang pelaku memanifestasikan operasi skala nilai individunya.  Bahkan ketika sang pelaku tindakan merasakan suatu <em>indifference </em>atas seperangkat pilihan baik ends atau means, hal tersebut juga merupakan tindakan.  Tindakan tidak hanya berarti bertindak; dia juga termasuk tidak melakukan apa yang mungkin dapat dilakukan (HA, hal. 14).</p>
<p>Ketika orang tidak memilih, orang tersebut sengaja memilih konsekusensi suatu non-interferensi terhadap faktor realitas ketimbang konsekuensi interferensi.  Dengan demikian, ketika manusia memiliki kehendak bebas, ia akan bertindak. Dan manusia dalam pengertian utuh memiliki kemampuan keagenan untuk meng-<em>exercise </em>kehendak bebas tersebut.</p>
<p>Tindakan dapat dikatakan sebagai prasyarat bagi kemanusiaan.  &#8220;Manusia bukan hanya <em>homo sapiens, </em>melainkan tak kurang juga <em>homo agens&#8221; </em>(HA, hal. 15).  Keberadaan tindakan dikatakan bersifat aksiomatik sebab bahkan setiap tindakan untuk menyangkalnya hanya akan semakin mengafirmasi kesahihannya.</p>
<p>Ringkasnya,  sebagaimana dinyatakan oleh Hoppe (hal 22), bahkan setiap upaya percobaan untuk menyangkal keberadaan tindakan sudah merupakan tindakan itu sendiri. Selain itu, tindakan manusia adalah jembatan penghubung terhadap apa yang terjadi secara mental di dalam benak manusia, dengan realitas eksternal.</p>
<p><strong>Kepastian Pengetahuan </strong></p>
<p>Sains praksiologi berisi himpunan sistematis pengetahuan mendasar yang diturunkan dari aksioma tindakan dan diketahui sebagai benar adanya.  Oleh karena aksioma tindakan tersebut tidak terbantahkan sebagaimana diperlihatkan di atas, maka segala proposisi yang diturunkan dari sana juga tidak terbantahkan-sejauh proses deduksinya dilakukan secara akurat. Melalui praksiologi, kita dapat mencapai kebenaran proposisi secara utuh dan absolut, di mana eksperimen atau bukti empiris tidak akan pernah dapat menolaknya.  Dalam formulasinya sebagai teori terhadap realitas, realitas tidak dapat melenceng dari teori tersebut, sebagaimana 2+2 selalu bermakna 4 sejak jutaan tahun lalu dan jutaan tahun ke depan.</p>
<p>Tentang proposisi-proposisi praksiologis, Mises mengatakan:</p>
<p style="padding-left: 30px;"><em>Pernyataan-pernyataan dan proposisi-proposisinya </em><strong>tidak berasal dari pengalaman</strong><em>. Seperti halnya logika dan matematika, semua pernyataan dan proposi ilmu ekonomi bersifat </em><em>apriori, yang tidak tunduk terhadap verifikasi dan falsifikasi atas dasar pengalaman dan fakta. </em><strong>Keberadaan mereka bersifat </strong><strong>mendahului, baik secara logis maupun temporal, </strong><em>setiap pemahaman terhadap fakta-fakta historis. Mereka merupakan kondisi yang harus tersedia bagi pemahaman intelektual terhadap peristiwa-peristiwa historis. (</em>HA, h. 32; cetak tebal saya.)</p>
<p>Praksiologi  menawarkan tilikan <em>sintetis yang apriori </em>tentang realitas.  Kesahihannya tidak memerlukan observasi; dan observasi tidak akan meruntuhkannya.  Proposisi praksiologis bersifat sintetis dan secara apriori benar karena titik awalnya-yakni aksioma tindakan-adalah benar tak terbantahkan.</p>
<p>Dengan aksioma tindakan sejumlah besar pengetahuan apriori tentang realitas dapat diperoleh dengan kebenaran absolut.  Mari kita tinjau sejenak bidang ilmu ekonomi untuk mengecek beberapa proposisi praksiologis yang diverbalkan oleh Hoppe:</p>
<p style="padding-left: 30px;"><em>Ketika dua orang A dan B saling melakukan pertukaran secara sukarela, keduanya pasti berharap mendapatkan keuntungan (profit) dari kegiatan tersebut. Mereka pasti memiliki peringkat preferensi yang terbalik untuk barang dan jasa yang dipertukarkan sehingga A akan menilai apa yang diterimanya dari B bernilai lebih tinggi daripada yang ia berikan kepadanya, dan B mengevaluasi hal yang sama secara terbalik pula. </em></p>
<p>Atau:</p>
<p style="padding-left: 30px;"><em>Ketika pertukaran tidak terjadi secara sukarela melainkan karena paksaan, maka salah satu pihak akan mendapat keuntungan di atas kerugian pihak lain. </em></p>
<p>Atau tentang kaidah faedah marjinal sebagai berikut:</p>
<p style="padding-left: 30px;"><em>Ketika persediaan barang bertambah sebanyak satu unit, sejauh manfaat setiap unit tersebut dinilai setara oleh seseorang, maka nilai yang diberikan orang itu kepada unit tersebut pasti akan menurun.</em></p>
<p>Atau satu contoh lagi:</p>
<p style="padding-left: 30px;"><em>Ketika kuantitas uang bertambah sementara permintaan terhadap uang untuk pegangan tunai tidak berubah, maka daya beli uang tersebut akan jatuh. </em></p>
<p>Menurut praksiologi, kebenaran proposisi-proposisi di atas tidak perlu divalidasi. Mereka bukan hipotesis dalam pengertian yang sama dengan proposisi ilmu kimia, misalnya, tentang efek pencampuran dua zat alamiah. Proposisi-proposisi tersebut tidak memerlukan pengujian laboratorium, apalagi kalau harus diobservasi terus menerus melalui observasi.</p>
<p>Bahwa A dan B pasti mendambakan keuntungan dan masing-masing memiliki tatanan preferensi terbalik, berasal dari pemahaman kita terhadap pertukaran. Hal serupa berlaku juga bagi konsekuensi-konsekuensi dari pertukaran yang dipaksakan.  Mengenai kesahihan kebenarannya, Hoppe mengatakan:</p>
<p style="padding-left: 30px;"><em>&#8220;Tidak terbayangkan jika hasilnya akan pernah berbeda: hasilnya sama sejuta tahun lalu dan akan sama sejuta tahun mendatang. Dan kisaran aplikasi bagi proposisi-proposisi ini juga sudah gamblang sekali dan untuk selamanya [...] Musykil </em><em>(absurd) jika kita menganggap perlu pengujian terus-menerus untuk memastikan kebenaran proposisi semacam itu.&#8221;</em></p>
<p>Demikian pengantar singkat ini terhadap praksiologi&#8211;sebuah disiplin yang membunyikan dentang lonceng kematian bagi doktrin empirisme.  Mungkin kalimat ini terdengar terlalu keras; namun, paling tidak praksiologi sebagai disiplin sekaligus metode dapat menyediakan kepada ilmuwan batas-batas pengekang sejauh mana empirisme bermanfaat sebagai ‘kuda tunggangan&#8217; dan pada kondisi mana makhluk tersebut berpotensi membawa penunggangnya ke lembah ketersesatan yang kian jauh&#8211; baik dari pemastian pengetahuan maupun dari kebenaran itu sendiri.</p>
<p>Melalui praksiologi, pengetahuan dapat dipastikan. Keberadaan kebenaran yang apriori dan tidak berubah bersama waktu <em>(time-invariant)</em> diterima.</p>
<p><strong><span style="text-decoration: underline;">Catatan: </span></strong></p>
<p>0) Kalimat terakhir dalam alinea ini perlu dikembangkan menjadi esei yang amat penting untuk menunjukkan salah satu kekeliruan filsafat moral David Hume, sebagaimana dituangkannya dalam tulisannya,<em> A Treatise of Human Nature</em>, di mana ia menyatakan ”ajarannya” bahwa ”&#8230;Reason, it said, is and ought only to be the slave of the passions.”  <a href="http://www.fee.org/pdf/the-freeman/Van%20Dun.pdf">Tulisan indah</a> Frank van Dun telah mulai membuka wacana ini.</p>
<p>1) Uraian ringkas tentang praksiologi sebagai metode ilmu ekonomi dapat dibaca dalam buku Prof. Hans-Hermann Hoppe:<em><strong> Economic Science and the Austrian Method</strong></em>.  Dalam buku ini refutasi terhadap historisisme juga diberikan, yang tidak dibahas dalam artikel di atas.  Naskah terjemahannya dalam bahasa Indonesia saat ini sudah selesai dikerjakan penulis dan sedang dalam proses penerbitan.  Naskah juga akan diterbitkan secara berkala di akaldankehendak.com.</p>
<p>2) Buku utama yang dapat dijadikan sumber penting tentang praksiologi adalah karya Mises, <strong><em>Human Action (</em></strong>1966).</p>
<p>3) Setidaknya di Jurnal ini, kemapanan epistemologi ilmu sosial pertama kali digugat &#8220;secara resmi&#8221; oleh <strong>Sdr. Giyanto </strong>melalui beberapa kontribusi artikelnya, termasuk artikel <a href="http://akaldankehendak.com/?p=77">ini</a>.</p>
<p>4) Catatan kaki no. 0 (ttg Hume) di mutakhirkan: 30 Juli, 2008; 12:21.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://akaldankehendak.com/?feed=rss2&amp;p=291</wfw:commentRss>
		<slash:comments>8</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Catatan kecil tentang ekonofisika</title>
		<link>http://akaldankehendak.com/?p=267</link>
		<comments>http://akaldankehendak.com/?p=267#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 22 May 2008 02:17:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Asides]]></category>
		<category><![CDATA[Epistemologi]]></category>
		<category><![CDATA[Praksiologi]]></category>
		<category><![CDATA[ekonofisika]]></category>
		<category><![CDATA[jargon]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://akaldankehendak.com/?p=267</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Sukasah Syahdan Jurnal Kebebasan: Akal dan Kehendak Vol. II, Edisi 30, Tanggal 19 Mei 2008 (Kolom: Catatan Bawah) APA PULA ITU EKONOFISIKA? Di koran Media Indonesia beberapa hari lalu diberitakan bahwa ilmu &#8220;baru&#8221; ini akan mampu mengatasi permasalahan ekonomi Indonesia. Bukan main! Ini catatan singkat saja: kalau harus dianggap ilmu baru, dia cocok jadi [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Oleh: Sukasah Syahdan<br />
Jurnal Kebebasan: Akal dan Kehendak<br />
Vol. II, Edisi 30, Tanggal 19 Mei 2008<br />
(Kolom: Catatan Bawah)</p>
<p>APA PULA ITU <strong>EKONOFISIKA</strong>? Di koran Media Indonesia beberapa hari lalu diberitakan bahwa ilmu &#8220;baru&#8221; ini akan mampu mengatasi permasalahan ekonomi Indonesia. Bukan main! Ini catatan singkat saja: kalau harus dianggap ilmu baru, dia cocok jadi cabang sejarah, sejarah ekonomi persisnya, agar mampu mencatat peristiwa-peristiwa masa lalu yang terkait sepak terjang manusia, dengan tambahan peranti statistik, matematik, dan fisika. Dengan metode empiris-positivis, proyeksi dan prediksi ke depan bisa dibuat tentang apa yang bakal terjadi dengan, misalnya &#8230; perilaku harga cabe keriting di pasar induk. Apa konsekuensi gagasan ini? Deskripsi fenomena ekonomi cuma akan menjadi makin esoterik. Perkawinan-paksa rumus-rumus fisika, matematika dan statistika akan dijadikan alat justifikasi baru yang saintistik, yang &#8220;kedahsyatannya&#8221; bakal begitu sulit dicerna sehingga kekeliruan asumsi yang paling elementer sekalipun akan dapat bersembunyi dengan nyaman, dan kesalahan konklusi yang mungkin terjadi hanya bisa didapat dalam tempo jang selama moengkin. Ekonofisika lebih berpeluang mengkontaminasi, atau mendilusi, kedua sains <em>proper </em>tersebut&#8211;baik ekonomi, mapun fisika&#8211;ketimbang berkontribusi.</p>
<p>Tapi yang menjadi sumber keprihatinan di sini bukan ilmu ekonomi atau fisika, melainkan soal paradigma yang sesuai buat ilmu-ilmu sosial. Dengan empirisme dan positivisme, ilmuwan sosial pada dasarnya mendapat cara untuk menjustifikasikan apa saja.  Jika tidak dapat menangkap hubungan kausal sejati antara faktor-faktor penyebab terjadinya peristiwa, cukup bagi mereka untuk meng-entertain hubungan korelasional.  Empirisme memungkinkan pembenaran setiap teori secara abadi, sampai terjadi penyangkalan di masa depan; di sini terletak bahaya esoterisme tadi.  Positivisme terobsesi akan teori yang dapat memprediksi masa depan, namun dengan memodelkan pendekatan ilmu alam terhadap hasil tindakan manusia yang triliunan jumlahnya dan dalam konteks ketidakpastian yang sebenar-benarnya merupakan kategori logis yang tidak bisa dihilangkan dalam pengambilan keputusan dalam hidup, kemusykilan ini hanya &#8220;berguna&#8221; bagi mereka yang terobsesi melakukan upaya penyeragaman dan perencanaan sentralistik.</p>
<p>Empirisme+positivisme bukan satu-satunya metode penelitian ilmu sosial; dalam terlalu banyak hal, kombinasi keduanya justru telah dan akan terus menimbulkan persoalan-persoalan terbesar dalam kehidupan, yang dijustifikasikan oleh ilmuwan.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://akaldankehendak.com/?feed=rss2&amp;p=267</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Membaca Wacana Intelektual: Kritik Terhadap Paradigma Modern</title>
		<link>http://akaldankehendak.com/?p=233</link>
		<comments>http://akaldankehendak.com/?p=233#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 04 May 2008 19:39:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Epistemologi]]></category>
		<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>
		<category><![CDATA[paradigma]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://akaldankehendak.com/?p=233</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Giyanto Jurnal Kebebasan: Akal dan Kehendak Vol. II, Edisi 28, Tanggal 05 Mei 2008 Pasca perang dingin, berbagai spekulasi wacana mencoba menangkap berbagai akar permasalahan sosial yang akan muncul. Huntington, dengan keras kepala, menawarkan paradigma peradaban dalam upaya menganalisis akar konflik dunia. Sebagai tanggapan terhadap tesis Fukuyama, bahwa sejarah telah berakhir, Samuel Huntington beranggapan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Oleh: Giyanto<br />
Jurnal Kebebasan: Akal dan Kehendak<br />
Vol. II, Edisi 28, Tanggal 05 Mei 2008</p>
<p>Pasca perang dingin, berbagai spekulasi wacana mencoba menangkap berbagai akar permasalahan sosial yang akan muncul. Huntington, dengan keras kepala, menawarkan paradigma peradaban dalam upaya menganalisis akar konflik dunia. Sebagai tanggapan terhadap tesis Fukuyama, bahwa sejarah telah berakhir, Samuel Huntington beranggapan bahwa manusia-manusia di masa mendatang akan mati-matian membela eksistensi kebudayaannya. [1]</p>
<p>Memang tidak dapat disangkal, bahwa berbagai konflik yang muncul belakangan ini bersumber dari perbedaan keyakinan individu-individu dalam peradaban tertentu. Dan bahwa wacana terorisme berawal dari asumsi tersebut. Akan tetapi, memunculkan dan mendramatisir problem peradaban bukan berarti menyelesaikan ataupun menguraikan berbagai problem sosial, melainkan akan semakin mengaburkan makna dari tugas intelektual dalam mengupayakan perubahan sosial.</p>
<div class="captionleft"><img src="http://akaldankehendak.com/wp-content/uploads/2008/05/paradigm-shift.jpg" alt="alt text" width="344" height="471" />Gambar: <em>Pergeseran paradigma </em>(Newciv.org)</div>
<p>Alih-alih memperjuangkan kemerdekaan individu yang tertindas, wacana-wacana intelektual modern bahkan semakin mendorong kekuasaan untuk melucuti dan memperkosa kebebasan individu-individu melalui simbol-simbol baru. Atas nama agama, negara, ras, bangsa maupun ideologi bahkan melalui jargon demokrasi maupun hak asasi manusia, para penggerak wacana modern telah melupakan tugas kaum intelektual sebagai agen pembebasan.</p>
<p>Awal mula kegamangan ini, terutama, bermula dari belenggu pandangan universalisme serta kolektivisme dalam memandang permasalahan sosial. Kita hampir tidak pernah mempertanyakan, sudah tepatkah paradigma filosofis yang telah kita pakai sekarang ini?</p>
<p><strong>Paradigma Modern: Universalisme dan Kolektivisme </strong></p>
<p>Belakangan ini telah bermunculan berbagai pandangan epistemologis, baik positivisme, fenomenologi, strukturalisme, hermeneutika, materialisme historis dan dan sampai dengan postmodernisme.</p>
<p>Semua aliran epistemologis tersebut telah tumbuh subur dengan berbagai pengikutnya.  Bagi kaum muda, berbagai alternatif pilihan tersebut telah menjadi &#8220;jalan keluar&#8221; bagi pencarian intelektual yang tidak akan kunjung berakhir.  Di tangan kaum intelektual mudalah, ke depan, berbagai  paradigma keilmuan tersebut akan tumbuh dan tersebar luas sebagai paradigma modern.</p>
<p>Apa fungsi berbagai paradigma tersebut?   Yang jelas, paradigma tidak lain adalah kacamata kita dalam upaya memandang dunia.  Sebuah paradigma adalah alat bagi kaum intelektual untuk membaca segala problem keilmuan serta kemanusiaan.  Paradigma memberikan dasar pandangan, asumsi, cara kerja serta kriteria mengenai bagaimana kebenaran ilmiah seharusnya diraih.</p>
<p><strong>Meneguhkan konsep Individu dan Tindakan dalam Kesatuan  Kolektif</strong></p>
<p>Sekali lagi perlu diingat, dalam kajian ilmu-ilmu sosial kita membicarakan manusia serta masyarakat. Apa yang diabaikan paradigma modern ialah bahwa dirinya telah melupakan individu yang sebenarnya membentuk kolektif yang disebut keluarga, masyarakat, negara, bangsa dan bahkan peradaban.  Paradigma modern berspekulasi mengenai hal-hal yang bersifat universal.  Mereka melupakan arti penting tindakan individu.</p>
<p>Apabila dicermati, kasus wacana yang dilontarkan Huntington serta wacana-wacana sosial lainnya, masih terbelenggu oleh wacana universalisme dengan sarana analisa argumentasi historis.  Seolah-olah apa yang terjadi di masa lalu akan terjadi di masa mendatang.  Setiap argumentasi berdasar pada data historis. Mereka barangkali lupa, bahwa sebuah kejadian sejarah diakibatkan oleh tindakan-tindakan individu baik secara khusus, kebetulan ataupun secara khas. [2]</p>
<p>Jika ditelusuri, cara pandang yang demikian memang tidak lepas dari pengaruh pandangan filosofis tertentu. Studi historis yang dipakai untuk memprediksi masa depan telah menjadi ciri khas mazhab Jerman. Pandangan ini telah menyebar ke berbagai belahan dunia dan sudah menjadi keyakinan kebenaran bagi kaum intelektual modern.</p>
<p>Tanpa mengabaikan makna sejarah, kita patut menengok penemuan-penemuan terbaru dalam bidang yang lebih spesifik. Dalam bidang genealogi, Steve Olson dalam karyanya yang berjudul <em>Mapping Human History</em>,  menyimpulkan bahwa pada dasarnya asal-asul manusia itu sama, yang membedakan ialah susunan DNA manusia yang telah termutasi.  Mutasi adalah kunci untuk merekotruksi sejarah genetic manusia.  Dengan kata lain, kesimpulan Olson adalah bahwa kita sebenarnya berasal dari nenek moyang yang sama. Perubahan-perubahan susunan DNA lah yang membuat kita berbeda.  Jadi berbagai bentuk perbedaan warna kulit, budaya dan kecerdasan adalah perbedaan-perbedaan yang hanya bersifat topeng.  Perbedaan tersebut tidak lain merupakan akibat dari faktor lingkungan, bukan akibat dari asal-usul genetik yang berbeda. [3]</p>
<p>Penemuan Olson tersebut jelas-jelas telah mematahkan wacana-wacana sosial yang cenderung bersifat rasial&#8212;termasuk wacana Huntington.   Akan kemanakah alur sejarah ke depan, memang tidak akan pernah pasti. Untuk menganilisis permasalahan ke depan, kita tidak bisa hanya menyederhanakan permasalahan dengan cara membagi antara Barat dan Timur, Islam dan Kristen, fundamentalis dan liberal, dan menaruh jawaban konflik sosial ke dalam kotak hitam dan putih.</p>
<p>Sebaliknya, sebuah bangunan masyarakat, bangsa, ataupun peradaban hanya bisa dianalisis satu-per-satu melalui tindakan-tindakan individu.   Tanda-tanda tindakan individu yang sebenarnya akan membentuk pola, apakah kesatuan kolektif tersebut akan runtuh, tetap eksis atau bahkan akan berbenturan.  Hanya dengan konsep tindakan, tujuan serta cara-cara individu dalam kesatuan kolektif kita akan mendapatkan pola-pola kemanakah bangunan sosial itu akan menuju.  Hal ini menyiratkan bahwa, dalam menganalis masyarakat, kita harus beralih ke dalam pandangan dari sudut pandang manusia.  Dalam melihat manusia, maka kita tidak dapat mengabaikan sifat dasar manusia yaitu bertindak.  Setiap tindakan memiliki tujuan dengan cara-cara tertentu.</p>
<div class="captionleft"><img src="http://akaldankehendak.com/wp-content/uploads/2008/05/fongoli-mencari-bush-baby.jpg" alt="alt text" width="226" height="301" /><em>Simpanse fongoli, mencari makanan</em></div>
<p>Contoh yang ekstrim terhadap konsep tindakan, tujuan dan cara, bisa dicermati dari laporan terbaru dari ahli Primatologi, Jill Pruetz.  Pruetz meneliti selama empat tahun terhadap kehidupan simpanse Fongoli di Afrika. Penemuan Fruetz memang membuat &#8220;merinding&#8221; sebagian ahli antropologi.  Karena dengan demikian, maka bisa dikatakan bahwa, selain manusia,  ternyata kelompok simpanse Fongoli telah lama memiliki &#8220;budaya&#8221; tersendiri.  Dalam temuan Fruetz, simpanse menggunakan stik (sebatang kayu yang digunakan dengan cara lembing) untuk menohok <em>bush baby</em>. [4]  Dalam menyebarluaskan penemuannya, Pruetz memang mendapati pengabaian dari  ahli primatologi sejawat.  Tapi bukankah kasus yang demikian sudah biasa dalam penemuan ilmiah.</p>
<p><strong>Tantangan Baru Dalam Memerdekakan Individu </strong></p>
<p>Berlawanan terhadap asumsi universalianisme, bahwa konflik mendatang ialah konflik antara kesatuan kolektif yang satu terhadap kesatuan kolektif yang lain.  Akan tetapi apa yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari kita ialah konflik yang sebenarnya terjadi antara individu dengan berbagai konsep-konsep kolektif yang meresap dalam dirinya sendiri.  Dengan kata lain, berbagai bentuk dogma, doktrin, keyakinan, dan bahkan kultus yang membabi butalah sebenarnya akar dari berbagai permasalahan sosial.  Dengan demikian, konsep-konsep kolektif sebenarnya bukan mewakili dari cita-cita riil individu dalam sebuah kolektif.  Konsep tersebut tidak lain adalah konstruksi kekuasaan&#8211;baik itu kekuasaan ideologis maupun kekuasaan intelektual.</p>
<p>Sungguh sangat ironis, bahkan menyedihkan, kalau di jaman sekarang yang telah dianggap merdeka, masih terdapat individu-individu yang benar-benar percaya bahwa dengan melakukan kekerasan dan pembunuhan atas nama keyakinan telah menjadikannya menjadi sosok yang suci dan merasa dirinya telah berjuang di atas kebenaran.  Bahwa dia ialah wakil dari pembela kebenaran absolut tertentu.  Dengan meyakini hal tersebut, nyawa individu lian tidak akan memiliki arti apabila dibandingkan dengan kepentingan idealisme kesatuan kolektif yang telah menjadi keyakinannya.</p>
<p>Sebagian besar masyarakat kita  memang masih hidup di atas kultus dan dogma.  Jalan satu-satunya untuk melepaskan itu semua adalah melalui program pembebasan.  Artinya, bagi kaum intelektual, tugas sebenarnya ialah merumuskan visi yang lebih jauh mengenai kemerdekaan individu.  Perjuangan untuk membela kebebasan individu, hak kepemilikan, pasar bebas dan meminimalkan segala bentuk campur tangan pemerintah adalah visi sesungguhnya dari intelektual bebas. [5]</p>
<p>Walaupun ajaran pembebasan telah lama muncul, akan tetapi sedikit sekali yang mampu melaksanakan ataupun menyebarluaskan dengan visi yang benar-benar menggugah. Ajaran Tao yang telah muncul abad ke -6 SM atau tokoh Prancis Etienne de La Boitie yang hidup di pertengahan abad ke enam belas.  Sedangkan, dalam bidang pedagogi pembebasan modern kita akan mendapati tokoh-tokoh seperti Paulo Freire, Ivan Illich, sampai dengan Mahatma Gandhi dari India.[6]  Manusia-manusia tersebut merupakan sekelumit intelektual bebas yang tidak henti-hentinya berjuang memberikan pencerahan terhadap umat manusia.</p>
<p>Kembali ke wacana paradigma intelektual modern, yang juga menjadi alasan adanya tulisan ini, yaitu makin maraknya serta simpang siurnya berbabagai gagasan yang yang sekarang muncul. Memang tidak dapat disangkal, bahwa peran media massa, baik cetak maupun elektronik, dan bahkan blog, memang sangat membantu bagi pendidikan masyarakat modern. Hampir di setiap sudut jalan, kantor dan rumah, kita tidak dapat mengelak dari keberadaan media. Namun demikian, di satu sisi media sangat membantu bagi intelektual untuk menyebarkan gagasannya, di sisi lain kekuasaannya juga sangat rentan untuk menyalahgunakannya.</p>
<p>Dengan kata lain, apa yang menjadi problem sekarang dan di masa depan tidak lagi permasalahan sarana bagaimana intelektual bebas menyebarluaskan gagasannya. Tetapi yang lebih penting serta krusial terhadap hambatan program pembebasan adalah makin maraknya perselingkuhan kekuasaan dengan intelektual gadungan.  Artinya, bahaya terbesar ke depan adalah melencengnya arah berbagai agen-agen yang selayaknya berdiri bebas melakukan fungsi sosial masing-masing tetapi malah menjadi penjilat terhadap segala bentuk kekuasaan.</p>
<p>Akhir kata,  seteru abadi dan terbesar perjuangan pembebasan tidak hanya kekuasaan yang berada mengintari kita, tapi juga yang bersemayam di dalam pikiran kita.</p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;"><em>(* Kontributor adalah penggiat di </em><a href="http://komunitasembunpagi.blogspot.com/" target="_blank">Komunitas Embun Pagi</a><em>, Semarang.</em></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;"><em>)</em></span></p>
<p><span style="text-decoration: underline;">Catatan</span>:</p>
<p>[1] Huntington, S.P &amp; Fukuyama, F. 2003. <em>The Future of The World Order</em>: Masa Depan Peradaban dalam Cengkraman Demokrasi Liberal versus Pluralisme. Yogyakarta; IRCiSod</p>
<p>[2] Mises, Ludwig Von. <em>Persoalan-Persolan Epistemologis dalam Ilmu-Ilmu Pengentahuan yang </em><em>Mengkaji</em><em> Tindakan Manusia</em>. <em>Jurnal Kebebasan: Akal dan Kehendak</em>, 2007</p>
<p>[3] Olson, S. 2002. <em>Mapping Human History: Gen dan Asal-Usul Manusia</em>. Jakarta: Serambi</p>
<p>[4] Roach, M. 2008. <em>Nyaris Manusia</em>. Dalam Majalah National Geographic Edisi April 2008</p>
<p>[5] Rothbard, M. 1990. <em>Concepts of the Role of Intellectuals in Social Change Toward Laissez Faire</em>. The Journal of Libertarian Studies Vol IX.</p>
<p>[6] Nohlen, D. 1994. <em>Kamus Dunia Ketiga</em>. Jakarta: Grasindo</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://akaldankehendak.com/?feed=rss2&amp;p=233</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pertanian dan Paradoks Beras Miskin Dalam Perspektif Praksiologi</title>
		<link>http://akaldankehendak.com/?p=141</link>
		<comments>http://akaldankehendak.com/?p=141#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 30 Mar 2008 17:35:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Epistemologi]]></category>
		<category><![CDATA[Praksiologi]]></category>
		<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>
		<category><![CDATA[beras miskin]]></category>
		<category><![CDATA[Kemiskinan]]></category>
		<category><![CDATA[kesejahteraan petani]]></category>
		<category><![CDATA[paradoks]]></category>
		<category><![CDATA[petani]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://akaldankehendak.wordpress.com/?p=163</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Giyanto Jurnal Kebebasan: Akal dan Kehendak Vol. II, Edisi 23, Tanggal 31 Maret 2008 Beras Bulog Setiap pulang kampung, saya terkadang disuruh ibunda tercinta untuk mengambil jatah beras miskin di Balai Desa. Barangkali karena administratur desa mengkategorikan kami sebagai keluarga miskin, jadi kami mendapat jatah beras miskin. Saat mengambil jatah beberapa waktu lalu, di [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Oleh: Giyanto<br />
Jurnal Kebebasan: Akal dan Kehendak<br />
Vol. II, Edisi 23, Tanggal 31 Maret 2008</p>
<div class="captionright"><img src="http://akaldankehendak.com/wp-content/uploads/2008/03/berasbulog.jpg" alt="alt text" />Beras Bulog</div>
<p>Setiap pulang kampung, saya terkadang disuruh ibunda tercinta untuk mengambil jatah beras miskin di Balai Desa. Barangkali karena administratur desa mengkategorikan kami sebagai keluarga miskin, jadi kami mendapat jatah beras miskin.  Saat mengambil jatah beberapa waktu lalu, di jalanan sambil naik sepeda, saya bertanya-tanya. &#8220;Bukankah bapak saya petani dan punya beras sendiri? Mengapa kami dikasih beras miskin? Memangnya pemerintah lagi panen padi, <em>kok </em>ngasih beras murah?&#8221;</p>
<p>Itulah paradoks.  Situasi dikatakan paradoks ketika sesuatu itu dianggap benar dia mengandung kesalahan, juga ketika dianggap salah, dia mengandung kebenaran. Artinya, pengertian tersebut saling bertentangan. Kenyataan bahwa kami dikasih beras miskin dengan alasan kami miskin bisa jadi merupakan alasan yang benar, tapi bisa juga keliru karena kami petani yang <em>notabene</em> punya beras sendiri.</p>
<p>Antonim dari istilah kemiskinan ialah kesejahteraan. Di seantero jagad, pemaknaan terhadap kesejahteraan berbeda-beda dalam setiap wilayah. Di Afrika, khususnya Nigeria, orang dikatakan makmur ketika memiliki banyak hewan ternak. Sedangkan di Swedia, orang dikatakan sejahtera ketika memiliki banyak waktu senggang untuk keluarga&#8212;dengan syarat sudah memiliki pendapatan yang cukup bagi kehidupan sehari-hari. Di Amerika, orang dikatakan kaya jika memiliki banyak <em>duit</em>. Sedangkan di India, orang cukup memiliki perasaan bahagia itu sudah dianggap sejahtera. Berbeda lagi dengan masyarakat <em>Iban </em>di Malaysia, orang dikatakan sejahtera bila hasil panen padi melimpah ruah. [1] Dengan demikian, dalam ukuran kesejahteraan di berbagai belahan dunia itu berbeda-beda. Tergantung pada persepsi budaya masing-masing.</p>
<p>Lalu apa yang menjadi acuan bagi pengertian kesejahteraan yang didefinisikan pemerintah kita? Barangkali ini yang menjadi alasan mengapa kita dikasih beras miskin, karena sehari-hari kita makan nasi. Saya menyebutnya sebagai pandangan populer.</p>
<p><strong>Petani sebagai Komoditas Politik </strong></p>
<p>Semenjak negara ini mengenal politik, semua permasalahan dilihat dari sudut pandang politik. Termasuk agen-agen politik, dari aparatur desa, pemerintahan kabupaten, pemerintah pusat serta lembaga-lembaga yang mengatasnamakan persatuan organisasi petani&#8212;walaupun petani tidak pernah mengenal mereka. Semuanya &#8220;menjual&#8221; nama petani untuk mendapatkan isu yang bisa jadi alat ampuh untuk meraih popularitas, yang ujung-ujungnya bagi usaha meraih kekuasaan.</p>
<p>Mari mencoba merefleksi, sebenarnya apa solusi permasalahan pangan kita? Bukankah sumber daya alam kita sangat subur, karena berada di daerah vulkan yang sangat sesuai untuk lahan pertanian? Bukankah jumlah masyarakat petani kita cukup banyak? Bukankah, tidak seperti di wilayah lain di dunia, sawah kita bisa menghasilkan panen per tiga bulan atau satu tahun bisa tiga kali panen?</p>
<p>Yang menjadi awal mula isu pangan menjadi <em>heboh</em>, ialah terkait proses alamiah dari kenaikan harga-harga beras. Harga beras naik itu, biasanya, berhubungan penurunan stok, seperti terkondisi oleh belum datangnya musim panen, dan lain hal. Penurunan stok beras di pasar menyebabkan harga beras sedikit naik. Apabila hal tersebut diserahkan secara alamiah kepada mekanisme pasar, dalam waktu dekat <em>toh </em>harga beras akan kembali normal seiring dengan kenaikan stok, misalnya dengan datangnya musim panen yang di berbagai tempat dan waktu di seluruh pulau Jawa  sangat bervariasi. Apalagi bila hal itu dibandingkan dengan seluruh kawasan di Indonesia. [Bagaimana dengan kenaikan permintaan?]</p>
<p>Kalaupun ada kenaikan permintaan terhadap beras yang menyebabkan harga naik, setidaknya ada dua kemungkinan. Pertama, karena adanya pertambahan penduduk secara pesat, sehingga menyebabkan permintaan beras menjadi lebih banyak. Yang kedua, disebabkan oleh permintaan oleh tengkulak yang berharap menimbun beras.</p>
<p>Bagi kemungkinan pertama, untuk jaman sekarang, saya kira pengaruhnya tidak terlalu signifikan dikarenakan sudah banyak keluarga yang ikut program KB, dan apabila ada pertumbuhan penduduk yang rata-rata 1-2% per tahun. Bukanlah lahan  di luar jawa masih banyak yang belum tergarap? Atau, bukankah hasil penelitian terbaru mengenai benih unggul yang dapat memperpendek masa tanam?, atau apakah benar jumlah penduduk semakin bertambah, kalau demikian, lihat saja piramida penduduk Amerika ataupun Rusia yang menunjukkan penurunan?, toh kalau <em>mentok</em>, masih banyak kemungkinan adanya diversifikasi bahan makanan, karena kita mempunyai ikan dilaut yang belum dapat dimanfaatkan secara optimal untuk alternatif pengganti makanan pokok selain beras.</p>
<p>Bagi kemungkinan kedua, hanya pengusaha atau spekulan beras yang kurang pengalaman saja yang menyimpan beras atau gabah berlama-lama. Karena fluktuasi harga beras yang tidak pasti, kemungkinan spekulan tidak mau mengambil resiko menyimpan beras terlalu lama. Saya sering mendapat pengalaman memiliki tetangga spekulan yang sering mengeluh karena sebelumnya saat membeli beras harganya tinggi tapi setelah beberapa saat harganya turun. Sehingga beliau mengalami kerugian. Jadi seandainya ada anggapan bahwa penimbun selalu untung, itu hanya orang yang tidak pernah menjadi spekulan.  Karena spekulan juga tidak tahu pasti mengenai masa depan akan fluktuasi harga beras.</p>
<p>Dengan demikian, sangat tidak beralasan  bahwa reaksi-reaksi yang disebabkan oleh fluktuasi harga beras membuat kita khawatir serta takut akan kekurangan pangan. Seandainya ini terlalu dibesar-besarkan, bukan tidak mungkin akan menjadi isu yang seksi bagi politisi maupun pemerintah untuk mengambil kebijakan yang bisa jadi merugikan petani. Walaupun hal tersebut didasarkan dengan niat baik ataupun untuk mencari popularitas. Dengan demikian akan mempermudah politisi untuk bersilat lidah demi keuntungan dirinya sendiri.</p>
<p><strong>Berawal dari Persoalan Epistemologis</strong></p>
<p>Alasan lain pemicu pengambilan kebijakan pangan serta pertanian yang paradoksial ialah, tentu, adanya dukungan berupa hasil-hasil penelitian akademis. Namun, sejauh penulusuran yang saya lakukan, terlepas dari segala keterbatasannya, belum ada yang menggunakan praksiologi (<em>praxeology</em>). Kalaupun ada penelitian yang metodenya menyerupai metode tersebut, proporsinya masih amat minim. Salah satunya adalah hasil penelitian Yunita T. Winarto, seorang antropolog UI. Dalam penelitiannya di daerah persawahan pantai utara Jawa Barat, beliau menyimpulkan, bahwa petani ternyata memiliki kemampuan sendiri untuk meningkatkan produktivitas pertanian.[2]</p>
<p>Saya bisa memahami kecermatan hasil penelitian tersebut, karena hanya para antropolog yang mengawali penggunaan metode <em>grounded research</em>. Metode yang digunakan adalah &#8220;terjun&#8221; langsung ke lapangan, serta melibatkan diri secara langsung dengan para petani desa untuk beberapa tahun dan bahkan bertahun-tahun. [3] Jadi, sebagaimana dalam gugatan saya terhadap epistemologi ilmu sosial dalam artikel <em>Menggugat Epistemologi Ilmu Sosial</em> [<a href="http://akaldankehendak.com/2008/02/25/menggugat-epistemologi-ilmu-sosial-bag-1/" target="_blank">1</a> dan <a href="http://akaldankehendak.com/2008/03/03/menggugat-epistemologi-ilmu-sosial-bag-2/" target="_blank">2</a>], salah satu kesalahan terbesar kita ialah penggunaan angka-angka serta menggeneralisasi manusia yang sebenarnya memiliki sifat  masing-masing dan &#8220;keunikan&#8221; tersendiri.</p>
<p>Landasan bagi penggunaan individualisme metodis sangat sederhana. Bahwa individu, dalam hal ini petani, sebenarnya dapat membuat pilihannya sendiri.[4]  Dengan mengamati pilihan-pilihan individu yang tercermin dari cara-cara mereka dalam meraih tujuan, sebenarnya cukup mudah untuk mendapatkan gambaran realitas secara keseluruhan. Apabila obyek kita pertanian dan para petani, kita tidak dapat menanggalkan pengamatan terhadap apa-apa dan bagaimana perilaku petani sehari-hari. Bagi saya, hal yang demikian sudah sangat mendarah daging, karena sebelum masuk Taman Kanak-Kanak, saya sudah bergumul dengan petani baik masa-masa bahagia maupun masa-masa sulit (walaupun sebenarnya lebih banyak masa sulitnya).</p>
<p>Perbedaan <em>grounded research</em> dengan praksiologi adalah pada penekanannya. <em>Grounded research</em> masih memandang individu dalam kerangka kolektif, sedangkan praksiologi melihat individu sebagai makhluk yang otonom. Dalam pandangan sejumlah pemikir-termasuk Rothbard, praksiologi bersifat individualisme metodis. Metode ini dilandasi prinsip bahwa hanya individulah  yang mempunyai pikiran, memiliki kemampuan meraba, melihat, serta indera dan perasa. Dengan demikian, hanya individu tersebutlah yang dapat melakukan penilaian-penilaian atau membuat pilihan-pilihan, yang pada akhirnya mengambil tindakan. Dalam pemahaman ini, hanya individu-individulah yang sebenarnya bertindak, bukan kesatuan kolektif. [5]</p>
<p>Konsekuensi logis dari penggunaan metodologi ini ialah bahwa kita sebelumnya perlu menerima dan meyakini subyektivitas ilmu pengetahuan sosial, yang legalitasnya mendapat dukungan dari beberapa filsuf kontemporer seperti Fritjof Capra ataupun Thomas S Khun. Dengan demikian, penggunaan angka-angka hanya diperlukan jika hal demikian tidak terkait secara langsung dengan manusia. Misalnya: dalam perhitungan luas lahan pertanian, perhitungan anggaran biaya pertanian dan lain sebagainya yang terkait dengan benda-benda mati.</p>
<p><strong>Pamanfaatan Pengetahuan Masyarakat </strong></p>
<p>Asumsi yang mendasari kebijakan beras miskin adalah bahwa pengetahuan atau informasi hanya dimiliki oleh pemerintah (pusat).  Oleh karena itu informasi dan pengetahuan mengenai pasokan beras dianggap hanya dimiliki oleh Bulog, BPS serta Kementerian Ekonomi. Dengan demikian hal-hal tersebut memberikan alasan dan pembenaran bagi kebijakan impor beras ataupun operasi pasar, kendati sebenarnya asumsi yang demikian mudah dibantah.</p>
<p>Saya memiliki argumen lain. Ada pengetahuan yang tidak dapat dimiliki oleh satu otoritas, baik oleh pakar ekonomi maupun pemerintah, yaitu pengetahuan seputar waktu dan tempat. [6]</p>
<p>Pengetahuan mengenai tempat misalnya. Saya kira, Ibu pemilik warung di sebelah tempat kos, atau rata-rata penduduk dewasa di Semarang, lebih mengetahui bahwa beras dari <em>Dlangu </em>Klaten dan Tegal itu lebih cocok dengan lidah orang Semarang. Atau, <em>tengkulak</em> dari Pati barangkali lebih peka terhadap informasi berkurangnya stok beras di Yogyakarta, sehingga menarik dia untuk <em>melempar </em>beras ke <em>Jogja</em>. Bisa jadi <em>penebas</em> dari Kudus lebih gesit mencari informasi bahwa di Bandung sedang musim panen, sehingga <em>menggoda</em> dia untuk men-spekulasi-kan modalnya untuk menebas padi di sana.</p>
<p>Pengetahuan-pengetahuan seperti itu hanya dimiliki oleh para <em>tengkulak, penebas, serta penjual nasi</em>. Jadi tidak beralasan jika data-data yang sering disiarkan di televisi serta media cetak tersebut bisa sesuai dengan realitas. Jika semua data ini dijadikan landasan bagi kebijakan-kebijakan pertanian serta pengendalian harga beras, validitasnya perlu ditanyakan lagi.</p>
<p>Dalam hal pengetahuan mengenai waktu, misalnya, petani-petani di daerah memahami hal ini lebih dari siapapun. Dalam menghadapi ketidakpastian akan masa depan, mereka biasanya menyimpan beras di rumah masing-masing. Setelah musim panen, tidak semua hasil panen itu langsung dijual. Karena masa depan tidak pasti, bapak saya biasanya akan menyimpan sebagian <em>gabahnya</em> untuk persiapan modal musim tanam selanjutnya; sedangkan sisanya dicadangkan sebagai sarana antisipasi bagi kebutuhan-kebutuhan lain yang mendesak.</p>
<p>Dengan demikian, apa yang dikhawatirkan Bulog bahwa stok beras kurang sebenarnya jauh dari realita. Coba <em>cek</em> dan <em>geledah</em> rumah-rumah petani di pedesaan. Biasanya, mereka memiliki <em>stok</em> pasokan gabah sebagai tabungan. Dengan demikian mereka <em>toh</em> suatu saat pasti menjualnya entah untuk kebutuhan sehari-hari maupun untuk modal musim tanam maupun penyemaian, dan biaya-biaya rutin dari proses pengolahan pertanian selanjutnya.</p>
<p>Akan tetapi persoalan menjadi lain ketika terjadi intervensi terhadap harga beras oleh pemerintah. Tabungan dalam bentuk beras, nilainya semakin turun karena harga beras, secara riil tetap dan bahkan turun, karena adanya intervensi kebijakan-kebijakan pemerintah yang menyebabkan inflasi. Termasuk di sini program kredit palsu, percetakan uang fiat,  serta program beras miskin dan lain sebagainya, yang pada akhirnya menyebabkan harga-harga komoditas yang lain terus naik, termasuk faktor-faktor produksi dan sarana-sarana produksi pertanian; sementara, harga beras mengalami penurunan akibat program beras miskin dan segala bentuk operasi pasar.</p>
<p>Alasan klise diterapkannya kebijakan beras miskin, lebih banyak, terkait laporan media mengenai busung lapar atau <em>malnutrisi</em>. Tanpa mengecek lebih dahulu, laporan-laporan tersebut langsung menjadi justifikasi bagi para &#8220;spekulator legal&#8221; untuk mendatangkan beras dari negeri tetangga. Alih-alih untuk mengatasi kelaparan, momen tersebut bisa langsung dijadikan pembenaran bagi perjuangan imoral yang hanya dimotifkan demi keuntungan dirinya sendiri, tanpa mempertimbangkan efeknya pada tingkat mikro.</p>
<p><strong>Kesimpulan </strong></p>
<p>Penjelasan di atas menyiratkan bahwa menganggap pemerintah sebagai satu-satunya otoritas yang wajib menentukan semua pengendalian terhadap kebutuhan masyarakat sebenarnya sangat berbahaya. Juga menganggap institusi akademik sebagai menara gading ataupun menara air bagi kiblat ilmu pengetahuan dapat merupakan mimpi yang jauh dari kenyataan. Satu  faktanya ialah bahwa pengetahuan, khususnya seputar waktu dan tempat, sebenarnya bukan sepenuhnya menjadi otoritas pengetahuan ilmiah. Telah lama masyarakat memiliki pengetahuan yang didapat dari proses <em>trial and error</em>. Pengetahuan tersebut hanya bisa bermanfaat jika keputusan-keputusan tersebut dikembalikan dan diserahkan kembali kepada pribadi-pribadi masing-masing sebagai agen ekonomi. Jadi apabila pemerintah sekarang melakukan berbagai bentuk intervensi, hal tersebut bukan semakin menyelesaikan permasalahan, melainkan malah membunuh dan menusuk langsung ke jantung agen yang paling produktif di negeri kita: yaitu para petani. [ ]</p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;"><em>(* Kontributor adalah penggiat </em><a href="http://komunitasembunpagi.blogspot.com" target="_blank">Komunitas Embun Pagi</a><em>. </em></span><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;"><em>Hak cipta ada pada penulis.)</em></span></p>
<p><span style="text-decoration: underline;">Referensi</span>:</p>
<p>[1] <em>Geography of Wealth</em>. <a href="http://www.nationalgeographic.com/">www.nationalgeographic.com</a>.</p>
<p>[2] Winarto, YT. &#8220;Pengendalian Hama Terpadu Setelah Lima Belas Tahun Berlalu: Adakah Perubahan dan Kemandirian?<em>&#8221; </em>Dalam <em>Jurnal Analisis Sosial Vol 11</em>: <em>Tantangan Masa Depan Pertanian </em><em>Indonesia</em>. Yayasan AKATIGA: Bandung.</p>
<p>[3] Mustain. <em>Petani vs Negara: Gerakan Sosial Petani Melawan Hegemoni Negara</em>. (Pendapat Disertasi ini tidak saya cantumkan dalam artikel diatas karena kajiannya terfokus pada <em>Sejarah Reklaiming</em> petani terhadap lahan di Jawa Timur. Karena Ilmu Sejarah berbeda dengan Praksiologi).</p>
<p>[4] Gene Callahan. <em>Economics for Real People</em>: <em>An Introduction to the </em><em>Austrian</em><em> </em><em>School</em><em>, </em>2nd Edition. Ludwig von Mises Institute: Auburn,  Alabama.</p>
<p>[5] Murray N. Rothbard. <em>Praxeology as the method of social sciences</em>. (dalam mendefinisikan Praksiologi antara Rothbard dengan Mises ada perbedaan. Jika Mises lebih memandang Praksiologi sebagai satu cabang ilmu tindakan manusia, Rothbard lebih mengartikannya sebagai metode. Hal ini bisa dimengerti karena masa hidup dari kedua tokoh ini berbeda. Mises hidup ketika ilmu-ilmu sosial belum berkembang pesat seperti di jaman Rothbard). Bisa sebagai tambahan, lihat Amir Azad. <em>Economic</em> <em>Development: An Individualist Methodology</em> (artikel singkat menyinggung <em>sejarah</em> <em>perdebatan</em> <em>metodologi</em> dari jaman Socrates hingga Rothbard, dari Pemikiran Yunani hingga Aliran Skolastik di Spanyol serta Hegel dan Marx dari Jerman).</p>
<p>[6] F.A. Hayek. &#8220;Pemanfaatan Pengetahuan Masyarakat&#8221;. <em>Jurnal Kebebasan Akal dan Kehendak</em>, Sanctuary Publishing: Ciputat.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://akaldankehendak.com/?feed=rss2&amp;p=141</wfw:commentRss>
		<slash:comments>9</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Menggugat Epistemologi Ilmu Sosial (Bag. 2)</title>
		<link>http://akaldankehendak.com/?p=80</link>
		<comments>http://akaldankehendak.com/?p=80#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 02 Mar 2008 17:01:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Epistemologi]]></category>
		<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://akaldankehendak.wordpress.com/?p=94</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Giyanto Jurnal Kebebasan: Akal dan Kehendak Vol. II, Edisi 19, Tanggal 03 Maret 2008 (Bag. 2 &#8211; Tamat) Tidak bermaksud menjadi kiri, tulisan ini sebenarnya ingin mengatakan bahwa apa yang kita yakini dalam epistemologi yang dipakai secara umum oleh ahli ilmu sosial sebenarnya semakin menjauhi kebenaran atau realitas itu sendiri. Dengan kata lain, saya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal">Oleh: Giyanto<br />
Jurnal Kebebasan: Akal dan Kehendak<br />
<span lang="IT">Vol. II, Edisi 19, Tanggal 03 Maret 2008</span></p>
<p style="text-align: center;"><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;">(Bag. 2 &#8211; Tamat) </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><a title="plato-and-aristoteles.jpg" href="http://akaldankehendak.files.wordpress.com/2008/03/plato-and-aristoteles.jpg"><img src="http://akaldankehendak.files.wordpress.com/2008/03/plato-and-aristoteles.thumbnail.jpg" alt="plato-and-aristoteles.jpg" hspace="15" vspace="5" align="left" /></a><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;">Tidak bermaksud menjadi kiri, tulisan ini sebenarnya ingin mengatakan bahwa apa yang kita yakini dalam epistemologi yang dipakai secara umum oleh ahli ilmu sosial sebenarnya semakin menjauhi kebenaran atau realitas itu sendiri.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;">Dengan kata lain, saya sebenarnya lebih mengiyakan pandangan subyektfivitasnya Thomas Kuhn. Atau yang lebih kontemporer barangkalai Capra. Entitas sosial apabila dianalogikan ibarat sebuah sistem tubuh—dengan logika biologi alih-alih seperti yang sekarang dipakai ialah logika fisika. Atau bila memakai analogi Rothbard seperti jaring laba-laba. Jadi, seandainya paradigma yang ada sekarang memakai paradigma empiris “obyektif” dengan kacamata ilmu pengetahuan alam, bukan tidak mungkin, para ahli ilmu sosial yang sekarang “menjabat” atau meneliti dan menulis di jurnal ilmiah telah melakukan sesuatu yang sia-sia dan menghabiskan waktu. </span><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;">Ini berarti suatu generasi yang hilang atau buta terhadap pencerahan ilmu tentang manusia.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;">Saya menyadari konsekuensi mengatakan yang demikian. Apabila benar-benar diterapkan mengenai paradigma yang saya yakini, bukan tidak mungkin, semua struktur kelembagaan yang ada di dunia akademis berubah total. Dan ini, menurut saya, tidak akan mungkin dilakukan karena para akademisi akan lebih mementingkan kepentingannya sendiri atau hak mereka untuk berstatus quo karena terkait dengan profesi, daripada benar-benar melakukan tanggungjawab ilmiah dalam memperjuangkan kebenaran ilmiah yang belum tentu hasilnya. Apalagi ide-ide tersebut hanya dikatakan oleh “anak kecil” seperti kita.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;">Akan tetapi, seperti yang dikatakan Hayek, bukankah tugas intelektual untuk “memasarkan ide” dan selalu mengingatkan setiap penyimpangan yang ada di masyarakat. Termasuk dunia akademis. Dan mengenai peran untuk mendebatkannya secara filosofis sudah dilakukan oleh orang-orang yang setidaknya sudah saya sebut dalam tulisan ini.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;">Begitu banyak bukti-bukti mengenai subyektvitas ilmu pengetahuan sosial. Sejarah perjuangan ideologi ataupun sejarah penemuan teori-teori di bidang ilmu alam telah dapat menjadi bukti bagi seringnya ketersesatan perjalanan menegakkan ilmu pengetahuan pada jalurnya. Nasib tragis yang dialami oleh Wegner dalam memperjuangkan Toeri Kontinental Drift bisa dijadikan bukti, atau nasib Galieo, Kopernikus, dan begitu banyak teoritikus lainnya yang bernasib sama. Dan dalam bidang ekonomi saya memprediksi pandangan-pandan Ludwig von Mises akan berdengung keras di dunia akademik ekonomi setelah penyia-nyian masyarakat akademis yang tidak lepas dari pengaruh ideologi politik yang bermain sekarang ini. Akan tetapi, saya yakin kebenaran akan berbicara dengan sendirinya entah suatu saat nanti.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;">Namun demikian sebuah fakta sejarah kurang lengkap apabila dipergunakan sebagai bukti ilmiah. Bukti yang ada di depan mata, ialah mandulnya peran ilmuwan sosial di masyarakat umum. Bahkan seringkali orang-orang yang memiliki pengaruh ilmiah dalam ilmu sosial biasanya orang-orang “terpinggirkan” dalam dunia akademiknya. Bukankah ini merupakan bukti kecil dari fenomena tersebut. Contoh lain barangkali bisa dilihat dari produktivitas karya-karya sosial. Dari pengamalan saya sebagai pembaca, pandangan-pandangan sosial malah sering muncul dari mulut-mulut yang bukan ahlinya. Semisal yang sering menjadi kasus di </span><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;">Indonesia</span><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;"> ialah profesi wartawan, sastrawan, peneliti lepas, pebisnis dan lain sebagainya. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;">Sebagai tambahan, hasrat untuk menyerukan kebenaran ilmiah sebenarnya sudah menjadi bawaan bagi setiap manusia yang berpikir. Dan apabila ada yang sebagian atau bahkan kebanyakan diam itu disebabkan keberadaan mereka di struktur internal organisasi yang menerapkan paradigma yang ada. Toh apabila orang-orang yang “berpikir” tersebut mengetahui, mereka akan memilih diam daripada untuk memilih melakukan “keributan” yang barangkali akan dicap “berisik” dan membikin onar. Barangkali dalam bentuk ekstrim dituduh mencari popularitas.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;">Analisis lain yang saya tuduhkan kalau bisa dikatakan gugatan terkait keberadaan bangsa </span><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;">Indonesia</span><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;"> yang dalam “kelahirannya” “berbarengan” atau bisa dikatakan “disebabkan” oleh pertarungan ideologi-ideologi besar. Pengaruh sosialisme dari tahun 1945-1965 dan selanjutnya pengaruh liberalisme ala aqlo saxon dari tahun 1966 sampai sekarang masih menjadi landasan “darimana” gagasan itu seharusnya muncul sehingga bisa dikatakan sahih. Apakah kesahihan sebuah ilmu hanya didasarkan pada latar belakang geografis, budaya, peradaban atau apapun itu? Saya kira pandangan tersebut menandakan kesempitan bepikir. Sebuah paradigma seharusnya bisa diterima apabila dia dapat dipergunakan untuk menjawab permasalahan yang ada, dalam hal ini permasalahan sosial. Dan sekarang kita malah menjauhi dari idealisme tersebut. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;">Hal-hal di atas sebenarnya merupakan idealisme dari seorang yang frustasi. Lebih parahnya, bila melihat seretnya penerbitan berkala di dunia akademik, bisa dikatakan dunia akademik kita sebenarnya telah mati suri. Dari kasus yang sekarang saya temui, penerbitan-penerbitan jurnal malah lebih banyak dilakukan oleh pihak-pihak yang secara akademik berada di luarnya. Mereka sebagian berdiri disebabkan oleh berbagai motif. Namun, tanpa menyelidiki motif tersebut, seharusnya kita patut mengapresiasinya dengan pikiran terbuka. Beberapa kasus tersebut, seharusnya menjadi refleksi semua pihak, termasuk intelektual, bahwa tanggungjawab ilmiah sebenarnya dapat diperankan oleh berbagai macam profesi, dan tidak harus sebagai filsuf yang seringkali dimimpikan oleh para intelektual jika hanya ingin meninggikan strata ilmiahnya. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;">Dari fakta tersebut, begitu sangat jelas, sehingga mempengaruhi keyakinan saya pribadi untuk mengambil posisi, walaupun harus tertatih-tatih dengan cara berputar-putar untuk berpindah profesi untuk hanya sekedar mencari dan terus mencari apa yang seharusnya dan patut diperjuangkan. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;">Selain ketersesatan penggunaan paradigma, kita juga telah kurang sesuai dalam menggunakan alur berpikir logis dalam upaya menelaah sumber permasalahan ilmu sosial. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;">Cerita singkat mengenai perjalanan panjang diakuinya teori continental drift barangkali bisa dijadikan inspirasi.<span> </span>Dari perspektif kesejarahan ilmu alam, saat Alfred Lothar Wegener menemukan Teori Continental Drift, mula-mula dia hanya sekilas melihat gambaran peta Amerika Selatan dengan garis pantai barat Afrika yang begitu identik, Wegener membayangkan bahwa kedua benua tersebut pernah menyatu.<span> </span>Baru kemudian dia mengumpulkan detail-detail penemuan yang ada untuk mendukung teorinya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;">Padahal, penelitian geologis telah lama dilakukan oleh para geolog yang hanya mefokuskan detail-detail geologi tanpa membayangkan gambaran muka bumi secara keseluruhan. Akhirnya argumen Wegener mendapat bantahan tanpa pengujian terlebih dahulu dari para ahli geologi yang merasa paling tahu pada bidang tersebut. Namun demikian, Wegner bersikap acuh<span> </span>dan menikmati bidangnya dalam klimatologi. Hingga 60 tahun kemudian kebenaran ilmiah terungkap dan bukti-bukti yang mengarah bahwa benua itu bergerak semakin banyak. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;">Barangkali sejarah tersebut bisa terulang dengan cerita terbalik. </span><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;">Para</span><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;"> ahli ilmu sosial, termasuk para ekonom, selama ini telah terlalu menyederhanakan dan terlalu menjeneralisasikan manusia melalui sederet angka-angka. Sekumpulan data administrasi yang belum tentu kesahihannya telah menjadi agregat-agregat yang dianggap mewakili manusia. Tanpa menyelidiki pada tingkat mikro apa yang sebenarnya dilakukan manusia, apa alasan mereka melakukan sesuatu, bagaimana mereka bertindak untuk mencapai tujuan tersebut,<span> </span>belum diselidiki sama sekali. Sehingga, hanya orang-orang jalanan<span> </span>atau praktisi yang mengetahui dengan jelas tapi kurang mampu menyatakannya secara argumentatif tertulis ataupun mendasarkan pada teori yang sahih untuk menjelaskan permasalahan yang dihadapinya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;">Sebagai contoh, petani sering mendapati nilai harga beras mereka dibandingkan dengan barang kebutuhan konsumsi yang lain sangat rendah, apabila sekarang harga beras ditingkat dasar mencapai Rp. 4000,-<span> </span>bisa jadi harga di tingkat konsumen mencapai Rp. 5.000,-. Barangkali dalam mekanisme pasar hal tersebut dapat diterima karena jalur distribusi yang terlalu panjang. Namun, yang lebih memprihatinkan, dengan harga dasar Rp. 4000,- Seandainya dibandingkan dengan harga komoditas lain serta ditambah faktor-faktor produksi yang dibutuhkan dalam pertanian yang harganya terus naik, maka nilai beras dengan nominal yang demikian sangat tidak menjadi berarti. Akibatnya, dalam istilah ekonomi yang lebih keren, akan terjadi defisit anggaran yang dialami petani. Tindakan<span> </span>yang sering ditempuh petani, bapak saya biasanya, dengan menyewakan salah satu sawahnya untuk menyokong biaya produksi pada tiap awal musim tanam. Dan hal tersebut terus berlarut-larut sehingga para petani tidak pernah mengalami keuntungan sama sekali disebabkan oleh kebijakan-kebijakan pemerintah yang sifatnya inflasif. Belum lagi biaya-biaya keluarga seperti pendidikan, listrik, pajak dan lain sebagainya. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;">Permasalahan tindakan-tindakan manusia berdasarkan pilihan-pilihan yang demikian sulit apakah ilmuwan sosial atau ahli ekonomi mengetahuinya? Saya masih ragu hal demikian diketahui oleh ilmuwan yang duduk manis di mimbar akademik yang sangat terhormat. Dan apakah data-data yang dianggap subyektif tersebut bisa digunakan oleh pemerintah untuk mengambil kebijakan? Paling-paling yang digencarkan malah iklan pembayaran pajak agar tepat waktu! Suatu paradoks yang sering terjadi di kehidupan realitas.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;">Fenomena pemiskinan secara sistematis tersebut sering dianggap hal yang remeh-temeh; permasalahan sosial yang demikian dianggap terjadi secara kasuistik dan parsial. Bukti yang bisa dianggap sahih ialah pertumbuhan ekonomi yang tinggi melalui angka-angka. Dengan demikian laporan pertanggungjawaban pemerintahan dapat diterima oleh rakyat yang diwakili oleh anggota legislatif melalui “data-data” yang telah dianalisis oleh kementrian ekonomi. Dan sandiwara tersebut diulang berkali-kali tiap </span><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;">lima</span><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;"> tahun sekali.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;">Memang tidak mudah menerapkan paradigma individualisme metodis dalam epistemologis ilmu sosial.<span> </span>Mises telah memperingatkan: </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 25.65pt 0 36pt;"><span style="font-size: 9pt; font-family: Arial;">&#8220;Meyakini bahwa keseluruhan kolektif itu dapat divisualisasikan adalah suatu ilusi. Keseluruhan kolektif tidak pernah dapat dilihat; kognisinya selalu merupakan hasil dari pemahaman atas makna yang diberikan manusia pada tindakannya. Kita memang dapat melihat keramaian, misalnya kerumunan manusia. Apakah kerumunan itu hanya sekedar pertemuan ataukah sebuah badan teorganisasi atau jenis lain dari entitas sosial merupakan sebuah pertanyaan yang hanya dapat dijawab oleh pemahaman akan makna yang mereka berikan bagi keberadaan tersebut. Dan makna ini selalu merupakan makna dari individunya. Bukanlah indera kita, melainkan pemahaman kita, sebagai sebuah proses mental, yang membuat kita memahami entitas sosial.&#8221;</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;">Mises menambahkan: </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0 25.65pt 0 36pt;"><span style="font-size: 9pt; font-family: Arial;">&#8220;Siapa saja yang bermaksud memulai kajian tentang tindakan manusia dari unit-unit kolektif akan mendapati rintangan tak terperi berupa kenyataan bahwa setiap individu pada saat yang sama juga dapat merupakan bagian nyata dari beragam entitas kolektif. Persoalan-persoalan yang ditimbulkan oleh mulitiplisitas unit-unit sosial yang berkoeksistensi dan antagonisme-antagonisme mutual mereka dapat diatasi hanya melalui individualisme metodologi.&#8221;</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;">Singkat kata, sekarang kita tidak hanya melakukan kesalahan terbesar abad ini, namun dengan sengaja kita, masyarakat ilmiah, telah membodohi masyarakat yang seharusnya tercerahkan oleh keberadaan ilmu pengetahuan. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;">Salah seorang dosen saya pernah mengatakan dengan enteng bahwa: “Abad dua puluh adalah abad kuantitatif”. Namun dalam hati saya mengatakan “Abad dua puluh ialah abad kegelapan”.<span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;">Memang sangat mudah melupakan sebuah kesalahan! [ ]</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><em><span style="font-size: 10pt; font-family: Arial;">(Catatan: Lanjutan ini merangkum Bagian 2 dan 3 dalam naskah asli yang diterima redaksi. Dipublikasikan di Jurnal A&amp;K dengan penyuntingan minimum. Hak cipta ada pada penulisnya.)</span></em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://akaldankehendak.com/?feed=rss2&amp;p=80</wfw:commentRss>
		<slash:comments>8</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Persoalan-Persoalan Epistemologis dalam Ilmu-Ilmu Pengetahuan yang Mengkaji Tindakan Manusia (Bag.2)</title>
		<link>http://akaldankehendak.com/?p=52</link>
		<comments>http://akaldankehendak.com/?p=52#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 24 Oct 2007 18:10:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Epistemologi]]></category>
		<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>
		<category><![CDATA[empirisme]]></category>
		<category><![CDATA[ilmu sosial]]></category>
		<category><![CDATA[konsepsi]]></category>
		<category><![CDATA[Sejarah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://akaldankehendak.wordpress.com/2007/10/25/persoalan-persoalan-epistemologis-dalam-ilmu-ilmu-pengetahuan-yang-mengkaji-tindakan-manusia-bag2/</guid>
		<description><![CDATA[&#124; Ludwig von Mises &#124; ( Bagian 2 &#8211; Tamat; diformat ulang 25 Maret 2008 ) 8. Konsepsi dan Pemahaman Tugas ilmu-ilmu kajian tentang tindakan manusia adalah memahami makna dan relevansi tindakan manusia. Untuk tugas ini, disiplin-disiplin tersebut menerapkan dua prosedur epistemologis yang berbeda, yaitu konsepsi dan pemahaman. Konsepsi adalah peralatan mental dari praksiologi; sedangkan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>| <strong>Ludwig von Mises </strong>|</p>
<p>( Bagian 2 &#8211; Tamat; diformat ulang 25 Maret 2008 )</p>
<p><strong>8. Konsepsi dan Pemahaman</strong></p>
<p>Tugas ilmu-ilmu kajian tentang tindakan manusia adalah memahami makna dan relevansi tindakan manusia. Untuk tugas ini, disiplin-disiplin tersebut menerapkan dua prosedur epistemologis yang berbeda, yaitu konsepsi dan pemahaman. Konsepsi adalah peralatan mental dari praksiologi; sedangkan pemahaman adalah peralatan mental khusus dari sejarah.</p>
<p>Kognisi praksiologi merupakan pemahaman konseptual. Ia mengacu pada apa yang perlu ada dalam tindakan manusia. Ia merupakan kognisi terhadap hal-hal yang universal dan kategoris.</p>
<p>Sementara itu, kognisi sejarah mengacu pada apa yang unik dan individual dalam setiap peristiwa atau kelas peristiwa. Ia menganalisis terlebih dahulu masing-masing obyek kajiannya dengan bantuan peralatan mental yang disediakan oleh semua disiplin ilmu lain. Setelah mencapai tugas awal ini, kognisi sejarah menghadapi persoalan khususnya: [yaitu bagaimana] menjelaskan ciri-ciri yang unik dan individual dari kasus tersebut melalui pemahaman.</p>
<p>Sebagaimana disebutkan di atas, sejarah dikatakan tidak pernah menjadi ilmiah karena pengertian historis tergantung pada penilaian subyektif sejarawan. Pemahaman, dikatakan, hanyalah istilah eufimistis untuk sesuatu yang arbitrer. Tulisan sejarawan selalu berpihak dan bersifat satu sisi. Tulisannya tidak melaporkan fakta, melainkan mendistorsinya.</p>
<p>Bahwa kita memiliki buku-buku sejarah yang ditulis dari berbagai sudut pandang, tentu saja ini adalah fakta. Ada sejarah Reformasi yang ditulis dari sudut pandang Katolik dan ada pula yang Protestan. Ada sejarah tentang kaum proletar dan ada juga sejarah a la borjuis; ada sejarawan beraliran Tory dan ada juga yang berhaluan Whig. Setiap bangsa, partai dan kelompok linguistik memilki sejarawannya sendiri dan ide-idenya sendiri tentang sejarah.</p>
<p>Tetapi masalah perbedaan interpretasi yang ditawarkan ini tidak boleh dikacaukan dengan upaya pendistorsian fakta-fakta secara sengaja oleh juru propaganda dan apologis yang berlagak sebagai sejarawan. Fakta-fakta yang dapat dibangun secara meyakinkan berdasarkan sumber materi yang ada harus diterima sebagai pekerjaan awal sejarawan. Hal ini belum merupakan lahan bagi pemahaman, melainkan tugas yang harus dicapai dengan memanfaatkan alat-alat yang disediakan oleh ilmu-ilmu pengetahuan non-historis. Segala fenomena dikumpulkan melalui pengamatan yang kritis dan hati-hati terhadap catatan-catatan yang ada. Sejauh teori-teori yang dipakai oleh sains non-historis yang dijadikan dasar bagi pemeriksaan kritis oleh sejarawan terhadap sumber-sumber tersebut cukup andal dan pasti, tidak akan muncul ketidaksepahaman yang arbitrer mengenai penerimaan fenomena secara demikian. Apa yang dinyatakan oleh sejarawan dapat sesuai atau bertentangan dengan fakta, dapat atau tidak dapat dibuktikan melalui dokumen-dokumen yang tersedia, atau bersifat samar apabila sumber-sumbernya tidak memberi cukup informasi. Pakar-pakar sejarah [yang terlibat] dapat saling berbeda pendapat, tapi hanya melalui interpretasi yang masuk akal terhadap bukti-bukti yang ada. Pembahasan mereka tidak mengijinkan pernyataan-pernyataan yang arbitrer.</p>
<p>Kendati demikian, para sejarawan amat sering berbeda pendapat dalam kaitannya dengan ajaran-ajaran-ajaran sains non-historis. Maka, tentu saja, ketidaksepakatan seputar penyelidikan yang kritis terhadap catatan-catatan serta kesimpulan-kesimpulan ditarik dari sana juga dapat terjadi. Konflik-konflik yang tak terjembatani pun bermunculan&#8211;bukan oleh sebab kearbitreran fenomena historis yang konkret, melainkan oleh sebab tidak bertemunya pandangan mereka saat mengacu kepada sains non-sejarah.</p>
<p>Seorang pakar sejarah Cina kuno bisa saja mencatat bahwa dosa sang kaisar telah menyebabkan petaka kekeringan dan hujan pun kembali turun setelah sang penguasa bertobat. Oleh sejarawan modern, laporan semacam itu tentu akan ditolak. Doktrin meteorologis yang mendasari pandangannya bertentangan dengan dasar-dasar ilmu-ilmu pengetahuan alam masa kini yang tidak terbantahkan. Namun kesepakatan dalam cara pandang tersebut tidak tercapai dalam sejumlah besar permasalahan teologis, biologis dan ekonomis. Oleh karena itulah para sejarawan bersilang pendapat.</p>
<p>Pendukung doktrin rasis Nordic-Aria akan meremehkan dan menyangkal laporan tentang pencapaian intelektual dan moral dari bangsa-bangsa lain yang &#8220;inferior&#8221;. Ia akan memperlakukan laporan-laporan semacam itu sebagaimana halnya sejarawan modern akan menampik laporan sejarawan Cina kuno di atas. Kesepakatan mengenai fenomena sejarah Kristen mungkin tidak akan dicapai di antara mereka yang meyakiki gospel sebagai Kitab suci dengan mereka yang menganggapnya hanya dokumen ciptaan manusia. Sejarawan Katolik dan sejarawan Protestan dapat bersilang pendapat tentang pertanyaan-pertanyaan seputar suatu fakta, sebab masing-masing berangkat dari gagasan teologis yang berlainan. Pandangan seorang Mercantilis atau Neo-Mercantilis tentunya berbeda dari pandangan seorang ekonom. Tulisan tentang sejarah moneter Jerman di tahun-tahun 1914 hingga 1923 dikondisikan oleh doktrin moneter yang dianut masing-masing penulisnya. Fakta tentang Revolusi Perancis disajikan dengan cara yang berbeda-beda oleh mereka yang percaya pada hak suci dari <em>anointed king </em>dan oleh mereka yang berpandangan sebaliknya.</p>
<p>Para sejarawan tidak bersepakat dalam isu-isu tersebut dan bukan dalam kapasitas mereka sebagai sejarawan, melainkan dalam aplikasi sains non-historis yang mereka lakukan terhadap subyek kajian sejarah mereka. Mereka tidak percaya sebagaimana para dokter yang agnostik juga menyangkal mukjizat Loureds dengan para anggota komite medis pengumpul bukti mukjizat tersebut. Hanya mereka yang percaya bahwa fakta menuliskan sendiri ceritanya ke dalam tabula rasa benak manusia yang akan menyalahkan sejarawan atas perbedaan pendapat semacam itu. Mereka tidak menyadari bahwa sejarah tidak pernah dapat dikaji tanpa adanya sejumlah presuposisi, dan bahwa penolakan terhadap presuposisi tersebut, yakni seluruh kandungan cabang-cabang ilmu pengetahuan non-historis, pasti menentukan pembentukan fakta-fakta historis.</p>
<p>Presuposisi ini juga menentukan pemilihan dan pemilahan fakta&#8211;antara mana yang akan diangkat dan yang mana yang harus dibuang karena dianggap tidak relevan. Dalam mencari penyebab mengapa seekor sapi tidak menghasilkan susu, misalnya, seorang dokter hewan modern mungkin akan sama sekali mengesampingkan semua masukan mengenai mata setan tukang sihir. Cara pandangnya mungkin akan berbeda dengan yang apa diyakini tiga ratus tahun lalu. Dengan cara yang sama sejarawan akan memilih dari sekian peristiwa yang tak terhitung banyaknya, yang melatari fakta yang tengah digarapnya, yang diduga telah berkontribusi terhadap terjadinya atau tertundanya fakta tersebut-dan mengabaikan apa-apa yang dalam menurut pemahamannya terhadap disiplin di luar sejarah mungkin tidak berkontribusi terhadap fakta tersebut.</p>
<p>Perubahan dalam ajaran-aharan pengetahuan non-sejarah, sebagai akibatnya, pasti terlibat dalam penulisan ulang sejarah. Setiap generasi harus memperlakukan persoalan historis yang sama sebagaimana persoalan baru, sebab persoalan tersebut muncul dalam dalam cahaya yang berbeda. Pandangan teologis di masa silam mengarahkan perlakuan terhadap sejarah berbeda daripada perlakuan [modern] melalui teorema-teorema ilmu alam modern. Disiplin ekonomi subyektif menghasilkan karya-karya historis yang amat berbeda dari karya-karya yang dihasilkan doktrin merkantilis. Sejauh divergensi dalam buku-buku sejarah berasal dari ketidaksepahaman-ketidaksepahaman yang semacam ini, mereka bukanlah hasil dari kekaburan atau kegamangan kajian historis. Sebaliknya, divergensi ini merupakan hasil atau akibat dari ketidakseragaman di dalam ranah disiplin-disiplin lain yang secara populer disebut sebagai ilmu-ilmu pasti atau eksak.</p>
<p>Untuk menghindari kemungkinan kesalahpahaman, ada baiknya ditekankan di sini beberapa butir tambahan. Segala divergensi yang disebutkan di atas tidak boleh disamakan:</p>
<p>1. Dengan pendistorsian fakta yang dilakukan secara sengaja;</p>
<p>2. Dengan upaya untuk menjustifikasikan atau mengecam tindakan-tindakan dari sudut pandang hukum atau moral;</p>
<p>3. Dengan pencantuman insidentil komentar-komentar yang berupa ekspresi penilaian dalam [proses] representasi obyektif secara ketat terhadap keadaan (<em>the state of affairs)</em>. Sebuah risalah tentang bakteriologi tidak kehilangan obyektivitasnya jika pengarangnya, yang sejalan dengan sudut pandang manusia, menganggap preservasi kehidupan manusia sebagai tujuan utama dan, dalam hal mengaplikasikan standar ini, menandai metode-metode efektif apa saja yang dianggap baik untuk melawan kuman dan sebaliknya, yang mana yang dianggap buruk dan tidak membawa hasil. Jika buku semacam itu ditulis oleh seekor kuman, maka ia akan membalik penilaian-penilaian tadi, tetapi kandungan materi bukunya tidak akan berbeda dari yang titulis oleh seorang seorang bakteriologis. Dengan cara yang sama, sebuah versi sejarah Eropa tentang invasi bangsa Mongol di abad ketiga belas mungkin akan berisi tentang peristiwa-peristiwa yang &#8220;menguntungkan&#8221; dan &#8220;tidak menguntungkan&#8221; karena sejarawannya mengambil sudut pandang sebagai pembela kebudayaan Eropa (Barat). Tetapi menyetujui standar nilai suatu partai tidak harus mengganggu kandungan isi kajiannya. Hal ini dapat saja-dari sudut pandang pengetahuan kontemporer-bersifat obyektif secara absolut. Seorang sejarawan Mongolia dapat menyetujuinya secara penuh, kecuali bagian-bagian yang berisi komentar-komentar yang kasual tersebut.</p>
<p>4. Dengan representasi tindakan salah satu partai saat berlangsungnya antagonisme diplomatik atau militer. Bentrokan di antara kelompok-kelompok yang bertikai dapat diatasi dengan menggunakan sudut pandang gagasan, motivasi dan tujuan yang memicu masing-masing pihak. Untuk memahami secara utuh apa yang terjadi, segala hal yang telah dilakukan oleh kedua belah pihak perlu menjadi bahan pertimbangan. Fakta yang terjadi merupakan hasil interaksi kedua pihak tersebut. Tetapi untuk memahami tindakan kedua pihak tersebut, sejarawan harus mempelajari hal-hal sebagaimana mereka muncul bagi manusia yang bertindak di saat genting tersebut, bukan cuma seperti kita yang memandang remeh hal tersebut dari sudut pandang pengetahuan kita saat ini. Sejarah tentang kebijakan yang ditempuh [presiden] Lincoln dalam beberapa pekan dan bulan sebelum pecahnya Perang Saudara tentu saja tidak utuh. Tetapi tidak ada kajian sejarah yang [benar-benar] lengkap. Terlepas apakah sejarawan bersimpati dengan kelompok <em>Unionists</em> atau dengan <em>Confederates</em> atau apakah ia benar-benar netral, ia dapat memperlakukan secara netral kebijakan Lincoln di musim semi tahun 1861. Investigasi semacam itu merupakan awal yang tak terpisahkan untuk menjawab secara luas pertanyaan tentang bagaimana pecahnya Perang Saudara.</p>
<p>Akhirnya, setelah segala persoalan ini teratasi, kita sekarang dapat menjawab pertanyaan yang murni: Apakah terdapat elemen subyektif dalam pemahaman historis, dan jika ada, bagaimana hal tersebut menentukan hasil kajian historis?</p>
<p>Sejauh tugas dari <em>pemahaman </em>adalah membangun fakta-fakta bahwa manusia dimotivasi oleh penjatuhan nilai tertentu dan bertujuan menggunakan cara tertentu, maka tidak akan muncul perbedaan pendapat<em> </em>apapun di antara sesama sejarawan sejati-atau orang-orang yang bermaksud memperoleh kognisi terhadap peristiwa di masa lampau. Mungkin akan hadir ketidakpastian oleh sebab kurang memadainya informasi dari sumber-sumber yang tersedia. Namun, hal ini tidak ada kaitannya dengan pemahaman, sebab hal ini mengacu kepada pekerjaan awal yang harus dipenuhi oleh sang sejarawan.</p>
<p>Tetapi pemahaman/mamahami juga memiliki tuntutan atau tugas lain yang harus dipenuhi. Pemahaman harus menilai efek-efek dan intensitas efek-efek yang ditimbulkan oleh tindakan; pemahaman harus berurusan dengan relevansi setiap motif dan setiap tindakan.</p>
<p>Di sini kita dihadapkan pada satu dari perbedaan-perbedaan utama antara fisika dan kimia di satu sisi dan ilmu pengetahuan tentang manusia di sisi lain. Dalam ranah peristiwa-peristiwa kimia dan fisika terdapat (atau, setidaknya, umumnya diasumsikan demikian) relasi-relasi yang konstan antara berbagai besaran <em>(magnitudes)</em>, dan manusia mampu menemukan konstanra-konstanta tersebut dalam derajat presisi yang wajar melalui ujicoba laboratorium. Relasi konstan semacam itu tidak tersedia di bidang tindakan manusia&#8211;di luar teknologi dan terapetik fisika atau kimia. Selama beberapa waktu para ekonom merasa yakin telah berhasil menemukan relasi konstan semacam itu yang menjelaskan efek perubahan kuantitas uang terhadap harga-harga barang. Dinyatakan bahwa kenaikan atau penurunan kuantitas uang yang beredar akan menghasilkan perubahan-perubahan proporsional dari harga-harga barang. Ilmu ekonomi modern telah memaparkan secara gamblang dan tak terbantahkan kekeliruan dari pernyataan tersebut.<a name="_ftnref1"></a> Para ekonom yang ingin menggantikan apa yang mereka namakan sebagai &#8220;ekonomi kualitatif&#8221; dengan &#8220;ekonomi kuantitatif&#8221; telah keliru sama sekali. Di bidang ekonomi, tidak terdapat relasi yang konstan, dan sebagai akibatnya pengukuran terhadapnya adalah hal yang mustahil. Jika seorang juru statistik menentukan bahwa peningkatan sebesar 10 persen dalam stok kentang di Atlantis pada suatu waktu tertentu diikuti dengan kejatuhan harganya sebesar 8 persen, ia [tetap] tidak dapat membangun apapun tentang apa yang terjadi atau apa yang mungkin terjadi dengan perubahan stok kentang di luar negeri atau di waktu-waktu lain. Yang telah ia lakukan bukanlah &#8220;mengukur&#8221; &#8220;elastisitas permintaan&#8221; terhadap kentang. Yang telah ia bangun adalah sebuah fakta historis yang unik dan individual. Seorang yang cerdas tidak akan meragukan bahwa perilaku manusia dalam hubungannya dengan kentang dan komoditas-komoditas lain, sangat bervariasi. Individu-individu yang berbeda akan menilai hal yang sama secara berbeda, dan penilaian seseorang akan berbeda dengan berubahnya keadaan.<a name="_ftnref2"></a></p>
<p>Di luar bidang sejarah ekonomi tidak seorangpun pernah mencoba mempertahankan bahwa relasi-relasi di dalam sejarah manusia bersifat konstan. Adalah kenyataan bahwa dalam konflik-konflik bersenjata di masa lalu antara bangsa-bangsa Eropa dan bangsa-bangsa yang tertinggal dari suku bangsa lain, seorang tentara Eropa biasanya setara dengan beberapa pejuang asli. Tetapi tidak seorangpun bersikap cukup bodoh untuk &#8220;mengukur&#8221; seberapa besar superioritas orang-orang Eropa.</p>
<p>Ketidakpraktisan pengukuran semacam ini bukan disebabkan oleh tidak adanya metode teknis untuk melakukan pengukuran demikian, melainkan karena tidak adanya relasi-relasi yang konstan. Seandainya hal tersebut disebabkan oleh kekurangan teknis, setidaknya dalam beberapa kasus, estimasi [masih] dimungkinkan. Namun, fakta utamanya adalah tidak tersedianya relasi-relasi yang konstan. Ekonomi tidaklah, sebagaimana terus diulang-ulang oleh kaum positivis yang ignoran, menjadi tertinggal oleh sebab sifatnya yang tidak &#8220;kuantitatif&#8221;. Ia memang tidak kuantitatif dan tidak melakukan pengukuran karena tidak adanya konstanta. Angka-angka statistik yang mengacu kepada peristiwa-peristiwa ekonomi adalah data historis. Data ini mengatakan kepada kita apa yang terjadi dalam kasus historis yang tidak berulang. Peristiwa-peristiwa fisikal dapat ditafsirkan berdasarkan pengetahuan kita tentang relasi-relasi konstan yang dibangun oleh pengalaman. Peristiwa-peristiwa historis tidak terbuka bagi interpretasi semacam itu.</p>
<p>Sejarawan dapat saja mengenumerasi semua faktor yang bekerja dan menghasilkan efek tertentu dan semua faktor yang bersifat sebaliknya, dan yang mungkin telah menunda atau memitigasi hasil finalnya. Tetapi ia tidak dapat mengkoordinasikan, kecuali melalui pemahaman, berbagai faktor kausatif di dalam cara yang kuantitatif terhadap efek-efek yang dihasilkan. Ia tidak dapat, selain melalui pemahaman, menetapkan kepada masing-masing faktor n perannya dalam menghasilakn efek <em>P</em>. Pemahaman dalam ranah sejarah bolehlah dianggap bersifat setara dengan analisis kuantitatif dan pengukuran.</p>
<p>Teknologi dapat mengatakan kepada kita berapa tebal lempengan baja agar tidak tertembus peluru yang ditembakkan dari jarak 300 yard dengan senapan Winchester. Dengan ini kita dapat menjawab apakah mengapa seseorang yang berlindung di balik lempengan baja dengan ketebalan tertentu terlukai atau tidak jika ditembak dengan senapan tersebut. Sejarah tidak mampu menerangkan dengan tingkat pemastian yang sama mengapa harga susu naik sebesar 10 persen atau mengapa Presiden Roosevelt mengalahkan Gubernur Dewey dalam pemilu tahun 1944 atau mengapa Prancis dari tahun 1870 hingga 1940 berada di bawah konstitusi republikan. Persoalan-persoalan semacam itu tidak mengijinkan perlakuan lain selain melalui pemahaman.</p>
<p>Bagi setiap faktor historis, pemahaman mencoba menetapkan relevansinya. Ketika pemahaman tengah diuapayakan, tidak ada ruang untuk kearbitreran dan perubahan pendirian. Kebebasan sejarawan dibatasi oleh upayanya dalam memberikan penjelasan yang memuaskan terhadap realitas. Bintang penyuluhnya haruslah pencarian terhadap kebenaran. Tetapi hal ini mengharuskan penyusupan elemen subyektifitas ke dalam pemahaman. Pemahaman sejarawan selalu diwarnai tanda-tanda personalitasnya. Hal ini mencerminkan benak sang pengarang [sejarawan ybs].</p>
<p>Ilmu -ilmu yang a priori&#8211;logika, matematik dan prasiologi-bertujuan meraih pengetahuan yang sahih secara tanpa syarat bagi semua makhluk yang diberkahi struktur logis benak manusia. Ilmu-ilmu alam bertujuan pada sebuah kognisi yang sahih bagi seluruh makhluk yang dibekali tidak saja dengan akal manusia tetapi juga dengan indra manusia. Keseragaman logika dan sensasi manusia memberikan cabang-cabang pengetahuan ini dengan pengetahuan dengan karakternya berupa kesahihan yang universal. Hanya belakangan ini saja cabang-cabang ilmu ini mulai melihat batas-batas kemampuan, dan mulai meninggalkan pretensi yang berkelimpahan, sebagaimana yang diyakini para fisikawan tempo doeleo, saat menemukan &#8220;prinsip ketidakpastian&#8221;. Kini mereka menyadari bahwa ada hal-hal yang tidak dapat diamati, dan ketidakmungkinan-untuk-diamati ini adalah persoalan prinsip epistemologis.<a name="_ftnref3"></a></p>
<p>Pemahaman historis tidak pernah menghasilkan sesuatu yang harus diterima semua orang. Dua sejarawan yang sependapat penuh sehubungan dengan ajaran-ajaran ilmu-ilmu pengetahuan non-historis dan dengan fakta-fakta yang mapan, sejauh fakta-fakta tersebut dimapankan tanpa mengacu kepada pemahaman terhadap relevansi, mungkin akan berbeda pendapat dalam memahami relevansi fakta-fakta tersebut. Mereka dapat sepakat sepenuhnya bahwa faktor-faktor <em>a</em>, <em>b</em>, dan <em>c </em>bersama-sama berefek <em>P</em>; akan tetapi, mereka dapat berbeda pendapat secara lebar dalam hal relevansi kontribusi faktor <em>a</em>, <em>b</em>, dan <em>c </em>terhadap hasil akhirnya. Sejauh pemahaman diarahkan untuk menetapkan relevansi setiap faktor tersebut, maka hal ini terbuka bagi pengaruh penilaian subyektif. Tentu saja, penilaian ini bukan penilaian terhadap nilai; penilaian ini tidak mengekspresikan preferensi masing-masing sejarawan. Ini adalah penilaian terhadap relevansi.<a name="_ftnref4"></a></p>
<p>Para sejarawan dapat berbeda pandangan karena berbagai alasan. Mereka dapat memiliki pandangan yang berbeda tentang ajaran ilmu-ilmu pengetahuan non-sejarah.; mereka mungkin mendasarkan pemikiran mereka kurang lebih pada pengenalan mereka terhadap catatan-catatan.; mereka dapat berbeda pemahaman tentang motif dan tujuan manusia-manusia yang bertindak dan cara-cara yang diterapkan. Segala perbedaan ini terbuka untuk diatasi oleh pemikiran yang &#8220;obyektif&#8221;; adalah memungkinkan untuk mencapai kesepakatan yang universal mengenai hal tersebut. Tetapi sejauh para sejarawan bersilang-pendapat dalam penilaian masing-masing terhadap relevansi tersebut, mustahil menemukan solusi yang dapat diterima oleh semua manusia yang waras.</p>
<p>Metode intelektual dari ilmu-ilmu pengetahuan tidak berbeda macamnya dari yang diaplikasikan oleh orang kebanyakan dalam penalaran sehari-hari. Ilmuwan menggunakan piranti yang sama dengan yang dipakai orang awam; ia hanya menggunakannya secara lebih terampil dan lebih hati-hati. Pemahaman bukanlah hak khusus sejarawan. Pemahaman adalah urusan semua orang. Dalam hal mengamati kondisi-kondisi lingkungan hidupnya, setiap orang adalah sejarawan. Setiap orang menggunakan pemahaman dalam berurusan dengan ketidakpastian peristiwa masa depan, yang untuk mana ia harus menyesuaikan tindakan-tindakannya. Penalaran khas seorang spekulator adalah sebuah pemahaman terhadap relevansi dari berbagai faktor yang menentukan peristiwa di masa depan. Dan-mari kita tekankan hal ini di awal penilikan kita-tindakan senantiasa mengarah ke masa depan dan dengan demikian juga terhadap kondisi-kondisi yang tidak-pasti dan dengan demikian selalu merupakan spekulasi. Manusia yang bertindak menatap masa depan dengan matanya, layaknya seorang sejarawan menatap ke masa depan.</p>
<p><em>Sejarah Alam dan Sejarah Manusia </em></p>
<p>Kosmogoni, geologi, dan sejarah perubahan biologis adalah disiplin-disiplin historis oleh karena mereka berurusan dengan peristiwa-peristiwa unik di masa lalu. Namun demikian, mereka beroperasi secara ekslusif dengan metode epistemologis ilmu alam dan tidak memerlukan pemahaman. Mereka kadang-kadang harus mengandalkan hanya kepada estimasi-estimasi besaran. Tetapi taksiran-taksiran tersebut bukan penilaian terhadap relevansi. Mereka lebih merupakan metode yang kurang sempurna untuk menentukan relasi-relasi kuantitatif daripada cara pengukuran yang &#8220;eksak&#8221;. Mereka tidak boleh dikacaukan dengan duduk perkara (<em>the state of affairs) </em>di bidang tindakan manusia yang dikarakterisasikan oleh absennya relasi-relasi yang konstan.</p>
<p>Jika kita berbicara tentang sejarah, yang muncul di benak kita hanyalah sejarah tindakan manusia, dengan perangkat mental khususnya berupa pemahaman.</p>
<p>Pernyataan bahwa ilmu pengetahuan alamiah modern berhutang atas segala pencapaiannya kepada metode eksperimental kadang-kadang diserang dengan mengacu kepada astronomi. Di jaman sekarang, astronomi modern secara esensial adalah aplikasi dari hukum-hukum fisika, yang ditemukan secara eksperimentil di muka bumi, kepada benda-benda angkasa. Di masa lalu, astronomi umumnya didasari pada asumsi bahwa pergerakan benda-benda langit tidak mengalami perubahan. Kopernikus dan Kepler semata-mata mencoba menerka seperti apa bentuk kurva gerakan bumi saat mengitari matahari. Begitu Kopernikus menganggap lingkaran sebagai bentuk kurva &#8220;yang paling sempurna&#8221;, ia memilihnya untuk menjelaskan teorinya. Kemudian, dengan cara terkaan serupa, Kepler mengubah lingkaran menjadi bentuk elips. Baru sejak penemuan-penemuan oleh Newton-lah astronomi menjadi ilmu pengetahuan alam dalam makna yang ketat.</p>
<p><strong>9. Tentang Tipe-Tipe Ideal</strong></p>
<p>Sejarah berurusan dengan peristiwa-peristiwa unik yang tidak berulang, dengan flux <em>affairs </em>manusia yang tidak dapat dibalik. Sebuah peristiwa historis tidak dapat dideskripsikan tanpa mengacu kepada orang-orang yang terlibat di dalamnya serta kepada tempat dan tanggal kejadiannya. Jika sebuah kejadian dinarasikan tanpa referensi seperti itu, maka hal tersebut bukan peristiwa historis melainkan sebuah fakta belaka dari ilmu pengetahuan alam. Laporan yang menyatakan bahwa Profesor X pada tanggal 20 Februari 1945 melakukan sebuah eksperimen tertentu di laboratoriumnya adalah catatan peristiwa historis. Sang fisikawan percaya bahwa ia benar dalam usahanya mengabstraksikan dari orang yang melakukan eksperimen dan tempat berlangsungnya eksperimen tersebut. Ia berurusan hanya dengan keadaan-keadaan yang, menurutnya, relevan untuk memproduksi hasil yang dicapai dan, bila diulangi, akan menghasilkan hasil yang sama pula. Ia mentransformasikan peristiwa sejarah menjadi sebuah fakta ilmu alam empiris. Ia tidak memasukkan interferensi aktif dari sang pelaku percobaan dan mencoba membayangkannya sebagai pengamat yang indefferent dan relater dari realitas yang tidak tercemari. Isu-isu epistemologi dari filsafat ini bukanlah tugas praksiologi.</p>
<p>Meskipun unik dan tidak dapat diulang, peristiwa-peristiwa historis memiliki satu ciri umum: mereka adalah tindakan manusia. Sejarah memahami peristiwa-peristiwa tersebut sebagai tindakan-tindakan manusia; ia menangkap maknanya melalui instrumentalitas kognisi praksiologis dan memahami maknanya dalam [dengan] memandang fitur-fitur individu mereka yang unik. Apa yang penting bagi sejarah senantiasa makna dari orang-orang yang terkait: makna yang mereka berikan kepada keadaan yang ingin mereka ubah, makna yang mereka bubuhkan kepada tindakan-tindakan, serta kepada efek-efek yang ditimbulkan tindakan-tindakan tersebut.</p>
<p>Aspek darimana sejarah mengatur dan memilah multiplisitas yang tak-terhingga dari berbagai peristiwa adalah makna peristiwanya. Satu-satunya prinsip yang diterapkan oleh sejarah untuk melakukan sistemisasi dari obyek-obyeknya-yaitu manusia, gagasan, institusi, entitas sosial, dan artifak-adalah afinitas makna(nya). Berdasarkan afinitas makna ini sejarah mengatur elemen-elemennya ke dalam tipe-tipe ideal.</p>
<p>Tipe-tipe ideal adalah notions spesifik yang dipakai dalam riset sejarah dan dalam merepresentasikan hasil-hasilnya. Mereka berupa konsep-konsep pemahaman. Dengan demikian mereka sama sekali berbeda dari kategori-kategori dan konsep-konsep praksiologis dan juga dari konsep-konsep dalam ilmu-ilmu pengetahuan alam. Sebuah tipe ideal bukan merupakan sebuah konsep kelas, karena deskripsinya tidak mengindikasikan tanda-tanda aygn keberadaannya secara pasti dan tidak-taksa menentukan keanggotaan kelas. Sebuah tipe ideal tidak dapat didefinisikan: ia harus dikarekterisasikan oleh sebuah enumerasi fitur-fitur tersebut yang keberadaannya secara umum menentukan apakah dalam insance yang konkret kita menghadapi (atau tidak) sebuah spesimen yang tergolong tipe ideal yang tengah dipertanyakan. Ciri khas dari tipe ideal adalah bahwa tidak semua karakteristiknya perlu hadir dalam satu contoh apapun. Apakah ketidakhadiran karakteristik tertentu mencegah pencantuman sebuah spesimen konkret ke dalam tipe ideal yang sedang diuji, hal ini tergantung pada penilaian relevansinya melalui pemahaman. Tipe ideal itu sendiri merupakan suatu hasil dari pemahaman terhadap berbagai motif, gagasan, dan tujuan dari individu-individu yang bertindak serta dari cara-cara yang mereka tempuh.</p>
<p>Sebuah tipe ideal tidak berhubungan sama sekali dengan rata-rata atau nilai tengah statistik. Kebanyakan karakteristiknya di sini tidak terbuka bagi penentuan numerik, dan untuk alasan ini saja mereka tidak dapat memasukai sebuah kalkulus rata-rata. Tetapi alasan utamanya dapat ditemukan pada hal lain. Nilai rerata statistik mendenotasikan perilaku anggota-anggota suatu kelas atau tipe, yang sudah terbentuk melalui definisi atau karakterisasi yang mengacu kepada tanda-tanda lain, dalam hubungannya dengan fitur-fitur yang tidak diacu/teracu di dalam definisi atau karakterisasinya. Keanggotaan kelas atau tipe harus diketahui terlebih dahulu oleh jurus statistik sebelum orang tersebut dapat memulai penyeledikan fitur-fitur khusus dan menggunakan hasil penelitiannya untuk menentukan rata-ratanya. Kita dapat menentukan rata-rata usia para senator AS atau dapat menhitung rata-rata perilaku sebuah kelas usia dalam populasi dalam kaitannya dengan persoalan tertentu. Tetapi secara logis mustahil membuat keanggotaan kelas atau tipe tersebut menjadi tergantung kepada hasil rata-ratanya.</p>
<p>Tidak ada persoalan historis yang dapat diperlakukan tanpa bantuan tipe-tipe ideal. Bahkan ketika sang sejarawan berurusan dengan seorang individu atau sebuah peristiwa tunggal, ia tidak dapat menghindari pengacuan kepada tipe-tipe ideal. Jika ia berbicara tentang Napoleon, ia harus mengacu kepada tipe-tipe ideal semacam seorang komander, diktator, atau pemimpin yang revolusioner; dan jika berurusan dengan Revolusi Prancis, ia harus mengacu kepada tipe-tipe ideal seperti revolusi, disintegrasi sebuah rejim yang mapan, [atau] anarki. Mungkin saja pengacuan terhadap tipe ideal dipakai hanya untuk menolak aplikasinya terhadap kasus yang sedang ditangani. Tetapi semua peristiwa historis diperikan dan ditafsirkan melalui tipe-tipe ideal. Orang awam pun, tatkala berurusan dengan peristiwa masa lalu atau masa depan, harus selalu menggunakan tipe-tipe ideal dan tanpa [harus] disadarinya selalu melakukan cara ini.</p>
<p>Apakah penggunaan tipe ideal terteu ekspedient atau kondusif ataupun sebaliknya bagi pemahaman fenomena tersebut hanya dapat ditentukan melalui pemahaman. Bukan tipe ideallyah yang menentukan modus pemahaman; modus pemahamanlah yang memerlukan konstruksi dan penggunaan tipe-tipe ideal yang sesuai.</p>
<p>Tipe-tipe ideal dibangun dnegan menggunakan gagasan serta konsep yang dikembangkan oleh semua cabang ilmu pengetahuan non-sejarah. Setiap kognisi dalam sejarah, oleh karena itu, terkondisikan oleh temuan-temuan dalam disiplin-disiplin lain, tergantung pada mereka semua, dan tidak boleh berkontradiksi dengan merek. Tetapi pengetahuan sejarah memiliki kajian lain dan metode lain selain dari yang ditawarkan ilmu-ilmu lain tersebut, dan pada gilirannya mereka tidak memandang perlu pemahaman. Dengan demikian, tipe-tipe ideal tidak boleh dikacaukan dengan konsep-konsep dari ilmu-ilmu pengetahuan non-historis. Hal ini juga sahih dalam hubungannya dengan kategori-kategori dan konsep-konsep praksiologis. Mereka, pastinya, tidak terlepaskan sebagai piranti mental bagi kajian sejarah. Namun demikian, mereka tidak mengacu kepada pemahaman terhadap peristiwa unik dan individual yang merupakan kajian sejarah. Sebuah tipe ideal dengan demikian tidak pernah menjadi atau merupakan adopsi sederhana dari konsep praksiologis.</p>
<p>Dalam banyak contoh istilah yang dipergunakan oleh praksiologi untuk menandakan kepada konsep praksiologis [dapat] menandakan sebuah tipe ideal bagi sang sejarawan. Dengan demikian sang sejarawan menggunakan <em>satu </em>kata untuk menyatakan dua hal yang berbeda. Ia menggunakan istilah semacam itu kadang-kadang untuk menandakan konotosi praksiologisnya, tetapi lebih sering untuk menandakan sebuah tipe ideal. Dalam kasus terakhir disebut sang sejarawan menyertakan kepada kata tersebut sebuah makna yang berbeda dari makna praksiologisnya: ia mentransformasikannya dengan mentransfernya ke lahan inquiry/penyelidikan yang berbeda. Kata &#8220;entrepreneur&#8221; sebagai konsep ekonomi termasuk kedalam stratum yang berbeda dari tipe ideal &#8220;entrepreneur&#8221; sebagaimana dipergunakan dalam sejarah ekonomi atau ekonomi deskriptif. (Dalam stratum ketiga terdapat pula &#8220;entrepreneur&#8221; sebagai istilah hukum.) Istilah ekonomi &#8220;enterpreneur&#8221; adalah konsep yang terdefinisikan secara persis di mana di dalam kerangka perekonomian pasar menandakan sebuah fungsi yang terintergrasi secara jelas.<a name="_ftnref5"></a> Tipe ideal historis dari &#8220;entrepreneur&#8221; tidak mencakup anggota-anggota yang sama. Tidak seorang pun yang menggunakannya yang terpikir di benaknya seorang anak penyemir sepatu, sopir taksi, pengusaha kecil-kecilan, dan petani-petani kecil. Apa yang dibangun oleh ilmu ekonomi dalam hal enterpreneus secara ketat bersifat sahih bagi semua anggota kelas tersebut tanpa mempersoalkan kondisi temporal dan geografisnya dan kepada berbagai cabang bisnis. Apa yang diartikan sejarah ekonomi bagi tipe-tipe idealnya dapat berbeda tergantung pada lingkungan-lingkungan khusus dari berbagai usia, negara, cabang-cabang bisnis, dan sejumlah besar kondisi lainnya. Sejarah tidak terlalu menganggap perlu tipe ideal umum terhadap entrepreneur. Ia lebih concerned dengan tipe-tipe semacam: entrepreneur Amerika di jaman, industri berat negara Jerman di jaman William II, manufakturing tekstil di New dalam beberapa dekade sebelum PD I, <em>haute financ </em>Protestant di Paris, pengusaha yang berdikari (<em>self-made), </em>dan sebagainya.</p>
<p>Apakah pemakaian tipe ideal tertentu direkomendasikan atau tidak, tergantung sepenuhnya pada modus dari pengertian. Adalah cukup umum untuk menggunakan dua tipe ideal: Partai-Partai Sayap-Kiri (kelompok Progresif) dan Partai-Partai Sayapo-Kanan (kelompok Fasis). Kelompok pertama mencakup demokrasi-demokrasi di Barat, beberapa diktator di Amerika Latin, sejumlah Bolshevisme Rusia; kelompok terakhir mencakup Fasisme Italia dan Nazisme Jerman. Pentipean ini merupakan hasil dari modus pemahaman tertentu. Modus lain dapat mengotraskan Demokrasi dan Kediktatoram. Dengan demikian, Bolsevisme Rusia, Fasisme Italia dan Nazisme Jerman tergolong seagai tipe ideal bagi pemerintahan yang diktator, sedangkan sistem-sistem Barat tergolong tipe pemerintahan yang demokratis.</p>
<p>Adalah sebuah kesalahan fundamental bahwa Mazhab Historis <em>Wirtschaftliche Staatswissenshaften </em>di Jerman dan Institusionalisme di Amerika telah menafsirkan ilmu ekonomi sebgai karakterisasi dari perilaku bagi sebuah tipe ideal, <em>homo oeconomicus</em>. Menurut doktrin ini ekonomi tradisional atau ortodoks tidak berurusan dengan perilaku manusia sebagaimana manusia sesungguhnya dan bagaimana ia bertindak, melainkan dengan citra fiktif dan hipotetis. Ia [ilmu ini?] menggambarkan sebuah makhluk yang secara ekslusif digerakkan oleh &#8220;motif-motif&#8221; ekonomi, mis. semata-mata oleh tujuan untuk membuat sebesar mungkin keuntungan material atau keuangan. Makhluk semacam ini, lanjut para kritikus tadi, tidak memiliki dan tidak pernah memiliki padanannya di dalam realitas; ia adalah sebuah <em>phantom </em>dari filsafat yang <em>spurious </em>dari balik sofa semata. Tidak seorangpun termotivasi secara ekslusif oleh keinginan untuk menjadi sekaya mungkin; banyak manusia yang sama sekali tidak terpengaruh oleh <em>craving</em> yang rendah ini. Maka, dalam berurusan dengan kehidupan dan sejarah, tak ada manfaatnya mengacu kepada ilusi <em>homunculus </em>semacam itu.</p>
<p>Bahkan seandainya ekonomi klasik memang bermakna demikian, <em>homo oeconomicus</em> tentunya tidak akan menjadi tipe yang ideal. Tipe yang ideal tidaklah merupakan embodiment dari sebuah sisi atau aspek dari berbagai tujuan dan hasrat manusia yang beragam. Ia selalu merupakan representasi dari fenomena yang kompleks dari realitas, baik realitas manusia, instusi, mapun ideologi.</p>
<p>Ekonom klasik berupaya menjelaskan pembentukan harga. Mereka sepenuhnya menyadari fakta bahwa harga bukanlah hasil dari aktivitas-aktivitas segolongan orang saja, melainkan akibat dari keterkaitan segenap anggota masyarakat pasar. Ini makna pernyataan mereka saat menyatakan bahwa permintaan dan persediaan menentukan pembentukan harga. Namun demikian, para ekonom klasik gagal dalam upaya mereka menyediakan teori yang memuaskan tentang nilai. Mereka termangu saat mencari solusi bagi paradoks nilai yang jelas terjadi. Mereka menjadi terbingungkan bahwa &#8220;emas&#8221; bernilai elbih tinggi dari &#8220;besi&#8221;, meskipun yang terakhir jelas lebih &#8220;bermanfaat&#8221; dari yang sebelumnya. Jadi mereka tidak dapat membangun sebuah teori nilai secara umum dan tidak dapat menelusuri fenomena pertukaran pasar dan menelusuri fenomena produksi hingga ke sumber-sumber ultimatnya, yakni perilaku konsumen. Kekurangan ini memaksa mereka untuk menanggalkan rencana ambisius mereka untuk mengembangkan sebuah teori umum tentang tindakan manusia. Mereka harus puas dengan sebuah teori yang hanya menjelaskan aktivitas para pebisnis, tanpa harus kembali ke pilihan-pilihan setiap orang sebagai determinan penentu. Mereka hanya berurusan dengan tindakan-tindakan para pebisnis yang siap membeli di pasar termurah dan menjual di tempat termahal. Konsumen terabaikan di luar lahan teori mereka. Kelak para epigon dalam ilmu ekonomi klasik menjelaskan dan menjustifikasikan kekurangan ini sebagai prosedur yang sengaja dan secara metodologis diperlukan. Ini, menurut pernyataan mereka, merupakan rancangan sengaja para ekonom untuk membatasi penyelidikan-penyelidikan mereka hanya kepada satu aspek upaya manusia-yakni aspek &#8220;ekonomis&#8221;nya. Adalah tujuan mereka untuk memakai pencitraan fiktif terhadap seseorang yang digerakkan semata-mata oleh motif-motif ekonomi semata dan mengabaikan lainnya meskipun mereka sepenuhnya menyadari fakta bahwa manusia sejati digerakkan oleh banyak motif &#8220;non-ekonomis&#8221;. Yang berurusan dengan motif-motif lain, menurut sekelompok penafsir tersebut, bukanlah ilmu ekonomi, melainkan cabang-cabang pengetahuan lain. Kelompok lain mengakui bahwa perlakuan terhadap motif-motif ‘non-ekonomi&#8221; ini serta pengaruhnya terhadap pembentukan harga adalah juga merupakan tugas ilmu ekonomi, tetapi orang-orang ini percaya bahwa hal tersebut harus diserahkan kepada generasi selanjutnya saja. Akan diperlihatkan di tahap lain dalam penyelidikan kita bahwa perbedaan antara motif &#8220;ekonomi dan motif &#8220;non-ekonomi&#8221; dari tindakan manusia tidak dapat dipertahankan.<a name="_ftnref6"></a> Pada titik ini yang penting untuk disadari adalah bahwa doktrin tentang sisi &#8220;ekonomis&#8221; dari tindakan manusia benar-benar merupakan misrepresentasi ajaran-ajaran dari para ekonom klasik. Mereka tidak pernah bertujuan melakukan hal-hal yang dituduhkan doktrin ini kepada mereka. Mereka ingin memahami pembentukan sejati harga-haraga-bukan harga-harga fiktif yang tercipta ketika manusua bertindak di bawah pengaruh kondisi-kondisi hipotetis yang berbeda dari yang benar-benar mempengaruhi mereka. Harga-harga yang mereka upayakan untuk jelaskan dan yang memang mereka jelaskan-meskipun tanpa menelusuri kembali hingga ke pilihan-pilihan yang dibuat para konsumen-adalah harga-harga riil pasar. Penawaran dan permintaan yang mereka bahas adalah faktor-faktor riil yang ditentukan oleh semua motif yang memicu manusia dalam menjual dan membeli. Apa yang keliru dengan teori mereka adalah bahwa mereka tidak menelusuri permintaan hingga ke polihan-pilihan konsumen; teori permintaan mereka menjadi kurang memuaskan. Tetapi bukanlah gagasan mereka bahwa permintaan sebagaimana mereka pergunakan dalam konsep ini di dalam disertasi-disertasi mereka secara ekslusif ditentukan oleh motif-motif &#8220;ekonomis&#8221; yang dapat dibedakan dari yang &#8220;non-ekonomis&#8221;. Dengan membatasi teoritisasi mereka pada tindakan-tindakan para pebisnis, mereka tidak berurusan dengan motif-motif konsumen yang ultimat. Namun demikian, teori mereka tentang harga dimaksudkan sebagai penjelasan terhadap harga-harga riil terlepas dari motif-motif dan gagasan-gagasan yang memicu konsumen.</p>
<p>Ilmu ekonomi subyektif modern memulai [hal ini] dengan menjawab paradoks nilai yang jelas. Ilmu ini tidak membatasi teorinya pada tindakan para pebisnis semata dan tidak pula berurusan dengan homo oeconomicus yang fiktif. Ia mempertimbangkan semua kategori yang tidak terkecualikan dalam tindakan semua orang. Teorema-teoremanya seputar harga komoditas, tingkat upah, dan suku bunga mengacu kepada semua fenomena tanpa mempersoalkan motif-motif yang menyebabkan orang membeli atau menjual. Sudah saatnya kita membuang sepenuhnya segala referensi terhadap upaya abortif untuk menjustifikasikan kekurangan para ekonom masa lalu melalui appeal terhadap hantu di balik istilah homo oeconomicus.</p>
<p><strong>10. Prosedur Dalam Ilmu Ekonomi</strong></p>
<p>Cakupan praksiologi adalah untuk mengeksplikasikan kategori tindakan manusia. Yang dibutuhkan untuk mendeduksikan teorema-teorema praksiologis adalah pengetahuan kita mengenai esensi tindakan manusia. Pengetahuan ini adalah seputar diri kita sendiri karena kita adalah manusia. Tidak seorang keturunan manusia [normal] pun yang ter-reduksi oleh kondisi-kondisi patologis ke titik keberadaan vegetatif, yang tidak memiliki pengetahuan ini. Tidak diperlukan pengalaman khusus untuk memahami teorema-teorema ini, dan tidak sepotong pengalaman pun, betapapun kayanya, yang dapat menyibak teorema-teorema tersebut kepada makhluk lain yang tidak mengenal secara a priori apakah tindakan manusia itu. Satu-satunya cara kepada kognisi terhadap teorema-teorema ini adalah analisis logis terhadap pengetahuan kita yang melekat terhadap kategori tindakan. Kita harus memikirkan diri kita sendiri dan merefleksikan struktur tindakan manusia. Sebagaimana logika dan matematika, pengetahuan praksiologis berada di dalam diri kita; ia tidak berasal dari luar.</p>
<p>Semua konsep dan teorema praksiologi terimplikasikan di dalam kategori tindakan manusia. Tugas pertama adalah mengekstraksikan dan mendeduksikan teorema-teorema tersebut, memperinci implikasi-implikasi mereka dan mendefinisikan kondisi-kondisi universal bagi tindakan. Setelah menunjukkan kondisi-kondisi apa yang diperlukan bagi setiap tindakan, kita harus melangkah lebih lanjut dan mendefinisikan-tenunya, dalam pengertian kategoris dan formal-kondisi-kondisi yang kurang umum yang diperlukan bagi modus-modus khusus dalam bertindak. Adalah mungkin melakukan tugas kedua ini dengan men-delineasi semua kondisi-kondisi yang dapat dipikirkan dan mendeduksi darinya emua inferesi yang dapat diterima secara logis. Sistem yang menyeluruh seperti itu akan memberikan kita sebuah teori yang mengacu tidak saja bagi tindakan manusia sebagaimana adanya di bawah kondisi-kondisi tertentu di dunia nyata di mana manusia hidup dan bertindak; ia tak kurang juga akan berurusan dengan tindakan hipotetis sebagaimana yang akan terjadi di dalam kondisi-kondisi dalam dunia imajiner yang tidak mungkin terjadi.</p>
<p>Namun, tujuan sains adalah memahami realitas. Ia bukan semacam latihan mental atau wujud kesenangan terhadap hal-hal yang logis. Oleh karenanya praksiologi membatasi penyelidikannya kepada kajian tindakan di dalam kondisi-kondisi dan presuposisi-presuposisi yang diketahui dalam realitas. Ia mengkaji tindakan di bawah kondisi yang tidak nyata atau tidak dapat terjadi hanya dari dua titik pandang. Ia berurusan dengan keadaan yang, meskipun tidak nyata di masa kini maupun lampau, dapat menjadi nyata di masa depan. Dan ia meneliti kondisi-kondisi yang tidak riil dan tidak dapat terealisasikan jika penyelidikan tersebut dibutuhkan demi memuaskan emahaman terhadap apa yang terjadi di bawah kondisi-kondisi yang hadir di dalam realitas.</p>
<p>Namun demikian, pengacuan terhadap pengalaman tidak mengurangi karakter aprioristik dari praksiologi dan ekonomi. Pengalaman semata-mata mengarahkan rasa keingintahuan kita terhadap persoalan-persoalan tertentu dan men-divert nya dari persoalan-persoalan lain. Ia memberi tahu kita apa yang harus dijelajahi, tetapi tidak memberi tahu bagaimana kita dapat melanjutkan pencarian kita terhadap pengetahuan. Tambahan pula, bukanlah pengalaman melainkan pemikiran semata yang mengajarkan kita bahwa, dan dalam saat mana, perlu menyelidiki kondisi-kondisi hipotetis untuk memahami apa yang terjadi di dunia nyata.</p>
<p>[Sebagai contoh] Disutilitas tenaga kerja bukanlah merupakan karakter kategoris dan aprioristik. Kita dapat tanpa menimbulkan kontradiksi memikirkan dunia di mana tenaga kerja tidak menyebabkan kegalauan, dan kita dapat menggambarkan kondisi yang berlaku di dunia yang seperti itu.<a name="_ftnref7"></a> Namun, dunia nyata terkondisikan oleh disutilitas tenaga kerja. Hanya teorema-teorema yang berdasar ppada asumsi bahwa tenaga kerja merupakan sumber kegalauanlah yang dapat diterapkan untuk memahami apa yang terjadi di dunia ini.</p>
<p>Pengalaman mengajarkan adanya disutilitas tenaga kerja. Tetapi pengalaman ini tidak mengajarkannya secara langsung. Tidak ada fenomenon yang memperkenalkan dirinya sebagai disutilitas tenaga kerja. Hanya ada data pengalaman yang ditafsirkan, atas dasar pengetahuan aprioristik, untuk memaknai bahwa manusia menganggap waktu luang-mis. tidak adanya pekerjaan-ketika hal-hal lainnya tidak berubah, sebagai kondisi yang lebih disukai daripada pengeluaran tenaga (kerja). Kita mengetahui bahwa orang menolak keuntungan-keuntungan yang dapat ia peroleh dengan bekerja lebih banyak-dalam arti, bahwa orang siap mengorbankannya untuk mendapatkan waktu luang. Kita dapat menarik inferensi dari fakta ini bahwa waktu luang dinilai sebagai barang dan tenaga/kerja dianggap sebagai beban. Tetapi bagi tilikan praksiologis sebelumnya, kita tidak akan dapat berada dalam posisi untuk mencapai kesimpulan ini.</p>
<p>Sebuah teori tentang pertukaran tak-langsung dan semua teori selanjutnya yang dibangun di atasnya-seperti teori sirkulasi kredit-dapat diterapkan hanya bagi penafsiran peristiwa-peristiwa di dalam dunia di mana pertukaran tak-langsung dipraktikkan. Di dunia perdagangan barter, hal tersebut hanya akan menjadi permainan intelektual. Di dunia semacam itu, seandainya disiplin ekonomi dapat muncul sama sekali, amat kecil kemungkinannya ekonom akan mencurahkan pemikirannya terhadap persoalan-persoalan seputar pertukaran tak-langsung, uang, dan lainnya. Namun, di dalam dunia kita yang sebenarnya, kajian-kajian semacam itu merupakan bagian esensial dari teori ekonomie.</p>
<p>Kenyataan bahwa praksiologi, dalam memusatkan perhatiannya pada pemahaman realitas, berkonsentrasi untuk menyelidiki persoalan-persoalan yang bermanfaat ntuk ini, tidak mengubah karakter aprioristik dari penalarannya. Tetapi ia menandai cara di mana ekonomi, yang hingga kini merupakan bagian yang terperinci dari praksiologi, menyajikan hasil-hasil dari upaya-upayanya.</p>
<p>Ekonomi tidak mengikuti prosedur logika maupun matematikan. Ia tidak menyajikan sistem terpadu rasiosinasi aprioristik yang terlepas dari acuan apapun terhadap realitas. Dalam memperkenalkan asumsi-asumsinya ke dalam penalaran ekonomi, ia memuaskan In introducing assumptions into its reasoning, it satisfies itself that perlakuan terhadap asumsi-asumsi yang terlibat dapat memberi manfaat bagi pemahaman terhadap realitas. Ekonomi di dalam risalah dan monografnya tidak secara ketat memisahkan ilmu murni dari aplikasi teorema-teoremanya bagi solusi terhadap persoalan historis dan politis yang konkret. Ia mengadopsi untuk tujuan penyajian hasil-hasilnya yang terorganisir kelak, sebuah bentuk di mana teori aprioristik dan interpretasi fenomena historis saling terjalin.</p>
<p>Jelas bahwa modus prosedur ini tercakup dalam ilmu ekonomi oleh sebab sifat dan esensi lahan kajiannya. Hal tersebut telah memberi bukti atas keterpakaiannya (<em>expediency)</em>. Namun demikian, orang tidak boleh mengabaikan fakta bahwa manipulasi prosedur tunggal dan yang secara logis agak aneh ini memerlukan kehati-hatian dan kesaksamaan, dan mereka yang tidak kritis dan superfisial lagi dan lagi tergerus tanpa arah oleh kebingungan akibat kekurang hati-hatian terhadap kedua metode epistemologis yang diimplikasikannya.</p>
<p>Metode historis dalam ilmu ekonomi atau disiplin ekonomi institusional adalah hal-hal yang tidak ada. Yang ada hanyalah disiplin ekonomi dan sejarah ekonomi. Keduanya tidak boleh dicampur-adukkan. Semua teorema ekonomi sudah semestinya sahih dalam setiap keadaan di mana segala asumsi yang dipresuposisikan tersedia. Tentu saja, mereka tidak memiliki signifikansi yang praktis di dalam situasi di mana kondisi-kondisi tersebut tidak hadir. Teorema-teorema yang mengacu kepada pertukaran tak-langsung tidak dapat diaplikasikan bagi kondisi-kondisi di mana tidak terdapat pertukaran yang tidak langsung. Namun, hal ini tidak mengurangi kesahihannya.<a name="_ftnref8"></a></p>
<p>Isu tersebut/ini telah dikacaukan dengan upaya-upaya pemerintah dan kelompok penekan untuk merendahkan ilmu ekonomi dan mencela para ekonom. Despot dan mayoritas [yang] demokratis kepayang dengan kekuasaan. Mereka tentunya enggan mengakui bahwa mereka tidak dapat mengelak dari hukum-hukum alam.Tetapi mereka menolak keberadaan hukum ekonomi. [Dalam pandangan mereka] Bukankah mereka legislator tertinggi? Bukankah mereka memiliki kekuasaan untuk menghancurkan setiap lawan mereka? Tidak seorangpun panglima perang <em>(war lord) </em>yang rentan untuk mengakui keterbatasannya selain pembatasan yang diberikan kepadanya oleh angkatan perang yang lebih unggul. Penulis-penulis tercocok hidungnya dengan senang hati menjelaskan doktrin-doktrin yang cocok. Mereka menyebut semua pra-asumsi mereka yang kacau-balau sebagai &#8220;ekonomi historis&#8221;. Dalam kenyataannya, sejarah ekonomi adalah catatan panjang berisi kebijakan-kebijakan pemerintah yang gagal, sebab kebijakan-kebijakan tersebut dirancang dengan pengabaian yang nekad terhadap kaidah-kaidah ekonomi.</p>
<p>Adalah mustahil [bagi kita untuk] memahami sejarah pemikiran ekonomi jika orang tidak memberi perhatian kepada fakta bahwa ilmu ekonomi yang demikian merupakan tantangan bagi keangkuhan para penguasa. Seorang ekonom tidak akan pernah menjadi favorit bagi para otokrat atau demagog. Bagi mereka, ia selalu dianggap pencipta keonaran, dan semakin hati kecil mereka merasa yakin bahwa keberatan yang diutarakan sang ekonom memiliki dasar yang kuat, semakin mereka membenci ekonom tersebut.</p>
<p>Dalam menghadapi semua agitasi yang heboh ini, adalah tepat untuk membangun fakta bahwa titik awal bagi penalaran praksiologis dan ekonomis, [yakni] kategori tindakan-tindakan manusia, merupakan bukti bagi segala kritik dan keberatan. Acuan terhadap pertimbangan historis ataupun empiris apapun tidak dapat menemukan kesalahan di dalam proposisi [yang menyatakan] bahwa manusia bertindak secara sengaja untuk mencapai tujuan-tujuan tertentu yang dipilihnya. Pembicaraan mengenai irasionalitas, kedalaman yang tak-terukur dari jiwa manusia, spontanitas fenomena dalam kehidupan, automatisasi, refleks, dan tropisme, tidak menafikan pernyataan bahwa manusia memanfaatkan akalnya untuk mewujudkan segala keinginan dan hasratnya. Berdasarkan pada landasan yang tak tergoyahkan dari kategori tindakan manusia, praksiologi dan ekonomi melangkah setapak demi setapak melalui penalaran diskursif. Persis dengan mendefinisikan asumsi-asumsi dan kondisi-kondisinya, praksiologi dan ekonomi membangun sebuah sistem konsep dan menarik segala inferensi yang terimplikasikan melalui rasiosinasi (ratiocination) logis yang unassailable. Mengenai hasil-hasilnya yang diperoleh dari cara demikian, cuma dua sikap dimungkinkan: kita dapat menguak kesalahan yang terjadi dalam rantai deduksi yang telah menghasilkan hasil-hasil tersebut, atau harus mengakui kebenaran dan kesahihan mereka.</p>
<p>Tiada gunanya menepis bahwa kehidupan ini dan realitas adalah sesuatu yang tidak logis. Kehidupan dan realitas tidaklah logis ataupun non-logis. Mereka semata-mata terjadi. Tetapi logika adalah satu-satunya alat yang tersedia bagi manusia untuk memahami keduanya. Tiada guna kita berkeberatan bahwa kehidupan dan sejarah tidak dapat dipahami atau dijelaskan dan bahwa akal manusia tidak akan pernah dapat menembus inti pusat keduanya. Para kritikus [semacam ini] mengkontradiksikan diri sendiri saat mengatakan tentang yang tak terpahami dan membeberkan teori-teori-tentunya, teori-teori gadungan-tentang hal-hal yang tak terukur. Banyak hal berada di luar jangkauan benak manusia. Tetapi sejauh manusia mampu mencapai pengetahuan, ia hanya dapat menggunakan satu jalan raya bagi pendekatannya, yang dikuak oleh akal.</p>
<p>Ilusi lain adalah segala upaya untuk memenekan pemahaman terhadap teorema-teorema ekonomi. Ranah pemahaman historis merupakan pemaparan ekskusif dari persoalan-persoalan yang tidak dapat sepenuhnya diterangkan oleh ilmu-ilmu pengetahuan non-historis. Pemahaman tidak pernah boleh bersifat kontradiktif terhadap teori-teori yang dikembangkan oleh ilmu-ilmu pengetahuan non-historis. Pemahaman tidak pernah dapat melakukan apa pun, di satu sisi, selain membangun fakta bahwa manusia dimotivasi oleh gagasan-gagasan tertentu, yang diarahkan pada tujuan-tujuan tertentu, dan menerapkan cara-cara tertentu untuk mencapai tujuan-tujuan tertentu, dan, di sisi lain, menetapkan berbagai faktor historis relevansinya masing-masing sejauh hal ini tidak dapat dicapai oleh ilmu-ilmu pengetahuan non-historis. Pemahaman tidak memberi hak kepada sejarawan modern untuk menandaskan bahwa eksorsisme pernah menjadi cara yang dianggap cocok untuk mengobati sapi. Sejarawan tersebut juga tidak diperkenankan untuk mempertahankan bahwa hukum ekonomi tidak sahih di jaman Romawi atau dalam kekaisaran bangsa Inca.</p>
<p>Manusia tidak luput dari kesalahan. Ia mencari kebenaran-maksudnya, demi pemahaman yang paling memadai atas realitas sejauh struktu benak dan akalnya membuatnya dapat mengakses kebenaran tersebut. Manusia tidak pernah dapat menjadi maha-mengetahui. Ia tidak akan pernah dapat merasa yakin secara absolut bahwa penyelidikannya tidak akan keliru dan bahwa apa yang ia anggap sebagai kebenaran tertentu bukan merupakan kesalahan. Paling <em>banter</em> yang dapat dilakukan manusia adalah menyerahkan semua teori lagi dan lagi untuk pengujian yang paling kritis. Artinya bagi ekonom adalah untuk menelusuri kembali semua teorema kepada basis ultimat yang tak dapat dipertanyakan lagi, kategori tindakan manusia, dan untuk menguji melalui pemeriksaan yang paling saksama semua asumsi dan inferensi yang berasal dari basis ini kepada teorema yang sedang diuji. Prosedur ini memang bukan garansi atas kesalahan, namun tidak diragukan lagi cara ini paling efektif untuk menghindari kesalahan.</p>
<p>Praksiologi-dan dengan demikian juga ekonomi-adalah sistem deduktif. Kekuatannya berasal dari titik awal penarikan deduksinya, yaitu dari kategori tindakan. Tidak satupun teorema ekonomi dapat dianggap kuat <em>(sound) </em>yang tidak terikat secara mantap pada landasan ini melalui rantai penaran yang tidak dapat dibantah kebenarannya.</p>
<p>Pernyataan yang diproklamirkan tanpa kaitan semacam itu hanya merupakan sesuatu yang arbitrer dan mengambang di udara. Mustahil berurusan dengan sebuah segmen khusus ekonomi jika seseorang tidak membungkusnya dalam sebuah sistem tindakan yang utuh. Ilmu-ilmu empiris memulai dari peristiwa-perisitwa singular dan berlanjut dari yang unik dan individual kepada yang universal. Perlakuan ilmu-ilmu tersebut tergantung pada spesialisasi. Mereka dapat berurusan dengan segmen-segmen tertentu tanpa menghiraukan bidangnya secara keseluruhan. Ekonom tidak dapat menjadi seorang spesialis. Dalam berurusan dengan setiap problem, ia harus selalu menetapkan pandangan sekilasnya ke sistem secara keseluruhan.</p>
<p>Para sejarawan seringkali &#8216;berdosa&#8217; dalam hal ini. Mereka siap menemukan teorema-teorema secara <em>ad hoc</em>. Mereka kadang-kadang gagal mengenali bahwa mengabstraksikan hubungan kausal dari kajian terhadap fenomena yang kompleks, adalah perkara mustahil. Pretensi mereka untuk menyelidiki realitas tanpa referensi apapun terhadap apa yang mereka cemooh sebagai gagasan-gagasan yang sudah digagas sebelumnya (<em>preconceived) </em>adalah hal sia-sia. Dalam kenyataannya, mereka tanpa mereka sadari menerapkan doktrin-doktrin populer jauh sebelum akhirnya tersingkap sebagai hal yang keliru atau kontradiktif.</p>
<p><strong>11. Batas-Batas Konsep Praksiologis</strong></p>
<p>Segala kategori dan konsep praksiologis tersusun demi pemahaman terhadap tindakan manusia. Semuanya ini akan menjadi kontradiktif dan tidak masuk akal jika dicoba diaplikasikan di luar kondisi-kondisi kehidupan manusia. Antropomorfisme yang naif seputar agama-agama primitif tidak dapat dicerna oleh pemikiran filosofis. Namun demikian, upaya para filsuf dalam mendefinisikan, melalui konsep-konsep praksiologis, atribut-atribut Sesuatu yang absolut, yang bebas dari segala keterbatasan dan kelemahan keberadaan manusia, juga tak kalah meragukan.</p>
<p>Para filsuf skolastik dan teologian dan sejawat mereka&#8211;Theists dan Deists&#8211;pada Jaman Akal pernah memikirkan tentang Sesuatu yang sifatnya absolut, sempurna, tidak berubah, omnipoten, dan omnisien, tetapi masih tetap sibuk melakukan perencanaan dan bertindak, dan tetap menempuh cara untuk meraih tujuannya. Akan tetapi, tindakan hanya dapat diimputasi pada makhluk yang tidak puas terhadap keadaannya, dan tindakan yang dilakukan secara berulang hanya berlaku untuk makhluk yang tidak memiliki daya untuk menghilangkan ketidaknyamanannya sekali untuk selamanya. Makhluk yang bertindak adalah makhluk yang tidak merasa puas dan oleh karenanya tidak maha-kuasa. Jika ia merasa puas, ia tidak akan bertindak, dan jika ia maha-kuasa, maka sejak lama ia akan sudah menghilangkan segala ketidakpuasannya. Bagi sesuatu yang maha kuasa tidak ada tekanan untuk memilih antara berbagai keadaan ketidaknyamanan; ia juga tidak berada dalam keharusan untuk setuju dengan hal buruk yang lebih baik <em>(the lesser evil)</em>. Omnipoten berarti kekuatan untuk memperoleh segalanya dan menikmati kepuasan penuh tanpa terkendala oleh keterbatasan. Tetapi hal demikian tidak berterima atau kompatibel dengan konsep tindakan itu sendiri. Bagi sesuatu yang mahakuasa, kategori-kategori tujuan dan cara tidak ada. Ia berada di atas pemahaman, konsep dan pengertian manusia.</p>
<p>Bagi sesuatu yang maha kuasa, setiap &#8220;cara&#8221; dapat menjadi tak terbatas kemampuannya. Ia dapat mengaplikasikan setiap &#8220;cara&#8221; untuk mencapai segala tujuan; ia dapat mencapai setiap tujuan bahkan tanpa cara apapun. Adalah di luar kemampuan manusia untuk memikirkan konsep kemahakuasaan secara konsisten hingga ke semua konsekuensi logis yang final. Paradoks-paradoks yang dihasilkan tidak dapat diatasi. Apakah yang maha kuasa itu memiliki daya untuk mencapai sesuatu yang memiliki imunitas terhadap interferensinya kemudian? Apakah ia memiliki segala daya, maka ia juga memiliki daya untuk membatasi kekuatannya sehingga ia tidak lagi menjadi maha kuasa; jika ia tidak memiliki kemampuan demikian, maka atas dasar tersebut ia tidak dapat disebut maha kuasa.</p>
<p>Apakah omnipoten dan omnisien kompatibel satu sama lainnya? Omnisien mengandaikan bahwa semua kejadian di masa depan sudah ditentukan dan tidak dapat diubah. Jika ada omnisien, maka omnipoten tak terbayangkan. Impotensi untuk mengubah sesuatu yang perjalanannya sudah ditentukan sebelumnya akan membatasi kekuatan dari sang agen.</p>
<p>Tindakan merupakan sebuah pertunjukan kemampuan dan pengendalian secara terbatas. Ia merupakan manifestasi manusia yang terkendala oleh keterbatasan kekuatan pikirannya, sifat fisiologis tubuhnya, perubahan-perubahan lingkungan, dan kelangkaan faktor-faktor eksternal yang oleh mana kesejahteraanya tergantung. Sia-sialah orang mengacu kepada ketidaksempurnaan dan kelemahan kehidupan manusia jika ia bertujuan mendeskripsikan sesuatu yang mutlak sempurna. Gagasan tentang kesempurnaan yang mutlak adalah sesuatu yang kontradiktif dalam segala hal. Keadaan sempurna yang mutlak harus dipandang sebagai sesuatu yang utuh, final dan tidak terpapar terhadap perubahan apapun. Perubahan akan hanya mencederai kesempurnaan tersebut dan mengubahnya menjadi ke adaan yang kurang sempurna; kemungkinan bahwa perubahan dapat terjadi adalah tidak kompatibel dengan konsep kesempurnaan yang mutlak. Tetapi absennya perubahan-mis. keabsolutan yang sempurna, kekakuan dan immobilitas-setara dengan absennya kehidupan. Kehidupan dan kesempurnaan merupakan dua hal yang tidak kompatibel; begitu pula halnya antara kematian dan kesempurnaan.</p>
<p>Sesuatu yang hidup tidaklah sempurna sebab ia pasti akan berubah; yang mati tidak sempurna karena ia tidak hidup.</p>
<p>Bahasa manusia yang hidup dan bertindak dapat membentuk perbandingan dalam derajat komparatif dan superlatif. Tetapi keabsolutan tidak tergolon sebagai derajat; ia adalah gagasan yang membatasi. Yang absolut tidak dapat ditentukan, tidak terpikirkan dan tak terperikan <em>(ineffable)</em>. Ia konsepsi yang berupa fantasi semata (<em>chimerical)</em>. Kebahagian yang sempurna, manusia yang sempurna, kebahagiaan abadi, adalah hal-hal yang tidak ada. Setiap upaya untuk memerikan kondisi-kondisi di tanah Cockaigne, atau kehidupan para malaikat, akan berakhir dalam paradoks. Ketika ada kondisi, yang ada adalah keterbatasan dan bukan kesempurnaan; yang ada adalah upaya untuk menaklukkan rintangan, rasa frustrasi dan ketidakpuasan.</p>
<p>Setelah para filsuf meninggalkan pencarian mereka akan hal yang absolut, para utopian meneruskannya. Mereka memintal impian tentang negara yang sempurna. Mereka tidak menyadari bahwa negara, sebagai aparatus sosial untuk melakukan kompulsi dan koersi, merupakan institusi untuk mengatasi ketidaksempurnaan manusia dan bahwa fungsi esensialnya adalah menerapkan hukuman kepada minoritas untuk melindungi mayoritas dari segala konsekuensi yang merusak dari tindakan-tindakan tertentu. Bagi manusia-manusia yang &#8220;sempurna&#8221; baik kompulsi maupun koersi tidak diperlukan. Tetapi kaum utopis tidak memerdulikan kodrat manusia dan kondisi-kondisi yang tak bisa diubah dalam kondisi manusia. Godwin menganggap bahwa manusia akan menjadi imortal dengan dihapuskannya hak milik.<a name="_ftnref9"></a> Charles Fourier berceloteh tentang samudra yang penuh dengan lemonade alih-alih air garam.<a name="_ftnref10"></a> Sistem ekonomi Marx dengan gegabah mengabaikan fakta tentang kelangkaan barang-barang faktor produksi. Trotsky mencoba meyakinkan bahwa di dalam surga kaum proletar &#8220;akan muncul tipe manusia yang secara rata-rata akan setinggi seorang Aristoteles, Goethe, atau Marx. Dan di punggung bukit-bukit ini, puncak-puncak baru akan bermunculan.&#8221;<a name="_ftnref11"></a></p>
<p>Dewasa ini, kimera [ilusi--penerj.] yang paling populer adalah stabilisasi dan pengamanan. Kelak kita akan meneliti istilah-istilah ini. [ ]</p>
<p><a name="_ftn1"></a>Lihat hal. 412-414.</p>
<p><a name="_ftn2"></a>Bandingkan dengan di bawah, hal. 351.</p>
<p><a name="_ftn3"></a>Bandingkan dengan A. Eddington, <em>The Philosophy of Physical Science </em>(New York, 1939), hal. 28-48.</p>
<p><a name="_ftn4"></a>Mengingat ini bukan tulisan disertasi tentang epistemologi umum, melainkan landasan yang tidak terpisahkan bagi sebuah risalah ekonomi, maka tidak ada gunanya menekankan analogi-analogi antara pemahaman terhadap relevansi historis dengan tugas-tugas yang akan ditempuh oleh seorang dokter dalam melakukan diagnosis. Epistemologi biologi berada di luar cakupan tilikan kita.</p>
<p><a name="_ftn5"></a>Lihat hal. 251-255.</p>
<p><a name="_ftn6"></a>Lihat hal. 232-234 dan 239-244.</p>
<p><a name="_ftn7"></a>Lihat hal. 131-133.</p>
<p><a name="_ftn8"></a>Cf. F.H. Knight, <em>The Ethics of Competition and Other Essays </em>(New York, 1935), hal. 139.</p>
<p><a name="_ftn9"></a>William Godwin, <em>An Enquiry Concerning Political Justice and Its Influence on General Virtue and Happiness </em>(Dublin, 1793), II, 393-403.</p>
<p><a name="_ftn10"></a>Charles Fourier, <em>Théorie des quatre mouvements </em>(Oeuvres complètes, ed. ke-3 Paris, 1846), I, 43.</p>
<p><a name="_ftn11"></a>Leon Trotsky, <em>Literature and Revolution</em>, terj. R. Strunsky (London, 1925), hal. 256.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://akaldankehendak.com/?feed=rss2&amp;p=52</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Persoalan-Persoalan Epistemologis dalam Ilmu-Ilmu Pengetahuan yang Mengkaji Tindakan Manusia</title>
		<link>http://akaldankehendak.com/?p=47</link>
		<comments>http://akaldankehendak.com/?p=47#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 03 Oct 2007 17:47:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Epistemologi]]></category>
		<category><![CDATA[Praksiologi]]></category>
		<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>
		<category><![CDATA[a posteriori]]></category>
		<category><![CDATA[a priori]]></category>
		<category><![CDATA[aksioma]]></category>
		<category><![CDATA[aprioristik]]></category>
		<category><![CDATA[bebas nilai]]></category>
		<category><![CDATA[historisme]]></category>
		<category><![CDATA[kognisi]]></category>
		<category><![CDATA[kolektif sosial]]></category>
		<category><![CDATA[Ludwig von Mises]]></category>
		<category><![CDATA[pembagian kerja]]></category>
		<category><![CDATA[postulat]]></category>
		<category><![CDATA[Sejarah]]></category>
		<category><![CDATA[singularisme metodologis]]></category>
		<category><![CDATA[Tindakan Manusia]]></category>
		<category><![CDATA[wetfrei]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://akaldankehendak.wordpress.com/2007/10/04/persoalan-persoalan-epistemologis-dalam-ilmu-ilmu-pengetahuan-yang-mengkaji-tindakan-manusia/</guid>
		<description><![CDATA[&#124; Ludwig von Mises &#124; Pengantar: Artikel ini berasal dari Bab II buku Ludwig von Mises, Human Action, Edisi Khusus. Diterjemahkan oleh Sukasah Syahdan untuk diterbitkan di Jurnal Kebebasan: Akal dan Kehendak. Versi hasil pemutakhiran 22 Mei, 2008 ini dapat diunduh di: http://akaldankehendak.com. Ludwig von Mises 1. Praksiologi dan Sejarah ADA dua cabang utama ilmu [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>| Ludwig von Mises |</p>
<p><strong>Pengantar: </strong><em>Artikel ini berasal dari Bab II buku Ludwig von Mises, </em>Human Action, <em>Edisi Khusus.  Diterjemahkan oleh Sukasah Syahdan untuk diterbitkan di </em>Jurnal Kebebasan: Akal dan Kehendak<em>. Versi hasil pemutakhiran 22 Mei, 2008 ini dapat diunduh di: http://akaldankehendak.com.</em><br />
<strong></strong></p>
<div class="captionleft"><img src="http://akaldankehendak.com/wp-content/uploads/2007/10/mises.jpg" alt="alt text" /><em>Ludwig von Mises</em></div>
<p><strong>1. Praksiologi dan Sejarah</strong></p>
<p>ADA dua cabang utama ilmu pengetahuan mengenai tindakan manusia: praksiologi dan sejarah. Sejarah adalah kumpulan dan susunan sistematis semua data pengalaman mengenai tindakan manusia. Sejarah berurusan dengan kandungan konkret tindakan manusia. Ilmu ini mengkaji usaha manusia dalam segenap multiplisitas dan variasinya yang tidak terbatas, serta tindakan individual dengan segala implikasinya, baik yang sifatnya kebetulan, khusus maupun khas. Sejarah meneliti gagasan-gagasan yang menuntun manusia dalam melakukan tindakan serta hasil dari tindakan yang dilaksanakan. Ia meliputi semua aspek kegiatan manusia. Dalam satu sisi ia mungkin berupa sejarah umum dan di sisi lain berupa sejarah dari berbagai bidang yang lebih sempit. Ada, misalnya, sejarah tentang tindakan politis dan militer, tentang ide-ide dan filsafat, tentang kegiatan ekonomi, tentang teknologi, tentang kesusastraan, seni dan ilmu pengetahun, tentang agama, tentang adat istiadat dan kebiasaan, dan tentang banyak lagi dalam ranah kehidupan manusia. Ada etnologi dan antropologi, sejauh tidak dianggap bagian dari biologi, dan ada pula psikologi, sejauh tidak dianggap fisiologi atau epistemologi atau filsafat. Ada juga linguistik, sejauh tidak dianggap bagian dari logika atau fisiologi penuturan.</p>
<p>Bidang kajian semua ilmu pengetahuan historis adalah masa lalu. Semua ilmu tersebut tidak dapat mengajarkan kita apa-apa yang dapat dianggap sahih mengenai tindakan manusia; termasuk juga untuk kepentingan masa depan. Kajian sejarah [dapat] membuat manusia menjadi bijaksana dan waspada, tetapi melalui dirinya sendiri sejarah tidak menawarkan pengetahuan atau keterampilan apa-apa untuk menangani pekerjaan-pekerjaan yang konkret.</p>
<p>Ilmu-ilmu pengetahuan alam juga berurusan dengan peristiwa lampau. Setiap pengalaman adalah pengalaman atas sesuatu yang sudah berlalu; tidak ada pengalaman atas kejadian di masa depan. Namun, yang membuat ilmu-ilmu alam memperoleh suksesnya adalah pengalaman dari eksperimen di mana elemen-elemen perubahan dapat diamati dalam isolasi. Fakta-fakta yang terkumpul dalam cara ini kemudian dapat dipergunakan untuk [proses] induksi, prosedur inferensi khas yang telah memberikan bukti pragmatis tentang kepraktisan ilmu pengetahuan alam, meskipun karakterisasi epistemologisnya masih menjadi persoalan yang belum terpecahkan.</p>
<p>Pengalaman yang harus digeluti ilmu-ilmu pengetahuan yang mengkaji tindakan manusia selalu berupa fenomena kompleks. Percobaan laboratorium tidak memungkinkan penelitian terhadap tindakan manusia. Kita tidak pernah berada dalam satu posisi yang memungkinkan kita mengamati perubahan yang terjadi pada satu elemen saja, sementara kondisi lain dari peristiwa yang diteliti dianggap tidak berubah. Pengalaman historis sebagai sebuah pengalaman atas fenomena yang komples tidak memberi kita fakta-fakta dalam pengertian yang dipakai dalam ilmu pengetahuan alam guna menandai peristiwa-peristiwa yang sudah terisolasi dan diuji dalam percobaan. Informasi melalui pengalaman historis tidak bisa dijadikan landasan untuk membangun teori dan memprediksi peristiwa masa depan. Setiap pengalaman historis terbuka bagi berbagai penafsiran dan pada kenyataannya memang dapat ditafsirkan dalam berbagai cara.</p>
<p>Itulah sebabnya mengapa postulat-postulat yang dilahirkan positivisme dan beberapa aliran metafisik merupakan ilusi yang mengecoh. Ilmu-ilmu pengetahuan tentang tindakan manusia tidak mungkin direformasi menurut pola-pola fisika atau ilmu alam lainnya. Tidak terdapat cara untuk membangun suatu teori yang a posteriori tentang perilaku manusia dan peristiwa sosial. Sejarah dapat membuktikan atau menyangkal suatu pernyataan umum dengan cara yang diterapkan dalam ilmu-ilmu pengetahuan alam ketika mendukung atau menolak hipotesis atas dasar pengujian laboratorium. Terhadap proposisi umum mengenai tindakan manusia, verifikasi ataupun sanggahan berdasarkan uji laboratorium tidak mungkin dilakukan.</p>
<p>Fenomena kompleks, yang terbentuk atas pertautan rantai sebab-akibat, tidak dapat menguji teori apapun. Justru sebaliknya, fenomena kompleks hanya bisa dimengerti melalui interpretasi berdasarkan pemahaman teori-teori lain yang telah dikembangkan sebelumnya dari sumber-sumber lain. Dalam hal fenomena alamiah, interpretasi terhadap peristiwa tidak harus bertentangan dengan teori yang sudah teruji secara memuaskan melalui eksperimen. Dalam hal peristiwa historis tidak dikenal batasan yang seperti itu. Para komentator dapat saja berlindung di balik penjelasan yang arbitrer. Ketika harus menjelaskan sesuatu, pikiran manusia tidak pernah kehilangan daya untuk menciptakan teori ad hoc rekaan, meskipun justifikasi logisnya tidak tersedia.</p>
<p>Di bidang sejarah manusia, keterbatasan serupa dengan yang dialami teori-teori (yang telah diuji melalui eksperimen) dalam usahanya untuk menafsirkan dan menjelaskan peristiwa-peristiwa fisika, kimiawi, dan fisiologis, juga diberikan oleh praksiologi. Praksiologi adalah ilmu pengetahuan yang teoritis dan sistematik, tetapi non-historis. Cakupan praksiologi adalah tindakan manusia itu sendiri, tanpa memandang keadaan lingkungan atau faktor-faktor kebetulan dan individual dari tindakan-tindakan yang konkret. Kognisinya murni bersifat formal dan umum, tanpa mengacu pada kandungan material dan ciri-ciri khusus dari contoh kasus aktual. Tujuannya adalah pengetahuan yang sahih bagi setiap keadaan di mana kondisinya berkorespondensi secara tepat dengan hal-hal yang terimplikasi dalam asumsi-asumsi dan inferensi-inferensi. Segala pernyataan dan proposisi dalam praksiologi tidak diturunkan dari pengalaman. Pernyataan dan proposisi dalam praksiologi, seperti halnya dalam logika dan matematika, bersifat a priori. Pernyataan dan proposisinya bukan subyek untuk dibuktikan atau disanggah atas dasar pengalaman dan fakta. Dia secara logis maupun temporal bersifat mendahului (antecedent) setiap pemahaman fakta-fakta historis. Pernyataan dan proposisi ini merupakan syarat-perlu bagi pemahaman intelektual terhadap pengalaman-pengalaman historis. Tanpanya, kita tidak akan dapat melihat apa-apa di sepanjang terjadinya peristiwa selain perubahan yang kaleidoskopik serta ketidakteraturan yang kacau.<br />
2. Karakter Formal dan Aprioristik dari Praksiologi</p>
<p>Salah satu kecenderungan modis dalam filsafat dewasa ini adalah berupa penyangkalan terhadap keberadaan pengetahuan yang sifatnya a priori. Argumentasinya: semua pengetahuan manusia diperoleh dari pengalaman. Sikap demikian dapat dengan mudah dimengerti sebagai reaksi yang berlebihan terhadap ekstravaganza teologi dan filsafat-gadungan terhadap sejarah dan ilmu-ilmu alam. Dengan mengandalkan intuisi, para metafisikawan bersemangat untuk menemukan prinsip-prinsip dasar atau ajaran-ajaran moral, makna evolusi historis, sifat-sifat jiwa dan zat, dan hukum-hukum yang mengatur peristiwa-peristiwa fisikawi, kimiawi, dan fisiologis. Spekulasi mereka yang berubah-ubah terwujud dalam keluputan gegabah mereka akan arti pengetahuan yang sesungguhnya. Mereka meyakini bahwa, tanpa mengacu kepada pengalaman, akal dapat menjelaskan semua hal dan menjawab semua pertanyaan. Sukses ilmu-ilmu pengetahuan alam modern terletak pada metode observasi dan percobaan mereka. Tidak ada keraguan bahwa empirisme dan pragmatisme itu benar sejauh mereka menggambarkan prosedur-prosedur yang dipakai dalam ilmu pengetahuan alam. Namun satu hal yang tidak kalah pastinya adalah bahwa mereka sangat keliru ketika menolak segala jenis pengetahuan yang a priori dan mengkarakterisasikan ilmu logika, matematika dan praksiologi sebagai disiplin-disiplin empiris dan eksperimental, atau hanya sebagai tautologi belaka.</p>
<p>Dalam hal praksiologi, kekeliruan para filsuf tersebut disebabkan oleh ketidaktahuan mereka sama sekali terhadap ilmu ekonomi  dan seringkali karena pengetahuan mereka akan sejarah, dan hal ini cukup mengejutkan, tidak memadai. Di mata para filsuf ini isu-isu filosofis ini harus diperlakukan oleh sebuah profesi yang subklim dan agung, dan tidak boleh diberikan pada jenis pekerjaan tingkat rendah. Profesor akan merasa gusar akan fakta bahwa penghasilannya dihasilkan dengan cara berfilosofi; ia akan tersinggung dengan pemikiran bahwa ia mencari uang seperti artisan dan pekerja di ladang. Persoalan-persoalan moneter dianggap sebagai hal buruk, dan filsuf yang melakukan investigasi terhadap persoalan-persoalan utama tentang kebenaran dan nilai-nilai abadi tidak seharusnya mengotori pikiran dengan memperhatikan masalah-masalah ilmu ekonomi.</p>
<p>Persoalan ada atau tidaknya elemen-elemen pikiran yang apriori-seperti kondisi-kondisi intelektual yang diperlukan dan tak terelakkan untuk berpikir, yang bersifat anterior terhadap setiap momen aktual konsepsi dan pengalaman&#8211;tidak dapat dicampur-adukkan dengan masalah genetis seputar cara manusia memperoleh kemampuan mentalnya yang khas dan manusiawi. Manusia diturunkan dari nenek moyang non-manusia yang tidak memiliki kemampuan tersebut. Nenek moyang manusia dianugerahi potensialitas yang selama berabad-abad perjalanan evolusi mengubahnya menjadi makhluk yang berakal. Pencapaian transformasi ini dipengaruhi oleh perubahan lingkungan kosmik yang beroperasi secara terus-menerus dari satu generasi ke generasi selanjutnya. Demikianlah kaum empiris menyimpulkan bahwa prinsip fundamental akal pikiran adalah hasil dari pengalaman dan merepresentasikan adaptasi manusia terhadap kondisi lingkungannya.</p>
<p>Jika ditelusuri secara konsisten, gagasan ini selanjutnya membawa pada kesimpulan bahwa, sejak masa nenek moyang pra-manusia hingga masa homo sapiens, terdapat berbagai tahap peralihan. Di masa lalu ada makhluk yang, meskipun tidak dibekali dengan kemampuan akal manusia, memiliki elemen-elemen dasar rasionisasi. Pikiran mereka belum logis, melainkam masih pra-logis (atau logis namun kurang sempurna). Fungsi-fungsi logis mereka yang masih belum terfokus dan belum efektif berevolusi selangkah demi selangkah dari keadaan pre-logis menuju keadaan logis. Akal budi, intelek, dan logika adalah fenomena historis. Ada sejarah logika; ada juga sejarah teknologi. Tidak ada tanda-tanda yang menyatakan bahwa logika sebagaimana yang kita kenal saat ini merupakan tingkatan terakhir atau final dalam evolusi intelektual. Logika manusia merupakan fase historis antara non-logis pra-manusia di satu sisi serta logis dan super-manusia di sisi lain. Akal budi dan pikiran, alat yang paling efektif yang dimiliki makhluk manusia dalam perjuangan demi kelangsungan hidupnya, terpatri dalam aliran berkelanjutan dari peristiwa-peristiwa zoologis. Mereka tidak bersifat kekal ataupun tak-dapat berubah. Mereka sementara.</p>
<p>Selanjutnya, tidak diragukan bahwa setiap manusia dalam proses evolusi personalnya saja mengalami berulang kali tidak saja metamorfosis fisiologis dari sel sederhana menjadi organisme mamalia yang amat rumit, melainkan juga metamorfosis spiritual, dari keberadaan yang murni vegetatif dan hewani, menjadi makhluk berakal. Transformasi ini tidak selesai di masa pra-lahir embrio, melainkan hanya kelak ketika bayi yang baru-lahir selangkah demi selangkah terjaga dalam kesadaran manusiawi. Setiap manusia di awal-awal keberadaannya, mulai dari kedalaman kegelapan, berkembang melalui berbagai keadaan terkait struktur logis pikirannya.</p>
<p>Kemudian, ada pula kasus tentang hewan. Kita sepenuhnya menyadari adanya jurang yang tak-terseberangi, yang memisahkan akal kita dari proses reaktif otak dan syaraf pada hewan. Namun, di saat yang sama kita menduga bahwa dorongan-dorongan yang berjuang hebat di diri hewan menuju cahaya pemahaman. Hewan ibarat tahanan yang gelisah berupaya melepaskan diri dari nasibnya yang gelap abadi dan dari otomatisme yang tak terelakkan. Kita dapat bersimpati kepadanya karena kita sendiri berada dalam posisi yang serupa: dalam kesia-siaan melawan keterbatasan peranti intelektual kita, dan dalam mencari kesempurnaan kognisi yang tidak dapat dicapai.</p>
<p>Namun, persoalan tentang sesuatu yang a priori memiliki karakter lain. Dia tidak berurusan dengan masalah bagaimana asal mula munculnya kesadaran dan akal. Dia mengacu pada karakter yang esensial dan harus ada bagi struktur logis pikiran manusia. Hubungan-hubungan logis yang fundamental bukanlah sesuatu yang harus dibuktikan atau disangkal. Setiap upaya untuk membuktikan hubungan-hubungan logis ini niscaya mem-prasuposisi-kan kesahihannya. Hubungan-hubungan logis ini tidak mungkin dijelaskan kepada makhluk yang tidak memiliki hubungan-hubungan tersebut bagi dirinya sendiri. Upaya untuk mendefinisikan hubungan-hubungan logis berdasarkan aturan definisi pasti mengalami kegagalan. Mereka adalah poposisi-proposisi yang sifatnya mendahului setiap definisi nominal atau definisi riil. Mereka adalah kategori akhir yang tidak dapat dianalisis lebih lanjut. Pikiran manusia tidak mampu membayangkan kategori-kategori logis yang bertentangan dengan mereka. Tanpa peduli bagaimana hubungan-hubungan logis ini kelak berwujud bagi makhluk yang bernama super-manusia, mereka tetap tidak dapat dilalui manusia, dan secara mutlak diperlukan. Mereka adalah prasyarat-prasyarat yang tak terlepaskan bagi persepsi, dan bagi pengalaman.</p>
<p>Mereka, tak kurang, merupakan prasyarat yang tak terpisahkan bagi ingatan. Ada kecenderungan dalam ilmu-ilmu alam untuk menggambarkan ingatan sebagai sebuah instance fenomenon yang lebih umum saja. Setiap organisme hidup menyimpan efek-efek dari stimulasi terdahulu, dan keadaan masa kini dari zat inorganik dibentuk oleh efek-efek dari semua pengaruh yang mengeksposnya di masa lalu. Keadaan semesta masa kini adalah produk dari masa lalunya. Oleh karena itu, kita dapat mengatakan, dalam pengertian metaforis yang longgar, bahwa struktur geologis bola dunia kita menyimpan ingatan atas segala perubahan kosmis terdahulu, dan bahwa tubuh seorang manusia merupakan sedimentasi dari para nenek moyangnya, serta takdir dan perubahannya sendiri. Namun, ingatan merupakan sesuatu yang sama sekali berbeda dari fakta-fakta mengenai kesatuan struktural dan kelanjutan evolusi kosmis. Ingatan adalah fenomena kesadaran dan oleh karenanya diatur oleh suatu yang secara apriori, logis. Para psikolog masih diliputi teka-teki sekitar kenyataan bahwa manusia tidak mengingat apa-apa tentang masa keberadaannya dulu sebagai janin dan mahluk yang masih menyusu. Freud mencoba menjelaskan bahwa absennya kenangan semacam ini diakibatkan oleh supresi terhadap ingatan-ingatan yang tak diinginkan. Sesungguhnya, mengenai keadaan-keadaan tak sadar ini, tidak ada yang dapat diingat. Otomatisasi binatang dan respons tak-sadar terhadap stimulasi fisiologis bukan merupakan materi yang harus diingat janin dan bayi, tidak pula bagi manusia dewasa. Hanya kondisi-kondisi sadarlah yang dapat diingat. Pikiran manusia bukan tabula rasa di mana peristiwa-peristiwa eksternal menuliskan sendiri sejarah mereka. Pikiran manusia dilengkapi dengan seperangkat alat penangkap realitas. Manusia memperoleh peralatan ini, mis., struktur logis dari pikirannya, dalam perjalanan evolusinya dari sebuah amuba hingga ke keadaannya kini. Namun, alat-alat ini secara logis mendahului segala pengalaman.</p>
<p>Manusia bukan semata hewan yang tunduk secara total kepada stimuli yang tak-terhindarkan yang menentukan keadaan hidupnya. Ia juga makhluk bertindak. Dan kategori tindakan adalah antecedent logis bagi setiap aksi konkret.</p>
<p>Kenyataan bahwa manusia tidak memiliki daya kreatif untuk membayangkan kategori-kategori lain yang bertentangan dengan hubungan-hubungan logis dasar ini dan dengan prinsip-prinsip kausalitas serta telelologi mengharuskan kita [mengadopsi] apa yang dapat disebut sebagai apriorisme metodologis.</p>
<p>Setiap orang dalam perilaku sehari-harinya lagi dan lagi menjadi saksi atas ketidakberubahan dan keuniversalan dari kategori-kategori pikiran dan tindakan. Ia yang menyapa sesamanya, yang ingin memberi informasi dan meyakinkan orang lain, yang bertanya dan menjawab pertanyaan sesamanya, dapat terus melakukan hal-hal tersebut hanya karena ia dapat mengimbau kepada sesuatu yang sama-sama terdapat pada semua orang-yakni struktur logis akal manusia. Gagasan bahwa A secara bersamaan juga berupa non-A, atau preferensi akan A ketimbang B secara bersamaan juga berarti preferensi akan B ketimbang A, adalah pernyataan-peryataan yang tidak dapat diterima dan musykil (absurd) bagi pikiran manusia. Kita tidak berada dalam posisi untuk memahami pemikiran yang pra-logis atau meta-logis. Kita tidak dapat membayangkan sebuah dunia tanpa kausalitas dan teleogi.</p>
<p>Bukan masalah bagi manusia apakah di luar lingkup yang terjangkau pikiran manusia ada atau tidak sesuatu yang secara kategoris berbeda dari pikiran dan tindakan manusia. Dari bagian tersebut tidak ada pengetahuan yang menembus pikiran manusia. Percuma mempertanyakan apakah sesuatu-dalam-dirinya (things-in-themselves) itu berbeda dari apa yang tampak bagi kita, dan apakah ada dunia-dunia lain yang tidak dapat kita temukan dan gagasan-gagasan yang tidak dapat kita pahami. Persoalan-persoalan demikian di luar cakupan kognisi manusia. Pengetahuan manusia terkondisi oleh struktur pikirannya sendiri. Jika pengetahuan tersebut memilih tindakan manusia sebagai pusat kajiannya, maka yang dimaksud tak lain adalah kategori-kategori tindakan yang sifatnya layak bagi pikiran manusia dan yang merupakan proyeksi pengetahuan manusia terhadap dunia eksternal dari proses-menjadi dan perubahan. Semua teorema praksiologi mengacu pada kategori-kategori tindakan hanya sahih dalam orbit operasi mereka. Mereka tidak berpretensi hendak menyampaikan informasi tentang dunia dan relasi yang tak terbayangkan. Dengan demikian, praksiologi bersifat manusiawi dalam pengertian ganda. Ia manusiawi karena mengklaim bagi teorema-teoremanya-dalam ruang lingkup yang terdefinisikan secara persis dalam asumsi-asumsi dasarnya-kesahihan universal bagi semua tindakan manusia. Ia juga manusiawi karena berurusan hanya dengan tindakan manusia dan tidak beraspirasi untuk memahami tindakan apapun yang non-manusiawi-baik yang sub-manusiawi ataupun yang super-manusiawi.<br />
Seputar Tuduhan tentang Heterogenitas Logis Manusia Primitif</p>
<p>Ada kerancuan berpikir di mana tulisan-tulisan Lucien Levy-Bruhl secara umum dipercayai sebagai dukungan terhadap doktrin yang menyatakan bahwa struktur logis manusa primitif itu berbeda secara kategoris dari struktur manusia beradab. Justru sebaliknya, apa yang Levy-Bruhl laporkan, atas dasar penelitian saksama terhadap seluruh bahan etnologis yang ada mengenai fungsi-fungsi mental manusia primitif membuktikan dengan jelas bahwa hubungan-hubungan logis-fundamental serta kategori-kategori pikiran dan tindakan ternyata memainkan peran yang sama baik dalam aktivitas intelektual manusia liar maupun dalam aktivitas intelektual yang dilakukan di masa kehidupan kita. Kandungan pikiran manusia primitif memang berbeda dari kandungan pikiran kita, tetapi struktur formal dan logisnya sama bagi keduanya.</p>
<p>Memang benar bahwa Levy-Bruhl sendiri kukuh berpendapat bahwa mentalitas manusia primitif pada dasarnya bersifat &#8220;mistik dan pra-logis&#8221;; representasi kolektif milik manusia primitif diatur oleh &#8220;hukum partisipasi&#8221; dan sebagai akibatnya tidak mengindahkan hukum kontradiksi. Namun demikian, pemisahan yang dilakukan Levy-Bruhl antara pikiran pra-logis dan logis mengacu pada isi dan bukan bentuk atau struktur kategoris pikiran. Sebab ia menyatakan dengan lantang bahwa di antara orang-orang seperti kita sendiri, gagasan dan hubungan antar-ide yang diatur oleh &#8220;hukum partisipasi&#8221; juga ada, baik itu lebih mandiri atau sebaliknya, tak kurang dan tak lebih lemahnya, namun tetap tidak dapat terhapuskan, bersandingan dengan gagasan-gagasan yang tunduk pada hukum-hukum akal-pikiran. Gagasan-gagasan yang &#8220;pra-logis dan mistis berkoeksistensi dengan yang logis&#8221;.</p>
<p>Levy-Bruhl membelokkan inti ajaran Kristiani ke ranah pikiran yang pra-logis.  Kini, sejumlah besar keberatan mungkin dapat dan telah diangkat untuk menentang doktrin-doktrin Kristiani serta interpretasinya melalui teologi. Namun tak seorang pun pernah mencoba berspekulasi dengan mengatakan bahwa para pendeta Kristen dan para filsuf-di antaranya Santo Agustin dan Santo Thomas-memiliki pikiran yang struktur logisnya berbeda secara kategoris dari sesame mereka di jaman kita. Perselisihan antara orang-orang yang percaya kepada keajaiban dengan yang tidak, mengacu pada kandungan pikirannya, bukan pada strktur logisnya. Seseorang yang mencoba mendemonstrasikan kemungkinan dan kenyataan tentang keajabiban mungkin keliru. Namun, untuk mengungkap kekeliruannya secara logis-sebagaimana ditunjukkan dalam esei-esei Hume dan Mill-tentunya tidak kurang rumitnya daripada membuktian kekeliruan berpikir dalam ilmu filsafat atau ekonomi.</p>
<p>Menurut laporan sejumlah penjelajah dan misionaris di Afrika dan Polynesia, manusia primitif berhenti pada persepsi paling awal mereka terhadap benda-benda dan tidak pernah berpikir bahwa ia dapat menghindari hal tersebut dengan cara lain.  Para pendidik Eropa dan Amerika melaporkan hal serupa tentang siswa-siswi mereka. Dalam kaitannya dengan orang-orang Mossi di sungai Niger, Levy-Bruhl mengutip pengamatan seorang misionaris: &#8220;Percakapan dengan mereka hanya berkisar pada masalah perempuan, wanita, makanan dan (di musim hujan) hasil panen.&#8221;  Subyek apa lagi yang lebih diminati oleh para sejawat dan tetangga Newton, Kant dan Levy-Bruhl ini?</p>
<p>Kesimpulan terbaik yang harus dipetik dari kajian-kajian Levy-Bruhl justru berasal dari kata-katanya sendiri: &#8220;Pikiran primitif, sebagaimana halnya pikiran kita, sama gelisahnya dalam mencari alasan di balik kejadian; hanya saja ia tidak mencarinya di arah yang sama dengan arah kita.&#8221;</p>
<p>Seorang petani yang mendambakan hasil panen yang melimpah mungkin akan memilih berbagai cara-sesuai dengan isi gagasannya. Ia mungkin akan melaksakan ritual magis; memulainya dengan cara berjiarah; menyalakan lilin untuk santo pelindungnya; atau mungkin memakai pupuk lebih banyak atau jenis yang lebih baik. Apapun yang dilakukannya, hal tersebut selalu berupa tindakan, yaitu pemanfaatan suatu cara untuk mencapai suatu tujuan. Sihir dalam makna luasnya merupakan sejenis teknologi. Eksorsisme merupakan tindakan sengaja atas dasar pandangan terhadap dunia yang oleh sebagian besar dari sejawat kita akan dihujat sebagai sesuatu yang takhayul dan oleh karenanya tidak pantas dilakukan. Namun konsep tindakan tidak mengimplikasikan bahwa tindakan tersebut dibimbing oleh teori yang benar dan teknologi yang menjanjikan keberhasilan dan bahwa hal tersebut akan mencapai tujuannya. Ia hanya mengimplikasikan pelaku tindakan tersebut percaya bahwa cara yang ditempuh akan menghasilkan efek yang diinginkan.</p>
<p>Fakta-fakta yang diperoleh oleh etnologi dan sejarah tidak ada yang bertentangan dengan pernyataan bahwa struktur logis pikiran manusia itu seragam, terlepas apa suku, usia, dan negaranya.<br />
3. A priori dan Realitas</p>
<p>Cara berpikir aprioristik murni bersifat konseptual dan deduktif. Cara ini tidak dapat menghasilkan apapun selain tautologi dan penilaian analitis. Semua implikasinya diturunkan secara logis dari premi-preminya dan sudah terkandung di dalam premi-premi tersebut. Oleh karena itu, sesuai dengan keberatan populer terhadapnya, cara berpikir aprioristik tidak dapat menambah apa-apa bagi pengetahuan kita.</p>
<p>Semua teorema geometris sudah terimplikasikan di dalam aksioma-aksiomanya. Konsep tentang sebuah segitiga sama kaki sudah mengimplikasikan teorema Pythagoras. Teorema ini adalah tautologi; deduksinya menghasilkan penilaian analitis. Namun demikian tak seorangpun mengatakan bahwa geometri pada umumnya, dan teorema Pythagoras pada khususnya, tidak memperluas pengetahuan kita. Kognisi murni dari cara berpikir deduktif juga bersifat kreatif dan membuka bagi pikiran kita akses pada apa yang sebelumnya terhalang. Tugas penting dari cara berpikir aprioristik di satu sisi adalah untuk memperjelas apa yang tersirat di dalam kategori, konsep, serta premis, dan, di lain sisi, untuk menunjukkan apa yang tidak diimplikasikan. Tugasnyalah untuk memanifestasikan dan membuat jelas apa yang tadinya tersembunyi dan tidak diketahui.</p>
<p>Dalam konsep uang semua teorema tentang teori moneter sudah diimplikasikan. Teori kuantitas tidak menambah bagi pengetahuan kita apa-apa yang pada akhirnya tidak terkandungi dalam konsep uang. Teori tersebut [hanya] mengubah, mengembangkan, dan menyibakkan; ia hanya menganalisis dan oleh karena itu bersifat tautologies seperti halnya teorema Pythagoras dalam hubungannya dengan konsep segitiga sama kaki. Namun demikian, tak seorangpun menyangkal nilai kognitif dari teori kuantitas. Bagi pikiran yang tidak tercerahkan oleh pemikiran ekonomi hal ini akan tetap kabur. Garis panjang kegagalan dalam upaya untuk memecahkan persoalan terkait menunjukkan bahwa tentunya tidaklah mudah untuk memperoleh pengetahuan di tingkatnya saat ini.</p>
<p>Bahwa sistem ilmu pengetahuan aprioristik tidak menyampaikan kepada kita kognisi penuh tentang realitas bukanlah suatu defisiensi. Konsep-konsep serta teorema-teoremanya merupakan peranti mental yang membuka pendekatan kita terhadap penangkapan lengkap terhadap relatitas; dalam diri mereka sendiri pastinya tidak terdapat seluruh pengetahuan faktual mengenai semua hal [yang dipelajarinya]. Teori dan pemahaman tentang realitas yang hidup dan berubah tidak bertentangan satu dengan lainnya. Tanpa teori, ilmu pengetahuan aprioristik umum tentang tindakan manusia, maka tidak ada pemahaman terhadap realitas tindakan manusia. Hubungan antara akal dan pengalaman memang sejak lama telah menjadi persoalan filosofis yang mendasar. Sebagaimana halnya dengan kritik terhadap ilmu pengetahuan, para filsuf telah mendekatinya dengan mengacu pada ilmu-ilmu pengetahuan alam. Mereka telah mengabaikan ilmu-ilmu tentang tindakan manusia. Kontribusi mereka terhadap praksiologi tidak berguna.</p>
<p>Adalah hal lumrah dalam perlakuan terhadap persoalan-persoalan epistemologis ilmu ekonomi untuk mengadopsi salah satu solusi yang diusulkan bagi ilmu-ilmu pengetahuan alam. Beberapa pengarang merekomendasikan konvensionalisme Poincaré.  Mereka menganggap premis-premis dalam pemikiran ilmu ekonomi sebagai semacam konvensi linguistik atau semacam postulat.  Sejumlah pengarang lain lebih menyetujui gagasan yang dikembangkan oleh Einstein, yang mengangkat pertanyaan sebagai berikut: &#8220;Bagaimana [mungkin] matematika, sebagai produk pikiran manusia yang tidak tergantung pada pengalaman apapun, dapat begitu pas dengan obyek-obyek realitas? Apakah akal manusia mampu menemukan, tanpa bantuan pengalaman melalui akal semata ciri-ciri benda-benda yang nyata?&#8221; Dan jawabannya adalah: &#8220;Sejauh teorema-teorema matematika mengacu pada realitas, mereka tidaklah pasti, dan sejauh mereka pasti, mereka tidak mengacu pada realitas.&#8221;</p>
<p>Namun demikian, ilmu-ilmu pengetahuan mengenai tindakan manusia berbeda secara radikal dari ilmu-ilmu pengetahuan alam. Semua penulis yang berusaha membangun suatu sistem epistemologis untuk disiplin tentang tindakan manusia sesuai pola ilmu pengetahuan alam mengalami kegagalan yang menyedihkan. Hal riil yang menjadi kajian praksiologi, yaitu tindakan manusia, berasal dari sumber yang sama dengan akal manusia. Tindakan dan akal bersifat kon-generik dan homogen; Mungkin mereka dapat disebut sebagai dua aspek dari benda yang sama. Bahwa akal memiliki daya untuk membuat jelas melalui rasiosinasi terhadap ciri-ciri tindakan merupakan sebuah offshoot dari akal. Teorema-teorema yang diperoleh melalui cara berpikir praksiologis secara benar bukan saja sempurna dan pasti tetapi juga tak-terbantahkan, seperti akurasi teorema matematis. Mereka juga mengacu, dengan kekakuan penuh dari kepastian apodiktis dan ketak-terbantahannya, pada realitas tindakan sebagaimana kemunculannya dalam kehidupan dan sejarah. Praksiologi menyampaikan pengetahuan tentang hal-hal riil secara pasti dan akurat.</p>
<p>Titik awal praksiologi bukan pada pilihan aksioma atau keputusan tentang metode prosedurnya, melainkan pada refleksinya atas esensi tindakan. Tidak ada tindakan yang di dalamnya tidak terdapat kategori praksiologis secara penuh dan sempurna. Modus tindakan tidak akan terpikirkan apabila cara serta tujuan atau biaya dan hasilnya tidak dapat dibedakan secara jelas atau dipisahkan secara akurat. Tidak ada apapun itu yang sifatnya hampir cocok atau hampir lengkap kategori ekonomis dari sebuah pertukaran. Yang ada hanyalah pertukaran dan non-pertukaran; dan sehubungan dengan masalah pertukaran, semua teorema umum tentangnya bersifat sahih dalam segenap kekakuannya dan semua implikasinya. Transisi dari pertukaran ke non-pertukaran atau dari pertukaran langsung menjadi tak langsung, tidak terdapat. Tidak ada pengalaman akan didapat yang berlawanan dengan pernyataan-pernyataan tadi.</p>
<p>Pengalaman seperti itu sudah mustahil sejak awal dengan alasan bahwa semua pengalaman menyangkut tindakan manusia itu dikondisikan oleh kategori-kategori praksiologis dan menjadi mungkin hanya melalui penerapannya. Jika di pikiran kita tidak terdapat skema yang disiapkan oleh cara berpikir praksiologis, kita tidak akan berada dalam posisi untuk mencerna dan memahami tindakan apapun. Kita barangkali akan melihat gerakan, tetapi tidak dapat menangkap tindakan membeli atau menjual, atau harga, tingkat upah, suku bunga, dan sebagainya. Hanya melalui penggunaan skema praksiologislah kita dapat memiliki pengalaman mengenai tindakan membeli dan menjual, namun tidak tergantung pada fakta apakah indera kita secara bersamaan melihat gerakan manusia dan elemen non-manusiawi mengenai dunia luar. Tanpa bantuan pengetahuan praksiologis kita tidak akan belajar apa-apa tentang alat tukar. Jika kita mendekati uang logam tanpa pengetahuan yang sudah-ada, kita akan melihatnya hanya sebagai logam bundar semata, tidak lebih. Pengalaman mengenai uang memerlukan pengenalan dengan kategori praksiologis alat tukar.</p>
<p>Pengalaman mengenai tindakan manusia berbeda yang menyangkut fenomena alam dalam hal bahwa ia membutuhkan dan mem-prasuposisi-kan pengetahuan praksiologis. Inilah sebabnya mengapa metode pengetahuan alam tidak cocok untuk kajian praksiologi, ekonomi, dan sejarah.</p>
<p>Ketika mengatakan karakter a priori dari praksiologi kita tidak sedang membuat draft rencana tentang masa depan disiplin baru yang berbeda dari ilmu-ilmu pengetahuan tradisional mengenai tindakan manusia. Kita tidak berupaya mempertahankan bahwa ilmu pengetahuan teoritis tentang tindakan manusia mesti bersifat aprioristik; namun hal tersebut sudah &#8220;dari sananya&#8221; memang demikian. Setiap upaya untuk merenungkan persoalan yang diakibatkan tindakan manusia perlu terikat dengan cara pikir aprioristik. Tidak menjadi soal dalam hal ini apakah orang yang merenungkan hal tersebut adalah seorang teoritis yang hanya bertujuan pada pengetahuan murni, atau negarawan, politisi atau penduduk biasa yang ingin memahami perubahan yang terjadi dan untuk menemukan kebijakan publik atau perilaku swasta apa yang paling cocok untuk kepentingannya. Orang mungkin mulai mempermasalahkan pentingnya pengalaman konkret; namun, debat yang terjadi selalu berpaling dari ciri-ciri aksidental dan environmental dari sebuah peristiwa yang menjadi sumber masalah kepada analisis prinsip-prinsip dasar, dan dengan gaib meninggalkan setiap referensi kepada kejadian-kejadian faktual yang telah mengundang argumen. Sejarah ilmu-ilmu pengetahuan alam adalah catatan tentang teori-teori dan hipotesis-hipotesis usang karena [catatan tersebut] tidak sesuai dengan pengalaman. Ingat, misalnya, kekeliruan berpikir tentang montir tua yang disanggah Galileo, atau nasib teori flogiston. Kasus-kasus seperti itu tidak pernah dicatat dalam sejarah disiplin ekonomi. Para pendukung teori yang secara logis tidak kompatibel mengklaim peristiwa-peristiwa yang sama sebagai bukti bahwa sudut pandang mereka telah diuji oleh pengalaman. Yang sebenarnya adalah bahwa pengalaman atas fenomena yang kompleks-dan tak ada jenis lain dalam ranah tindakan manusia kecuali yang kompleks-hanya dapat ditafsirkan atas dasar berbagai teori antitetis. Apakah interpretasinya dianggap memadai atau tidak, tergantung pada penghargaan terhadap teori-teori tersebut yang dibangun sebelumnya atas dasar cara berpikir yang aprioristik.</p>
<p>Sejarah tidak mengajarkan aturan, prinsip, atau kaidah apa-apa kepada kita. Tidak tersedia cara untuk mengabstraksikan dari pengalaman sejarah yang a posteriori suatu teori atau teorema apapun mengenai tindak-tanduk dan kebijakan manusia. Data sejarah tidak berarti apa-apa selain sebagai sekumpulan peristiwa canggung yang tak berkaitan atau setumpuk kebingungan belaka seandainya tidak diklarifikasi, ditata, dan ditafsirkan secara sistematik oleh pengetahuan praksiologis.<br />
4. Prinsip Individualisme Metodologis</p>
<p>Praksiologi berurusan dengan tindakan individu manusia. Hanya dalam perjalanan lanjutan dari pencariannyalah kognisi terhadap kerjasama manusia diperoleh dan tindakan sosial diperlakukan sebagai kasus khusus dari kategori yang lebih universal dari tindakan manusia.</p>
<p>Individualisme metodologis ini telah mendapat serangan dan cemoohan yang bertubi-tubi dari berbagai aliran metafisik yang menganggapnya sebagai kekeliruan berpikir nominalistik. Ide tentang individu, menurut kritikusnya, adalah abstraksi kosong belaka. Manusia nyata haruslah selalu anggota dari masyarakat keseluruhan. Bahkan tidak mungkin membayangkan keberadaan manusia yang terpisah dari manusia lain serta tidak berhubungan dengan masyakat. Manusia sebagai manusia adalah produk evolusi sosial. Ciri utamanya, berupa akal, hanya dapat muncul dari kerangka mutualitas sosial. Tak ada pemikiran yang tidak tergantung pada konsep dan ide terkait bahasa. Namun, ujaran itu jelas fenomena sosial. Manusia selalu merupakan anggota suatu kelompok. Sebagaimana keseluruhan itu secara logis dan temporal bersifat mendahului anggota-anggota atau bagian-bagiannya, kajian tentang individu bersifat posterior jika dibandingkan dengan kajian tentang masyarakat. Satu-satunya metode yang memadai dan memperlakukan persoalan manusia secara ilmiah adalah metode universalisme atau kolektivisme.</p>
<p>Dewasa ini, kontroversi apakah keseluruhan atau bagian itu secara logis bersifat mendahului, dianggap tak berguna. Secara logis, ide tentang keseluruhan dan bagian-bagiannya bersifat korelatif. Sebagai konsep-konsep logis keduanya terpisah dari waktu.</p>
<p>Yang juga tidak patut dilakukan sehubungan dengan persoalan [tersebut] adalah acuan tentang antagonisme antara realisme dan nominalisme. Kedua istilah ini dipahami dalam pemahaman skolastik abad pertengahan. Tidak dapat disangkal bahwa dalam ranah tindakan manusia, pranata sosial itu memiliki keberadaan yang riil; dan bahwa bangsa, negara, pemerintah daerah, partai politik, serta komunitas agama adala faktor-faktor riil yang ikut menentukan perjalanan umat manusia. Individualisme metodologis tidak menyangsikan pentingnya kesatuan kolektif seperti itu; melainkan justru menganggapnya sebagai salah satu tugas utamanya untuk menggambarkan dan menganalisis terbentuknya dan kelenyapannya, struktur perubahan dan operasinya. Dan ia memilih satu-satunya metode yang cocok untuk memecahkan persoalan ini secara memuaskan.</p>
<p>Kita terlebih dahulu harus menyadari bahwa pelaku tindakan adalah individu. Kelompok atau satuan kolektif selalu beroperasi dengan perantaraan seseorang atau beberapa individu yang tindakannya berkaitan dengan kelompok tersebut sebagai sumber sekundernya. Justru makna yang diberikan oleh para individu pelaku tindakan dan mereka yang terkait dengan tindakan itulah, yang menentukan karakter tindakan tersebut. Makna-lah yang menandai apakah suatu tindakan dianggap tindakan individu atau tindakan negara atau tindakan walikota. Algojolah, dan bukan negara, yang melaksanakan tindak kriminal. Maknanya bagi mereka yang terkait tindakan tersebutlah yang mengatakan bahwa tindakan algojo tersebut merupakan tindakan negara. Ketika sekelompok orang bersenjata menguasai sebuah wilayah, maka maknanya bagi mereka yang terkait yang mengimputasi peristiwa pendudukan tersebut bukan kepada para perwira atau bala tentara di tempat tersebut, melainkan kepada bangsa mereka. Jika kita menelaah makna berbagai tindakan yang dilakukan para individu, kita perlu mengetahui segala sesuatu tentang tindakan-tindakan yang dilakukan oleh keseluruhan kolektif. Sebab suatu kolektif sosial tidak memiliki keberadaan dan realitasnya selain dari tindakan para individu anggotanya. Kehidupan sebuah kolektif dijalani oleh para individu yang membentuk tubuhnya. Kolektif sosial yang tidak beroperasi di dalam tindakan beberapa individu-individunya, tidak dapat dibayangkan. Realitas dari integer sosial terdiri dari bagaimana mengarahkan dan meyalurkan tindakan-tindakan definit kepada individu-individu. Jadi jalan menuju pemahaman kolektif itu melalui analisis tindakan-tindakan para individu.</p>
<p>Sebagai mahluk yang berpikir dan bertindak, manusia muncul dari keberadaan pra-manusianya langsung sebagai makhluk sosial. Evolusi pikiran, bahasa dan kerjasama merupakan hasil dari proses yang sama; semuanya ini tidak terpisahkan dan harus terkait satu sama lain. Tetapi proses ini berlangsung pada masing-masing individu. Prosesnya berupa perubahan-perubahan dalam perilaku individu. Tidak ada substansi lain tempat proses ini berlangsung, kecuali dalam diri setiap individu. Di dalam masyarakat tidak terdapat sub-stratum selain daripada tindakan-tindakan dari para anggotanya.</p>
<p>Bahwa ada bangsa, negara, tempat ibadah, dan bahwa ada kerjasama sosial di bawah pembagian kerja (division of labor), hal tersebut dapat dicerna hanya dalam tidakan-tindakan individu-individu tertentu. Tak seorangpun pernah &#8220;melihat&#8221; sebuah bangsa tanpa &#8220;melihat&#8221; penduduknya. Dalam hal ini dapat dikatakan bahwa kolektif sosial terbentuk melalui tindakan dari individu-individu. Hal ini tidak berarti bahwa individu, secara temporal, sudah mengada lebih awal. Hal ini hanya berarti bahwa tindakan-tindakan tertentu dari sejumlah individu telah membentuk kesatuan kolektif.</p>
<p>Tidak ada manfaatnya berargumen apakah kolektif itu merupakan kumpulan dari elemen-elemen pembentuknya atau lebih dari sekadar itu; apakah kolektif itu bersifat suigeneris, dan apakah masuk akal atau tidak untuk membicarakan tentang keinginannya, rencananya, tujuannya, dan tindakannya; atau menganggapnya memiliki &#8220;jiwanya&#8221; sendiri. Membicarakan hal mendetil seperti itu sia-sia. Sebuah keseluruhan kolektif itu merupakan aspek khusus dari tindakan-tindakan dari berbagai individu dan oleh karenanya hal riil yang menentukan berlangsungnya peristiwa-peristiwa .</p>
<p>Meyakini bahwa keseluruhan kolektif itu dapat divisualisasikan adalah suatu ilusi. Keseluruhan kolektif tidak pernah dapat dilihat; kognisinya selalu merupakan hasil dari pemahaman atas makna yang diberikan manusia pada tindakannya. Kita memang dapat melihat keramaian, misalnya kerumunan manusia. Apakah kerumunan itu hanya sekadar pertemuan ataukah sebuah massa (dalam pengertian psikologi kontemporer) atau sebuah badan terorganisasi atau jenis lain dari entitas sosial merupakan sebuah pertanyaan yang hanya dapat dijawab oleh pemahaman akan makna yang mereka berikan bagi keberadaan tersebut. Dan makna ini selalu merupakan makna dari para individunya. Bukanlah indera kita, melainkan pemahaman kita, sebagai sebuah proses mental, yang membuat kita memahami entitas sosial.</p>
<p>Siapa saja yang bermaksud memulai kajian tentang tindakan manusia dari unit-unit kolektif akan mendapati rintangan tak terperi berupa kenyataan bahwa setiap individu pada saat yang sama juga dapat merupakan-kecuali orang-orang suku paling primitif-bagian nyata dari beragam entitas kolektif. Persoalan-persoalan yang ditimbulkan oleh multiplisitas unit-unit sosial yang berkoeksistensi dan antagonisme-antagonisme mutual mereka dapat diatasi hanya melalui individualisme metodologis.<br />
Saya dan Kita/Kami</p>
<p>Ego merupakan kesatuan dari makhluk yang bertindak. Sifatnya sudah ada (given) dan tidak dapat dilarutkan atau dilenyapkan oleh cara berpikir atau melalui bantahan apapun. Kita/kami selalu merupakan hasil dari penjumlahan dua Ego atau lebih. Jika orang berkata Saya, maka tidak perlukan pertanyaan lebih lanjut untuk membangun maknanya. Hal serupa juga sahih untuk Kamu. Demikian pula hanya dengan Ia&#8211;asalkan sudah jelas siapa orang yang dimaksud. Namun, ketika orang berkata Kita/Kami, informasi tambahan diperlukan untuk menunjukkan Ego siapa saja yang termasuk di dalamnya. Kata Kita/Kami selalu diucapkan orang secara masing-masing; bahkan meskipun mereka mengatakannya bersamaan dalam korus, tetap saja ia berupa satu ujaran dari sejumlah individu.</p>
<p>Kita/Kami tidak dapat bertindak selain sebagai pribadi masing-masing yang bertindak atas diri masing-masing. Para individu dapat bertindak bersama atas kesepakatan bersama, atau satu orang bertindak bagi semuanya. Jika satu orang melakukan atas nama yang lain, kerjasama para individu lainnya adalah berupa penciptaan situasi di mana tindakan satu orang dijadikan bersifat efektif bagi mereka juga. Hanya dalam artian inilah petugas atau pegawai dari suatu entitas sosial bertindak atas nama semua; para anggota individual dari badan kolektif ini menyebabkan atau mengijinkan tindakan satu orang mewakili juga.</p>
<p>Upaya disiplin psikologi untuk melebur Ego dan menganggapnya sekadar ilusi adalah hal yang sia-sia. Keberadaan ego secara praksilogis itu tak diragukan. Tanpa memerdulikan bagaimana masa lalu atau masa depan seseorang, tatkala ia memilih dan bertindak, maka ia adalah sebuah Ego.</p>
<p>Dari yang satuan logis jamak atau pluralis logicus (dan dari yang sekadar ceremonial pluralis majestaticus) kita harus membedakan yang pluralis gloriosus. Jika seorang penduduk Kanada yang belum pernah bermain skating mengatakan, &#8220;[Bangsa] Kami adalah pemain hockey es paling hebat,&#8221; atau jika seorang Italia kasar dengan bangga berujar, &#8220;[Bangsa] kami pelukis terhebat di dunia,&#8221; tidak ada yang merasa ditipu. Tetapi dalam kaitannya dengan persoalan politik dan ekonomi, konsep pluralis gloriosus ini berevolusi menjadi pluralis imperialis, dan dengan demikian berperan penting dalam menyiapkan jalan raya bagi penerimaan doktrin-doktrin yang menentukan kebijakan ekonomi internasional.<br />
5. Prinsip Singularisme Metodologis</p>
<p>Praksiologi memulai investigasinya dari tindakan individu. Ia tidak menangani perihal tindakan manusia secara samar-samar, melainkan dengan tindakan konkret yang dilakukan orang secara pasti pada saat, waktu dan tempat tertentu. Namun demikian, tentu saja, ia tidak menyibukkan dirinya dengan fitur-fitur tindakan yang bersifat aksidental atau environmental, ataupun dengan hal yang membedakannya dari tindakan-tindakan lain, melainkan hanya dengan apa yang bersifat harus ada dan universal dalam kinerja tindakan tersebut.</p>
<p>Filsafat universalisme sejak dulu kala telah menutup akses terhadap pemahaman yang memuaskan terhadap persoalan praksiologis, dan kaum universalis kontemporer benar-benar tidak mampu menemukan pendekatan terhadap persoalan tersebut. Universalisme, kolektivisme dan realisme konseptual hanya melihat sesuatu yang universal dan menyeluruh. Mereka berspekulasi tentang kemanusiaan, negara, kelas, kebaikan dan kejahatan, baik dan benar, tentang seluruh keinginan manusia dan tentang komoditas. Mereka bertanya, misalnya: Mengapa nilai &#8220;emas&#8221; lebih tinggi daripada nilai &#8220;besi&#8221;? Jadi, mereka tidak pernah menemukan solusinya, melainkan antinomi dan paradoks semata. Contoh terbaik adalah paradoks-nilai yang bahkan telah menyebabkan karya-karya ekonom klasik menjadi membuat frustrasi.</p>
<p>Praksiologi mempertanyakan: Apa yang terjadi dalam suatu tindakan? Apa artinya mengatakan bahwa seseorang pada suatu waktu di sana, hari ini dan di sini, bertindak? Apa hasilnya jika ia memilih satu hal dan menolak yang lain?</p>
<p>Tindakan memilih selalu merupakan keputusan di antara berbagai peluang yang tersedia bagi individu yang memilih. Manusia tidak pernah memilih antara kebajikan dan kebatilan, melainkan hanya antara dua modus tindakan yang kita sebut dari titik pandang yang bajik atau batil. Manusia tidak pernah memilih antara &#8220;emas&#8221; dan &#8220;besi&#8221; secara umum, melainkan selalu hanya antara suatu kuantitas emas dan besi secara tertentu. Setiap tindakan selalu dibatasi ketat dalam konsekuensi-konsekuensi seketikanya. Jika kita ingin mencapai kesimpulan yang benar, kita harus mengindahkan semua keterbatasan ini.</p>
<p>Hidup manusia adalah serangkaian tindakan. Namun demikian, sebuah tindakan tidak berarti terisolasi. Ia merupakan mata rantai dari sebuah rantai tindakan yang bersama-sama membentuk tindakan lain pada tingkat yang lebih tinggi dengan tujuan yang lebih jauh. Setiap tindakan memiliki dua aspek. Di satu sisi ia merupakan sebagian tindakan dari kerangka tindakan yang lebih jauh, atau sebuah kinerja atas bagian dari tujuan yang telah ditetapkan oleh tindakan lain dengan jangkauan yang lebih jauh. Di sisi lain, ia merupakan satu kesatuan utuh bagi dirinya sendiri dalam kaitannya dengan tindakan-tindakan yang ditujukan oleh kinerja dari bagian-bagian pembentuknya sendiri.</p>
<p>Tergantung pada cakupan proyeknya yang diinginkan oleh manusia yang bertindak apakah tindakan jangka panjang atau tindakan parsial yang diarahkan pada tujuan jangka pendek akan dibuat menjadi jelas. Praksiologi tak perlu mengajukan pertanyaan-pertanyaan sejenis yang dipertanyakan oleh Gestaltpsychologie. Jalan bagi kinerja hal-hal besar harus selalu melalui kinerja tugas-tugas parsial. Sebuah katedral adalah sesuatu yang lebih dari tumpukan batu-bata yang disatukan. Tetapi satu-satunya prosedur untuk membangun katedral memang menumpuk satu bata di atas lainnya. Bagi sang arsitek keseluruhan proyek adalah hal utama; bagi tukang batu mungkin satu dinding, sedangkan bagi pemasang bata, setiap batu bata. Yang penting bagi praksiologi adalah kenyataan bahwa satu-satunya metode untuk mencapai tugas yang lebih besar adalah membangunnya dari fondasinya selangkah demi selangkah, sebagian demi sebagian.</p>
<p>6. Fitur-Fitur Individual Yang Berubah dalam Tindakan Manusia</p>
<p>Kandungan tindakan manusia, mis., tujuan-tujuan yang diinginkan dan cara-cara yang ditempuh serta peralatan yang diaplikasikan untuk mencapainya, ditentukan oleh kualitas setiap manusia yang bertindak. Manusia sebagai individu adalah produk evolusi zoologis yang telah membentuk warisan fisiologisnya. Ia terlahir sebagai keturunan dan pewaris dari moyangnya, dan segala proses presipitasi dan sedimentasi yang dialami pendahulunya menjadi warisan biologis baginya. Ketika ia dilahirkan, ia tidak memasuki dunia ini secara umum, melainkan dalam lingkingan tertentu yang definit. Kualitas-kualitas biologis tertentu yang turun kepadanyta dan apa yang telah diberikan kehidupan kepadanya membuat seorang manusia menjadi dirinya seketika saat penjiarahannya. Ia adalah nasib dan takdir. Keinginannya tidaklah &#8220;bebas&#8221; dalam artian metafisik. Keinginannya ditentukan oleh latar belakang dan semua pengaruh yang telah mengekspos dirinya maupun nenek moyangnya.</p>
<p>Faktor-faktor warisan dan lingkungan mengarahkan tindakan manusia. Keduanya juga menyuguhkan baik tujuan maupun caranya. Manusia hidup tidak semata-mata sebagai manusia dalam abstracto; ia hidup sebagai anak dari keluarganya, sukunya, bangsanya dan jamannya; ia hidup sebagai seorang penduduk negaranya, anggota kelompok sosial tertentu, praktisi pekerjaan tertentu, pengikut agama, filosofi, metafisika dan ide politik tertentu; sebagai partisan dalam banyak feuds dan kontroversi. Ia tidak mencipatakan sendiri gagasan-gagasan atau standar-standar nilainya; ia meminjam semua ini dari orang-orang lain. Ideologinya adalah apa yang diberikan lingkungan kepadanya. Hanya sedikit manusia yang diberikan kemampuan untuk memikirikan gagasan baru atau orisinil dan yang mampu mengubah kredo-kredo serta doktrin-doktrin tradisional.</p>
<p>Manusia-biasa tidak berspekulasi mengenai persoalan-persoalan besar. Sejauh menyangkut dirinya ia tergantung pada otoritas orang lain; ia berperilaku sebagaimana seharusnya &#8220;orang baik-baik&#8221;; ia ibarat seekor domba dari sekawanan ternak. Tepatnya, inersia intelektualnyalah yang menandai manusia biasa. Namun demikian, manusia biasa tetap memilih. Ia memilih mengadopsi pola-pola tradisional yang diadopsi orang-orang lain karena ia merasa yakin bahwa prosedur tersebut dirasa pas dengan apa yang ingin ia raih bagi kesejahteraannya sendiri. Dan ia siap mengubah ideologi ini, dan selanjutnya modus aksinya, manakala ia merasa yakin bahwa hal tersebut lebih sesuai dengan kepentingannya.</p>
<p>Kebanyakan tindakan manusia sehari-hari adalah hal rutin sederhana. Manusia melakukan tindakan-tindakan tertentu tanpa memberi perhatian istimewa. Ia melakukan banyak hal karena ia (dulu) terlatih sejak masa kecil untuk melakukannya, karena orang-orang lain melakukan hal serupa, dan karena sudah merupakan kebiasaan sehari-hari di lingkungannya. Ia mememeroleh sejumlah kebiasaan, dan mengembangkan reaksi-reaksi otomatis. Tetapi ia hanya akan mempertahankan kebiasaan-kebiasaan tersebut jika ia merasa senang dengan akibat-akibatnya. Begitu ia mendapati bahwa pengejaran terhadap kebiasaan ini menghalangi pencapaian tujuan yang dianggapnya lebih baik, maka ia akan mengubah sikapnya. Seseorang yang dibesarkan di daerah berair bersih akan memeroleh kebiasaan minum, mencuci, mandi tanpa berpikir panjang. Ketika ia pindah ke tempat yang airnya terpolusi dengan bakteri penyakit, ia akan mencurahkan perhatiannya dengan lebih hati-hati pada prosedur yang sebelumnya tak pernah mengganggunya. Ia akan secara permanen waspada agar tidak merugikan dirinya sendiri dengan cara bersenang-senang tanpa berpikir dalam rutinitas tradisional dan tindakan-tindakan otomatisnya. Kenyataan bahwa sebuah tindakan dalam peristiwa biasa dilakukan seolah-oleh spontan, tidak berarti ia bukan disebabkan oleh volition sadar dan oleh pilihan yang disengaja. Bersantai-santai dalam rutinitas yang memungkinkan untuk diubah adalah sebuah tindakan.</p>
<p>Praksiologi tidak berurusan dengan kandungan yang berubah dalam tindakan, melainkan dengan bentuk murninya dan struktur kategorisnya. Studi tentang ciri-ciri aksidental dan environmental dari tindakan manusia merupakan tugas disiplin sejarah.<br />
7. Cakupan dan Metode-Khusus Sejarah</p>
<p>Studi tentang semua data pengalaman mengenai tindakan manusia merupakan bidang sejarah. Sejarawan bertugas mengumpulkan dan menyaring dengan kritis semua dokumen yang tersedia. Atas dasar bukti inilah ia mendekati tugas aslinya.</p>
<p>Sebagaimana dikatakan orang, sejarah bertugas menunjukkan bagaimana peristiwa benar-benar terjadi, tanpa memaksakan prasuposisi dan nilai-nilai (wertfrei, atau netral dari penilaian). Laporan sejarawan seharusnya merupakan imaji yang setia dari masa lalu, semacam potret intelektual, berisi uraian lengkap dan tak bias mengenai fakta-fakta. Dia seyogyanya mereproduksi di depan mata intelektual kita masa lalu berikut segala fiturnya.</p>
<p>Masalahnya sekarang, reproduksi riil atas masa silam memerlukan duplikasi yang tidak mustahil bagi manusia. Sejarah bukan reproduksi intelektual, melainkan representasi singkat atas masa lalu secara konseptual. Sejarawan tidak semata-mata membiarkan peristiwa berbicara bagi dirinya sendiri. Ia menyiapkannya dari aspek ide-ide yang mendasari formulasi gagasan-gagasan umum yang muncul dan lantas yang ia pergunakan. Sejarawan tidak melaporkan fakta-fakta sebagaimana mereka terjadi dulu, melainkan hanya fakta-fakta yang relevan. Ia tidak mendekati dokumen-dokumennya tanpa prasuposisi, tetapi memperlengkapinya dengan seluruh aparatus dari pengetahuan ilmiah pada jamannya, dengan semua ajaran tentang logika matematika, dan ilmu-ilmu pengetahuan alam yang kontemporer.</p>
<p>Jelas bahwa sejarawan tidak boleh terbiaskan oleh prasangka-prasangka dan dogma-dogma partai. Para penulis yang menganggap peristiwa sejarah sebagai senjata untuk berperilaku curang bagi partai mereka, bukanlah sejarawan [sejati] melainkan kaum propagandis dan apologis. Mereka tidak tertarik pada pengetahuan, melainkan mencoba menjustifikasikan program partai mereka. Mereka memperjuangkan dogma-dogma metafisik, agama, nasional, politis atau sosial mereka. Mereka menyusupkan kata sejarah dalam tulisan-tulisan mereka ibarat orang buta yang ingin menipu orang yang mudah dikelabui. Seorang sejarawan pertama-tama harus berfokus pada kognisi. Ia harus membebaskan dirinya dari segala bentuk pemihakan. Ia harus dalam pengertian ini bersikap netral terhadap penghakiman nilai.</p>
<p>Postulat Wertfreiheit ini dapat dengan mudah dipenuhi dalam disiplin yang aprioristik-seperti logika, matematika, dan praksiologi-dan dalam bidang ilmu-ilmu pengetahuan alam eksperimental. Secara logis tidaklah sulit untuk menarik garis yang jelas antara perlakuan yang ilmiah dan tidak bias dari perlakuan yang sudah terdistorsi oleh berbagai takhayul, gagasan atau hasrat yang tersembunyi. Adalah jauh lebih sulit untuk memenuhi persyaratan untuk bersikap netral secara profesional dalam [disiplin] sejarah, sebab bidang kajian sejarah-yakni kandungan aksidental dan konteks lingkungan tindakan manusia yang konkret-merupakan penghakiman-penghakiman nilai dan proyeksi mereka terhadap realitas perubahan. Di setiap langkah kegiatan yang ditempuhnya, seorang sejarawan selalu berurusan dengan penentuan nilai. Penilaian-penilaian terhadap nilai manusia yang tindakannya ingin ia laporkan, merupakan sub-stratum dari penyelidikannya.</p>
<p>Sebagaimana telah dikatakan, seorang sejarawan sendiri tidak dapat menghindari penilaian atas nilai. Tidak ada seorang sejarawanpun&#8211;bahkan reporter koran atau pencatat fakta yang naif&#8211;yang mencatat fakta-fakta sebagaimana adanya. Ia harus diskriminatif; ia harus memilih peristiwa-peristiwa mana saja yang layak dicatat dan memilah yang mana yang harus dibungkam. Pilihan ini, konon, mengimplikasikan dalam dirinya sendiri sebuah penjatuhan nilai. Jadi merupakan persyaratan yang perlu dalam pandangan hidup sang sejarawan dan dengan demikian bukannya tidak berpihak, melainkan sebuah hasil dari gagasan yang telah terbentuk sebelumnya. Sejarah tidak kuasa untuk tidak mendistorsi fakta. Ia tidak pernah benar-benar ilmiah, dalam arti kenetralannya terhadap nilai dan hanya ingin menemukan kebenaran.</p>
<p>Tentu saja tidak dapat diragukan, bahwa keleluasaan dalam pemilihan fakta melalui tangan sejarawan dapat saja disalahgunakan. Pilihan sejarawan dapat, dan seringkali, didorong oleh bias partai politik. Namun demikian, masalah-masalah yang diangkat sejarah lebih rumit daripada apa yang doktrin popular ingin kita percaya. Solusi atas persoalan semacam ini harus dicari dengan menelaah metode sejarah secara saksama.</p>
<p>Saat berurusan dengan persoalan historis, sejarawan memanfaatkan semua pengetahuan yang disediakan oleh logika, matematika, disiplin-disiplin pengetahuan alam, dan khususnya praksiologi. Namun demikian, peranti mental yang dimiliki disiplin-disiplin non-historis ini tidaklah memadai bagi tugas sejarawan. Alat-alat tersebut merupakan auxiliaries yang tak terpisahkan bagi sejarawan, tetapi jawaban bagi pertanyaan-pertanyaan yang digeluti sejarawan tidak memungkinkan dicari di dalam alat-alat tersebut.</p>
<p>Perjalanan sejarah ditentukan baik oleh tindakan-tindakan para individu maupun akibat-akibat yang ditimbulkannya. Tindakan-tindakan ini ditentukan melalui penilaian yang dilakukan oleh individu-individu yang bertindak, yakni maksud atau tujuan yang ingin mereka capai dan segala cara yang diaplikasikan bagi pencapaiannya. Pilihan atas cara merupakan hasil dari keseluruhan bentuk pengetahuan teknologi yang dimiliki pelaku-pelaku tindakan tersebut. Dalam banyak hal, akibat dari suatu cara yang diterapkan dapat diapresiasi melalui sudut pandang praksiologi atau sudut pandang disiplin pengetahuan alam. Namun, tetap saja, masih banyak yang harus dijelaskan yang tidak disediakan oleh pertolongan semacam itu.</p>
<p>Tugas khusus sejarah, dengan metodenya yang juga khusus, adalah mengkaji penjatuhan nilai kepada akibat-akibat segala tindakan yang tidak mampu dianalisis oleh cabang-cabang ilmu pengetahuan lain. Persoalan sejati bagi sejarawan adalah untuk selalu menginterpretasikan apa yang terjadi, Namun ia tidak dapat memecahkan persoalan ini dengan mengandalkan teorema-teorema yang berasal dari disiplin lain. Selalu tinggal di dasar setiap dasar dari persoalan yang dihadapinya, sesuatu yang menolak analisis berdasarkan ajaran ilmu-ilmu pengetahuan alam. Individualitas dan keunikan ciri setiap peristiwalah yang dipelajari melalui pemahaman.</p>
<p>Keunikan atau individualitas yang tertinggal dalam setiap fakta sejarah, ketika semua cara interpretasi yang dimungkinkan oleh logika, matematika, praksiologi dan ilmu-ilmu pengetahuan alam telah terpakai semua, merupakan data ultimat. Sementara ilmu-ilmu pengetahuan alam tidak dapat berkata apa-apa mengenai data ultimat mereka selain bahwa mereka memang data ultimat adanya, sejarah dapat mencoba membuat datanya lebih dapat dipahami. Meskipun mustahil mereduksi data mereka hingga ke faktor-faktor penyebabnya (ya kalau masih bisa direduksi namanya bukan data ultimat dong)-sejarawan dapat memahami mereka karena ia sendiri pada hakikatnya juga manusia. Dalam filsafat Bergson pengertian ini disebut sebagai intuisi, mis., &#8220;la sympathie par laquelle on se transporte a l&#8217;interieur d&#8217;un objet pour coïncider avec ce qu&#8217;il a d&#8217;unique et par consequent d&#8217;inexprimable.&#8221;  Epistemologi Jerman menyebutnya sebagai das spezifische Verstehen der Geisteswissenschaften, atau Verstehen saja. Metode ini selalu diterapkan semua sejarawan dan orang-orang untuk mengomentari peristiwa manusia di masa lalu dan dalam meramalkan masa depan. Penemuan dan delimitasi akan pengertian merupakan salah satu kontribusi terpenting dari epistemologi modern. Hal tersebut, tentu saja, bukan proyek bagi sains baru yang belum ada dan baru akan dibangun; dan bukan pula rekomendasi akan metode baru tentang prosedur ilmu pengetahuan apapun yang sudah ada.</p>
<p>Pemahaman ini tidak boleh dikacaukan dengan persetujuan terhadapnya, baik itu yang bersifat kondisional maupun yang circumstantial. Sejarawan, etnologis, dan psikolog kadang meregistrasikan tindakan-tindakan yang, bagi mereka sendiri, menjijikkan dan mengerikan; mereka memahami semuanya sebagai tindakan-tindakan, misalnya dalam memastikan tujuan-tujuan yang mendasarinya, dan metode-metode praksiologis dan teknologis yang diaplikasikan bagi pengeksekusiannya. Memahami sebuah kasus individual tidak berarti menjustifikasi atau memaafkannya.</p>
<p>Demikian pula, pemahaman tidak boleh dikacaukan dengan kesenangan estetik terhadap fenomena. Empati (Einfühlung) dan pemahaman adalah dua sikap yang berbeda secara radikal. Memahami sebuah karya seni secara historis, menentukan tempat, makna dan nilai pentingnya dalam aliran peristiwa-peristiwa di satu sisi, dan menghargai karya seni tersebut secara emosional di sisi yang lain, adalah dua hal berbeda. Seseorang dapat melihat sebuah gereja katedral dengan mata sejarawan. Orang lain dapat melihat gereja yang sama sebagaimana seorang penggemar yang antusias, atau sebagai orang yang sama sekali acuh tak acuh tanpa terpengaruh sama sekali. Orang-orang yang sama tersebut dapat memiliki kedua modus reaksi, baik berupa penghargaan estetik maupun yang berupa pemahaman ilmiah.</p>
<p>Pemahaman akan hal tersebut membangun fakta bahwa seorang individu atau sekelompok individu telah melibatkan diri dalam sebuah tindakan tertentu yang timbul dari penilaian, pilihan dan tujuan tertentu, dan bahwa mereka telah mengaplikasikan, demi pencapaian tujuan-tujuan tersebut, cara tertentu yang disodorkan oleh doktrin-doktrin teknologis, terapetis, dam praksiologis. Pemahaman ini selanjutnya mencoba mengapresiasikan efek dan intensitas efek yang ditimbulkan sebuah tindakan; dia menetapkan relevansi setiap tindakan-misalnya, seberapa pengaruhnya terhadap perjalanan peristiwa.</p>
<p>Cakupan pemahaman merupakan tangkapan mental terhadap fenomena yang tidak mampu sepenuhnya dijelaskan oleh logika, matematika, praksiologi, dan ilmu-ilmu alam karena memang hal tersebut memang tidak dapat dijelaskan oleh semua sains ini. Cakupan pemahaman tidak boleh sekalipun bersifat kontradiktif terhadap ajaran-ajaran semua cabang pengetahuan tersebut.  Keberadaan korporeal riil dari ruh jahat dibuktikan melalui dokumen historis yang tak terhitung jumlahnya, dan yang yang dalam hal lain sebenarnya cukup andal. Banyak pengadilan, dalam menjalankan proses hukum atas dasar testimoni para saksi dan pengakuan tertuduh, telah mencoba membangun fakta bahwa ruh jahat telah bercengkerama dengan tukang sihir. Namun demikian, pemahaman tidak dapat dipakai sebagai justifikasi upaya seorang sejarawan dalam mengukuhkan pandangannya tentang keberadaan ruh jahat dan interferensi ruh tersebut kepada peristiwa-peristiwa manusia, selain dalam gambaran visi seorang manusia yang benaknya terlalu bersemangat.</p>
<p>Meskipun hal ini pada umumnya diterima dalam kaitannya dengan ilmu-ilmu pengetahuan alam, ada beberapa sejarawan yang mengadopsi sikap berbeda dalam kaitannya dengan teori ekonomi. Mereka mencoba menentang teorema-teorema ekonomi melalui appeal terhadap sejumlah dokumen yang dianggap membuktikan inkompatibilitas teorema-teorema ekonomi. Mereka tidak menyadari bahwa fenomena yang kompleks tidak dapat membuktikan ataupun membantah teorema apapun dan oleh karenanya tidak dapat dijadikan bukti untuk menentang pernyataan apapun tentang suatu teori. Sejarah ekonomi dimungkinkan hanya dengan adanya teori ekonomi yang mampu menjelaskan tindakan-tindakan ekonomi. Tanpa teori ekonomi, laporan mengenai fakta ekonomi menjadi tidak lebih dari sekadar sekumpulan data lepas yang terbuka bagi berbagai penafsiran yang abritrer.</p>
<p>(Bersambung ke Bagian 2)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://akaldankehendak.com/?feed=rss2&amp;p=47</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
