Catatan kaki di artikel tentang Empirisme, Praksiologi dan Kepastian Pengetahuan baru saya mutakhirkan, dengan menyitir ‘justifikasi’ filosofis terhadap tilikan sederhana saya tentang peran emosi vs. akal dalam kehidupan. Ini saya dapat dari artikel cemerlang berjudul Can We Be Free if Reason is the Slave of the Passions? dari Frank van Dun.
Di artikel ini juga Prof. Dun memberi titik terang yang tidak kalah penting (!) terhadap persoalan klasik is-ought yang pernah dilemparkan Hume (telaah teks Dun ini melengkapi solusi praksiologis Rothbardian di Ethics of Liberty-nya):
“Hume’s poison, like the scorpion’s is in the tail. Nowhere has he argued that ought cannot be “perceived by reason.” All he has done is point to the elementeray fact that is and ought are different relations. ‘ (Dun, hal. 33)
Kajian teks asli Hume, lengkap dengan anotasinya, dapat diambil dari situs ini.
[Update 20:35: Dan jawaban penting Dun terhadap pertanyaan yang dijadikannya judul bagi eseinya di atas adalah: Tidak. Gagasan David Hume yang sarat kekeliruan bukan termasuk argumentasi filosofis pendukung Kebebasan. ]
Tulisan lain yang mungkin terkait:
thanks! adakah link lain yg terkait tinjauan filsafat empiris? semisal Locke.
selain Locke, Hume. Barangkali yg perlu disorot lagi adalah Comte. Pendiri Positivisme serta sosiologi ini kelihatannya belum cukup mendapat sorotan.
Padahal “standart ilmiah” ilmu sosial saat ini masih banyak yg menganut Comteisme.
Terima kasih Oom Giy! Kalau sempat saya turunkan besok siang esei singkat ttg problem ‘ultimat’ ilmu sosial. hiiy…! (Hitung-hitung sekalian menanggapi Bung Zain di Kalimantan.)