Jurnal Kebebasan: Akal dan Kehendak
Volume II Edisi 42, Tanggal 11 Agustus 2008
Oleh: Sukasah Syahdan
Koran Kompas dalam beberapa hari terakhir telah menurunkan beberapa tulisannya yang merayakan kebangkitan neososialisme di Amerika Latin.
Di artikel terakhir (11/08/08), fokusnya adalah pada presiden terpilih Paraguay, Fernando Lugo, yang menyusul pemimpin sosialis lainnya seperti Hugo Chavez (Venezuela) dan Evo Morales (Bolivia). Sebelumnya (10/08/08) penulis yang sama menyoroti kesamaan latar belakang kebangkitan sosialisme di wilayah tersebut. Dikatakan bahwa gerakan sosialisme baru di Amerika Latin adalah hasil upaya “merevisi model kapitalisme yang buas.” Selain Kolombia, El Salvador, dan Peru, seluruh negara Amerika Latin sedang berada dalam orkes besar memainkan simfoni sosialisme baru. Dalam bayangan saya, penulis artikel-artikel tersebut dan orang-orang di balik penerbitannya sedang ikut berdendang bersama.
Apakah sesungguhnya yang sedang dirayakan? Bahwa Lula da Silva di Brasil memenangi dukungan bukan cuma dari Partai Buruh dan Partai Komunis, tapi juga dari ratusan organisasi sosial termasuk komunitas Gereja? Bahwa Chavez di Venezuela mendapat dukungan massa dan melanggengkan hegemoni massa dengan politik petrodollar-nya? Atau Evo Morales di Bolivia, yang didukung para petani, suku-suku asli, ditambah politik kedaulatan energi lewat nasionalisasi perusahaan gas alam dan minyak yang tadinya dikuasai perusahaan multinasional? Atau bahwa di Ekuador Rafael Correa berpijak dan bersandar pada gerakan sosialis suku-suku asli setempat? Di Uruguay, Tavare Vazquez mendapat dukungan dari kelompok sosialis anti-imperium sang adidaya?
Setelah dukungan didapat, so what? Apa yang akan dilakukan untuk meningkatkan perekonomian? Inilah aspek-aspek yang perlu disoroti dan dianalisis secara mendalam: program-program perubahan, yang perlu kita catat dan perbandingkan, hingga kita dapat membuktikan kebenaran suatu teori, atau membedakan janji dari kebohongan.
Apapun program-program mereka, kedua artikel tersebut tidak menjelaskan banyak, selain misalnya pernyataan bahwa “perut rakyat tidak bisa dikenyangkan dengan ideologi dan retorika politik, tapi dengan mencukupi kebutuhan pokok.” Kita bisa dimengerti, mengingat keterbatasan sebuah surat kabar. Lagi pula, Kompas sempat melaporkan bahwa Presiden Paraguay Lugo yang terpilih April lalu, kabarnya diperkirakan akan memulai depolitisasi lembaga hukum formal untuk mengatasi korupsi di jajaran birokrasi–kurang-lebih mirip dengan apa yang dilakukan SBY, hampir 4 tahun lalu.
Saya bayangkan hal yang sedang terjadi di satu negara Amerika Latin tersebut terjadi juga di negeri ini–tahun depan, lewat perhelatan yang mahal. Bedanya, para pemimpin dan penulis di koran-koran tidak akan menggunakan kata ini: sosialisme, atau neososialisme. (Sebab sistem perekonomian kita tetap adanya: ekonomi Pancasila.). Kesamaannya, setiap partai politik hanya menjalankan politik golongannya masing-masing.
Partai-partai politik, di mana pun berada, memang tidak lain dan tidak bukan adalah kelompok-kelompok kepentingan semata. Terlalu naif mengharapkan mereka memikirkan kepentingan nasional. Hal semacam ini hanya dapat diupayakan dan diperjuangkan oleh individu-individu yang non-partisan.
Mengingat pragmatisme partai-partai politik, maka nyaris sia-sia mengingatkan, bahwa kebijakan ekonomi yang baik tidaklah berpihak pada segolongan orang. Atau bahwa romantisme tidak akan mengurangi kemiskinan. Penargetan tingkat kemiskinan sebesar nol adalah ide konyol dari orang-orang yang tidak mengerti persoalan sosial, dan dapat dipastikan akan mengecewakan. Yang terutama dan terpenting bagi parpol adalah memenangkan pemilu dan menempatkan penguasa dari golongannya. Titik. (Secara pribadi, saya memerlukan waktu yang relatif panjang untuk menyadari hal ini.)
Terkait dengan eforia neososialisme Amerika Latin, artikel singkat ini ingin mengingatkan sebagian dari kita, yang mungkin saja tergiur untuk meniti jalan yang sama, bahwa problem utama sosialisme adalah bahwa dia tidak memiliki kemampuan kalkulasi. Sesungguhnya, ini adalah kristalisasi teori yang telah dikenal dan diterima, melalui pemikiran Mises dan Hayek, secara cukup luas oleh para ekonom yang obyektif.
Ketika negara menguasai perekonomian, dapat dipastikan hal tersebut akan jauh dari efisiensi; dan pemerintah tidak mempunyai feel tentang untung/rugi, sebab dia selalu dapat, kapan saja dia mau, menambal defisit lewat pajak atau utang–dan menggerus pendapatan rakyat. Ini adalah tilikan-tilikan teoritis dari ilmu ekonomi, yang mengandung kekuatan kausal serupa kekuatan hukum-alam.
Di satu sisi, saya cukup senang surat kabar terbesar Indonesia, lewat salah seorang penulisnya, telah menunjukkan jati diri dan warna ideologisnya. Di sisi lain, saya merasa ini kesempatan emas bagi kita untuk menjadi saksi mata terhadap apa yang benar-benar akan diperoleh rakyat kebanyakan dari sosialisme, intervensionisme, neososialisme-di negara-negara Amerika Latin tersebut dan di dalam negeri. Dalam dua atau tiga tahun saja, kita mungkin sudah dapat meraba indikasinya-dan kita akan dapat membandingkannya dengan eforia yang terekam dalam artikel ini.
Bagi sebagian kita, mungkin ini satu-satunya cara untuk menangkap intisari pelajaran ekonomi dan hakikat politik. [ ]
Tulisan lain yang mungkin terkait:
@Giy,
Biasa lah, pada akhir Kondratiff cycle (Kondratiff winter) akan muncul banyak fasisme, perang….., dsb. Kondratiff cycle adalah siklus ekonomi yang mempunyai period 55-70 tahun per siklus. Kondratiff winter terakhir pada tahun 1930an (di US dimulai dari thn 1929). Tahun 20an sudah pada peaknya (summer/autum). Muncul Hitler, Mussolini, Lenin, Stalin……FD Roosevelt (yg ini menyita emas warga US… he he he…) … dan akhirnya perang dunia II.
Untuk saat ini bukan hanya di Amerika Selatan, tetapi US dan UK. Bail out beberapa bank yang kolaps adalah ciri negara sosialis….
Apakah kita akan mengalami perang besar seperti PD II….. diakhir Kondratiff winter? entahlah.
Bulan ini saya sengaja pindah berlangganan "kompas". Sebelumnya saya berlangganan SM Jawa Tengah. Ya berharap dapat info yg lebih lengkap mengenai wacana nasional. Eh, tapi malah dapatnya tulisan2 sosialis!
berat2….
Bung IS, peluang bahaya tsb rasanya tetap ada; malah cukup besar–kalau tidak, ngapain individu-individu seperti bung IS dan Giy cape-cape-de menyoroti bahaya kolektivisme+sosialisme meski tanpa sekepeng bayaran dari siapapun. Cuma saya agak keberatan dengan rembesan filsafat Marxist ttg 'determinisme sejarah' yang sepertinya mungkin tersirat dalam tanggapan Anda–atau saya saja yang kelewat sensitif? History doesn't repeat itself; only historians repeat each other
Pemakaian istilah2 tertentu memang sering membingungkan. Tapi menurut saya, intinya kita harus memahami secara rinci elemen2 yg menggerakan perekonomian.
semisal munculnya harga, teori bunga, munculnya uang, sifat-sifat pertukaran, dan jenis2 lain yg membentuk sistem perekonomian secara utuh.
Tapi setelah saya mempelajari sebagian kecil dari konsep2 anarcho-kapitalis. Yg paling menyedihkan, mereka lebih “Islami” daripada sistem yg kita terapkan saat ini (walaupun mayoritas org Indonesia konon katanya beragama “Islam”).
kalau demikian….sementara pertanyaan dalam pikiran saya ttg hal2 tersebut masih belum terjawab. Mengapa ya kok bisa seperti itu?
rembesan filsafat ala marxist yang dikemukakan sebagai perulangan perulangan sejarah itu, mungkin saja pantas anda "beratkan".
tetapi itu empirisme..? betul demikian ..?
mungkin jika "modus pertimbangan" dan atau analisa terhadapnya kita pakai (saja) sebagai "petatah petitih" , variabel untuk catatan kaki.
apa benar demikian (kah) maksud bung Syahdan ..?
mohon maaf sebelumnya, jika berkenan.
salam
"selalu mengunjungi"
Umar C'yaham
Pemimpin populis memang memenangkan hati pemilih, tapi kebanyakan tidak menyelesaikan masalah.
Tentang ekonomi di negara kita, bukannya 'ekonomi kerakyatan'? Saya sendiri ndak jelas istilah ini, namun setelah saya telusuri dari tulisan Prof Mubyarto, dia lebih suka menyebut diri 'ekonomi rakyat'. Beberapa tulisan, selaras dengan kapitalisme (seperti penghapusan tata niaga komoditas), tapi di banyak tempat, merupakan bentuk sosialisme sejati.
@ Umar C’yaham:
1) Sebelum ilmu ekonomi berkembang, siklus ekonomi pernah diisukan sebagai akibat dari kapitalisme. (Para Austrians menunjukkan kekeliruan tsb. lewat teori siklus bisnisnya, teori ABC). Marx me-reintroduksi konsep determinisme sejarah, lalu melabelnya dg istilah ‘scientific’, dan menyebut orang2 yang tidak setuju dgnya sebagai para borjuis, musuh yang harus dibasmi oleh proletariat.
2) Mises bilang: Empirisme+positivisme tdk bisa dipakai untuk menjelaskan fenomena TINDAKAN MANUSIA, yang senantiasa kompleks. Kajian yang menyamakan fenomena alam dengan fenomena manusia adalah usaha saintistik; buta.
Nad bilang: Siklus kehidupan yang terjadi pada seorang Cy di bulan Agustus di tahun x atau y tahun yang lalu tidak akan berulang dengan datangnya Agustus tahun ini atau tahun-tahun lain
“teori”siklus bisnis? saya ada bukti objektifnya
perdamaian adalah efek alamiah dari perdagangan.maksudnya jelas perdagangan yang bebas tanpa embel2 intervensi.
kapitalisme sudah merupakan fitrah manusia,apabila fitrah ini ada intervensi/tentangan dari internal(diri sendiri)ya dampaknya tekanan batin,sedangkan intervensi/tentangan dari eksternal dampaknya ya dibidang ekonomi boom/bust he..he..he dan juga seperti katanya Mau Tes IQ (Montesque)ane kutip dari koran SINDO
biasanya yang memilih fakultas hukum nalarnya lebih kuat ketimbang berhitungnya,seperti kakek Mises yg lulusan hukum.pantas saja subyektifitasnya kritis dan menjauhi quantitatif approach dalam karya karyanya.
kalu menurut ane analisis ekonomi itu 2:1 dua benar : satu salah. karena unsur ekpektasi mayoritas dalam siklus kolektif/makro probabilitasnya lebih besar akan berulang terjadi pada masa depan.
wah..wah… kalau anda memang menghargai objektifitas maka titik pandang deterministik anda cukup membingungkan..
saya tidak memungkiri adanya aspek rasional dan irrasional dalam kapitalisme.. memang selama manusia memiliki kebutuhan yang harus dipenuhi dan selama manusia menggunakan sistem moneter dalam pemenuhan kebutuhan-nya manusia tidak akan lepas dari kapitalisme, dan kapitalisme akan menjadi dimensi esensial dalam kehidupan-nya. saya rasa, penjelasan kuantitatif teori-teori ekonomi yang bertolak dari asumsi manusia sebagai ‘homo economicus’ kadang mereduksi unsur-unsur kualitatif irrasional manusia sebagai mahluk yang dinamis.
yang ingin saya tanyakan adalah..
apakah anda bisa menjelaskan mengapa sekarang kesenjangan terlihat begitu mencolok..
mengapa perdagangan bebas tanpa intervensi pemerintah tetap tidak mereduksi kesenjangan..
saya lihat di venezuela terdapat stan makan gratis bagi rakyat-nya yang kelaparan
di venezuela terdapat institusi kesehatan gratis bagi masyarakatnya
di venezuela masyarakat menyadari hak-haknya sebagai warga negara dan mendapatkan realisasi kongkrit-nya
apakah kedewasaan macam itu ada di pemerintahan kita?
paling tidak dari yang saya lihat.. kebangkitan sosialisme di amerika latin membuktikan satu hal..
bahwa history did not end with liberalism and capitalism-nya fukuyama
sejarah manusia masih berada dalam proses..