Epistemologi

Persoalan-Persoalan Epistemologis dalam Ilmu-Ilmu Pengetahuan yang Mengkaji Tindakan Manusia

| Ludwig von Mises |

Pengantar: Artikel ini berasal dari Bab II buku Ludwig von Mises, Human Action, Edisi Khusus. Diterjemahkan oleh Sukasah Syahdan untuk diterbitkan di Jurnal Kebebasan: Akal dan Kehendak. Versi hasil pemutakhiran 22 Mei, 2008 ini dapat diunduh di: http://akaldankehendak.com.

alt textLudwig von Mises

1. Praksiologi dan Sejarah

ADA dua cabang utama ilmu pengetahuan mengenai tindakan manusia: praksiologi dan sejarah. Sejarah adalah kumpulan dan susunan sistematis semua data pengalaman mengenai tindakan manusia. Sejarah berurusan dengan kandungan konkret tindakan manusia. Ilmu ini mengkaji usaha manusia dalam segenap multiplisitas dan variasinya yang tidak terbatas, serta tindakan individual dengan segala implikasinya, baik yang sifatnya kebetulan, khusus maupun khas. Sejarah meneliti gagasan-gagasan yang menuntun manusia dalam melakukan tindakan serta hasil dari tindakan yang dilaksanakan. Ia meliputi semua aspek kegiatan manusia. Dalam satu sisi ia mungkin berupa sejarah umum dan di sisi lain berupa sejarah dari berbagai bidang yang lebih sempit. Ada, misalnya, sejarah tentang tindakan politis dan militer, tentang ide-ide dan filsafat, tentang kegiatan ekonomi, tentang teknologi, tentang kesusastraan, seni dan ilmu pengetahun, tentang agama, tentang adat istiadat dan kebiasaan, dan tentang banyak lagi dalam ranah kehidupan manusia. Ada etnologi dan antropologi, sejauh tidak dianggap bagian dari biologi, dan ada pula psikologi, sejauh tidak dianggap fisiologi atau epistemologi atau filsafat. Ada juga linguistik, sejauh tidak dianggap bagian dari logika atau fisiologi penuturan.

Bidang kajian semua ilmu pengetahuan historis adalah masa lalu. Semua ilmu tersebut tidak dapat mengajarkan kita apa-apa yang dapat dianggap sahih mengenai tindakan manusia; termasuk juga untuk kepentingan masa depan. Kajian sejarah [dapat] membuat manusia menjadi bijaksana dan waspada, tetapi melalui dirinya sendiri sejarah tidak menawarkan pengetahuan atau keterampilan apa-apa untuk menangani pekerjaan-pekerjaan yang konkret.

Ilmu-ilmu pengetahuan alam juga berurusan dengan peristiwa lampau. Setiap pengalaman adalah pengalaman atas sesuatu yang sudah berlalu; tidak ada pengalaman atas kejadian di masa depan. Namun, yang membuat ilmu-ilmu alam memperoleh suksesnya adalah pengalaman dari eksperimen di mana elemen-elemen perubahan dapat diamati dalam isolasi. Fakta-fakta yang terkumpul dalam cara ini kemudian dapat dipergunakan untuk [proses] induksi, prosedur inferensi khas yang telah memberikan bukti pragmatis tentang kepraktisan ilmu pengetahuan alam, meskipun karakterisasi epistemologisnya masih menjadi persoalan yang belum terpecahkan.

Pengalaman yang harus digeluti ilmu-ilmu pengetahuan yang mengkaji tindakan manusia selalu berupa fenomena kompleks. Percobaan laboratorium tidak memungkinkan penelitian terhadap tindakan manusia. Kita tidak pernah berada dalam satu posisi yang memungkinkan kita mengamati perubahan yang terjadi pada satu elemen saja, sementara kondisi lain dari peristiwa yang diteliti dianggap tidak berubah. Pengalaman historis sebagai sebuah pengalaman atas fenomena yang komples tidak memberi kita fakta-fakta dalam pengertian yang dipakai dalam ilmu pengetahuan alam guna menandai peristiwa-peristiwa yang sudah terisolasi dan diuji dalam percobaan. Informasi melalui pengalaman historis tidak bisa dijadikan landasan untuk membangun teori dan memprediksi peristiwa masa depan. Setiap pengalaman historis terbuka bagi berbagai penafsiran dan pada kenyataannya memang dapat ditafsirkan dalam berbagai cara.

Itulah sebabnya mengapa postulat-postulat yang dilahirkan positivisme dan beberapa aliran metafisik merupakan ilusi yang mengecoh. Ilmu-ilmu pengetahuan tentang tindakan manusia tidak mungkin direformasi menurut pola-pola fisika atau ilmu alam lainnya. Tidak terdapat cara untuk membangun suatu teori yang a posteriori tentang perilaku manusia dan peristiwa sosial. Sejarah dapat membuktikan atau menyangkal suatu pernyataan umum dengan cara yang diterapkan dalam ilmu-ilmu pengetahuan alam ketika mendukung atau menolak hipotesis atas dasar pengujian laboratorium. Terhadap proposisi umum mengenai tindakan manusia, verifikasi ataupun sanggahan berdasarkan uji laboratorium tidak mungkin dilakukan.

Fenomena kompleks, yang terbentuk atas pertautan rantai sebab-akibat, tidak dapat menguji teori apapun. Justru sebaliknya, fenomena kompleks hanya bisa dimengerti melalui interpretasi berdasarkan pemahaman teori-teori lain yang telah dikembangkan sebelumnya dari sumber-sumber lain. Dalam hal fenomena alamiah, interpretasi terhadap peristiwa tidak harus bertentangan dengan teori yang sudah teruji secara memuaskan melalui eksperimen. Dalam hal peristiwa historis tidak dikenal batasan yang seperti itu. Para komentator dapat saja berlindung di balik penjelasan yang arbitrer. Ketika harus menjelaskan sesuatu, pikiran manusia tidak pernah kehilangan daya untuk menciptakan teori ad hoc rekaan, meskipun justifikasi logisnya tidak tersedia.

Di bidang sejarah manusia, keterbatasan serupa dengan yang dialami teori-teori (yang telah diuji melalui eksperimen) dalam usahanya untuk menafsirkan dan menjelaskan peristiwa-peristiwa fisika, kimiawi, dan fisiologis, juga diberikan oleh praksiologi. Praksiologi adalah ilmu pengetahuan yang teoritis dan sistematik, tetapi non-historis. Cakupan praksiologi adalah tindakan manusia itu sendiri, tanpa memandang keadaan lingkungan atau faktor-faktor kebetulan dan individual dari tindakan-tindakan yang konkret. Kognisinya murni bersifat formal dan umum, tanpa mengacu pada kandungan material dan ciri-ciri khusus dari contoh kasus aktual. Tujuannya adalah pengetahuan yang sahih bagi setiap keadaan di mana kondisinya berkorespondensi secara tepat dengan hal-hal yang terimplikasi dalam asumsi-asumsi dan inferensi-inferensi. Segala pernyataan dan proposisi dalam praksiologi tidak diturunkan dari pengalaman. Pernyataan dan proposisi dalam praksiologi, seperti halnya dalam logika dan matematika, bersifat a priori. Pernyataan dan proposisinya bukan subyek untuk dibuktikan atau disanggah atas dasar pengalaman dan fakta. Dia secara logis maupun temporal bersifat mendahului (antecedent) setiap pemahaman fakta-fakta historis. Pernyataan dan proposisi ini merupakan syarat-perlu bagi pemahaman intelektual terhadap pengalaman-pengalaman historis. Tanpanya, kita tidak akan dapat melihat apa-apa di sepanjang terjadinya peristiwa selain perubahan yang kaleidoskopik serta ketidakteraturan yang kacau.
2. Karakter Formal dan Aprioristik dari Praksiologi

Salah satu kecenderungan modis dalam filsafat dewasa ini adalah berupa penyangkalan terhadap keberadaan pengetahuan yang sifatnya a priori. Argumentasinya: semua pengetahuan manusia diperoleh dari pengalaman. Sikap demikian dapat dengan mudah dimengerti sebagai reaksi yang berlebihan terhadap ekstravaganza teologi dan filsafat-gadungan terhadap sejarah dan ilmu-ilmu alam. Dengan mengandalkan intuisi, para metafisikawan bersemangat untuk menemukan prinsip-prinsip dasar atau ajaran-ajaran moral, makna evolusi historis, sifat-sifat jiwa dan zat, dan hukum-hukum yang mengatur peristiwa-peristiwa fisikawi, kimiawi, dan fisiologis. Spekulasi mereka yang berubah-ubah terwujud dalam keluputan gegabah mereka akan arti pengetahuan yang sesungguhnya. Mereka meyakini bahwa, tanpa mengacu kepada pengalaman, akal dapat menjelaskan semua hal dan menjawab semua pertanyaan. Sukses ilmu-ilmu pengetahuan alam modern terletak pada metode observasi dan percobaan mereka. Tidak ada keraguan bahwa empirisme dan pragmatisme itu benar sejauh mereka menggambarkan prosedur-prosedur yang dipakai dalam ilmu pengetahuan alam. Namun satu hal yang tidak kalah pastinya adalah bahwa mereka sangat keliru ketika menolak segala jenis pengetahuan yang a priori dan mengkarakterisasikan ilmu logika, matematika dan praksiologi sebagai disiplin-disiplin empiris dan eksperimental, atau hanya sebagai tautologi belaka.

Dalam hal praksiologi, kekeliruan para filsuf tersebut disebabkan oleh ketidaktahuan mereka sama sekali terhadap ilmu ekonomi dan seringkali karena pengetahuan mereka akan sejarah, dan hal ini cukup mengejutkan, tidak memadai. Di mata para filsuf ini isu-isu filosofis ini harus diperlakukan oleh sebuah profesi yang subklim dan agung, dan tidak boleh diberikan pada jenis pekerjaan tingkat rendah. Profesor akan merasa gusar akan fakta bahwa penghasilannya dihasilkan dengan cara berfilosofi; ia akan tersinggung dengan pemikiran bahwa ia mencari uang seperti artisan dan pekerja di ladang. Persoalan-persoalan moneter dianggap sebagai hal buruk, dan filsuf yang melakukan investigasi terhadap persoalan-persoalan utama tentang kebenaran dan nilai-nilai abadi tidak seharusnya mengotori pikiran dengan memperhatikan masalah-masalah ilmu ekonomi.

Persoalan ada atau tidaknya elemen-elemen pikiran yang apriori-seperti kondisi-kondisi intelektual yang diperlukan dan tak terelakkan untuk berpikir, yang bersifat anterior terhadap setiap momen aktual konsepsi dan pengalaman–tidak dapat dicampur-adukkan dengan masalah genetis seputar cara manusia memperoleh kemampuan mentalnya yang khas dan manusiawi. Manusia diturunkan dari nenek moyang non-manusia yang tidak memiliki kemampuan tersebut. Nenek moyang manusia dianugerahi potensialitas yang selama berabad-abad perjalanan evolusi mengubahnya menjadi makhluk yang berakal. Pencapaian transformasi ini dipengaruhi oleh perubahan lingkungan kosmik yang beroperasi secara terus-menerus dari satu generasi ke generasi selanjutnya. Demikianlah kaum empiris menyimpulkan bahwa prinsip fundamental akal pikiran adalah hasil dari pengalaman dan merepresentasikan adaptasi manusia terhadap kondisi lingkungannya.

Jika ditelusuri secara konsisten, gagasan ini selanjutnya membawa pada kesimpulan bahwa, sejak masa nenek moyang pra-manusia hingga masa homo sapiens, terdapat berbagai tahap peralihan. Di masa lalu ada makhluk yang, meskipun tidak dibekali dengan kemampuan akal manusia, memiliki elemen-elemen dasar rasionisasi. Pikiran mereka belum logis, melainkam masih pra-logis (atau logis namun kurang sempurna). Fungsi-fungsi logis mereka yang masih belum terfokus dan belum efektif berevolusi selangkah demi selangkah dari keadaan pre-logis menuju keadaan logis. Akal budi, intelek, dan logika adalah fenomena historis. Ada sejarah logika; ada juga sejarah teknologi. Tidak ada tanda-tanda yang menyatakan bahwa logika sebagaimana yang kita kenal saat ini merupakan tingkatan terakhir atau final dalam evolusi intelektual. Logika manusia merupakan fase historis antara non-logis pra-manusia di satu sisi serta logis dan super-manusia di sisi lain. Akal budi dan pikiran, alat yang paling efektif yang dimiliki makhluk manusia dalam perjuangan demi kelangsungan hidupnya, terpatri dalam aliran berkelanjutan dari peristiwa-peristiwa zoologis. Mereka tidak bersifat kekal ataupun tak-dapat berubah. Mereka sementara.

Selanjutnya, tidak diragukan bahwa setiap manusia dalam proses evolusi personalnya saja mengalami berulang kali tidak saja metamorfosis fisiologis dari sel sederhana menjadi organisme mamalia yang amat rumit, melainkan juga metamorfosis spiritual, dari keberadaan yang murni vegetatif dan hewani, menjadi makhluk berakal. Transformasi ini tidak selesai di masa pra-lahir embrio, melainkan hanya kelak ketika bayi yang baru-lahir selangkah demi selangkah terjaga dalam kesadaran manusiawi. Setiap manusia di awal-awal keberadaannya, mulai dari kedalaman kegelapan, berkembang melalui berbagai keadaan terkait struktur logis pikirannya.

Kemudian, ada pula kasus tentang hewan. Kita sepenuhnya menyadari adanya jurang yang tak-terseberangi, yang memisahkan akal kita dari proses reaktif otak dan syaraf pada hewan. Namun, di saat yang sama kita menduga bahwa dorongan-dorongan yang berjuang hebat di diri hewan menuju cahaya pemahaman. Hewan ibarat tahanan yang gelisah berupaya melepaskan diri dari nasibnya yang gelap abadi dan dari otomatisme yang tak terelakkan. Kita dapat bersimpati kepadanya karena kita sendiri berada dalam posisi yang serupa: dalam kesia-siaan melawan keterbatasan peranti intelektual kita, dan dalam mencari kesempurnaan kognisi yang tidak dapat dicapai.

Namun, persoalan tentang sesuatu yang a priori memiliki karakter lain. Dia tidak berurusan dengan masalah bagaimana asal mula munculnya kesadaran dan akal. Dia mengacu pada karakter yang esensial dan harus ada bagi struktur logis pikiran manusia. Hubungan-hubungan logis yang fundamental bukanlah sesuatu yang harus dibuktikan atau disangkal. Setiap upaya untuk membuktikan hubungan-hubungan logis ini niscaya mem-prasuposisi-kan kesahihannya. Hubungan-hubungan logis ini tidak mungkin dijelaskan kepada makhluk yang tidak memiliki hubungan-hubungan tersebut bagi dirinya sendiri. Upaya untuk mendefinisikan hubungan-hubungan logis berdasarkan aturan definisi pasti mengalami kegagalan. Mereka adalah poposisi-proposisi yang sifatnya mendahului setiap definisi nominal atau definisi riil. Mereka adalah kategori akhir yang tidak dapat dianalisis lebih lanjut. Pikiran manusia tidak mampu membayangkan kategori-kategori logis yang bertentangan dengan mereka. Tanpa peduli bagaimana hubungan-hubungan logis ini kelak berwujud bagi makhluk yang bernama super-manusia, mereka tetap tidak dapat dilalui manusia, dan secara mutlak diperlukan. Mereka adalah prasyarat-prasyarat yang tak terlepaskan bagi persepsi, dan bagi pengalaman.

Mereka, tak kurang, merupakan prasyarat yang tak terpisahkan bagi ingatan. Ada kecenderungan dalam ilmu-ilmu alam untuk menggambarkan ingatan sebagai sebuah instance fenomenon yang lebih umum saja. Setiap organisme hidup menyimpan efek-efek dari stimulasi terdahulu, dan keadaan masa kini dari zat inorganik dibentuk oleh efek-efek dari semua pengaruh yang mengeksposnya di masa lalu. Keadaan semesta masa kini adalah produk dari masa lalunya. Oleh karena itu, kita dapat mengatakan, dalam pengertian metaforis yang longgar, bahwa struktur geologis bola dunia kita menyimpan ingatan atas segala perubahan kosmis terdahulu, dan bahwa tubuh seorang manusia merupakan sedimentasi dari para nenek moyangnya, serta takdir dan perubahannya sendiri. Namun, ingatan merupakan sesuatu yang sama sekali berbeda dari fakta-fakta mengenai kesatuan struktural dan kelanjutan evolusi kosmis. Ingatan adalah fenomena kesadaran dan oleh karenanya diatur oleh suatu yang secara apriori, logis. Para psikolog masih diliputi teka-teki sekitar kenyataan bahwa manusia tidak mengingat apa-apa tentang masa keberadaannya dulu sebagai janin dan mahluk yang masih menyusu. Freud mencoba menjelaskan bahwa absennya kenangan semacam ini diakibatkan oleh supresi terhadap ingatan-ingatan yang tak diinginkan. Sesungguhnya, mengenai keadaan-keadaan tak sadar ini, tidak ada yang dapat diingat. Otomatisasi binatang dan respons tak-sadar terhadap stimulasi fisiologis bukan merupakan materi yang harus diingat janin dan bayi, tidak pula bagi manusia dewasa. Hanya kondisi-kondisi sadarlah yang dapat diingat. Pikiran manusia bukan tabula rasa di mana peristiwa-peristiwa eksternal menuliskan sendiri sejarah mereka. Pikiran manusia dilengkapi dengan seperangkat alat penangkap realitas. Manusia memperoleh peralatan ini, mis., struktur logis dari pikirannya, dalam perjalanan evolusinya dari sebuah amuba hingga ke keadaannya kini. Namun, alat-alat ini secara logis mendahului segala pengalaman.

Manusia bukan semata hewan yang tunduk secara total kepada stimuli yang tak-terhindarkan yang menentukan keadaan hidupnya. Ia juga makhluk bertindak. Dan kategori tindakan adalah antecedent logis bagi setiap aksi konkret.

Kenyataan bahwa manusia tidak memiliki daya kreatif untuk membayangkan kategori-kategori lain yang bertentangan dengan hubungan-hubungan logis dasar ini dan dengan prinsip-prinsip kausalitas serta telelologi mengharuskan kita [mengadopsi] apa yang dapat disebut sebagai apriorisme metodologis.

Setiap orang dalam perilaku sehari-harinya lagi dan lagi menjadi saksi atas ketidakberubahan dan keuniversalan dari kategori-kategori pikiran dan tindakan. Ia yang menyapa sesamanya, yang ingin memberi informasi dan meyakinkan orang lain, yang bertanya dan menjawab pertanyaan sesamanya, dapat terus melakukan hal-hal tersebut hanya karena ia dapat mengimbau kepada sesuatu yang sama-sama terdapat pada semua orang-yakni struktur logis akal manusia. Gagasan bahwa A secara bersamaan juga berupa non-A, atau preferensi akan A ketimbang B secara bersamaan juga berarti preferensi akan B ketimbang A, adalah pernyataan-peryataan yang tidak dapat diterima dan musykil (absurd) bagi pikiran manusia. Kita tidak berada dalam posisi untuk memahami pemikiran yang pra-logis atau meta-logis. Kita tidak dapat membayangkan sebuah dunia tanpa kausalitas dan teleogi.

Bukan masalah bagi manusia apakah di luar lingkup yang terjangkau pikiran manusia ada atau tidak sesuatu yang secara kategoris berbeda dari pikiran dan tindakan manusia. Dari bagian tersebut tidak ada pengetahuan yang menembus pikiran manusia. Percuma mempertanyakan apakah sesuatu-dalam-dirinya (things-in-themselves) itu berbeda dari apa yang tampak bagi kita, dan apakah ada dunia-dunia lain yang tidak dapat kita temukan dan gagasan-gagasan yang tidak dapat kita pahami. Persoalan-persoalan demikian di luar cakupan kognisi manusia. Pengetahuan manusia terkondisi oleh struktur pikirannya sendiri. Jika pengetahuan tersebut memilih tindakan manusia sebagai pusat kajiannya, maka yang dimaksud tak lain adalah kategori-kategori tindakan yang sifatnya layak bagi pikiran manusia dan yang merupakan proyeksi pengetahuan manusia terhadap dunia eksternal dari proses-menjadi dan perubahan. Semua teorema praksiologi mengacu pada kategori-kategori tindakan hanya sahih dalam orbit operasi mereka. Mereka tidak berpretensi hendak menyampaikan informasi tentang dunia dan relasi yang tak terbayangkan. Dengan demikian, praksiologi bersifat manusiawi dalam pengertian ganda. Ia manusiawi karena mengklaim bagi teorema-teoremanya-dalam ruang lingkup yang terdefinisikan secara persis dalam asumsi-asumsi dasarnya-kesahihan universal bagi semua tindakan manusia. Ia juga manusiawi karena berurusan hanya dengan tindakan manusia dan tidak beraspirasi untuk memahami tindakan apapun yang non-manusiawi-baik yang sub-manusiawi ataupun yang super-manusiawi.
Seputar Tuduhan tentang Heterogenitas Logis Manusia Primitif

Ada kerancuan berpikir di mana tulisan-tulisan Lucien Levy-Bruhl secara umum dipercayai sebagai dukungan terhadap doktrin yang menyatakan bahwa struktur logis manusa primitif itu berbeda secara kategoris dari struktur manusia beradab. Justru sebaliknya, apa yang Levy-Bruhl laporkan, atas dasar penelitian saksama terhadap seluruh bahan etnologis yang ada mengenai fungsi-fungsi mental manusia primitif membuktikan dengan jelas bahwa hubungan-hubungan logis-fundamental serta kategori-kategori pikiran dan tindakan ternyata memainkan peran yang sama baik dalam aktivitas intelektual manusia liar maupun dalam aktivitas intelektual yang dilakukan di masa kehidupan kita. Kandungan pikiran manusia primitif memang berbeda dari kandungan pikiran kita, tetapi struktur formal dan logisnya sama bagi keduanya.

Memang benar bahwa Levy-Bruhl sendiri kukuh berpendapat bahwa mentalitas manusia primitif pada dasarnya bersifat “mistik dan pra-logis”; representasi kolektif milik manusia primitif diatur oleh “hukum partisipasi” dan sebagai akibatnya tidak mengindahkan hukum kontradiksi. Namun demikian, pemisahan yang dilakukan Levy-Bruhl antara pikiran pra-logis dan logis mengacu pada isi dan bukan bentuk atau struktur kategoris pikiran. Sebab ia menyatakan dengan lantang bahwa di antara orang-orang seperti kita sendiri, gagasan dan hubungan antar-ide yang diatur oleh “hukum partisipasi” juga ada, baik itu lebih mandiri atau sebaliknya, tak kurang dan tak lebih lemahnya, namun tetap tidak dapat terhapuskan, bersandingan dengan gagasan-gagasan yang tunduk pada hukum-hukum akal-pikiran. Gagasan-gagasan yang “pra-logis dan mistis berkoeksistensi dengan yang logis”.

Levy-Bruhl membelokkan inti ajaran Kristiani ke ranah pikiran yang pra-logis. Kini, sejumlah besar keberatan mungkin dapat dan telah diangkat untuk menentang doktrin-doktrin Kristiani serta interpretasinya melalui teologi. Namun tak seorang pun pernah mencoba berspekulasi dengan mengatakan bahwa para pendeta Kristen dan para filsuf-di antaranya Santo Agustin dan Santo Thomas-memiliki pikiran yang struktur logisnya berbeda secara kategoris dari sesame mereka di jaman kita. Perselisihan antara orang-orang yang percaya kepada keajaiban dengan yang tidak, mengacu pada kandungan pikirannya, bukan pada strktur logisnya. Seseorang yang mencoba mendemonstrasikan kemungkinan dan kenyataan tentang keajabiban mungkin keliru. Namun, untuk mengungkap kekeliruannya secara logis-sebagaimana ditunjukkan dalam esei-esei Hume dan Mill-tentunya tidak kurang rumitnya daripada membuktian kekeliruan berpikir dalam ilmu filsafat atau ekonomi.

Menurut laporan sejumlah penjelajah dan misionaris di Afrika dan Polynesia, manusia primitif berhenti pada persepsi paling awal mereka terhadap benda-benda dan tidak pernah berpikir bahwa ia dapat menghindari hal tersebut dengan cara lain. Para pendidik Eropa dan Amerika melaporkan hal serupa tentang siswa-siswi mereka. Dalam kaitannya dengan orang-orang Mossi di sungai Niger, Levy-Bruhl mengutip pengamatan seorang misionaris: “Percakapan dengan mereka hanya berkisar pada masalah perempuan, wanita, makanan dan (di musim hujan) hasil panen.” Subyek apa lagi yang lebih diminati oleh para sejawat dan tetangga Newton, Kant dan Levy-Bruhl ini?

Kesimpulan terbaik yang harus dipetik dari kajian-kajian Levy-Bruhl justru berasal dari kata-katanya sendiri: “Pikiran primitif, sebagaimana halnya pikiran kita, sama gelisahnya dalam mencari alasan di balik kejadian; hanya saja ia tidak mencarinya di arah yang sama dengan arah kita.”

Seorang petani yang mendambakan hasil panen yang melimpah mungkin akan memilih berbagai cara-sesuai dengan isi gagasannya. Ia mungkin akan melaksakan ritual magis; memulainya dengan cara berjiarah; menyalakan lilin untuk santo pelindungnya; atau mungkin memakai pupuk lebih banyak atau jenis yang lebih baik. Apapun yang dilakukannya, hal tersebut selalu berupa tindakan, yaitu pemanfaatan suatu cara untuk mencapai suatu tujuan. Sihir dalam makna luasnya merupakan sejenis teknologi. Eksorsisme merupakan tindakan sengaja atas dasar pandangan terhadap dunia yang oleh sebagian besar dari sejawat kita akan dihujat sebagai sesuatu yang takhayul dan oleh karenanya tidak pantas dilakukan. Namun konsep tindakan tidak mengimplikasikan bahwa tindakan tersebut dibimbing oleh teori yang benar dan teknologi yang menjanjikan keberhasilan dan bahwa hal tersebut akan mencapai tujuannya. Ia hanya mengimplikasikan pelaku tindakan tersebut percaya bahwa cara yang ditempuh akan menghasilkan efek yang diinginkan.

Fakta-fakta yang diperoleh oleh etnologi dan sejarah tidak ada yang bertentangan dengan pernyataan bahwa struktur logis pikiran manusia itu seragam, terlepas apa suku, usia, dan negaranya.
3. A priori dan Realitas

Cara berpikir aprioristik murni bersifat konseptual dan deduktif. Cara ini tidak dapat menghasilkan apapun selain tautologi dan penilaian analitis. Semua implikasinya diturunkan secara logis dari premi-preminya dan sudah terkandung di dalam premi-premi tersebut. Oleh karena itu, sesuai dengan keberatan populer terhadapnya, cara berpikir aprioristik tidak dapat menambah apa-apa bagi pengetahuan kita.

Semua teorema geometris sudah terimplikasikan di dalam aksioma-aksiomanya. Konsep tentang sebuah segitiga sama kaki sudah mengimplikasikan teorema Pythagoras. Teorema ini adalah tautologi; deduksinya menghasilkan penilaian analitis. Namun demikian tak seorangpun mengatakan bahwa geometri pada umumnya, dan teorema Pythagoras pada khususnya, tidak memperluas pengetahuan kita. Kognisi murni dari cara berpikir deduktif juga bersifat kreatif dan membuka bagi pikiran kita akses pada apa yang sebelumnya terhalang. Tugas penting dari cara berpikir aprioristik di satu sisi adalah untuk memperjelas apa yang tersirat di dalam kategori, konsep, serta premis, dan, di lain sisi, untuk menunjukkan apa yang tidak diimplikasikan. Tugasnyalah untuk memanifestasikan dan membuat jelas apa yang tadinya tersembunyi dan tidak diketahui.

Dalam konsep uang semua teorema tentang teori moneter sudah diimplikasikan. Teori kuantitas tidak menambah bagi pengetahuan kita apa-apa yang pada akhirnya tidak terkandungi dalam konsep uang. Teori tersebut [hanya] mengubah, mengembangkan, dan menyibakkan; ia hanya menganalisis dan oleh karena itu bersifat tautologies seperti halnya teorema Pythagoras dalam hubungannya dengan konsep segitiga sama kaki. Namun demikian, tak seorangpun menyangkal nilai kognitif dari teori kuantitas. Bagi pikiran yang tidak tercerahkan oleh pemikiran ekonomi hal ini akan tetap kabur. Garis panjang kegagalan dalam upaya untuk memecahkan persoalan terkait menunjukkan bahwa tentunya tidaklah mudah untuk memperoleh pengetahuan di tingkatnya saat ini.

Bahwa sistem ilmu pengetahuan aprioristik tidak menyampaikan kepada kita kognisi penuh tentang realitas bukanlah suatu defisiensi. Konsep-konsep serta teorema-teoremanya merupakan peranti mental yang membuka pendekatan kita terhadap penangkapan lengkap terhadap relatitas; dalam diri mereka sendiri pastinya tidak terdapat seluruh pengetahuan faktual mengenai semua hal [yang dipelajarinya]. Teori dan pemahaman tentang realitas yang hidup dan berubah tidak bertentangan satu dengan lainnya. Tanpa teori, ilmu pengetahuan aprioristik umum tentang tindakan manusia, maka tidak ada pemahaman terhadap realitas tindakan manusia. Hubungan antara akal dan pengalaman memang sejak lama telah menjadi persoalan filosofis yang mendasar. Sebagaimana halnya dengan kritik terhadap ilmu pengetahuan, para filsuf telah mendekatinya dengan mengacu pada ilmu-ilmu pengetahuan alam. Mereka telah mengabaikan ilmu-ilmu tentang tindakan manusia. Kontribusi mereka terhadap praksiologi tidak berguna.

Adalah hal lumrah dalam perlakuan terhadap persoalan-persoalan epistemologis ilmu ekonomi untuk mengadopsi salah satu solusi yang diusulkan bagi ilmu-ilmu pengetahuan alam. Beberapa pengarang merekomendasikan konvensionalisme Poincaré. Mereka menganggap premis-premis dalam pemikiran ilmu ekonomi sebagai semacam konvensi linguistik atau semacam postulat. Sejumlah pengarang lain lebih menyetujui gagasan yang dikembangkan oleh Einstein, yang mengangkat pertanyaan sebagai berikut: “Bagaimana [mungkin] matematika, sebagai produk pikiran manusia yang tidak tergantung pada pengalaman apapun, dapat begitu pas dengan obyek-obyek realitas? Apakah akal manusia mampu menemukan, tanpa bantuan pengalaman melalui akal semata ciri-ciri benda-benda yang nyata?” Dan jawabannya adalah: “Sejauh teorema-teorema matematika mengacu pada realitas, mereka tidaklah pasti, dan sejauh mereka pasti, mereka tidak mengacu pada realitas.”

Namun demikian, ilmu-ilmu pengetahuan mengenai tindakan manusia berbeda secara radikal dari ilmu-ilmu pengetahuan alam. Semua penulis yang berusaha membangun suatu sistem epistemologis untuk disiplin tentang tindakan manusia sesuai pola ilmu pengetahuan alam mengalami kegagalan yang menyedihkan. Hal riil yang menjadi kajian praksiologi, yaitu tindakan manusia, berasal dari sumber yang sama dengan akal manusia. Tindakan dan akal bersifat kon-generik dan homogen; Mungkin mereka dapat disebut sebagai dua aspek dari benda yang sama. Bahwa akal memiliki daya untuk membuat jelas melalui rasiosinasi terhadap ciri-ciri tindakan merupakan sebuah offshoot dari akal. Teorema-teorema yang diperoleh melalui cara berpikir praksiologis secara benar bukan saja sempurna dan pasti tetapi juga tak-terbantahkan, seperti akurasi teorema matematis. Mereka juga mengacu, dengan kekakuan penuh dari kepastian apodiktis dan ketak-terbantahannya, pada realitas tindakan sebagaimana kemunculannya dalam kehidupan dan sejarah. Praksiologi menyampaikan pengetahuan tentang hal-hal riil secara pasti dan akurat.

Titik awal praksiologi bukan pada pilihan aksioma atau keputusan tentang metode prosedurnya, melainkan pada refleksinya atas esensi tindakan. Tidak ada tindakan yang di dalamnya tidak terdapat kategori praksiologis secara penuh dan sempurna. Modus tindakan tidak akan terpikirkan apabila cara serta tujuan atau biaya dan hasilnya tidak dapat dibedakan secara jelas atau dipisahkan secara akurat. Tidak ada apapun itu yang sifatnya hampir cocok atau hampir lengkap kategori ekonomis dari sebuah pertukaran. Yang ada hanyalah pertukaran dan non-pertukaran; dan sehubungan dengan masalah pertukaran, semua teorema umum tentangnya bersifat sahih dalam segenap kekakuannya dan semua implikasinya. Transisi dari pertukaran ke non-pertukaran atau dari pertukaran langsung menjadi tak langsung, tidak terdapat. Tidak ada pengalaman akan didapat yang berlawanan dengan pernyataan-pernyataan tadi.

Pengalaman seperti itu sudah mustahil sejak awal dengan alasan bahwa semua pengalaman menyangkut tindakan manusia itu dikondisikan oleh kategori-kategori praksiologis dan menjadi mungkin hanya melalui penerapannya. Jika di pikiran kita tidak terdapat skema yang disiapkan oleh cara berpikir praksiologis, kita tidak akan berada dalam posisi untuk mencerna dan memahami tindakan apapun. Kita barangkali akan melihat gerakan, tetapi tidak dapat menangkap tindakan membeli atau menjual, atau harga, tingkat upah, suku bunga, dan sebagainya. Hanya melalui penggunaan skema praksiologislah kita dapat memiliki pengalaman mengenai tindakan membeli dan menjual, namun tidak tergantung pada fakta apakah indera kita secara bersamaan melihat gerakan manusia dan elemen non-manusiawi mengenai dunia luar. Tanpa bantuan pengetahuan praksiologis kita tidak akan belajar apa-apa tentang alat tukar. Jika kita mendekati uang logam tanpa pengetahuan yang sudah-ada, kita akan melihatnya hanya sebagai logam bundar semata, tidak lebih. Pengalaman mengenai uang memerlukan pengenalan dengan kategori praksiologis alat tukar.

Pengalaman mengenai tindakan manusia berbeda yang menyangkut fenomena alam dalam hal bahwa ia membutuhkan dan mem-prasuposisi-kan pengetahuan praksiologis. Inilah sebabnya mengapa metode pengetahuan alam tidak cocok untuk kajian praksiologi, ekonomi, dan sejarah.

Ketika mengatakan karakter a priori dari praksiologi kita tidak sedang membuat draft rencana tentang masa depan disiplin baru yang berbeda dari ilmu-ilmu pengetahuan tradisional mengenai tindakan manusia. Kita tidak berupaya mempertahankan bahwa ilmu pengetahuan teoritis tentang tindakan manusia mesti bersifat aprioristik; namun hal tersebut sudah “dari sananya” memang demikian. Setiap upaya untuk merenungkan persoalan yang diakibatkan tindakan manusia perlu terikat dengan cara pikir aprioristik. Tidak menjadi soal dalam hal ini apakah orang yang merenungkan hal tersebut adalah seorang teoritis yang hanya bertujuan pada pengetahuan murni, atau negarawan, politisi atau penduduk biasa yang ingin memahami perubahan yang terjadi dan untuk menemukan kebijakan publik atau perilaku swasta apa yang paling cocok untuk kepentingannya. Orang mungkin mulai mempermasalahkan pentingnya pengalaman konkret; namun, debat yang terjadi selalu berpaling dari ciri-ciri aksidental dan environmental dari sebuah peristiwa yang menjadi sumber masalah kepada analisis prinsip-prinsip dasar, dan dengan gaib meninggalkan setiap referensi kepada kejadian-kejadian faktual yang telah mengundang argumen. Sejarah ilmu-ilmu pengetahuan alam adalah catatan tentang teori-teori dan hipotesis-hipotesis usang karena [catatan tersebut] tidak sesuai dengan pengalaman. Ingat, misalnya, kekeliruan berpikir tentang montir tua yang disanggah Galileo, atau nasib teori flogiston. Kasus-kasus seperti itu tidak pernah dicatat dalam sejarah disiplin ekonomi. Para pendukung teori yang secara logis tidak kompatibel mengklaim peristiwa-peristiwa yang sama sebagai bukti bahwa sudut pandang mereka telah diuji oleh pengalaman. Yang sebenarnya adalah bahwa pengalaman atas fenomena yang kompleks-dan tak ada jenis lain dalam ranah tindakan manusia kecuali yang kompleks-hanya dapat ditafsirkan atas dasar berbagai teori antitetis. Apakah interpretasinya dianggap memadai atau tidak, tergantung pada penghargaan terhadap teori-teori tersebut yang dibangun sebelumnya atas dasar cara berpikir yang aprioristik.

Sejarah tidak mengajarkan aturan, prinsip, atau kaidah apa-apa kepada kita. Tidak tersedia cara untuk mengabstraksikan dari pengalaman sejarah yang a posteriori suatu teori atau teorema apapun mengenai tindak-tanduk dan kebijakan manusia. Data sejarah tidak berarti apa-apa selain sebagai sekumpulan peristiwa canggung yang tak berkaitan atau setumpuk kebingungan belaka seandainya tidak diklarifikasi, ditata, dan ditafsirkan secara sistematik oleh pengetahuan praksiologis.
4. Prinsip Individualisme Metodologis

Praksiologi berurusan dengan tindakan individu manusia. Hanya dalam perjalanan lanjutan dari pencariannyalah kognisi terhadap kerjasama manusia diperoleh dan tindakan sosial diperlakukan sebagai kasus khusus dari kategori yang lebih universal dari tindakan manusia.

Individualisme metodologis ini telah mendapat serangan dan cemoohan yang bertubi-tubi dari berbagai aliran metafisik yang menganggapnya sebagai kekeliruan berpikir nominalistik. Ide tentang individu, menurut kritikusnya, adalah abstraksi kosong belaka. Manusia nyata haruslah selalu anggota dari masyarakat keseluruhan. Bahkan tidak mungkin membayangkan keberadaan manusia yang terpisah dari manusia lain serta tidak berhubungan dengan masyakat. Manusia sebagai manusia adalah produk evolusi sosial. Ciri utamanya, berupa akal, hanya dapat muncul dari kerangka mutualitas sosial. Tak ada pemikiran yang tidak tergantung pada konsep dan ide terkait bahasa. Namun, ujaran itu jelas fenomena sosial. Manusia selalu merupakan anggota suatu kelompok. Sebagaimana keseluruhan itu secara logis dan temporal bersifat mendahului anggota-anggota atau bagian-bagiannya, kajian tentang individu bersifat posterior jika dibandingkan dengan kajian tentang masyarakat. Satu-satunya metode yang memadai dan memperlakukan persoalan manusia secara ilmiah adalah metode universalisme atau kolektivisme.

Dewasa ini, kontroversi apakah keseluruhan atau bagian itu secara logis bersifat mendahului, dianggap tak berguna. Secara logis, ide tentang keseluruhan dan bagian-bagiannya bersifat korelatif. Sebagai konsep-konsep logis keduanya terpisah dari waktu.

Yang juga tidak patut dilakukan sehubungan dengan persoalan [tersebut] adalah acuan tentang antagonisme antara realisme dan nominalisme. Kedua istilah ini dipahami dalam pemahaman skolastik abad pertengahan. Tidak dapat disangkal bahwa dalam ranah tindakan manusia, pranata sosial itu memiliki keberadaan yang riil; dan bahwa bangsa, negara, pemerintah daerah, partai politik, serta komunitas agama adala faktor-faktor riil yang ikut menentukan perjalanan umat manusia. Individualisme metodologis tidak menyangsikan pentingnya kesatuan kolektif seperti itu; melainkan justru menganggapnya sebagai salah satu tugas utamanya untuk menggambarkan dan menganalisis terbentuknya dan kelenyapannya, struktur perubahan dan operasinya. Dan ia memilih satu-satunya metode yang cocok untuk memecahkan persoalan ini secara memuaskan.

Kita terlebih dahulu harus menyadari bahwa pelaku tindakan adalah individu. Kelompok atau satuan kolektif selalu beroperasi dengan perantaraan seseorang atau beberapa individu yang tindakannya berkaitan dengan kelompok tersebut sebagai sumber sekundernya. Justru makna yang diberikan oleh para individu pelaku tindakan dan mereka yang terkait dengan tindakan itulah, yang menentukan karakter tindakan tersebut. Makna-lah yang menandai apakah suatu tindakan dianggap tindakan individu atau tindakan negara atau tindakan walikota. Algojolah, dan bukan negara, yang melaksanakan tindak kriminal. Maknanya bagi mereka yang terkait tindakan tersebutlah yang mengatakan bahwa tindakan algojo tersebut merupakan tindakan negara. Ketika sekelompok orang bersenjata menguasai sebuah wilayah, maka maknanya bagi mereka yang terkait yang mengimputasi peristiwa pendudukan tersebut bukan kepada para perwira atau bala tentara di tempat tersebut, melainkan kepada bangsa mereka. Jika kita menelaah makna berbagai tindakan yang dilakukan para individu, kita perlu mengetahui segala sesuatu tentang tindakan-tindakan yang dilakukan oleh keseluruhan kolektif. Sebab suatu kolektif sosial tidak memiliki keberadaan dan realitasnya selain dari tindakan para individu anggotanya. Kehidupan sebuah kolektif dijalani oleh para individu yang membentuk tubuhnya. Kolektif sosial yang tidak beroperasi di dalam tindakan beberapa individu-individunya, tidak dapat dibayangkan. Realitas dari integer sosial terdiri dari bagaimana mengarahkan dan meyalurkan tindakan-tindakan definit kepada individu-individu. Jadi jalan menuju pemahaman kolektif itu melalui analisis tindakan-tindakan para individu.

Sebagai mahluk yang berpikir dan bertindak, manusia muncul dari keberadaan pra-manusianya langsung sebagai makhluk sosial. Evolusi pikiran, bahasa dan kerjasama merupakan hasil dari proses yang sama; semuanya ini tidak terpisahkan dan harus terkait satu sama lain. Tetapi proses ini berlangsung pada masing-masing individu. Prosesnya berupa perubahan-perubahan dalam perilaku individu. Tidak ada substansi lain tempat proses ini berlangsung, kecuali dalam diri setiap individu. Di dalam masyarakat tidak terdapat sub-stratum selain daripada tindakan-tindakan dari para anggotanya.

Bahwa ada bangsa, negara, tempat ibadah, dan bahwa ada kerjasama sosial di bawah pembagian kerja (division of labor), hal tersebut dapat dicerna hanya dalam tidakan-tindakan individu-individu tertentu. Tak seorangpun pernah “melihat” sebuah bangsa tanpa “melihat” penduduknya. Dalam hal ini dapat dikatakan bahwa kolektif sosial terbentuk melalui tindakan dari individu-individu. Hal ini tidak berarti bahwa individu, secara temporal, sudah mengada lebih awal. Hal ini hanya berarti bahwa tindakan-tindakan tertentu dari sejumlah individu telah membentuk kesatuan kolektif.

Tidak ada manfaatnya berargumen apakah kolektif itu merupakan kumpulan dari elemen-elemen pembentuknya atau lebih dari sekadar itu; apakah kolektif itu bersifat suigeneris, dan apakah masuk akal atau tidak untuk membicarakan tentang keinginannya, rencananya, tujuannya, dan tindakannya; atau menganggapnya memiliki “jiwanya” sendiri. Membicarakan hal mendetil seperti itu sia-sia. Sebuah keseluruhan kolektif itu merupakan aspek khusus dari tindakan-tindakan dari berbagai individu dan oleh karenanya hal riil yang menentukan berlangsungnya peristiwa-peristiwa .

Meyakini bahwa keseluruhan kolektif itu dapat divisualisasikan adalah suatu ilusi. Keseluruhan kolektif tidak pernah dapat dilihat; kognisinya selalu merupakan hasil dari pemahaman atas makna yang diberikan manusia pada tindakannya. Kita memang dapat melihat keramaian, misalnya kerumunan manusia. Apakah kerumunan itu hanya sekadar pertemuan ataukah sebuah massa (dalam pengertian psikologi kontemporer) atau sebuah badan terorganisasi atau jenis lain dari entitas sosial merupakan sebuah pertanyaan yang hanya dapat dijawab oleh pemahaman akan makna yang mereka berikan bagi keberadaan tersebut. Dan makna ini selalu merupakan makna dari para individunya. Bukanlah indera kita, melainkan pemahaman kita, sebagai sebuah proses mental, yang membuat kita memahami entitas sosial.

Siapa saja yang bermaksud memulai kajian tentang tindakan manusia dari unit-unit kolektif akan mendapati rintangan tak terperi berupa kenyataan bahwa setiap individu pada saat yang sama juga dapat merupakan-kecuali orang-orang suku paling primitif-bagian nyata dari beragam entitas kolektif. Persoalan-persoalan yang ditimbulkan oleh multiplisitas unit-unit sosial yang berkoeksistensi dan antagonisme-antagonisme mutual mereka dapat diatasi hanya melalui individualisme metodologis.
Saya dan Kita/Kami

Ego merupakan kesatuan dari makhluk yang bertindak. Sifatnya sudah ada (given) dan tidak dapat dilarutkan atau dilenyapkan oleh cara berpikir atau melalui bantahan apapun. Kita/kami selalu merupakan hasil dari penjumlahan dua Ego atau lebih. Jika orang berkata Saya, maka tidak perlukan pertanyaan lebih lanjut untuk membangun maknanya. Hal serupa juga sahih untuk Kamu. Demikian pula hanya dengan Ia–asalkan sudah jelas siapa orang yang dimaksud. Namun, ketika orang berkata Kita/Kami, informasi tambahan diperlukan untuk menunjukkan Ego siapa saja yang termasuk di dalamnya. Kata Kita/Kami selalu diucapkan orang secara masing-masing; bahkan meskipun mereka mengatakannya bersamaan dalam korus, tetap saja ia berupa satu ujaran dari sejumlah individu.

Kita/Kami tidak dapat bertindak selain sebagai pribadi masing-masing yang bertindak atas diri masing-masing. Para individu dapat bertindak bersama atas kesepakatan bersama, atau satu orang bertindak bagi semuanya. Jika satu orang melakukan atas nama yang lain, kerjasama para individu lainnya adalah berupa penciptaan situasi di mana tindakan satu orang dijadikan bersifat efektif bagi mereka juga. Hanya dalam artian inilah petugas atau pegawai dari suatu entitas sosial bertindak atas nama semua; para anggota individual dari badan kolektif ini menyebabkan atau mengijinkan tindakan satu orang mewakili juga.

Upaya disiplin psikologi untuk melebur Ego dan menganggapnya sekadar ilusi adalah hal yang sia-sia. Keberadaan ego secara praksilogis itu tak diragukan. Tanpa memerdulikan bagaimana masa lalu atau masa depan seseorang, tatkala ia memilih dan bertindak, maka ia adalah sebuah Ego.

Dari yang satuan logis jamak atau pluralis logicus (dan dari yang sekadar ceremonial pluralis majestaticus) kita harus membedakan yang pluralis gloriosus. Jika seorang penduduk Kanada yang belum pernah bermain skating mengatakan, “[Bangsa] Kami adalah pemain hockey es paling hebat,” atau jika seorang Italia kasar dengan bangga berujar, “[Bangsa] kami pelukis terhebat di dunia,” tidak ada yang merasa ditipu. Tetapi dalam kaitannya dengan persoalan politik dan ekonomi, konsep pluralis gloriosus ini berevolusi menjadi pluralis imperialis, dan dengan demikian berperan penting dalam menyiapkan jalan raya bagi penerimaan doktrin-doktrin yang menentukan kebijakan ekonomi internasional.
5. Prinsip Singularisme Metodologis

Praksiologi memulai investigasinya dari tindakan individu. Ia tidak menangani perihal tindakan manusia secara samar-samar, melainkan dengan tindakan konkret yang dilakukan orang secara pasti pada saat, waktu dan tempat tertentu. Namun demikian, tentu saja, ia tidak menyibukkan dirinya dengan fitur-fitur tindakan yang bersifat aksidental atau environmental, ataupun dengan hal yang membedakannya dari tindakan-tindakan lain, melainkan hanya dengan apa yang bersifat harus ada dan universal dalam kinerja tindakan tersebut.

Filsafat universalisme sejak dulu kala telah menutup akses terhadap pemahaman yang memuaskan terhadap persoalan praksiologis, dan kaum universalis kontemporer benar-benar tidak mampu menemukan pendekatan terhadap persoalan tersebut. Universalisme, kolektivisme dan realisme konseptual hanya melihat sesuatu yang universal dan menyeluruh. Mereka berspekulasi tentang kemanusiaan, negara, kelas, kebaikan dan kejahatan, baik dan benar, tentang seluruh keinginan manusia dan tentang komoditas. Mereka bertanya, misalnya: Mengapa nilai “emas” lebih tinggi daripada nilai “besi”? Jadi, mereka tidak pernah menemukan solusinya, melainkan antinomi dan paradoks semata. Contoh terbaik adalah paradoks-nilai yang bahkan telah menyebabkan karya-karya ekonom klasik menjadi membuat frustrasi.

Praksiologi mempertanyakan: Apa yang terjadi dalam suatu tindakan? Apa artinya mengatakan bahwa seseorang pada suatu waktu di sana, hari ini dan di sini, bertindak? Apa hasilnya jika ia memilih satu hal dan menolak yang lain?

Tindakan memilih selalu merupakan keputusan di antara berbagai peluang yang tersedia bagi individu yang memilih. Manusia tidak pernah memilih antara kebajikan dan kebatilan, melainkan hanya antara dua modus tindakan yang kita sebut dari titik pandang yang bajik atau batil. Manusia tidak pernah memilih antara “emas” dan “besi” secara umum, melainkan selalu hanya antara suatu kuantitas emas dan besi secara tertentu. Setiap tindakan selalu dibatasi ketat dalam konsekuensi-konsekuensi seketikanya. Jika kita ingin mencapai kesimpulan yang benar, kita harus mengindahkan semua keterbatasan ini.

Hidup manusia adalah serangkaian tindakan. Namun demikian, sebuah tindakan tidak berarti terisolasi. Ia merupakan mata rantai dari sebuah rantai tindakan yang bersama-sama membentuk tindakan lain pada tingkat yang lebih tinggi dengan tujuan yang lebih jauh. Setiap tindakan memiliki dua aspek. Di satu sisi ia merupakan sebagian tindakan dari kerangka tindakan yang lebih jauh, atau sebuah kinerja atas bagian dari tujuan yang telah ditetapkan oleh tindakan lain dengan jangkauan yang lebih jauh. Di sisi lain, ia merupakan satu kesatuan utuh bagi dirinya sendiri dalam kaitannya dengan tindakan-tindakan yang ditujukan oleh kinerja dari bagian-bagian pembentuknya sendiri.

Tergantung pada cakupan proyeknya yang diinginkan oleh manusia yang bertindak apakah tindakan jangka panjang atau tindakan parsial yang diarahkan pada tujuan jangka pendek akan dibuat menjadi jelas. Praksiologi tak perlu mengajukan pertanyaan-pertanyaan sejenis yang dipertanyakan oleh Gestaltpsychologie. Jalan bagi kinerja hal-hal besar harus selalu melalui kinerja tugas-tugas parsial. Sebuah katedral adalah sesuatu yang lebih dari tumpukan batu-bata yang disatukan. Tetapi satu-satunya prosedur untuk membangun katedral memang menumpuk satu bata di atas lainnya. Bagi sang arsitek keseluruhan proyek adalah hal utama; bagi tukang batu mungkin satu dinding, sedangkan bagi pemasang bata, setiap batu bata. Yang penting bagi praksiologi adalah kenyataan bahwa satu-satunya metode untuk mencapai tugas yang lebih besar adalah membangunnya dari fondasinya selangkah demi selangkah, sebagian demi sebagian.

6. Fitur-Fitur Individual Yang Berubah dalam Tindakan Manusia

Kandungan tindakan manusia, mis., tujuan-tujuan yang diinginkan dan cara-cara yang ditempuh serta peralatan yang diaplikasikan untuk mencapainya, ditentukan oleh kualitas setiap manusia yang bertindak. Manusia sebagai individu adalah produk evolusi zoologis yang telah membentuk warisan fisiologisnya. Ia terlahir sebagai keturunan dan pewaris dari moyangnya, dan segala proses presipitasi dan sedimentasi yang dialami pendahulunya menjadi warisan biologis baginya. Ketika ia dilahirkan, ia tidak memasuki dunia ini secara umum, melainkan dalam lingkingan tertentu yang definit. Kualitas-kualitas biologis tertentu yang turun kepadanyta dan apa yang telah diberikan kehidupan kepadanya membuat seorang manusia menjadi dirinya seketika saat penjiarahannya. Ia adalah nasib dan takdir. Keinginannya tidaklah “bebas” dalam artian metafisik. Keinginannya ditentukan oleh latar belakang dan semua pengaruh yang telah mengekspos dirinya maupun nenek moyangnya.

Faktor-faktor warisan dan lingkungan mengarahkan tindakan manusia. Keduanya juga menyuguhkan baik tujuan maupun caranya. Manusia hidup tidak semata-mata sebagai manusia dalam abstracto; ia hidup sebagai anak dari keluarganya, sukunya, bangsanya dan jamannya; ia hidup sebagai seorang penduduk negaranya, anggota kelompok sosial tertentu, praktisi pekerjaan tertentu, pengikut agama, filosofi, metafisika dan ide politik tertentu; sebagai partisan dalam banyak feuds dan kontroversi. Ia tidak mencipatakan sendiri gagasan-gagasan atau standar-standar nilainya; ia meminjam semua ini dari orang-orang lain. Ideologinya adalah apa yang diberikan lingkungan kepadanya. Hanya sedikit manusia yang diberikan kemampuan untuk memikirikan gagasan baru atau orisinil dan yang mampu mengubah kredo-kredo serta doktrin-doktrin tradisional.

Manusia-biasa tidak berspekulasi mengenai persoalan-persoalan besar. Sejauh menyangkut dirinya ia tergantung pada otoritas orang lain; ia berperilaku sebagaimana seharusnya “orang baik-baik”; ia ibarat seekor domba dari sekawanan ternak. Tepatnya, inersia intelektualnyalah yang menandai manusia biasa. Namun demikian, manusia biasa tetap memilih. Ia memilih mengadopsi pola-pola tradisional yang diadopsi orang-orang lain karena ia merasa yakin bahwa prosedur tersebut dirasa pas dengan apa yang ingin ia raih bagi kesejahteraannya sendiri. Dan ia siap mengubah ideologi ini, dan selanjutnya modus aksinya, manakala ia merasa yakin bahwa hal tersebut lebih sesuai dengan kepentingannya.

Kebanyakan tindakan manusia sehari-hari adalah hal rutin sederhana. Manusia melakukan tindakan-tindakan tertentu tanpa memberi perhatian istimewa. Ia melakukan banyak hal karena ia (dulu) terlatih sejak masa kecil untuk melakukannya, karena orang-orang lain melakukan hal serupa, dan karena sudah merupakan kebiasaan sehari-hari di lingkungannya. Ia mememeroleh sejumlah kebiasaan, dan mengembangkan reaksi-reaksi otomatis. Tetapi ia hanya akan mempertahankan kebiasaan-kebiasaan tersebut jika ia merasa senang dengan akibat-akibatnya. Begitu ia mendapati bahwa pengejaran terhadap kebiasaan ini menghalangi pencapaian tujuan yang dianggapnya lebih baik, maka ia akan mengubah sikapnya. Seseorang yang dibesarkan di daerah berair bersih akan memeroleh kebiasaan minum, mencuci, mandi tanpa berpikir panjang. Ketika ia pindah ke tempat yang airnya terpolusi dengan bakteri penyakit, ia akan mencurahkan perhatiannya dengan lebih hati-hati pada prosedur yang sebelumnya tak pernah mengganggunya. Ia akan secara permanen waspada agar tidak merugikan dirinya sendiri dengan cara bersenang-senang tanpa berpikir dalam rutinitas tradisional dan tindakan-tindakan otomatisnya. Kenyataan bahwa sebuah tindakan dalam peristiwa biasa dilakukan seolah-oleh spontan, tidak berarti ia bukan disebabkan oleh volition sadar dan oleh pilihan yang disengaja. Bersantai-santai dalam rutinitas yang memungkinkan untuk diubah adalah sebuah tindakan.

Praksiologi tidak berurusan dengan kandungan yang berubah dalam tindakan, melainkan dengan bentuk murninya dan struktur kategorisnya. Studi tentang ciri-ciri aksidental dan environmental dari tindakan manusia merupakan tugas disiplin sejarah.
7. Cakupan dan Metode-Khusus Sejarah

Studi tentang semua data pengalaman mengenai tindakan manusia merupakan bidang sejarah. Sejarawan bertugas mengumpulkan dan menyaring dengan kritis semua dokumen yang tersedia. Atas dasar bukti inilah ia mendekati tugas aslinya.

Sebagaimana dikatakan orang, sejarah bertugas menunjukkan bagaimana peristiwa benar-benar terjadi, tanpa memaksakan prasuposisi dan nilai-nilai (wertfrei, atau netral dari penilaian). Laporan sejarawan seharusnya merupakan imaji yang setia dari masa lalu, semacam potret intelektual, berisi uraian lengkap dan tak bias mengenai fakta-fakta. Dia seyogyanya mereproduksi di depan mata intelektual kita masa lalu berikut segala fiturnya.

Masalahnya sekarang, reproduksi riil atas masa silam memerlukan duplikasi yang tidak mustahil bagi manusia. Sejarah bukan reproduksi intelektual, melainkan representasi singkat atas masa lalu secara konseptual. Sejarawan tidak semata-mata membiarkan peristiwa berbicara bagi dirinya sendiri. Ia menyiapkannya dari aspek ide-ide yang mendasari formulasi gagasan-gagasan umum yang muncul dan lantas yang ia pergunakan. Sejarawan tidak melaporkan fakta-fakta sebagaimana mereka terjadi dulu, melainkan hanya fakta-fakta yang relevan. Ia tidak mendekati dokumen-dokumennya tanpa prasuposisi, tetapi memperlengkapinya dengan seluruh aparatus dari pengetahuan ilmiah pada jamannya, dengan semua ajaran tentang logika matematika, dan ilmu-ilmu pengetahuan alam yang kontemporer.

Jelas bahwa sejarawan tidak boleh terbiaskan oleh prasangka-prasangka dan dogma-dogma partai. Para penulis yang menganggap peristiwa sejarah sebagai senjata untuk berperilaku curang bagi partai mereka, bukanlah sejarawan [sejati] melainkan kaum propagandis dan apologis. Mereka tidak tertarik pada pengetahuan, melainkan mencoba menjustifikasikan program partai mereka. Mereka memperjuangkan dogma-dogma metafisik, agama, nasional, politis atau sosial mereka. Mereka menyusupkan kata sejarah dalam tulisan-tulisan mereka ibarat orang buta yang ingin menipu orang yang mudah dikelabui. Seorang sejarawan pertama-tama harus berfokus pada kognisi. Ia harus membebaskan dirinya dari segala bentuk pemihakan. Ia harus dalam pengertian ini bersikap netral terhadap penghakiman nilai.

Postulat Wertfreiheit ini dapat dengan mudah dipenuhi dalam disiplin yang aprioristik-seperti logika, matematika, dan praksiologi-dan dalam bidang ilmu-ilmu pengetahuan alam eksperimental. Secara logis tidaklah sulit untuk menarik garis yang jelas antara perlakuan yang ilmiah dan tidak bias dari perlakuan yang sudah terdistorsi oleh berbagai takhayul, gagasan atau hasrat yang tersembunyi. Adalah jauh lebih sulit untuk memenuhi persyaratan untuk bersikap netral secara profesional dalam [disiplin] sejarah, sebab bidang kajian sejarah-yakni kandungan aksidental dan konteks lingkungan tindakan manusia yang konkret-merupakan penghakiman-penghakiman nilai dan proyeksi mereka terhadap realitas perubahan. Di setiap langkah kegiatan yang ditempuhnya, seorang sejarawan selalu berurusan dengan penentuan nilai. Penilaian-penilaian terhadap nilai manusia yang tindakannya ingin ia laporkan, merupakan sub-stratum dari penyelidikannya.

Sebagaimana telah dikatakan, seorang sejarawan sendiri tidak dapat menghindari penilaian atas nilai. Tidak ada seorang sejarawanpun–bahkan reporter koran atau pencatat fakta yang naif–yang mencatat fakta-fakta sebagaimana adanya. Ia harus diskriminatif; ia harus memilih peristiwa-peristiwa mana saja yang layak dicatat dan memilah yang mana yang harus dibungkam. Pilihan ini, konon, mengimplikasikan dalam dirinya sendiri sebuah penjatuhan nilai. Jadi merupakan persyaratan yang perlu dalam pandangan hidup sang sejarawan dan dengan demikian bukannya tidak berpihak, melainkan sebuah hasil dari gagasan yang telah terbentuk sebelumnya. Sejarah tidak kuasa untuk tidak mendistorsi fakta. Ia tidak pernah benar-benar ilmiah, dalam arti kenetralannya terhadap nilai dan hanya ingin menemukan kebenaran.

Tentu saja tidak dapat diragukan, bahwa keleluasaan dalam pemilihan fakta melalui tangan sejarawan dapat saja disalahgunakan. Pilihan sejarawan dapat, dan seringkali, didorong oleh bias partai politik. Namun demikian, masalah-masalah yang diangkat sejarah lebih rumit daripada apa yang doktrin popular ingin kita percaya. Solusi atas persoalan semacam ini harus dicari dengan menelaah metode sejarah secara saksama.

Saat berurusan dengan persoalan historis, sejarawan memanfaatkan semua pengetahuan yang disediakan oleh logika, matematika, disiplin-disiplin pengetahuan alam, dan khususnya praksiologi. Namun demikian, peranti mental yang dimiliki disiplin-disiplin non-historis ini tidaklah memadai bagi tugas sejarawan. Alat-alat tersebut merupakan auxiliaries yang tak terpisahkan bagi sejarawan, tetapi jawaban bagi pertanyaan-pertanyaan yang digeluti sejarawan tidak memungkinkan dicari di dalam alat-alat tersebut.

Perjalanan sejarah ditentukan baik oleh tindakan-tindakan para individu maupun akibat-akibat yang ditimbulkannya. Tindakan-tindakan ini ditentukan melalui penilaian yang dilakukan oleh individu-individu yang bertindak, yakni maksud atau tujuan yang ingin mereka capai dan segala cara yang diaplikasikan bagi pencapaiannya. Pilihan atas cara merupakan hasil dari keseluruhan bentuk pengetahuan teknologi yang dimiliki pelaku-pelaku tindakan tersebut. Dalam banyak hal, akibat dari suatu cara yang diterapkan dapat diapresiasi melalui sudut pandang praksiologi atau sudut pandang disiplin pengetahuan alam. Namun, tetap saja, masih banyak yang harus dijelaskan yang tidak disediakan oleh pertolongan semacam itu.

Tugas khusus sejarah, dengan metodenya yang juga khusus, adalah mengkaji penjatuhan nilai kepada akibat-akibat segala tindakan yang tidak mampu dianalisis oleh cabang-cabang ilmu pengetahuan lain. Persoalan sejati bagi sejarawan adalah untuk selalu menginterpretasikan apa yang terjadi, Namun ia tidak dapat memecahkan persoalan ini dengan mengandalkan teorema-teorema yang berasal dari disiplin lain. Selalu tinggal di dasar setiap dasar dari persoalan yang dihadapinya, sesuatu yang menolak analisis berdasarkan ajaran ilmu-ilmu pengetahuan alam. Individualitas dan keunikan ciri setiap peristiwalah yang dipelajari melalui pemahaman.

Keunikan atau individualitas yang tertinggal dalam setiap fakta sejarah, ketika semua cara interpretasi yang dimungkinkan oleh logika, matematika, praksiologi dan ilmu-ilmu pengetahuan alam telah terpakai semua, merupakan data ultimat. Sementara ilmu-ilmu pengetahuan alam tidak dapat berkata apa-apa mengenai data ultimat mereka selain bahwa mereka memang data ultimat adanya, sejarah dapat mencoba membuat datanya lebih dapat dipahami. Meskipun mustahil mereduksi data mereka hingga ke faktor-faktor penyebabnya (ya kalau masih bisa direduksi namanya bukan data ultimat dong)-sejarawan dapat memahami mereka karena ia sendiri pada hakikatnya juga manusia. Dalam filsafat Bergson pengertian ini disebut sebagai intuisi, mis., “la sympathie par laquelle on se transporte a l’interieur d’un objet pour coïncider avec ce qu’il a d’unique et par consequent d’inexprimable.” Epistemologi Jerman menyebutnya sebagai das spezifische Verstehen der Geisteswissenschaften, atau Verstehen saja. Metode ini selalu diterapkan semua sejarawan dan orang-orang untuk mengomentari peristiwa manusia di masa lalu dan dalam meramalkan masa depan. Penemuan dan delimitasi akan pengertian merupakan salah satu kontribusi terpenting dari epistemologi modern. Hal tersebut, tentu saja, bukan proyek bagi sains baru yang belum ada dan baru akan dibangun; dan bukan pula rekomendasi akan metode baru tentang prosedur ilmu pengetahuan apapun yang sudah ada.

Pemahaman ini tidak boleh dikacaukan dengan persetujuan terhadapnya, baik itu yang bersifat kondisional maupun yang circumstantial. Sejarawan, etnologis, dan psikolog kadang meregistrasikan tindakan-tindakan yang, bagi mereka sendiri, menjijikkan dan mengerikan; mereka memahami semuanya sebagai tindakan-tindakan, misalnya dalam memastikan tujuan-tujuan yang mendasarinya, dan metode-metode praksiologis dan teknologis yang diaplikasikan bagi pengeksekusiannya. Memahami sebuah kasus individual tidak berarti menjustifikasi atau memaafkannya.

Demikian pula, pemahaman tidak boleh dikacaukan dengan kesenangan estetik terhadap fenomena. Empati (Einfühlung) dan pemahaman adalah dua sikap yang berbeda secara radikal. Memahami sebuah karya seni secara historis, menentukan tempat, makna dan nilai pentingnya dalam aliran peristiwa-peristiwa di satu sisi, dan menghargai karya seni tersebut secara emosional di sisi yang lain, adalah dua hal berbeda. Seseorang dapat melihat sebuah gereja katedral dengan mata sejarawan. Orang lain dapat melihat gereja yang sama sebagaimana seorang penggemar yang antusias, atau sebagai orang yang sama sekali acuh tak acuh tanpa terpengaruh sama sekali. Orang-orang yang sama tersebut dapat memiliki kedua modus reaksi, baik berupa penghargaan estetik maupun yang berupa pemahaman ilmiah.

Pemahaman akan hal tersebut membangun fakta bahwa seorang individu atau sekelompok individu telah melibatkan diri dalam sebuah tindakan tertentu yang timbul dari penilaian, pilihan dan tujuan tertentu, dan bahwa mereka telah mengaplikasikan, demi pencapaian tujuan-tujuan tersebut, cara tertentu yang disodorkan oleh doktrin-doktrin teknologis, terapetis, dam praksiologis. Pemahaman ini selanjutnya mencoba mengapresiasikan efek dan intensitas efek yang ditimbulkan sebuah tindakan; dia menetapkan relevansi setiap tindakan-misalnya, seberapa pengaruhnya terhadap perjalanan peristiwa.

Cakupan pemahaman merupakan tangkapan mental terhadap fenomena yang tidak mampu sepenuhnya dijelaskan oleh logika, matematika, praksiologi, dan ilmu-ilmu alam karena memang hal tersebut memang tidak dapat dijelaskan oleh semua sains ini. Cakupan pemahaman tidak boleh sekalipun bersifat kontradiktif terhadap ajaran-ajaran semua cabang pengetahuan tersebut. Keberadaan korporeal riil dari ruh jahat dibuktikan melalui dokumen historis yang tak terhitung jumlahnya, dan yang yang dalam hal lain sebenarnya cukup andal. Banyak pengadilan, dalam menjalankan proses hukum atas dasar testimoni para saksi dan pengakuan tertuduh, telah mencoba membangun fakta bahwa ruh jahat telah bercengkerama dengan tukang sihir. Namun demikian, pemahaman tidak dapat dipakai sebagai justifikasi upaya seorang sejarawan dalam mengukuhkan pandangannya tentang keberadaan ruh jahat dan interferensi ruh tersebut kepada peristiwa-peristiwa manusia, selain dalam gambaran visi seorang manusia yang benaknya terlalu bersemangat.

Meskipun hal ini pada umumnya diterima dalam kaitannya dengan ilmu-ilmu pengetahuan alam, ada beberapa sejarawan yang mengadopsi sikap berbeda dalam kaitannya dengan teori ekonomi. Mereka mencoba menentang teorema-teorema ekonomi melalui appeal terhadap sejumlah dokumen yang dianggap membuktikan inkompatibilitas teorema-teorema ekonomi. Mereka tidak menyadari bahwa fenomena yang kompleks tidak dapat membuktikan ataupun membantah teorema apapun dan oleh karenanya tidak dapat dijadikan bukti untuk menentang pernyataan apapun tentang suatu teori. Sejarah ekonomi dimungkinkan hanya dengan adanya teori ekonomi yang mampu menjelaskan tindakan-tindakan ekonomi. Tanpa teori ekonomi, laporan mengenai fakta ekonomi menjadi tidak lebih dari sekadar sekumpulan data lepas yang terbuka bagi berbagai penafsiran yang abritrer.

(Bersambung ke Bagian 2)


Tulisan lain yang mungkin terkait:

Discussion

Comments are disallowed for this post.

Comments are closed.

Arsip Bulanan

Rekomendasi

buku_rothbard.jpg
Apa Yang Dilakukan Pemerintah Terhadap Uang Kita?; Oleh: Murray Newton Rothbard; PT. Granit, Yayasan Obor Indonesia; ISBN : 97897916217 -4-8; tersedia di toko-toko buku terdekat. (Intip cuplikannya).
alt text
Membela Kapitalisme Global; Oleh: Johan Norberg; FNS Jakarta; tersedia di toko-toko buku terdekat. (Baca resensinya di sini).
Economic  Activism Blogs - Blog Catalog Blog Directory