Dengan diselenggarakannya penganugerahan hadiah Nobel untuk sains ekonomi, siapapun yang namanya tercantum sebagai salah seorang penerima medali bersama pasti akan merasakan rasa syukur yang dalam. Semua ekonom pun tentunya memiliki alasan yang kuat untuk berterimakasih kepada Swedish Riksbank yang telah menilai bahwa bidang studi studi mereka layak dianugerahi kehormatan yang tinggi ini. Namun demikian, harus saya akui bahwa seandainya kepada saya ditanyakan apakah Hadiah Nobel perlu dianugerahkan untuk bidang ekonomi, akan langsung saya katakan bahwa saya menentangnya.
John Maynard Keynes—tabiatnya, tulisan-tulisannya, dan tindak-tanduk selama hidupnya—dipengaruhi dan dipandu oleh tiga elemen yang saling berinteraksi. Elemen pertama adalah egotisme yang terlalu besar, yang membuatnya terlalu percaya diri dan merasa mampu mengatasi segala problem intelektual dengan cepat dan akurat, serta memandang rendah prinsip-prinsip umum yang dianggap merintangi limpahan egonya. Elemen kedua adalah keyakinannya yang kuat bahwa ia ditakdirkan untuk memimpin kelompok elit penguasa Inggris Raya. Kedua elemen ini mengarahkan Keynes dalam pergaulan dengan orang atau bangsa lain dari posisi dan persepsinya sendiri mengenai kekuasaan dan dominasi. Elemen ketiga adalah kebencian dan kemuakannya terhadap nilai-nilai kebajikan yang dianut kelompok borjuis—terhadap moralitas konvensional mereka, terhadap manfaat dan pentingnya menabung dan hidup hemat, dan terhadap institusi-institusi yang mendasari kehidupan berkeluarga.
Oleh: Sukasah Syahdan Jurnal Kebebasan: Akal dan Kehendak Vol. II, Edisi 24, Tanggal 07 April 2008 “Saudara-saudara yang mengaku sebagai kapitalis atau pendukung kapitalisme dimohon angkat tangan”. Jika pertanyaan ini ditanyakan kepada penduduk dewasa di negeri ini, berapa banyak tangankah akan terangkat? Atau seandainya mereka semua dikumpulkan, lalu para pendukung kapitalisme diminta agar meneriakkan satu [...]
Komentar & Diskusi