Selesai membaca tulisan Imam Semar (IS) mengenai isme-isme paradoks (edisi minggu lalu yang juga di cross-posting di situs EOWI), saya berjanji kepadanya untuk meneruskan argumentasi logisnya tentang beberapa hal mendasar—dan yang saya anggap paling penting di sini adalah menyangkut kebebasan. Berikut kontribusi saya berdasarkan kontribusinya.
Kalau kita mengamati sebuah karya seni lukis, bunga misalnya, maka untuk menikmatinya harus dilihat dari jarak yang tidak terlalu dekat sehingga detailnya terabaikan. Kalau terlalu dekat maka tidak menarik karena detailnya nampak jelas tidak ada. Untuk menghargai karya seni ini tidak diperlukan intelektual yang tinggi. Berbeda dengan bunga aslinya, semakin detil semakin menarik. Dari mulai bentuk makronya, kelopak bunga, benang sari, serbuk sari; kemudian detilnya sampai ke tingkat jaringan, sel, mitokondria, kromosom, gen, ribonucleic acid, DNA, protein, proses metabolisme dan seterusnya; semuanya memerlukan intelektualitas yang tinggi untuk bisa menghargainya. Seorang botanis akan mengalami kesulitan untuk menerangkan bagaimana nutrisi/makanan bisa sampai ke kepala putik pada lukisan bunga, karena si pelukis tidak akan menggambarkan secara mendetil bagian-bagian mikroskopis dari bunga. Itulah perbedaaan antara karya seni dan the real thing.
Komentar & Diskusi