Uncategorized

Ilusi dan Kemakmuran (Bag. 3 – Tamat)

Oleh: Imam Semar
Jurnal Kebebasan: Akal dan Kehendak
Vol. II, Edisi 22, Tanggal 24 Maret 2008

[Hakikat uang, sejarah Rupiah, penurunan tingkat kemakmuran dan lain-lain telah disinggung di bagian pertama serial artikel Ilusi dan Kemakmuran. Di Bagian 2 disinggung antara lain “kebijakan” inflasi yang terus menggerus kemakmuran serta potret kecenderungan kebijakan di masa depan. Intisari Bagian 3 menawarkan solusi. (Terima kasih kepada penulis, yang telah “meminjamkan” bagian terakhir ini dan memberikan ijin khusus kepada Akal & Kehendak untuk menerbitkannya. –Peny.]

(Bagian 3 – Tamat)
Mencari Kemakmuran Sejati

ukbi_soedirman_1968_2_5rp_detail.jpgBagian ke-3 ini akan dibahas cara menghindarkan diri dari kejahatan-legal pencurian kekayaan melalui inflasi. Tidak perlu muluk-muluk dan sok negarawan. Lupakan dulu usaha memakmuran orang lain dan masyarakat. Tidak perlu memikirkan tetangga, pikirkanlah diri sendiri dulu. Nasib suatu bangsa ditentukan oleh bangsa itu sendiri, bukan pemerintah, elit politik, pemimpin bangsa, saya atau Anda.

Barang dan jasa menjadi unsur kemakmuran kalau langka, dibutuhkan tetapi jumlahnya terbatas. Misalnya menggaruk lengan. Semua orang bisa melakukannnya. Tidak perlu keahlian khusus dan tidak ada permintaan untuk jasa menggaruk lengan. Oleh sebab itu jasa menggaruk lengan tidak mempunyai nilai kemakmuran dan tidak dicari atau diperjual-belikan. Berbeda dengan jasa mengobati penyakit yang memerlukan keahlian khusus. Permintaan selalu ada dan pasokannya juga terbatas. Oleh sebab itu jasa dokter mempunyai nilai ekonomis dan kemakmuran. Ini berlaku juga terhadap benda seperti emas, beras, besi, kendaraan dan lain sebagainya.

Unsur kelangkaan sangat penting sebagai syarat ukuran kekayaan/kemakmuran. Uang kertas atau uang elekronik hanya langka karena hukum dan kekuasaan, bukan karena kenyataan. Yang membedakan antara uang game-monopoly dengan Rupiah atau Dolar atau Yen adalah kekuasaan yang memanyungi Rupiah, Dolar dan Yen. Tanpa kekuasaan semuanya sama saja, yaitu lembaran kertas bergambar Oleh sebab itu, uang kertas (Rupiah, Dolar, Yen) bukan ukuran kekayaan/kemakmuran sejati. Berbeda dengan beras, emas atau jagung, disamping permintaannya selalu ada, untuk memperolehnya diperlukan usaha. Negara tidak perlu melindungi nilai ekonomis barang-barang itu dengan undang-undang atau kekuasaan. Barang itu sendiri sudah punya nilai intrinsik dan diperdagangkan sesuai dengan mekanisme pasar. Ini disebut asset riil. Yang menarik ialah para ahli fiqih klasik Islam hanya menetapkan zakat bagi komoditi dan asset riil tetapi fulus (uang kertas) tidak.

Sebuah contoh yang bagus sekali. Senin malam lalu (28/05/07) di Metro TV ada acara semacam diskusi ekonomi. Katanya makro ekonomi kita bagus, tidak pernah sebagus sekarang. Katanya cadangan devisa Indonesia mencapai rekord tertinggi. Tentu saja dalam hal ekonomi yang katanya bagus ini dibantah oleh pendengar/penonton via telpon.

Grafik di bahwah ini adalah cadangan devisa Indonesia dalam dolar AS (sumber data dari BI) dan dalam ekivalen emas. US Dollar mewakili uang politikus sedang emas mewakili uang sejati. Secara nominal, dalam uang politikus US Dollar, cadangan devisa Indonesia naik, dari US $ 27.5 milyar pada bulan Juni 2000 menjadi US$ 43.4 milyar pada bulan Januari 2007. Tetapi dalam uang sejati (emas) cadangan devisa Indonesia turun dari 95 juta troy oz di bulan Juni 2000 menjadi 66.6 juta oz di bulan Januari 2007. Kalau harga barang tidak banyak berubah terhadap emas, artinya, cadangan devisa yang diperlukan untuk perdagangan luar negri secara riil menurun. Hanya bisa dipakai untuk perdagangan yang volume menurun. Trendnya masih akan terus menurun. Jadi tidak heran kalau banyak orang merasa ekonomi Indonesia tidak menurun. Dengan kata lain, makro ekonomi Indonesia secara riil menurun.

cadangan-devisa.jpg

Grafik 1 Cadangan devisa Indonesia dalam US Dollar (sumber BI) dan Emas

Emas dan perak berabad-abad lampau menjadi uang. Hal ini masih berlaku sampai tahun 1973, Nixon mengeluarkan dekrit bahwa US Dollar tidak lagi dikaitkan dengan cadangan emas US. Sejak saat itu inflasi menjadi fenomena yang umum dalam ekonomi dunia.

Emas dan perak disebut uang sejati karena keberadaannya tidak memerlukan tAnda tangan seseorang (simbol kekuasaan) melekat padanya. Bahkan tidak perlu undang-undang untuk melindungi dan mendukungnya, tidak perlu birokrasi untuk menjaga nilainya.

Emas dan perak cocok sebagai uang sejati tidak bisa busuk. Ini berbeda dengan komoditi lainnya. Sehingga emas dan perak bisa disimpan dalam waktu yang lama. Nilai tukarnya nyaris tidak berubah. Misalnya, seekor kambing pada jaman nabi Muhammad kira-kira seharga 3.2 gram emas (1 dinar waktu itu). Saat ini, setelah 14 abad berlalu, harga kambing senilai 3-6 gram emas. Nyaris tidak berubah. Demikian juga harga seekor ayam adalah 1 dirham (3 gram perak). Setelah 14 abad berlalu, harga ayam antara 6-9 gram perak (2-3 dirham). (Catatan: saya melihat adanya potensi harga emas dan perak naik dalam beberapa tahun kedepan dan mencapai harga rata-rata historis komoditi terhadap emas dan perak). Dengan kata lain, emas dan perak mempertahankan nilai.

Uang, Surat Utang dan Janji Membayar

Dalil yang utama untuk bertahan di masa inflasi ialah: “Jangan memegang asset kertas, tetapi peganglah asset riil”. Uang kertas dan surat utang/obligasi (bond), termasuk surat utang pemerintah, pantang dimiliki di masa inflasi.

Untuk uang sudah jelas, bahwa bukan asset yang baik untuk menangkal inflasi. Sama juga dengan bond, baik itu bond pemerintah pusat (Surat Utang Negara), Obligasi RI atau obligasi pemerintah daerah (municipal bond). Lagi pula tindakan pemerintah mengeluarkan surat utang adalah tidak bermoral. Pertama pemerintah tidak punya jaminan apa-apa yang tangible kecuali janji. Yaitu janji untuk menarik pajak yang lebih berat di masa datang. Kalau saya ucapkan dalam bahasa yang sederhana: “Pinjami aku uang. Untuk membayarnya nanti, kunaikkan kewajiban pajakmu atau pajak anak cucumu”. Harus diingat bahwa pemerintah bukan badan yang menghasilkan untung; pendapatannya berasal dari pajak. Kalau pemerintah sudah kebanyakan utang, maka ada 3 kemungkinan: menarik pajak yang lebih banyak, membuat inflasi sehingga nilai riil utangnya hancur, atau melakukan keduanya. Oleh sebab surat utang bisa menjadi surat sita. SUN menjadi Sita Untuk Negara.

Singkatnya, di masa inflasi uang, obligasi atau bentuk-bentuk promissory notes lainnya hanya merupakan janji yang tidak akan ditepati. Nilai riil yang dibayarkannya akan selalu berkurang dari hari ke hari, dari masa ke masa.

Rumah, Tanah dan Properti

Rumah, tanah dan properti adalah asset riil, asset yang konkret (tangible). Di jaman Orba dekade 70-, 80- dan 90-an, ketika inflasi uang antara 20-30%, suku bunga pinjaman di atas 20% dan suku bunga tabungan di atas 12%, orang banyak membeli rumah. Harga rumah dan tanah tidak bisa turun, katanya. Kenyataannya memang secara nominal harga rumah naik terus.

Secara alamiah, nilai riil rumah akan naik terus kalau ada kenaikan kemakmuran dan/atau ada kenaikan permintaan. Antara tahun 70-an s/d 90-an, bahkan juga sebelum itu, permintaan rumah memang meningkat. Penyebabnya ialah pertumbuhan penduduk relatif tinggi, sebelum program Keluarga Berencana (KB) digalakkan. Satu keluarga bisa terdapat 4-8 orang anak. Sejak dikampanyekannya KB di tahun 70-an, umumnya sekarang pasangan keluarga hanya mempunyai anak 1-2 saja. Kalau ada anak ketiga, sudah disebut kebobolan. Dengan demikian tingkat permintaan rumah dan tanah akan melambat karena faktor demografi. Bisa ramalkan bahwa pertumbuhan permintaan rumah di masa depan hanya untuk mengganti rumah yang rusak dan yang ditinggalkan karena perpindahan penduduk (baik perpindahan status ekonomi atau perpindahan lokasi karena pekerjaan). Oleh sebab itu kenaikan permintaan rumah sangat bergantung pada pertumbuhan riil ekonomi di masa depan. Kalau tidak ada pertumbuhan riil, jangan mengharap terlalu banyak akan adanya kenaikan nilai riil dari sektor properti secara umum.

Faktor lainnya yang membuat properti/rumah/apartemen kurang menarik ialah biaya perawatan. Kalau properti/rumah/apartmen tidak bisa disewakan, maka biaya perawatan akan merongrong keuangan Anda. Banyak orang membiarkan rumah investasinya kosong dan tidak terawat. Pada saat ini kalau Anda jalan-jalan dan masuk ke kompleks-kompleks perumahan, akan dijumpai banyak rumah kosong yang tak terurus dan menjadi rumah hantu.

Unsur Likuiditas juga bisa menjadi beban. Rumah/properti tidak bisa dicairkan dengan cepat pada saat diperlukan. Untuk menjual rumah di harga pasar bisa membutuhkan waktu berbulan-bulan, mungkin juga tahunan. Jadi rumah dan properti tidak bisa dicadangkan sebagai asset yang sewaktu-waktu bisa dicairkan untuk kebutuhan mendadak, seperti menikahkan anak, berobat atau kebutuhan lainnya.

Di samping tidak likuid, perlu perawatan, harga rumah dan properti saat ini sudah mahal. Nilai riil properti yang wajar sekarang hanya sekitar 50% nya saja. Kecuali untuk tempat tinggal, rumah dan properti tidak bisa dimasukkan dalam asset riil yang bagus dibeli.

Emas dan Perak

Emas adalah uang sejati yang paling likuid dan tidak memerlukan biaya yang besar untuk menyimpannya. Pada saat ini harga emas masih murah. Ukuran saya ialah bahwa harga kambing setara dengan 3.2 gram emas. Sekarang ini sekitar 6-9 gram emas. Jadi masih ada potensi naik 2-3 kali lipat ke US$ 2000/ oz atau Rp 400-600 ribu per gram uang 2007. Pada saat berbicara nilai rupiah, perlu dicantumkan tahunnya, karena nilai riil rupiah mempunyai trend menurun. Jadi kalau ada krisis moneter lagi di masa datang, bukan mustahil harga emas bisa menjadi Rp 1 juta/gram.

Emas bisa dibeli secara fisiknya dalam bentuk lantakan (bullion) dan disimpan sendiri. Dan kalau mau dilikuidasi, tinggal pergi ke toko emas dan dijual disana. Tetapi emas bisa juga dibeli dari bank bullion dan disimpan disana. Yang dipegang oleh pemilik adalah sertifikatnya saja. Bank bullion juga berperan sebagai broker pada saat kita akan menjualnya.

Untuk jumlah yang banyak, perlu dipikirkan menempatkan simpanan emas ini di beberapa negara. Emas adalah musuh para politikus karena merupakan saingan uang politikus dan mencegah para politikus dan birokrat memajaki tabungan Anda. Larangan memiliki emas pernah berlaku di banyak negara. Bahkan di negara demokrasi dan bebas seperti AS, kepemilikan emas pernah dikriminilkan selama 40 tahun, yaitu dari tahun 1933 sampai 1973. Selama 40 tahun, siapa saja di AS yang memiliki emas akan dikenakan denda 2 kali nilai emas itu, penjara 10 tahun dan emasnya disita!!! Untuk menghindari perubahan undang-undang yang akhirnya mengarah ke penyitaan ada baiknya menyimpan emas di beberapa negara, kalau memang jumlahnya besar.

Perak sebenarnya bukan hanya uang sejati, tetapi juga bahan komoditi. Perak dulu digunakan sebagai uang, dan sekarang ini banyak digunakan di dalam manufakturing. Sebagi uang, kurs rata-rata jangka panjang Emas:Perak adalah 20. Rasio ini mungkin ada kaitannya dengan jumlahnya ke duanya di dunia ini. Saat ini kurs emas:perak adalah 50. Dengan kata lain perak sangat murah dibandingkan emas. Untuk investasi perak menjadi lebih menarik. Sayangnya perak tidak selikuid emas serta bisa terkena pajak penjualan pada saat kita melakukan transaksi. Oleh sebab itu jika Anda mau menabung dalam bentuk perak, perlu dilakukan di negara-negara di mana perak tidak dikenakan pajak penjualan.Australia misalnya. Atau bisa juga melalui bank bullion, yang biasanya mempunyai kantor di negara-negara yang tidak mengenakan pajak terhadap transaksi perak. Transaksi jual-beli juga bisa dilakukan di bank bullion. Jaman modern ini banyak kemudahan tersedia bagi penabung.

Catatan Akhir

Saya tidak menyediakan solusi bagi politikus. Karena mereka punya posisi yang dienakkan dalam kaitannya curi-mencuri kekayaan atau kemakmuran lewat penguasaan dan monopoli pencetakan uang. Kalau mereka mau berperan serta dalam mencapai kemakmuran, yang mereka bisa lakukan adalah berdisiplin dalam fiskal dan menjadi manusia yang produktif. Saya meragukan bahwa politikus mau melakukannya. Saya tidak berbicara “bisa“, tetapi “mau“.

Saran saya lebih banyak untuk sang “korban“. Sang korban, pelengkap penderita, secara naluri akan selalu mencari jalan jalan keluar. Solusinya adalah kurangi penggunaan uang, surat utang obligasi, deposito berjangka dan gunakan asset riil sebagai tabungan. Asset riil disini bisa emas, perak, dan jika ada sistem yang memungkinkan bahan makanan atau bahan komoditi lainnya. Yang terakhir ini masih dalam angan-angan. Karena biaya penyimpannya mahal. Ini adalah pembangkangan terhadap sistem moneter. Kalau Anda tidak suka, lakukan pembangkangan.

Politikus di pemerintahan dari dulu sampai sekarang sangat tidak perduli terhadap defisit fiskal. Tidak ada tahun tanpa defisit fiskal. Seseorang harus menanggung bebannya. Anak cucu Anda atau Anda sendiri. Kalau dulu bank sentral, otoritas pencetakan uang, di kuasai politikus di pemerintahan, sekarang tidak. Tetapi tidak berarti bank sentral tidak bisa melakukan persekongkolan setan (evil conspiracy) dengan politikus di pemerintahan untuk mencetak uang. Pada akhirnya bank sentral (Indonesia) adalah bagian dari pemerintahan. Misalnya pemerintah mengeluarkan surat utang dan bank sentral mencetak uang untuk membelinya. Sama saja hasilnya dengan mencetak uang secara langsung. Banyak kiat-kiat seperti ini.

Akhirnya saya mau menyitir sebuah doa yang diajarkan Nabi Muhammad dalam kaitannya dengan utang yang bisa kita perluas ke kredit:

“Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kegelisahan dan kesedihan; dari kelemahan dan kemalasan; dari sifat pengecut dan bakhil; dari beban utang dan kesewenang-wenangan orang lain.”

Kredit/utang dan kesewenang-wenangan bergandengan bersama-sama. Coba perhatikan uang di bawah ini.

ukbi_emisi_1952_5rp_detail.jpg

250-1949.jpg

uk_dai_nippon_teikoku_seihu_100rp_detail.jpg

uk_de_japansche_regeering_10gulden_detail.jpg

ukbi_1995_20000rp_detail.jpg

Uang-uang yang didasari kredit ini sudah tidak laku karena pemerintah mengatakan demikian. Sedangkan emas dan perak masih laku karena pasar menghendaki demikian. Masihkah Anda mau menyimpan uang yang berlaku karena ketetapan segelintir politikus?

Semoga kemakmuran bersama Anda. [ ]

————–
* Kontributor adalah pengelola blog Ekonomi Orang Waras dan Investasi dan KlubSaham.com. Di awal tahun lalu Imam Semar memprediksikan dengan tepat terjadinya krisis finansial tahun ini. Tulisannya di atas dipublikasikan dengan penyuntingan minimum. Hak Cipta ada pada penulisnya.

(Jurnal Kebebasan: Akal dan Kehendak; Vol. II. Ed. 22, 24 Maret 2008.)

Kirim artikel ini:
Share on FacebookTweet about this on TwitterShare on Google+Email this to someoneShare on RedditShare on StumbleUpon

Tulisan lain yang mungkin terkait:

Discussion

No comments for “Ilusi dan Kemakmuran (Bag. 3 – Tamat)”

Komentari

Arsip Bulanan

Rekomendasi

buku_rothbard.jpg
Apa Yang Dilakukan Pemerintah Terhadap Uang Kita?; Oleh: Murray Newton Rothbard; PT. Granit, Yayasan Obor Indonesia; ISBN : 97897916217 -4-8; tersedia di toko-toko buku terdekat. (Intip cuplikannya).
alt text
Membela Kapitalisme Global; Oleh: Johan Norberg; FNS Jakarta; tersedia di toko-toko buku terdekat. (Baca resensinya di sini).
Economic  Activism Blogs - Blog Catalog Blog Directory