Uncategorized

Sosok Keynes (Bag. 2)

Oleh: Murray Newton Rothbard
Jurnal Kebebasan: Akal dan Kehendak
Vol. II, Edisi 22, Tanggal 24 Maret 2008

[Jika Bagian 1 serial tulisan ini a.l. memaparkan latar belakang kepribadian dan pendidikan Keynes, di Bagian 2 ini ditunjukkan sosok sang tokoh sebagai seorang ekonom dan politisi. Simak juga faktor-faktor terpenting yang menjelaskan mengapa pemikiran-pemikiran Keynes, sebagaimana terangkum dalam bukunya yang amat terkenal–The General Theory, begitu mendominasi perkembangan teori dan kebijakan ekonomi di seluruh dunia, bahkan hingga detik ini. –Peny.]

(Bagian 2)

SANG PENIPU

Keynes muda sama sekali tidak menunjukkan minat pada ekonomi; minatnya justru dominan pada filsafat. Sebenarnya, ia menyelesaikan gelar diplomanya di Cambridge tanpa mengambil satupun mata kuliah ekonomi. Ia bukan cuma tidak pernah mendapat gelar satupun di bidang ini. Satu-satunya kuliah ekonomi yang pernah diikuti Keynes adalah mata kuliah tingkat sarjana selama satu kuartal di bawah Alfred Marshall. Tetapi ia segera merasakan betapa menggairahkannya pesona ilmu ekonomi, karena disiplin ini menarik minat teoritisnya dan dahaganya untuk menoreh jejak besar lewat dunia tindakan yang riil. Di musim gugur 1905, ia menulis surat kepada Strachey: “Ekonomi semakin memuaskan saya, dan saya rasa saya cukup berhasil. Saya ingin mengelola jalan kereta api atau mengorganisir suatu Trust atau setidaknya mengibuli publik investor” (Harrod 1951: 111).[1]

alt textHarrod (1900-1978)

Saat itu Keynes baru memulai karir sepanjang hidupnya sebagai investor dan spekulan. Namun, Harrod agak terkendala untuk menyangkal bahwa Keynes telah mulai melakukan spekulasi sebelum 1919. Sambil mengatakan bahwa Keynes “tidak memiliki modal” sebelum masa itu, Harrod kukuh memberi penjelasan dalam sebuah ulasan buku enam tahun setelah publikasi biografinya: “Ini penting dipahami dengan jelas, sebab banyak orang mengharapkan yang buruk-buruk. . . [mereka] yang mensinyalir bahwa Keynes telah memanfaatkan informasi dari orang dalam saat bekerja di Treasury (1915-Juni 1919) agar spekulasinya sukses” (Harrod 1957). Dalam suratnya kepada Clive Bell, pengarang buku yang diulasnya itu dan juga teman lama Keynes di Bloomsbury, Harrod menekankan butir tersebut lebih lanjut: “Ini penting sebab banyak cerita mengerikan yang tersebar luas. . . tentang cara-cara Keynes mencari uang dengan cara tidak terhormat dengan memanfaatkan posisinya di Treasury” (ibid.; lihat juga Skidelsky 1983: 286-88).

Terlepas dari sangkalan kukuh dari Harrod, Keynes tentu sudah menyiapkan “dana khusus” dan mulai berinvestasi menjelang Juli 1905. Sekitar tahun 1914, Keynes melakukan spekulasi besar di pasar saham dan menjelang 1920 berhasil mengakumulasikan £16,000-sekitar $200,000 sekarang. Separuh dari investasinya ini berasal dari pinjaman. Tidak jelas pada titik ini apakah dananya dipakai untuk investasi atau untuk tujuan spekulatif lain, tetapi kita mengetahui bahwa modalnya meningkat lebih dari tiga kali lipat. Apakah Keynes menggunakan informasi “orang dalam” dari Treasury untuk melakukan investasi tersebut tidak pernah terbukti, meskipun hingga kini kecurigaan tersebut masih tertinggal (Skidelsky 1983: 286-88).

Tuduhan penipuan Keynes memang tidak terbuktikan; namun perilakunya harus menjadi bahan pertimbangan sehubungan dengan penghujatannya yang keras terhadap pasar finansial, yang dalam Teori Umum dicelanya sebagai sebagai kasino perjudian. Oleh karena itu, mungkin saja keberhasilan Keynes dalam melakukan spekulasi keuangan berasal dari penipuan terhadap publik, meskipun tidak ada alasan baginya untuk menyesali fakta tersebut. Kendati demikian, ia menyadari bahwa ayahnya tidak akan menyetujui tindakannya ini.[2]

KEYNES DAN INDIA

Saat di Eton, Keynes muda (dalam usia sekitar 17-18 tahun) menyaksikan gelombang sentimen anti kolonialisme menyusul perang Inggris melawan kelompok Boers di Afrika Selatan. Namun, peristiwa tersebut tidak pernah memengaruhi sentimennya. Sebagaimana ditulis Skidelsky, “Sepanjang hidupnya ia mengasumsikan Kekuasaan Inggris sebagai fakta kehidupan dan tak pernah sedikitpun berniat untuk mencampakkannya. . . . Keynes tidak pernah melenceng jauh dari pandangannya bahwa dunia ini lebih baik diatur oleh orang Inggris daripada oleh orang asing” (Skidelsky 1983: 91).

Di penghujung 1905, tanpa memedulikan gerutu Marshall, Keynes meninggalkan kuliah sarjananya di bidang ekonomi menyelesaikan satu kuartal. Setahun kemudian ia mengikuti ujian masuk pegawai negeri dan mendapat posisi klerikal di Kantor India. Di musim semi 1907, Keynes dipindahkan dari Departemen Militer ke Departemen Pemasukan Negara, Statistik dan Perdagangan. Sementara harus menjadi pakar di bidang persoalan India, ia tetap saja dengan ringan beranggapan bahwa kekuasaan Inggris tidak boleh dipertanyakan; Inggris cuma menyebarkan sistem pemerintahan yang baik di mana sistem demikian tidak dapat tumbuh dengan sendirinya. “Maynard,” seperti ditunjukkan Skidelsky, “selalu melihat Raj dari gedung Whitehall; ia tidak pernah mempertimbangkan implikasi-implikasi manusiawi dan moral dari kekuasan imperialis atau apakah orang-iorang Inggris memeras penduduk India”. Dalam kejayaan tradisi imperialis di bawah keluarga Mills dan Thomas Macaulay pada abad ke-19 di Inggris, Keynes tidak pernah merasa perlu mengunjungi India untuk mempelajari bahasanya. Ia juga tidak membaca buku apapun menyangkut wilayah tersebut, kecuali yang berhubungan dengan keuangan (ibid.: 176).

Kendati sebagai pegawai negeri Keynes berhasil mencapai kedudukan tinggi, ia segera menjadi bosan dengan quasi-sinecure tersebut dan mencoba kembali ke Cambridge dengan jalan mengajar. Akhirnya di musim semi 1908, Marshall menulis untuk menawarkan kepada Keynes posisi sebagai dosen ekonomi. Saat itu Marshall sudah mendekati usia pensiun, dan Keynes akhirnya berhasil dibujuk oleh temannya, mantan murid favorit sekaligus penerus, yakni Arthur C. Pigou, yang menyarankan agar Keynes menerima tawaran Marshall tersebut. Lagipula, Marshall berjanji akan menggaji Keynes dari koceknya sendiri, dan ayahnya, Neville Keynes, juga menawarkan bayaran yang setara.

Di tahun 1908, Keynes dengan gembira menerima peran yang agak terkucil sebagai dosen ekonomi Marshallian di sekolah lamanya, King’s College, Cambridge. Namun, kebanyakan waktu dan energinya dihabiskannya sebagai lelaki yang sibuk di London (Corry 1978: 5). Salah satu jabatan Keynes adalah menjadi penasehat informal, tetapi bergengsi, untuk Kantor India. Tentu, hubungannya dengan kantor ini semakin meluas setelah tahun 1908 (Keynes 1971: 17). Salah satu dampaknya adalah semakin pentingnya peran Keynes dalam urusan moneter India. Keynes juga menulis jurnal artikel utamanya untuk Economic Journal di tahun 1909; menulis memoranda yang berpengaruh dan kelak mendasari buku pertamanya di tahun 1913, yaitu monograf singkat tentang Mata Uang dan Keuangan India. Pengaruh Keynes juga besar terhadap Komisi Kerajaan Untuk Keuangan dan Mata Uang India, yang pernah ia jabat sebelumnya, ketika usianya belum lagi tiga puluh tahun.

Peran Keynes dalam keuangan India tidak saja penting, melainkan juga pada akhirnya destruktif; ini semacam pertanda bagi perannya kelak dalam keuangan internasional. Seusai mengubah India dari baku perak ke baku emas pada tahun 1892, pemerintah Inggris akhirnya tersandung oleh baku tukar-emas, alih-alih standar uang logam emas secara penuh yang selama ini telah diterapkan di Inggris dan beberapa bangsa utama lainnya di Barat. Uang tidak dicetak sebagai uang logam atau dalam bentuk lain yang dikenal di India, dan cadangan emas India untuk rupee disimpan dalam bentuk saldo sterling di London, bukan dalam bentuk emas per se. Bagi kebanyakan pejabat pemerintah, pengaturan seperti itu hanya merupakan separuh jalan menuju standar emas penuh kelak; tetapi Keynes menyambut standar tukar emas tersebut dan menyebutnya sebagai sesuatu yang progresif, ilmiah, dan mengarah kepada mata uang ideal. Membebek pada pandangan yang telah diyakini selama berabad-abad oleh kaum inflasionis, ia beropini bahwa uang emas itu “menghambur-hamburkan sumber daya” saja, yang [seharusnya] dapat “dihemat” melalui kertas dan pertukaran mata uang asing. Namun, titik krusial di sini adalah bahwa baku-palsu emas, sebagaimana seharusnya baku tukar-emas, memberi ruang lebih besar bagi pengelolaan moneter dan inflasi oleh pemerintahan sentral. Ia [sistem ini] menjauhkan kekuasaan masyarakat terhadap uang dan menempatkan kekuasaan tersebut ke tangan pemerintah. Keynes memuji standar India yang mengijikan “elastisitas” uang yang lebih tinggi (sebuah kata kode bagi inflasi moneter) dalam merespons kebutuhan.

Selain itu, secara khusus ia menyambut gembira laporan komisi pemerintah AS di tahun 1903 yang menganjurkan penerapan baku tukar-emas di Cina serta negara-negara Dunia Ketiga lainnya yang masih menggunakan standar perak-yang didorong oleh para ekonom dan politisi progresif untuk membawa negara-negara terserbut ke dalam blok dolar-emas yang didominasi AS (Keynes 1971: 60-85; lihat juga Parrini dan Sklar 1983; Rosenberg 1985).

Keynes tentu saja secara eksplisit mengharapkan digantikannya penggunaan baku emas dengan sistem yang lebih “ilmiah” berdasarkan pada sejumlah mata-uang kertas nasional. “Preferensi terhadap cadangan mata-uang yang kasat mata,” menurut Keynes, adalah “peninggalan sejarah dari jaman baheula, saat pemerintah belum dipercaya seperti sekarang dalam menangani persoalan ini” (1971: 51). Hal inilah yang membayangi penolakan Keynes yang terkenal terhadap emas, yang disebutnya sebagai “peninggalan barbar”. Secara lebih luas, pandangan-pandangan awal Keynes terhadap moneter mengawali baku pertukaran-emas pembawa petaka, hasil rekayasa Inggris sepanjang tahun 1920-an, dan juga skema Bretton Woods yang, meski memiliki cacat serius, tetap dipaksakan oleh Amerika Serikat-dengan bantuan Inggris dan Lord Keynes-di akhir PD II, untuk mengelola dolar-emas.

alt textMarshall

Namun demikian, sang ekonom Cambridge ini tidak puas hanya dengan membela status-quo pertukaran-emas di India. Dengan keyakinan bahwa pawai menuju inflasi terkendali masih belum cukup cepat, ia memaksakan [rencana] pendirian bank sentral (atau “Bank Negara”) bagi India, yang dengan demikian akan memungkinkan sentralisasi cadangan, elastisitas moneter yang lebih tinggi, dan ekspansi serta inflasi moneter yang lebih luas. Meskipun Keynes akhirnya gagal dalam meyakinkan Komite Kerajaan untuk rencana tersebut, ia cukup berhasil mempengaruhi laporan akhir Komite tersebut. Laporan ini melampirkan pandangan Keynes tentang bank sentral, dan Keynes juga memimpin sidang pengujian-silang yang berlangsung ketat dan keras antara saksi-saksi yang pro terhadap baku uang emas dan yang anti kepada bank-sentral. Sebuah catatan kaki yang menarik sehubungan dengan peristiwa ini menyematkan reaksi guru lamanya, Alfred Marshall, terhadap lampiran tentang bank-sentral tersebut. Marshall menulis kepada Keynes bahwa dirinya [Marshall] “terpesona pada gagasan tersebut, yang dikatakannya ibarat permulaan jenius bagi pekerjaan yang konstruktif” (ibid.: 268).

Keynes umumnya gemar mengutak-atik teori ekonomi untuk memecahkan persoalan-persoalan praktis. Motivasi utamanya dalam menceburkan diri ke dalam persoalan mata uang India adalah mempertahankan rekor seorang patron politis perdananya yang dianggapnya penting, yaitu Edwin Samuel Montagu, seorang tokoh dari keluarga bankir internasional berpengaruh, yaitu Montagu dan Samuel, asal London. Montagu adalah presiden Cambridge Union–masyarakat debat di universitas tersebut, saat Keynes masih kuliah dulu, dan sejak itu Keynes telah menjadi favoritnya. Dalam pemilu tahun 1906, Keynes berkampanye untuk Montagu dan berhasil memenangkannya satu kursi di Parlemen, sebagai wakil Liberal. Di penghujung 1912, ketika Montagu menjabat sebagai di Sekretariat Negara untuk India, terjadilah skandal keuangan India. Pemerintah India, di mana Montagu saat itu menjadi komandan kedua, telah melakukan kontrak rahasia dengan firma perbankan milik Samuel Montagu & Co untuk pembelian perak. Kelak terungkap saratnya unsur nepotisme dalam kontrak tersebut. Lord Swaythling, mitra senior dalam perusahaan tersebut, adalah ayah dari undersecretary Edwin S. Montagu; mitra lainnya, Sir Stuart Samuel, adalah saudara laki-laki dari Herbert Samuel, Postmaster-General dari pemerintah Asquith (lihat Skidelsky 1983: 273).

SANG PENJUAL TEORI UMUM

alt textKeynes dan Teori Umum-nya

Teori Umum Keynes, setidaknya dalam jangka pendek, termasuk salah satu buku yang paling berhasil sepanjang masa. Hanya dalam waktu singkat selang beberapa tahun saja, teorinya yang “revolusioner” berhasil menaklukkan profesi ekonomi dan dengan cepat mentransformasikan kebijakan publik. Ilmu ekonomi yang ketinggalan jaman tidak dihargai atau tidak “dinyanyikan” lagi, terhempas ke dalam tong sampah sejarah. Bagaimana hal ini bisa dicapai? Keynes dan para pengikutnya mungkin akan mengatakan, tentu saja, profesi ekonomi akan menerima kebenaran yang telah terbukti secara gamblang. Namun demikian, Teori Umum tidak revolusioner sama sekali, melainkan hanya berisi pandangan usang dan keliru yang penah diyakini oleh kelompok merkantilis dan inflasionis, dan yang sebenarnya sudah dipatahkan tetapi kemudian dikemas ulang oleh Keynes dengan bahasa yang mentereng, penuh jargon berkonstruksi baru dan umumnya sukar dipahami. Jika demikian halnya, bagaimana mungkin buku tersebut dapat sukses dalam sekejap?

Salah satu alasannya, seperti ditunjukkan Schumpeter, adalah bahwa pemerintah serta iklim intelektual di tahun l930-an memang sedang mengidamkan perubahan. Pemerintah selalu mencari sumber-sumber baru pemasukan negara dan cara-cara baru untuk membelanjakan uang, yang untuk tujuan-tujuan tersebut seringkali harus bersusah payah. Namun, disiplin ekonomi, selama lebih dari seabad, selalu “memasang muka masam” dan memperingatkan pemerintah akan bahaya inflasi dan pengeluaran defisit, bahkan pula di masa resesi.

Para ekonom-yang oleh Keynes disapukan ke dalam satu kategori untuk kemudian diejeknya sebagai para penganut mazhab “klasik’ dalam Teori Umum-adalah orang-orang yang sering “mengeluh di saat piknik”, dan yang gemar “memaparkan gambaran kelam” terhadap upaya-upaya pemerintah untuk meningkatkan belanjanya. Kini datanglah Keynes berikut ekonomi modernnya yang “ilmiah”, yang mengatakan bahwa para ekonom-klasik tua telah keliru dalam segala hal; bahwa, sebaliknya, justru tanggungjawab moral dan ilmiah pemerintahlah untuk membelanjakan, membelanjakan, dan melakukan pembelanjaan; untuk menimbulkan defisit di atas defisit; untuk menyelamatkan perekonomian dari dosa-dosa kecil semacam penghematan dan anggaran berimbang dan kapitalisme yang tidak bisa dikekang; dan untuk menciptakan perbaikan dari masa depresi. Betapa pasnya ekonomi Keynesian bagi pemerintah-pemerintah di dunia!

Tambahan pula, para intelektual di seluruh dunia akhirnya meyakini bahwa kapitalisme laissez-faire tidak akan berhasil, bahkan justru bertanggungjawab atas terjadinya Depresi Besar. Komunisme, fasisme, dan berbagai bentuk sosialisme serta perekonomian terkontrol menjadi populer untuk alasan tersebut di sepanjang tahun 1930-an. Keynesianisme sangat pas, amat sesuai bagi iklim intelektual saat itu. Selain itu, ada pula beberapa alasan kuat yang internal sifatnya bagi kesuksesan Teori Umum. Dengan mendandani teori barunya dengan jargon-jargon yang sulit ditembus, Keynes menciptakan atmosfir yang memungkinkan hanya para ekonom muda saja yang dapat memahami ilmu baru tersebut. Tidak seorangpun ekonom di atas usia tigapuluh tahun yang dapat memahami Ekonomi Baru. Para ekonom yang, dapat dimengerti, tidak memiliki kesabaran menghadapi kompleksitas-kompleksitas baru, cenderung akan mencampakkan Teori Umum sebagai hal yang tidak masuk akal dan menolak menangani pekerjaan yang luar biasa sulit dipahami. Di sisi lain, para ekonom muda dan sarjana, yang cenderung sosialistik, cenderung siap menangkap peluang baru dan mau membungkukkan diri demi tugas dengan imbalan memahami Teori Umum. Paul Samuelson pernah menuliskan mengenai perasaannya saat itu, sewaktu ia masih berusia di bawah tiga puluh dan Teori Umum baru diterbitkan pada tahun 1936; ia merayakan kegembiraannya, dengan ungkapan kata-kata penyair Wordsworth, “Diberkahilah dia, yang hidup di saat fajar, dan masa muda adalah surga”. Namun sang Samuelson yang sama, yang merasa antusias saat wahyu baru tersebut turun, pada akhirnya mengakui bahwa Teori Umum adalah ” buku yang ditulis dengan buruk; organisasinya jelek. . . . Mengandung banyak hal yang luar biasa mengacaukan. . . . Saya kira saya tidak merahasiakan [fakta bahwa] bahwa saya memang dengan khidmad pernah mengatakan-sesuai ingatan saya yang masih cukup tajam-bahwa tidak ada seorangpun di Cambridge, Massachusetts, yang dapat memahami isi Teori Umum selama dua belas hingga delapan belas bulan setelah penerbitannya” (Samuelson [1946] 1948: 145; Hodge 1986: 21-22).

alt text

Harus diingat bahwa persimpangan Keynesian, diagram-diagram IS-LM, dan sistem persamaan- yang kini dikenal secara umum, belum tersedia bagi mereka yang mencoba memahami Teori Umum ketika buku tersebut baru diterbitkan. Untuk memahami sistem Keynesian diperlukan waktu sepuluh hingga lima belas tahun serta jam dan tenaga manusia yang tak terhitung jumlahnya. Seringkali, sebagaimana dalam kasus-kasus Ricardo dan Keynes, semakin buram isi buku, semakin sukseslah buku tersebut, karena para ilmuwan muda akan mengerumuni karya semacam itu, dan menjadi pengikut. Yang juga penting bagi keberhasilan Teori Umum adalah kenyataan bahwa perang besar biasanya menciptakan banyak jenderal; begitu juga dengan revolusi Keynesian. Pencampakan para ekonom generasi tua menciptakan peluang baru bagi penganut muda Keynesian, baik dalam profesi ekonomi maupun di pemerintahan.

Faktor krusial lain penentu keberhasilan mendadak yang luar biasa dari Teori Umum adalah asalnya: buku itu muncul dari dalam universitas yang paling kolot tetapi juga merupakan pusat perekonomian nasional yang amat dominan di dunia. Selama satu setengah abad, peran besar Inggris Raya sangat dominan dalam disiplin ekonomi, dan kaya akan tradisi, seperti yang diwariskan oleh Smith, Ricardo, dan Mill. Kita baru saja melihat bagaimana Marshall membangun dominasinya di Cambridge dan bahwa disiplin ekonomi yang ia kembangkan pada dasarnya berarti kepulangan kembali ke tradisi klasik Ricardo/Mill. Sebagai ekonom ternama Cambridge sekaligus murid Marshall, Keynes mendapat keuntungan saat melanjutkan gagasan-gagasannya dalam Teori Umum. Dapat dikatakan dengan aman bahwa seandainya Keynes cuma seorang guru ekonomi tak dikenal di sebuah kampus Amerika di wilayah barat-tengah, maka karyanya tersebut, seandainya pun diterima oleh penerbit, mungkin akan benar-benar diabaikan orang. Pada hari-hari menjelang PD II, Inggrislah, dan bukan AS, yang berfungsi sebagai pusat paling bergengsi di dunia dalam hal pemikiran ekonomi. Sementara itu, ilmu ekonomi mazhab Austria telah berkembang di AS sebelum Perang Dunia I (melalui karya-karya David Green, Frank A. Fetter, dan Herbert J. Davenport), periode 1920-an hingga awal tahun 1930-an secara umum merupakan periode yang kering dalam hal pemikiran ekonomi. Kaum institusionalis yang anti teori saat itu mendominasi disiplin ekonomi di Amerika, sehingga meninggalkan kekosongan yang dengan mudah diisi oleh Keynes.

Yang juga penting bagi keberhasilan Keynes adalah sosoknya yang luar biasa sebagai seorang intelektual dan pemimpin ekonomi-politik Inggris, termasuk peran besarnya sebagai peserta dalam perjanjian Versailles-dan kemudian menjadi pengritiknya yang tajam. Sebagai anggota Bloomsbury, ia juga orang penting dalam lingkungan kebudayaan dan kesenian Inggris. Selain itu, harus disadari bahwa menjelang Perang Dunia II, jumlah penduduk berpendidikan setingkat sarjana masih merupakan minoritas kecil. Jumlah universitas pun masih kecil dan secara geografis umumnya terkonsentrasi di Inggris Raya. Akibatnya, hanya terdapat beberapa orang ekonom dan pengajar ekonomi saja, yang saling mengenal satu sama lain. Kondisi ini menciptakan ruang yang cukup besar dan kondusif, sehingga haluan profesi keilmuan tersebut dapat diubah ke doktrin Keynesian dengan bermodalkan personalitas serta karisma.

Faktor-faktor eksternal semacam karisma pribadi, politik dan oportunisme karier merupakan hal penting dan sangat kuat di antara para pengikut F.A. Hayek di London School of Economics (LSE). Selama awal tahun 1930-an, Hayek di LSE dan Keynes di Cambridge merupakan dua kutub dalam pengembangan disiplin ekonomi Inggris. Sementara itu, Hayek juga berhasil membawa banyak ekonom Inggris ke dalam teori-teori moneter, modal dan siklus-bisnis Austria (atau, Misesian). Tambahan pula, Hayek, dalam serangkaian artikelnya, dengan cemerlang meruntuhkan karya-karya awal Keynes, yakni berupa dua volume buku Risalah Tentang Uang. Sejumlah besar kekeliruan pemikiran Keynes yang ditunjukkan oleh Hayek juga berlaku untuk Teori Umum (lihat Hayek 1931a, 1931b, 1932). Harus dikatakan bahwa para siswa dan pengikut Hayek saat itu memahami ilmu ekonomi secara lebih baik. Dalam hal teori, mereka sebenarnya sudah memiliki semacam imunitas terhadap Teori Umum. Meskipun demikian, menjelang akhir tahun 1930-an, satu persatu hingga semua pengikut Hayek berpindah haluan menjadi Keynesian, termasuk Lionel Robbins, John R. Hicks, Abba P. Lerner, Nicholas Kaldor, G.L.S. Shackle, dan Kenneth E. Boulding.

alt textLord Lionel Robbins

Yang paling mencengangkan mungkin adalah perubahan paradigma Lionel Robbins. Ia bukan saja pengikut Misesian dalam hal metodologi, moneter dan teori siklus bisnis, melainkan juga seorang aktivis ulung pro-Austrian. Sebagai seorang yang berubah haluan sejak mengikuti seminar privat Mises di Vienna pada tahun 1920-an, Robbins sangat berpengaruh di departemen ekonomi LSE, antara lain karena telah berhasil mengajak Hayek ke sana pada tahun 1931 dan menerjemahkan serta menerbitkan karya-karya Hayek dan Mises. Sejak lama ia telah mengritik doktrin Keynesian sebelum Teori Umum. Namun demikian, perubahan-haluan Robbins menjadi Keynesian tampaknya menjadi semakin mantap saat ia bertugas menjadi rekan kerja Keynes dalam merencanakan perekonomian di masa perang. Di dalam buku harian Robbins terdapat kesan kuat tentang ekstasi kegembiraannya. Kesan tersebut mungkin menjelaskan tentang penghinaan yang mencengangkan terhadap dirinya sendiri, yaitu sewaktu ia menampik karya Misesian-nya sendiri, The Great Depression (1934). Penolakan Robbins itu diterbitkan dalam otobiografinya pada tahun 1971. “Saya akan selalu menganggap aspek-aspek perselisihan saya dengan Keynes sebagai kekeliruan terbesar dalam karier profesional saya, dan buku itu, The Great Depression, yang saya tulis kemudian, antara lain untuk membenarkan sikap saya yang sesat itu, sebagai sesuatu yang dengan senang hati ingin saya lupakan” (Robbins 1971: 154). Catatan buku harian Robbins tentang Keynes selama PD II hanya dapat dipertimbangkan sebagai pandangan pribadi yang berisi kegembiraan yang absurd. Inilah Robbins di saat gladi kotor konferensi pra-Bretton Woods pada bulan Juni 1944 di Atlantic City:

Keynes saat itu berada dalam suasana hati yang paling jernih dan persuasif: dan efeknya tak tertahankan….Keynes mestinya salah satu orang terhebat yang pernah hidup-logikanya cepat, visinya luas, dan di atas segala ketepatan makna kata-kata yang tak berbanding, semuanya ini berbaur membentuk sesuatu yang jauh di atas pencapaian manusia biasa. (Ibid.: 193)

Hanya Churchill, lanjut Robbins, yang sebanding dengannya. Tetapi Keynes lebih hebat, karena ia benar-benar menerapkan gaya klasik kehidupan dan bahasa kita [sehari-hari], yang ditembakkannya secara tidak tradisional, semacam kualitas unik yang bukan berasal dari bumi ini, yang hanya dapat disebut sebagai kejeniusan murni. Orang-orang Amerika yang hadir duduk terpesona ketika sang tamu yang seperti dewa itu bernyanyi, dan cahaya keemasan bependar di sekelilingnya. (Ibid.: 208-12; cf. 1984: 342)

Puja-puji semacam ini hanya dapat berarti bahwa Keynes memiliki semacam magnetisme pribadi yang kuat yang amat mempengaruhi Robbins.[3] Terpenting bagi strategi Keynes dalam meletakkan Teori Umumnya adalah dua klaim sebagai berikut: pertama, bahwa ia telah merevolusi teori ekonomi; dan kedua, bahwa ia adalah ekonom pertama-terlepas dari beberapa ekonom lain yang berasal dari “dunia bawah”, seperti Silvio Gesell-yang memfokuskan diri pada masalah pengangguran. Semua ekonom terdahulu, yang ia pukul-ratakan sebagai golongan “klasik”, menurutnya, mengasumsikan tingkat kesempatan kerja penuh; dan Keynes bersikeras bahwa uang hanyalah sebuah “tabir” bagi proses-proses riil dan oleh karena itu bukan merupakan persoalan sesungguhnya dalam perekonomian.

Salah satu dampak yang kurang menguntungkan adalah miskonsepsi Keynes terhadap sejarah pemikiran ekonomi, mengingat bahwa legiun pengikut setianya menerima kekeliruan-kekeliruan pandangan Keynes di dalam Teori Umum sebagai kata-kata final dalam subyek tersebut. Beberapa kesalahan yang berdampak besar mungkin berasal dari ketidaktahuannya [Keynes], sebab ia memang mendapat sedikit pendidikan dalam subyek tersebut, sementara karyanya paling banyak dibaca oleh para sejawat Cantabrigian-nya. Sebagai contoh, dalam ringkasannya yang jelas mendistorsi hukum Say (“suplai menciptakan permintaannya sendiri”), ia menyiapkan argumen manusia jerami dan kemudian meruntuhkannya dengan mudah (1936: 18). Pernyataan-ulang Keynes yang keliru dan menyesatkan tentang hukum Say selanjutnya diulangi (tanpa mengutip Say atau ekonom-ekonom lain pengikut hukum tersebut) oleh Joseph Schumpeter, Mark Blaug, Axel Leijonhufvud, Thomas Sowell, dan lainnya.

Formulasi yang lebih baik dari hukum tersebut adalah bahwa suplai suatu barang akan membentuk permintaan terhadap satu barang lain atau lebih (lihat Hutt 1974: 3).

Tetapi unsur ketidaktahuan tidak patut diterima untuk klaim Keynes bahwa ia adalah ekonom pertama yang mencoba menerangkan pengangguran atau melampaui asumsi bahwa uang hanyalah sebuah tabir yang tidak memberi pengaruh penting pada siksus bisnis atau perekonomian. Di sini kita harus mengatakan bahwa Keynes telah sengaja melakukan penipuan dan kebohongan-apa yang kini kita kenal dengan eufimisme “disinformasi”. Keynes tentunya mengetahui dengan baik tentang keberadaan mazhab Austria dan LSE, yang telah berkembang pesat di London sejak tahun 1920-an dan khususnya sejak tahun 1931.

Ia sendiri pernah secara pribadi mendebat Hayek, sebagai pemimpin pemikiran Austria di LSE, dalam sebuah artikel jurnal terbitan LSE, Economica. Para ekonom berhaluan Austria di London telah mengaitkan masalah pengangguran berkelanjutan dalam skala besar dengan tingkat upah yang dengan sengaja dipertahankan melebihi tingkat upah di pasar bebas melalui gabungan serikat pekerja dan tindakan pemerintah (mis. dengan pemberian asuransi pengangguran yang luar biasa besar nilainya). Resesi dan siklus bisnis telah dikaitkan dengan kredit perbankan dan ekspansi moneter, yang dipicu oleh bank sentral, yang mendorong tingkat bunga di bawah tingkat preferensi-waktu yang wajar/asli dan menciptakan terlalu banyak investasi barang modal dalam tatanan yang lebih tinggi (higher-order capital goods). Semua ini niscaya akan terlikuidasi melalui resesi yang pada gilirannya pasti muncul begitu ekspansi kredit berhenti.

Bahkan seandainyapun Keynes tidak sependapat dengan analisis ini, tidak sepantasnya ia mengabaikan eksistensi mazhab yang saat itu mengemuka di Inggris Raya, sebagai aliran pemikiran yang tidak pernah dapat diinterpretasikan sebagai institusi yang telah mengabaikan dampak ekspansi moneter terhadap keadaan riil perekonomian.[4]

alt textPigou

Untuk menaklukkan dunia ekonomi dengan teori barunya, sangat penting bagi Keynes untuk menghancurkan lawan-lawannya di lingkungan Cambridge. Dalam benaknya, siapa saja yang mengendalikan Cambridge, mengendalikan dunia. Lawannya yang paling berbahaya adalah penerus terpilih Marshall yang juga mantan dosen Keynes sendiri: Arthur C. Pigou. Maka mulailah Keynes melakukan kampanye destruktif terhadap Pigou ketika Pigou menolak pendekatan yang ditempuh Keynes sebelumnya dalam Risalah Tentang Uang. Pada titik itu hubungan baik Keynes juga berakhir dengan mantan mahasiswa sekaligus teman dekatnya, Dennis H. Robertson, yang telah menolak untuk berkomplot melawan Pigou. Kesalahan pernyataan paling mencolok dalam Teori Umum–tetapi tetap saja ditelan bulat-bulat begitu saja oleh para pengikut Keynes–adalah pemaparannya yang “keterlaluan” terhadap pandangan-pandangan Pigou mengenai uang dan pengangguran. Keynes menyebut Pigou sebagai ekonom kontemporer utama yang beraliran “klasik” yang meyakini bahwa kesempatan kerja selalu dalam kondisi penuh dan bahwa uang hanyalah tabir yang tidak menyebabkan gangguan dalam perekonomian-begitu gambaran Keynes terhadap ekonom yang di tahun 1927 menulis Fluktuasi Industri dan Teori Pengangguran pada tahun 1933, yang telah mengungkapkan secara panjang lebar persoalan-persoalan pengangguran! Selain itu, dalam buku berikutnya, Pigou bahkan secara eksplisit membantah teori tabir uang dan justru menekankan betapa pentingnya peran sentral uang dalam kegiatan ekonomi. Untuk itu, Keynes pun mencerca Pigou dengan tuduhan bahwa Pigou memiliki “keyakinan. . . bahwa uang tidak membuat perbedaan riil kecuali sedikit menggeser saja (friksional), dan bahwa teori pengangguran dapat diterapkan. . . atas dasar pertukaran ‘rill’. Seluruh lampiran bab 10 dalam Teori Umum ditujukan khusus untuk menyerang Pigou, termasuk klaimnya bahwa ia hanya menulis tentang pertukaran riil dan upah riil saja, alih-alih upah-uang, dan bahwa ia hanya mengasumsikan tingkat upah yang luwes (Keynes 1936: 19-20, 272-79).

Tetapi, sebagaimana dicatat oleh Andrew Rutten, Pigou telah melakukan analisis “riil” di bagian pertama bukunya; di bagian kedua, ia tidak hanya memasukkan unsur uang, melainkan juga menunjukkan bahwa setiap kali unsur uang dihilangkan, hasil analisis akan terdistorsi, dan bahwa uang sangat menentukan dalam setiap analisis sistem pertukaran. Unsur uang, menurutnya, tidak dapat dihilangkan dan tidak dapat bertindak secara netral. Dengan demikian, “tugas yang harus diemban sekarang adalah menentukan dalam hal apa saja faktor moneter menyebabkan tingkat rata-rata dari, dan fluktuasi dalam, kesempatan kerja yang berbeda dari yang seharusnya terjadi [jika unsur uang dimasukkan]”. Oleh karena itu, tambah Pigou, “penghilangan unsur uang [dan dibarengi] dengan anggapan bahwa hal-hal lainnya tidak berubah adalah sesuatu yang tidak dapat dilegitimasi. Penghilangan yang ditawarkan di sini setara dengan penghilangan unsur oksigen dari bumi dan lalu kehidupan manusia dianggap dapat terus berlanjut” (Pigou 1933: 185, 212).[5] Pigou secara ekstensif menganalisis interaksi antara ekspansi moneter dengan tingkat bunga sejalan dengan perubahan ekspektasi, dan ia secara eksplisit membahas persoalan upah uang serta harga yang “rekat” dan upah.

Dengan cara demikian Keynes jelas telah secara sengaja melakukan misrepresentasi yang serius terhadap posisi Pigou, sebab seandainya Keynes memang membaca karya-karya para ekonom lain dengan saksama, tentu ia pernah membaca karya seorang Cantabrigian terkemuka seperti Pigou. Namun, seperti ditulis oleh Rutten, “Kesimpulan-kesimpulan ini tak perlu mengagetkan, sebab memang terdapat banyak bukti bahwa Keynes dan para pengikutnya sering melakukan misrepresentasi terhadap para pendahulunya” (Rutten 1989: 14). Fakta bahwa Keynes terlibat dalam tindak penipuan sistematis dan bahwa para pengikutnya terus mengulangi cerita fiktif tentang Pigou sebagai tokoh “klasik” yang “buta” menunjukkan bahwa ada alasan lain yang lebih dalam atas popularitas legenda ini dalam lingkaran Keynesian. Seperti ditulis oleh Rutten:

Ada penjelasan kuat mengapa cerita tentang Keynes dan para ekonom klasik selalu diulang. . . yaitu bahwa cerita standar ini menjadi populer karena hal itu secara bersamaan menawarkan penjelasan dan pembenaran atas keberhasilan Keynes: tanpa Teori Umum, kita semua masih berada dalam jaman kegelapan ekonomi. Dengan kata lain, cerita seputar Keynes dan para ekonom klasik adalah bukti untuk Teori Umum. Tentu, penggunaannya menyiratkan bahwa hal tersebut mungkin merupakan bukti yang paling kuat. Dalam hal ini, bukti bahwa posisi Pigou tidaklah sebagaimana yang dituduhkan kepadanya adalah …bukti yang menentang Keynes….[Kesimpulan ini] meningkatkan …pertanyaan serius mengenai status metodologis dari sebuah teori yang mengandalkan begitu banyak pada bukti-bukti yang dipalsukan”. (Ibid.: 15)

Adalah hal yang pantas jika dalam ulasannya kemudian terhadap Teori Umum Pigou memandang rendah terhadap “berbagai misrepresentasi” yang dilakukan Keynes terhadapnya. Namun, begitulah kekuatan hebat yang bernama opini–atau karisma Keynes: menjelang tahun 1950, setelah kematian Keynes, Pigou justru berada dalam situasi di mana ia justru harus mengaku salah, serupa dengan pengakuan-kesalahan hina yang dilakukan Lionel Robbins, yang sejak lama diinginkan Keynes darinya (Pigou 1950; Johnson dan Johnson 1978: 179; Corry 1978: 11-12).

Di samping mengandalkan karisma dan tipuan sistematis, Keynes juga menjual Teori Umum melalui taktik lain. Ia mencuri simpati para mahasiswa melalui pujian yang berlebihan, lalu sengaja memengaruhi mereka untuk menyerang para non-Keynesian di Cambridge dengan mempermalukan para koleganya sendiri di depan para mahasiswa dan dengan memprovokasi mahasiswa-mahasiswa tersebut agar melecehkan mereka. Sebagai contoh, Keynes memicu amarah para mahasiswanya terhadap Dennis Robertson, mantan teman dekatnya sendiri. Sebagaimana sangat diketahui Keynes, Robertson adalah orang yang luar biasa pemalu. Bahkan untuk sekadar berkomunikasi dengan sekretarisnya yang setia dan sudah bertahun-tahun bekerja untuknya, yang kantornya bersebelahan dengan kantornya, Robertson menggunakan memo tertulis. Kuliah-kuliah Robertson biasanya sudah dipersiapkan secara tertulis sebelumnya, dan karena rasa malunya ini ia selalu menolak menjawab pertanyaan atau melibatkan diri dalam diskusi, baik dengan mahasiswanya sendiri maupun dengan rekan sekerja. Dapat dibayangkan seperti apa siksaan para pengikut radikal Keynes, yang dipimpin oleh Joan Robinson dan Richard Kahn, begitu mendapat mangsa empuk untuk diperolok seperti Robertson, yang mereka lecehkan dengan pertanyaan dan pernyataan penuh kedengkian dan melalui tantangan untuk berdebat. (Johnson dan Johnson 1978: 136ff.)

[Bersambung ke Bagian 3]


[1] Seperti dikatakan Skidelsky, hal tersebut memang ciri khas Roy Harrod dalam menuliskan biografi yang “membersihkan noda”. Ketika mengutip surat tersebut, Harrod juga membuang frasa “melakukan penipuan kepada publik investor” (Skidelsky 1983: 165n).

[2] Dalam surat untuk ibunya tertanggal 3 September, 1919, Keynes menyinggung tentang spekulasi yang dilakukannya dalam mata uang asing, yang “akan mengagetkan ayah, tetapi saya harap saya akan berhasil” (Harrod 1951: 288). Untuk kritik tajam terhadap pandangan Keynes mengenai spekulasi seperti perjudian, lihat Hazlitt ([1959] 1973: 179-85).

[3] Harry Johnson menjabarkan strategi ini dengan baik: “Dalam proses ini, salah satu cara yang efektif adalah menyebut konsep lama dengan nama baru yang membingungkan. . . [T]eori baru harus memiliki tingkat kesulitan yang pas agar dipahami. Ini memang problem yang kompleks dalam perancangan teori-teori baru. Teori baru harus cukup sulit dimengerti sehingga kolega akademisi senior akan mendapatinya sulit atau tidak layak dipelajari lebih jauh, sehingga mereka hanya akan menyia-nyiakan upaya mereka pada isu-isu teoritis yang remeh, dan sehingga menjadikan mereka sebagai target yang mudah untuk dikritik dan diabaikan oleh para kolega mereka yang lebih muda dan lebih lapar. Di saat yang sama, teori baru harus tampak cukup sulit untuk menantang minat intelektual muda dan mahasiswa, namun juga sebenarnya cukup mudah agar mereka dapat menguasainya secara memadai dengan investasi usaha-intelektual yang cukup. Tujuan-tujuan tersebut berhasil dicapai Keynes dalam Teori Umum-nya. Bukunya berhasil menyisihkan ilmuwan-ilmuwan ternama, seperti Pigou dan Robertson, dan memungkinkan mereka yang lebih muda dan paling inovatif, sekitar usia setengah baya, atau sedikit di bawah itu, seperti Hansen, Hicks, dan Joan Robinson untuk melompat masuk ke dalam gerbong, dan memungkinkan seluruh generasi mahasiswa. . . untuk berlari dari proses lambat yang menghancurkan jiwa dalam mencapai kearifan melalui [proses] osmosis dari senior mereka dan dari literatur mereka ke dalam ranah intelektual di mana ikonoklasme muda dengan cepat dapat menghasilkan (paling tidak dalam pandangan Keynes sendiri) dengan menghancurkan pretensi-pretensi intelektual para akademisi senior dan para pendahulu mereka. Disiplin ekonomi, dan ini yang menggembirakan mereka, dapat dibangun dari awal dengan pemahaman sedikit saja tentang Keynesian plus kebencian yang besar terhadap literatur yang ada-begitulah.” (1978: 188-89).

[4] D. P. O’Brien, penulis biografi Robbins, dengan susah payah mencoba meyakinkan bahwa, terlepas dari apa yang diakuinya sebagai penyesalan panjang-lebar dan cenderung dibesar-besarkan, Robbins, di dalam hatinya, tidak pernah benar-benar Keynesian. Tetapi usaha O’Brien ini tidak meyakinkan, bahkan setelah ia menunjukkan bagaimana Robbins mencoba menjelaskan posisinya dalam sejumlah isu. Selain itu, O’Brien mengakui bahwa Robbins memang mencampakkan pendekatan makronya yang Misesian, dan ia tidak menjelaskan perlakuan Robbins yang mencengangkan ketika menyebut Keynes “seperti dewa” (O’Brien 1988: 14- 16, 117-20).

[5] Satu-satunya referensi Keynes terhadap Mises dalam Teori Umum tidak menyangkut teori siklus bisnis atau analisis moneter, yang sebetulnya akan sangat relevan bagi bukunya. Keynes hanya mengutarakan kekagetannya terhadap teori bunga Mises yang dianggapnya “aneh” serta “mengacaukan” istilah “efisiensi marjinal modal” (istilah Keynes untuk tingkat return investasi) dengan nisbah antara harga-harga barang konsumen dan barang modal dengan tingkat bunga. Andaikan Keynes mengetahui sedikit saja tentang teori modal, maka ia akan mengenali bahwa posisi Mises di sini bersifat Böhm-Bawerkian, serupa dengan kebanyakan teori modal pada abad ke-19 yang berfokus pada tingkat keuntungan jangka-panjang yang dikenal sebagai tingkat bunga. Satu kekeliruan besar dalam pemikiran Keynes muncul dari keyakinannya sendiri bahwa bunga adalah fenomena moneter murni, sehingga yang penting hanyalah tingkat bunga pinjaman (Keynes 1936: 192-93; cf. Rothbard [1962] 1970: I, 454-55).)

(Versi asli terbit perdana dalam Dissent on Keynes: A Critical Appraisal of Keynesian Economics, disunting oleh Mark Skousen. New York: Praeger (1992). Hal. 171-198.  Terjemahan bahasa Indonesia oleh: Sukasah Syahdan; hak cipta ada pada penerjemah, Ciputat, 2007. Versi Indonesia terbit perdana di Jurnal Kebebasan: Akal dan Kehendak; Vol. II. Ed. 22, 24 Maret 2008. )

Kirim artikel ini:
Share on FacebookTweet about this on TwitterShare on Google+Email this to someoneShare on RedditShare on StumbleUpon

Tulisan lain yang mungkin terkait:

Discussion

No comments for “Sosok Keynes (Bag. 2)”

Komentari

Arsip Bulanan

Rekomendasi

buku_rothbard.jpg
Apa Yang Dilakukan Pemerintah Terhadap Uang Kita?; Oleh: Murray Newton Rothbard; PT. Granit, Yayasan Obor Indonesia; ISBN : 97897916217 -4-8; tersedia di toko-toko buku terdekat. (Intip cuplikannya).
alt text
Membela Kapitalisme Global; Oleh: Johan Norberg; FNS Jakarta; tersedia di toko-toko buku terdekat. (Baca resensinya di sini).
Economic  Activism Blogs - Blog Catalog Blog Directory