Uncategorized

Melacak Basis Tatanan Sosial Kita

Oleh: Sukasah Syahdan
Jurnal Kebebasan: Akal dan Kehendak
Vol. II, Edisi 22, Tanggal 24 Maret 2008

Berbicara tentang diri sendiri, tentang rakyat, tentang masyarakat atau tentang bermasyarakat, sebenarnya apa basis tatanan sosial kita?  Faktor-faktor apakah yang membuat manusia memutuskan untuk hidup terisolasi atau hidup bersama dalam masyarakat?

Contoh ekstrim berikut dapat membantu. Jika seseorang, taruhlah Anda sendiri, tinggal sendiri di pulau kecil, maka Anda selalu bebas merdeka memutuskan apa yang akan lakukan. Anda dapat memutuskan tinggal di hutan, di pohon, di tepi pantai; bisa berburu hewan atau menangkap ikan; memetik buah-buahan, atau tindakan lainnya. Tidak perlu keterpaparan yang lama untuk menyimpulkan watak sejati kehidupan; betapa setiap makhluk hidup termasuk manusia harus dapat menundukkan alam atau menyesuaikan diri dengannya.

Setelah sekian waktu, tiba-tiba muncul orang lain di pulau tersebut.  Apa yang akan Anda lakukan? Di sini ada dua kemungkinan. Mungkin Anda akan bertindak laksana hewan saat berhadapan dengan binatang lain di wilayah kekuasan Anda.   Anda akan menggunakan kekerasan untuk mengusir makhluk tersebut. Tapi ini bisa jadi bukan pilihan. Barangkali Anda akan menahan diri untuk tidak menyerang atau mengusir orang tersebut, melainkan memutuskan berbaik-baik saja dengannya, atas dasar rasa takut, atau semacam kendala moral, ataupun kemurahan hati.

Namun sebenarnya ada alasan lain, yang amat logis meski tidak harus dan selalu disadari:  yaitu memilih untuk tidak mengusir atau melakukan tindakan koersif. Sejauh terdapat sumber daya yang cukup di pulau tersebut, hal itu cukuplah untuk hidup berdampingan dan bekerjasama ketimbang berperang. Anda dan “teman” baru tadi dapat memulai sebuah proses yang saling melengkapi, yang bernama pembagian kerja (division of labor) dan saling melakukan pertukaran atas dasar sukarela.

alt textAdam Smith

Lebih dari 2 abad lalu, Adam Smith berhasil memperlihatkan kepada kita bagaimana sistem pembagian kerja berhasil meningkatkan produksi secara luar biasa. Di awal bukunya, The Wealth of Nations, Smith mencontohkan proses produksi sebuah barang remeh: peniti.   Ditunjukkannya bahwa seorang pekerja terandal sekalipun, jika bekerja sendirian saat itu, paling banter hanya menghasilkan sebutir peniti sehari.  Smith memperlihatkan bagaimana melalui pembagian kerja yang sistematis, sebuah pabrik peniti yang mempekerjakan sepuluh orang saat itu mampu menghasilkan 48.000 peniti per hari, atau 4.800 per orang!

Contoh lain tentang kedahsyatan sistem pembagian kerja diperlihatkan oleh Reed dalam artikel klasiknya, I, the Pencil, (yang juga pernah disinggung di Jurnal ini), di mana ia menggambarkan proses pembuatan pensil dan menunjukkan bahwa tak seorangpun di dunia ini yang sanggup membuat sebatang pensil sendirian!

Contoh kasus yang diperlihatkan Smith, dan lalu oleh Reed, menunjukkan betapa pentingnya konsekuensi logis dan nilai sosio-ekonomis dari division of labor. Pembagian kerja sesungguh-sungguhnya adalah basis tatanan sosial manusia yang memungkinkan berkembangnya peradaban. Inilah basis tatanan sosial kita!

Bagaimana mungkin sistem division of labor mampu menghasilkan output yang lebih besar?  Callahan (2002) menyarikan tiga alasan utama.

Pertama: manusia hidup di belahan-belahan dunia yang berbeda dan berlainan dalam berbagai aspek. Orang yang tinggal di Malang secara umum berada dalam posisi yang lebih menguntungkan untuk menanam apel daripada mereka yang hidup di Jakarta.

Kedua, pembagian kerja juga menguntungkan karena setiap manusia diberkahi dengan kemampuan berbeda. Perbedaan antarmanusia dapat disebabkan oleh unsur bibit dan bobot (nature) maupun bebet (nurture); tapi ini tidak relevan, jadi tidak perlu diperhitungkan di sini.   Apapun alasannya, manusia memasuki dunia tenaga dengan kecakapan masing-masing.

Peluang pelatihan khusus atau spesialisasi adalah manfaat ketiga dari sistem pembagian kerja. Sistem ini memungkinkan orang memfokuskan upayanya pada keterampilan tertentu dan mengabaikan hal-hal lain yang tidak diperlukan di bidang pekerjaannya.

Hal-hal yang dinyatakan barusan, tentunya tidak terbebas dari kritik.  Sejumlah pihak mengkritik kondisi masyarakat industri modern justru atas dasar sistem yang cenderung over-spesialisasi ini. Menurut sebagian mereka, manusia dengan demikian cenderung jadi berpikiran sempit; hanya sekadar sekrup bagi mesin; dan cenderung menjalani rutinitas yang membosankan.

Disiplin ekonomi, yang bebas nilai, tidak berupaya merekomendasikan seperangkat nilai tertentu di atas yang lain; oleh karena itu keluhan-keluhan di atas memang tidak dapat dijawab olehnya. Ekonomi tidak dapat mengatakan bahwa orang-orang yang memilih pekerjaan yang menarik dan hidup dengan lebih bervariasi adalah orang-orang yang telah salah pilih. Namun demikian, teori ekonomi dapat menjelaskan kepada siapa saja yang ingin memaksakan alternatif selain sistem pembagian kerja di atas, bahwa tanpa penerapan sistem pembagian kerja tersebut bumi ini tidak sanggup menopang populasi manusia yang ada saat ini. Pihak-pihak yang berkeras memaksakan pandangan tersebut barangkali akan selamat dan mampu bekerja dalam lingkungan yang lebih baik, tetapi keberatan dari miliaran orang yang bakal mati harus dimaklumi.

Kembali ke Adam Smith, tilikannya tentang pembagian kerja sebagai basis tatanan sosial, amat cemerlang. Namun, satu soal penting masih tetap tidak terpecahkan. Dan ini terkait erat dengan pemahaman, atau kekeliruan pandangan kita, dalam menyikapi perdagangan antarbangsa. Smith menyimpulkan tidak ada gunanya, misalnya, bagi Skotlandia untuk mencoba memproduksi anggur (meskipun negara ini dapat melakukannya melalui rumah kaca). Kalau Skotlandia memproduksi wol dan Spanyol memproduksi anggur, dan penduduk kedua negara saling bertukar atas barang yang tidak tersedia di negara masing-masing, maka para penduduk di kedua negara akan lebih makmur.

Tapi, dalam pergaulan internasional, bagaimana nasib sebuah negara yang serba miskin akan sumber daya, yang mayoritas populasinya relatif tidak terdidik, dan yang kemampuan produksinya jauh di bawah negara-negara lain? Tidakkah sudah sepatutnya negara tersebut mendirikan rintangan perdagangan agar industri domestik dapat berkembang tanpa ganggauan dari eksternal? Dari sudut pandang negara-negara maju dan kaya, bagaimana mungkin negara yang terbelakang seperti itu menawarkan sesuatu bagi mereka?

Solusinya, kelak, akan berimplikasi luas, jauh melampaui ekonomi; ini menyangkut pola kerjasama manusia tidak saja di bidang ekonomi, tetapi dalam berasosiasi antarsesama.

(Posting minggu depan akan membahas solusi tersebut, juga mengaitkannya dengan perspektif objektivis Randian vs. perspektif filosofis populer yang sarat akan mitos: altruisme.)

(Jurnal Kebebasan: Akal dan Kehendak; Vol. II. Ed. 22, 24 Maret 2008.)

Kirim artikel ini:
Share on FacebookTweet about this on TwitterShare on Google+Email this to someoneShare on RedditShare on StumbleUpon

Tulisan lain yang mungkin terkait:

Discussion

3 comments for “Melacak Basis Tatanan Sosial Kita”

  1. Happy 1st Anniversary!!! Congrats to you and Akal&Kehendak for everything you have achieved from the debut ’til now. I can see that you are finding your groove in writing and expressing everything that interest you and others. Thanks for sharing.

    Re: end of this article…the ‘poor’ country you’re writing about…is more likely to offer and sell out its human resources for cheap in order to ‘exist’ in the world and to be seen by more developed nations as something more important that has ‘values’…unfortunately. I like this article…it shows how we’re as a human race is having difficulty more and more to live with each other, to share resources, to accept and respect each individual for having the same rights, to feed the new and young generation, to follow the recipes of our predecessors, to fail in showing our humble peaceful and human side, to show our ego is at the end that lead the way…etc. etc. etc.

    I’m a very concerned citizen of this world. Economy as we have put it…its importance etc. etc. can not even auto-regulate its self. No one knows where it’s going now…even the experts i heard having different opinions about it and can’t agree on many things. At the same time…are we letting these guys to tell the rest of us what to do? how to live life? how to manage? etc. etc.

    We need someone like you to continue this conversation, this issue of freedom….to start with 🙂 Once again, congrats Nad!

    Posted by Maya | 28 March 2008, 7:10 pm
  2. Bonjour! Terima kasih atas masukannya, Maya! Kita lihat bagaimana akhir posting ini. Saya pastikan, akan ada elemen kejutan!

    Posted by A&K | 30 March 2008, 6:44 am
  3. […] di atas menutup artikel sebelumnya, Melacak Basis Tatanan Sosial Kita. Jawaban-jawabannya terkait sangat erat dengan pemahaman terhadap apa yang sering disebut sebagai […]

    Posted by Kaidah Kerjasama, Perdagangan Bebas dan Globalisasi « Akal & Kehendak | 31 March 2008, 1:03 am

Komentari

Arsip Bulanan

Rekomendasi

buku_rothbard.jpg
Apa Yang Dilakukan Pemerintah Terhadap Uang Kita?; Oleh: Murray Newton Rothbard; PT. Granit, Yayasan Obor Indonesia; ISBN : 97897916217 -4-8; tersedia di toko-toko buku terdekat. (Intip cuplikannya).
alt text
Membela Kapitalisme Global; Oleh: Johan Norberg; FNS Jakarta; tersedia di toko-toko buku terdekat. (Baca resensinya di sini).
Economic  Activism Blogs - Blog Catalog Blog Directory
%d bloggers like this: