Uncategorized

Sosok Keynes (Bag. 3-Tamat)

Oleh: Murray Newton Rothbard
Jurnal Kebebasan: Akal dan Kehendak
Vol. II, Edisi 23, Tanggal 31 Maret 2008

(Bagian 3 – Tamat)

EKONOMI-POLITIK KEYNES

alt textLord Keynes

Dalam Teori Umum, Keynes memaparkan sosiologi politiko-ekonomis yang unik, yaitu dengan membagi populasi setiap negara ke dalam kelas-kelas ekonomi yang terpisah secara kaku, dan masing-masing memiliki aturan perilaku dan karakteristik tersendiri. Pertama, kelompok konsumen: bodoh, seperti robot, berperilaku tetap dan sepenuhnya ditentukan oleh kekuatan di luar dirinya. Dalam pernyataan Keynes, kekuatan utama kelompok ini adalah proporsi pendapatan total mereka yang kaku, yaitu “fungsi konsumsi tertentu mereka”. Kedua, sekelompok kecil konsumen yang merupakan problem abadi bagi kemanusiaan. Mereka adalah para borjuis penabung yang tidak bisa ditolerir, yang dengan teguh mempraktikkan kebajikan puritan-misalnya gaya hidup hemat dan melihat jauh ke depan; mereka adalah kelompok yang dipandang rendah oleh Keynes sepanjang hidupnya sebagai seorang calon aristokrat. Sementara, semua ekonom terdahulu, termasuk Smith, Ricardo, dan Marshall, menyanjung para penabung yang gemar berhemat sebagai mereka yang membangun modal jangka panjang dan oleh karena itu bertanggungjawab atas perbaikan-perbaikan jangka panjang di bidang standar hidup konsumen.

Tetapi Keynes, dengan trik sulapnya, memutus kaitan yang jelas antara tabungan dan investasi; sebaliknya, ia mengklaim bahwa keduanya tidak berhubungan. Sebenarnya, tulis Keynes, tabungan malah memperlamban sistem; tabungan “membocorkan” arus pengeluaran, dan oleh karena itu, menyebabkan resesi dan pengangguran. Dengan cara tersebut, seperti halnya Mandeville di awal abad ke-18, Keynes dapat mengutuki mereka yang hemat dan gemar menabung. Akhirnya, dendamnya kepada kaum borjuis berhasil dilampiaskannya.

Juga, dengan memutus imbal bunga dari harga-waktu atau dari dari perekonomian riil dan dengan menganggapnya sebagai fenomena moneter belaka, Keynes dapat memberi advokasi, ibarat pasak penyangga bagi program politiknya, berupa sebuah kelas “eutanasia bagi pemilik modal”: maksudnya, perluasan kuantitas uang oleh pemerintah hingga cukup untuk membawa tingkat bunga ke titik nol, dan dengan demikian akhinya menyapu keluar para kreditor yang dibencinya. Kiranya perlu dicatat di sini bahwa Keynes tidak bermaksud menghapus investasi: sebaliknya, menurutnya tabungan dan investasi adalah dua fenomena yang berbeda. Dengan begitu, ia kemudian dapat mengusulkan penurunan tingkat bunga hingga nol untuk memaksimalkan investasi sambil meminimalkan tabungan–jika tidak menghapuskan sama sekali.

Mengingat klaimnya bahwa tingkat bunga tidak lebih dari sekadar fenomena moneter, Keynes kemudian dapat menghilangkan keberadaan tingkat bunga dari kelangkaan modal. Tentu, ia merasa yakin bahwa modal benar-benar tidak langka sama sekali. Jadi, Keynes menyatakan bahwa masyarakat yang diinginkannya “akan menjadi eutanasia bagi pemodal, dan sebagai konsekuensinya, juga akan menjadi eutanasia bagi kekuatan opresif kaum kapitalis untuk mengeksploitasi kelangkaan modal”. Tetapi modal tidak benar-benar langka: “Saat ini ganjaran bunga tidak lagi sepadan sebagai pengorbanan sejati, tak ubahnya dengan sewa tanah. Pemilik modal dapat memperoleh bunga karena kelangkaan modal itu sendiri, seperti halnya pemilik tanah dapat memperoleh sewa karena tanah juga bersifat langka. Sementara kelangkaan tanah mungkin memiliki alasan intrinsik, tidak demikian halnya dengan kelangkaan modal”. Oleh karena itu, ” dalam praktiknya, kita perlu mengarahkan…peningkatan volume modal agar berhenti menjadi langka, sehingga dengan demikian para investor atau pemodal yang kehilangan fungsinya tidak lagi akan menerima bonus”. Keynes membuat jelas bahwa ia lebih bersedia menunggu proses anihilisasi para pemodal secara sedikit temi sedikit saja, daripada melalui semacam pergolakan yang tiba-tiba (Keynes 1936: 375-76; lihat pula [1959] 1973: 379-84).[1]

Keynes lalu menyebutkan kelas ekonomi yang ketiga: kelas investor. Kepada kelas tersebut Keynes cenderung agak ramah. Berlawanan dengan konsumen yang pasif seperti robot, para investor tidak ditentukan oleh fungsi matematis eksternal. Sebaliknya, mereka penuh dengan keinginan-bebas dan dinamisme yang aktif. Mereka bukan faktor jahat pelamban mesin ekonomi, sebagaimana halnya para penabung. Mereka justru penyumbang penting bagi kesejahteraan semua orang. Sayangnya, ada sisi lain yang menyentak. Meskipun mereka dinamis dan penuh dengan kemauan bebas, para investor adalah makhluk yang sering membuat kesalahan akibat suasana hati dan keinginannya yang berubah-ubah. Mereka, singkatnya, produktif tetapi irrasional. Mereka digerakkan oleh kondisi psikologis dan “insting hewani”. Saat sedang bersemangat, mereka melakukan investasi besar-besaran hingga terlalu besar; optimisme mereka yang terlalu tinggi menyebabkan mereka membelanjakan terlalu banyak uang sehingga mengakibatkan inflasi. Tetapi Keynes, khususnya dalam Teori Umum, tidak benar-benar tertarik pada inflasi. Ia hanya tertarik pada pengangguran dan resesi, yang dalam pandangannya sepenuhnya superfisial, dan disebabkan oleh suasana hati pesimistis, kehilangan insting hewani, hingga muncullah tingkat investasi yang rendah.

Sistem kapitalis, oleh sebab itu, berada dalam keadaan makro yang secara inheren tidak stabil. Mungkin perekonomian pasar dapat berfungsi dengan cukup baik terhadap tingkat mikro, suplai dan permintaan. Tetapi di dunia makro, sistem tersebut mengapung tanpa kemudi; tidak terdapat mekanisme internal untuk menjaga pengeluaran agregat agar tidak terlalu rendah/tinggi, sehingga dia menimbulkan resesi dan pengangguran atau inflasi.

Yang juga cukup menarik, Keynes tiba pada interpretasi siklus bisnis layaknya seorang Marshallian yang baik. Sementara Ricardo dan para pengikut aliran Mata Uang (Currency school) meyakini, bahkan dengan tepat, bahwa siklus bisnis umumnya ditimbulkan melalui ekspansi dan kontraksi kredit perbankan serta suplai uang oleh bank sentral, lawan-lawan mereka yang beraliran Perbankan (Banking school) meyakini bahwa ekspansi uang bank dan kredit hanyalah akibat pasif dari boom dan bust dan bahwa penyebab sejati siklus bisnis adalah fluktuasi yang diakibatkan oleh spekulasi bisnis dan ekspektasi terhadap keuntungan-penjelasan ini sangat dekat dengan teori Pigou kemudian mengenai perubahan-psikologis suasana hati manusia, dan juga dekat dengan fokus Keynes pada insting hewani. John Stuart Mill juga seorang Ricardian kecuali dalam hal yang krusial ini. Mengikuti jejak ayahnya, Mill mengadopsi teori siklus bisnis aliran Perbankan, yang kemudian diadopsi oleh Marshall (Trescott 1987; Penman 1989: 88-89).

Untuk mengembangkan jalan keluarnya, Keynes memperkenalkan kelas keempat dalam masyarakat. Berbeda dari penggambaran terhadap konsumen yang robotik dan bodoh, kelompok ini digambarkan memiliki kehendak bebas, aktivisme, dan pengetahuan mengenai masalah-masalah perekonomian. Dan tidak seperti para investor yang sial, mereka juga bukan rakyat yang irrasional atau rentan terhadap perubahan suasana hati atau insting hewani. Sebaliknya, mereka amat rasional dan berpengetahuan, dan mampu merencanakan yang terbaik bagi masyarakat di masa sekarang maupun kemudian hari. Kelas ini, kelas dewa di luar mesin (deus ex machina) yang berada di luar pasar, tidak lain adalah para aparatur negara, yang dipimpin oleh elit penguasa alamiah dan dibimbing oleh para filsuf-raja Platonik versi modern ilmiah. Singkatnya, pemimpin-pemimpin pemerintahan, dengan bimbingan lugas dan bijak dari para ekonom dan ilmuwan sosial beraliran Keynesian (yang sudah tentu dikomandani oleh sang manusia hebat itu sendiri), akan menjadi juru selamat. Dalam politik dan sosiologi Teori Umum, semua benang kehidupan dan pemikiran Keynes memang terjalin rapi.

Maka negara, yang dipimpin oleh mentor-mentor Keynesian, harus menjalankan perekonomian, untuk mengontrol konsumen dengan cara menyesuaikan pajak dan menurunkan tingkat bunga menuju titik nol, dan, khususnya, melibatkan diri dalam “sosialisasi investasi yang cukup komprehensif”. Keynes beranggapan bahwa hal ini tidak akan berarti Sosialisme negara secara total, dan menunjukkan bahwayang penting untuk diambilalih oleh negara bukanlah kepemilikan instrumen-instrumen produksi. Jika negara dapat menentukan jumlah agregat sumber-sumber daya untuk tujuan menambah instrumen-instrumen tersebut dan menetapkan ganjaran dasar bagi mereka yang memilikinya, maka dia telah mencapai semua yang diperlukan (Keynes 1936: 378).

Ya, biarkan negara sepenuhnya mengontrol investasi dan menentukan jumlah dan tingkat hasil bisnis, juga tingkat bunga; lalu Keynes akan memungkinkan individu-individu swasta mempertahankan kepemilikan formal mereka sedemikian rupa sehingga, dalam keseluruhan matriks kontrol dan kekuasaan negara, mereka masih dapat mempertahankan “lahan yang luas untuk mengambil inisiatif sambil melaksanakan tanggungjawab pribadi”. Sebagaimana dikatakan oleh Hazlitt:

Investasi adalah keputusan kunci dalam pelaksanaan sistem perekenomian apapun. Dan investasi pemerintah adalah sebuah bentuk sosialisme. Hanya kerancuan pikiran saja, atau kecurangan yang disengaja, yang akan membantah hal tersebut. Sosialisme, sebagaimana akan ditunjukkan di kamus-kamus bagi para Keynesian, berarti kepemilikan dan pengendalian alat-alat produksi oleh pemerintah. Dalam sistem yang ditawarkan oleh Keynes, pemerintah akan mengendalikan semua investasi dalam alat produksi dan akan memiliki bagian yang telah diinvestasikannya secara langsung. Oleh karena itu, menganggap obat ajaib Keynes sebagai usaha bebas atau sebagai alternatif individualistik untuk sosialisme adalah semacam kekacauan pikiran. (Hazlitt [1959] 1973: 388; cf. Brunner 1987: 30, 38)

Di Eropa selama tahun 1920-an dan 1930-an terdapat suatu sistem yang sangat menonjol dan terkemuka, serta persis bercirikan hal-hal yang diinginkan para Keynesian: kepemilikan swasta yang tergantung pada kontrol dan perencanaan komprehensif dari pemerintah. Ini, jelas, fasisme. Di mana posisi Keynes mengenai fasisme yang kentara ini? Berdasarkan berbagai informasi yang tercecer di mana-mana namun kini tersedia, tidaklah mengherankan mengapa Keynes dengan antusias mendukung semangat “kepeloporan” Sir Oswald Mosley, pendiri dan pemimpin gerakan fasisme Inggris, yang meneriakkan “rencana perekonomian nasional” secara komprehensif di akhir tahun 1930. Menjelang tahun 1933, Virginia Woolf menulis kepada sahabat dekatnya mengenai ketakutannya karena Keynes sedang berusaha mengubahnya mejadi pengikut “semacam ajaran fasisme “. Di tahun yang sama, ketika mempropagandakan pentingnya swasembada nasional melalui kontrol pemerintah, Keynes mengatakan: “Mussolini, mungkin, sedang merasakan tumbuhnya gigi geraham terakhirnya” (Keynes 1930b, 1933: 766; Johnson dan Johnson 1978: 22; mengenai hubungan Keynes dengan Mosley, lihat Skidelsky 1975: 241, 305-6; Mosley 1968: 178, 207, 237-38, 253; Cross 1963: 35-36).

Namun, bukti yang paling meyakinkan seputar kecenderungan fasisme Keynes terdapat dalam kata pembuka yang disiapkannya secara khusus untuk penerbitan Teori Umum edisi bahasa Jerman. Edisi tersebut, yang terbit di akhir tahun 1936, berisi pengantar spesial yang ditujukan untuk pembaca Jerman dan rejim Nazi yang menerbitkannya. Tidak mengherankan jika Harrod yang mengidolakan Keynes, dalam bukunya yang berjudul Life of Keynes, tidak menyinggung tentang pendahuluan ini, meskipun akhirnya bagian tersebut disertakan dua dekade kemudian dalam Kumpulan Tulisan Keynes Volume VII, bersama dengan kata-kata pembuka untuk edisi bahasa Jepang dan Prancis. Di dalam Pendahuluan edisi Jerman tersebut, yang hampir tidak memperoleh masukan bermanfaat berupa komentar panjang dari para penafsir Keynesian, berisi pernyataan-pertanyaan Keynes sebagai berikut: “Meskipun demikian, teori output secara keseluruhan, sebagaimana akan disampaikan dalam buku ini, akan jauh lebih mudah diadaptasi untuk kondisi negara yang totaliter, daripada teori produksi dan distribusi tentang output tertentu yang diproduksi dalam kondisi kompetisi bebas dan dalam kondisi yang mendekati laissez-faire“. (Keynes 1973 [1936]: xxvi: cf. Martin 1971: 200-5; Hazlitt [1959] 1973: 277; Brunner 1987: 38ff.; Hayek 1967: 346)

Sedangkan untuk paham komunisme, Keynes kurang antusias. Di satu sisi, ia mengagumi para intelektual muda berhaluan Komunis di akhir tahun 1930-an yang mengingatkan dirinya, walaupun terdengar cukup aneh, pada “para gentlemen Inggris yang non-kompromistis dan yang. . . melakukan Reformasi, berperang dalam Pemberontakan Besar, memenangkan kebebasan sipil dan agama, dan memanusiawikan kelas-kelas pekerja di akhir abad lalu”. Di sisi lain, ia mengritik para pemuda Komunis di Cambridge karena sisi lain dari “mata uang” Reformasi/Pemberontakan Besar: yaitu karena mereka semuanya puritan. Sikap anti-puritanisme Keynes tercermin dalam pertanyaannya: Apakah para mahasiswa Cambridge mengalami disilusi ketika mereka pergi ke Rusia, di mana mereka “merasakan betapa tidak nyamannya di sana? Tentu saja tidak. [Karena memang] itulah yang mereka cari” (Hession 1984: 265).

Keynes dengan tegas menolak komunisme setelah ia sendiri mengunjungi Rusia di tahun 1925. Ia tidak menyukai teror dan pembunuhan massal yang ditimbulkan antara lain oleh transformasi revolusioner yang terlalu cepat dan juga, menurut Keynes, oleh “sifat binatang buas dalam alam Rusia-atau dalam alam Rusia dan Yahudi begitu keduanya, seperti saat ini, bersekutu”. Ia juga sangat meragukan bahwa “komunisme Rusia” akan mampu “mengurangi sedikit saja ketamakan orang-orang Yahudi” (Keynes 1925: 37, 15). (Jelas, Keynes sejak lama anti-Semit.[2]) Di Eton, Maynard pernah menulis esei berjudul “Perbedaan antara Timur dan Barat,” di mana ia sempat mengutuk bangsa Yahudi menjadi bangsa Timur yang, karena “naluri yang sudah mengakar, mereka sangat antagonistik dan oleh karenanya menjijikkan bagi bangsa Eropa,” tidak boleh diasimilasikan lagi dengan peradaban Eropa, sebagaimana kucing tidak dapat dipaksakan untuk menyayangi anjing (Skidelsky, 1986: 92). Kelak, sebagai pejabat Inggris dalam konperensi perdamaian di Paris, Keynes menuliskan kekagumannya yang besar terhadap serangan brutal anti-Semit yang dilakukan Lloyd George terhadap Menteri Keuangan Prancis, Louis-Lucien Klotz, yang telah mencoba untuk to memeras orang-orang Jerman yang berhasil dikalahkan untuk dipertukarkan dengan emas dalam jumlah lebih banyak, untuk meringankan blokade makanan terhadap pasukan sekutu. Pertama, Keynes menggambarkan Klotz sebagai berikut: “[Ia] seorang Yahudi pendek, gemuk, berkumis lebat, berpakaian baik dan rapi, tetapi dengan mata yang jelalatan serta tidak mantap, dan bahunya sedikit bungkuk akibat kecenderungan naluriahnya untuk menghina orang lain”. Keynes kemudian mendeskripsikan saat-saat dramatisnya:

Lloyd George dari dulu telah membenci dan memandang rendah kepadanya. Kini ia merasa dapat membunuhnya dalam sekejap. Para wanita dan anak-anak kelaparan, teriaknya, dan ini M. Klotz, yang justru mengoceh terus tentang emasnya. Ia memiringkan badannya ke depan dan dengan gerakan tangannya memperagakan kepada semua orang tentang citra seorang Yahudi menjijikkan yang sedang memeluk sekantong uang. Matanya bersinar dan kata-katanya keluar dengan kebencian yang sangat kasar, sehingga ia terlihat seperti ingin meludahinya. Anti-Semitisme, yang tidak jauh di bawah permukaan dalam kerumunan seperti itu, semakin terasa meningkat di hati semua orang. Semua orang memandang Klotz dengan sekilas rasa muak dan benci; lelaki malang itu pun bergerak condong di atas tempat duduknya, dan terlihat ketakutan. Kami hampir tidak mengetahui apa yang dikatakan oleh Lloyd George, tetapi kata-kata “emas” dan “Klotz” sempat diulang beberapa kali, setiap kali dengan hinaan yang dibesar-besarkan.

Di titik itu, tibalah Lloyd George pada puncak pertunjukannya: sambil membali badannya ke arah perdana menteri Prancis, Clemenceau, ia memperingatkan bahwa jika bangsa Prancis tidak menghentikan taktik mereka yang menghalangi pemberian makanan kepada orang-orang Jerman yang kalah, maka tiga nama akan tercatat dalam sejarah sebagai para arsitek Bolshevisme di Eropa: Lenin dan Trotsky dan. . . Keynes menulis: “Sang Perdana menteri terdiam. Di seluruh ruangan dapat Anda lihat semua orang menyeringai sambil membisikkan kepada orang di sebelahnya: ‘Klotsky.'” (Keynes 1949: 229; Skidelsky 1986: 360, 362) Maksudnya adalah bahwa Keynes, yang sebelum peristiwa itu tidak pernah secara khusus menyukai Lloyd George, berhasil dijinakkan melalui kehebatan George dalam mempertunjukkan sikap anti-Semitiknya yang garang. “Ia bisa saja mengagumkan bagi orang yang setuju dengannya”. kata Keynes. “Saya belum pernah mengagumi kekuasaanya yang luar biasa [sebesar yang saya rasakan sekarang]” (1949: 225).[3]

Tetapi alasan utama mengapa Keynes menolak komunisme semata-mata hanyalah karena ia tidak dapat menyamakan dirinya dengan kaum proletar yang kumal. Seperti yang ia tuliskan sepulangnya dari perjalanan ke Uni Sovyet: “Bagaimana mungkin saya dapat mengadopsi kredo mereka yang lebih memilih lumpur daripada ikan, yang mengagung-agungkan kaum proletar kampungan di atas para borjuis dan para intelek yang merupakan . . . kualitas kehidupan dan tentunya membawa benih-benih kemajuan kemanusiaan?” (Hession 1984: 224). Ketika menolak sosialisme proletarian di Partai Buruh Inggris, Keynes membuat pernyataan kuat serupa: “Ini perang kelas, tetapi bukan kelas saya. . . . Perang kelas akan menempatkan saya di sisi para borjuis terpelajar” (Brunner 1987: 28). John Maynard Keynes adalah anggota seumur-hidup kelompok aristokrat Inggris, dan ia tidak ingin melupakan hal tersebut.

RANGKUMAN

Apakah Keynes, seperti diyakini oleh Hayek, seorang “ilmuwan yang cemerlang”? “Ilmuwan” tidak cocok untuknya, sebab Keynes hampir tidak pernah membaca literatur ekonomi: ia lebih seorang advonturir, yang mencomot sedikit pengetahuan di sana-sini dan menggunakannya untuk memaksakan kepribadian dan gagasan-gagasannya yang keliru kepada dunia, dengan daya dorong yang terus-menerus disulut oleh keangkuhannya yang berbatasan dengan egomania. Tetapi Keynes beruntung telah dilahirkan dalam lingkaran elit Inggris, dididik di lingkungan ekonomi kelas (Eton/Cambridge/Kelompok Rasul), dan khususnya dipilih secara khusus oleh Alfred Marshall yang sangat berkuasa saat itu. “Cemerlang” juga bukan kata yang tepat untuknya. Keynes tentu cukup cerdas, tetapi kualitasnya yang paling signifikan adalah angkuh, terlalu percaya diri tanpa batas, dan haus akan kekuasaan, dominasi, dan penciptaan kesan hebat melalui jalur kesenian, ilmu-ilmu sosial, dan dunia politik. Keynes, lebih jauh, juga bukan seorang “revolusioner” dalam pengertian riil apapun. Ia memiliki kepintaran taktis untuk mendandani kekeliruan-kekeliruan usang–yang penah dianut oleh kelompok statis dan kelompok inflasionis–dengan jargon modern dan pseudo-ilmiah, sehingga membuat gagasan-gagasan tersebut tampak seperti temuan-temuan baru dalam disiplin ekonomi. Dengan cara itu Keynes dapat mengendarai gelombang air pasang statisme dan sosialisme, juga gelombang ekonomi-terkelola atau ekonomi-perencanaan. Keynes berhasil menyingkirkan peran tua teori ekonomi sebagai “perusak skema kelompok statist dan kelompok inflasionis, dan membimbing generasi baru ekonom kepada kekuasaan akademis dan kekayaan serta hak-hak khusus politis.

Barangkali sebutan yang lebih cocok untuk Keynes adalah “karismatik”-bukan dalam arti memiliki kemampuan untuk memenangkan simpati jutaan orang, melainkan dalam arti memiliki kemampuan untuk membujuk dan merayu orang-orang penting-dari patron hingga politisi serta mahasiswa, bahkan ekonom yang berseberangan dengannya. Sebagai orang yang selalu berpikir dan bertindak dalam kerangka kekuasaan dan dominasi brutal; yang mencaci-maki konsep tentang prinsip-prinsip moral; yang merupakan musuh abadi dan tersumpah kaum borjuis, kreditor, dan kelas menengah yang gemar berhemat; yang merupakan seorang penipu sistematik, yang siap memuntir kebenaran agar sesuai dengan rencananya sendiri; dan yang juga seorang fasis dan Anti-Semit, Keynes tetap berhasil membujuk baik para lawan maupun pesaingnya. Bahkan setelah ia dengan penuh kelicikan memanfaatkan para mahasiswanya untuk menentang rekan-rekan pengajar sejawatnya, ia masih dapat memperdayai rekan-rekannya tersebut agar “menyerah” secara intelektual. Meskipun telah melecehkan dan membantai Pigou secara tidak adil, Keynes tetap dapat membuat kolega seniornya tersebut, setelah kematian Keynes, merasa hina terhadap dirinya sendiri. Serupa pula, ia berhasil menginspirasi musuh lamanya, Robbins, sehingga ia menuliskan dalam catatan hariannya tentang lingkaran cahaya emas di atas kepala Keynes yang baginya “seperti dewa”. Ia mampu mengkonversi ke dalam Keynesianism beberapa pengikut Hayek dan Mises yang seharusnya mengetahui-dan tak diragukan lagi, mengetahui-secara lebih baik: selain Abba Lerner, John Hicks, Kenneth Boulding, Nicholas Kaldor, dan G.L.S. Shackle di Inggris, juga termasuk Fritz Machlup dan Gottfried Haberler dari Vienna, yang kemudian mengajar di Johns Hopkins dan kemudian di Harvard.

Dari semua Misesian yang ada di awal tahun 1930-an, satu-satunya ekonom yang benar-benar tidak terinfeksi oleh doktrin dan personalitas Keynesian adalah Ludwig von Mises sendiri. Tetapi Mises, di Jenewa dan selama beberapa tahun di New York tanpa posisi mengajar, terbuang dari suasana akademis yang berpengaruh. Sedangkan Hayek, meskipun tetap anti-Keynesian, juga terpengaruh oleh karisma Keynesian. Terlepas dari segalanya, Hayek merasa bangga menyebut Keynes sebagai sahabatnya dan menciptakan legenda bahwa Keynes, di akhir hidupnya, akhirnya siap berpaling dari haluan Keynesiannya sendiri.

Bukti yang dimiliki Hayek terkait dugaan konversi Keynes di menit-menit terakhir kehidupannya sangat lemah-yaitu hanya didasari atas dua peristiwa selama tahun-tahun terakhir kehidupan Keynes. Mula-mula, dalam bulan Juni 1944, ketika membaca buku Hayek The Road to Serfdom, Keynes, yang saat itu berada di puncak kariernya sebagai perencana pemerintah di masa perang, mengirimkan memo kepada Hayek, yang mengatakan bahwa buku Hayek tersebut “buku yang hebat. . . secara moral dan filosofis saya, dapat dikatakan, setuju sepenuhnya”. Tetapi mengapa hal ini harus ditafsirkan lain daripada sekadar pesan santun untuk seorang sahabat yang baru berhasil untuk pertamakalinya menerbitkan buku yang populer? Selain itu, Keynes membuat persoalan menjadi jelas bahwa, terlepas dari kata-katanya yang bernada bersahabat, ia tidak pernah menerima tesis “lereng licin” yang esensial tentang Hayek, yakni bahwa statisme dan perencanaan pusat akan menuju langsung ke totalitarianisme. Sebaliknya, Keynes menuliskan bahwa “perencanaan moderat akan aman jika yang melaksanakannya berorientasi kepada isu moral secara benar dalam benak dan hati mereka”. Kalimat ini, tentu saja, berbunyi kebenaran, sebab Keynes selalu percaya bahwa instalasi orang-orang yang cakap, yakni dirinya sendiri dan para teknisi dan negarawan dari golongan kelas sosialnya, adalah satu-satunya penjaga yang dibutuhkan untuk mengawasi kekuasaan para penguasa (Wilson 1982: 64ff.).

Hayek menawarkan sepotong bukti canggung lainnya atas dugaan penyesalan diri Keynes, yang terjadi ketika mereka bertemu untuk terakhirnya dengan Keynes di tahun 1946, tahun terakhir kehidupan Keynes. Hayek melaporkan:

Pergantian giliran dalam percakapan tersebut membuat saya bertanya kepadanya, apakah ia prihatin terhadap apa yang dibuat oleh beberapa pengikutnya terhadap teori-teorinya. Setelah memberi komentarnya yang tidak terlalu memuji orang-orang tersebut, ia kemudian meyakinkan saya bahwa: ide-ide tersebut sangat diperlukan pada saat ia meluncurkannya. Tetapi saya tidak perlu kuatir, sebab jika ide-ide tersebut harus berubah menjadi berbahaya, saya akan dapat mengandalkannya untuk mengayun opini masyarakat sekali lagi-dan melalui gerakan tangannya ia menunjukkan seberapa cepat hal tersebut akan dilakukannya. Tetapi, tiga bulan kemudian, ia meninggal. (Hayek 1967b: 348)[4]

Namun demikian, ini bukanlah cerita tentang seorang Keynes di ujung rasa penyesalannya. Ini justru cerita keberhasilan Keynes, seorang yang selalu meletakkan kedaulatan ego lebih tinggi daripada prinsip atau ide apapun; seorang yang sangat menikmati kekuasaan yang ada digenggamannya. Ia dapat dan akan membalik dunia ini hanya dengan menjentikkan jari-jarinya, seperti yang diduganya telah ia lakukan di masa lalu. Selain itu, pernyataan Hayek di atas juga berisi kebehasilan Keynes dalam hal pandangannya yang dipercayanya sendiri tentang bagaimana bagaimana bertindak dengan benar saat berkuasa dan saat tidak lagi berkuasa. Di tahun 1930-an, ketika ia menjadi orang penting tetapi berada di luar kekuasaan, ia dapat berbicara dan bertindak dengan “sedikit liar”; tetapi begitu ia telah menikmati kursi tinggi kekuasaan, baginya itulah waktu untuk mengurangi “lisensi puitis”. Joan Robinson dan para Marxo-Keynesian lainnya saat itu membuat kesalahan, dalam pandangan Keynes, karena tidak meletakkan gagasan-gagasan yang mereka yakini, sesuai dengan kepentingan kekuasaan Keynes yang luar biasa besar.

Dan Hayek pun, meskipun memang tidak pernah menerima gagasan-gagasan Keynes, akhirnya jatuh juga ke dalam mantra karismatiknya. Hayek memang mengarang legenda tentang Keynes yang konon berubah pikiran; tetapi mengapa dari awal ia tidak meruntuhkan Teori Umum sebagaimana yang dilakukannya terhadap buku Keynes yang lain, Risalah tentang Uang? Hayek mengakui bahwa hal tersebut satu kesalahan strategisnya, dan bahwa ia memutuskan tidak melakukannya karena Keynes sudah tersohor sering mengubah pikirannya sendiri, sehingga ia tidak menduga Teori Umum akan mampu bertahan. Selain itu, seperti tertuang dalam Bab I di buku ini***, Hayek sepertinya menyimpan serangannya di tahun 1940-an agar ia tidak terlibat dalam agenda Keynesian Inggris untuk membiayai perang-tentunya hal ini adalah contoh sial tentang kebenaran yang menderita di tangan sesuatu yang, atas dasar praduga, dianggap sebagai hal yang pantas dilakukan secara politis.

Sementara itu, ekonom-ekonom lain terus menciptakan jalan revisionis–dengan keyakinan absurd bahwa Keynes hanyalah seorang perintis yang tidak berbahaya dalam bidang teori ketidakpastian (Shackle dan Lachmann), atau bahwa Keynes adalah seorang “nabi” yang menggagas pemikiran mengenai pentingnya biaya pencarian (search costs) dalam pasar tenaga kerja (Clower dan Leijonhufvud). Tak seorang pun benar. Bahwa Keynes adalah seorang Keynesian-dengan aliran sistem Keynesian yang sering dicemooh seperti oleh Hicks, Hansen, Samuelson, dan Modigliani-merupakan satu-satunya penjelasan yang masuk akal tentang ekonomi Keynesian. Tetapi Keynes lebih dari sekadar pengikut Keynesian. Di atas segalanya, ia sosok seorang yang luar biasa jahat dan berbahaya sebagaimana telah kita selidiki dalam bab ini: seorang pengagung intervensi negara, seorang Machiavelli yang memikat tapi haus kekuasaan; dan seorang yang telah mewujudkan sejumlah trend dan institusi paling berbahaya di abad dua puluh. [ ]

(Kembali ke Bagian 1 | Kembali ke Bagian 2)


[1] Lihat juga artikel Andrew Rutten yang menjelaskan hal ini dengan baik. (1989). Terima kasih kepada Dr. Rutten yang telah mengarahkan perhatian saya ke sana.

[2] Sebelumnya, Keynes menyerukan “transformasi masyarakat,” yang “mungkin memerlukan penurunan tingkat bunga menuju titik lenyap dalam kurun tiga puluh tahun kemudian” (Keynes 1933: 762).

[3] Keynes dapat menekan sikap anti-Semitik-nya, khususnya jika melibatkan bankir kaya yang mampu memberikan berbagai bentuk kemurahan hati/hadiah. Jadi kita telah melihat bahwa Edwin Samuel Montagu merupakan patron politik sejak awal dan yang terpenting bagi Keynes; dan Keynes juga kemudian menyayangi wakil Jerman dalam konferensi perdamaian di Paris, Dr. Carl Melchoir: “Untuk suatu hal, saya jatuh cinta kepadanya” (Keynes 1949: 222). Kenyataan bahwa Melchior adalah mitra dalam firma perbankan internasional terkemuka, M.M. Warburg and Company, mungkin berhubungan dengan sikap Keynes yang melunak.

[4] Harry Johnson mencatat kesan serupa pada presentasi Keynes mengenai makalahnya yang dipublikasikan setelah kematiannya, tentang neraca pembayaran, di mana Johnson menyimpulkan bahwa pernyataan Keynes “Betapa banyak hal-hal modern yang justru berakhir sebagai sesuatu yang salah, basi dan dungu, yang beredar dalam sistem kita,” mengacu kepada Joan Robinson, yang berhaluan Keynesian-kiri, atau Marxo-Keynesian (Johnson 1978: 159n).

** (Versi asli berbahasa Inggris terbit perdana dalam Dissent on Keynes: A Critical Appraisal of Keynesian Economics, disunting oleh Mark Skousen. New York: Praeger (1992). Hal. 171-198. Terjemahan bahasa Indonesia oleh: Sukasah Syahdan, Ciputat, 2007; hak cipta pada penerjemah. Versi Indonesia ini terbit perdana di Jurnal Kebebasan: Akal dan Kehendak; http://akaldankehendak.com; Vol. II. Ed. 22, 24 Maret 2008. )

Kirim artikel ini:
Share on FacebookTweet about this on TwitterShare on Google+Email this to someoneShare on RedditShare on StumbleUpon

Tulisan lain yang mungkin terkait:

Discussion

One comment for “Sosok Keynes (Bag. 3-Tamat)”

  1. Teori ekonomi dan profil tokoh2nya
    berarti ini juga yang melatar belakangi kelas atau kasta bangsawan / proletar di dunia barat ya?

    Posted by Blog Kucing | 15 September 2016, 5:58 pm

Komentari

Arsip Bulanan

Rekomendasi

buku_rothbard.jpg
Apa Yang Dilakukan Pemerintah Terhadap Uang Kita?; Oleh: Murray Newton Rothbard; PT. Granit, Yayasan Obor Indonesia; ISBN : 97897916217 -4-8; tersedia di toko-toko buku terdekat. (Intip cuplikannya).
alt text
Membela Kapitalisme Global; Oleh: Johan Norberg; FNS Jakarta; tersedia di toko-toko buku terdekat. (Baca resensinya di sini).
Economic  Activism Blogs - Blog Catalog Blog Directory
%d bloggers like this: