Uncategorized

Ludwig von Mises dan Paradigma Untuk Jaman Kita

Oleh: Murray Newton Rothbard
Jurnal Kebebasan: Akal dan Kehendak
Vol. I, Edisi 2, 27 Maret 2007

alt textLudwig von Mises

Tanpa perlu dipertanyakan lagi, perkembangan yang paling signifikan dan paling menantang dalam historiografi ilmu pengetahuan dalam dekade lalu adalah teori Thomas S. Kuhn. Dan tanpa bermaksud membela filsafat subyektivis serta relativistik Kuhn yang mungkin masih dapat dipertanyakan, sumbangsihnya tentang bagaimana teori ilmiah berubah dan berkembang memang merupakan tilikan sosiologis yang cemerlang.[1]

Esensi teori Kuhn adalah tantangan kritis terhadap yang apa yang dapat disebut sebagai “teori Whig tentang sejarah ilmu pengetahuan”. Teori “Whig”, yang sebelum Kuhn dianggap sebagai ortodoksi, memandang kemajuan ilmu pengetahuan sebagai proses yang berlangsung pelan, terus-menerus dan selalu meningkat. Dengan demikian, dari tahun ke tahun, dekade demi dekade, abad demi abad, tubuh pengetahuan ilmiah berkembang secara gradual melalui proses pembingkaian sejumlah hipotesis, pengujian empiris terhadapnya, penolakan teori yang tidak sahih, dan penerimaan yang sahih. Tiap zaman dianggap berdiri tegak di atas bahu era sebelumnya, sambil memandang lebih jauh, lebih jelas.

Selanjutnya, menurut pendekatan Whig ini, substansi pengetahuan tidak diperoleh dengan membaca, katakanlah, karya tokoh fisika abad ke-19 atau astrolog abad ke-17. Kita mungkin tertarik membaca Priestley atau Newton atau Maxwell untuk mempelajari bagaimana pikiran kreatif mereka bekerja memecahkan masalah, atau agar kita mendapat tilikan sejarah terkait kurun tersebut. Akan tetapi tujuan kita membaca mereka bukan mempelajari hal ilmiah yang belum diketahui. Kontribusi mereka, hampir per definisinya, dianggap sudah tercakup dalam buku-buku teks terbaru, atau risalah di bidang terkait.

Namun, berdasarkan pengalaman sehari-hari, kiranya cukup banyak di antara kita yang merasa kurang puas dengan versi perkembangan ilmu sebagaimana diidealkan di atas. Meski tidak berarti mendukung kesahihan teori Immanuel Velikovsky, misalnya, kita tahu bagaimana Velikovsky langsung ditolak mentah-mentah dengan penuh amarah oleh masyarakat ilmiah, tanpa menunggu dengan sabar dilakukannya proses pengujian oleh ilmuwan sejawat yang berpikiran terbuka, sebagaimana seharusnya esensi pencarian ilmiah dilakukan.[2] Kita juga mengetahui bagaimana kritik Rachel Carson terhadap pestisida, yang sebelumnya dicemooh oleh sejumlah ilmuwan, ternyata malah diterima satu dekade kemudian.

Tetapi rupanya baru setelah Profesor Kuhn muncul kita mendapat model komprehensif tentang bagaimana seharusnya menerima dan mempertahankan keyakinan ilmiah. Menurut Kuhn, semua ilmuwan di bidang apapun akan mengadopsi visi atau matriks tentang teori sifatnya menjelaskan, yang olehnya disebut “paradigma”. Apapun paradigma tersebut, baik teori atom ataupun teori phlogiston, begitu diadopsi akan mengendalikan semua ilmuwan di bidangnya tanpa diperiksa atau dipertanyakan lagi–begitu mungkin yang terjadi dalam model Whig. Maka, penelitian-penelitian selanjutnya tidak lebih merupakan penerapan minor dari paradigma tersebut, atau pembersihan minor atas celah kelemahan atau anomali yang tersisa dalam visi dasar tersebut. Selama bertahun-tahun, berdekade-dekade atau bahkan lebih lama lagi, penelitian ilmiah telah menjadi kian sempit dan terspesialisasi, tetapi selalu berada dalam kerangka paradigmatik dasarnya.

Lalu sedikit demi sedikit, anomali demi anomali mulai menumpuk, sehingga teka-teki tidak lagi dapat dipecahkan dengan bekal paradigma tersebut. Namun, para ilmuwan tidak akan rela membuang paradigma tersebut. Sebaliknya, mereka akan semakin berusaha sekuat tenaga untuk memodifikasi hal-hal tertentu dari teori dasar tersebut agar sesuai dengan fakta yang kurang menyenangkan, dan untuk melindungi kerangka paradigma itu. Ketika tumpukan anomali itu sudah mencapai tingkat tertentu hingga mempertanyakan paradigma itu sendiri, maka kita menghadapi ”situasi kemelut” ilmu pengetahuan. Tetapi bahkan di saat seperti ini pun paradigma tidak pernah langsung dicampakkan dan digantikan dengan paradigma baru, atau paradigma tandingan, yang dianggap mampu menutup kelemahan yang ada dan melikuidasi anomalinya.

Saat hal semacam ini terjadi, maka “revolusi ilmiah” dikatakan telah tiba–sebuah periode penuh kekacauan ketika sebuah paradigma dilengserkan oleh paradigma lain dalam proses yang tak pernah semulus anggapan teori Whig. Dan bahkan di sini pun, para ilmuwan senior yang terkungkung dalam kepentingan intelektual mereka, seringkali akan mempertahankan keusangan paradigma mereka, sementara teori baru diadopsi oleh ilmuwan lebih muda yang lebih fleksibel.

Kiranya hal ini menjelaskan mengapa dari dua orang tokoh penemu oksigen di akhir abad kedelapan belas, Priestley dan Lavoisier, Joseph Priestley hingga akhir hayatnya tetap menyangkal bahwa yang sebenarnya telah ditemukannya adalah oksigen. Hingga detik penghabisan ia bersikukuh bahwa yang ditemukannya adalah ”udara yang telah dideflogistikasikan” (dephlogisticated air) sehingga teorinya selaras dengan kerangka teori phlogiston.[3]

Dengan demikian, berkat dukungan paradigma Kuhn tentang sejarah teori ilmiah yang kini tengah berproses menggantikan kerangka Whig, kita menyaksikan gambaran yang amat berbeda tentang proses ilmu. Alih-alih berparade secara perlahan, sedikit demi sedikit, menuju “cahaya” dan melewati proses pengujian dan penyempurnaan di tiap langkah perjalanannya, kita melihat serangkaian lompatan “revolusioner”, ketika sejumlah paradigma saling menggantikan hanya dengan berselangnya waktu, kerja keras, dan resistensi. Selanjutnya, tanpa mengadopsi relativisme filosofis Kuhn, semakin jelaslah bahwa, karena kepentingan intelektual lebih berperan dominan daripada pengujian yang dilakukan secara berkelanjutan dengan pikiran terbuka, maka dapat saja terjadi bahwa paradigma baru ternyata tidaklah lebih benar dibandingkan paradigma pendahulunya. Dan jika ini benar, kita harus senantiasa selalu terbuka terhadap kemungkinan bahwa yang kita ketahui saat ini tentang satu bidang ilmu mungkin lebih sedikit daripada satu dekade atau bahkan seabad yang lalu. Mengingat paradigma dapat dibuang tanpa tidak ditengok kembali, dunia mungkin saja telah melupakan kebenaran ilmiah yang dulu pernah diketahuinya, yang dulu tersimpan dalam stok pengetahuannya. Membaca karya-karya ilmuwan terdahulu membuka peluang besar yang memungkinkan kita mempelajari hal-hal yang belum kita ketahui—atau yang secara kolektif telah kita lupakan—tentang suatu ilmu. Professor de Grazia pernah mengatakan bahwa, “Yang kita temukan dan akhirnya lupakan justru lebih banyak daripada yang kita ketahui”. Dan teori yang kita lupakan mungkin saja lebih benar daripada yang kini kita anggap sebagai kebenaran.[4]

Jika tesis Kuhn tentang ilmu alam benar adanya, di mana uji empiris dan uji laboratorium terhadap hipotesisnya dapat dilakukan dengan mudah, maka demikian pula tentunya dalam filsafat dan ilmu-ilmu sosial, di mana pengujian melalui laboratorium tidak mungkin dilakukan! Dalam setiap disiplin seputra tindakan manusia, uji dan pembuktian laboratorium tidak dimungkinkan. Kebenaran hanya didapat melalui proses introspeksi, “akal sehat”, dan berpikir deduktif. Tetapi proses-proses semacam ini, meski dapat membawa kita kepada kebenaran yang solid, tidak segamblang atau sekuat proses pembuktian ilmu alam. Karena itul filsuf atau ilmuwan sosial semakin rentan untuk terperosok ke dalam paradigma yang keliru yang menuntunnya ke jalan setapak di taman selama beberapa dekade bahkan berabad-abad lamanya. Sebab, begitu ilmu sosial mengenai tindakan manusia telah mengadopsi paradigmanya, segala anomali akan lebih mudah terabaikan olehnya daripada oleh paradigma ilmu pengetahuan alam. Begitulah doktrin yang keliru dalam ilmu-ilmu sosial cenderung lebih bertahan untuk waktu yang lama.

Ada pula kesulitan lain yang telah dikenal luas dalam filsafat dan ilmu sosial. Faktor yang memungkinkan terjadinya kesalahan sistematik ini adalah: turut bermainnya emosi, penghakiman nilai, dan ideologi politik di dalam proses ilmiahnya. Perlakuan penuh emosi kemarahan oleh sejawat ilmuwan terhadap Jensen, Shockley, dan terhadap sekelompok pakar yang mencoba memperkenalkan teori tentang perbedaan intelejensi atas dasar ras manusia, misalnya, merupakan contoh kasusnya. Dalam hal ini, dasar penerimaan ilmiah terhadap Jensen dan Shockley adalah pandangan bahwa, meskipun seandainya teori mereka benar, kedua ilmuwan tersebut tidak patut menyampaikannya, paling tidak hingga seratus tahun lagi, mengingat konsekuensi-konsekuensi politisnya dianggap kurang menguntungkan. Meskipun kasus pencarian kebenaran ilmiah semacam ini juga sempat terjadi beberapa kali dalam ilmu alam, untungnya frekuensinya tidak terlalu tinggi. Dan terlepas dari segala kepentingan intelektual yang dipertaruhkan di sini, setidaknya tidak ada faktor-faktor pendukung ideologis dan politis untuk teori phlogiston dalam ilmu fisika, atau teori valence dalam ilmu kimia.

Hingga beberapa dekade terakhir, para filsuf dan ilmuwan sosial memiliki kesadaran yang cukup sehat dalam menyikapi perbedaan-perbedaan besar antara disiplin mereka dan ilmu pengetahuan alam. Teori-teori klasik filsafat, politik dan ekonomi tidak semata-mata dibaca untuk kepentingan antikuarian, melainkan demi pencarian kebenaran. Mahasiswa filsafat membaca Aristoteles, Aquinas, atau Kant bukan sebagai permainan barang kuno, melainkan untuk mempelajari jawaban terhadap pertanyaan-pertanyaan filosofis. Mahasiswa politik membaca Aristoteles dan Machiavelli dengan tujuan serupa. Lain halnya dengan ilmu alam, kontribusi para pemikir tempo dulu tidak asumsikan telah tercantum dalam edisi terakhir buku teks populer; dan dengan demikian tidak pula diasumsikan bahwa jurnal terkini dalam suatu bidang lebih penting daripada karya filsuf klasik.

Namun, dalam beberapa puluh tahun terakhir, disiplin ilmu yang mempelajari tindakan manusia—filsafat dan ilmu sosial—dengan penuh kegamangan telah mencoba mengadopsi metodologi ilmu alam. Akibatnya, banyak sekali kesalahan besar telah ditimbulkan oleh pendekatan ini, dan hal ini semakin menceraikan ilmu sosial dari realitas. Contohnya adalah kesia-siaan dalam penggunaan statistik sebagai pengganti percobaan laboratorium, pengadopsian model uji hipotesis positivistik, penaklukkan yang mengenaskan terhadap disiplin ilmu lain—bahkan sejarah, dalam kadar tertentu—oleh matematika. Hal terpenting di sini adalah bahwa dengan menirukan ilmu alam, disiplin ilmu sosial berubah menjadi spesialisasi yang sempit. Seperti dalam ilmu alam, tidak ada ilmuwan yang membaca karya klasik di bidangnya, atau yang memahami sejarah ilmu yang digelutinya lebih jauh daripada artikel jurnal tahun ini. Tidak ada lagi pakar yang yang menulis risalah sistematis; presentasi sistematik hanya disajikan di buku-buku teks yang kering, sementara ilmuwan “sejati” mencurahkan energi di lapangan untuk menggarap hal-hal teknis untuk kepentingan jurnal profesional.

Kita telah melihat bahwa bahkan ilmu alam pun telah mengalami problem perpetuasi yang gegabah terhadap asumsi dan paradigma fundamentalnya; tetapi dalam ilmu sosial dan filsafat, peniruan metode ilmu alam semacam itu telah menimbulkan begitu banyak bencana. Sebab sementara disiplin sosial cenderung lambat dalam mengubah asumsi fundamentalnya di masa lalu, ilmu ini sebenarnya telah berhasil melakukannya berdasarkan pemikiran murni dan kritik terhadap paradigma dasarnya. Sebagai contoh, ekonomi “faedah marjinal” memerlukan waktu yang panjang sebelum menggantikan ekonomi klasik di akhir abad 19. Hal ini akhirnya berhasil dilakukan melalui pemikiran dan penanyaan secara fundamental. Tetapi tidak ada risalah sistematik—kecuali satu, yang akan dibahas di bawah—telah ditulis di bidang ekonomi, tidak satupun, sejak PD I. Dan jika risalah yang sistematik tidak dituliskan, maka tidak akan ada pula telaah kritis mengenai asumsi-asumsi fundamentalnya. Tanpa uji laboratorium yang biasa dipakai sebagai alat cek terakhir terhadap teori ilmu alam; dan ditambah pula dengan tidak adanya penggunaan sistematik akal budi untuk menantang asumsi fundamentalnya, maka hampir mustahil bagi kita untuk melihat bagaimana filsafat dan ilmu sosial kontemporer akan pernah dapat mengubah paradigma fundamental yang telah digelutinya di abad ini. Bahkan seandainya pun orang menerima secara total keterombang-ambingan fundamental ilmu sosial di abad ini, maka tidak tersedianya kesempatan untuk mempertanyakan hal-hal yang fundamental—atau pereduksian ilmu ke dalam tulisan sempit di jurnal-jurnal—akan memberi orang tersebut alasan kuat untuk meragukan keandalan ilmu sosial.

Tetapi jika orang percaya, seperti halnya penulis artikel ini, bahwa paradigma fundamental filsafat dan ilmu sosial modern abad ke-20 merupakan kesalahan dan kekeliruan sejak awal, termasuk ketika dia menirukan ilmu alam, maka orang tersebut memiliki justifikasi untuk menyerukan perlunya rekonstruksi semua disiplin sosial, serta perombakan birokrasi yang amat terspesialisasi saat ini agar terbuka terhadap kritik menyeluruh terhadap segala asumsi dan prosedurnya.

Dari semua disiplin pengetahuan sosial, yang paling menderita proses degeneratif ini adalah ekonomi. Persoalannya adalah bahwa disiplin ini, secara keliru, dianggap yang paling “ilmiah” di antara ilmu-ilmu sosial. Jika filsuf masih membaca Plato atau Kant dalam upaya mendapatkan tilikan kebenaran; dan pakar teori politik masih membaca Aristotle dan Machiavelli dengan alasan serupa; maka tidak ada ekonom masa kini yang masih membaca Adam Smith atau James Mill untuk tujuan demikian. Sejarah pemikiran ekonomi, yang dulu diharuskan di tingkat sarjana, kini menjadi disiplin yang sekarat. Disiplin ini masih dipertahankan hanya untuk kepentingan antikuarian semata. Para sarjana terkungkung dalam timbunan artikel jurnal terkini; membaca karya ekonom sebelum tahun 1960-an dianggap sebagai penyia-nyiaan waktu demi kesenangan belaka, dan upaya untuk menantang -asumsi fundamental di balik teori terkini amat tidak dianjurkan. Kalaupun nama ekonom gaek disinggung sama sekali, hal itu hanya semacam sapuan tipis kuas untuk menggambarkan figur-figur pendahulu Tokoh Utama di bidang ini. Hasilnya, disiplin ekonomi tidak saja tersesat tragis di jalan yang salah, melainkan juga menyebabkan profesi ini secara kolektif melupakan kebenaran-kebenaran yang pernah disampaikan para ekonom besar di masa lalu; kebenaran-kebenaran tersebut lenyap dalam ”lubang memori” Orwellian.

Dari semua tragedi yang diakibatkan oleh amnesia kolektif dalam ilmu ekonomi, kehilangan terbesar bagi dunia adalah berupa gerhana “Mazhab Austria”. Didirikan pada tahun 1870-an dan 1880-an, dan ketika masih saat itu belum benar-benar tumbuh, mazhab Austria ini sudah harus mengalami pengabaian yang jauh lebih besar daripada yang dialami berbagai aliran pemikiran ekonomi lainnya. Ada beberapa alasan kuat untuk itu.

Pertama, tentunya, karena Mazhab Austria didirikan seabad yang lalu, sehingga, di jaman ilmiah dewasa ini, dengan sendirinya menjadi sesuatu yang perlu dicurigai. Kedua, mazhab Austria sejak awal lebih bersifat filosofis daripada “sainstistik”. Dibandingkan dengan ekonom modern, pemikir-pemikir Mazhab Austria lebih menggeluti metodologi dan epistemologi ekonomi. Mereka sejak awal juga berprinsip menentang penggunaan matematika atau ”uji” statistik terhadap teori ekonomi. Dengan demikian, mereka menempatkan diri sebagai oposisi terhadap semua kecenderungan positivistik abad ini, yang menirukan ilmu alam. Selanjutnya, ini berarti bahwa para ekonom Austria masih terus menuliskan risalah fundamental sementara para ekonom lain memfokuskan diri mereka pada penulisan artikel-artikel jurnal dengan orientasi matematis. Ketiga, dengan penekanan pada individu dan pilihannya, baik secara metodologis maupun politis, pada ekonom Austria menentang holisme dan statisme abad ini.

Kiranya tiga hal radikal yang membedakan mereka dari tren saat ini sudah cukup untuk mendorong mereka ke dalam keterabaian yang tidak selayaknya mereka terima. Namun, masih ada satu faktor lagi yang juga penting, walau tampaknya remeh: kendala bahasa.

Di dunia ilmiah, apapun nilai “tes bahasa” mereka, tak seorang pun ekonom Amerika atau Inggris [pada jaman itu—penyunting.] yang benar-benar dapat membaca karya ekonomi dalam bahasa asing. Dengan demikian, penerimaan pemikiran ekonomi dari sumber asing sangat tergantung pada kualitas penerjemahan. Dari semua pemikiran tokoh besar pendiri mazhab Austria, karya Carl Menger tahun 1870-an baru diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris hingga akhir tahun 1950-an.

Dalam hal ini, nasib seorang murid Menger, Eugen von Böhm-Bawerk, masih jauh lebih baik, walau terjemahan karya lengkapnya baru muncul pada akhir tahun 1950-an. Nasib murid Bohm-Bawerk yang terpenting, Ludwig von Mises, pendiri dan pemimpin mazhab “neo-Austria”, hampir sama buruknya dengan nasib Menger. Karya klasik Mises yang diterbitkan di tahun 1912, Theory of Money and Credit; yang mengaplikasikan ekonomi Austria pada problem uang dan perbankan; yang berisi benih-benih teori baru radikal tentang siklus bisnis; dan yang amat berpengaruh di benua Eropa; baru dialihbahasakan pada tahun 1934.

Pada saat itu karya Mises tersebut segera saja terkubur di Inggris dan Amerika Serikat oleh antuasiasme terhadap “Revolusi Keynesian” yang justru berseberangan dengan teori Mises. Buku Mises tahun 1928, Geldwerstabilisierung und Konjunkturpolitik, yang memprediksikan Depresi Besar berdasarkan pengembangan teori siklus bisnisnya, juga belum diterjemahkan hingga hari ini. Selain itu, risalah sistematis dan monumental Mises, Nationalökonomie, yang memadukan teori ekonomi di atas landasan epistemologi yang kuat, juga terabaikan. Meski berhasil diterbitkan pada tahun 1940, Eropa saat itu tengah-tengah tercabik-cabik oleh perang. Terjemahannya dalam bahasa Inggris sebagai Human Action (1949) hadir di saat ilmu ekonomi telah menetapkan wajah metodologis dan politisnya dengan arah yang berbeda secara radikal. Dengan demikian, sebagaimana kasus-kasus lain yang menantang paradigma fundamental ilmu pengetahuan, karya Mises ini tidak sempat dibantah ataupun dikritik, melainkan hanya terabaikan.

Jadi, walaupun seorang von Mises diakui sebagai seorang ekonom ternama di Eropa pada tahun 1920-an dan 30-an, kendala bahasa telah menutup pengenalan dunia Anglo-Amerika terhadapnya, hingga pertengahan tahun 1930-an. Pada saat itu, meskipun pada saat itu teori siklus bisnisnya yang mampu menjelaskan Depresi Besar mulai dikenal luas, momen pengenalan dunia terhadap Mises, yang selama itu tertunda, hilang tertelan gegap gempita Revolusi Keynesian.

Sebagai seorang pelarian yang basis akademis serta sosialnya di Eropa telah dilucuti perang, Mises hijrah ke Amerika Serikat untuk menggantungkan diri pada kebaikan lingkungan barunya. Tetapi jika dalam iklim saat itu pelarian-pelarian ”kiri” dan sosialis dari Eropa mendapat perhatian yang baik, dijaga dan dimanja melalui pemberian diberi jabatan akademis yang bergengsi, perlakuan demikian ternyata tidak diberikan kepada seseorang yang mempersonifikasikan individualisme metodologis dan politis yang merupakan anathema bagi akademia Amerika.

Kenyataan bahwa seseorang sekaliber Mises tidak mendapat tawaran jabatan akademis reguler dan bahwa Mises tidak pernah mendapat kesempatan untuk mengajar di fakultas bergengsi di negara ini tentunya merupakan satu noktah yang memalukan dalam sejarah pendidikan tinggi Amerika, yang memang tidak terlalu hebat. Kenyataan bahwa Mises sendiri masih tetap mampu mempertahankan energi dan produktivitasnya yang luar biasa, serta kelembutan hati dan selera humornya yang baik dalam menghadapi perlakuan kasar demikian, kiranya menjelaskan seperti apa kualitas manusia luar biasa ini, yang sekarang tengah kita hormati pada hari ulang tahunnya yang kesembilanpuluh.

Kita sepakati saja bahwa tulisan-tulisan Ludwig von Mises memperlihatkan kepada kita figur seseorang ternama yang berani keberanian dan berpegang teguh pada disiplin dan visinya tanpa memerdulikan perlakuan kasar yang diterimanya. Namun, terlepas dari semua ini, kebenaran substantif apa sebenarnya yang ditawarkan seorang Mises kepada Amerika di tahun 1971? Apakah tulisan-tulisannya memang menyingkap kebenaran yang tidak ditemukan di tempat lain dan, oleh karenanya, secara intrinsik memiliki daya tarik lebih dari sekadar catatan sejarah yang memesona kita tentang perjuangan seseorang? Jawabannya sederhana, tetapi mengejutkan—dan tentunya tidak dapat didokumentasikan dalam keterbatasan artikel ini: Ludwig von Mises tidak kurang menawarkan kepada kita sebuah paradigma yang utuh dan maju bagi sebuah disiplin ilmu yang telah terkatung-katung secara tragis selama separuh abad terakhir.

Karya Mises memberi kita alternatif yang benar dan berbeda secara radikal dari kerancuan berpikir, kesalahan serta kekeliruan yang sebenarnya juga disadari para mahasiswa seputar ortodoksi ekonomi di jaman ini. Tidak sedikit mahasiswa ekonomi yang merasakan bahwa ada yang sangat salah dengan ilmu ekonomi kontemporer. Seringkali mereka melemparkan kritik yang tajam; namun sayangnya, mereka tidak mengenal teori lain sebagai alternatifnya. Dan, seperti ditunjukkan Thomas Kuhn, sebuah paradigma, meskipun keliru, tidak akan dicampakkan hingga dia benar-benar tergantikan oleh sebuah teori tandingan. Atau, dalam bahasa sederhana,Anda tidak bisa mengalahkan something dengan “nothing,” dan “nothing” di sini adalah segala yang dapat ditawarkan para kritik ilmu ekonomi saat ini. Karya Ludwig von Mises adalah “something” dalam hal ini. Mises mempersembahkan disiplin ekonomi yang landasannya tidak mencomot landasan ilmu pengetahuan alam, melainkan pada kodrat manusia serta pilihan-pilihan yang dibuat individu manusia. Tulisannya memaparkan ilmu ekonomi secar a sistematik dan lengkap untuk dijadikan alternatif paradigmatik yang tepat terhadap situasi krisis yang sebenarnya—dalam teori dan kebijakan publik—telah ditimbulkan ilmu ekonomi modern kepada kita. Tidak berlebihan jika dikatakan bahwa Ludwig von Mises adalah Jalan Keluar untuk dilema-dilema yang sifatnya metodologis dan politis, yang kian lama kian menumpuk di dunia modern ini. Yang dibutuhkan saat ini adalah tuan rumah untuk “para pemikir Austria” yang dapat memperluas keberadaan jalan yang selama ini terabaikan.

Singkatnya, sistem ekonomi Mises—terutama yang dipaparkannya dalam Human Action—membumikan ekonomi secara langsung pada aksioma tindakan: terhadap analisis kebenaran primordial bahwa setiap manusia itu ada, bertindak, dan membuat pilihan-pilihan yang disengaja di antara berbagai alternatif. Berdasarkan pada aksioma yang sederhana dan tak terbantahkan mengenai tindakan manusia ini, Ludwig von Mises secara sistematik dan menyeluruh mendeduksi konstruksi teori ekonominya, yakni konstruksi yang sama benarnya dengan aksioma dan kaidah-kaidah logis yang mendasarinya.

Keseluruhan teori Mises adalah penjabaran individualisme metodologis dalam ilmu ekonomi, ciri serta konsekuensi pilihan dan pertukaran di antara individu-individu. Keyakinan penuh Mises yang non-kompromistis terhadap pasar bebas, oposisinya terhadap setiap bentuk statisme, berawal dari analisis terhadap sifat dan konsekuensi individu-individu yang bertindak bebas di satu sisi, dan terhadap interefensi koersif atau perencanaan pemerintah di sisi lain. Dengan mendasari analisisnya pada aksioma tindakan, Mises menunjukkan konsekuensi-konsekuensi yang menggembirakan dari kebebasan serta pasar bebas: yaitu efisiensi, kemakmuran, dan pembangunan sosial, sebagai lawan dari segala konsekuensi yang menimbulkan petaka, seperti terlihat dari hasil intervesi pemerintah terhadap kemiskinan, perang, kekacauan sosial, dan kemunduran perekonomian. Dari konsekuensi politisnya saja terlihat langsung betapa metodologi dan kesimpulan ekonomi Misesian merupakan anathema ilmu sosial modern.

Sebagaimana dikatakan Mises:

Para pangeran dan mayoritas yang dipilih secara demokratis itu mabuk kekuasaan. Mereka tentu enggan mengakui bahwa mereka tunduk pada hukum-hukum alam. Tetapi mereka menolak aturan hukum ekonomi. Bukankah mereka para legislator yang agung?… Sejarah ekonomi sebenarnya berisi catatan panjang kebijakan-kebijakan pemerintah yang gagal karena telah dirancang tanpa mengindahkan kaidah-kaidah ekonomi.

Mustahil memahami sejarah pemikiran ekonomi jika orang mengabaikan kenyataan bahwa ilmu ekonomi itu sendiri menentang kesombongan para penguasa. Ekonom tak akan pernah menjadi favorit bagi otokrat dan demagog. Bagi mereka, ia akan selalu menjadi pembuat keonaran …

Dalam menghadapi semua agitasi yang gencar ini, adalah hal yang tepat untuk menerima kenyataan bahwa titik awal semua pemikiran praksiologis dan ekonomi, sebagai kategori tindakan manusia, adalah bukti [yang menjawab] terhadap segala kritik dan keberatan …. Dengan fondasi yang kukuh berupa tindakan manusia dan praksiologi, para ekonom maju selangkah demi selangkah melalui pemikiran diskursif. Dengan mendefinisikan asumsi dan kondisinya, mereka membangun sistem konsep dan menarik semua inferensi implikasinya melalui penalaran yang tidak dapat dibantah logika.[5]


Dan kemudian:

Hukum-hukum alam semesta yang memberi kita pengetahuan tentang kaidah fisika, biologi dan praksiologi [khususnya ekonomi] itu terpisah dari keinginan manusia merupakan fakta ontologis primer yang secara ketat membatasi kemampuan manusia untuk bertindak … [Selama ini] hanya orang yang tidak waras saja yang mengabaikan hukum-hukum ilmu alam dan biologi; sedangkan hukum-hukum ekonomi sangat lumrah dicibirkan. Pihak penguasa tidak mau mengakui bahwa kekuasaan mereka juga dibatasi oleh kaidah-kaidah selain hukum alam [seperti] fisika dan biologi. Tidak terpikirkan oleh mereka bahwa kegagalan dan rasa frustrasi mereka selama ini terkait dengan pelanggaran [mereka] atas hukum-hukum ekonomi.[6]

Ciri penting analisis Mises terhadap “intervensionisme”— atau intervensi pemerintah dalam perekonomian— adalah bahwa tindakan pemerintah tersebut dianggapnya secara fundamental bersifat “ekologis”; sebab hal tersebut menunjukkan bahwa intervensi menimbulkan konsekuensi dan kesulitan yang tidak diinginkan, yang kemudian memberi alternatif berikut kepada pemerintah: melakukan intervensi tambahan untuk ”mengatasi” persoalan-persoalan yang timbul, atau mencabut semua struktur intervensinya.

Singkatnya, Mises menunjukkan bahwa ekonomi pasar merupakan jaring laba-laba yang terkonstruksi secara rumit dan saling terhubung. Intervensi koersif pada berbagai titik strukturnya akan menciptakan persoalan yang tak terlihat di tempat lain. Logika intervensi, dengan demikian, bersifat kumulatif. Dengan demikian, perekonomian-campur tidak akan bertahan stabil—selalu cenderung bergerak secara penuh ke sosialisme atau kembali ke ekonomi pasar bebas. Program pendukung harga barang pertanian, juga program sewa bangunan di NYC, adalah contoh kasus buku teks tentang konsekuensi dan keburukan intervensi.

Tentunya, perekonomian Amerika nyaris dapat dikatakan telah mencapai titik di mana pajak yang melumpuhkan, inflasi yang berkelanjutan, inefisiensi dan kelumpuhan kronis di wilayah kehidupan perkotaan, transportasi, edukasi, telepon dan jasa pos, pembatasan dan mogok kerja serikat buruh, naiknya ketergantungan pada dana kesejahteraan, dll., semuanya telah menyebabkan krisis dalam skala penuh akibat intervensionisme. Dan hal ini telah lama diprediksi Mises. Instabilitas sistem kesejahteraan-negara intervensionis kini memperjelas pilihan dasar kita pada sosialisme di satu sisi dan kapitalisme di sisi lain.

Barangkali salah satu sumbangsih terpenting von Mises seputar ekonomi intervensi juga merupakan sesuatu yang kini paling serius terabaikan: yaitu analisisnya terhadap uang dan siklus bisnis. Kita tengah hidup di zaman di mana bahkan para ekonom yang paling mendukung pasar bebas justru bersedia dan bersemangat melihat negara memonopoli dan mengarahkan pencetakan. Padahal Mises telah menunjukkan bahwa:

1. peningkatan suplai uang tidak akan pernah memberi manfaat sosial maupun ekonomi;

2. intervensi pemerintah dalam sistem moneter selalu menimbulkan inflasi;

3. oleh karena itu, pemerintah harus dipisahkan dari sistem moneter, sama halnya bahwa pasar bebas memerlukan agar pemerintah tidak mengintervensi di wilayah lain dalam perekonomian.

Di sini Mises menekankan, hanya ada satu cara untuk memastikan kebebasan dari perpecahan: memiliki sejenis uang yang juga bermanfaat sebagai komoditas, yang diproduksi sebagaimana komoditas lain tunduk pada kekuatan suplai-demand pasar. Singkatnya, uang-komoditas ini—yang pada praktiknya berarti standar emas secara penuh—harus menggantikan uang-kertas fiat yang dikeluarkan oleh pemerintah dan sistem perbankan yang dikontrolnya.[7]

Teori Mises yang brilian tentang siklus bisnis merupakan satu-satunya teori yang harus diintegrasikan dengan analisis umum para ekonom mengenai sistem harga, modal dan bunga. Mises telah menunjukkan bahwa fenomena siklus bisnis, yang berulang bergantian antara boom and bust dengan kita semua telah mengenalnya, tidak akan terjadi dalam kondisi pasar bebas yang tidak terkendala.

Siklus bisnis juga bukan serangkaian peristiwa acak, atau misterius, atau sesuatu yang perlu dicek dan diwaspadai pemerintah pusat dengan langkah penangkalnya. Malah pemerintahlah yang menimbulkan siklus bisnis: terutama melalui ekspansi kredit bank yang dipacu dan dipicu oleh ekspasi cadangan bank oleh pemerintah.

Para ”pakar moneter” dewasa ini menekankan bahwa proses ekspasi kredit akan menurunkan suplai uang, dan dengan demikian tingkat harga. Namun, mereka sepenuhnya mengacuhkan tilikan Mises bahwa bahkan konsekuensi yang lebih buruk dan menghancurkan justru akan terjadi, yakni berupa distorsi keseluruhan harga dan produksi.

Secara khusus, ekspansi uang bank menyebabkan penurunan artifisial tingkat bunga, dan overinvestasi barang modal secara artifisial dan non-ekonomis–baik berupa barang, pabrik, bahan baku industri, proyek konstruksi, dll. Selama ekspansi inflasif uang dan kredit bank berlanjut, the unsound ness proses ini tertutup tabir, dan perekonomian akan berjalan dalam bentuk boom eforia yang dikenal luas; tetapi begitu ekspansi kredit ini akhirnya berhenti, dan harus berhenti jika tidak mau terkena inflasi berkepanjangaan, maka hari perhitungan pun tiba. Sebab tanpa anodin untuk melanjutkan inflasi uang, distorsi dan misalokasi produksi, overinvestasi dalam proyek modal yang tidak ekonomis dan harga dan upah yang eksesif tinggi dalam insutri barang-barang modal tersebut menjadi terbukti dan jelas terlihat. Saat itulah maka resesi tidak dapat dihindari, sebab resesi merupakan reaksi ekonomi pasar untuk menyesuaikan diri, melikuidasi investasi yang tidak layak, menyelaraskan harga dan output perekonomian untuk meniadakan segala konsekuensi yang buruk dari boom tersebut. Pemulihan datang ketika penyesuaian dirampungkan.

Jelas, preskripsi kebijakan yang berasal dari teori Misesian tentang siklus bisnis berbeda secara diametrik dengan kebijakan pasca-Keynesian yang ditawarkan ilmu ekonomi ortodoks modern. Ketika inflasi terjadi, resep Misesian sederhana saja: pemerintah harus berhenti menginflasikan suplai uang. Saat resesi tidak terhindarkan, berlawanan dengan pandangan modern bahwa pemerintah harus bergegas meningkatkan suplai uang (pandangan kelompok monetarist) atau melakukan pembelanjaan defisit (pandangan kelompok Keynesians), ekonom Austria menyerukan agar pemerintah melepaskan tangannya dari sistem ekonomi—yang dalam hal ini memang akan membiarkan terjadinya proses yang, meski menyakitkan, diperlukan agar resesi menyelesaikan tugasnya secepat mungkin.

Dalam kasus terbaik, menimbulkan inflasi tambahan untuk menghentikan resesi hanya berarti menyiapkan panggung untuk resesi lain yang lebih dalam kelak; dalam kasus terburuk, inflasi yang terjadi akan menunda proses penyesuaian dan dengan demikian memperlama resesi hingga indefinit, seperti yang secara tragis terjadi di tahun 1930-an. Jadi, sementara ortodoksi dewasa ini mengatakan bahwa siklus bisnis disebabkan oleh proses misterius di dalam perekonomian dan harus dicounter oleh kebijakan aktif pemerintah, teori Mises menunjukkan hahwa siksul bisnis disebabkan oleh kebijakan inflasif pemerintahdan bahwa, begitu terjadi, hal terbaik yang dapat dilakukan pemerintah adalah membiarkan perekonomian berjalan sendiri. Singkatnya, doktrin mazhan Austria adalah satu-satunya espousal yang konsisten terhadap laissez-faire; sebab, berbeda dengan aliran ekonomi lain yang menganut “pasar bebas”, Mises dan para Austrian lain akan mengaplikasikan laissez-faire ke tingkat ”makro” maupun ”mikro” dalam perekonomian.

Jika intervensi selalu berakhir sebagai bencana dan menggagalkan dirinya sendiri, apa lalu alternatif ketiga: sosialisme? Di sini Ludwig von Mises diakui telah membuat kontribusi yang paling dikenal di bidang ekonomi: yaitu ketika ia mendemonstrasikan, lebih dari lima puluh tahun lalu, bahwa perencanaan sentral sosialis adalah hal yang irrasional, sebab sosialisme tidak dapat melakukan”kalkulasi ekoonomi” terhadap harga, sementara harga adalah elemen yang tidak dapat dipisahkan dalam perekonomian industri modern. Hanya pasar sejati, berdasarkan kepemilikan privat terhadap alat produksi dan terhadap pertukaran hak miliklah, yang dapat membangun harga pasar secara murni, harga yang berfungsi mengalokasikan sumber-sumber daya produktif— lahan, tenaga kerja, dan modal—ke wilayah-wilayah yang paling efisien dapat memuaskan kebutuhan para konsumen.

Tetapi Mises menunjukkan bahwa bahkan jika pemerintah bersedia melupakan hasrat konsumen, dia tidak dapat mengalokasikan secara efisien bagi akhirnya sendiri tanpa ekonomi pasar yang menetapakan hargra dan baiaya. Mises bahkan dihormati oleh kaum sosialis sebab dirinya adalah yang pertama yang memaparkan persoalan kalkulasi rasional terhadap harga dalam perekonomian sosialis; tetapi para sosialis dan ekonom lain mengasumsikan secara salah bahwa Oskar Lange dan lainnya telah berhasil memecahkan persolan kalkukasi ini dalam tulisan-tulisan mereka di tahun l930-an. Sebenarnya, Mises telah mengantisipasi “solusi” Lange dan telah menggugurkannya dalam sebuah tulisan orisinilyna.[8]

Sungguh ironis bahwa, begitu profesi ekonomi merasa telah berhasil ”menggugurkan” argumen Mises, negara-negara komunis di Eropa timur mulai mendapati, secara pragmatis ataupun secara terpaksa, bahwa sistem perencanaan sosialis ternyata memang tidak memuaskan, terutama ketika perekonomian mulai mengarah menjadi industrialisasi. Dimulai dengan Yugoslavia yang menghentikan perencanaan pusat nya di tahun 1952, negara-negara Eropa Timur pun dengan cepat bergerak menjauhi perencanaan sosialis dan menuju ke pasar bebas, sistem harga, tes untung-rugi bagi pengusaha, dan sebagainya. Yugoslavia secara khusus memantapkan pergeserannya ke pasar bebas dan menjauhi investasi-investasi yang dikontrol pemerintah—pemerintah terakhir sebagai stronghold dalam perekonomian sosialistis. Sangat disayangkan, tetapi tidak mengherankan, bahwa, baik di Timur maupun di Barart, nama Ludwig von Mises tidak pernah muncul sebagai tokoh yang meramalkan keruntuhan perencanaan pusat.[9]

Kini terlihat nyata bahwa perekenomian sosialis mengalami keruntuhan di Timur dan, di lain pihak, bahwa intervensionisme juga berjatuhan di Barat, ketika prospeknya menjadi semakin tidak menguntungkan bagi Timur dan Barat untuk berpaling sebelum terlalu lama kepada pasar bebas dan masyarakat bebas. Untuk pahlawan yang gagah berani dan setia kepada kebebasan, prospeknya sangat menggembirakan di ulang tahunnya yang kesembilanpuluh. Tetapi yang tidak boleh pernah dilupakan adalah bahwa peristiwa-peristiwa semacam ini hanyalah konfimasi dan vindikasi dari sosok seorang Ludwig von Mises, dan dari pentingnya kontribusinya dan perannya yang telah menawarkan kepada kita sebuah paradikma yang benar bagi teori ekonomi, bagi ilmu pengetahuan sosial, dan bagi perekonomian itu sendiri, dan sudah saatnya paradigma ini kita rangkul dalam segenap bagiannya.

Tidak ada kesimpulan lain yang sesuai untuk memberi penghargaan kita kepada Ludwig von Mises, selain sebagaimana yang tertera dalam kalimat terakhirnya dalam karya terbesarnya, Human Action:

Tubuh pengetahuan ekonomi adalah elemen esensial dalam struktur peradaban manusia. Pengetahuan tersebut merupakan landasan bagi terbangunnya industrialisme modern serta segala pencapaian moral, intelektual, tekonologi, dan pengobatan modern selama beberapa abad terakhir. Apakah khasanah yang disediakan melalui pengetahuan tersebut akan dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya atau disia-siakan, semuanya berpulang kepada manusia sendiri. Jika manusia gagal memanfaatkanya, apabila ia mengabaikan segala ajaran dan peringatannya, ia tidak saja akan menihilkan ekonomi, melainkan juga akan menghancurkan masyarakat dan ras manusia.

Atas kehidupannya serta karya-karyanya, kita dapat secara realistis berharap dan mengharapkan agar kemanusiaan akan memilih jalan kehidupan, kebebasan, dan kemajuan dan akhirnya akan akhrinya berpaling secara mantap dari kematian dan despotisme.



[1] Secara filosofis, Kuhn cenderung membantah keberadaan kebernaran obyektrif dan dengan demikian juga cenderung membantah kemungkinan kemajuan sejati dalam ilmu pengetahuan. Thomas S. Kuhn, The Structure of Scientific Revolutions, Edisi ke-2, (Chicago: University of Chicago Press, 1970).

[2] Tentang sosiologi penerimaan Velikovsky dalam masyarakat ilmiah, lihat Alfred de Grazia, “The Scientific Reception Systems,” dalam The Velikovsky Affair, Alfred de Grazia, peny. (New Hyde Park, N.Y.: University Books, 1966), hal. 171–231.

[3] Kuhn, The Structure of Scientific Revolutions, hal. 53–56.

[4] 4 De Grazia, “The Scientific Reception Systems,” hal. 197.

[5] Ludwig von Mises, Human Action (New Haven, Conn.: Yale University Press, 1949), hal. 67. Press, 1964), 2, hal. 929. Tentang bias kelompok statisme dan anti-individualisme yang merasuki landasan sosiologi, lihat Leon Bramson, The Political Context of Sociology (Princeton, NJ.: Princeton University Press. 1961), terutama hal.. 11–17.

[6] Ibid., hal. 755– 56. Sebagaimana ddiindikasikan Mises, pergolakan menentang ekonomi sebagai harbinger ekonomi pasar bebas sudah setua ekonom klasik yang Mises akui sebagai pendahulunya. Bukan kebetulan, misalnya, jika George Fitzhugh, sosiolog pertama Amerika dan juga yang paling mendukung perbudakan di Selatan, dengan kasar mencela ilmu ekonomi klasik sebagai “ilmu pengetahuan tentang masyarakat bebas,” sedangkan sosialisme sebagai “ilmu pengetahian tentang perbudakan.” Lihat George Fitzhugh, Cannibals All!, C. Vann Woodward, peny. (Cambridge, Mass.: Harvard University Press, 1960), hal. xviii; dan Joseph Dorfman, The Economic Mind in American Civilization (New York: Viking)

[7] Lihat Ludwig von Mises, The Theory of Money and Credit (Irvington-on-Hudson, NY.: Foundation for Economic Education, 1971).

[8] Karya klasik Mises’ diterjemahkan sebagai “Economic Calculation in the Socialist Commonwealth,” dalam Collectivist Economic Planning, F.A. Hayek, peny. (London: George Routledge and Sons, 1935), hal. 87– 130. Artikel-artikel Mises, Lange dan Hayek dicetak-ulang dalam Comparative Economic Systems, Morris Bornstein, peny., edisi revisi. (Homewood, Ill.: Richard D. Irwin, 1969). Diskusi dan kritik cemerlang tetang keseluruhan kontroversi ini dapat ditemukan dalam Trygve J.B. Hoff, Economic Calculation in the Socialist Society (London: William Hodge, 1949).

[9] Tentang Yugoslavia, lihat Rudolf Bicanic, “Economics of Socialism in a Developed Country,” dalam Comparative Economic Systems, M. Bornstein, peny., hal. 222– 35; tentang negara-negara lain di Eropa Timur, lihat Michael Gamarnikow, Economic Reforms in Eastern Europe (Detroit, Mich.: Wayne State University Press, 1968).

Kirim artikel ini:
Share on FacebookTweet about this on TwitterShare on Google+Email this to someoneShare on RedditShare on StumbleUpon

Tulisan lain yang mungkin terkait:

Discussion

Comments are disallowed for this post.

Comments are closed.

Arsip Bulanan

Rekomendasi

buku_rothbard.jpg
Apa Yang Dilakukan Pemerintah Terhadap Uang Kita?; Oleh: Murray Newton Rothbard; PT. Granit, Yayasan Obor Indonesia; ISBN : 97897916217 -4-8; tersedia di toko-toko buku terdekat. (Intip cuplikannya).
alt text
Membela Kapitalisme Global; Oleh: Johan Norberg; FNS Jakarta; tersedia di toko-toko buku terdekat. (Baca resensinya di sini).
Economic  Activism Blogs - Blog Catalog Blog Directory