Uncategorized

Kaidah Kerjasama, Perdagangan Bebas dan Globalisasi

Oleh: Sukasah Syahdan
Jurnal Kebebasan: Akal dan Kehendak
Vol. II, Edisi 23, Tanggal 31 Maret 2008

Apa jadinya nasib negara inferior yang miskin akan sumber daya alam, populasi penduduknya relatif tidak terdidik, dan kemampuan produksinya jauh di bawah negara-negara lain di kancah globalisasi? Tidakkah sudah sepatutnya negara tersebut mendirikan rintangan perdagangan agar industri domestik dapat berkembang tanpa gangguan eksternal? Dari sudut pandang negara-negara maju dan kaya, bagaimana mungkin negara terbelakang seperti itu menawarkan sesuatu bagi mereka?

Pertanyaan-pertanyaan di atas menutup artikel sebelumnya, Melacak Basis Tatanan Sosial Kita. Jawaban-jawabannya sangat erat terkait dengan apa yang sering disebut sebagai hukum keunggulan komparatif.

alt textDavid Ricardo

Hukum ini tidak lain merupakan perpanjangan konsep pembagian kerja sesuai dengan pandangan Adam Smith, sebagaimana dikembangkan dan dielaborasi secara cemerlang kemudian oleh seorang ekonom berkebangsaan Inggris, yaitu David Ricardo.

Dalam artikel lanjutan ini akan dicoba disarikan teori fundamental tersebut dan akan diperlihatkan bagaimana bangsa yang relatif inferior dalam segala hal dari bangsa-bangsa lain tetap akan diuntungkan jika bangsa tersebut memilih spesialisasi dan membuka perekonomiannya untuk bekerjasama dengan bangsa-bangsa lain.

Ilustrasi yang mendasari penjelasan teori tersebut sengaja sengaja diangkat dari tingkat yang personal, dan dapat dirunut sendiri oleh sidang pembaca ke tingkat komunal, nasional ataupun dan internasional, tanpa kehilangan relevansi.

Pemahaman kita akan teori ini akan memberi kita landasan untuk memahami hakikat pertukaran antarindividu, perdagangan antarbangsa, globalisasi, atau hal-hal semacam itu. Lebih lanjut, landasan ini dapat dijadikan pegangan manakala kita perlu memaknai penjelasan sejumlah pakar modern (nasional maupun internasional) yang, sangat disayangkan, seringkali mengadvokasikan pandangan yang justru bertentangan dengan pembahasan di sini.

(Pandangan banyak pakar ekonomi yang berpengaruh dewasa ini dalam banyak hal justru kembali ke ideologi merkantilistik. Mereka cenderung melihat perdagangan antarbangsa sebagai perkara zero-sum. Contohnya adalah pandangan pemenang nobel ekonomi (2001) Prof. Michael Spence, yang menyarankan minggu lalu di Indonesia, agar negara-negara berkembang, termasuk negeri ini, tidak usah tergesa-gesa dalam membuka perekonomiannya; atau pandangan Prof. Rodrik yang mencoba menengarai bahwa negara-negara yang melakukan “liberalisasi” perekonomian justru mengalami kemunduran pertumbuhan ekonomi; atau ekonom Paul Craig Roberts yang skeptis terhadap perdagangan bebas. Hemat saya, tanpa meneliti secara mendalam makna “liberalisasi” dan sepak terjang pemerintah vis-à-vis kebebasan para pelaku dalam proses “liberalisasi” tersebut, advokasi semacam di atas berpotensi semakin mengacaukan, bahkan mendistorsi, pemahaman pembaca pada umumnya.]

Untuk sementara kita cukupkan tujuan kita sekadar untuk memahami teori keunggulan komparatif menurut Ricardo.

Dari Tohpati ke Pak Tarno

alt textTohpati

Mari ambil contoh seorang gitaris muda berbakat, yang mungkin Anda kenal. Namanya Tohpati; pada suatu waktu ia kebetulan pernah menjadi tetangga saya. Keahlian musiknya, tidak perlu diragukan. Tohpati pernah menjadi gitaris muda terbaik dan sudah menelurkan beberapa album solo maupun kolaboratif yang cukup sukses di pasaran.

alt textPak Tarno

Saya perkenalkan juga di sini Pak Tarno. Ia tukang batu, alias pemasang bata dan jasa pembangunan/perbaikan rumah, di wilayah kami tinggal. Dulu Tohpati dan saya sama-sama sering memakai jasanya. (O ya, minggu depan Pak Tarno akan ngunduh mantu. Anak lelakinya, Benny, akan dinikahkan, sesuai undangan yang saya terima tadi pagi.)

Kedua figur nyata dan berbeda profesi ini akan kita kaitkan dengan sebuah pertanyaan awal. Seberapa piawaikah Tohpati sebagai seorang tukang batu? Dibandingkan dengan banyak orang lain, mungkin sekali ia dapat menjadi tukang batu yang hebat. Mengapa tidak? Tohpati memiliki deksteritas (keterampilan tangan) yang tinggi selain ketelatenan dan kreativitasnya yang tinggi. Saya yakin, dengan sedikit latihan fisik, ia bisa menjadi tukang batu andal yang lebih baik daripada Pak Tarno atau tukang-tukang lain.

Pertanyaan selanjutnya, apakah seorang Tohpati, ketika tembok pagar rumah barunya perlu renovasi, akan melakukan perbaikan pagar rumahnya sendiri? Bagaimana peluangnya untuk menyewa jasa orang semacam Pak Tarno atas pekerjaan tersebut?

Saya yakin Anda dapat sepakat, besar kemungkinan Tohpati akan menugaskan pekerjaan tersebut kepada seorang tukang. Mengapa? Penjelasan hal ini berkaitan langsung dengan kaidah keuntungan komparatif masing-masing antara Tohpati dan tukang tersebut.

Kendati Tohpati lebih baik dalam hal bertukang dan dalam bermain musik ketimbang Mas Tarno, Tohpati tetap memiliki keuntungan komparatif di bidang musik, sedangkan Mas Tarno dalam bertukang.

Tohpati dan saya sama-sama tahu Mas Tarno akan meminta bayaran, saat ini, Rp 50,000 per hari. Dengan latihan sedikit, Tohpati bisa menjadi tukang batu yang dua kali lebih efisien daripada Mas Tarno. Taruhlah Tohpati lalu memutuskan menjadi tukang. Dengan efisiensinya tadi, anggap saja kita bersedia membayar tenaganya sebagai tukang sebesar Rp 75,000 per hari.

Dengan bermain musik, dapat dibayangkan musisi setenar Tohpati dapat menghasilkan Rp 2 juta per jam (ini asumsi aman saja; kenyataannya lebih dari itu). Bagaimana dengan Pak Tarno? Tukang kita ini sudah perlu bersyukur jika ada orang yang mau membayarnya Rp 40,000 ribu per jam setiap kali ia tampil di panggung musik (kalau upahnya lebih dari tingkat upah sekarang, tokoh kita ini mungkin sudah lama pensiun dari profesi pertukangan).

Dari perbandingan upah di atas terlihat Tohpati sebagai tukang memiliki keunggulan komparatif dari Pak Tarno, yaitu sebesar 75,000:50,000 atau 1,5:1. Sebagai musisi, keunggulannya dibanding keunggulan Pak Tarno berbanding 2,000,000:40,000 atau 50:1.

Misalkan Tohpati memutuskan bekerja selama 20 jam seminggu, dengan alokasi 10 jam bekerja sebagai pemusik dan 10 jam lagi sebagai tukang. Dengan begitu, total output produktivitasnya adalah sbb: (10 jam bermain musik x Rp 2 juta per jam=Rp 20 juta) + (10 jam bertukang x Rp 75 ribu per jam=Rp 750,000); total output: Rp 20,750,000.

Sementara itu, jika Pak Tarno memutuskan rencana serupa, maka nilai produktivitasnya dapat kita hitung: (10 jam bermain musik x Rp 40 ribu per jam=Rp 400,000) + (10 jam bertukang x Rp 50 ribu per jam=Rp 500,000); atau senilai total output=Rp 900,000.

Kalau Tohpati dan Pak Tarno saling bekerja sendiri-sendiri, maka total nilai produksi mereka adalah Rp 20,750,000 + Rp 900,000 = Rp 21,650,000.

Sekarang dapat kita hitung produktivitas mereka dalam situasi berbagi kerja, di mana Tohpati memutuskan untuk memakai jasa Pak Tarno: Nilai moneter produktivitas Tohpati menjadi: (20 jam bermusik x Rp 2 juta per jam)=Rp 40 juta; total outputnya=Rp 40,000,000.

Sedangkan produktivitas Pak Tarno adalah: 20 jam bertukang x Rp 50 rb=Rp 1,000,000; dengan total output sebesar Rp 1 juta.

Dengan demikian, dengan saling bekerjasama, hasil produksi total keduanya naik menjadi Rp 41,000,000; hampir dua kali lipat!

Kesimpulan apa yang dapat kita tarik dari sini? Dengan saling berproduksi sesuai keunggulan komparatif masing-masing, kedua pihak pelaku pertukaran perniagaan akan sama-sama diuntungkan, setidaknya dalam hal perolehan materi.

Ilustrasi di atas memperlihatkan bagaimana Pak Tarno sang tukang, meski kalah dalam segala hal dalam kedua profesi di atas tetap dapat meningkatkan jerih produktivitasnya dengan berkonsentrasi di bidangnya di mana ia memiliki keuntungan komparatif dan bersedia melakukan pertukaran jasa dengan Tohpati.

Globalisasi

Minggu lalu datang sepucuk komentar via email dari seorang sahabat, sehubungan dengan penulisan bagian pertama dari artikel ini. Teman saya tersebut mencoba menerka ke mana arah penulisan di bagian kedua ini. Menurutnya, Indonesia, sebuah bangsa yang dalam banyak hal inferior, hanya akan menjadi korban dalam proses pertukaran antarbangsa-globalisasi.

Kiranya, pandangannya mewakili pandangan berjuta orang di dunia. Saya berangkat remaja hingga bertahun demikian dengan pandangan demikian, meyakini globalisasi ibarat air pasang yang siap menghempas perahu-perahu kecil di samudra pergaulan antarbangsa. Meskipun daya pikatnya mungkin terasa, perspektif ini harus saya tanggalkan.

Kaidah asosiasi yang dicoba didemonstrasikan di atas menunjukkan bahwa bekerjasama dalam sistem division of labor dan perniagaan bebas akan membawa manfaat bagi semua. Kaidah ini, sekali lagi, tidak lain merupakan perpanjangan dari basis tatanan sosial kita selaku manusia. Meskipun pada awalnya hanya diterapkan dalam menjelaskan fenomena perdagangan, kaidah tersebut adalah hukum universal yang berlaku bagi semua bentuk kerjasama manusia. Mengingat luasnya aplikasi kaidah tersebut, Ludwig von Mises merasa bahwa hukum tersebut lebih tepat dinamakan hukum asosiasi. Saya sependapat. Dalam bahasa Indonesia, saya dengan ini ingin menawarkan padanannya sebagai: kaidah kerjasama.

Menurut kaidah kerjasama ini, meski sebuah bangsa kalah telak dalam hal kemampuan produksinya daripada bangsa lain, bangsa inferior tersebut tetap dapat memetik keuntungan dengan memilih spesialisasi di area di mana dia memiliki keuntungan komparatif dan membuka diri perekonomiannya untuk saling berniaga.

Kita sadari bahwa di dalam konteks globalisasi yang kian riuh, tidak sedikit pihak menyesalkan adanya perbedaan kondisi awal dalam persaingan antarbangsa. Titik awal mereka adalah memandang perdagangan sebagai semacam permainan atau pertempuran-bukan perkara win-win, melainkan urusan zero sum. Mengidamkan kesetaraan dalam titik awal bukanlah sebuah realisme, dan solusi apapun yang berangkat dari premis ini akan menjadi absurd dengan sendirinya. Titik awal kehidupan mustahil dapat diulang, dan hidup bukan pula perlombaan.

Kaidah kerjasama hanya ingin menunjukkan bahwa spesialisasi menyediakan peluang untuk mendapatkan keuntungan material. Hukum ini semata melihat dari sudut pandang keuntungan material yang relatif obyektif-bukan berangkat dari preferensi personal yang subyektif.

Bisa jadi seorang Tohpati ternyata senang melakukan sendiri pekerjaan pertukangan dan tidak mau ambil pusing untuk menyewa orang lain untuk memperbaiki pagarnya. Ini perlu dilihat sebagai pilihan personalnya sendiri.

Namun, jika ada orang semacam Tohpati yang merasa bahwa dengan melakukan sendiri pekerjaan (Do It Yourself) ia merasa berhemat dan akan meningkatkan nilai netto penghasilannya, maka harus dikatakan perasaan yang demikian adalah suatu kekeliruan.

Yang juga penting untuk ditekankan di sini, juga bagi teman saya tersebut adalah optimisme bahwa bangsa Indonesia tetap berpeluang di era free trade dan globalisasi.

Satu-satunya kekuatiran yang masih tersisa, terkait dengan perdagangan bebas dan globalisasi, adalah jika keduanya batal atau tidak benar-benar terjadi. Banyak faktor dapat menganulir virtues perdagangan bebas dan globalisasi–sebut saja penetapan aneka regulasi, duri-duri tarif dan batasan-batasan artifisial lainnya, yang pernah dibahas di Jurnal ini, tetapi berada di luar cakupan tulisan ini. [ ]

Catatan: Oleh sebab keterbatasan ruang, dalam penulisan artikel ini saya menunda pengaitan perspektif Randian dalam penjelasan teori tersebut, sebagaimana yang telah saya janjikan sebelumnya. Perspektif tersebut akan saya pakai dalam tulisan berikutnya, tentang kapitalisme. Mohon maaf dan maklum.

Kirim artikel ini:
Share on FacebookTweet about this on TwitterShare on Google+Email this to someoneShare on RedditShare on StumbleUpon

Tulisan lain yang mungkin terkait:

Discussion

One comment for “Kaidah Kerjasama, Perdagangan Bebas dan Globalisasi”

  1. Tulisan artikel di blog Anda bagus-bagus. Agar lebih bermanfaat lagi, Anda bisa lebih mempromosikan dan mempopulerkan artikel Anda di infoGue.com ke semua pembaca di seluruh Indonesia. Salam Blogger! http://www.infogue.com/ http://www.infogue.com/software/kaidah_kerjasama_

    Posted by kaitokid724 | 31 March 2008, 4:46 pm

Komentari

Arsip Bulanan

Rekomendasi

buku_rothbard.jpg
Apa Yang Dilakukan Pemerintah Terhadap Uang Kita?; Oleh: Murray Newton Rothbard; PT. Granit, Yayasan Obor Indonesia; ISBN : 97897916217 -4-8; tersedia di toko-toko buku terdekat. (Intip cuplikannya).
alt text
Membela Kapitalisme Global; Oleh: Johan Norberg; FNS Jakarta; tersedia di toko-toko buku terdekat. (Baca resensinya di sini).
Economic  Activism Blogs - Blog Catalog Blog Directory