mitos

Kapitalisme, Ideal Yang Tidak Kita Kenal

Oleh: Sukasah Syahdan
Jurnal Kebebasan: Akal dan Kehendak
Vol. II, Edisi 24, Tanggal 07 April 2008

“Saudara-saudara yang mengaku sebagai kapitalis atau pendukung kapitalisme dimohon angkat tangan”.

Jika pertanyaan ini ditanyakan kepada penduduk dewasa di negeri ini, berapa banyak tangankah akan terangkat? Atau seandainya mereka semua dikumpulkan, lalu para pendukung kapitalisme diminta agar meneriakkan satu kata ini: ‘Roso!’, apakah gemanya bakal cukup membahana?

Dugaan saya: 1) hanya segelintir orang akan mengangkat tangan atau berteriak; oleh sebab, 2) mayoritas penduduk Indonesia, baik secara sadar atau tidak, berasumsi bahwa kapitalisme atau segala sesuatu yang menyangkut kata tersebut hanya berarti kebejatan, keserakahan, keculasan, atau sejumlah atribut negatif lainnya.

Saya cukup punya dasar untuk menduga demikian. Sebagaimana pernah saya tulis sebelumnya, sejak Republik ini masih dalam tahap gagasan hingga akhirnya terwujud, para Bapak-Ibu Bangsa kita pun berpandangan atau mengasumsikan hal yang kurang lebih sama terhadap sistem sosial ini. Di lain pihak, mereka juga memiliki pandangan serupa terhadap paham sosialisme/komunisme. Maka mereka pun mencoba membuat amalgam berupa Jalan Tengah atau Jalan Ketiga, dengan membuat sintesis gagasan dengan cara menjumput apa-apa yang dianggap positif dari kapitalisme, dan segala sesuatu yang dianggap baik dari Sosialisme. Sejak detik yang menentukan itu hingga saat tulisan ini diturunkan dan dibaca, tidak ada perubahan berarti dalam hal ini.

Tapi setiap gagasan memiliki konsekuensi. Hasil amalgamasi gagasan Jalan Ketiga tadi bagi mayoritas rakyat kebanyakan, tidak dibahas di sini (toh kita sendiri saksi hidupnya saat ini). Tulisan ini hanya mencoba menyarikan secara singkat apa dan bagaimana kapitalisme itu sebenarnya, (semampu saya) sesuai dengan pandangan para pemikir terpenting dan terbesar pendukung isme ini, terutama Ludwig von Mises dan Ayn Rand.

Tulisan ini juga mencoba menarik kesimpulan mengapa kapitalisme yang, kendati justifikasi pragmatis dan moralnya nyaris tidak perlu dipertanyakan, tetap bertahan sebagai kambing hitam yang pantang dielukan apalagi dirayakan.

Menurut Mises maupun Rand secara terpisah dalam karya masing-masing, kapitalisme adalah sistem sosial yang berlandaskan pada pengakuan terhadap hak setiap individu secara utuh, termasuk hak milik atas properti, dan di mana semua kepemilikan berada di tangan masing-masing individu.

Pengakuan atas hak individu berarti peniadaan kekuatan fisik dalam hubungan antarmanusia. Hak ini mudah terlanggar oleh individu lain lewat jalan kekerasan. Di dalam masyarakat yang kapitalistik, tidak seorangpun atau sekelompok manapun diperkenankan melakukan koersi (tindakan pemaksaan, kekerasan fisik, dll.) kepada pihak lain.

Di dalam masyarakat yang menerapkan kapitalisme secara murni, seperti sama-sama diyakini kedua tokoh di atas, satu-satunya fungsi/tugas pemerintah adalah memastikan perlindungan hak segenap individu-itu saja. Pemerintah berlaku sebagai agen dari hak manusia atas kepentingannya dalam pembelaan diri, dan untuk itu diperbolehkan menggunakan kekerasan hanya kepada pihak yang memulai kekerasan tersebut.

Kapitalisme sebagai sistem sosial mempromosikan prinsip kebebasan individu dan non-agresi; sistem ini mengakui dan melindungi fakta dasar dan metafisik dari kodrat manusia-keterkaitan antara keselamatan hidup manusia, penghargaan terhadap akal dan kepentingan pribadi. Esensinya melarang melarang aksi tipu -tipu dalam hubungan sosio-ekonomi antarmanusia. Semua keputusan diserahkan kepada pasar bebas. Pasar bebas sendiri di sini tidak lain mekanisme di mana keputusan-keputusan sukarela tanpa paksaan dilakukan oleh para pembeli dan penjual, para produsen dan penyalur, pada majikan dan karyawan.

Aturan pertama dari kapitalisme adalah bahwa semua orang berhak atas kehidupan dan hak miliknya sesuai dengan pertimbangannya sendiri. Ini tidak untuk diartikan bahwa setiap orang akan selalu dapat mempertimbangkan yang terbaik baginya, tetapi bahwa tidak ada orang lain yang berhak atau mampu menyuguhkan cara paling baik untuk menjalankan hidup orang lain. Dalam kapitalisme murni, tidak ada perencanaan pusat ataupun regional, kecuali perencanaan pribadi atau perencanaan kolektif atas kesepakatan individu-individu pembentuk kolektif tersebut.

Sebagai ekonom yang bahkan mengembangkan sistem epistemologi bagi ekonomi (ilmu yang relatif baru pada jamannya), Mises dalam berbagai tulisannya (terutama Human Action dan Socialism–yang kadang masih saya sayangkan kenapa tidak sampai ke tangan para Pendiri Republik) menjelaskan bagaimana di dalam sistem perekonomian pasar yang tidak terkendala, di mana faktor-faktor produksi berada dalam kepemilikan individu, akan cenderung meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Penekanan Mises adalah pada pelayanan konsumen, atas dasar keyakinannya yang mendalam bahwa pada akhirnya konsumenlah yang memastikan produk apa yang harus dibuat, seperti apa dan berapa banyak. Kekuatan ekonomi pengusaha justru berasal dari kemampuannya dalam memuaskan keinginan konsumen.

Sementara bagi Rand, produktivitas adalah kebajikan tertinggi. Tanpa produksi, pembicaraan tentang ekonomi tidak akan berarti apa-apa. Pandangannya ini sesuai dengan penekanan fokus dalam pandangan ekonomi klasik, yang lebih menekankan pada proses memproduksi barang, ketimbang penekanan pada konsumsi–sebagaimana populer di jaman merkantilisme yang popularitasnya berulang di abad ini. Dalam pandangan Mises dan Rand, para pemilik modal, produsen dan konsumen sama-sama merupakan driving forces perekonomian.

Seorang proponen-kapitalisme kontemporer Australia, Peter Saunders, baru-baru ini menulis sebuah artikel, Why Capitalism is Good for the Soul. Argumennya cukup menarik: kapitalisme, meski memiliki justifikasi yang kuat atas keberhasilannya, tidak memiliki daya tarik bagi imajinasi. Sementara sosialisme, yang meski telah berkali-kali terbukti sebagai kegagalan, masih terus menerus menarik karena lebih romantis.

Namun yang lebih krusial dan oleh sebagian besar orang gagal tertangkap dari kapitalisme adalah bahwa sistem ini bukan cuma praktis melainkan juga satu-satunya sistem yang moral, terutama jika kita berangkat dari filsafat yang mengakui hak individu atas hidup, natural rights to life. Kapitalisme satu-satunya sistem yang mengakui dan mendorong secara penuh segala potensi kebajikan (virtues) yang perlu bagi keberlangsungan kehidupan manusia. Dia satu-satunya yang memungkinkan terwujudnya kemandirian pikiran dan mengakui bahwa hidup manusia itu sendiri adalah satu tujuan obyektif.

Rand mengatakan bahwa penciptaan kemakmuran adalah sesuatu yang moral; dan Hayek memberikan dukungannya:

“Moral yang berlaku di pasar memang membuat kita sebagai pemberi manfaat bagi pihak lain, bukan dengan cara membuat kita bermaksud melakukan hal tersebut, tetapi dengan membuat kita bertindak dalam cara tertentu di mana, tetap saja, akan menghasilkan efek yang demikian. . . .”*

Di pasar bebas orang digerakkan oleh ambisi untuk menjadi sukses, kaya dan bahagia sesuai keinginan masing-masing.  Ini makna sejati dari “perdagangan bebas”, di mana tidak seorangpun berhak atas upaya, kerja, atau uang dari orang lain, kecuali dengan menukarnya dengan sesuatu yang secara subyektif dianggap bernilai positif oleh orang lain tersebut. Siapa saja yang tidak melihat peluang untuk mendapatkan keuntungan, bebas pergi ke “toko sebelah”. Ini sesuai dengan pandangan Adam Smith tentang kapitalisme, bahwa setiap perdagangan terjadi “oleh kesepakatan bersama dan atas keuntungan bersama”.

Kapitalisme mudah dituding sebagai paham yang mengajarkan orang agar bertindak selfish. Kalau tuduhan ini harus diterima, harus diterima pula bahwa setiap individu yang ingin bertahan hidup dan serius dengan kehidupannya sudah sepatutnya bertindak demikian. Setiap individu dalam kebebasannya berhak menjadi selfish untuk mengejar apa yang dianggapnya penting dan berharga, sejauh tidak merugikan pihak lain.

Kontrasnya di sini adalah paham altruisme, sebuah isme yang sarat akan mitos dan mengajarkan orang agar bersedia berkorban dan mengedepankan kepentingan masyarakat di atas kepentingan sendiri. Sistem yang mengorbankan individu ke dalam “masyarakat” dan yang lebih mementingkan masyarakat daripada individu atas dasar “kepentingan yang lebih besar”, jika bukan termasuk sistem perbudakan, adalah sistem yang mengajarkan kemunafikan.

Sistem sosial yang mencegah atau membatasi orang untuk berpikir sendiri adalah paham yang keji, dan ini tidak lain merupakan esensi sistem yang anti-kapitalis, baik itu komunis atau fasis. Sistem Jalan Ketiga yang kita pilih hanya akan menghasilkan kebejatan yang sama, dalam skala yang mungkin tak seorang pun dapat mengukurnya.

Penutup

Lebih daripada sekadar kekurangan elemen romantiknya, kapitalisme sebagai sistem sosial cenderung ditolak dan dijadikan kambing hitam oleh karena penerapannya secara murni akan mengebiri, atau bahkan menjadi akhir bagi politik.

Melalui artikel ini saya menempuh risiko berupa kegagalan dalam memperkenalkan hakikat kapitalisme, yang besar kemungkinannya berbeda dari asumsi sebagian orang. Kalau pemaparan singkat di sini ternyata gagal dan kapitalisme tetap dianggap layak dikecam, saya berharap setidaknya pengecaman terhadapnya akan berasal dari pemahaman yang lebih berdasar, bukan sekadar asumsi yang mengalami represi tanpa teruji.

Oleh karena saya tidak yakin berhasil dalam tujuan ini, maka hal ini saya serahkan kepada pembaca. Tapi saya meyakini satu hal: jika kita menolak ideal-ideal yang fundamental tentang individu, tentang hak hidup dan basis tatanan sosial manusia di alam kebebasan, teriakan ‘Roso’ di atas tidak akan membahana, bahkan tidak cukup untuk mengalahkan volume teriakan Mbah Maridjan. [ ]

* Stephen Horwitz , “Two Worlds at Once”, dalam Journal of Ayn Rand Studies: Ayn Rand Among Austrians, 2005, h. 375-403.

Rekomendasi:

Kirim artikel ini:
Share on FacebookTweet about this on TwitterShare on Google+Email this to someoneShare on RedditShare on StumbleUpon

Tulisan lain yang mungkin terkait:

Discussion

16 comments for “Kapitalisme, Ideal Yang Tidak Kita Kenal”

  1. Ada beberapa konsep yang terlalu direduksi (paling tidak dalam artikel ini), misalnya (quote):

    Pengakuan atas hak individu berarti peniadaan kekuatan fisik dalam hubungan antarmanusia. Hak ini mudah terlanggar oleh individu lain lewat jalan kekerasan. Di dalam masyarakat yang kapitalistik, tidak seorangpun atau sekelompok manapun diperkenankan melakukan koersi (tindakan pemaksaan, kekerasan fisik, dll.) kepada pihak lain.

    Konsep tidak memperkenankan melakukan pemaksaan dan kekerasan terhadap pihak lain, kalau berlaku umum, maka penegak hukum juga tidak boleh memaksakan agar hukum (larangan pemaksaan itu sendiri) ditaati.

    Konsep yang benar adalah konsep keadilan, artinya setiap pelaku ekonomi dan anggota masyarakat memperoleh imbalan yang sesuai dengan usahanya. Kalau dia memaksa orang lain maka dia juga akan dipaksa disingkirkan. Parasit mau-tidak-mau harus disingkirkan (dengan paksaan?). Kalau orang bekerja dengan baik, benar dan giat, maka ia akan memperoleh imbalan yang besar. Untuk pemalas adalah sebaliknya.

    Posted by imam semar | 7 April 2008, 7:52 am
  2. Pak Imam,

    Saya mau tanya, bagaimana posisi orang2 di lapisan terbawah (tingkat kesejahteraan ekonominya) dalam pandangan kapitalisme? Di lapisan terbawah memang ada, seperti yang pak Imam bilang, parasit, pemalas, yang dalam konsep keadilan memang tidak memperoleh imbalan yang besar. Ada juga yang rajin tapi karena ketiadaan modal dan keterampilan(dan mungkin keberuntungan), mereka miskin.

    Baik untuk yang rajin atau malas di lapisan terbawah, apakah di dalam kapitalisme terdapat mekanisme yang dapat menolong orang2 ini? Salah satu jargon yang sering saya dengar, dalam sistem kapitalis, “yang kaya semakin kaya, yang miskin semakin miskin.” Apakah jaminan sosial bagi pengangguran di negara2 maju adalah bagian dari kapitalisme, atau merupakan anomali?

    Terima kasih, dan mohon pencerahannya.

    Posted by Muhammad Imaduddin | 7 April 2008, 2:58 pm
  3. @ Bung Imam:

    Terima kasih. Terkait para pelanggar, dalam buku Rand memang ada tambahan sedikit, yaitu: kecuali untuk tindakan retaliasi kepada pelaku kekerasan. Ini saya reduksi karena sudah termasuk ke dalam satu-satunya fungsi/tugas negara sbb:,

    … sebagai agen dari hak manusia atas kepentingannya dalam pembelaan diri, dan untuk itu diperbolehkan menggunakan kekerasan hanya kepada pihak yang memulai kekerasan tersebut.

    Parasitisme tidak harus disingkirkan, melainkan akan tersingkir dengan sendirinya oleh karena untuk menjadi hidup orang perlu bertindak demi kelangsungan hidupnya, tanpa merugikan orang lain. Kalau merugikan, ada hukum bagi pelanggaran hak milik orang lain. Kebijakan terbaik dapat juga berpulang kepada individu-individu di sekitarnya, sistem kekerabatan, dll. Dalam perspektif Misesian, filantropi atau karitas adalah salah satu end sekaligus means yang cukup andal dan bagi banyak orang dianggap pilihan terpenting dalam hidup.

    Konsep keadilan tambahan yang baik dan saya kira perlu ditekankan. Dalam perspektif varian libertarian bahkan 1 gigi malah dianggap harus dibayar dengan 2 gigi.

    @ Bung Muhammad Imaduddin; ijinkan saya menanggapi juga:

    Siapa saja dapat menjadi kaya atau miskin tergantung bagaimana orang tersebut menata hidupnya. Yang kaya dalam kapitalisme tidak harus makin kaya dan yang miskin tidak harus makin miskin. Kekayaan atau kekuatan ekonomi (dalam artikel di atas) diperoleh dengan memberi pelayanan prima (Mises) atau memproduksi sesuatu yang berguna (Rand) bagi orang banyak. Milyuner hari ini dapat ambruk menjadi miskin hari esok; dan sebaliknya bagi yang miskin.

    Ini berkontras langsung dengan sistem sosial masyarakat berkasta, misalnya, di mana orang yang miskin dari golongan sudra merasa memang sudah demikian kodratnya seumur hidup. Dalam kapitalisme, yang tidak berpretensi memfavoritkan siapa-siapa, dan tidak meletakkan orang ke dalam kasta. Selainitu, orang yang malas dan tidak menciptakan suatu value, sudah sewajarnya miskin. Orang yang rajin tapi miskin harus mencari cara agar kerajinannya pays off. Tambahan pula, sebagian dari sikap malas, atau gaya hidup miskin justru tumbuh subur karena program-program politis berkedok program sosial.

    Posted by Nad | 7 April 2008, 3:39 pm
  4. Rekan Imaddudin,

    Saya akan menjawab dengan dalil di arena anda. Dari nama anda saya menerka anda adalah seorang muslim. Jadi saya jawab dengan argumen di domain yang anda mengerti dan kenal.

    Quran, An Nisa
    [97] Sesungguhnya kepada orang-orang yang mati dalam keadaan menganiaya diri sendiri, malaikat bertanya: “Dalam keadaan bagaimana kamu ini?”. Mereka menjawab: “Adalah kami orang-orang yang tertindas di negeri”. Para malaikat berkata “Bukankah bumi Allah itu luas, sehingga kamu dapat pindah/migrasi di bumi itu?”. Orang-orang itu tempatnya neraka Jahanam, dan Jahanam itu seburuk-buruk tempat kembali,

    [98] kecuali mereka yang tertindas baik laki-laki atau wanita atau pun anak-anak yang tidak mampu berdaya upaya dan tidak mengetahui jalan migrasi/pindah,

    [98] kecuali mereka yang tertindas baik laki-laki atau wanita atau pun anak-anak yang tidak mampu berdaya upaya dan tidak mengetahui jalan migrasi/pindah,

    [99] mereka itu, mudah-mudahan Allah memaafkannya. Dan adalah Allah Maha Pemaaf lagi Maha Pengampun.

    [100] Barang siapa bermigrasi di jalan Allah, niscaya mereka mendapati di muka bumi ini tempat pindah/migrasi yang luas dan rezeki yang banyak……..

    Bagi mereka yang tertindas dalam ekonomi, mencari rizki, diwajibkan pindah. Ini bukan mereka yang malas lho. Dunia ini luas. Dan bagi yang tidak mau pindah, ganjarannya adalah sengsara di dunia dan sengsara di akhirat. Kasihan…..

    Bagi orang tua dan yang tidak mampu…., moga-moga Allah mengampuni mereka

    Sosialisme adalah candu yang menjanjikan impian kemakmuran. Pada hakekatnya sistem sosialisme memberi insentif dan reward kepada parasit, pemalas, pembuat salah dan menghukum pembuat benar/baik dan rajin (dengan pajak yang tinggi).

    Tentang keadilan, alam itu adil artinya bahwa ada keselarasan antara perbuatan dan hasilnya. Kalau kita membiarkan penjahat dan parasit berkeliaran, maka dampaknya akan mengenai kita. Itu hukum alam.

    Sedikit pesan: Ilmu sosial, politik, ekonomi walaupun disebut ilmu (sience), tetapi sebenarnya hanyalah gagasan yang berisi tipuan, kontra-tipuan, coba-coba, trial & error,…..yang banyak errornya….,

    Posted by imam semar | 8 April 2008, 7:50 am
  5. Update: Saya barusan membetulkan gaya bahasa yang agak kacau dalam komentar saya kemarin.

    Posted by Nad | 8 April 2008, 3:50 pm
  6. Buat Bung Nad atau Pak Imam?

    Terus bagaimana buat orang-orang yang rajin tetapi dalam posisi di sistem atau institusi yang sebenarnya parasit?
    Yang kalau di pemerintahan ya, departemen atau bidang-bidang yang sebenarnya tidak perlu, semisal Bulog, dan sejenisnya?

    Posted by Giyanto | 8 April 2008, 6:09 pm
  7. Giy, sesuai dengan prinsip otonomi pribadi, saya tentunya tidak bisa atau berhak mengatakan apa yang paling baik buat orang lain. Tapi kalau Anda dalam posisi demikian dan kebetulan serius minta masukan, prinsip saya kurang lebih sesuai dengan saran Pak Imam di atas ttg orang-orang yang rajin (tidak malas): yaitu pindah. Tidak gampang, memang, sebab kita hidup di dalam kungkungan mahamatriks kepemerintahan. Jadi, kalau belum/tidak bisa, akan sudah cukup bagus kalau Anda tidak memperburuk keadaan.

    Posted by Nad | 9 April 2008, 6:12 am
  8. Apakah kapitalisme satu-satunya jalan menuju kemakmuran dan kesejahteraan? Apakah negara welfare state (negara-negara skandinavia) berlandaskan kapitalisme sehinga mereka makmur dan sejahtera? Mohon pencerahannya

    Posted by dimandsardo | 11 April 2008, 6:52 pm
  9. @ dimandsardo
    Terima kasih. Dua pertanyaan yg sangat penting. Mudah2an salah satu artikel di Edisi minggu depan dapat menjawabnya.

    Posted by Nad | 12 April 2008, 6:34 am
  10. Rekan Diman DS dan Giy,

    Ada suatu sistem yang sering diplesetkan yaitu anarchy. Kalau Democracy adalah government by mobs. Maka anarchy adalah sistem “tanpa penguasa”. Arti sebenarnya ialah sistem dimana tidak ada boss mafia, pak ogah atau tukang palak. Saya akan ambil contoh: Pada saat anda ditarik pajak, anda dan penarik pajak harus punya kontrak yang jelas. Misalnya pajak kendaraan (tax road), pada saat pemerintah menerima uang pajak, pemerintah harus tahu kewajibannya sebagai pengelola jalan. Dari mulai memperbaiki yang rusak, memelihara dan menambah yang baru.

    Pada saat pemerintah menerima uang pajak, pemerintah harus tahu apa yang diminta pembayar pajak. Dan ini harus ada kesepakatan dengan pembayar pajak. Seperti dalam bid-tender, pemerintah/politikus harus bisa membuat perhitungan agar offer harga bisa sesuai dengan yang diinginkan pelanggan (pembayar pajak).

    Seperti jasa Bulog, Departement Agama, Tenaga Kerja, Peranan Wanita, Pemuda, Sosial, Penerangan, Bea Cukai, DPR(D), wakil presiden dan banyak lagi sebenarnya tidak diperlukan. Juga jasa membuat UU yang saat ini sudah kebanyakan, sehingga menghambat usaha. Apakah anda mau/perlu membayar pajak untuk service yang anda tidak perlukan?

    Pajak harus jelas, bea cukai untuk apa? Yang ini seperti pak Ogah tukang palak yang memintai setiap orang yang bawa barang melewati suatu jalan.

    Pajak penjualan (PPN), itu dasarnya apa?

    Kalau mau ada welfare, maka harus jelas. Ini seperti asuransi kesehatan dan pengangguran. Inipun harus jelas uang premi (pajak) yang dibayarkan dan benefityang diterima.

    Apapun namanya, kontraknya harus jelas. Sekarang (sejak merdeka) ini ‘kan nggak jelas.

    Posted by imam semar | 13 April 2008, 9:39 pm
  11. Terimakasih Pak Imam, saya sempat khawatir selama ini Pak Imam tidak nongol, semoga selalu sehat wal afiat, biar kita-kita yang muda ini masih diberi kesempatan untuk belajar sama Bapak…

    Posted by Giyanto | 14 April 2008, 5:32 am
  12. Mas Giy,
    Saya sehat, hanya sibuk mempersiapkan bid documents di kantor dan mengajukan AFE….., urusan dengan peraturan, semakin repot. Soalnya yang disebut korupsi sekarang ini adalah salah prosedur. Kalau ada ketidak wajaran dalam prosedur pengadaan barang ketika diaudit, kita bisa dicap korupsi. Walaupun tidak ada sepeser uang yang masuk ke kantong.

    Disatu pihak kita (perusahaan) mau mengejar opportunity yang bisa cepat menghilang, di pihak lain kita (perusahaan) harus ikut prosedur pemerintah yang bertele-tele. Jangan heran kalau sikap saya negatif terhadap over-regulated system.

    Posted by imam semar | 14 April 2008, 2:32 pm
  13. […] terkait erat dengan beberapa keping artikel yang pernah diterbitkan di Jurnal ini (misalnya ini dan […]

    Posted by Pasar Bebas dan Darwinisme Sosial | Akal & Kehendak | 8 May 2008, 8:05 pm
  14. top notch analysis!, mind if I link this journal in my blog?

    makasih dan salam kenal.

    oh ya, sya angkat tangan loh! 😀

    Posted by rajawalimuda | 10 May 2008, 11:52 pm
  15. hooo, hebat , salut atas ketekunan buat web ini. ISiny ajuga wah lebih berat dari truk tronton suer, lo lo belum pernah pada ngangkat truk tronton kan???,…………….

    sama saya juga 

    Posted by HD | 10 August 2008, 10:56 pm
  16. Terimakasih atas pencerahan yang sudah diberikan pada artikel ini.

    Terus terang selama ini saya selalu tidak dapat menemukan sisi positif kapitalisme selain pengakuan terhadap hak asasi manusia.

    Tapi situs ini mampu memberikan banyak info positif ttg kapitalisme. Salut.

    Kalau bisa tolong bahas juga sistem kapitalisme dari perspektif kesehatan. Thanks.

    Keep posting… 😀

    Posted by Skydrugz | 17 July 2010, 8:31 pm

Komentari

Arsip Bulanan

Rekomendasi

buku_rothbard.jpg
Apa Yang Dilakukan Pemerintah Terhadap Uang Kita?; Oleh: Murray Newton Rothbard; PT. Granit, Yayasan Obor Indonesia; ISBN : 97897916217 -4-8; tersedia di toko-toko buku terdekat. (Intip cuplikannya).
alt text
Membela Kapitalisme Global; Oleh: Johan Norberg; FNS Jakarta; tersedia di toko-toko buku terdekat. (Baca resensinya di sini).
Economic  Activism Blogs - Blog Catalog Blog Directory
%d bloggers like this: