Uncategorized

Berlindung dari Juru Pelindung

Oleh: Sukasah Syahdan
Jurnal Kebebasan: Akal dan Kehendak
Vol. II, Edisi 25, Tanggal 14 April 2008

Dari entah berapa juta orang penduduk Indonesia yang kaget ketika mendengar rencana (dan implementasi) penyensoran situs-situs tertentu di negeri ini, saya bolehlah dikecualikan. Mungkin juga Anda.

Pelarangan, pemberangusan, pengendalian dan hal semacam ini hanyalah konsekuensi logis yang telanjang, bugil bahkan.

Sebab setiap gagasan selalu memiliki konsekuensinya sendiri-sendiri. Sebab semua tindakan yang kita lakukan hari ini adalah hasil pemikiran kitai–baik yang telah kita timbang-timang secara mendalam ataupun yang kita lakukan secara serampangan.

Ideologi bangsa yang kita pilih, yang tercermin paling nyata di konstitusi, dan yang bagian-bagian tertentunya sering kita baca dan hapal sejak SD, memang mengasumsikan peran negara sebagai Juru Pelindung bagi kita semua. Negara ibarat Bapak bagi kita; dan kita anak-anak bangsa, katanya.

Sedikit saja cara pandang kita beringsut dari ‘standar yang baku’, akan terkuak betapa ideologi racikan ini memandang individualitas-masing-masing diri kita-sebagai orang yang tidak mampu mencari apa yang terbaik bari diri sendiri. Anda dan saya sama saja: anak-anak bangsa yang sama-sama tidak mampu menggunakan akalnya. Kita adalah para bebal yang menjaga diri masing-masing saja bahkan tidak becus.

Apapun ideologinya, perundang-undangan dan peraturan adalah perwujudannya. Ini bukan iklan, atau hasrat yang ingin diwujudkan. Ini satu modus baku menuju suatu tujuan.

Hingga saat ini, tahun 2008, undang-undang yang mengatur perilaku kita sudah memerintahkan hal-hal begini: Yang mau naik motor, wajib pakai helm. Kalian jangan lewat sini kecuali bertiga. Kamu-kamu yang hamil tidak boleh aborsi. Saudara-saudara mulai detik ini jangan sekali-kali pake minyak tanah! Awas, jangan berjudi, nanti tak sobhe’ sobhe’. Kamu jangan minum alkohol, dan jangan merokok pula!

Begitulah; begitu prinsip Negara sebagai Juru Pelindung kita ini diterima, bahwa perlindungan tubuh warga pun harus dikontrol oleh negara, maka kontrol-kontrol selanjutnya hanya punya kecenderungan bertambah.

Pada suatu titik, otoritas penyelenggara negara niscaya akan memutuskan, hei, opo tumon; kenapa cuma melindungi tubuh warga kita dari kecelakaan, narkoba, nikotin, atau alkohol? Kenapa tidak sekalian mengontrol pikirannya? Mengapa tidak menjadi polisi pikiran?

Bukankah kita harus menjaga agar warga negara kita tidak tersusupi doktrin-doktrin yang berbahaya? Walah, kenapa pula tidak sekalian kita kontrol jiwa mereka? Bukankah ini tujuan mulia? Semoga kita semua masuk surga sama-sama…

Hal-hal beginian tidak perlu dipermasalahkan sebagai produk pemerintah. Kenapa? Karena ini produk doktrin! Siapapun pemerintahnya, kalau ideologinya demikian, menciutnya ranah kebebasan pribadi sudah bisa dipastikan, konon untuk melindungi kita sendiri dari diri sendiri, dan bagi kebahagiaan kita sendiri di dunia dan akhirat nanti.

Begitulah; dengan pilihan yang kita tetapkan, pelarangan situs-situs tertentu semata-mata wujud konsekuensi logisnya; dan tidak terkejut olehnya harus dianggap kewajaran. Bahkan ketika kebebasan sepenuhnya hilang dan individu-individu harus berlindung dari Juru Pelindung.

Sebagai penutup, saya ingin menekankan ini: Konstitusi dan segala produk hukum diciptakan untuk melayani, bukan untuk mengekang kita. Semua cara-cara ini perlu digagas, diformulasikan dan diinterpretasikan sedemikian rupa agar kondusif dan memumpunikan kesejahteran semua kelompok bangsa—yakni tujuan akhir kita dalam berbangsa bernegara. Jika pilihan-pilihan kita selama ini ternyata membuat kita gagal mencapai tujuan tersebut, kita tidak patut mempertahankannya.

Kirim artikel ini:
Share on FacebookTweet about this on TwitterShare on Google+Email this to someoneShare on RedditShare on StumbleUpon

Tulisan lain yang mungkin terkait:

Discussion

No comments for “Berlindung dari Juru Pelindung”

Komentari

Arsip Bulanan

Rekomendasi

buku_rothbard.jpg
Apa Yang Dilakukan Pemerintah Terhadap Uang Kita?; Oleh: Murray Newton Rothbard; PT. Granit, Yayasan Obor Indonesia; ISBN : 97897916217 -4-8; tersedia di toko-toko buku terdekat. (Intip cuplikannya).
alt text
Membela Kapitalisme Global; Oleh: Johan Norberg; FNS Jakarta; tersedia di toko-toko buku terdekat. (Baca resensinya di sini).
Economic  Activism Blogs - Blog Catalog Blog Directory
%d bloggers like this: