Uncategorized

Betulkah Tidak Ada Hal Baru Di bawah Matahari?

Oleh: Sukasah Syahdan
Jurnal Kebebasan: Akal dan Kehendak
Vol. II, Edisi 26, Tanggal 21 April 2008

Tidak ada hal yang baru di bawah matahari!

Pertanyaan atau klaim di atas barangkali pernah Anda temui dalam bacaan atau pernah Anda dengar dari ucapan seseorang. Tidak jarang dia dipakai sebagai argumen untuk menolak suatu argumen atau klaim, terutama argumen atau klaim yang berisi hal-hal baru.

Tapi betulkah demikian? Apa sih artinya kalimat tersebut?

Bagaimana kalimat tersebut bisa diucapkan secara bermakna kalau bahkan matahari yang mengatasi segala hal di bawahnya adalah matahari yang baru setiap saat?

Noam Chomsky pernah membuat sebuah kalimat yang sulit dilupakan:

Colorless green ideas sleep furiously.

Kalimat orisinil ini ia ciptakan untuk menerangkan bahwa kalimat yang menurut aturan tata bahasa (persisnya: sintaksis atau tata kalimat) bahasa tidak bercela ini ternyata tidak dapat diterima secara maknawi (semantik). Meskipun kata-kata pembentuknya sudah kita kenal, pada saat kalimat itu dibuat, dia adalah sebuah orisinilitas. Dari elemen-elemen material yang ada di tersedia, kombinasi yang dapat tercipta mungkin tak terhingga.

Ini cuma tentang satu persoalan dalam berbahasa. Yang lebih subtil lagi, ternyata ada kalimat yang sepertinya secara sintaktis dan semantis benar, tapi ternyata secara faktual atau logis memiliki kekeliruan. Contohnya, ya klaim di atas.

Contoh Chomsky memang ekskusif tentang bahasa, tapi dengan silogisme serupa kita dapat menerapkannya ke bidang-bidang lain.

Sebenar-benarnya, ada banyak sekali hal baru di bawah matahari. Setiap detik hal-hal baru ini bermunculan dalam jumlah yang tak terhitung oleh siapapun. Kodrat manusia memungkinkan hal tersebut, penciptaan hal-hal baru di bawah matahari.

Lagi pula, dan yang terpenting, kebaruan bukanlah alasan untuk menerima atau menolak kebenaran suatu proposisi. Demikian juga berlaku bagi gagasan, doktrin atau ideologi.

Tidak penting apakah sebuah produk pikiran baru atau lama, melainkan apakah dia berisi kebenaran atau berpotensi membawa kita kepada kebenaran. [ ]

(Jurnal Kebebasan: Akal dan Kehendak, Vol. II, Edisi no. 26, April 2008)

Kirim artikel ini:
Share on FacebookTweet about this on TwitterShare on Google+Email this to someoneShare on RedditShare on StumbleUpon

Tulisan lain yang mungkin terkait:

Discussion

8 comments for “Betulkah Tidak Ada Hal Baru Di bawah Matahari?”

  1. Assalaamualaikum wa rahmatullohi wa barokatuh. Bismillahirrahmaanirrahiim.
    Sepertinya roda zaman semakin cepat berputar, hari demi hari dipenuhi dengan berbagai drama kemanusiaan. Berbagai peristiwa tragis dalam sejarah kemanusiaan modern telah membuat kita semakin ragu tentang masa depan kemanusiaan. Orang saling membunuh demi memperebutkan hal-hal duniawi. Manusia pemilik modal (borjuis) menindas manusia yang menjadi buruh (proletar). Para pemilik modal melakukan eksploitasi terhadap sumberdaya alam, sumberdaya manusia dan sumberdaya ilmu. Akibatnya berbagai kerusakan semakin merajalela. Perilaku manusia berubah menjadi bengis ketika kemajuan ilmu semakin pesat. Agama-agama yang ada justru bukan menjadi sumber perdamaian melainkan peperangan. Sementara itu upaya-upaya untuk membangun kesejahteraan bangsa mendapat kendala berupa aksi ketidak adilan dalam berbagai sendi kehidupan.
    Timbullah gambaran yang menyayat hati. Si kaya memeras si miskin sehingga si kaya semakin kaya dan si miskin semakin miskin. Yang kuat menindas yang lemah sehingga yang kuat semakin menghebat dan yang lemah semakin tertindas. Apakah yang menjadi sebab berbagai jenis ketidak adilan dan ketimpangan ini?
    Penyebabnya adalah masalah pandangan hidup. Pandangan hidup yang saat ini sedang menghiasi panggung sejarah adalah pandangan hidup kapitalis atau disebut sebagai kapitalisme. Ide-ide kapitalisme modern bersumber dari sebuah buku berjudul “The Wealth of Nation”, karya Adam Smith. Kapitalisme menempatkan modal sebagai ujung tombak penciptaan kesejahteraan hidup, sehingga dengan modal itu kemudian setiap individu memiliki kebebasan penuh guna membangun kesejahteraan pribadinya dengan cara mengakumulasi modal dan mengeksploitasi sumberdaya produksi secara efektif sehingga mendatangkan profit yang sebesar-besarnya. Timbulah kompetisi modal, kompetisi produksi antar individu sehingga yang namanya menghabisi kompetitor disebut sebagai prestasi bahkan suatu seni tersendiri menurut paham kapitalisme. Tentu saja kapitalisme secara terang-terangan tidak mau peduli dengan kesejahteraan sosial, sebab tujuan dari kapitalisme adalah dengan seminimal mungkin modal dapat meraih profit yang sebesar-besarnya. Sehingga pembagian keuntungan untuk tujuan menciptakan kesejahteraan umum, menurut paham kapitalisme dapat dilakukan dengan pola “trickle down-effect” yang oleh Adam Smith akan terjadi sebagai akibat ulah “tangan ajaib”.
    KAPITALISME
    Namun apakah demikian itu yang terjadi? Sekian tahun semenjak kapitalisme modern dicetuskan oleh Adam Smith, yang terjadi adalah para pemilik modal melakukan penghisapan terhadap aset-aset produksi, yang meliputi sumberdaya alam, sumberdaya manusia dan sumberdaya ilmu. Kapitalisme telah berhasil mendorong timbulnya industrialisasi di Inggris melalui revolusi industri. Sehingga kapitalisme telah mendorong kemajuan ekonomi yang sangat pesat di Inggris waktu itu. Keberhasilan Inggris ini kemudian diikuti oleh Perancis dan Negara-negara Eropa yang lain. Seiring ditemukannya Benua Amerika, maka dimulailah abad penjelajahan, abad kolonialisme, yaitu abad penindasan secara merata di muka bumi yang dilakukan oleh kaum kapitalis. Kolonialisme adalah babak lanjut dari kapitalisme. Kolonialisme yang dilakukan oleh Negara-negara Eropa di berbagai belahan dunia ini kemudian berlangsung selama hampir 300 tahun lebih dan menghasilkan kekayaan yang luar biasa di pihak Eropa serta kehancuran yang luar biasa di pihak yang dijajah.
    Era baru pasca kolonialisme ialah munculnya gelora kemerdekaan di negara-negara terjajah. Semangat kemerdekaan ini kemudian menggelora, menggelegar menjadi sebuah keinginan bersama dari negara-negara bekas jajahan untuk melawan system kapitalisme sampai ke akar-akarnya. Sayangnya keinginan untuk melawan kapitalisme ini tidak disertai konsep-konsep yang matang dan teruji, sehingga kapitalisme pun berhasil membendung berbagai upaya melawan kapitalisme. Kemudian diperkenalkan sebuah jenis baru kapitalisme kepada negara-negara bekas jajahan, yaitu imperialisme. Neo-imperialisme membawa sifat-sifat baru yang lebih keji daripada kolonialisme. Neo-imperialisme adalah tingkat puncak kapitalisme.
    Neo-imperialisme tidak butuh sebuah wilayah secara geografis untuk dijajah, tetapi neo-imperialisme ini membawa kebudayaan baru yang mengarahkan pandangan hidup manusia khususnya di negara-negara bekas jajahan untuk bersikap mendukung kegiatan produksi dengan menempatkan manusia sebagai konsumen. Maka dengan kekuatan modal yang luar biasa besarnya yang diperoleh dari keuntungan menjajah selama berabad-abad di berbagai belahan dunia, maka dibangunlah berbagai imperium-imperium modal berupa perusahan-perusahan raksasa multinasional (lintas negara).
    Neo-imperialisme bersama para dalang dan antek-anteknya kemudian memperkenalkan jenis-jenis pandangan hidup merusak kepada umat manusia seperti materialisme, liberalisme, konsumerisme dan hedonisme. Bagaikan virus yang sedemikian cepat menulari jiwa-jiwa manusia dengan berbagai penyakit dan kotoran kemanusiaan maka kapitalisme modern secara nyata sukses besar merenggut kesadaran manusia akan kemanusiaannya sendiri dan berhasil menciptakan keterasingan massal manusia terhadap kemanusiaannya sendiri serta mengubah nilai-nilai kemanusiaan dan keadilan menjadi harga-harga yang diserahkan penghargaannya kepada apa yang oleh kapitalisme disebut sebagai “system pasar”. Sistem pasar yang penuh dengan tindak kecurangan.
    KEBIADABAN KAPITALISME
    Kapitalisme yang sedemikian jahat ini kemudian membawa manusia ke dalam susunan kehidupan yang penuh dengan penindasan, pembodohan dan kerusakan yang luar biasa. Pola-pola kehidupan di rusak oleh manusia setelah pola pikir manusianya dirusak terlebih dahulu oleh kapitalisme.
    Kapitalisme ini telah menciptakan belenggu dalam urat syaraf sadar manusia modern dengan apa yang dinamakan sebagai egoisme. Egoisme ini yang menjadikan manusia semakin lupa dan terjauh dari derajat kemanusiaannya sendiri. Manusia kemudian terjerumus dalam kubangan comberan yang teramat sangat kotor bernama kapitalisme, kemudian bagaikan seekor anjing yang kelaparan, manusia kemudian mengumpulkan remah-remah, sisa-sisa bahkan kotoran kapitalisme yang dia sebut sebagai “profit”. Kumpulan kotoran itu kemudian dibangga-banggakan oleh si manusia egois tadi sebagai wujud “prestasi” dirinya dalam hal pengabdiannya terhadap kapitalisme. Kapitalisme telah berhasil menghipnotis manusia egois tersebut sehingga memandang kotoran yang terdiri dari tai dan kencingnya kapitalisme sebagai kekayaan. Kapitalisme telah mengalihkan pandangan hidup si manusia egois tersebut dari kesadarannya tentang hakikat kemanusiaan sebagai hamba Allah ke dalam alam kesadaran kapitalisme yang berisikan keserakahan. Akhirnya kapitalisme berhasil mengubah pandangan hidup si manusia tersebut, menjungkir balikkan cara pandang manusia terhadap cita-cita tatanan kemanusiaan yang lebih mulia menjadi tatanan kemanusiaan yang penuh dengan kebencian, penindasan dan ketidak adilan. Keserakahan mendorong timbulnya keyakinan terhadap keabadian palsu tentang kekayaan dan ketakutan akan kemiskinan. Sehingga seberapapun akumulasi modal yang diraih, tidaklah membawa kepuasan dan kebahagiaan. Si manusia egois pengabdi kapitalisme tak ubahnya seperti anjing yang selalu menjulurkan lidahnya dikala lapar maupun kenyang dan tiadalah yang dimakan oleh si anjing itu melainkan kotoran, remah-remah, sisa-sisa makanan bahkan bangkai yang sudah membusuk!
    Kapitalisme sebagai sebuah ideologi telah terbukti gagal menjalankan perannya untuk mencapai tujuan mensejahterakan rakyat. Meskipun kemajuan berupa modernisasi merupakan salah satu muatan kapitalisme telah membawa banyak kemajuan di bidang ilmu pengetahuan. Tetapi secara faktual masih ditemui, bahkan di negara kaya seperti Inggris dan Amerika, para pengemis, gelandangan dan bahkan daerah permukiman kumuh. Itu tidak bisa disebut bahwa kapitalisme sukses membawa kesejahteraan.
    Kapitalisme sudah memperkenalkan materialisme kepada umat manusia. Menurut Ali Syari’ati (2007), materialisme beranggapan bahwa kecerdasan substansi manusia adalah berasal dari materi. Materialisme nampaknya tidak melihat satupun tipe evolusi metafisis bagi manusia di luar susunan materialnya. Dalam melihat manusia berdasarkan ukuran material, dalam hal mengingkari evolusi metafisis serta dalam melihat manusia sebagai suatu binatang fenomenal yang terbatas maka sebenarnya materialisme telah menjadi penghambat bagi potensi peningkatan ke atas manusia dari makhluk yang rendah. Sebagai suatu ideologi, materialisme merupakan suatu usaha untuk menindas kemajuan spiritual manusia. Materialisme ini yang kemudian membawa manusia semakin tersesat jauh di alam pikiran kapitalisme, materialisme menghancurkan tatanan pikiran yang murni, alami dan ilahiyah menjadi tatanan pikiran yang serba amburadul, salah kaprah yang ujung-ujungnya adalah kesesatan berpikir manusia itu sendiri. Nilai dan harga sudah dikacau balaukan sehingga tidak jelas lagi mana yang nilai dan mana yang harga. Sehingga materialisme, menurut Sudisman (1966), menciptakan orang-orang yang lebih mementingkan pangkat dan kedudukan daripada tugas kewajiban; lebih mementingkan ketenangan hidup dan kemewahan daripada jasa yang bisa ditunaikan; lebih suka berpegang teguh pada pengalaman yang dikodifikasikan daripada pemikiran kreatif; lebih suka keamanan yang berdasarkan pengalaman daripada kesempatan untuk mencoba memperbaharui pemikiran dan keadaan.
    Sayang sekali, kesadaran rakyat bahwa kapitalisme itu adalah sebuah system jahat sangatlah jarang ditemui. Bahkan ketika praktek-praktek kapitalisme itu dilakukan di tengah-tengah masyarakat maka yang muncul adalah apologi-apologi dan eufimisme atas praktek kapitalisme. Bahkan ketika seseorang mengakumulasi kapital melebihi batas normal, mengeksploitasi manusia dengan mengasingkannya dari derajat kemanusiaan dan menempatkan posisi kapital dalam posisi yang tidak seharusnya dimana kapital ia tempatkan dalam posisi yang seolah mereduksi kekuasaan Tuhan dalam arti sebenar-benarnya. Praktek sosial kapitalisme semacam itu oleh massa rakyat justru dianggap normal di tengah kehancuran alam pikir manusia di zaman edan ini.
    Kapitalisme juga memperkenalkan berbagai tradisi bahkan ritus-ritus yang tidak ubahnya tradisi dan ritus-ritus dalam sebuah agama. Kapitalisme menciptakan ruang-ruang publik yang di tradisikan sakral dalam standar alam pikir kapitalisme. Ruang-ruang publik tempat orang mengakumulasi modal seperti bursa saham, bank, tempat lelang, kantor asuransi dan sebagainya. Mereka membangun tradisi dan ritus-ritus yang dinamakan “prosedur administrasi”, “petunjuk pelaksanaan”, “instruksi teknis” dan sebagainya yang di nisbatkan sebagai “syariat kapitalisme”.
    Sebaliknya agama yang seharusnya menjadi solusi atas berbagai tindak ketidak adilan dan kejahatan atas kemanusiaan yang dilakukan oleh kapitalisme, justru telah dimanfaatkan oleh para pendukung kapitalisme sebagai kedok, sebagai topeng, sebagai kamuflase atas proyek-proyek dan program-program akumulasi modal. Sehingga agama tidak lebih hanya sekedar peralatan untuk memuluskan tujuan menumpuk harta dan kekuasaan. Maka jadilah sebuah pasal kapitalisme dalam hukum pasar bahwa agama adalah lahan bisnis dan bisnis yang baik adalah bisnis yang diagamakan. Bisnis diagamakan dan agama dibisniskan. Aduk-adukan tatanan nilai dan harga semacam inilah yang mengacau balaukan alam pikir manusia, buntutnya segala tindak tanduk manusia pun menjadi kacau balau dan cenderung merusak.
    UJUNG SEJARAH KAPITALISME
    Kegagalan system kapitalisme untuk menciptakan keadilan bagi umat manusia telah menjerumuskan kapitalisme dalam proses pembusukan sehingga kapitalisme kini dihadapkan pada ujung sejarah. Komplikasi kegagalan kapitalisme antara lain kegagalan penciptaan kesejahteraan yang merata, kegagalan menciptakan demokrasi sebagai solusi final atas system politik di negara-negara maju maupun berkembang, kegagalan system pasar untuk menciptakan keadilan ekonomi sebagai induk segala keadilan di semua bidang. Semua komplikasi kegagalan kapitalisme itu, dipahami oleh para pendukung kapitalisme maupun yang bukan pendukung kapitalisme, sebagai proses sakaratul maut-nya kapitalisme. Meskipun peradaban kapitalisme yang sudah tua renta dan sekarat itu di bawa ke unit gawat darurat dan kehidupannya di topang oleh unit-unit mekanis yang menjadi derivasi kapitalisme seperti materialisme, liberalisme dan bahkan filantropisme maka sesungguhnya semua usaha itu sama sekali tidak akan mencegah dari takdir kematian peradaban kapitalisme. Justru semua unit mekanis yang menjadi derivat kapitalisme itu hanyalah menciptakan kesan kehidupan peradaban kapitalisme yang telah sekarat, sebuah kehidupan semu, pseudo-life. Kehidupan semu yang sama sekali tidak akan memproduksi apapun melainkan kehancuran demi kehancuran. Sekaratnya kapitalisme yang sudah busuk menciptakan belatung peradaban.
    Pembusukan kapitalisme yang sudah sekarat di masa ini, akan sampai pada suatu takdir berupa kematian peradaban kapitalisme untuk kemudian digantikan oleh peradaban lain yang seharusnya jauh lebih baik. Belatung-belatung peradaban kapitalisme yang ikut serta membusukkan kapitalisme dan diuntungkan oleh kapitalisme pada giliran sejarahnya juga bakal menemui kematian. Sekali-kali kapitalisme tidak menjanjikan suatu alternative alam pikir pasca kematian kapitalisme. Sama sekali tidak ada yang namanya wasiat kapitalisme bahwa kapitalisme sudah mengangkat anak ideologis bernama sosialisme demokrasi sebagai penerus ideology kapitalisme. Kalau pun sosialisme demokrasi itu dianggap sebagai penerus ideology kapitalisme maka itupun tidak lebih dari kapitalisme yang balik nama menjadi sosialis demokrasi. Isinya tetap sama meski bungkusnya sudah diganti.
    Doktrin kaum kapitalis bahwa tidak ada jalan keselamatan di luar jalan kapitalisme menjadi sebuah doktrin yang layak digugat ketika kapitalisme sudah menjelang ajalnya. Tidak ada satu wasiatpun dari kapitalisme yang bisa diharapkan oleh umat manusia ketika kapitalisme mengalami kegagalan demi kegagalan, dimana wasiat kapitalisme itu menyuguhkan alternative system yang selain kapitalisme, yang diakui telah terbukti mampu memyuguhkan keadilan sosial sekaligus kesejahteraan sejati, seutuhnya bagi umat manusia.
    Jika alternative system yang dimaksud itu memang tidak ada atau tidak berhasil ditemukan, maka yang muncul adalah situasi alam pikir yang semakin kacau, absurd dan dipenuhi kebingungan-kebingungan massal. Para pendukung kapitalisme akan saling bertanya-tanya tentang situasi zaman yang bagi mereka nampak semakin tidak menentu. Mereka kumpulkan ahli-ahli di bidang kapitalisme, mereka beri dana besar untuk menemukan alternative lain di luar kapitalisme, namun sekali lagi, tiadalah hasil usaha tersebut bakal menciptakan kehidupan yang lebih tenteram, tetapi malah sekedar menghasilkan tambal sulam system kapitalisme yang sudah usang, kotor, kumal dan compang-camping. Jangka waktu kapitalisme ibarat organisme hidup, ketika waktunya makan disaat lapar, maka si organisme nampak buas memakan hidangan. Tetapi ketika sudah kekenyangan dan sudah terjadi proses pembusukan di lambung, maka tibalah saatnya untuk mengeluarkan segala residunya.
    Proses alami semacam itu adalah sebuah kepastian sejarah yang tidak dapat diingkari meskipun para pendukung kapitalisme itu berupaya lari dan melarikan kapitalisme dari takdir sejarah. Sungguh kemanapun larinya kapitalisme dan antek-anteknya sudah pasti akan menemui kematian yang selalu menyongsongnya ketika takdir kepastian sejarah sudah tiba.
    Maka ditengah proses kehancuran peradaban kapitalisme ini menjadi suatu tantangan bagi peradaban lain untuk tampil memimpin jalannya sejarah atau musnah sama sekali. Banyak sekali sisa-sisa peradaban di masa lalu yang masih kita temui puing-puing kebudayaannya. Tetapi apakah sisa-sisa perdaban tersebut secara umum menyediakan suatu panduan lengkap tentang bagaimana mengoperasikan suatu kebudayaan yang pernah jaya untuk dihidupkan kembali?
    DARI DESA MENGEPUNG KOTA
    Ada banyak peradaban hadir sebelum peradaban kapitalisme. Berdasar ciri geografis terdapat peradaban gua, peradaban sungai, peradaban maritim dan peradaban agraris. Peradaban kapitalisme termasuk jenis peradaban kota yang sifatnya sudah menetap dan mempunyai ciri-ciri berupa hubungan-hubungan industrial yang terikat erat dengan akumulasi modal dan eksploitasi.
    Jauh sebelum kejayaan peradaban kapitalisme, terdapat peradaban gua yang menghasilkan manusia-manusia berbudaya gua. Seperti Neanderthalensis, Pythecanthropus Erectus, Meganthropus Paleo Javanicus dan sebagainya. Peradaban ini ditengarai masih ditemui binatang-binatang seperti Dinosaurus. Mereka ini memiliki produk manufaktur berupa hasil karya dengan bahan dasar batu sehingga peradaban gua disebut pula sebagai zaman batu. Sedangkan perkembangan intelektual di zaman batu , disebabkan belum ditemukan kertas, disampaikan melalui lukisan dinding pada dinding gua dan selebihnya dengan bahasa tutur. Orang-orang di zaman batu masih cenderung hidup berpindah-pindah atau nomaden. Profesi mereka adalah berburu dan meramu. Hal itu dilakukan teknologi yang mereka kuasai masih sederhana. Karena masih banyak bergantung pada alam maka persoalan-persoalan sosial pun belum begitu rumit.
    Seiring dengan laju pertambahan penduduk dan proses-proses akulturasi budaya yang rumit antara peladang berpindah di zaman batu, maka terjadilah proses-proses penyempuranaan ilmu dan teknologi. Teknologi sederhana di zaman batu pelan-pelan mulai ditinggalkan, bahkan musnah setelah terjadinya banjir besar Nabi Nuh Alaihis Salaam.
    Mereka tidak lagi berpindah-pindah tetapi menetap di sepanjang sungai. Hal itu dikarenakan air adalah sumber kebutuhan pokok untuk mandi, mencuci, urusan kakus dan memasak. Selain itu juga sungai adalah sarana transportasi yang relative mudah untuk dilalui terutama sungai-sungai besar seperti sungai Eufrat dan Tigris, Sungai Gangga dan Sungai Yang Tze. Maka muncullah peradaban-peradaban besar di sepanjang sungai besar tersebut. Produk teknologi manufaktur mulai berragam, mulai dari tembikar, keramik, perunggu hingga logam. Pada peradaban ini mulai di kenal huruf-huruf piktograf yang merupakan awalnya merupakan simbolisasi fakta dalam bentuk lukisan kaligrafi. Pada peradaban ini pula dikenal angka-angka yang akhirnya mendorong manusia pada zaman perunggu untuk menciptakan karya-karya manufaktur lain dalam skala makro seperti kapal dan bangunan-bangunan besar.
    Peradaban sungai terus berkembang menjadi peradaban agraris yang terus berkembang sehingga lahir kota-kota yang menjadi pelabuhan sekaligus pusat perdagangan. Pada masa ini muncul agama-agama, para nabi dan kitab suci, para ahli filsafat dan ahli matematika yang meletakkan dasar peradaban modern. Produk-produk teknologi maju seperti kertas dan tekstil ditemukan pada zaman peradaban agraris yang telah berkembang menjadi peradaban kota. Nabi Muhammad SAW lahir pada masa pertumbuhan peradaban agraris menjadi peradaban kota.
    Nabi Muhammad SAW memperkenalkan Peradaban Islam sebagai peradaban kota yang pada masanya terbukti mampu menciptakan kehidupan yang adil, damai, sejahtera, mencerahkan serta jauh dari penindasan bagi siapapun yang sedang berada di sentrum peradaban Islam masa itu yaitu di Jazirah Arab. Kejayaan Peradaban Islam ini terus gemilang bahkan sepeninggal Nabi Muhammad SAW. Selama beberapa abad peradaban kota dengan ciri khas bercita-cita Islam menjadi peradaban paling gemilang dalam sejarah peradaban bahkan dalam sejarah kemanusiaan.
    Dari pengaruh peradaban kota yang berbasis pada peradaban Islam berangsur-angsur mendorong usaha-usaha untuk melakukan penjelajahan ke seluruh muka bumi. Maka terjadilah penjelajahan untuk menemukan sumber-sumber kekayaan dan rempah-rempah di belahan lain bumi. Masuklah pada peradaban baru yang memperkenalkan kapitalisme muda bernama kolonialisme. Masuklah pada era penindasan manusia yang diperkenalkan oleh bangsa-bangsa-bangsa Barat kepada bangsa-bangsa Timur.
    Konflik pun tak terhindarkan dan hasilnya adalah Perang Dunia Pertama dan Perang Dunia Ketiga dengan korban yang luar biasa banyaknya. Itulah hasil kejahatan kolonialisme. Kolonialisme mati seiring dengan dijatuhkannya bom atom di Hiroshima dan Nagasaki, Jepang oleh tentara Amerika Serikat.
    Pasca kolonialisme, maka masuklah pada babak baru munculnya Perang Dingin yang diakibatkan perebutan pengaruh antara dua ideologi besar di dunia. Ideologi komunisme yang di dukung almarhum Uni Soviet dan negara-negara anggota Komintern melawan ideologi kapitalisme yang didukung Amerika Serikat dan negara-negara Eropa Barat minus Jerman Timur. Perang Dingin berakhir ketika Uni Soviet bubar pada awal 1990-an.
    Setelah kejayaan Uni Soviet berakhir, maka praktis Amerika Serikat dengan ideologi kapitalisme menjadi pemenang dan dengan angkuhnya memaksakan ideologi kapitalisme kepada khalayak internasional. Kapitalisme memaksakan materialisme, liberalisme, hedonisme dan berbagai pandangan hidup yang merusak kepada umat manusia melalui jerat-jeratnya yang halus dan tidak kentara. Amerika Serikat sebagai sponsor utama kapitalisme tidak ubahnya seekor keledai yang ditunggangi Yahudi, lantaran negara Amerika Serikat hanyalah alat yang dipergunakan oleh orang-orang Yahudi untuk mengintroduksi kapitalisme kepada publik internasional.
    Yahudi sepanjang sejarah tidak pernah menjadi sebuah peradaban, tetapi Bangsa Yahudi sepanjang sejarah kemanusiaan adalah orang-orang yang berpengaruh di setiap peradaban yang pernah ada. Mereka memiliki peran intelektual yang tidak dimiliki bangsa lain. Sebagai sebuah Ras Semit, Yahudi adalah termasuk ras unggulan yang mampu menorehkan tinta emas di setiap peradaban, entah diakui atau tidak.
    GANYANG KAPITALISME !
    Pasca ambruknya komunisme, kapitalisme nyaris tidak punya musuh ideologis. Tetapi seorang ilmuwan Yahudi bernama Samuel Huntington memperingatkan Amerika Serikat dan sekutunya bahwa pasca komunisme, yang menjadi musuh ideologis kapitalisme adalah apa yang ia sebut sebagai bahaya hijau. Bahaya hijau yang dimaksudkan adalah bangkitnya nafas kehidupan peradaban Islam sebagaimana kejayaan peradaban yang diraih di zaman Nabi Muhammad SAW. Akibat sinyalemen Samuel Huntington tersebut, maka para pendukung kapitalisme merasa khawatir, curiga bahkan paranoid terhadap Islam. Sehingga Amerika Serikat beserta sekutunya memberikan stigma terhadap siapapun yang mencoba mempersiapkan kebangkitan peradaban Islam untuk kedua kalinya dengan stigma terorisme. Amerika Serikat bahkan mendanai pembuatan organisasi virtual semacam Jamaa’ah Islamiyah dengan embel-embel Islam, untuk distigmakan sebagai organisasi teroris. Siapa saja dari kaum muslimin yang dianggap tidak setuju dengan agenda Amerika Serikat dan sekutunya lantas dimasukkan dalam daftar teroris, yang harus diburu dan dimusnahkan. Para pemeluk Islam yang berusaha memahami dan hidup sadar dengan al-Qur’an menurut Sunnah RasulNya kemudian direpresi, dimarginalkan dan diancam dengan stigma sesat melalui kepanjangan tangan kekuasaan Amerika Serikat. Dalam konteks ini, nampaklah nyata bahwa Amerika Serikat adalah perwujudan iblis dalam arti sesungguhnya. Maka sungguh Amerika Serikat beserta peradabannya adalah musuh nyata bagi kemanusiaan!
    Seorang ilmuwan barat bernama Michael Hart menuliskan bahwa pengaruh Nabi Muhammad SAW sangatlah mendasar dalam kehidupan manusia. Menurut Michael Hart, Seperti halnya lain-lain agama juga, Islam punya pengaruh luar biasa besarnya terhadap para penganutnya. Jika diukur dari jumlah, banyaknya pemeluk Agama Nasrani dua kali lipat besarnya dari pemeluk Agama Islam. Tetapi Nabi Muhammad SAW memainkan peranan jauh lebih penting dalam pengembangan Islam ketimbang peranan Nabi Isa terhadap Agama Nasrani.
    Biarpun Nabi Isa bertanggung jawab terhadap ajaran-ajaran pokok moral dan etika Kristen (sampai batas tertentu berbeda dengan Yudaisme), St. Paul merupakan tokoh penyebar utama teologi Kristen, tokoh penyebarnya, dan penulis bagian terbesar dari Perjanjian Lama. Sebaliknya Muhammad bukan saja bertanggung jawab terhadap teologi Islam tapi sekaligus juga terhadap pokok-pokok etika dan moralnya. Tambahan pula dia “pencatat” Kitab Suci Al-Quran, kumpulan wahyu kepada Muhammad yang diyakininya berasal langsung dari Allah. Sebagian terbesar dari wahyu ini disalin dengan penuh kesungguhan selama Muhammad masih hidup dan kemudian dihimpun dalam bentuk yang tak tergoyangkan tak lama sesudah dia wafat. Al-Quran dengan demikian berkaitan erat dengan pandangan-pandangan Muhammad serta ajaran-ajarannya karena dia bersandar pada wahyu Tuhan. Sebaliknya, tak ada satu pun kumpulan yang begitu terperinci dari ajaran-ajaran Isa yang masih dapat dijumpai di masa sekarang. Karena Al-Quran bagi kaum Muslimin sedikit banyak sama pentingnya dengan Injil bagi kaum Nasrani, pengaruh Muhammad dengan perantaraan Al-Quran teramatlah besarnya. Kemungkinan pengaruh Muhammad dalam Islam lebih besar dari pengaruh Isa dan St. Paul dalam dunia Kristen digabung jadi satu. Diukur dari semata mata sudut agama, tampaknya pengaruh Muhammad setara dengan Isa dalam sejarah kemanusiaan.
    Lebih jauh dari itu (berbeda dengan Nabi Isa) Nabi Muhammad bukan semata pemimpin agama tapi juga pemimpin duniawi. Fakta menunjukkan, selaku kekuatan pendorong terhadap gerak penaklukan yang dilakukan bangsa Arab, pengaruh kepemimpinan politiknya berada dalam posisi terdepan sepanjang waktu. Dari pelbagai peristiwa sejarah, orang bisa saja berkata hal itu bisa terjadi tanpa kepemimpinan khusus dari seseorang yang mengepalai mereka. Misalnya, koloni-koloni di Amerika Selatan mungkin saja bisa membebaskan diri dari kolonialisme Spanyol walau Simon Bolivar tak pernah ada di dunia. Tapi, misal ini tidak berlaku pada gerak penaklukan yang dilakukan bangsa Arab. Tak ada kejadian serupa sebelum Muhammad dan tak ada alasan untuk menyangkal bahwa penaklukan bisa terjadi dan berhasil tanpa Muhammad. Satu-satunya kemiripan dalam hal penaklukan dalam sejarah manusia di abad ke-13 yang sebagian terpokok berkat pengaruh Jengis Khan. Penaklukan ini, walau lebih luas jangkauannya ketimbang apa yang dilakukan bangsa Arab, tidaklah bisa membuktikan kemapanan, dan kini satu-satunya daerah yang diduduki oleh bangsa Mongol hanyalah wilayah yang sama dengan sebelum masa Jengis Khan.
    Ini jelas menunjukkan beda besar dengan penaklukan yang dilakukan oleh bangsa Arab. Membentang dari Irak hingga Maroko, terbentang rantai bangsa Arab yang bersatu, bukan semata berkat anutan Agama Islam tapi juga dari jurusan bahasa Arabnya, sejarah dan kebudayaan. Posisi sentral Al-Quran di kalangan kaum Muslimin dan tertulisnya dalam bahasa Arab, besar kemungkinan merupakan sebab mengapa bahasa Arab tidak terpecah-pecah ke dalam dialek-dialek yang berantarakan. Jika tidak, boleh jadi sudah akan terjadi di abad ke l3. Perbedaan dan pembagian Arab ke dalam beberapa negara tentu terjadi -tentu saja- dan nyatanya memang begitu, tapi perpecahan yang bersifat sebagian-sebagian itu jangan lantas membuat kita alpa bahwa persatuan mereka masih berwujud. Tapi, baik Iran maupun Indonesia yang kedua-duanya negeri berpenduduk Muslimin dan keduanya penghasil minyak, tidak ikut bergabung dalam sikap embargo minyak pada musim dingin tahun 1973 – 1974.
    Sebaliknya bukanlah barang kebetulan jika semua negara Arab, semata-mata negara Arab, yang mengambil langkah embargo minyak. Jadi, dapatlah kita saksikan, penaklukan yang dilakukan bangsa Arab di abad ke-7 terus memainkan peranan penting dalam sejarah ummat manusia hingga saat ini.
    Dari segi inilah menurut Michael Hart dinilai adanya kombinasi tak terbandingkan antara segi akhirat dan segi duniawi yang melekat pada pengaruh diri Muhammad sehingga Muhammad beserta peradaban Islam yang dibawanya dalam arti pribadi maupun sosial adalah manusia yang paling berpengaruh dalam sejarah manusia.
    ILMU AL QUR’AN VERSUS JAHILIYAH KAPITALISME
    Dengan pembusukan kapitalisme yang tengah terjadi sekarang, maka lawan ideologis yang jauh lebih unggul dari kapitalisme adalah ilmu al-Qur’an menurut Sunnah RasulNya. Kapitalisme yang dimotori oleh ilmuwan-ilmuwan Yahudi telah lama berhasil mengacaukan sistematika alam pikir. Sehingga pikiran manusia non-Yahudi kehilangan jalan untuk mengenali kembali asal usulnya yang murni, kehilangan jalan untuk kembali menemukan konsep utuh yang berisi pola-pola permanen di alam semesta. Sementara itu hanya ada satu petunjuk, bahkan satu-satunya petunjuk yang masih murni dan tidak sanggup diacak-acak serta diaduk-aduk oleh ilmuwan-ilmuwan Yahudi yaitu petunjuk dalam al-Qur’an menurut Sunnah RasulNya.
    Al-Qur’an menurut Sunnah RasulNya memuat semua pola-pola permanen yang ada di alam semesta ini. Sehingga dengan berpedoman al-Qur’an maka manusia dapat memimpin jalannya sejarah dengan benar. Kepemimpinan yang benar akan membuahkan kehidupan yang harmonis, tidak saling merusak, tidak saling menggelapkan bahkan cenderung berkeadilan, damai dan sejahtera.
    Tetapi sayangnya, usaha-usaha untuk menemukan kembali pola-pola permanen yang tercantum dalam al Qur’an nampaknya belum menemukan keberhasilan di sepanjang sejarah pasca wafatnya Nabi Muhammad SAW. Bahkan usaha-usaha untuk melunturkan studi obyektif terhadap al-Qur’an menurut Sunnah RasulNya bahkan semakin gencar dilakukan oleh orang yang dihatinya memusuhi Islam.
    Upaya riset terhadap al-Qur’an adalah tanggung jawab umat manusia terutama Umat Islam, sehingga al-Qur’an mampu tampil sebagai konsep yang utuh dan mampu menjawab berbagai problema sosial sepanjang sejarah yaitu keadilan, kesejahteraan, kasih sayang dan perdamaian sebagaimana yang pernah dipraktekan di zaman Nabi Muhammad SAW.
    Tanpa pemahaman utuh atas pola-pola permanen yang ada dalam al-Qur’an, maka perubahan sosial yang dilakukan meskipun diembel-embeli dengan stempel Islam sungguh tidak akan mengakibatkan perubahan radikal.
    Jika setiap diri pribadi manusia dengan pemahaman utuh atas pola-pola permanen yang ada dalam al-Qur’an yang dipraktekkan menurut Sunnah RasulNya, maka setiap diri pribadi manusia tersebut akan menjadi manusia dengan derajat insan al-kamil, sekaligus menjadi manusia yang menggerakan roda kepastian sejarah, menjadi pemimpin revolusi, yang membawa al-Qur’an menrut Sunnah RasulNya pada kesadaran setiap individu manusia ke titik progresif-revolusioner. Setiap manusia melakukan revolusi diri, melakukan revolusi pandangan hidup dari selain al-Qur’an menjadi pandangan hidup yang berdasar al-Qur’an menurut Sunnah RasulNya. Sehingga al-Qur’an benar-benar menjadi cahaya yang mencerahkan lahir batin setiap manusia dalam segala aspeknya. Pada akhirnya terciptalah cita-cita masyarakat yang digambarkan oleh Bung Karno, yaitu sebuah masyarakat yang terdiri dari manusia-manusia beriman dan bertaqwa kepada Allah serta cerdas, manusia mulia yang berderajat insan al-kamil, manusia sempurna yang hidup dengan bahagia di negeri berkualitas baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur. Amiin.
    Usiikum wa nafsi bit taqwallah, barokallahu minna wa minkum,
    jazakumullahu khairan katsira wa billahit taufiq wal hidayah,
    wa laa dzikrullahi akbar,
    wa salaamu alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh.

    Posted by Kulyubi Ismangun | 7 October 2008, 10:04 pm
  2. Menarik sekali membaca komentar Bung Kulyubi Ismangun. Memadukan suatu konsep-konsep yang berasal dari budaya-budaya berbeda tanpa menyaring hakekat-hakekatnya  memang membuat ‘kegairahan’ intelektual menjadi begitu terlihat bersemangat. Ya kalau boleh menduga, bacaan Bung Kulyubi Ismangun memang terbatas pada ilmu-ilmu humaniora yang saat ini didominasi pandangan Marxisme. Apalagi di Yogyakarta, kota geliat para marxis beradu argument.
    Semarang, walaupun kering secara intelektual, tapi saya merasa beruntung dapat tumbuh disini. Setidaknya bacaan2 disini belum terlalu didominasi oleh ideologi-ideologi tertentu—ataupun mungkin tidak cukup tersedia buku-buku keren seperti di Yogya dan sekitarnya. Sehingga masih potensial untuk tumbuhnya pohon-pohon pemikiran alternatif—baik dari budaya arab maupun barat.
    Ya mengenai persepsi kapitalisme yang negatif selama ini, jurnal ini memang memiliki keterbatasannya dalam upaya memberi penjelasan mengenai keunggulan kapitalisme. Apalagi dikaitkan konsep-konsep Islam. Wah seandainya saya dapat memahami Islam secara ‘benar’ barangkali saya akan mencoba ikut berdiskusi dengan keresahan-keresahan Bung Ismangun. Sayangnya, kemampuan saya sangat terbatas mengenai Islam.
    Barangkali adakah orang yang dapat menjawab keresahan-keresahan Bung Ismangun di atas?

    salam

    Posted by Giyanto | 8 October 2008, 8:46 am
  3. Pernyataannya terlalu banyak untuk di sanggah. Keserakahan itu buruk. Eksploitasi berlebihan itu buruk. Tapi perdagangan bebas dan fair itu baik. Perlindungan hak individu itu baik. Mencari keuntungan juga baik. Kesemuanya bisa menjadi komponen kapitalisme. Tapi kenapa kapitalisme begitu dibenci? Mungkin harus baca artikel bung Nad yang sampai seri 12 itu..sampai tamat.

    Posted by fade2blac | 8 October 2008, 8:10 pm
  4. Terima kasih atas komentar yang panjang ini. Pandangan Anda kiranya mewakili keyakinan sebagian besar anggota masyarakat, termasuk sebagian besar pendiri bangsa!

    Salah satu tujuan Jurnal A&K adalah mengkritisi sedalam-dalamnya, klaim-klaim atau opini-opini yang selama ini kita terima, yang tidak harus mutakhir–sebagaimana artikel saya di atas.

    Seperti tersirat dalam tanggapan penanggap sebelumnya, kita akan lebih leluasa sekaligus lebih fokus dalam menanggapi komentar/masukan/pandangan yang masuk, kalau masukan tersebut dikirim ringkas di ruang komentar dan relevan dengan artikel di atasnya. Ini lebih efektif, dan dapat mencegah debat kusir.

    Sekadar info, sejauh ini belum ada artikel saya (kecuali selipan-selipan dari penulis sejawat) yang bersinggungan langsung dengan pemikiran Islam manapun, apalagi yang klop dengan pemahaman Anda ttgnya.

    Selanjutnya saya persilakan bung Kulyubi untuk membaca dan mengomentari artikel-artikel di Jurnal ini.

    Posted by Nad | 9 October 2008, 9:51 am
  5. Yang menarik dari tanggapan Kulyubi adalah tidak ditemuinya 1 pun ayat Quran atau cerita yang diambil dari Quran. Yang ada adalah kata Quran, Islam,……

    Saya meragukan Islam seperti apa yang anda ceritakan, maka saya punya cerita mengenai kematian Umar bin Khattab r.a.

    Umar anti perlindungan tenaga kerja dan pro pasar bebas tenaga kerja:

    Seorang budak Parsi – Abu Lukluk (Fairuz) datang kepada Umar meminta perlindungan karena dia diberi target revenue oleh majikannya yang dianggap memberatkan. Umar menolak untuk turut campur, dan menyuruh menyelesaikan urusan buruh (budak)- majikan antar mereka sendiri, tanpa campur-tangan pemerintah.

    Abu Lukluk kecewa dan sakit hati. Beberapa hari kemudian Abu Lukluk melakukan pembunuhan Umar ketika Umar memimpin sholat subuh.

    Umar Pasar Bebas – Mahar
    Pada jaman Umar (sampai sekarang pun masih) mahar – mas kawin, di jazirah Arab tinggi sekali. Suatu saat Umar bermaksud membatasi mas kawin supaya semua orang secara finansial mampu kawin.

    Tidak lama setelah Umar mengumumkan keputusannya, datang lah seorang wanita kepada khalifah dan berkata:”Hai Umar, amirul mukminin, mahar adalah hak kami dan Allah tidak membatasinya. Kenapa kamu sekarang membatasinya?”

    Akhirnya Umar membatalkan keputusannya.

    Saya mengharap suatu konsep didukung dengan argumennya (hujjah). Dan saya tidak melihat ikhwan Kulyubi melakukannya.

    Salam,

    Posted by imam semar | 9 October 2008, 1:49 pm
  6. Opini publik yg telah mengakar sejak pra-kemerdekaan hingga sekarang memang sangat dipengaruhi doktrin tertentu.   Artikel ini mencoba menguak sebab-sebabnya: http://akaldankehendak.com/?p=66.

    Posted by Nad | 9 October 2008, 9:17 pm
  7. assalamualaikum…bley x citer sket pasal NEO IMPERIALISME..kalo bley citer pasal dia punya maksud,kesan…n citer sket pasal kesanyer …bg la contoh sikit…anta kat email sy..leh x…

    Posted by nik | 10 March 2009, 5:51 am
  8. Menanggapi Imam Semar
    Persoalan Umar bin Khattab, itu sudah muncul sejak hari wafatnya Rasulullah SAW, dimana suksesi dalam sejarah Islam pasca Rasulullah sudah dimulai dengan gejolak politik. Terpilihnya Abu Bakar sebahgai khalifah pertama pun tidak melibatkan Ali bin Abu Thalib, padahal beliau adalah orang terdekat Nabi Muhammad SAW.

    Jadi, secara alur kesejarahan, keabsahan metodologi suksesi dalam sejarah Islam pun telah membawa problem besar dalam Islam di kemudian hari. Tidak heran kalau sekapasitas Umar bin Khattab pun di kemudian hari seperti yang ditegaskan oleh saudata Imam Semar.

    Perlu sebuah pelacakan fakta sejarah yang sejujurnya untuk mengungkap hal-hal tersebut.

    Posted by Kulyubi Ismangun | 17 April 2009, 6:09 pm

Komentari

Arsip Bulanan

Rekomendasi

buku_rothbard.jpg
Apa Yang Dilakukan Pemerintah Terhadap Uang Kita?; Oleh: Murray Newton Rothbard; PT. Granit, Yayasan Obor Indonesia; ISBN : 97897916217 -4-8; tersedia di toko-toko buku terdekat. (Intip cuplikannya).
alt text
Membela Kapitalisme Global; Oleh: Johan Norberg; FNS Jakarta; tersedia di toko-toko buku terdekat. (Baca resensinya di sini).
Economic  Activism Blogs - Blog Catalog Blog Directory
%d bloggers like this: