Featured

The United Socialist Banana States of America

Oleh: Imam Semar
Jurnal Kebebasan: Akal dan Kehendak
Vol. II, Edisi 26, Tanggal 21 April 2008

Pengantar: Pemahaman akan intervensionisme pemerintah terhadap perekonomian adalah kunci utama untuk memahami sumber persoalan perekonomian di dunia saat ini. Silakan buka lembaran tentang ekonomi di surat-surat kabar; isinya hampir melulu laporan tentang manuver-manuver politik, bukan tentang kiprah dunia bisnis oleh pelaku bisnis. “Kelumrahan” ini sepertinya menunjukkan bahwa intervensionisme tidak perlu kita persoalkan lagi; namun, ini semacam kekeliruan berpikir tersendiri. Sering disebut sebagai ideologi Jalan Ketiga atau doktrin Jalan Tengah yang dirangkul banyak negara dalam rangka menolak kapitalisme dan menepis sosialisme, intervensionisme adalah doktrin yang tidak stabil dan mustahil. Cepat atau lambat, perangkulnya hanya akan terpojok ke sudut merah, alias ke kutub sosialisme. Nah, artikel berikut memperlihatkan bahaya intervensionisme. Dengan lugas dan menarik penulisnya mencermati bagaimana Amerika, sebagai satu-satunya negara adidaya yang sejak Perang Dunia I semakin intervensif, berevolusi menuju sosialisme. [ ]

Amerika Serikat (USA) sekarang lebih pantas disebut USSA, atau United Socialist States of America.

Penyelamatan Bear Stearns, usaha-usaha untuk menolong pemberi kredit perumahan yang macet, dan pencegaan penyitaan aset-aset milik debitur adalah sifat khas negara sosialis. Akan lebih tepat lagi kalau istilah baru tersebut ditambahi kata “Banana” menjadi: The United Socialist Banana States of America. Karena negara-negara bagiannya dan pemerintahan pusat atau federalnya selalu mengalami defisit belanja, defisit berjalan, peraturan yang berubah-ubah, pelanggaran konstitusi.

The Fed sebelum kasus Bear Stearns hanya boleh berurusan dengan bank-bank bukan prime dealers, seperti Bear Stearns. Walaupun melalui JP Morgan, esensinya tetap sama: bahwa the Fed menolong Bear Stearns. Mengubah-ubah peraturan seenak udel adalah ciri khas negara pisang goreng (Banana Republic). Jadi kalau namanya menjadi The United Socialist Banana States of America, benderanya perlu ditambahi palu arit.

Seperti umumnya Republik Pisang atau Republik Sosialis, negara demikian biasanya akan berakhir dengan kemelaratan dan kemudian terjadi pembalikan arah. Rusia dan Cina untuk bisa maju saat ini harus melakukan transformasi menjadi pasar bebas. Hak kepemilikan, kebebasan berusaha dan pengurangan campur tangan pemerintah dalam ekonomi menjadi dasar tercapainya kemakmuran. Deng Xiong Ping mengubah Cina pada dekade 70-an. Juga Mikhail Gorbachev melakukan glastnost dan perestroika pada dekade 80-an. Hasilnya baru tampak sekarang.

Perilaku sosialisme dan intervensi pemerintah dalam sektor ekonomi adalah perilaku sistem yang menghambat terciptanya kemakmuran. Sosialisme membebani pelaku ekonomi yang produktif dan menghadiahi/menolong pelaku ekonomi yang salah dan tidak produktif. Insentif untuk berbuat benar dan produktif menjadi berkurang. Bear Stearns, yang jelas melakukan tindakan bisnis yang salah dan terlalu agresif dalam pengelolaan resiko, sudah sewajarnya ambruk. Menolong Bear Stearns, atau Northern Rock ataupun perusahaan lainnya dari kebangkrutan bukan berarti pemerintah (the Fed dalam hal ini badan yang terkait dekat dengan pemerintah) yang membantu Bear Stearns, melainkan para pembayar pajak, penabung, dan pemegang dolar AS yang “berkorban” untuk Bear Sterns.

Nilai dolar AS dan mata uang kertas lainnya pada umumnya akan mengalami erosi. The Fed dan bank-bank sentral tidak tahu secara pasti dampak tindakannya (ke-tidak-bijaksanaannya). Apa yang dilakukan the Fed adalah usaha-usaha reflasi dengan memasok good money/kredit yang likuid (US Treasury) untuk menggantikan bad money/kredit (ABS, Asset Backed Securities) yang tidak likuid. Beberapa bahan komoditi yang beberapa waktu lalu sudah menujukkan gejala bearish dan akan mengalami koreksi, seperti tembaga, selama 2-3 minggu ini kembali menunjukkan gejala bullish dan membuat rekor harga tertinggi baru: $4000/lb. Demikian juga dengan aluminium. Saya tidak yakin hal ini karena meningkatnya permintaan, melainkan hanya aksi spekulasi saja. Karena logam dasar lainnya seperti nikel dan seng tidak membuat rekor harga baru.

Penggelontoran likuiditas oleh the Fed bersama bank-bank sentral dunia memicu spekulasi tidak hanya di sektor real estate tidak hanya di US dan di banyak negara di dunia melainkan juga tindakan-tindakan spekulasi berisiko lainnya. Lindung nilai (hedging) yang tujuan awalnya mengurangi risiko berubah menjadi usaha spekulasi yang penuh risiko karena pengungkit (leverage) yang digunakan terlalu tinggi. Kasus subprime mortgage di AS adalah buah dari pengglontoran likuiditas oleh Alan Greenspan sejak tahun 2003. Korbannya tidak hanya di AS, melainkan mengglobal. Yang terakhir menjadi korban adalah runtuhnya Opes Prime, Australia.

Komentar terakhir di artikel ini: “The poor old Opes Prime investors have done nothing wrong except pick the wrong margin lender.” Masih dalam berita yang sama: “David Regenspurger is the personal face of the Opes Prime collapse. He turns 40 in a few weeks, has a wife and two children under five, and in the past week watched his net worth sink from more than $400,000 to $5000.”

Nasib para investor Opes Prime sama dengan nasib para penabung atau para pemilik uang rupiah pada tahun 1998-1999. Daya beli rupiah merosot tajam, hanya menyisakan nilai 20% saja hanya dalam kurun waktu 1 tahun.

Hari Jumat 11 April 2008, pasar jatuh. Dow Industrial turun -256.7 poin. Pasalnya, keuntungan General Electric (GE) meleset dari perkiraan dan GE juga menurunkan target pemerimaannya untuk tahun depan. Chief Executive Officer GE, Immelt, menyalahkan situasi di pasar modal:

Immelt blamed the earnings decline on a seize-up in capital markets that forced GE to write down the value of loans and Chinese securities it held and thwarted some asset sales in the quarter’s final two weeks. The situation worsened after the Federal Reserve announced a rescue of Bear Stearns Cos. on March 14, the day after he had confirmed his annual earnings forecast on a Webcast with investors.

The Fed’s action created “a different world” in financial markets, Immelt said today. GE is trying to sell its U.S. credit card and Japanese consumer finance divisions.

Komentarnya mengenai the Fed: “The Fed’s action created “a different world” in financial markets“, entah apa maksudnya. Seperti halnya General Motor, GE pun sudah berubah. GE tidak lagi hanya bergerak dalam bidang pembuatan mesin-mesin tetapi juga dalam bidang finansial dan bidang-bidang lainnya.

Warna the Fed dan para kandidat presiden AS–apakah itu Obama, Hillary Clinton, MacCain sama saja, yaitu sama-sama pendukung sosialisme. Program-program yang ditawarkan sangat kental berbau sosialisme: perumahan murah, bantuan untuk penunggak kredit perumahan, kesejahteraan sosial. Hidup menjadi tidak nyaman lagi di AS bagi mereka yang mencari the American Dream. Pajak dan beban-beban lainnya akan semakin berat bagi mereka yang produktif. Regulasi semakin banyak (seperti di Indonesia, atau di Soviet). Di masa depan, saya yakin akan semakin banyak orang yang produktif akan berimigrasi keluar AS. Beberapa teman saya, para ekspatriat, sudah memilih Thailand sebagai tempat pensiunnya. Alasannya karena masalah finansial. Bagi saya sudah jelas, AS akan menjadi United Banana Socialist States of America.

Kemelaratan Global Meningkat

Selama 2-3 minggu terakhir ini banyak demonstrasi protes atas kenaikan harga pangan dan ke-tidak-bijakan pemerintah atas pangan secara global. Di Haiti, 6 orang mati tertembak. Juga di Mesir dan Argentina. Walaupun tidak bisa dikategorikan protest atas kenaikan harga pangan, demonstrasi di Tibet bisa jadi dilatarbelakangi oleh tekanan hidup yang semakin sulit. Larangan ekspor beras/pangan di Filipina, Myanmar, Vietnam, Argentina diberlakukan oleh pemerintah negara-negara tersebut dalam menanggapi kenaikan harga pangan. Indonesia memberlakukan domestic market obligation untuk minyak sawit.

Demonstrasi-demonstrasi ini tidak terkait secara langsung dengan penyelamatan Bear Stearns oleh the Fed. Tetapi lebih banyak karena ke-tidak-bijaksanaan pemerintah dunia melakukan ekspansi kredit dan subsidi pangan di masa lalu. Selama bertahun-tahun sektor pertanian menjadi sektor usaha yang tidak menarik dan perlahan-lahan ditinggalkan para pelaku ekonomi (petani) yang lebih suka melakukan urbanisasi mencari kerja di kota.

Dan akhirnya inilah akibatnya. Tetapi hal ini hanya sebagian kecil penyebabnya. Yang paling besar adalah turunnya kemakmuran dan daya beli kelas menengah dan bawah dari masyarakat akibat menurunnya nilai gaji atau penghasilan karena tidak bisa mengimbangi inflasi (pertambahan jumlah uang yang beredar). Perkebunan kelapa sawit terus berkembang pesat dan produksi juga meningkat, tetapi harga tetap naik. Ada faktor non-pasar yang mempengaruhi, yang tentunya inflasi.

Pemerintah-pemerintah dunia tidak bisa belajar, atau memang tidak perduli, bahwa mereka tidak bisa menciptakan kemakmuran. Lebih baik tidak memperburuk keadaan dengan membuat birokrasi dan struktur politik yang meraksasa dan tidak produktif. Tentunya hal ini akan membebani kelompok masyarakat yang produktif. Semakin dikontrol, diregulasi, semakin memburuk keadaan.

Ambil contoh masalah BBM rakyat di Indonesia. Tataniaga BBM diregulasi, dimonopoli oleh pemerintah. Awalnya minyak tanah adalah BBM murah untuk rakyat. Ini berlangsung sudah beberapa dekade. Kemudian dianjurkan pindah ke LPG karena “subsidinya” semakin berat. Saya beri tanda kutip pada kata subsidi, karena pemerintah tidak pernah memberikan subsidi; yang disebut subsidi hanyalah menyamarkan uang pengembalian pajak. Dicabutnya subsidi minyak tanah ini karena pemerintah ingin menggunakan penerimaan pajak ke arah kegiatan lain yakni berkaitan dengan membengkaknya birokrasi akibat demokrasi dan desentralisasi. Ketika ketidak-bijakan PLG diterapkan, di Jakarta dan sekitarnya, minyak tanah langka dan LPG juga langka.

Kalau campur-tangan pemerintah dalam sistem yang diregulasi bisa memberikan kemakmuran, maka Kuba sudah lama menjadi negara yang makmur. Kalau subsidi bisa memberikan kemakmuran, Indonesia, Soviet dan negara-negara komunis dulu bisa makmur. Negara-negara komunis seperti Cina, Russia, Polandia malah memilih deregulasi dan pasar bebas setelah tahun 1980an untuk mencapai kemakmuran.

Sayangnya, di sistem demokrasi pada calon “pemimpin” harus menjanjikan sesuatu supaya bisa terpilih. Janji seperti: “Kemakmuran dan nasib anda ada di tangan anda sendiri. Kalau saya jadi presiden saya tidak bertanggung jawab atas kemakmuran anda”, tidak akan laku. Anda tidak akan terpilih kalau mengatakan yang sebenarnya. Dan sebenarnya para politikus calon pemimpin itu tidak tahu bagaimana menyelesaikan masalah kemakmuran. Kalau mereka tahu, semua negara demokrasi seperti India, sudah makmur sejak tahun 1950. Herannya Indonesia mengikuti jejak India itu, bukan Hong Kong di tahun-tahun 1970 – 1990; masa kemakmurannya atau Singapore.

Di bawah ini saya ambilkan foto-foto dari beberapa situs untuk mengingatkan kita pada lingkungan kita

alt textFoto 1 Antri jatah makanan di AS, seperti di Soviet dulu

alt textFoto 2 Demonstran di Argentina melakukan pembakaran gedung

alt textFoto 3 Demo di Mesir

alt textFoto 4 Suasana Port au Prince, Haiti, sebelum dan setelah demonstrasi selesai

alt textFoto 5 Setelah aksi protes di Haiti

alt textFoto 6 Memunguti makanan yang tercecer di Irak

alt textFoto 7 Protes di Indonesia (Kompas)

Tidak semua tempat atau lokasi mengalami kesulitan ekonomi. Masyarakat yang terisolasi dari sistem pemerintahan tidak mengalami kesulitan pangan. Masyarakat Badui Banten, yang tidak punya dan tidak perduli anggota DPRD, Bupati; perekonomiannya relatif terisolasi dari pengaruh bank sentral dan uang kertas, tidak akan terpengaruh oleh gejolak harga pangan. Puun, atau pemimpin masyarakat Badui, masih ikut bertani, tidak perlu dikawal atau hidupnya dibiayai oleh anggota masyarakatnya. Ini tidak seperti para bupati, gubernur dan presiden atau anggota DPR(D). Pengaruh uang kertas dalam ekonomi masyarakat seperti ini sangat sedikit. Sebagian besar kegiatan ekonomi dilakukan dengan asset riil, bukan uang kertas yang bisa dipermainkan para politikus. [ ]

* Imam Semar, pengelola blog Ekonomi Orang Waras dan Investasi dan KlubSaham.com. Artikel di atas dicuplik atas ijin darinya. Bagian tentang Update Market tidak disertakan atas pertimbangan relevansi. Artikel ini telah disunting seperlunya tanpa mengubah kandungan isi maupun sudut pandang pengarangnya. Hak cipta artikel ini ada pada penulisnya.

( Jurnal Kebebasan: Akal dan Kehendak, Vol. II, Edisi no. 26, April 2008 )

Kirim artikel ini:
Share on FacebookTweet about this on TwitterShare on Google+Email this to someoneShare on RedditShare on StumbleUpon

Tulisan lain yang mungkin terkait:

Discussion

2 comments for “The United Socialist Banana States of America”

  1. Jadi begitulah wajah Om Sam sekarang ini : sosialisme yang malu-malu hehehe…

    Terima kasih untuk artikel yang bernas dan gamblang ini. Aku juga mengikuti perkembangan krisis pangan duniai; tapi masih dalam taraf belajar mengerti.

    Pada akhirnya, diskusi masalah ekonomi akan buntu pada resolusi-resolusi teknis belaka, karena orang enggan memikirkan ulang sistem ekonomi yang sekarang dianut dunia. Sebenarnya tak penting-penting amat soal label kapitalis atau sosialis; karena bisa mengaburkan sejumlah masalah yang sudah kita kenali dan mulai bisa dipetakan.

    EF Schumaher selalu aku jadikan rujukan di saat aku tergoda polarisasi kapitalis vs sosialis; karena aku menyadari keterlanjuran sistem ekonomi yang kita anut tidak memungkin lagi untuk dibereskan lewat revolusi”–dan memang tidak ada pengikut gagasan ini.

    Supaya lebih mengerucut, khusus untuk Indonesia tercinta tampaknya pilihan yang dekat dan realistis adalah kembali ke akar kita sebagai petani. Tutup itu semua industri yang tidak efisien dan tidak kompetitif, pertahankan yang bagus-bagus saja; lalu kita bergelut lagi dengan tanah dan mulai menekuni agro industri.

    Buat apa mimpi menjadi produsen pesawat terbang, tapi nyatanya tidak efisien. tidak kompetitif; dan terganjal oleh hegemoni industri negara-negara maju. Apakah kita kurang bangga kalau menjadi produsen bahan pangan dan food industries nomor satu di dunia ?

    Tolong ditanggapi dan dikoreksi, karena jujur saja aku sangat awam mengenai masalah ekonomi. Terima kasih.

    Salam Merdeka
    dari anak tani yang jadi jongos industri komprador

    Posted by Robert Manurung | 29 April 2008, 11:47 am
  2. “Sebenarnya tak penting-penting amat soal label kapitalis atau sosialis; karena bisa mengaburkan sejumlah masalah yang sudah kita kenali dan mulai bisa dipetakan.”

    Anda berhak mengganggap ini cuma soal label, karena memang begitu kalau dilihat sebatas pemandu pemahaman. Tapi ojo lali, esensinya bukan pada identifikasi masalah, melainkan pada landasan pemikiran yang menentukan cara penyelesaian.

    “…pilihan yang dekat dan realistis adalah kembali ke akar kita sebagai petani. Tutup itu semua industri yang tidak efisien dan tidak kompetitif, pertahankan yang bagus-bagus saja; lalu kita bergelut lagi dengan tanah dan mulai menekuni agro industri.”

    Soal yang paling krusial adalah siapa yang berhak merencanakan ini semua. Siapa yang berhak menentukan ini semua.

    Tentang Schumacher yang satu ini saya belum mau komentar. Yang saya ketahui dia adalah seorang planner yang dekat dengan Keynes, jadi kurang lebih dapatlah saya meraba-raba seperti apa pemikirannya. Tapi sekarang saya memang lagi baca bukunya: A Guide for the Perplexed (www.mediafire.com/?221cugxlgbz.)

    Posted by Nad | 30 April 2008, 10:47 am

Komentari

Arsip Bulanan

Rekomendasi

buku_rothbard.jpg
Apa Yang Dilakukan Pemerintah Terhadap Uang Kita?; Oleh: Murray Newton Rothbard; PT. Granit, Yayasan Obor Indonesia; ISBN : 97897916217 -4-8; tersedia di toko-toko buku terdekat. (Intip cuplikannya).
alt text
Membela Kapitalisme Global; Oleh: Johan Norberg; FNS Jakarta; tersedia di toko-toko buku terdekat. (Baca resensinya di sini).
Economic  Activism Blogs - Blog Catalog Blog Directory