Uncategorized

Selingan: Pelajaran dari Dunia Tumbuhan

Oleh: Sukasah Syahdan
Jurnal Kebebasan: Akal dan Kehendak
Vol. II, Edisi 28, Tanggal 05 Mei 2008

Hilangnya rimba belantara digantikan kota besar dengan segala kenyamanan yang ditawarkan pada dasarnya tidak mengubah karakter sejati kehidupan, tapi hal ini tidak jarang kita lupakan.

Sejak ratusan abad silam hingga di jaman sekarang dan juga kelak di abad-abad mendatang, semua makhluk hanya bisa bertahan hidup dengan cara mengatasi kondisi alam kewat proses-proses pengubahan, adaptasi dan produksi. Semua ini bermula di benak individu sebagai rencana-baik secara mendetil, intuitif ataupun asal-asalan.

Berikut ini cuplikan dari sebuah novel seorang penulis Amerika yang mungkin tidak dikenal di negeri kita. Namanya Garet Garett. Yang menarik, tokoh utamanya adalah pohon gandum. Saya tidak tahu apa yang menggerakkan saya untuk menerjemahkannya sekian waktu yang lalu–tunggu, saya ingat: ini ada kaitannya dengan program moral-sosial.

Anggap saja sebagai selingan….

QUOTE:

Ia berjalan ke pagar dan memetik sehelai daun dari semak bramble. Begitu kembali ia sempat memotong sebatang ranting elm yang menjuntai di atas kepalanya. Lalu ia berpaling ke arah mereka.

“Pohon elm yang tumbuh alami ini,” ia mulai bicara, tatapannya kepada pohon itu penuh kekaguman, “dulunya amat kecil. Seekor domba bisa saja menghabisinya dalam sekali santap. Ia hidup dikelilingi oleh makhluk-makhluk jahat dan mengancam hidupnya. Tapi pohon ini selamat. Sekarang dia tinggal memetik keuntungannya. Dia telah tumbuh tinggi dan kuat, tidak terjangkau lagi oleh musuh-musuhnya.

Apa gerangan yang telah menyelamatkannya-apakah itu kiat-kiat pemasaran kolektif? Siapa yang memberinya kekuatan-undang-undang parlemenkah? Aturan emas mana yang membuatnya tumbuh utuh? Dan di atas landasan apakah kekuatannya terletak-solidaritas persaudaraankah?

Kalian tentunya tahu lebih baik. Naluri kalian mengatakan, tidak, bukan itu jawabannya. Pohon ini telah menyelamatkan dirinya sendiri. Dia menemukan kekuatannya sendiri. Caranya? Dengan berjuang. Apa kalian tahu bahwasannya setiap tumbuhan harus bertarung demi hidupnya? Andai kita bisa menyaksikan perang abadi di antara mereka, maka lanskap yang kelihatannya indah ini akan membuat kita bergidik ngeri. Dibandingkan dengan perjuangan mereka, perjuangan manusia tidak ada apa-apanya. Saya akan perlihatkan sedikit.

alt text Pohon dan daun Elm

“Ini daun elm. Bentuknya pipih dan tipis, untuk suatu alasan. Tugas damai daun ini demi hidupnya adalah mengumpulkan gizi dari udara. Itu sebabnya daun ini harus tumbuh selebar mungkin untuk menyerap udara. Tapi daun ini juga punya tugas lain. Tugas alami yang berat, yaitu bertarung. Untuk itu ujungnya runcing seperti kalian lihat, dan sekelilingnya bergerigi-lihat ini. Hal pertama yang harus dilakukan anak pohon elm adalah tumbuh melesat secepat lembing dengan menggulung rapat-rapat dedaunannya, agar musuh-musuhnya tidak menyadari hal ini. Kelak dalam sekejap daun-daunnya akan merekah dan menyerang tumbuhan lain dengan geriginya; dia akan mengeyahkan tetumbuhan lain; menenggelamkan mereka; memaksa mereka agar berada di bawah sinar matahari. Inilah sang pohon ketika besar!

Tapi apa pernah terpikir oleh kalian mengapa pohon elm tidak mendominasi bumi? Sebab tumbuhan lain pun melawan balik, masing-masing dengan caranya masing-masing. Saya perlihatkan kalian sehelai rumput. Ini. Dia tidak bergerigi. Jadi bagaimana dia bertarung? Apa mungkin dia tumbuh dengan cinta dan kenyamanan? Tidak; dia tumbuh cepat secara diam-diam. Tidak banyak ruang yang yang diambilnya, jadi yang lain tidak keberatan. Pada saatnya, ia akan tumbuh melesat dan cukup kuat untuk menghunuskan bilah-bilah daunnya ke segala arah, dan menundukkan tumbuhan lain. Dia akan mencekik lawan-lawannya sampai mati.

alt text Semak bramble

Lalu lihat semak belukar ini, bramble. Saya peduli dengannya bukan karena dia juga tukang bertempur. Tapi untuk alasan lain. Yang ini adalah senjata pamungkasnya. Di samping ujung tombak runcing dan geriginya, daun bramble seperti kalian lihat terdiri atas lima bagian, persis tangan manusia. Dia memang semacam tangan dengan jenis cengkeraman yang sulit dilepaskan. Ketika dia tidak mampu menundukkan dan membunuh musuh-musuhnya sebagaimana cara pohon elm, dia akan merambat menuju cahaya dan udara, dan ini kesempatan yang disukainya; dia memetik keuntungan tidak dengan bertempur langsung, tetapi dengan kecerdikan, seperti halnya para makelar.

alt text Honey suckle

Sebenarnya saya mau perlihatkan juga satu jenis tumbuhan lain dari sekitar sini; tapi sayangnya, ini tidak bisa saya lakukan mengingat kondisi sekarang. Namun namanya cukup dikenal: honey suckle. Tubuhnya ramping, cantik dan cemerlang, tapi kalian tidak akan menyadari tabiat alaminya, yaitu sebagai spekulan. Sekali tercengkeram olehnya, habislah sudah. Jika Anda tidak menenggelamkan atau mencekiknya duluan, maka dia yang akan menjerat Anda. Tanaman ini akan melilitkan dirinya sendiri ke tubuh lawannya, yang lalu akan ia cekik.”

“Perjuangan keras ini universal dalam kehidupan tumbuhan. Tidak ada pengecualian. Perjuangan di dunia binatang tidak seberat perjuangan di tumbuhan, sebab hewan bisa lari dari satu sama lain. Tapi tumbuhan harus bertarung di tempat di mana dia hidup. Dia harus hidup atau mati di tempat. Sesama tumbuhan pun saling bersaing. Yang lemah akan kalah lalu mati; yang lebih baik akan selamat. Ini prinsip seleksi alam. Tetapi semua tumbuhan yang sejenis bertarung dengan cara yang sama terhadap tumbuhan jenis-jenis lain. Ini kaidah dari kekuatan mereka. Tidak ada yang mendapat pertolongan, selain dia yang duluan menolong dirinya sendiri. Ras tumbuhan yang cuma menantikan jatah cahaya dan udara dari Parlemen, atau yang menunggu dikelola lewat kebijakan-kebijakan biro negara lewat agen-agen sewaannya, atau yang termakan bujukan bahwa mereka semua memiliki kepentingan yang sama dengan konsumen, akan sudah lama punah dari muka bumi.

“Petani itu ibarat tumbuhan. Ia tidak bisa lari. Ia mengakar. Ia musti hidup, atau mati di tempat. Tapi tak satu tumbuhan bernasip serupa dengan petani. Di sekeliling petani ada bangsawan, preman, pekerja kasar, parasit, pelacur, spekulan, bankir, pencuri dan cecunguk, yang semuanya juga dikenal dalam dunia tumbuhan; tapi di sekitar tumbuhan tidak ada orang bodoh yang bertanya, “Anda mau lepas berapa?” dan “Berapa besar bagian yang akan Anda ambil?” Hingga kalian berjuang sebagaimana pohon elm berjuang, mengambil sebagaimana pohon elm mengambil bagiannya, dan berpikir sebagaimana pohon elm berpikir, kalian tidak akan pernah menjadi kuat ataupun bijaksana.”

: UNQUOTE

(Garet Garret, Satan’s Bushel, hal. 72-75, Hak Cipta E. P. Dutton & Company, 1924)

Kirim artikel ini:
Share on FacebookTweet about this on TwitterShare on Google+Email this to someoneShare on RedditShare on StumbleUpon

Tulisan lain yang mungkin terkait:

Discussion

2 comments for “Selingan: Pelajaran dari Dunia Tumbuhan”

  1. Hellowww….. mau tanya saluran resin tu apa???

    Makaci

    Posted by Siwi Aji P | 5 January 2009, 9:23 pm
  2. Kemungkinan besar artinya kanal/saluran aliran cairan getah pohon.

    Posted by Nad | 6 January 2009, 7:58 am

Komentari

Arsip Bulanan

Rekomendasi

buku_rothbard.jpg
Apa Yang Dilakukan Pemerintah Terhadap Uang Kita?; Oleh: Murray Newton Rothbard; PT. Granit, Yayasan Obor Indonesia; ISBN : 97897916217 -4-8; tersedia di toko-toko buku terdekat. (Intip cuplikannya).
alt text
Membela Kapitalisme Global; Oleh: Johan Norberg; FNS Jakarta; tersedia di toko-toko buku terdekat. (Baca resensinya di sini).
Economic  Activism Blogs - Blog Catalog Blog Directory
%d bloggers like this: