Uncategorized

F. A. Hayek: Intelektual dan Sosialisme (1)

Oleh: Friedrich August von Hayek
Jurnal Kebebasan: Akal dan Kehendak
Vol. I, Edisi 4, 24 April 2007

Pengantar:

alt textFriedrich Hayek

Melalui artikel bersambung ini kita mencoba memahami para intelektual dan peran penting yang mereka mainkan dalam mempopulerkan gagasan. Tulisan seorang pemikir/ekonom besar abad lalu, yaitu Friedrich August von Hayek, mencoba menjelaskan mengapa para intelektual cenderung tertarik pada sosialisme.

Hayek adalah seorang ekonom liberal-klasik mazhab Austria yang juga banyak menulis tentang masalah-masalah hukum, psikologi, dan politik. Ia dikenal atas pikirannya yang agak rumit dan gaya penuturannya yang panjang dan ”menantang”. Bahasa ibunya adalah Jerman; di paruh terakhir kehidupannya ia baru menuliskan karya-karyanya dalam bahasa Inggris.

Jurnal Akal & Kehendak mencoba mengatasi tantangan linguistik dan stilistika dengan menerjemahkan artikel yang ditulis Hayek pada tahun 1949 dengan judul asli The Intellectuals and Socialism, ke dalam bahasa Indonesia secara lengkap, dan sedapat mungkin mempertahankan gaya aslinya, yaitu gaya Hayek.

Salam, Editor

INTELEKTUAL DAN SOSIALISME*

Oleh F.A. Hayek

Di semua negara yang demokratis, terutama di Amerika Serikat, ada keyakinan yang kuat dan mengemuka bahwa pengaruh kelompok intelektual terhadap politik tidak signifikan. Tanpa keraguan, memang benar, begitulah kekuatan kelompok intelektual dalam mempengaruhi berbagai keputusan melalui opini-opini mereka yang asing pada suatu momen, dan memang sejauh itulah tingkat pengaruh mereka pada suara populer terhadap pertanyaan-pertanyaan di mana pandangan mereka berbeda dari pandangan massa. Namun dalam periode yang lebih panjang pengaruh kelompok intelektual di negara-negara tersebut mungkin belum pernah sebesar saat ini. Kekuatan ini mereka kerahkan melalui pembentukan opini publik.

Yang cukup menarik dari sudut pandang sejarah saat ini adalah bahwa kekuatan yang menentukan dari para dealer profesional pemasar gagasan-bekas ini masih belum disadari secara umum. Selama seratus tahun terakhir perkembangan politik di Dunia Barat memberi contoh yang paling jelas. Sosialisme tidak pernah, di manapun, bermula sebagai gerakan kelas pekerja. Dia tentu saja bukan obat yang jelas bagi keburukan yang gamblang yang harus dituntut oleh kepentingan kelas tersebut. Dia adalah hasil konstruksi para teoris, yang telah menurunkannya dari kecenderungan tertentu dari pikiran abstrak yang telah sejak lama hanya dikenal oleh kelompok intelektual; dan perlu upaya panjang dari kelompok intelektual tersebut sebelum kelas-kelas pekerja dapat terbujuk untuk mengadopsinya sebagai program mereka.

Di setiap negara yang telah bergerak menuju sosialisme, fase pembangunan di mana pengaruh sosialisme menentukan politik, telah didahului bertahun-tahun sebelumnya oleh periode di mana ideal-ideal sosialis mengatur pemikiran kelompok intelektual yang lebih aktif. Di Jerman tahap ini telah tercapai menjelang akhir abad lalu; di Inggris dan Prancis, pada sekitar Perang Dunia pertama. Bagi pengamat yang kasual akan tampak sepertinya Amerika Serikat telah mencapai tahap tersebut setelah Perang Dunia kedua dan bahwa daya tarik sistem ekonomi terencana dan terarah kini sama kuatnya di antara kelompok intelektual Amerika dengan sesama sejawat mereka di Jerman atau Inggris. Pengalaman menunjukkan bahwa, begitu fase ini dicapai, hanya masalah waktu saja hingga pandangan-pandangan yang kini dianut kelompok intelektual akan menjadi kekuatan yang mengendalikan politik.

Karakter dari proses bagaimana pandangan kelompok intelektual mempengaruhi politik hari esok oleh karena itu menjadi lebih dari sekadar kepentingan akademis. Apakah kita hendak meramalkan saja atau ingin mempengaruhi jalanannya suatu peristiwa, ini adalah sebuah faktor yang nilai pentingnya jauh lebih besar daripada yang umumnya dipahami. Apa yang bagi pengamat kontemporer terlihat seperti pergumulan konflik berbagai kepentingan seringkali telah diputuskan jauh sebelumnya dalam pertarungan ide-ide yang terbatas pada sejumlah lingkaran sempit saja. Namun demikian, secara cukup paradoks, umumnya hanya partai-partai Kiri saja yang telah melakukan hampir segala hal dalam menyebarkan keyakinan mereka bahwa kekuatan numerikal dari kepentingan material yang bertentangan-lah yang menentukan isu-isu politik, sementara dalam praktiknya partai-partai yang sama ini telah secara teratur dapat bertindak seolah mereka memahami posisi kunci yang dimainkan kelompok intelektual. Apakah sesuai rancangan ataukah digerakkan oleh kekuatan keadaan, mereka selalu mengarahkan daya-upaya utama mereka untuk mendapatkan dukungan dari “elit” ini, sedangkan kelompok-kelompok yang lebih konservatif juga telah bertindak, meski secara teratur namun gagal, berdasarkan pandangan yang lebih naif mengenai demokrasi massa dan biasanya gagal dalam upaya mereka yang diarahkan secara langsung untuk merangkul dan membujuk pemilih individual.

Namun demikian, istilah “kelompok intelektual” tidak seketika menyampaikan gambaran yang benar tentang satu kelas besar yang sedang kita acu ini; kenyataan bahwa kita tidak memiliki istilah lain yang dengan lebih baik dapat memerikan mereka yang kita sebut sebagai para dealers ide-ide bekas sama sekali bukanlah alasan mengapa kekuasaan mereka tidak dipahami. Bahkan mereka yang memakai kata “intelektual” terutama untuk tujuan abusif masih cenderung menahan diri di hadapan banyak orang yang, tidak diragukan lagi, menjalankan fungsi karakteristik tersebut. Yang dianggap kelompok intelektual di sini bukanlah para pemikir orisinil, para ilmuwan ataupun para pakar di bidang pemikiran tertentu. Seorang intelektual biasanya tidak perlu menjadi salah satu dari mereka: seorang intelektual tidak perlu memiliki pengetahuan khusus, juga bahkan tidak perlu cerdas, untuk dapat menjalankan perannya sebagai perantara dalam hal penyebaran gagasan. Kualifikasi yang diperlukan untuk tugasnya adalah sekisaran luas permasalahan yang dapat ia kemukakan atau tuliskan, serta dimilikinya posisi atau kebiasaan yang membuatnya dapat berkenalan dengan gagasan-gagasan baru lebih awal daripada mereka yang menjadi target pembicaraannya.

Hingga semua profesi dan aktivitas kelompok ini mulai dituliskan ke dalam sebuah daftar, tidak mudah untuk menyadari betapa panjangnya daftar tersebut, betapa cakupan kegiatan mereka telah meningkat secara konstan dalam masyarakat modern, dan betapa tergantungnya kita semua pada daftar semacam itu. Sebagai kelas atau kelompok tersendiri, mereka tidak cuma terdiri atas para jurnalis, guru, menteri, dosen, penerbit, komentator radio, penulis fiksi, kartunis, dan artis yang semuanya mungkin merupakan maestro dalam hal penguasaan teknik penyampaian gagasan namun biasanya amatir dalam hal substansi yang mereka sampaikan. Kelas ini juga mencakup banyak profesional dan teknisi lain, seperti ilmuwan dan dokter, yang oleh karena kebiasaan bergaul dengan teks telah membuat mereka menjadi pembawa gagasan baru ke luar bidang mereka sendiri, dan yang karena pengetahuan keahlian mereka di bidangnya masing-masing, didengar dengan penuh hormat oleh kebanyakan orang. Tidak banyak yang dipelajari oleh orang awam dewasa ini tentang suatu peristiwa atau gagasan kecuali melalui medium kelas ini; dan di luar bidang-bidang khusus pekerjaan kita, dalam hal ini hampir semuanya kita tergolong khalayak awam, yang untuk berbagai informasi dan instruksi, tergantung pada mereka yang telah memilih pekerjaan mereka sebagai penyambung lidah. Dalam hal ini kelompok intelektual-lah yang menentukan pandangan atau opini apa saja yang akan mencapai kita, fakta mana yang cukup penting untuk disampaikan kepada kita, serta dalam bentuk dan sudut apa presentasinya harus disajikan. Akankah kita pernah memahami karya pakar atau pemikir orisinilnya, hal ini tergantung terutama pada keputusan mereka.

Orang awam, barangkali, bahkan tidak sepenuhnya menyadari sejauh mana popularitas ilmuwan dan sarjana*) dibentuk oleh kelas tersebut dan dipengaruhi, tanpa terhindarkan, oleh pandangan kelas tersebut mengenai hal-hal yang tidak banyak kaitannya dengan sumbangsih pencapaian sejati mereka. Dan hal ini terutama signifikan bagi persoalan kita bahwa setiap sarjana mungkin dapat menyebut beberapa peristiwa dalam bidang masing-masing tentang orang-orang yang memperoleh reputasi atau popularitas sebagai ilmuwan besar, meski tidak layak mendapatkannya, semata-mata karena mereka memiliki apa yang dianggap oleh kelompok intelektual sebagai pandangan politik yang “progresif”; tetapi hingga kini saya belum pernah menemukan satu contoh di mana reputasi-palsu semacam itu pernah diberikan atas alasan politis terhadap seorang sarjana yang memiliki kecenderungan lebih konservatif. Penciptaan reputasi semacam itu oleh kelompok intelektual terutama penting dalam bidang-bidang tertentu di mana hasil-hasil kajian pakar tidak dipergunakan oleh para spesialis lainnya melainkan tergantung kepada keputusan politis masyarakat luas pada umumnya. Jarang ada ilustrasi yang lebih baik mengenai hal ini daripada sikap yang diambil para ekonom profesional terhadap pertumbuhan doktrin-doktrin semacam sosialisme atau proteksionisme. Dalam waktu singkat saja, mungkin, mayoritas ekonom, yang dianggap intelektual oleh rekan sejawat, mendukung sosialisme (atau proteksionisme). Bahkan benar dan tidak meragukan untuk mengatakan bahwa tidak ada kelompok mahasiswa dengan proporsi anggota yang begitu tinggi yang memutuskan menentang sosialisme (atau proteksionsisme). Hal ini lebih signifikan sebab di jaman sekarang, tidak diragukan, minat awal terhadap skema sosialis bagi reformasi membawa seseorang untuk memilih ilmu ekonomi sebagai profesinya. Namun hal ini bukanlah pandangan dominan para pakar, melainkan pandangan sekelompok minoritas, meski reputasi mereka dalam profesi masing-masing dianggap meragukan, yang diambil dan disebarkan oleh kelompok intelektual.

Pengaruh pervasif-menyeluruh kelompok intelektual dalam masyarakat kontemporer semakin diperkuat lagi dengan meningkatnya arti penting “organisasi”. Meningkatnya organisasi diyakini secara umum, tetapi mungkin saja keliru, sebagai peningkatan daya pengaruh pakar atau spesialis. Ini mungkin berlaku bagi pakar administrator atau organisator, jika ada orang-orang seperti itu, namun tidak demikian bagi pakar dalam bidang pengetahuan tertentu. [Justru yang berperan] adalah orang yang dengan pengetahuan umumnya membuatnya berkualifikasi untuk mengapresiasikan testimoni pakar, dan untuk menilai kepakaran seseorang, dari berbagai bidang yang berbeda, yang kekuatannya meningkat. Namun demikian, hal yang penting bagi kita adalah bahwa ketika seorang sarjana menjadi presiden sebuah universitas, ketika seorang ilmuwan memikul tanggung-jawab terhadap sebuah institut atau yayasan, atau seorang sarjana menjadi editor atau promotor aktif dari sebuah organisasi yang bergerak demi tujuan tertentu, mereka semua dengan cepat berhenti menjadi sarjana atau pakar, dan berubah menjadi intelektual, semata-mata dalam kaitannya dengan gagasan-gagasan umum tertentu yang tengah mengemuka. Jumlah institusi semacam itu yang memultiplikasikan intelektual serta meningkatkan jumlah serta kekuatan mereka, sehingga setiap hari semakin tumbuh besar. Hampir semua ”pakar” dalam hal teknik perolehan pengetahuan, dalam kaitannya dengan bidang yang mereka tangani, adalah intelektual dan bukan pakar.

Dalam pengertian istilah sebagaimana yang sedang kita pakai di sini, kelompok intelektual pada kenyataannya merupakan fenomena yang cukup baru dalam sejarah. Meski tidak seorangpun menyesali kenyataan bahwa pendidikan tidak lagi menjadi hak istimewa kelas-kelas pemilik properti, kenyataan bahwa mereka yang berasal dari kelas-kelas ini tidak lagi merupakan kelompok paling terdidik, dan kenyataan bahwa sejumlah besar orang yang berutang posisi semata-mata kepada pendidikan umum mereka tidak memiliki pengalaman tentang cara kerja sistem ekonomi seputar pengadministrasian properti, merupakan hal yang penting untuk memahami peran kelompok intelektual. Professor Schumpeter, yang telah mendedikasikan sebuah bab yang mencerahkan dalam bukunya, Capitalism, Socialism, and Democracy, dalam beberapa aspek permasalahan kita, telah menekankan secara cukup fair bahwa absennya tanggungjawab terhadap persoalan-persoalan praktis dan juga, sebagai akibatnya, absennya pengetahuan langsung (dari tangan pertama) tentang mereka, telah membedakan kebanyakan intelektual dari orang-orang lainnya yang juga memanfaatkan kekuatan dunia kata-kata melalui ucapan dan tulisan. Namun demikian, mungkin terlalu tendensius jika dikatakan bahwa kita harus mengkaji lebih lanjut perkembangan kelas ini dan klaim yang menarik yang akhir-akhir ini telah disampaikan oleh salah seorang teoris bahwa intelektual adalah satu-satunya agen yang pandangannya dipastikan tidak dipengaruhi oleh kepentingan ekonominya sendiri. Salah satu poin terpenting yang akan perlu diperiksa dalam diskusi semacam itu adalah seberapa jauh pertumbuhan kelas ini telah secara artifisial distimulasi oleh hukum hak cipta.

Tidak mengherankan jika para sarjana atau pakar asli serta orang yang awam seringkali meremehkan kelompok intelektual, enggan mengiyakan kekuatan mereka, dan merasa sebal jika dalam hal ini ternyata pandangan tersebut disadari keliru. Secara individu, mereka mendapati bahwa kebanyakan kelompok intelektual ternyata adalah orang-orang yang tidak mengetahui apa-apa dengan baik atau istimewa dan yang penilaian mereka terhadap persoalan yang mereka sendiri juga cukup paham, memperlihatkan sedikit saja tanda-tanda kebijaksanaan khusus. Tetapi meremehkan kekuatan kelompok intelektual untuk alasan ini dapat menjadi kesalahan fatal. Meskipun pengetahuan mereka seringkali superfisial dan intelijensia mereka terbatas, hal ini tidak mengubah fakta bahwa penilaian merekalah yang terutama menentukan pandangan-pandangan di mana masyarakat akan beraksi di masa depan yang tidak terlalu jauh. Tidaklah berlebihan untuk dikatakan bahwa, begitu bagian yang lebih aktif dari para intelektual telah terkonversi ke dalam seperangkat keyakinan, proses di mana hal-hal ini menjadi diterima secara umum terjadi secara hampir otomatis dan tidak tertahankan. Para intelektual adalah organ-organ masyarakat modern yang telah dikembangkan oleh masyarakat modern untuk menyebarkan pengetahuan dan gagasan, dan keyakinan dan opini merekalah yang berfungsi sebagai penyaring dan semua konsepsi baru harus melalui mereka terlebih dahulu sebelum mencapai massa.

Adalah sifat pekerjaan seorang intelektual bahwa ia harus memanfaatkan pengetahuan dan keyakinannya dalam tugasnya sehari-hari. Ia menjabat posisinya karena memiliki, atau harus berurusan dari hari ke hari dengan, pengetahuan yang umumnya tidak dimiliki pihak yang mempekerjakannya, dan kegiatan-kegiatan intelektual oleh karena itu diarahkan oleh orang-orang lain hanya pada tingkat tertentu. Dan hanya karena kelompok intelektual biasanya secara intelektual jujur, maka tidak terhindarkan bahwa mereka harus mengikuti keyakinan mereka sendiri bilamana mereka memiliki wewenang dan bahwa mereka harus memberikan penekanan tertentu yang sesuai terhadap segalanya yang mengalir dari tangan mereka. Meskipun arah kebijakan berada di tangan orang lain yang memiliki pandangan berbeda, eksekusi kebijakan umumnya dilakukan oleh tangan intelektual, dan biasanya keputusan terhadap detilnya yang akan menentukan efek keseluruhan secara netto. Kita menemukan hal ini terilustrasikan dengan baik dalam hampir semua bidang dalam masyarakat kontemporer. Surat-surat kabar milik seorang kapitalis, universitas yang dikepalai oleh badan-badan pengelola “reaksioner”, sistem penyiaran yang dimiliki pemerintah konservatif, semuanya telah diketahui memberi pengaruh terhadap opini publik ke arah sosialisme, karena hal ini merupakan keyakinan para personnelnya. Ini seringkali terjadi tidak saja meskipun, tetapi mungkin karena, upaya mereka di tingkat atas berupaya mengendalikan opini dan memaksakan prinsip ortodoksi mereka.

Efek penyaringan gagasan melalui keyakinan sebuah kelas yang secara konstitusional cenderung kepada pandangan-pandangan tertentu, tentu saja tidak terbatas pada massa belaka. Di luar bidang khusus ini pakar biasanya tidak kurang tergantungnya pada kelas yang satu ini dan tidak jarang dipengaruhi oleh seleksi mereka. Hasilnya adalah bahwa kini di kebanyakan belahan di Dunia Barat bahkan oponen terkukuh sosialisme menghasilkan dari sumber-sumber sosialis pengetahuan mereka mengenai hampir semua subyek di mana mereka tidak memiliki informasi langsung. Dengan banyaknya prekonsepsi umum tentang pemikrian sosialis, koneksi dari proposal yang lebih prakstis tentunya tidak seketika menjadi jelas; dalam konsekuensinya terhadap sistem pemikiran sebenarnya menjadi penyebar gagasannya yang efektif. Siapa yang tidak mengenal seorang yang praktis yang di bidangnya sendiri menolak sosialisme sebagai “kebusukan yang buruk” namun begitu melangkah ke luar subyeknya langsung mengumandangkan sosialisme seperti jurnalis kiri lainnya manapun? Tak ada bidang lain di mana pengaruh dominan intelektual sosialis terasakan lebih kuat selama ratusan tahun terakhir daripada dalam kontrak-kontrak antara berbagai peradaban-peradaban nasional yang berbeda-beda. Kita akan menyimpang jauh dari batas-batas artikel ini jika mencoba menelusuri penyebab dan signifikansi dari fakta yang amat penting bahwa dalam dunia modern kelompok intelektual menyediakan hampir satu-satunya pendekatan terhadap komunitas internasional. Inilah yang terutama menjelaskan spectable luar biasa bahwa selama beberapa generasie Barat yang seharusnya ”kapitalistis: telah meminjamkan dukungan moral dan material secara nyaris eksklusif terhadap pergerakan-pergerakan ideologis itu di negara-negara timur jauh yang ditujukan untuk mengganggu peradaban Barat dan bahwa, di saat yang sama, informasi yang telah diperoleh masyarakat Barat tentang peristiwa-peristiwa di Eropa Tengah dan Timur hampir tidak dapat terelakkan diwarnai oleh bias sosialis. Banyak dari kegiatan ”edukatif” dari tentara Amerika yang menduduki Jerman telah memberikan contoh-contoh terkini dari kecenderungan ini.

(Bersambung ke Bagian 2)


* [Diterjemahkan oleh Sukasah Syahdan, dari sumber The University of Chicago Law Review (Spring 1949), hal. 417-420, 421-423, 425-433, by permission of the author and the publisher, The University of Chicago Press; George B. de Huszar ed., The Intellectuals: A Controversial Portrait (Glencoe, Illinois: the Free Press, 1960) pp. 371-84.Hak cipta versi Indonesia © 2007, Jurnal Kebebasan: Akal dan Kehendak dan CV. Sançtuary Publishing.]

*) Dalam artikel ini dipakai sebagai padanan”scholar”. –Penerj.


Kirim artikel ini:
Share on FacebookTweet about this on TwitterShare on Google+Email this to someoneShare on RedditShare on StumbleUpon

Tulisan lain yang mungkin terkait:

Discussion

Comments are disallowed for this post.

  1. […] May 3rd, 2007 by Editor (Lanjutan dari posting terdahulu) […]

    Posted by F. A. Hayek: Intelektual dan Sosialisme (2) « AKAL & KEHENDAK | 3 May 2007, 11:26 am

Arsip Bulanan

Rekomendasi

buku_rothbard.jpg
Apa Yang Dilakukan Pemerintah Terhadap Uang Kita?; Oleh: Murray Newton Rothbard; PT. Granit, Yayasan Obor Indonesia; ISBN : 97897916217 -4-8; tersedia di toko-toko buku terdekat. (Intip cuplikannya).
alt text
Membela Kapitalisme Global; Oleh: Johan Norberg; FNS Jakarta; tersedia di toko-toko buku terdekat. (Baca resensinya di sini).
Economic  Activism Blogs - Blog Catalog Blog Directory