Wawancara

Wawancara dengan Bill Gates dan SBY?

Oleh: Sukasah Syahdan
Jurnal Kebebasan: Akal dan Kehendak
Vol. II, Edisi 29, Tanggal 12 Mei 2008

alt textBill Gates

Minggu lalu berakhir dengan satu peristiwa yang boleh saya sebut cukup penting: kedatangan Bill Gates di Indonesia untuk memberikan ceramah terbatas di Jakarta Convention Center (09/05).

Kebetulan, saya menghadirinya; tapi terus terang, awalnya saya tidak merasa beruntung untuk ini. Kebetulan saja, kolega di KADIN mencantumkan nama saya di daftar undangan. Kebetulan juga saya ada waktu. Menjadi atau mendengarkan dari orang terkaya di dunia, terus terang, tidak menggairahkan saya; dan Bill Gates kebetulan juga bukan tokoh idola.

Sehari sebelumnya, saya sempat menceritakan program hari itu kepada anak saya, L (8 th). “Besok,” kata saya, “Ayah akan bertemu dengan salah seorang terkaya di dunia. Namanya Bill Gates. Dia pendiri perusahaan Microsoft yang programnya sering kamu pakai sehari-hari. Kalau sempat, Ayah akan mewawancarainya. Presiden Indonesia, SBY, juga akan hadir di sana. Kalau memungkinkan, Ayah akan mewawancara juga sekalian!”

Anak saya bertanya apa saya bersedia mendapatkan tandatangan Bill Gates. Tentu saja, jawab saya. Kalau perlu, juga dari Pak SBY. Tapi, Ayah tidak yakin bisa dapat. Ia bilang, tidak apa jika tidak berhasil. Diberikannya sebuah buku notebook yang masih baru, dan langsung saya taruh di kemeja batik yang akan saya pakai besok pagi.

Esok paginya, saya bangun lebih dini supaya bisa tiba lebih awal. Tapi sesampainya di sana saya sadar, ternyata sudah banyak orang hadir. Beberapa dari manusia-manusia ini pasti bangun lebih pagi. Beberapa wajah yang tidak asing lagi saya lihat. Ada menteri perdagangan; ada wakil ketua dan ketua komisi-komisi Kadin; ada pejabat pemerintah; ada ketua APINDO, dan lainnya.

(Ingin tahu kenapa para pebisnis cenderung mendekat kepada pemerintah ibarat raron pada cahaya neon? Pemerintah, sebagai monopolis teritori dengan mesin birokrasinya dan kemampuan legislasi plus regulasinya, yang menguasai instrumen koersif berupa kepolisian dan mekanisme penghukuman bernama sistem pengadilan, mampu dengan gampang memberi ultimatum kepada setiap bisnis berupa pilihan-pilihan: flourish or perish! Berjaya atau mati! Jadi jangan heran; mendekati kekuasaan adalah bagian dari cara keselamatan. Kalau pemerintahan juga tergiur menjalankan roda perekonomian, ini lahan menggiurkan untuk bermain bersama sekalian. )

Saat mencari-cari tempat duduk di baris paling depan, sebuah SMS masuk. Dari seorang teman lama, yang mengira nomornya tidak tersimpan di HP saya.

“Pak SS [dia menyingkat nama saya-biasa, hemat pulsa], ngapain lu duduk paling depan; emangnya mau cium Bill Gates?” He, he, kolegaku yang gemuk sekali itu tidak tahu bahwa saya sudah siapkan beberapa pertanyaan untuk wawancara dengan Bill Gates dan juga SBY. Jangankan itu; dia bahkan tidak tahu bahwa saya tahu bahwa dialah pengirim SMS tadi. Jangan-jangan dia juga tidak tahu bahwa saya tahu bahwa dia masih agak gemuk sekali?

*

Kurang lebih saya tahu apa yang akan dikatakan Gates; tetapi menghadiri secara fisik dan dapat mendengarkan dan merasakan keberadaannya di sekitar kita secara langsung tidak jarang memberi nuansa makna dan keuntungan tersendiri.

Begitulah yang saya alami. Bill Gates, orang terkaya di dunia, tidak tampak lebih bersahaja dalam kemeja batiknya daripada saya. Rambutnya sedikit aut-autan, tapi wajahnya masih terlihat kekanakan walau sudah termakan usia. Saat ia berbicara, dari nadanya saya tidak mendeteksi adanya sense terhadap kekuasaan, atau dominasi, atau kekuasaan (eh, sudah ya), dan yang sejenis itu. Saya senang dengan aura orang ini. Sempat terpikir, barangkali orang ini cocok menjadi teman saya. (Belum terpikir, apa saya bersedia.)

Bill (ehm) berbicara tentang Dekade Digital Kedua. Intinya kurang lebih mengatakan bahwa kita akan menyaksikan suatu konvergensi dari berbagai teknologi dalam wujud yang jauh lebih dahsyat daripada yang telah terjadi selama ini di dekade pertama. Sebelum sampai pada titik ini, ia lebih dulu menceritakan sekelumit pengalaman pribadinya dalam merintis perusahaannya. Dalam catatan saya, kuncinya adalah dua -ion: Passion dan vision.

William Gates Jr memiliki kecintaan yang luar biasa kepada software; dan ia memiliki visi yang, dalam penilaian saya, lebih dilihatnya sebagai suatu peran yang dari awal ia sadari harus dijalankannya dengan hidupnya. Bill Gates muda ingin membangun suatu platform yang serba bisa bagi software. Dan sejak awal ia sadar tidak akan mampu melakukannya sendirian. Impian praktisnya seputar penyediaan satu komputer di setiap satu keluarga, yang ia tahu pasti mustahil dicapainya sendirian, berawal dari keyakinannya yang dalam bahwa komputer dan software akan dapat meningkatkan kualitas hidup manusia secara jauh lebih baik.

Lalu di mana letak peran self interest seorang Bill Gates dalam konstruks yang lebih luas berupa kemaslahatan kemanusiaan? Apakah ia terdorong oleh suatu nafsu keserakahan untuk menaklukkan industri ini sehingga perusahaannya tumbuh menjadi sebuah supercorp?

Pada setiap kesempatan saya selalu bersemangat menekankan, bahwa pengejaran terhadap kepentingan pribadi adalah hal pertama yang harus dilakukan siapa saja yang serius dengan hidupnya. Saya selalu bilang, tidak usah pikirkan masyarakat; masyarakat aman dianggap konstruk dalam imajinasi. Mementingkan kepentingan masyarakat di atas kepentingan pribadi hanya bakal berujung kepada penindasan invididu dan mengajarkan kemunafikan. Kalau mayoritas individu dalam suatu wilayah geografis melakukan yang terbaik bagi dirinya sendiri, nasib seluruh masyarakat kemungkinan besar akan terangkat ke dengan sendirinya. (O ya, Pak SBY dalam sambutannya sempat berpesan kepada Bill Gates agar memastikan para pemuda Indonesia yang sedang belajar di sana nanti pulang ke Indonesia. Lho?)

Di alam kebebasan, orang berhak mengatakan apa saja yang ia pikirkan dan melakukan apa saja yang ingin ia lakukan. Kalau mengganggu hak orang lain, itu baru satu soal; tapi sekaligus, itu juga lain soal, yang resolusinya tidak dibahas di sini.

Kembali ke Bill Gates, tudingan terhadap keserakahannya bukannya tidak pernah kita dengar. Namun yang lebih penting justru ini: terlepas benar atau salah, terlepas dari apakah semua ini berawal dari nafsu serakah atau suatu keinginan pribadinya untuk mewujudkan sebuah visi pribadi ataupun berupa self interest, ujung-ujungnya sama: duit. UUD, kata Slank.

Tapi pembaca yang mengharapkan sarkasme saya, harus kecewa. Sebab, justru sebaliknya, saya ingin mengatakan bahwa ujung-ujungnya adalah: semakin banyak orang di dunia renta ini yang kini dapat mengeluarkan uang lebih sedikit untuk sebuah nilai yang jauh lebih besar dan lebih baik-dalam hal ini berupa perolehan komputer pribadi. “Duit” di sini hanyalah wujud dari biaya (cost), yang senantiasa muncul timbul manakala kita mengarah kepada satu tujuan (end) apapun dengan menempuh cara apapun (means).

Sebagian besar dari kita telah memiliki kecenderungan besar untuk menyamaratakan suatu kekuatan ekonomi dengan kekuatan politik. Esensi dari kekuatan ekonomi adalah penciptakan suatu nilai yang lebih baik dalam bentuk barang ataupun layanan.

Kira-kira seperti apa proses take-over yang dilakukan Microsoft ketika “mencaplok” perusahaan-perusahaan peranti lunak komputer selama ini? Menurut Anda, apa yang akan Anda lakukan jika perusahaan Anda diminati oleh Microsoft Corps; maukah Anda melepaskannya? Adakah kemungkinan bagi terjadinya proses bisnis yang berlangsung secara sukarela dan win-win? Ataukah kemungkinannya niscaya hanya berupa permainan zero-sum belaka?

Saya jadi teringat artikel yang saya turunkan minggu lalu (Pasar Bebas dan Darwinisme Sosial). Salah satu kritik terhadapnya saya dapatkan dari sebuah forum. Menurut sang kritikus anonim, di pasar bebas orang hanya akan melihat satu perusahaan besar yang akan mencaploki perusahaan-perusahaan yang kecil. Pasar bebas yang tak terkendali hanya akan menciptakan semacam hukum rimba, yang pada akhirnya memberi justifikasi peran negara.

Jika sistem pengelolaan perekonomian yang saya tawarkan tidak diterima, maka sistem apa yang bisa menyelamatkan negeri ini? Mixed economy tidak akan membawa kita kemana-mana kecuali ke kutub sosialisme, dan sosialisme tidak bisa kalkulasi ekonomi. Sosio-demokrasi? Dia tak lain cuma varian mixed economy. Begitulah, saya ternyata harus kecewa karena tulisan saya tidak berhasil mencapai tujuannya. Dan sebagai penulis, saya merasa kekecewaan atas “kegagalan” ini tidak mengenakkan.

Sebaiknya saya selesaikan saja lanturan ini. Maka, sebagaimana berakhirnya acara hari itu, saya ternyata tidak mendapat kesempatan untuk bertanya, apalagi untuk mewawancarai Bill dan SBY. Saya juga gagal mendapatkan tandatangan keduanya.

Untunglah anak saya bisa mengerti. Dan saya cukup beruntung mendapatkan satu kesadaran baru dari ceramah Bill Gates: bahwa komputer dan peranti-peranti seputarnya, yang selama ini cenderung saya anggap sebagai instrumen-instrumen yang memang perlu ada, ternyata lebih dari sekadar itu. Dia telah menjadi bagian tools of the trade terpenting bagi eksistensi diri saya pribadi serta keberlangsungan hidup orang-orang yang bergantung pada saya.

Dan mata hati saya semakin terbuka bahwa dunia internet, yang katanya maya, tidaklah maya. Dia dunia riil yang telah dan akan semakin menjadi bagian dari diri kita, apalagi kelak bagi anak-cucu kita. Jika alunan sebuah musik digital mampu menggetarkan jiwa atau membuat saya menitikkan air mata, dia tidak mungkin virtual semata. Dia senyata apapun yang menyentuh jiwa-raga.

Barangkali ini yang terpenting dari ceramah Bill Gates. [ ]

Kirim artikel ini:
Share on FacebookTweet about this on TwitterShare on Google+Email this to someoneShare on RedditShare on StumbleUpon

Tulisan lain yang mungkin terkait:

Discussion

5 comments for “Wawancara dengan Bill Gates dan SBY?”

  1. Update: Judul diperbaiki dengan menambahkan tanda tanya–red.

    Posted by Nad | 13 May 2008, 5:48 am
  2. Yang bikin judul pasti jago marketing. Kesannya seolah-olah memang terjadi terjadi wawancara itu hehehe…

    Never mind Pak Nad. Bisa kubayangkan, kalaupun niat Anda mewawancarainya terlaksana, paling hasilnya semacam kebanggaan semu telah mewawancarai Bill Gates. Hasil wawancaranya ? Nothing. Tokoh sekaliber Gates tak mungkin memberikan wawancara yang “berisi” dengan cara seperti itu. Harus dibuat perjanjian, dan tentunya setelah dia menilai bahwa wawancara itu akan menguntungkan dirinya atau bisnisnya.

    Tetap saja Anda mendapat semacam privilese dapat hadir dalam acara itu. Hanya segelintir orang Indonesia yang mendapat kesempatan itu.

    Salam.

    Posted by Robert Manurung | 16 May 2008, 12:20 am
  3. Lha, aku dadi ora kepenak Mas. Sebenarnya nggak apa-apa kok judul itu; karena memang beda sekali pola membaca di internet dengan media cetak. Di internet, unsur kejutan, judul atau keseluruhan artikel yang "menjebak" adalah keunikan yang tidak didapatkan pada jenis media lain.

    kendati begitu, terima kasih karena komentarku langsung ditanggapi.

    Ngomong-ngomong, penampilan situs ini sekarang berubah menjadi cerah, segar dan cantik.

    Oh ya, apa kabarnya Giyanto dan komunitasnya ?

    Salam Merdeka

    Posted by Robert Manurung | 17 May 2008, 7:15 pm
  4. Apa Kabar Bang Robert,

    Maaf lagi mumet skripsi,

    Barangkali akan lama…

    Salam

    Giy

    Posted by Giyanto | 19 May 2008, 9:22 pm
  5. wah, maaf atas ketelatan balasan ini. trims ya atas komentar-komentar mas (!) robert; juga buat bang giy!

    Posted by Nad | 20 May 2008, 8:08 am

Komentari

Arsip Bulanan

Rekomendasi

buku_rothbard.jpg
Apa Yang Dilakukan Pemerintah Terhadap Uang Kita?; Oleh: Murray Newton Rothbard; PT. Granit, Yayasan Obor Indonesia; ISBN : 97897916217 -4-8; tersedia di toko-toko buku terdekat. (Intip cuplikannya).
alt text
Membela Kapitalisme Global; Oleh: Johan Norberg; FNS Jakarta; tersedia di toko-toko buku terdekat. (Baca resensinya di sini).
Economic  Activism Blogs - Blog Catalog Blog Directory