Asides

Catatan kecil tentang ekonofisika

Oleh: Sukasah Syahdan
Jurnal Kebebasan: Akal dan Kehendak
Vol. II, Edisi 30, Tanggal 19 Mei 2008
(Kolom: Catatan Bawah)

APA PULA ITU EKONOFISIKA? Di koran Media Indonesia beberapa hari lalu diberitakan bahwa ilmu “baru” ini akan mampu mengatasi permasalahan ekonomi Indonesia. Bukan main! Ini catatan singkat saja: kalau harus dianggap ilmu baru, dia cocok jadi cabang sejarah, sejarah ekonomi persisnya, agar mampu mencatat peristiwa-peristiwa masa lalu yang terkait sepak terjang manusia, dengan tambahan peranti statistik, matematik, dan fisika. Dengan metode empiris-positivis, proyeksi dan prediksi ke depan bisa dibuat tentang apa yang bakal terjadi dengan, misalnya … perilaku harga cabe keriting di pasar induk. Apa konsekuensi gagasan ini? Deskripsi fenomena ekonomi cuma akan menjadi makin esoterik. Perkawinan-paksa rumus-rumus fisika, matematika dan statistika akan dijadikan alat justifikasi baru yang saintistik, yang “kedahsyatannya” bakal begitu sulit dicerna sehingga kekeliruan asumsi yang paling elementer sekalipun akan dapat bersembunyi dengan nyaman, dan kesalahan konklusi yang mungkin terjadi hanya bisa didapat dalam tempo jang selama moengkin. Ekonofisika lebih berpeluang mengkontaminasi, atau mendilusi, kedua sains proper tersebut–baik ekonomi, mapun fisika–ketimbang berkontribusi.

Tapi yang menjadi sumber keprihatinan di sini bukan ilmu ekonomi atau fisika, melainkan soal paradigma yang sesuai buat ilmu-ilmu sosial. Dengan empirisme dan positivisme, ilmuwan sosial pada dasarnya mendapat cara untuk menjustifikasikan apa saja.  Jika tidak dapat menangkap hubungan kausal sejati antara faktor-faktor penyebab terjadinya peristiwa, cukup bagi mereka untuk meng-entertain hubungan korelasional.  Empirisme memungkinkan pembenaran setiap teori secara abadi, sampai terjadi penyangkalan di masa depan; di sini terletak bahaya esoterisme tadi. Positivisme terobsesi akan teori yang dapat memprediksi masa depan, namun dengan memodelkan pendekatan ilmu alam terhadap hasil tindakan manusia yang triliunan jumlahnya dan dalam konteks ketidakpastian yang sebenar-benarnya merupakan kategori logis yang tidak bisa dihilangkan dalam pengambilan keputusan dalam hidup, kemusykilan ini hanya “berguna” bagi mereka yang terobsesi melakukan upaya penyeragaman dan perencanaan sentralistik.

Empirisme+positivisme bukan satu-satunya metode penelitian ilmu sosial; dalam terlalu banyak hal, kombinasi keduanya justru telah dan akan terus menimbulkan persoalan-persoalan terbesar dalam kehidupan, yang dijustifikasikan oleh ilmuwan.

Kirim artikel ini:
Share on FacebookTweet about this on TwitterShare on Google+Email this to someoneShare on RedditShare on StumbleUpon

Tulisan lain yang mungkin terkait:

Discussion

6 comments for “Catatan kecil tentang ekonofisika”

  1. Beberapa komentar.

    1. Positivisme tidak identik dengan prediksi. Bagi saya positivisme adalah pengukuran.

    2. Dalam sistem non-linier, meskipun kita tahu dengan pasti persamaan matematikanya, belum tentu kita bisa memprediksi masa depan.

    3. Ketidakpastian bukan hanya berlaku untuk manusia. Tapi juga berlaku dalam level kuantum, seperti tertuang dalam prinsip ketidak pastian Heisenberg. Jadi fisika pun sudah lama bergulat dengan ketidak pastian; tapi tentu pengetahuan tentang ini berkembang terus. Saya hanya menunjukkan bahwa ilmu seperti fisika, apalagi paradigma positivisme tidak identik dengan kepastian.

    4.Jumlah manusia yang besar bukan masalah justru menjadi keuntungan. Dengan jumlah besar ini lebih mudah mendapatkan pola statistik yang teratur.

    5. Kadang untuk mengerti sebuah sistem kolektif, kita tidak perlu tahu secara sempurna keadaan ‘individu’dalam sistem tersebut. Misalnya begini:
    Kita bisa mengukur temperatur ruangan tanpa harus tahu gerakan setiap elektron di ruangan tersebut (panas yang terukur termometer adalah akibat gerakan kinetik elektron). Kita cukup mengeluarkan termometer untuk mengkarakterisasi ruangan tersebut.

    6. Meskipun sama2 berlandaskan positivisme dan empirisme, pemodelan fisika, matematika dan statisik tidaklah sama. Masing2 memiliki karakter yang berbeda.

    7. Pendekatan kuantitatif dalam ilmu sosial tidak terbatas dalam model statistik saja. Model matematika yang berfokus pada mekanisme (bukan hubungan antara variabel saja) juga bisa dilakukan.

    Memang pendekatan kuantitatif yang berlandaskan pada positivisme dan empirisme adalah kelemahan. Tapi saya pikir kelemahannya bukan seperti yang disebutkan diatas.

    Posted by Roby | 11 June 2008, 2:50 am
  2. Bung Roby, terima kasih atas komentarnya.

    Saya menduga anda bukan ekonom; tapi kalau anda sempatkan membaca Milton Friedman’s “The Methodology of Positive Economics”, anda akan melihat bahwa kiprah kedua isme tersebut di dalam ilmu ekonomi tidak tergantung pada bagaimana pandangan saya/Anda. Inilah yang saya coba kritisi.

    Kalau positivisme didefinisikan sbb: “filsafat yang menyatakan bahwa satu-satunya pengetahuan yang otentik adalah yang berdasarkan pada pengalaman indrawi yang aktual. Dia juga digambarkan sebagai pandangan bahwa semua pengetahuan adalah ilmiah bahwa semua hal pada dasarnya dapat diukur (WIKIPEDIA)…” maka saya menolak kedua proposisi di atas.

    Bagaimana menurut Anda? Dapatkah Anda mengatakan seberapa senang saya membaca komentar Anda dibandingkan ketika membaca komentar Sdr. Oswara di atas, misalnya?

    Kecuali jika saya salah, hal-hal seperti ini benar-benar dicoba diukur oleh ekonom-ekonom empiris+positivis; bukan berhenti di situ, lalu diagregasikan pula.

    Saya tidak lagi bicara kelemahan empirisme+positivisme, saya bicara bahayanya.

    Posted by Nad | 11 June 2008, 2:34 pm
  3. pendekatan kuantitatif dalam level makro untuk pengambilan keputusan/memproyeksikan masa depan adalah hal terbaik yang bisa dilakukan manusia.apalagi menyangkut hal hal yang bertentangan dengan hukum alam itu tidak lagi sebuah ketidakpastian melainkan hubungan sebab-akibat

    Posted by aser oswara | 11 June 2008, 6:33 pm
  4. Ya, tapi dia hanya sekedar sebagai alat untuk keputusan atas pilihan manusia….Jadi yang diteliti seharusnya pilihan tersebut. Baik dari alasan dan dampaknya….

    Posted by Giyanto | 11 June 2008, 6:47 pm
  5. Saya mempertanyakan apakah ekonofisika adalah jalan tunggal memecahkan masalah ekonomi? mungkin terlalu berlebihan dan terlalu percaya diri. Ekonofisika menganggap manusia hanyalah sekumpulan materi, dia bukan makhluk sosial yang mempunyai kehendak, budaya, dan seperti kata Milton Friedman dalam The Methodology of Positive Economics, ilmu ekonomi mengabaikan motif apa pelaku ekonomi berperilaku. Kita membutuhkan metode dari ekonofisika, kita membutuhkan pemahaman tentang manusia dalam ekonomi dari behavioral finance dan behavioral economic yang berbasis ilmu sosial. Kita membutuhkan pikiran yang lebih terbuka bukan kesombongan disiplin ilmu, karena hanya karena dengan keterbukaan pikiran, kita bisa memahami ekonomi yang lebih baik dan kompleks

    Posted by Budi Hartono | 2 January 2009, 2:31 pm
  6. Mungkin komentar saya sudah terlambat sekian tahun, tapi menarik untuk mengamati bahwa sebuah lontaran pikiran yang baik tidak pernah bisa basi. Apalagi, sebenarnya, komentar saya ini lebih merupakan komentar atas komentar. Saya setuju dengan pernyataan Nad menjawab Roby “Saya tidak lagi bicara kelemahan empirisme+positivisme, saya bicara bahayanya.” Dan saya sendiri memiliki pandangan sederhana menyangkut bahaya tersebut.

    Persoalan ilmu sosial (termasuk, kalau bukannya terutama, ilmu ekonomi) adalah persoalan epistemologis. Nilai keabsahan “ilmiah”-nya mestinya tertambat pada nilai keabsahan realitas manusiawi. Adapun yang disebut sebagai realitas manusiawi itu berdiam secara inheren dalam subyektivitas manusia lewat pilihan dan tindakannya. Artinya, realitas manusiawi itu dalam adanya adalah realitas pilihan dan tindakan manusia. Dengan penekanan bahwa manusia dalam realitasnya selalu adalah manusia individual yang pada gilirannya menghasilkan pelembagaan lewat interaksi antar individu. Pelembagaan pilihan dan tindakan manusia ini membentuk institusi yang menjadi “the Big Others” bagi manusia individual dalam bentuk masyarakat, pasar, negara, agama, dsb. Positivisme muncul (saya tidak tahu apakah ekonofisika adalah sebentuk positivisme pula) dengan membawa cacat epistemologis karena mengabaikan sifat individual pilihan dan tindakan dengan menghentikan batas amatannya hanya sampai pada lembaga-lembaga hasil pilihan dan tindakan manusia individual tersebut. Dalam hal ini, bahaya positivisme adalah mengabaikan individualitas manusia yang merupakan realitas terakhir keberadaannya. Bahaya yang dalam sejarah telah ditunjukkan oleh berbagai model kolektivisme, baik fasisme maupun komunisme yang kemarin maupun berbagai bentuk sosialisme dan komunitarianisme saat ini (termasuk model negara kesejahteraan). Artinya, positivisme berbahaya bukan karena ia secara epistemologis keliru tapi karena ia secara epistemologis akan memberi legitimasi terhadap gagasan-gagasan brutal yang akan menghancurkan hidup dan kebebasan manusia individu.

    Posted by amato | 2 April 2013, 12:56 pm

Komentari

Arsip Bulanan

Rekomendasi

buku_rothbard.jpg
Apa Yang Dilakukan Pemerintah Terhadap Uang Kita?; Oleh: Murray Newton Rothbard; PT. Granit, Yayasan Obor Indonesia; ISBN : 97897916217 -4-8; tersedia di toko-toko buku terdekat. (Intip cuplikannya).
alt text
Membela Kapitalisme Global; Oleh: Johan Norberg; FNS Jakarta; tersedia di toko-toko buku terdekat. (Baca resensinya di sini).
Economic  Activism Blogs - Blog Catalog Blog Directory
%d bloggers like this: