olahraga

Antara Fair Play dan Keadilan Sosial

Jurnal Kebebasan: Akal dan Kehendak
Vol. II, Edisi 33, Tanggal 16 Juni 2008
Oleh: Sukasah Syahdan

alt textMaskot Piala Eropa 2008: Trix & Flix

Kejuaran sepakbola Piala Eropa 2008 akhirnya dimulai! Tim negara mana yang Anda jagokan?

*

Tentang sebuah perhelatan sederhana yang primordial di suatu pojok benua tapi begitu memesona dan dinantikan begitu banyak di semua belahan bola dunia, tentu, banyak hal dapat dikatakan. Dalam atmosfir yang penuh pesona tersebut, tulisan ini ingin menoreh sedikit pandangan tentang perhelatan permainan vs. Perhelatan kehidupan.

Meski bagi sebagian tergolong remeh, permainan semacam sepakbola adalah satu satu sumber *kegembiraan* dalam kehidupan sehari-hari. Dan apapun yang membuat orang senang dan yang sifatnya, dalam dirinya sendiri, tidak merugikan orang lain kiranya sesuatu yang perlu dirayakan.

Sepakbola sebagai gaya hidup hanya dipraktikkan secara riil oleh segelintir orang saja. Bagi sebagian terbesar, dia justru lebih berupa gagasan yang bersemayam dalam imajinasi masing-masing ketimbang sesuatu yang dipraktikkan–mirip dengan definisi Andersonian tentang nasionalisme.

Sebagai gagasan, dia dapat berupa sesuatu keadaan yang ingin tetapi tidak kuasa diwujudkan, oleh sebab berbagai alasan. Sesederhana atau sekompleks apapun imajinasi seseorang tentang permainan ini, dia hanya khayalan tentang kesenangan yang dibayangkan, yang dalam kenyataan mustahil diwujudkan, juga oleh karena berbagai keterbatasan. Namun, hal tersebut tidak harus mengurangi kenikmatan proses pembayangan itu sendiri.

Dalam konteks semacam ini dia mungkin bagian dari memori pribadi seseorang tentang apa yang dulu pernah dilakukannya; apa yang selalu ingin dilakukannya; dan yang telah bercampur dengan efek-efek teknologi pencitraan yang dilakukan oleh berbagai pihak lain. Kita cenderung senang menonton siaran sepakbola—yang bermutu tinggi tentunya. Kita cenderung senang bahkan hanya dengan menjadi penonton saja. Kita dapat menjadi senang melihat penggambaran “bodoh” tentang orang yang dapat bermain bola di air, misalnya.

Terlepas dari kenyataan bahwa sepakbola adalah gaya hidup riil maupun semata bagian imajinasi yang dipertahankan, sepak bola sering dipandang sebagai miniatur kehidupan. Dalam penyelenggaraan perhelatan pertandingan sepakbola, misalnya, tuntutan akan fair play telah semakin mengemuka; dalam kehidupan yang ‘sebenarnya’, kita mengenal pula semacam tuntutan semacam itu, salah satunya berwujud konsep keadilan sosial.

Dan kemanusiaan kita tampaknya mendapatkan tak kesulitan berarti dalam mengagas konsep yang relatif jelas tentang makna fairness dalam permainan semacam sepakbola. Terminologi etis fair play menyangkut tuntutan perlakuan yang imparsial, tidak memihak, terhadap semua pemain. Sebagai konsep dari dunia olah raga, dia diperlengkapi dengan sanksi-sanksi yang siap dijatuhkan dan diberdayakan ketika seorang pemain melakukan pelanggaran, atau melakukan aksi tipu-tipu (diving). Dalam olah raga semacam sepakbola, ada pula metafora ‘level playing field. Keduanya memiliki makna yang kurang lebih jelas, tidak rancu dan cukup feasible.

Sementara itu, dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara kita mengenal konsep keadilan sosial. Seperti mungkin dapat Anda setujui, istilah ini sering dipersamakan, baik secara sadar ataupun tidak, dengan istilah fair play atau level playing field. Baik secara serius ataupun bergurau, kita tidak jarang membandingkan perhelatan olahraga dengan perhelatan hidup kita sendiri.

Jika dalam sepakbola konsep-konsep fair play dan level playing field sudah cukup jelas, bagaimana pemaknaannya dalam kehidupan riil? Apakah konsep keadilan sosial memiliki makna yang jelas? Berikut sekelumit pemikiran saya, sebagai jawabannya.

Pertama-tama, perlu ditegaskan bahwa membandingkan permainan dengan kehidupan adalah suatu kesalahan berpikir (fallacy) yang serius. Menyamakan keduanya bahkan mengundang mala petaka. Alasan terpenting adalah bahwa permainan adalah semata pilihan. It is OK if you choose not to play, karena ada banyak hal yang dapat Anda lakukan jika Anda tidak ingin bermain.

Tidak demikian halnya dengan kehidupan. Dalam kehidupan, pilihan yang ada adalah menjadi hidup atau mati. Berhubung jarang ada orang yang menganggap kematian sebagai pilihan, maka it is not ok to not live. Seandainya kita harus menerimanya, konsep-konsep tersebut hanya dapat diterima sebagai padanan dari fair play di atas, atau dalam konteks kesamaan ‘level playing field’, jika dan hanya jika kita dapat membuat presmis minor bahwa it is ok not to live.

Oleh karena, sesuai naluri kemanusiaan kita, it is not ok to choose not to live, atau karena hal tersebut tidak berlaku universal, maka harus disimpulkan bahwa keadilan sosial adalah konsep yang harus dihindari jika tidak diingkari. Dia harus dianggap sebagai sesuatu yang kontradiktif atau tidak bermakna, atau paling banter indefinitif. Argumennya bukan berdasarkan prinsip utilitarian, dalam arti dia harus diterima karena akan menyenangkan mayoritas ketimbang minoritas. Argumen sejatinya adalah karena jika konsep tersebut diwujudkan, maka konsep tersebut yang tidak feasibel ini justru akan melantak sendi-sendi kehidupan.

Mengapa dikatakan bahwa keadilan sosial tidak feasible?

Salah satu tujuan utama keadilan sosial adalah meniadakan ketidaksetaraan. Tapi ketidaksetaraan adalah justru suatu titik keberangkatan; ketidaksetaraan justru merupakan faktor kausal mengapa seorang individu perlu bekerjasama dengan individu-individu lain.

Pada dimensi lain, ketidaksetaraan tidak lain merupakan perbedaan-perbedaan yang muncul akibat dari pilihan-pilihan sukarela para individu. Jadi, baik sebagai titik awal maupun sebagai hasil akhir/sementara, keduanya sama-sama bersifat mengayomi kehidupan; dia membuat kehidupan menjadi sustainable, dalam pengertian bahwa keduanya memampukan kemanusiaan mempertahankan keberlangsungannya sendiri.

Dengan demikian, perbedaan-perbedaan dan ketidaksetaraan-ketidaksetaraan justru harus diterima sebagai fakta kehidupan sebagai kondisi yang harus ada. Pengendalian atau koreksi terhadapnya justru akan membunuh the underlying forces bagi kerjasama antarindividu. Peniadaannya akan berdampak negatif terhadap kesejahteraan. Itu sebabnya keadilan sosial bukan tujuan yang feasible.

Harapan, kekuatiran, kesedihan dan kegembiraan dapat muncul dalam permainan, seperti halnya kehidupan sehari-hari. Pada analisis terakhir, perhelatan olah raga, yang rawan dipolitisasi melalui agenda perencanaan sentralistik, pada akhirnya tetap seputar permainan. Sementara, perhetalan hidup bukanlah pertandingan. Hidup bukan permainan dan tidak dapat dipersamakan dengannya.

Jika kemanusiaan kita disatukan ke dalam satu tim global, tujuannya bukanlah untuk mengalahkan tim lain, melainkan mengalahkan faktor-faktor alami dan non-alami yang mengancam keberlangsungan kehidupan masing-masing individu dan kemanusiaannya sendiri.

*

Saya saat ini menjagokan Ceko, Belanda dan Portugal.

Kirim artikel ini:
Share on FacebookTweet about this on TwitterShare on Google+Email this to someoneShare on RedditShare on StumbleUpon

Tulisan lain yang mungkin terkait:

Discussion

3 comments for “Antara Fair Play dan Keadilan Sosial”

  1. Saya terkejut dengan pendapat bahwa perbandingan antara permainan dan kehidupan adalah suatu kesalahan berpikir yg serius, tapi alasan anda tampaknya masuk akal juga.
    Keadilan sosial tidak feasible ?? Tunggu dulu… Ketidaksetaraan seringkali bukan pilihan sukarela, tetapi bisa jadi semacam keterpaksaan, misalnya terlahir cacat, miskin, dll. Keadilan sosial tetap feasible melalui intervensi oleh negara secara tepat untuk mengkoreksi ketidaksetaraan guna mencapai keadilan sosial. Kerjasama antar individu sulit terjadi secara sukarela, itu hanya utopia. Harus ada peran negara untuk “memaksa” terjadinya distribusi pendapatan dalam situasi ketidaksetaraan, misalnya pajak, zakat, dsbnya.

    Posted by F | 13 June 2008, 1:39 pm
  2. Kerjasama antar individu sulit terjadi secara sukarela, itu hanya utopia? Bagaimana dan kapankah intervensi negara bisa mengoreksi ketidaksetaraan?

    Kebetulan kami ada artikel pilar yang menyangkut kesetaraan; mungkin dapat sekalian dikritisi juga. Salam!

    Posted by Nad | 16 June 2008, 9:02 am
  3. Nampak nya F beragama Islam. Saya akan tanggapi berdasarkan ajaran agamannya.

    Catatan sejarah perkembangan negara yang tercepat adalah kekalifahan Umar bin Khattab. Ke sebelah timur dimotori oleh Khalid bin Walid yang penuh darah dan ke sebelah barat oleh Amr bin As (Mesir dan Afrika Utara). Ekspansi ke barat ini lebih banyak karena suka rela. Penguasa tempatan kong-kali-kong menyingkirkan kekuasaan Romawi. Jangan heran kalau anda lihat dalam sejarah, “penaklukan” Mesir dan Afrika Utara penuh dengan perjanjian antara pemuka tempatan dan Amr/Umar. Salah satunya dikenal dengan nama piagam Umar.

    Sebab utama kepemihakan pemimpin tempatan kepada Amr karena pajak. Pada pemerintahan Amr, pajak turun drastis, menjadi sekitar 1/5 nya (dibanding dengan masa pemerintahan Romawi). Ekonomi maju pesat. Tata niaga gandum yang ada dijaman pemerintahan Romawi dihapuskan. Perdagangan bebas.

    Khalifah Umar beberapa kali berusaha meminta Amr untuk menaikkan pajak. Tetapi ditolak. Kata Amr: “Anda menyuruh saya memegangi tanduk sapi, sementara anda memeras dan mengambil susunya”.

    Amr mundur pada jaman Othman karena diminta menaikkan pajak. Inti cerita: Kemampuan manusia tidak seperti yang dibayangkan orang. Bagi mereka yang punya motivasi dan semangat, kalau diberi kelonggaran berusaha, maka hasilnya akan luar biasa. Sosialisme adalah berlawanan dengan fitrah manusia. Sosialisme menghukum orang yang berbuat benar dan memberi insentif bagi yang berbuat salah dan parasit. Quran menganjurkan untuk membantu janda, anak yatim dan orang-orang tua. Janda (ibu) adalah asset untuk mempersiapkan generasi yang akan datang perlu bantuan. Anak yatim adalah generasi yang akan datang yang perlu dipersiapkan. Dan orang-orang tua adalah asset karena pengalamannya masa lalu.

    Kita lihat negara Indonesia ini. Berapa pajak yang dikenakan pada anda:

    PPN: 10%
    PPh sampai: 35%
    Inflasi: 17% dari tabungan anda
    Bea Import:
    PBB:

    Dan ini dipakai untuk Dept. Sosial, Dept. Naker, Dept. Agama, Dept Penerangan, Dept Perdagangan…….,

    Apa yang orang-orang miskin peroleh?

    Kasus sub-prime di US adalah karena usaha membantu orang miskin untuk memperoleh rumah. Apa hasilnya? Krisis ekonomi, inflasi, dan kemelaratan yang lebih besar.

    Keadilan sosial menelorkan ketidak adilan. Contohnya:
    Adilkah kalau orang membeli barang import didenda?
    (bea masuk adalah denda yang harus dibayar pembeli barang import)
    Adilkah orang membeli barang mewah didenda? (pajak barang mewah)
    Adilkah orang berpenghasilan meningkat dihukum denda? (pajak penghasilan progressive)
    Adilkah orang belanja? (PPN)

    Posted by imam semar | 17 June 2008, 8:03 am

Komentari

Arsip Bulanan

Rekomendasi

buku_rothbard.jpg
Apa Yang Dilakukan Pemerintah Terhadap Uang Kita?; Oleh: Murray Newton Rothbard; PT. Granit, Yayasan Obor Indonesia; ISBN : 97897916217 -4-8; tersedia di toko-toko buku terdekat. (Intip cuplikannya).
alt text
Membela Kapitalisme Global; Oleh: Johan Norberg; FNS Jakarta; tersedia di toko-toko buku terdekat. (Baca resensinya di sini).
Economic  Activism Blogs - Blog Catalog Blog Directory
%d bloggers like this: