Uncategorized

Live Blogging (1): Apakah Sebenarnya Tujuan Pembangunan Kita?

Jurnal Kebebasan: Akal dan Kehendak
Vol. II, Edisi 34, Tanggal 16 Juni 2008
Oleh: Sukasah Syahdan

Sumber: Mencari Bentuk Ekonomi Indonesia; Perkembangan Pemikiran 1965-1981 (Bunga Rampai; Penyunting: Redaksi Ekonomi Harian Kompas; Pengantar: Prof. Mohammad Sadli; PT. Gramedia Jakarta, 1982)

Artikel sorotan: Apakah Sebenarnya Tujuan Pembangunan Kita?
Penulis: Prof. Dr. Koentjaraningrat
Tanggal artikel: 11 Maret 1974

Meski banyak di antara kita mempunyai bayangan dan cita-cita tertentu tentang masyarakat Indonesia yang adil dan makmur, konsep kongkret untuk tujuan tersebut secara nasional sebenarnya belum ada. Pokoknya, kita harus memulai saja menstabiliasi dan membangun dulu. Soal perumusan tujuan secara saksama adalah soal nanti. Demikian menurut Prof. Koentjaraningrat. Ia mengusulkan agar kita mencari pengalaman, belajar dan mencontoh dari proses-proses pembangunan di negara-negara lain yang sedang berkembang. Sambil membangun, kita tiap kali mawas diri dan selalu sanggup mengadakan koreksi-koreksi bilamana perlu.

Di satu sisi, kita belum mempunyai konsepsi nasional yang jelas mengenai masyarakat apakah yang ingin kita tuju dengan usaha pembangunan kita. Di lain sisi, kita juga tidak bisa menelan mentah-mentah contoh-contoh pembangunan dari Amerika, Uni Sovyet, RRC, Jepang ataupun Brasilia. Menurut Koentjaraningrat, semua negara tersebut mempunyai beberapa sifat dasar yang berbeda dengan kita. Tapi ia berhenti di situ; apa bedanya, tidak disebutnya.

Ia melanjutkan bahwa, sebagai pengarahan pengarahan kepada pembangunan kita, sambil mengembangkan konsepsi yang jelas, kita harus memahami akibat-akibat serta aspek-aspek negatif dan bahaya dari kemakmuran serta demokrasi yang terlampau ekstrem.

Menurut sang ilmuwan, akibat-akibat dan bahaya itu adalah:

1) Individualisme ekstrem serta isolasi individu. Argumentasinya: kita ngeri melihat ekses-ekses di negara yang telah maju, yang mungkin timbul karena individualisme yang terlampau ekstrem. Hak milik individu didewa-dewakan; rasa keamanan yang murni dalam hidup hilang, dan hidup individu dalam segala aspeknya menjadi tergantung kepada perusahaan-perusahaan asuransi.

2) Keretakan prinsip-prinsip kekeluarga. Argumentasinya: dalam satu-dua dasawarsa terkahir ini, kehidupan keluarga Jepang juga mengalami keretakan. Hal itu karena bangsa Jepang menjadi buta karena suksesnya yang luar biasa dalam membangun ekonominya. Bangsa Jepang tak bisa mengendalikan diri lagi, meninggalkan sifat-sifat kemanusiaan, dan menjadi “binatang ekonomi”. Dari proses ini kita bisa belajar pagi-pagi, agar tetap sadar akan titik di mana kita harus berhenti.

3) Hilangnya nilai-nilai hidup rohaniah yang mempertinggi mutu hidup. Argumentasinya: walaupun dengan kemamurannya manusia di negara-negara maju dapat membeli keindahan dan unsur-unsur kehidupan rohaniah sekalipun, toh manusia tidak akan dapat menikmatinya apabila ia tak dapat menemukan dalam jiwanya keselarasan antara komfort dan kehidupan rohaniah itu. Menjaga agar keselarasan yang melandasi hidup bermutu itu tidak pecah itulah yang harus menjadi perhatian kita pagi-pagi.

4) Penggunaan kelebihan harta dan waktu luang yang tak wajar. Argumentasinya: kalau kemakmuran sudah tiba, biasanya manusia tak bisa menyadari batas dari kebutuhannya yang meningkat secara tak wajar. Terdorong oleh rasa bersaing untuk meninggikan gengsi, maka kalau mereka sampai pada batas jumlah, frekuensi dan kemewahan dari rumah, perabot, perhiasan, kendaraan dan pesta-pesta, maka ia akan mencari penonjolan gengsinya dalam sifat keanehan dari rumah. Kelebihan waktu luang akan bersifat lebih berbahaya lagi; apalagi kalau hal itu bersamaan dengan rasa kekosongan hidup akibat isolasi individu, atau akibat tidak adanya keselarasan hidup, mutu hidup dan arti hidup.

5) Polusi dan pencemaran lingkungan hidup. Keterangannya: seperti diakuinya ini tidak termasuk bidang keahliannya. Sang profesor menyinggungnya di sini untuk melengkapi saja daftar berbagai akibat negatif dari ekses-ekses pembangunan yang tak dikendalikan.

Komentar:

Demikianlah kontribusi pemikiran salah seorang ilmuwan ahli kebudayaan Indonesia di masanya terhadap pembangunan di negeri tercinta ini. Meski cukup singkat, artikelnya yang adalah eksposisi lintas bidang keilmuwan–dari ekonomi, politik, agama, etika, moral, biologi, fisika dan lainnya, yang dijadikannya sarana untuk memaparkan upaya explicit moralizing-nya tentang bagaimana bangsa Indonesia harus hidup.

Satu asumsi besar yang tidak disebut penulisnya adalah adanya agregasi makna kebahagiaan lahir batin bagi setiap jiwa bangsa Indonesia. Sang profesor juga mengetahui dengan pasti bagaimana corak, fitur, dan kontur mentalitas bangsa-bangsa lain, seperti AS, Jepang, Cina dsb. Kata “kita” di sini dipakainya sebagai imbauan kepada sejawat intelektual dan pemegang tampuk kekuasaan untuk merancang pembangunan Jalan Ketiga melalui proses perencanaan sentral. Semua yang dinyatakan di atas jelas merupakan kenyamanan dan justifikasi yang luar biasa besar bagi sepak terjang pemerintahan.

Khusus mengenai pandangan ekonominya, kiranya di atas masih tertinggal jejak-jejak Marxisme yang cukup jelas–misalnya ketidakpercayaan sang profesor bahwa pasar dapat adalah mekanisme yang jauh lebih superior daripada cara-cara lain dalam hal penyediaan safety net; atau isolasi alienasi individu akibat pembagian kerja, dsb. Dengan segala hormat, saya merrasa tulisannya di atas nyaris mengatakan orang harus bersalah atas kemakmurannya, atas kelebihan waktu luangnya. Dan terlepas lepas dari betapa seriusnya kekeliruan pandangan ekonomi semacam itu, tampaknya tidak banyak orang mempersoalkannya; daya tarik romantiknya memang masih terus dominan di kalangan intelektual dan penguasa saat ini. Sementara tujuan konkretnya tetap masih harus digagas, cara-cara yang keliru tetap dipertahankan karena gagal disadari sebagai kekeliruan.

Kirim artikel ini:
Share on FacebookTweet about this on TwitterShare on Google+Email this to someoneShare on RedditShare on StumbleUpon

Tulisan lain yang mungkin terkait:

Discussion

2 comments for “Live Blogging (1): Apakah Sebenarnya Tujuan Pembangunan Kita?”

  1. Prof. Koent memang salah seorang ilmuwan sosial yang paling berpengaruh. Pengamatannya tajam, apalagi mengenai mentalitas bangsa-bangsa. “kehebatan” beliaulah, alasan mengapa ilmu antropologi sekarang berkembang pesat di Indonesia.
    Ilmu antroplogi memang bukan ilmu ekonomi. Jadi wajar bila rekomondasi beliau cenderung bersifat intervensif…dan apabila para ekonom mencintai intervensi, maka ekonom yang gituan perlu dicurigai.

    apakah ekonom tersebut mau jadi ilmuwan atau penguasa?

    Ini adalah contoh ekstrim, bahwa mengkaji manusia secara terpisah-pisah menurut bidang ilmu tersendiri adalah sengat jauh dari ideal….

    Posted by Giyanto | 18 June 2008, 6:09 am
  2. Sangat menarik tulisannya. Memberikan pencerahan.

    Posted by Widyaiswara | 19 June 2008, 12:12 am

Komentari

Arsip Bulanan

Rekomendasi

buku_rothbard.jpg
Apa Yang Dilakukan Pemerintah Terhadap Uang Kita?; Oleh: Murray Newton Rothbard; PT. Granit, Yayasan Obor Indonesia; ISBN : 97897916217 -4-8; tersedia di toko-toko buku terdekat. (Intip cuplikannya).
alt text
Membela Kapitalisme Global; Oleh: Johan Norberg; FNS Jakarta; tersedia di toko-toko buku terdekat. (Baca resensinya di sini).
Economic  Activism Blogs - Blog Catalog Blog Directory
%d bloggers like this: