Epistemologi

Tentang Empirisme, Praksiologi dan Kepastian Pengetahuan

Jurnal Kebebasan: Akal dan Kehendak
Vol. II, Edisi 35, Tanggal 23 Juni 2008
Oleh: Sukasah Syahdan

Tidak ada yang rasional ataupun irrasional perihal kehidupan, tetapi akal adalah satu-satunya peranti yang dimiliki manusia untuk memaknai kehidupan dan alam semesta secara sistematis. Emosi sering dikatakan ikut berperan dalam proses pengambilan keputusan; namun, dalam kesadaraan dan kedewasaan tiap individu, sesuai dengan hukum kodrati, perasaan adalah ‘budak’ dari akal dan bukan sebaliknya.0)

Ketika cabang-cabang besar filsafat berhasil diformalkan sebagai sains, sains pun dikembangkan untuk dipakai sebagai instrumen yang mendekatkan manusia kepada kebenaran–kebenaran ilmiah, atau pengetahuan.

Satu metode sains yang paling dominan dan nyaris singular dalam mengayomi hampir semua enterprise pencarian kebenaran di segala bidang hingga detik ini ini adalah empirisme.   Dominasi empirisme nyaris tiada banding, nyaris zonder pertanyaan lantaran sudah dianggap sebagai pakem yang sudah semestinya demikian. Kalaupun masih ada yang mempertanyakan epistemologi di kalangan ilmuwan empiris, pertanyaannya lebih pada bagaimana mempertajam formalisasi hipotesis dan memperluas sepak terjang doktrin ini melalui cross fertilization antardisiplin ketimbang, misalnya, gugatan terhadap penggunaannya.

Sementara itu, pertanyaan kunci berikut tetap terlantarkan di satu pojok ruang dingin pemikiran, yang ditempatkan persis di sebelah tong sampah sejarah. Begitu mustahilkah kemungkinan adanya kebenaran yang tidak berubah sejak Adam hingga Armageddon? Jika pengetahuan benar tidak dapat dipastikan sementara metode pencariannya menafikan keberadaannya, kemanakah akal akan membawa kemanusiaan?

Demikian duduknya perkara kebenaran yang harus diterima manusia–hingga akhir jaman.  Kendati tidak sepenuhnya nir-manfaat, empirisme adalah sebuah jalan tak berujung.  Dia upaya coba-coba tak berkesudahan yang dapat dipastikan tidak akan membawa kita kepada kebenaran. Jika ini tergolong paradoks, doktrin tersebut memaksa ilmuwan untuk mengunyahnya, dan para awam untuk menelannya.

Empirisme mengambil alam serta ilmu-ilmu alam sebagai modelnya. Menurutnya, bahkan proposisi ilmu sosial pun berstatus logis yang sama dengan proposisi ilmu alam.  Semua proposisinya menyatakan hubungan hipotetis semata antarsatu peristiwa dengan peristiwa yang lain.  Pada esensinya dia mengambil bentuk pernyataan-pernyataan jika-maka. Namun, semua proposisi sementara ini membutuhkan pengujian terus menerus terhadap pengalaman.

Klaim empirisme, kebenaran tidak dapat dipastikan sekali untuk selamanya.  Tidak ada kebenaran yang benar-benar dapat dipastikan. Kebenaran adalah Godot yang tidak pernah datang. Dia senantiasa ditunda sebagai hipotetis tentatif yang dapat gugur kapan saja melalui proses falsifikasi.

Ciri utamanya adalah bahwa pengetahuan tentang realitas, atau pengetahuan empiris, harus dapat diverifikasi atau setidaknya dipatahkan oleh pengalaman observasional. Kita tidak dapat mengetahui terlebih dahulu sebelum pengalaman-sebelum betul-betul melakukan semacam pengalaman observasional secara khusus. Sebaliknya, jika ada pengetahuan tidak bisa diverifikasi atau difalsifikasi oleh pengalaman observasional, maka hal itu bukan pengetahuan yang riil. Dia pengetahuan tentang kata-kata semata, tentang penggunaan istilah-istilah, tentang penandaan dan pengaturan transformasional atas tanda-tanda tersebut. Dengan kata lain, dia cuma pengetahuan analitis, yang tidak setara dengan pengetahuan empiris.

alt text

Hans-Hermann Hoppe dalam bukunya tentang metodologi menjelaskan bagaimana empirisme menolak pengetahuan yang bersifat apriori.  Kebenaran apriori hanya dianggap sebagai proposisi analitis, dan tidak dapat dianggap sebagai pengetahuan yang riil. Ketika pengalaman mungkin mengonfirmasi hipotesis, hal tersebut tetap tidak membuktikan kebenaran; oleh karena hipotesis tidak terbukti sebagai benar, maka hipotesis tersebut berlaku untuk kasus atau keadaan yang jumlahnya tak terhingga, sehingga selalu meninggalkan ruang kemungkinan bagi pengalaman yang memfalsifikasikannya di masa depan.

Asumsi lain empirisme memformulasikan perpanjangan dan pengaplikasian asumsi sebelumnya terhadap persoalan kausalitas, penjelasan sebab-akibat, dan prediksi. Dalam empirisme, penjelasan kausal atau prediksinya terhadap fenomena riil dilakukan dengan jalan memformulasikannya ke dalam bentuk pernyataan sejenis “jika A, maka B” atau, manakala variabel-variabelnya memungkinkan pengukuran kuantitatif, dia akan mengambil bentuk semacam:  “jika A mengalami kenaikan (penurunan), maka terjadi kenaikan (penurunan) pada B.”

Sebuah konfirmasi hanya akan membuktikan bahwa hipotesis yang dipakai sejauh ini belum terbukti salah.  Masih terbuka peluang bagi pengalaman untuk menampiknya pada suatu saat.  Sesungguhnya, ketika pengalaman membatalkan hipotesis empiris, hal tersebut hanya akan membuktikan kesalahan hipotesis tersebut. Ini tetap tidak membuktikan hubungan sejati antarperistiwa yang sedang dihipotetiskan.

Singkatnya, kita tidak dapat mengetahui secara pasti apakah satu hal merupakan penyebab terjadinya hal lain. Jika kita ingin menjelaskan suatu fenomena, hipotesis kita tentang penyebab-penyebab yang memungkinkan tidak terkendala dalam cara apapun oleh pertimbangan-pertimbangan apriori. Segala hal dapat memiliki pengaruh terhadap hal apa pun.  Kita harus menemukan melalui pengalaman apakah hal tersebut memang benar demikian adanya ataukah sebaliknya. Akan tetapi, sekali lagi, pengalaman tidak akan pernah memberi kita jawaban yang pasti.

Dalam kondisi seperti ini, dapat dipahami kalau sikap ilmiah yang tersulut oleh empirisme adalah skeptisme.  Empirisme menjunjung moto: “Tidak ada yang bisa dipastikan;” atau “Impossible is nothing;” atau , “Anything goes” atau “Apapun bisa jadi penjelasan.”

Jadi, klaim sentral empirisme adalah sebagai berikut: pengetahuan empiris harus dapat dikukuhkan atau dibantah melalui pengalaman; sedangkan pengetahuan analitis, yang tidak dapat disahihkan atau difalsifikasi, dengan demikian tidak berisi pengetahuan empiris apapun.  Jika ini benar, maka cukup fair untuk ditanyakan: Kalau begitu apa status pernyataan fundamental ini mengenai empirisme? Jelas, dia harus bersifat analitis atau empiris.  Demikianlah empirisme sesuai pandangan Hoppe.

Kita pun kembali kepada semacam paradoks. Dan dengan paradok yang menganga sebegitu lebar, empirisme adalah doktrin yang self-defeating, yang mewajarkan pertanyaan seputar popularitas penggunaannya sebagai sebuah epistemologi.

alt text Ludwig von Mises

Adalah Ludwig von Mises yang mengangkat kembali pertanyaan kunci di atas, dan memformulasikan kembali tilikan filsafat dengan gagasannya yang tidak dapat dipandang remeh.  Hasilnya berupa sebuah disiplin dan metode orisinil yang dinamakannya praksiologi.  Praksiologi menyimpulkan bahwa paradoks tersebut tidak lain sebuah ketersesatan pikiran. Sebagaimana diformulasikannya, praksiologi memberi afirmasi terhadap kemampuan rasional manusia untuk memeroleh kepastian pengetahuan tentang aspek-aspek realitas.  Menurut disiplin ini, pengetahuan dapat dipastikan.

Aksioma Tindakan

Mises melandaskan disiplin tersebut pada sesuatu yang tak terceraikan dari kodrat manusia-pada sebuah konsep yang tidak terbantahkan logika, dan yang fenomenanya senantiasa hadir dan dapat diobservasi sehari-hari.

Landasan tersebut adalah aksioma tindakan.  Dan praksiologi bermulai dari sini.  Tindakan, sebagaimana yang diperlihatkan oleh semua manusia, menurut Mises, adalah suatu perbuatan yang bertujuan (purposeful behavior) (Human Action, h. 11). Setiap manusia yang bertindak mempersepsikan seperangkat tujuan tertentu sebagai sesuatu yang secara subyektif memiliki nilai, dan kemudian memilih cara (means) yang dianggapnya akan membawanya kepada pencapaian tujuan tersebut.  Pada akhirnya tindakan diarahkan atau ditujukan pada pemenuhan kepuasan atau kebahagiaan, bagi sang individu pelakunya.

Tiga kondisi berikut harus terpenuhi sebelum tindakan terjadi.

Pertama, seorang individu yang berhasrat bertindak perlu terpapar pada semacam ketidakpuasan.  Orang yang sepenuhnya merasa puas tidak akan termotivasi untuk bertindak.  Orang bertindak untuk mengubah keadaan (state of affair) yang kurang memuaskan dengan keadaan yang lebih memuaskan.

Kedua, di benak pelaku tindakan tergagas bayangan akan kondisi atau situasi yang lebih baik tersebut-apapun itu, dan bahwa ia meyakini bahwa keadaan baru dalam gagasannya dapat diwujudkan dan ia memiliki kemampuan untuk mewujudkannya (elemen ini menunjukkan peran pengetahuan);

Ketiga, calon pelaku tindakan hanya akan melakukan tindakan tersebut jika ia menganggap upaya perwujudannya akan memberinya nilai yang lebih besar, melampaui disutilitas sumber daya yang dimilikinya untuk mewujudkan hal tersebut.

Patut dicatat, aksioma tindakan tidak mengasumsikan bahwa individu bebas dari kesalahan dalam penilaian.  Dia tidak mengasumsikan ketersediaan segala pengetahuan yang diperlukan bagi tujuan yang ditentukan, apalagi bahwa sumber ketersediaannya sepenuhnya berada dalam penguasaannya.  Dari perspektif pelaku tindakan, semua tindakan yang dilakukannya selalu “rasional” dalam arti bahwa tindakan tersebut selalu memiliki alasan-alasan pemilihannya.  Sang pelaku tindakan dapat keliru dalam menginterpretasikan fakta-fakta dasar atau dalam menilai kausalitas yang mungkin tidak ada. Kelak, di saat retrospeksi, ia mungkin menyadari kesalahan tersebut dan akan menyesuaikannya untuk tindakan di masa depan.  Yang pasti, ia senantiasa memiliki alasan di balik tindakan yang dilakukannya, sekalipun hal tersebut  terbukti kemudian sebagai kekeliruan.

Aksioma tindakan meliputi semua sifat means dan ends apapun yang dapat digagas manusia.  Tujuan tindakan dapat berupa sesuatu yang mental, fisikal ataupun keduanya. Tujuan seseorang dapat bersifat yang moral ataupun  imoral-dan ini bukan soal bagi praksiologi.  Dalam praksiologi, “Semua tujuan dan semua cara pencapaian, baik terhadap isu-isu material maupun yang ideal, yang sublim maupun yang banal, yang agung maupun yang tidak, terletak pada sebaris skedul nilai, yang tidak menganggap tinggi satu hal dari yang lain, melainkan tergantung pada keputusan yang ia pilih pada suatu kurun waktu dan dengan demikian menyisihkan pilihan-pilihan yang lain (HA, hal. 3).

Implikasi aksioma tindakan adalah bahwa seorang pelaku tindakan mengatur keseluruhan ends yang tersedia baginya pada “hirarki” ordinal yang subyektif. Di satu sisi, sang pelaku tindakan mengejar tujuan yang ia anggap paling bernilai tinggi, paling berharga pada suatu titik waktu.  Secara subyektif, ia mengetahui hirarki nilainya sendiri dan mengapa ia memilih satu tujuan ketimbang yang lain.   Di sisi lain, bagi seorang pengamat misalnya, satu-satunya cara untuk mengetahui bahwa seorang pelaku menilai A lebih tinggi dari B pada suatu waktu jika sang pelaku tersebut benar-benar memilih A ketimbang B.  Dengan kata lain, hanya melalui demonstrated atau revealed preference.

Tindakan adalah cara seorang pelaku memanifestasikan operasi skala nilai individunya.  Bahkan ketika sang pelaku tindakan merasakan suatu indifference atas seperangkat pilihan baik ends atau means, hal tersebut juga merupakan tindakan.  Tindakan tidak hanya berarti bertindak; dia juga termasuk tidak melakukan apa yang mungkin dapat dilakukan (HA, hal. 14).

Ketika orang tidak memilih, orang tersebut sengaja memilih konsekusensi suatu non-interferensi terhadap faktor realitas ketimbang konsekuensi interferensi.  Dengan demikian, ketika manusia memiliki kehendak bebas, ia akan bertindak. Dan manusia dalam pengertian utuh memiliki kemampuan keagenan untuk meng-exercise kehendak bebas tersebut.

Tindakan dapat dikatakan sebagai prasyarat bagi kemanusiaan.  “Manusia bukan hanya homo sapiens, melainkan tak kurang juga homo agens” (HA, hal. 15).  Keberadaan tindakan dikatakan bersifat aksiomatik sebab bahkan setiap tindakan untuk menyangkalnya hanya akan semakin mengafirmasi kesahihannya.

Ringkasnya,  sebagaimana dinyatakan oleh Hoppe (hal 22), bahkan setiap upaya percobaan untuk menyangkal keberadaan tindakan sudah merupakan tindakan itu sendiri. Selain itu, tindakan manusia adalah jembatan penghubung terhadap apa yang terjadi secara mental di dalam benak manusia, dengan realitas eksternal.

Kepastian Pengetahuan

Sains praksiologi berisi himpunan sistematis pengetahuan mendasar yang diturunkan dari aksioma tindakan dan diketahui sebagai benar adanya.  Oleh karena aksioma tindakan tersebut tidak terbantahkan sebagaimana diperlihatkan di atas, maka segala proposisi yang diturunkan dari sana juga tidak terbantahkan-sejauh proses deduksinya dilakukan secara akurat. Melalui praksiologi, kita dapat mencapai kebenaran proposisi secara utuh dan absolut, di mana eksperimen atau bukti empiris tidak akan pernah dapat menolaknya.  Dalam formulasinya sebagai teori terhadap realitas, realitas tidak dapat melenceng dari teori tersebut, sebagaimana 2+2 selalu bermakna 4 sejak jutaan tahun lalu dan jutaan tahun ke depan.

Tentang proposisi-proposisi praksiologis, Mises mengatakan:

Pernyataan-pernyataan dan proposisi-proposisinya tidak berasal dari pengalaman. Seperti halnya logika dan matematika, semua pernyataan dan proposi ilmu ekonomi bersifat apriori, yang tidak tunduk terhadap verifikasi dan falsifikasi atas dasar pengalaman dan fakta. Keberadaan mereka bersifat mendahului, baik secara logis maupun temporal, setiap pemahaman terhadap fakta-fakta historis. Mereka merupakan kondisi yang harus tersedia bagi pemahaman intelektual terhadap peristiwa-peristiwa historis. (HA, h. 32; cetak tebal saya.)

Praksiologi  menawarkan tilikan sintetis yang apriori tentang realitas.  Kesahihannya tidak memerlukan observasi; dan observasi tidak akan meruntuhkannya.  Proposisi praksiologis bersifat sintetis dan secara apriori benar karena titik awalnya-yakni aksioma tindakan-adalah benar tak terbantahkan.

Dengan aksioma tindakan sejumlah besar pengetahuan apriori tentang realitas dapat diperoleh dengan kebenaran absolut.  Mari kita tinjau sejenak bidang ilmu ekonomi untuk mengecek beberapa proposisi praksiologis yang diverbalkan oleh Hoppe:

Ketika dua orang A dan B saling melakukan pertukaran secara sukarela, keduanya pasti berharap mendapatkan keuntungan (profit) dari kegiatan tersebut. Mereka pasti memiliki peringkat preferensi yang terbalik untuk barang dan jasa yang dipertukarkan sehingga A akan menilai apa yang diterimanya dari B bernilai lebih tinggi daripada yang ia berikan kepadanya, dan B mengevaluasi hal yang sama secara terbalik pula.

Atau:

Ketika pertukaran tidak terjadi secara sukarela melainkan karena paksaan, maka salah satu pihak akan mendapat keuntungan di atas kerugian pihak lain.

Atau tentang kaidah faedah marjinal sebagai berikut:

Ketika persediaan barang bertambah sebanyak satu unit, sejauh manfaat setiap unit tersebut dinilai setara oleh seseorang, maka nilai yang diberikan orang itu kepada unit tersebut pasti akan menurun.

Atau satu contoh lagi:

Ketika kuantitas uang bertambah sementara permintaan terhadap uang untuk pegangan tunai tidak berubah, maka daya beli uang tersebut akan jatuh.

Menurut praksiologi, kebenaran proposisi-proposisi di atas tidak perlu divalidasi. Mereka bukan hipotesis dalam pengertian yang sama dengan proposisi ilmu kimia, misalnya, tentang efek pencampuran dua zat alamiah. Proposisi-proposisi tersebut tidak memerlukan pengujian laboratorium, apalagi kalau harus diobservasi terus menerus melalui observasi.

Bahwa A dan B pasti mendambakan keuntungan dan masing-masing memiliki tatanan preferensi terbalik, berasal dari pemahaman kita terhadap pertukaran. Hal serupa berlaku juga bagi konsekuensi-konsekuensi dari pertukaran yang dipaksakan.  Mengenai kesahihan kebenarannya, Hoppe mengatakan:

“Tidak terbayangkan jika hasilnya akan pernah berbeda: hasilnya sama sejuta tahun lalu dan akan sama sejuta tahun mendatang. Dan kisaran aplikasi bagi proposisi-proposisi ini juga sudah gamblang sekali dan untuk selamanya […] Musykil (absurd) jika kita menganggap perlu pengujian terus-menerus untuk memastikan kebenaran proposisi semacam itu.”

Demikian pengantar singkat ini terhadap praksiologi–sebuah disiplin yang membunyikan dentang lonceng kematian bagi doktrin empirisme.  Mungkin kalimat ini terdengar terlalu keras; namun, paling tidak praksiologi sebagai disiplin sekaligus metode dapat menyediakan kepada ilmuwan batas-batas pengekang sejauh mana empirisme bermanfaat sebagai ‘kuda tunggangan’ dan pada kondisi mana makhluk tersebut berpotensi membawa penunggangnya ke lembah ketersesatan yang kian jauh– baik dari pemastian pengetahuan maupun dari kebenaran itu sendiri.

Melalui praksiologi, pengetahuan dapat dipastikan. Keberadaan kebenaran yang apriori dan tidak berubah bersama waktu (time-invariant) diterima.

Catatan:

0) Kalimat terakhir dalam alinea ini perlu dikembangkan menjadi esei yang amat penting untuk menunjukkan salah satu kekeliruan filsafat moral David Hume, sebagaimana dituangkannya dalam tulisannya, A Treatise of Human Nature, di mana ia menyatakan ”ajarannya” bahwa ”…Reason, it said, is and ought only to be the slave of the passions.”  Tulisan indah Frank van Dun telah mulai membuka wacana ini.

1) Uraian ringkas tentang praksiologi sebagai metode ilmu ekonomi dapat dibaca dalam buku Prof. Hans-Hermann Hoppe: Economic Science and the Austrian Method.  Dalam buku ini refutasi terhadap historisisme juga diberikan, yang tidak dibahas dalam artikel di atas.  Naskah terjemahannya dalam bahasa Indonesia saat ini sudah selesai dikerjakan penulis dan sedang dalam proses penerbitan.  Naskah juga akan diterbitkan secara berkala di akaldankehendak.com.

2) Buku utama yang dapat dijadikan sumber penting tentang praksiologi adalah karya Mises, Human Action (1966).

3) Setidaknya di Jurnal ini, kemapanan epistemologi ilmu sosial pertama kali digugat “secara resmi” oleh Sdr. Giyanto melalui beberapa kontribusi artikelnya, termasuk artikel ini.

4) Catatan kaki no. 0 (ttg Hume) di mutakhirkan: 30 Juli, 2008; 12:21.

Kirim artikel ini:
Share on FacebookTweet about this on TwitterShare on Google+Email this to someoneShare on RedditShare on StumbleUpon

Tulisan lain yang mungkin terkait:

Discussion

8 comments for “Tentang Empirisme, Praksiologi dan Kepastian Pengetahuan”

  1. “Ketika pertukaran tidak terjadi secara sukarela melainkan karena paksaan, maka salah satu pihak akan mendapat keuntungan di atas kerugian pihak lain”

    Hukum di atas barangkali dilupakan para penguasa (pemerintah), bahwa seperti yang mereka asumsikan sekarang, dari hasil penelitian empirism, bahwa harga beras layak ditentukan oleh Bulog. Mereka tidak sadar, dengan tersenyum pemerintah telah membunuh para petaninya sendiri atas dasar alasan “stabilisasi” harga.

    Saya kadang aneh bila membaca wacana konyol dari para akedimisi, khususnya yang mengaku ahli pertanian ataupun ekonomi. bahwa mereka bisa memberi solusi bagi kesejahteraan “bersama”. Barangkali, yg dimaksud “bersama” adalah. Mengajak mati sama-sama…

    Padahal, untuk para petani tercinta, Solusinya sederhana agar para petani sekarang dapat sejahtera. Solusinya satu, yaitu: Bubarkan BULOG….!

    tidak usah bingung-bingung dalam mensejahterakan “rakyat”. Caranya: lepaskan saja tangan anda (para penguasa) untuk merasa sok jagoan mengurusi urusan kami-kami…

    Praksiologi telah memberi bukti, bahwa pertukaran telah mampu menciptakan hukum-hukum untuk manusia agar dapat lebih sejahtera. tidak seperti UU dari para legislator yang memakan biaya dan menambah kekacauan, yang akhirnya malah mensengsarakan dan membikin kemelaratan…

    Posted by Giyanto | 23 June 2008, 3:15 pm
  2. Pak IS, sementara ada empat alasan, entah nanti kalau sambil jalan dapat tambahan alasan lain. Biar Bulog segera dibubarkan…

    1. Bulog telah membuat beras menjadi busuk dan dimakan kutu….padahal orang2 desa lebih pinter nyimpen beras (mereka menyimpan tidak dalam bentuk beras, tapi gabah kering, jadi baru diselep ketika mau dimakan atau dijual, walaupun sudah berbulan2 akan tetep enak untuk dimakan)
    2. Bulog seenaknya sendiri menentukan harga dasar. Emang mereka punya hak apa? kalau di pasar harga beras tidak sesuai harga dasar, maka dengan segera Bulog menjadi Suparman, dengan alasan menolong harga beras. ha2… Emang dia beli beras dari uang siapa? kan dari rakyat melalui pajak? orang2 itu aneh, dibohongi BULOG kok mau aja.
    3. Info terbaru, walaupun kabarnya stok pangan kita aman. tapi dengan tanpa alasan, BUlOG rencana ndatangin beras dari negeri tetangga 500 rb ton. Barangkali karena orang2 BULOG tidak punya kerjaan, jadi main2 untuk jual-beli beras dari luar negeri. Ya, katanya biar beras luar negeri bisa studi banding, kayak pejabat2 itu…

    4. Terus tambahan, sekarang ini harga internasional beras bisa mencapai 7 rb sampai 10 rb rupiah per/kilo. Kalau harga segitu, barangkali petani sekarang bisa kaya raya. Dengan demikian, saya kemarin tidak usah susah2 cuti kuliah, gara-gara harga beras dirumah cuma 3500/kg (waktu itu kira2 th 2007) saya tidak dapat bayar registrasi…

    Wah gara2 BULOG semua jadi susah….

    Ditambah, ketika ada tengkulak mau beli harga tinggi (semisal standar harga internasional) kemudian diekspor.. Pemerintah dan Bulog menuduh mereka sebagai penyelendup, ha2…(seperti kasus Argentina saat ini, tapi di Argentina beda, petaninya bisa demo, kalau petani kita, lebih suka jagong di warung kopi sambil minum kopi, daripada pusing2 demo ama orang (pemerintah) yang sudah tidak punya telinga) dikasih tau tetep aja mereka tolol….

    gitu, jadi BULOG pantas untuk dibubarkan (kalau perlu sekalian pemerintahnya,he2…..)

    Posted by Giyanto | 23 June 2008, 6:51 pm
  3. Oh maaf, diskusi praksiologi kok malah jadi membahas Bulog. (tapi disini saya mencoba akan mengkaitkannya)

    Mengenai praksiologi, di negeri kita memang tidak dikenal. Orang lebih mengenal ilmu sosial, dengan berbagai variannya; dari ekonomi, sosiologi, antropologi, ilmu politik dsb.

    Menurut saya, ini karena pengaruh pemikiran Jerman yg lebih banyak mendominasi kajian2 ilmu sosial. Akibatnya Praksiologi nyaris tidak dikenal.

    Dari kajian literatur yg baru sedikit saya pahami. Pemikiran Max Weber banyak mempengaruhi para ahli sosiologi. Dampak lebih jauh adalah rekomendasi pada gagasan ideal mengenai organisasi negara. Akibatnya, solusi permasalahan sosial lebih banyak mengarah pada institusi birokrasi. Semisal berdirinya BULOG dan variannya. Padahal, organisasi yang demikian tidak efektif. karenanya organisasi tsb bekerja berlandaskan otoritas dari kekuasaan. Yg melegitemasi adanya monopoli pasar….
    Sedangkan praksiologi berbeda. Dia lebih lebih menekankan pada cara individu meraih tujuan. Organisasi, bagi praksiologi dapat digunakan selama dia bisa mengefektifkan tujuan dari manusia itu sendiri. Maka, tidak ada jalan lain kecuali organisasi tersebut bekerja pada mekanisme pasar. Yaitu organisasi kapitalis. Landasan organisasinya bekerja berlandaskan interaksi sukarela dari para pelaku ekonomi. Ketika organisasi tersebut tidak dapat menjalankan fungsinya (yaitu melayani para konsumen/pelanggan) maka secara alamiah mereka akan terlempar dari arena pasar…

    kalau demikian, maka wacana reformasi birokrasi yang ada di negeri kita sekarang sebenarnya adalah wacana malu-malu yg ingin mengatakan bahwa sistem organisasi birokrasi kita sebenarnya gagal total…

    Solusi sebenarnya bukanlah reformasi birokrasi…
    tapi, pembubaran segala bentuk organisasi birokrasi yang rawan menciderai pasar…

    maka…sekali lagi: Bulog seharusnya dibubarkan biar para petani bisa mendapat keadilan…

    Mohon tanggapannya bagi yg merasa keberatan dengan argumentasi saya….

    salam
    Giy

    Posted by Giyanto | 23 June 2008, 9:58 pm
  4. Oom Giy….,

    Anda anti banget deh sama BULOG. Emangnya pernah digebuki orang bulog atau beras yang ditimbun oom Giy disita?? ….. he he he he…

    Kalau saya anti BI. Bubarkan BI. Hentikan semua ketidak-bijaksanaan moneter. Ganti rupiah dengan rupiah asli (Rupiya = koin perak dalam bhs Sansekerta) atau emas….

    Buat apa menggaji orang banyak cuma untuk mencetak duit kertas yang nilai interinsik sama dengan toilet paper.

    Posted by imam semar | 23 June 2008, 11:12 pm
  5. @Giy, buat saya terdengar seperti anarcho-capitalism
    http://en.wikipedia.org/wiki/Anarcho-capitalism
    tidak bermaksud memberi stigma, cuma konfirmasi saja 🙂

    Posted by fade2blac | 25 July 2008, 1:11 am
  6. bukan stigma, barangkali malah tepat.

    Posted by Giy | 27 July 2008, 6:40 am
  7. "Hans-Hermann Hoppe dalam bukunya tentang metodologi menjelaskan bagaimana empirisme menolak pengetahuan yang bersifat apriori…

    …empirisme adalah doktrin yang self-defeating, yang mewajarkan pertanyaan seputar popularitas penggunaannya sebagai sebuah epistemologi"

    —————-

    Penolakan empirisme terhadap apriorisme, sebenarnya adalah bentuk apriori itu sendiri…

    Posted by Giyanto | 11 May 2009, 12:31 pm
  8. kalo boleh nimbung  error dari empirisisme adalah mengaplikasikan metodologi induksi fisika pada perilaku manusia yang memiliki kehendak bebas. 

    setuju berat buat mas imam, bubarkan pemalsu uang resmi….

    Posted by alex | 28 June 2009, 3:03 am

Komentari

Arsip Bulanan

Rekomendasi

buku_rothbard.jpg
Apa Yang Dilakukan Pemerintah Terhadap Uang Kita?; Oleh: Murray Newton Rothbard; PT. Granit, Yayasan Obor Indonesia; ISBN : 97897916217 -4-8; tersedia di toko-toko buku terdekat. (Intip cuplikannya).
alt text
Membela Kapitalisme Global; Oleh: Johan Norberg; FNS Jakarta; tersedia di toko-toko buku terdekat. (Baca resensinya di sini).
Economic  Activism Blogs - Blog Catalog Blog Directory
%d bloggers like this: