Featured

Menyikapi Paham-Paham Paradoks

Jurnal Kebebasan: Akal dan Kehendak
Vol. II, Edisi 35, Tanggal 23 Juni 2008
Oleh: Sukasah Syahdan

Selesai membaca tulisan Imam Semar (IS) mengenai isme-isme paradoks (edisi minggu lalu yang juga di cross-posting di situs EOWI), saya berjanji kepadanya untuk meneruskan argumentasi logisnya tentang beberapa hal mendasar—dan yang saya anggap paling penting di sini adalah menyangkut kebebasan. Berikut kontribusi saya berdasarkan kontribusinya.

alt textParadox (Source: www.partiallyclips.com)

Sebelumnya, harus saya katakan bahwa tulisan IS tersebut adalah esei singkat, padat dan sintal yang paling menarik dan termenggelitik bagi saya dalam beberapa tahun terakhir.

Hal tersebut tentu tidak harus berarti bahwa esei IS bebas dari keraguan pembaca. Bagi saya, setidaknya, terdapat beberapa hal yang sedikit mengurangi kekritisannya dan mengganggu kenikmatan pembacaannya. Ini memang minor, tetapi tanggapan singkat saya dimulai dari sini.

Pertama, tentang karya seni. Bahwa penikmatan karya seni tidak memerlukan intelektual yang tinggi adalah klaim yang mudah patah. Tidak jarang penghayatan karya seni apapun– musik, lukisan, performance, dll.–memerlukan shared knowledge dan yang penghayatannya menagih kadar intelektual tertentu. The Capture of Diponegoro karya Raden Saleh, misalnya, akan dapat lebih dapat dinikmati oleh penikmat yang sedikit banyak mengerti konteks sejarah Jawa; juga yang mengerti simbolisasi artistik, misalnya ketika para serdadu dan Jenderal Belanda direpresentasikan melalui visualisasi yang tidak proporsional (grotesque).

Kedua, mengatakan bahwa para oksimoron biasanya mempunyai latar belakang pendidikan ilmu sosial adalah kesimpulan yang terpaksa harus langsung gugur begitu disebutkannya konsep yang kini diakui secara luas oleh berbagai kalangan—baik akademisi, pedagog ataupun orang tua, yaitu multiple intelligences.  Selain itu, mengambil double dan triple majors lintas-bidang adalah fenomena yang kian umum di jaman kita.

Ketiga, dan yang saya anggap paling penting, adalah implikasi bagi simpulan logis yang saya katakan brilian terhadap isme-isme yang paradoks yang dibahasnya. IS mengatakan bahwa prinsip tersebut memiliki konflik internal, self-defeating, dan hampa akan nilai kebenaran.

IS menyimpulkan dan membuktikan secara logis bahwa kebebasan adalah gagasan yang pada hakikinya tidak ada.

Buat saya ini, sekali lagi, simpulannya ini secemerlang caranya menyampaikan gagasan. Kalau ia mau, dalam satu kalimat saja habis sudah pembicaraan kita saat itu.

Namun, ternyata ia melanjutkan dengan sebuah solusi. Dengan menyediakan solusi IS ingin berkata, ”Hei, kisanak sekalian! Tidak usahlah kalian berpegang pada prinsip kebebasan. Kebebasan tiada arti, sebab tidak ada kebenaran di sini; atau kalian akan sesat semuanya!”

Sebagai gantinya, IS mengadvokasikan prinsip moderation—atau prinsip keterbatasan yang menganjurkan agar kita hidup eling ’tidak kelewatan’ dalam berbagai hal. Untuk mendukung prinsip keterbatasannya ia mengajukan konsep prima kausa (adanya sang Pencipta, the ultimate creator), yang juga sang Pemaksa pemilik segala aturan pembatas ruang gerak manusia.

Saya akan memperlihatkan bahwa simpulan logis IS membutuhkan beberapa jenjang penyimpulan selanjutnya sebelum simpulan final dalam artikel tersebut dia dapat dimaknai secara lebih mendalam.

Kalau benar intelejensia yang tinggi dibutuhkan untuk menyadari bahwa kebebasan dan isme-isme sejenis adalah sekadar himpunan paradoks tak berarti, maka diperlukan intelejensia yang lebih tinggi untuk membawanya kepada interpretasi logis yang konklusif, termasuk pemahaman terhadap deep structure dari proposisi-proposisi logis tersebut. Dan masih diperlukan satu jenjang intelektual lagi untuk dapat mengakui ’kebenaran’ praksiologis bahwa, misalnya, fakta ketiadaan kebebasan ternyata tidak menafikan, melainkan justru mengamplifikasikan, nilai pentingnya bagi kaidah hidup bermasyarakat.  Ini akan saya coba perlihatkan kemudian.

Pada tahap ini, dalam hemat saya, satu persoalan mendasar dengan prinsip keterbatasan adalah ekslusivitasnya. Isme moderation dengan dukungan prima causa hanya dapat diberlakukan di masyarakat yang sepenuhnya teis, tidak di mana masyarakat menganut berbagai macam derajat keimanan, seperti agnostisisme atau atheisme. Besar kemungkinan penerapannya akan memprasuposisikan pemaksaan.

Kedua, seandainya prinsip keterbatasan diterapkan di masyarakat, maka dia berpotensi menjadi justifikasi yang memadai untuk melakukan penindasan atau pembantaian oleh segolongan orang kepada segolongan lainnya, siapa saja pokoknya, dan hal tersebut dapat juga menjadi legal, sejauh penindasan tersebut tidak dilakukan secara total, melainkan secara terbatas saja.

Bagi saya, ini kelemahan mendasar paham tersebut. Sistem checks and balances yang tidak tersedia secara inheren sehingga merupakan instrumen eksternal yang harus diciptakan. Tetapi selama power tends to corrupt, maka moderate power corrupts moderately. Tidak ada jaminan isme ini akan berjalan secara terbatas. Apalagi kalau mekanisme ini hanya dijalankan secara terbatas.

Berpulang kembali ke isu krusial kebebasan, pertama harus dikatakan bahwa saya menerima kesimpulan logis IS yang mengatakan bahwa kebebasan memang tidak ada. Selain itu, kebebasan, freedom, atau liberty memang bukan konsep yang langsung tersedia dalam kehidupan. Dia bukan suatu natural goods di alam raya. Sebagaimana seluruh panca indera dan akal kita dapat merasa dan memahaminya, kehidupan menuntut suatu tindakan minimal tertentu yang sifatnya jauh dari bebas, jauh dari kualitas sukarela, atau makhluk hidup akan mati di luar kehendaknya. Ini berlaku bagi tumbuhan, hewan dan manusia.

Bahwa setiap manusia terlahir bebas adalah sebongkah omong kosong yang terdengar romantis. Adalah fakta bahwa setiap manusia terlahir dalam kondisi yang berbeda dari kebebasan. Ia bahkan tidak memahami sekelilingnya, dan menjadi amat tergantung kepada lingkungan, terutam orang-orang terdekatnya, untuk keberlangsungan hidupnya.

Namun, justru dalam relasi antarindividulah konsep kebebasan menjadi penting dan begitu amat berharga. Adalah sebuah konklusi yang tidak terbantahkan bahwa pencapaian terbaik manusia hanya dapat dicapai ketika manusia memiliki kebebasan untuk berkarya, untuk berkinerja sebaik-baiknya tanpa adanya koersi eksternal. Hanya dengan adanya kebebasan, meski terkendala oleh kodratnya sendiri sebagai manusia dan oleh kenyataan bahwa setiap individu lain pun berhak atas seporsi kebebasannya sama terbatasnya, kemanusiaan dan kerjasama sosial antarmanusia paling dapat berkembang secara berkesinambungan.

Kebebasan di sini sangat dekat dan identik dengan perdamaian dan dia memang bukan satu-satunya modus dalam relasi sosial. Kekerasan, penjarahan, permusuhan, peperangan dan imperialisme adalah modus yang pernah dicobakan kemanusiaan. Seorang yang memilih modus tersebut dalam jangka pendek mungkin dapat memeroleh apa yang diinginkan; namun dalam jangka menengah dan panjang, ia akan menyadari bahwa cara tersebut akan menimbulkan berbagai komplikasi ekonomis dan etis .

Orang yang tidak mengakui bahwa individu lain memiliki kebebasan untuk melakukan apa yang dianggapnya terbaik tanpa merugikan orang lain adalah dia yang tidak percaya kepada nilai dan makna kebebasan.

Sebagai kesimpulan, saya ingin mengatakan bahwa ketika prinsip kebebasan diproposisikan sebagai ”paham yang mengajarkan bahwa orang bebas melakukan apa saja” (tanpa menyertakan ”tanpa merugikan orang lain”) maka dia, benar, menjadi paradoks yang berpotensi menjauhkan pemahaman terhadap prinsip kebebasan dalam pengertian klasiknya/laissez fairez.

(Dalam laissez fairez, prinsip kebebasan pun direpreseantasikan melalui ungkapan: laissez-faire, laissez-aller, laissez-passer. Jika diterjemahkan secara longgar, artinya kurang lebih: silakan lakukan, silakan pergi, silakan lewat. Ijinkan masyarakat melakukan apa yang mereka inginkan. Ijinkan orang-orang dan barang-barang pergi ke manapun mereka mau. Biarkan semuanya melintasi perbatasan atau ke segenap penjuru negara secara bebas).

Namun, jika diproposisikan sedemikian rupa dengan melibatkan hak individu lain, maka prinsip kebebasan akan memperlihatkan konsistensinya yang tidak saja indah, melainkan juga feasible.

Dalam kaitan relasi sosial, orang tidak dapat dipaksa untuk menjadi bebas; namun orang memang seyogyanya bebas menentukan apakah ia ingin bebas atau tidak bebas. Dan ada perbedaan mendasar yang besar sekali antara orang yang demikian dengan orang yang, katakanlah, menjadi budak against will.

Orang bebas yang ingin menghancurkan sistem yang memungkinkan kebebasan berarti tidak percaya kepada nilai kebebasan itu sendiri. Tindakan ini dapat saja ia tempuh, tetapi ia akan harus melepaskan keinginannya untuk dapat hidup bebas tanpa koersi dari orang lain. Jika ia menginginkan kebebasan atau masih menginginkan kebebasan (ex post), tindakannya yang berbasis pada koersi tersebut akan dirasakannya berkontradiksi dengan end yang ingin ia capai.

(23 Juni 2008)

Kirim artikel ini:
Share on FacebookTweet about this on TwitterShare on Google+Email this to someoneShare on RedditShare on StumbleUpon

Tulisan lain yang mungkin terkait:

Discussion

2 comments for “Menyikapi Paham-Paham Paradoks”

  1. kebebasan bagi manusia adalah terbatas itu hakiki disadari atau tidak. kebebasan akan kaidah seluruh alam susah dicapai pikiran manusia tetap terbatas.

    Posted by muani | 4 August 2009, 4:04 pm
  2. […] *Catatan: Artikel menarik ini ternyata mendapat banyak tanggapan dari berbagai kalangan; sayangnya, sebagian besar dari tanggapan ini lebih merupakan serangan ad hominem terhadap penulisnya ketimbang kepada isi tulisannya.  Bung IS selaku penulisnya lalu memberi tanggapan balik, yang bisa Anda baca di sini.  Sedangkan komentar Nad  terhadap artikel di atas, terutama menyangkut bagian kebebasan,  dapat di baca di sini. […]

    Posted by Pluralisme, Kebebasan dan Paham-Paham Paradoks | Envisioning a BETTER Indonesia | 5 October 2011, 1:12 am

Komentari

Arsip Bulanan

Rekomendasi

buku_rothbard.jpg
Apa Yang Dilakukan Pemerintah Terhadap Uang Kita?; Oleh: Murray Newton Rothbard; PT. Granit, Yayasan Obor Indonesia; ISBN : 97897916217 -4-8; tersedia di toko-toko buku terdekat. (Intip cuplikannya).
alt text
Membela Kapitalisme Global; Oleh: Johan Norberg; FNS Jakarta; tersedia di toko-toko buku terdekat. (Baca resensinya di sini).
Economic  Activism Blogs - Blog Catalog Blog Directory
%d bloggers like this: