Uncategorized

The Rise and Fall of Society

Jurnal Kebebasan: Akal dan Kehendak
Vol. II, Edisi 36, Tanggal 30 Juni 2008
Oleh: Sukasah Syahdan

alt textScream and Alienation, karya Edward Munch

Saya teringat betapa almarhum ayah saya sangat anti terhadap petasan. Sejak kecil saya tahu bagi beliau petasan termasuk satu bentuk penyiaan.  Yang tidak diketahui beliau, paling tidak selama beberapa saat, adalah bahwa salah seorang anaknya justru menjadi penjual petasan di lingkungan tempatnya tinggal.  Kalau saya ingat-ingat lagi sekarang, anaknya ini boleh tersebut penjual petasan paling laris di wilayahnya.

Waktu itu saya masih kelas 5 SD; jam sekolah dimulai siang, sekitar jam 12, hingga petang. Setiap subuh saya berjalan kaki bolak-balik sekitar 20 km ke daerah Tanah Abang untuk belanja petasan dan kembang api.  Paginya, setelah ayah berangkat kerja, saya menjajakan dagangan tersebut di depan rumah.

Suatu hari ada peristiwa yang menentukan pun terjadi. Sebelum menyiapkan dagangan seperti biasa, saya biasa menjemurnya di bawah terik matahari pagi.  Tiba-tiba, terdengar suara Vespa yang amat saya kenal.  Untuk alasan yang tidak pernah saya tahu, Ayah saya ternyata pulang!

Saking paniknya, saya tertegun dengan mata terbelalak. Ayah memarkir Vespa telor-asinnya di depan rumah, tepat di samping dagangan saya, dan bertanya, “Dagangan siapa ini?”

Saya tidak ingat menjawab apa.  Yang terlintas di benak kecil saya saat itu, ayah pasti murka.  Terbongkarlah sudah skandal ini!  Berakhirlah sudah pertualangan ini.  Ayah pasti naik pitam dan akan melakukan membuang semua barang dagangan saya ke tong sampah; sesuatu yang amat saya takutkan!

Waktu itu saya hanya diam dan menunduk; dan rupanya sikap ini jawaban yang jelas baginya.  Tapi agak di luar dugaan, ternyata ayah tidak menunjukkan tanda kemurkaan. Beliau bahkan tidak mengatakan apa-apa lagi. Setelah sekian detik matanya meneliti barang dagangan saya-ada petasan petasan banting, petasan durtap, petasan tarik, cabe rawit, janwe, kembang api, dll.—beliau masuk ke rumah, mencari Ibu. Nada panggilannya, saya ingat, rendah; dari belakang saya lihat seperti ada senyuman kecil di wajahnya….

Entah apa tepatnya yang dibicarakan kedua orangtua saya saat itu.  Tapi,  sejak pagi yang menentukan itu saya seolah mendapat “restu” untuk berjualan resmi.  Di luar keutuhan pemahaman saya waktu itu, saya cukup dapat memaknai bahwa usaha berdagang, berusaha, atau berproduksi, adalah pekerjaan yang lebih positif daripada hal lain.  Ayah saya memang tetap tidak setuju dengan apa yang saya jual, tetapi beliau menganggap usaha kecil anaknya untuk berproduksi secara kecil-kecilan, jauh lebih penting daripada ketidaksukaannya.  Tapi penting bagi setiap anak lelaki agar bapaknya menyukai apa yang ia lakukan. Maka, dari berjualan petasan, saya akhirnya berjualan berbagai barang lain, dari es mambo, mainan kayu buatan sendiri, koran, jasa semir sepatu, celana jeans, pakaian olah raga dan lain-lain.

*

Bukan maksud saya menceritakan kepada Anda sepotong otobiografi pribadi yang tidak istimewa ini. Penggalan sejarah pribadi tersebut saya suguhkan sebab dia sedikit-banyak terkait dengan isu sentral dalam tulisan ini.

Secara beruntung saya telah terpapar kepada fenomena yang tak kalah penting, jika tidak lebih penting, daripada yang saya dapati di bangku sekolahan dasar.  Di usia dini saya telah terpapar pada pasar dalam arti sebenarnya. Kelak akan saya pahami, pasar adalah salah satu wujud interaksi sosial manusia yang paling penting bagi peradaban.

Banyak hal dapat dipelajari dari pasar, yang terutama khas adalah yaitu berupa kalkulasi bisnis, kalkukasi untung rugi. Bahwa ketika Anda tidak mampu menawarkan suatu nilai kepada pembeli, konsumen masih mungkin membeli barang/jasa Anda-mungkin atas dasar rasa iba. Jika Anda pedagang, Anda tahu bahwa rasa kasihan tidak bisa diandalkan untuk memastikan keuntungan.  Anda akan mengetahui betapa tergantungnya seorang penjual kepada konsumen!  Anda akan merasakan kesenangan yang khas saat permintaan terhadap barang dagangan Anda meningkat luar biasa. Jika Anda pedagang dalam situasi demikian hari ini, mungkin Anda akan antusias untuk hadir lagi esok pagi dengan kuantitas dagangan yang lebih besar untuk memenuhi permintaan tersebut.  Masa kanak-kanak memberi saya pemahaman mendasar tentang suatu hal yang universal dalam usaha, yaitu penciptaan nilai dan kaidah dasar yang mengatur perekonomian: supply-demand.

Apapun yang dibutuhkan manusia, pasar bebas cenderung akan menyediakannya. Jika tidak/belum tersedia, seluruh daya kekuatan pasar akan mengarah kepada penciptaan dan penyediaannya.  Saya tidak bilang  pasar sempurna. Ada kalanya pasar memang tidak mampu menyediakan barang/jasa yang diminta. Perkara kehidupan individu di dunia pada dasarnya adalah pengerahan sumber daya (resources) yang terbatas (scarce) sebagai means yang juga terbatas yang dipilih individu demi tujuan (ends) yang sama terbatasnya.  Scarcity adalah faktor utama yang membuat manusia berekonomi dalam segala bidang kehidupan, yang menimbulkan keharusan melakukan proses pertukaran.  Persaingan adalah iklim yang alamiah yang memungkinkan berfungsinya pasar. Bagi saya, kondisi-kondisi ini bukan cacat pasar yang lantas harus diintervensi; mereka elemen-eleman dasar yang harus ada, sebelum pasar dapat berfungsi sempurna dengan keterbatasannya tersebut.  Yang pasti, pasar yang sejati siap memberi reward kepada siapa saja yang mampu menawarkan nilai kepada pelanggan.  Pasar sejati tidak akan menghukum pelanggan atas keinginannya.  Kemajuan peradaban dan kebangkitan masyarakat hanya dapat tercipta dengan kooperasi antarindividu dalam harmoni pasar.

*

Dua puluh tahun lebih telah berselang, dan saya bukan kanak lagi.  Garis hidup memberi saya peran sebagai ayah bagi anak saya sendiri.   Keprihatinan apakah yang melanda kebanyakan masyarakat biasa seperti saya dalam kehidupan dewasa ini dan bagi kehidupan masa depan masyarakat di mana anak saya termasuk di dalamnya?

Kedewasaan sedikit demi sedikit membuka mata hati saya, mungkin juga mata hati Anda, pada apa yang disebut politik dan kekuasaan.  Mereka adalah daya kekuatan yang berbeda dari kekuatan ekonomi.  Politik kekuasaan, meski tidak terpisahkan dari perekonomian, sesungguhnya merupakan hal berbeda.  Pola dan kekuatan mereka bukan produktif, melainkan alokasional/distribusional.

Puluhan tahun ke depan tulisan semacam ini mungkin akan dibaca oleh sebaya anak-saya tentang kondisi hidup di jaman kita hidup sekarang, yang hampir dapat dipastikan sebagian besar belum mereka pahami.   Sebagai sekelompok kohor yang hidup di Indonesia di awal abad 21, kita tengah menjadi saksi hidup atas anomali-anomali perekonomian yang mungkin mengawali keruntuhan negeri.

Baru saja kita mendapat suguhan berita-berita media, bahwa Wapres, orang kedua di negara ini, akan segera menghukum pelanggan listrik atas dasar pemborosan listrik (Baca: Krisis Listrik Akibat Konsumsi).  Wapres yang berawal sebagai pengusaha mengatakan, pemerintah akan bertindak keras dan tegas terhadap pemborosan pemakaian listrik di rumah-rumah, kantor-kantor, dan mal-mal serta hotel-hotel.

“Saya akan panggil PLN agar sepenuhnya menjalankan efisiensi dan mengurangi kenyamanan dari pemborosan listrik,”  katanya.

Kalau PLN berbisnis secara benar dan wajar, keborosan masyarakat tidak akan membuatnya sekarat.

Tapi wakil dirut PT PLN di berita yang sama mengemukakan, pihaknya telah menyampaikan kondisi menyeluruh kelistrikan tahun ini dan kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi kepada Kementerian Negara Badan Usaha Milik Negara.  Katanya, dengan pertumbuhan kelistrikan di atas 5 persen, harga minyak di atas 130 dollar AS per barrel, dan harga batu bara di atas 100 dollar AS per ton, PLN akan mengalami kekurangan. Dalam kondisi kapasitas pembangkit yang terbatas, menambah jumlah pelanggan bukannya menambah penerimaan PLN, tetapi justru menambah biaya pengeluaran bahan bakar.

Sebelumnya, sejumlah pemantauan yang dilakukan berbagai pihak terhadap kinerja PLN di berbagai daerah menunjukkan bahwa pemutusan arus listrik telah mengganggu aktivitas di seluruh sektor perekonomian. Kita tak perlu pemantauan pihak lain.  Di tempat saya tinggal pun, mati listrik adalah semacam norma kewajaran.  Pengoglangan listrik sudah menjadi hal biasa. Kerugian yang dialami warga tak akan pernah benar-benar dapat terukur.  Kalaupun dapat diukur, tak akan banyak gunanya jika kegiatan konsumsi masih dianggap sebagai biang keladi permasalahannya.

Singkatnya, di depan mata kita tersodor bukti-bukti nyata hasil akhir upaya monopoli selama beberapa dekade eksistensi negeri ini atas sektor-sektor ekonomi.  Ketika persaingan dienyahkan dan pemerintah mengambil alih peran bisnis sebagai pemain tunggal yang murni, hasilnya adalah sebuah anomali yang sungguh luar biasa.

Alih-alih munculnya antusiasme di pihak penyedia untuk menyongsong potensi lonjakan permintaan, layanan berkualitas rendah di sektor bisnis listrik justru akan ditambah dengan sanksi tambahan berupa hukuman terhadap warga negara atas dasar ketidakmampuan pelaku bisnis tersebut.

Pasar listrik sebenarnya cuma satu contoh pasar yang selama ini menghukum konsumen melalui pelayanan yang rendah dan penjatuhan berbagai sanksi. Anomali juga terjadi di sektor-sektor lain, seperti sektor energi, telekomunikasi, transportasi, kesehatan, pendidikan-pokoknya di mana pemerintah memegang komando perekonomian.

Dan anomali semacam ini tidak berhenti di sini.  Anomali lain adalah bahwa fenomena bisnis yang bisnis-bisnisan ini sepertinya sudah dianggap sebagai sesuatu yang biasa, sesuatu yang wajar!  Adalah anomali tersendiri ketika anomali tidak lagi dilihat sebagai penyimpangan.

Kita yang hidup di jaman ini tengah menghidupi era intervensionisme yang ganjil dan sesungguhnya amat melumpuhkan, ketika para penguasa, para intelektual yang mendukung kekuasaan, dan mayoritas penduduk yang tidak mengerti duduk perkaranya, sama-sama menghendaki campur tangan yang semakin besar kepada perekonomian.

Kita hidup di era yang semakin memberhalakan sekaligus menumpulkan pemahaman kita terhadap institusi bernama “negara”, di mana negara cenderung ditelan bulat-bulat sebagai suatu institusi ekstrahuman berwajah bak malaikat yang akan dapat mengatasi persoalan-persoalan manusia; yang cenderung tidak lagi menyadari bahwa “negara” hanyalah suatu konstruk instrumental imajiner, dan “penguasa” tidak lebih dari segelintir manusia oportunis yang didukung kelompok intelektual oportunis lainnya yang hanya berfokus pada penghimpunan kekuasaan distribusional ketimbang produktif, pada siklus pertaruhan politik lima tahunan.  Kalau mereka mengenakan topeng malaikat, topeng tersebut adalah topeng malaikat maut!

(Pada titik ini saya teringat tulisan Frank Chodorov tentang satu elemen terpenting yang menentukan kebangkitan dan kejauhan masyarakat: kondisi wirausaha masyarakat vs. intervensi atas nama negara.  Judul tulisan ini pun berasal dari judul bukunya tersebut.)

Kewirausahaan Indonesia sejak awal berdirinya Republik adalah sebuah dunia eksklusif yang amat terkendala dan sarat akan intervensi politik. Secara politik, proses nasionalisasi usaha yang terjadi lewat program-program semacam program Benteng pada tahun 1950-an mungkin dianggap sesuatu yang tidak terelakkan dan sudah “ditakdirkan” untuk terjadi. Setelah sekian dekade, anak-anak terbaik bangsa ini sepertinya masih gagal menarik kesimpulan krusial terhadap apa yang terjadi ketika universalisme kaidah-kaidah ekonomi, yang tidak tunduk pada kemauan politik, menjadi bulan-bulanan eksperimentasi trial-error yang tidak perlu, dengan atau tanpa mengatasnamakan Konstitusi sekalipun.

Jaman di kala kita hidup sekarang sedang menyongsong puncak-puncak penampakan anomali, ketika sebagian besar anggota masyarakat, baik dari kelompok yang katanya terdidik maupun yang awam,  justru semakin mendambakan kehidupan agar semakin diatur secara ekonomis dan politis oleh kekuatan-kekuatan non-produktif yang hanya akan semakin bersemangat menggerogoti sumber daya yang terbatas.

Lingkungan tempat kita hidup kini tengah membentuk lingkaran setan yang nyaris sempurna.  Pilihan-pilihan logis yang telah kita ambil sebagai bangsa hanya akan menuju kepada pelumpuhan dan kelumpuhan sendi-sendi hidup bermasyarakat, yang akan mengarah kepada kehancurannya.

*

Dalam retrospeksi, sepertinya almarhum ayahanda dengan caranya yang unik mampu menginspirasi anaknya akan arti penting menjalani hidup secara produktif dan bukan sebagai parasit.  Akankah kesempatan yang sama datang bagi saya terhadap anak saya?

Melalui tulisan singkat separuh memoar ini saya ingin memulai menciptakan kesempatan seperti itu.  Semoga bukan hanya bagi anak saya semata wayang. [ ]

Kirim artikel ini:
Share on FacebookTweet about this on TwitterShare on Google+Email this to someoneShare on RedditShare on StumbleUpon

Tulisan lain yang mungkin terkait:

Discussion

No comments for “The Rise and Fall of Society

Komentari

Arsip Bulanan

Rekomendasi

buku_rothbard.jpg
Apa Yang Dilakukan Pemerintah Terhadap Uang Kita?; Oleh: Murray Newton Rothbard; PT. Granit, Yayasan Obor Indonesia; ISBN : 97897916217 -4-8; tersedia di toko-toko buku terdekat. (Intip cuplikannya).
alt text
Membela Kapitalisme Global; Oleh: Johan Norberg; FNS Jakarta; tersedia di toko-toko buku terdekat. (Baca resensinya di sini).
Economic  Activism Blogs - Blog Catalog Blog Directory
%d bloggers like this: