Uncategorized

F. A. Hayek: Intelektual dan Sosialisme (2)

Oleh: Friedrich August von Hayek
Jurnal Kebebasan: Akal dan Kehendak
Vol. I, Edisi 4, 03 Mei 2007

Intelektual dan Sosialisme

(Lanjutan artikel terdahulu.)

Pemahaman yang selayaknya terhadap berbagai alasan yang cenderung membuat banyak intelektual cenderung ke sosialisme dengan demikian sangat penting. Hal pertama di sini yang harus dihadapi secara jujur oleh mereka yang bebas-prasangka adalah bahwa faktor yang menentukan pandangan seorang intelektual bukanlah kepentingan egois atau maksud buruknya, melainkan kebanyakan adalah keyakinan yang jujur dan niat baiknya. Pada kenyataannya, penting untuk dikenali bahwa secara keseluruhan kebanyakan intelektual dewasa ini, semakin mereka dipandu oleh niat baik dan intelejensi, semakin besar kemungkinan mereka menjadi sosialis, dan bahwa dalam hal argumentasi murni secara intelektual mereka pada umumnya lebih mampu menyampaikan pandangan secara lebih baik daripada mayoritas lawan-lawan mereka dalam kelas [intelektual] tersebut. Jika kita masih menganggap mereka salah, kita harus memahami bahwa mungkin kesalahan yang murnilah yang membawa orang-orang cerdas, dan berniat baik serta memiliki posisi-posisi penting dalam masyarakat tersebut untuk menyebarkan pandangan-pandangan yang bagi kita tampak bagai ancaman terhadap peradaban kita.[1] Tidak ada yang lebih penting daripada berusaha untuk mencoba memahami sumber-sumber kesalahan ini agar kita dapat menepisnya. Namun demikian, mereka yang umumnya dianggap sebagai wakil- wakil dari tatanan yang ada dan yang percaya bahwa mereka memahami bahaya-bahaya sosialisme biasanya sangat jauh dari pemahaman itu. Mereka cenderung menganggap para intelektual sosialis tidak lebih daripada gerombolan cecunguk radikal intelektual tanpa menghargai pengaruh mereka dan, karena sikap bulat terhadap mereka, cenderung mendorong para sosialis bahkan kian jauh kepada oposisi terhadap tatanan yang ada.

Jika kita ingin memahami prasangka tertentu yang diidap sebagian besar intelektual, kita harus jelas tentang dua hal. Pertama, kelompok intelektual umumnya menilai isu–isu tertentu secara eksklusif berdasarkan ide-ide umum tertentu; kedua, kesalahan khas yang terjadi pada setiap jaman seringkali berasal dari kebenaran baru dan murni yang ditemukan jaman tersebut, dan mereka adalah penerapan-penerapan yang keliru atas sejumlah generalisasi baru yang nilainya telah dibuktikan di bidang-bidang lain. Kesimpulan yang kita tuju dengan berbekal bimbingan berupa pertimbangan penuh terhadap fakta-fakta ini, adalah bahwa penyangkalan efektif terhadap kesalahan-kesalahan semacam itu seringkali memerlukan adanya kemajuan intelektual lanjutan, dan seringkali meluas ke hal-hal yang sangat abstrak dan mungkin terasa teramat jauh dari isu-isu praktis.

Mungkin ciri paling khas dari seorang intelektual adalah bahwa ia menilai gagasan baru bukan berdasarkan kelebihan tertentu melainkan berdasarkan seberapa siap dan cocok gagasan tersebut dengan konsepsi umum yang dianutnya, dengan gambaran dunia yang ia anggap sebagai modern atau maju. Melalui pengaruh gagasan tersebut terhadap dirinya dan terhadap pilihannya terhadap opini tentang isu tertentu bahwa kekuatan ide untuk kebaikan atau kejahatan tumbuh dalam proporsinya terhadap generalitas, keabstrakan, dan bahkan kekaburannya. Karena ia [hanya] mengetahui sedikit tentang isu tertentu, kriterianya haruslah berupa konsistensi dengan pandangan-pandangannya yang lain dan kecocokannya untuk bergabung membentuk pandangan yang koheren tentang dunia. Namun, seleksi terhadap gagasan-gagasan baru, yang menyeruak di setiap waktu, menciptakan iklim opini atau Weltanschauung yang khas, terhadap periode tersebut, yang akan menguntungkan bagi penerimaan opini tertentu dan penolakan bagi opini lain, dan yang akan membuat kelompok intelektual semakin siap menerima satu kesimpulan dan menolak yang lain tanpa benar-benar memahami isunya.

Dalam beberapa hal seorang intelektual memang lebih menyerupai filsuf ketimbang spesialis lain, dan seorang filsuf dalam banyak pengertian ibarat seorang pangeran di antara kelompok intelektual. Meskipun pengaruh filsuf semakin jauh dari isu-isu praktis dan sebagai konsekuensinya menjadi lebih lambat dan lebih sulit untuk ditelusuri jika dibandingkan dengan pengaruh intelektual biasa, pengaruhnya tersebut sama jenisnya dan dalam jangka panjang pengaruh bahkan akan lebih kuat daripada pengaruh intelektual. Pengaruh [seorang filsuf] adalah: usaha yang sama menuju sintesis yang dikejar secara lebih metodis; penilaian yang sama terhadap pandangan tertentu sejauh pandangan tersebut dianggap sesuai dengan sistem umum pemikiran ketimbang dinilai berdasarkan kontribusinya; dan pengejaran yang sama akan sebuah pandangan terhadap dunia yang konsisten, yang bagi filsuf maupun intelektual sama-sama membentuk basis utama dalam menerima atau menolak suatu gagasan. Atas dasar alasan ini pengaruh filsuf biasanya mungkin lebih besar terhadap seorang intelektual daripada terhadap seorang sarjana atau ilmuwan lain, dan lebih dari siapapun, menentukan cara seorang intelektual dalam menjalankan fungsinya sebagai penyensor [ide]. Pengaruh populer seorang spesialis ilmiah akan menandingi pengaruh filsuf hanya bila ia berhenti menjadi spesialis dan mulai berfilsafat tentang kemajuan subyeknya dan biasanya [hal ini terjadi] hanya setelah ia “diangkat” oleh kelompok intelektual atas alasan-alasan yang tidak banyak terkait dengan reputasi ilmiahnya.

“Iklim opini” dalam setiap kurun dengan demikian secara esensial merupakan seperangkat prakonsepsi umum yang dipakai oleh seorang intelektual untuk menilai penting-tidaknya fakta dan opini baru. Prakonsepsi semacam ini terutama [berupa] aplikasi terhadap apa yang tampak bagi sang intelektual sebagai aspek yang paling signifikan dalam pencapaian ilmiah, sebuah transfer ke bidang-bidang lain terhadap apa yang paling mengesankan sang intelektual dari pencapaian seorang spesialis. Orang dapat membuat daftar panjang trend-trend intelektual dan kata-kata kunci semacam itu yang dalam perjalanan selama dua atau tiga generasi secara bergantian mendominasi pemikiran kelompok intelektual. Baik berupa ”pendekatan historis” ataupun teori evolusi, determinisme dan keyakinan di abad ke-19 terhadap pengaruh [faktor] lingkungan yang dianggap lebih dominan daripada [faktor-faktor] keturunan, teori relativitas, ataupun keyakinan pada kekuatan alam bawah sadar—semua prakonsepsi umum ini telah dijadikan kriteria untuk menguji inovasi-inovasi dalam berbagai bidang. Sepertinya, semakin tidak spesifik dan semakin tidak akuratnya (atau semakin tidak terpahaminya) sebuah gagasan, maka akan semakin luas pengaruhnya. Kadang-kadang, impresi yang samar, yang hampir tidak ternyatakan dalam kata-kata, akan memberi pengaruh yang mendalam. Keyakinan-keyakinan semacam kontrol yang disengaja atau organisasi secara sadar–yang selalu dianggap lebih superior daripada hasil-hasil proses spontan yang tidak diarahkan oleh pikiran manusia, atau bahwa tatanan lain atas dasar rencana yang sudah disiapkan di awal dianggap pasti lebih baik daripada tatanan yang dibentuk oleh perimbangan kekuatan-kekuatan yang saling beroposisi–telah mempengaruhi perkembangan politik dengan sangat dalam dengan cara tersebut.

Yang tampaknya berbeda hanyalah peran kelompok intelektual ketika melibatkan perkembangan gagasan sosial yang lebih layak. Di sini propensitas mereka yang khas terwujud pada saat mereka membuat mantera berupa abstraksi-abstraksi, serta ketika mereka merasionalisasikan dan membawa ke titik-titik ekstrim ambisi-ambisi tertentu yang mencuat dari pergaulan normal manusia. Karena demokrasi adalah sesuatu yang baik, maka semakin meluas prinsip demokrasi dapat diteruskan, semakin baik tampaknya bagi mereka. Dari gagasan-gagasan umum yang telah membentuk perkembangan politik dalam kurun belakangan ini, yang paling kuat adalah ideal tentang kesamaan materi. Ideal ini, biasanya, bukan salah satu keyakinan moral yang tumbuh secara spontan dan yang mula-mula diaplikasikan dalam relasi antara individu-individu tertentu, melainkan sebuah konstruksi intelektual yang pada mulanya digagas dalam makna atau aplikasi yang abstrak dan meragukan pada suatu peristiwa tertentu. Namun demikian, ideal tersebut telah menjadi prinsip seleksi yang kuat di dantara berbagai arah alternatif yang dituju kebijakan sosial, dan terus menerus memberikan tekanan terhadap arah penyelenggaraan affairs sosial yang tidak seorangpun dapat menangkapnya dengan jelas. Bahwa ada tindakan tertentu yang cenderung menghasilkan kesamaan yang lebih besar, telah dianggap sebagai rekomendasi yang kuat dan tidak banyak hal lain yang dijadikan butir pertimbangan. Mengingat pada setiap isu tertentu satu aspek ini dijadikan panduan oleh mereka yang memiliki keyakinan kuat terhadapnya, kesamaan (equality) telah menentukan perubahan sosial bahkan lebih kuat daripada yang dikehendaki para pendukungnya

Namun, yang bertingkah seperti ini bukan hanya ideal moral saja. Kadang, sikap kelompok intelektual terhadap persoalan seputar tatanan sosial dapat muncul sebagai konsekuensi dari kemajuan dalam pengetahuan ilmiah murni, dan dalam peristiwa semacam inilah kekeliruan pandangan mereka terhadap isu tertentu mungkin untuk beberapa saat tampak seperti sesuatu pencapaian ilmiah terkini yang dianggap hebat di belakang mereka. Tidaklah mengejutkan jika proses perkembangan pengetahuan murni dalam cara ini seringkali menjadi sumber kesalahan baru. Jika sebuah generalisasi tidak diikuti dengan kesimpulan yang salah, maka generalisasi tersebut akan menjadi kebenaran final yang [dianggap] tidak pernah perlu direvisi lagi. Meskipun biasanya, sesuai aturannya, generalisasi baru semacam itu hanyalah berbagi konsekuensi-konsekuensi yang keliru yang dapat ditarik darinya melalui pandangan terdahulu yang dianut, dan dengan demikian tidak membawa kepada kesalahan baru, mungkin saja terjadi bahwa sebuah teori yang baru, sebagaimana nilainya diperlihatkan oleh kesimpulan-kesimpulan baru yang sahih serta berasal darinya sendiri, akan menghasilkan kesimpulan-kesimpulan lanjutan yang akan menunjukkan telah terjadinya kesalahan. Tetapi dalam perisitiwa semacam ini keyakinan yang salah akan dilihat bersama-sama dengan segala prestise pengetahuan ilmiah terbaru yang mendukungnya. Meskipun di bidang tertentu di mana keyakinan ini diterapkan semua bukti ilmiah terbukti menentangnya, maka di depan tribunal para intelektual dan dalam pengertian gagasan-gagasan yang mengatur pemikiran mereka, pandangan tersebut tetap akan dipilih sebagai yang paling sesuai untuk semangat jaman. Para spesialis yang kemudian mendapat kemasyhuran publik dan berpengaruh secara luas bukanlah mereka yang mendapat pengakuan dari sejawat mereka, melainkan seringkali tokoh-tokoh lain yang oleh para pakar lain dianggap sebagai orang-orang bejat, amatiran, atau bahkan penipu, tetapi yang di mata publik tetap dianggap sebagai eksponen paling terkenal di bidangnya.

Secara khusus, hanya ada sedikit keraguan saja bahwa cara di manusia telah belajar mengorganisir kekuatan-kekuatan alam selama seratus tahun terakhir telah berkontribusi besar terhadap penciptaan keyakinan bahwa kendali serupa terhadap kekuatan-kekuatan dalam masyarakat juga akan menghasilkan perbaikan-perbaikan yang sebanding dalam kondisi manusia. Bahwa, melalui teknik-teknik rekayasa, arah semua bentuk kegiatan manusia berdasarkan sebuah rencana tunggal yang koheren akan terbukti sukses pula dalam masyarakat sebagaimana halnya dalam tugas-tugas rekayasa lain yang tak terhitung jumlahnya, merupakan sebuah kesimpulan yang terlalu masuk akal untuk tidak menggoda kebanyakan dari mereka yang kepayang dengan pencapaian ilmu pengetahuan alam. Memang harus sama-sama diakui bahwa: argumen-argumen yang kuat diperlukan untuk melawan pra-asumsi kuat yang mendukung kesimpulan semacam itu; dan bahwa argumen-argumen seperti itu belum pernah disampaikan secara memadai. Semata memperlihatkan kekurangan dalam proposal tertentu dengan pemikiran semacam ini, tidaklah memadai. Argumennya tidak akan kehilangan daya kekuatannya sebelum diperlihatkan secara tuntas mengapa hal yang terbukti amat sukses dalam menghasilkan kemajuan di berbagai bidang hanya memiliki manfaat yang terbatas saja dan justru secara positif akan menjadi berbahaya jika diperluas ke luar batas-batasnya. Ini adalah tugas yang belum dilakukan secara memuaskan dan masih harus dicapai sebelum impulsi ke arah denyut sosialisme semacam ini dapat dihilangkan.

Tentunya, hal di atas hanyalah satu dari sekian banyak contoh di mana kemajuan-intelektual lanjutan diperlukan agar dapat menepis gagasan-gagasan terkini yang dianggap membahayakan, dan di mana jalur yang kita lewati pada akhirnya akan diputuskan lewat diskusi tentang isu-isu yang amat abstrak. Bagi seorang man of affairs tidaklah cukup untuk merasa yakin, berdasarkan pengetahuan intimnya [semata] dalam bidang tertentu, bahwa teori-teori sosialisme yang diturunkan dari gagasan-gagasan yang lebih umum, ternyata terbukti tidak dapat dipraktikkan. Orang tersebut mungkin sepenuhnya benar, akan tetapi resistensinya akan tergerus dan segala konsekuensi buruk yang ia bayangkan akan terwujud jika ia tidak didukung oleh argumen penyangkalan yang efektif terhadap ides meres tersebut. Sejauh kelompok intelektual memenangkan argumentasi secara umum, keberatan yang paling sahih terhadap isu tertentu ini akan tersisih.

Namun, ini bukan keseluruhan cerita. Kekuatan yang mempengaruhi rekruitmen kelompok intelektual dalam berbagai tingkatan beroperasi dalam arah yang sama dan dapat membantu menjelaskan mengapa begitu banyak orang yang paling cakap di bidangnya tertarik pada sosialisme. Tentu ada perbedaan pendapat di antara para intelektual sebagaimana di antara orang-orang lainnya; namun, secara keseluruhan tampaknya benar adanya bahwa intelektual-intelektual yang paling aktif, cerdas dan orisinil di antara sejawat mereka, seringkali paling cenderung terhadap sosialisme, sementara oponen-oponen mereka seringkali berkaliber lebih rendah. Ini benar terutama di tahap awal proses infiltrasi ide-ide sosialis; kelak, meski di luar lingkaran intelektual hal semacam ini masih memerlukan keberanian untuk menyatakan keyakinan-keyakinan sosialis, tekanan opini yang pro-sosialisme di antara sesama intelektual seringkali menjadi semakin kuat sehingga membutuhkan kekuatan dan kemandirian ekstra bagi [siapa saja] yang memilih bertahan daripada mengekor sejawatnya dalam hal pandangan-pandangan modern. Dari semua orang yang mengenal banyak fakultas di universitas-universitas (dan dari sudut pandang ini, mayoritas pengajar universtias mungkin harus dikelompokkan sebagai intelektual daripada sebagai pakar), tidak seorangpun yang tidak mengetahui fakta bahwa pengajar yang paling brilian dan sukses dewasa ini kemungkinan besar [tergolong] sosialis, sementara mereka yang pandangan politisnya konservatif biasanya hanyalah orang-orang berkualitas rendahan. Dengan sendirinya ini merupakan faktor penting yang menggiring generasi muda ke kamp sosialis

Kelompok sosialis, tentu saja, akan semata-mata melihat hal ini sebagai bukti bahwa semakin cerdas seseorang di jaman ini, semakin sosialis kecenderungannya. Tetapi penjelasan ini jauh dari keharusan atau bahkan kemungkinan. Alasan utama terjadinya situasi seperti ini mungkin adalah bahwa, bagi orang yang cakap luar-biasa yang menerima tatanan masyarakat yang ada saat ini, terbuka berbagai jalan raya lain menuju pengaruh dan kekuasaan, sementara mereka yang tidak terpengaruh atau tidak puas dengan hal-hal tersebut, sebuah karir intelektual adalah jalan yang paling menjanjikan terhadap pengaruh maupun kekuasan untuk berkontribusi/menyumbangkan terhadap pencapaian ideal-idealnya. Bahkan lebih dari itu: semakin konservatif kecenderungan seseorang yang kemampuannya kelas satu, umumnya ia akan memilih pekerjaan intelektual (dan mengorbankan ganjaran materi untuk pilihannya tersebut) hanya jika ia menikmatinya bagi dirinya sendiri. Sebagai konsekuensinya, ia lebih mungkin menjadi seorang sarjana ahli daripada intelektual dalam pengertian khusus terhadap kata tersebut; sementara bagi mereka yang lebih radikal, pengejaran intelektual seringkali merupakan cara, dan bukan tujuan, tepatnya jalan menuju pengaruh luas yang dilakukan oleh intelektual profesional. Dengan begitu, faktanya bukanlah bahwa orang yang cerdas umumnya sosialis, melainkan bahwa sejumlah proporsi yang lebih tinggi dari sosialis di antara mereka yang cerdas mendedikasikan dirinya kepada pengejaran intelektual yang dalam masyarakat modern memberi mereka pengaruh yang menentukan terhadap opini publik.[2]

(Bersambung)


[1] Dengan demikian bukanlah “kesantunan terhadap kesalahan” (sebagaimana disiratkan oleh seorang penimbang buku The Road to Serfdom, Professor J. Schumpeter), melainkan keyakinan mendalam terhadap pentingnya hal ini yang membuat saya, dalam perkataan Professor Schumpeter, “hampir tidak pernah mengatributkannya kepada lawan-lawan lain di luar kekeliruan intelektual.”

[2] Terkait dengan hal ini adalah fenomena lain yang cukup dikenal: ada sedikit saja alasan untuk meyakini bahwa kemampuan intelektual kelas-satu dalam menciptakan karya-karya yang orisinil lebih jarang ditemui di antara orang-orang bangsa Gentiles daripada orang-orang Yahudi. Tetapi tidak diragukan bahwa orang-orang Yahudi hampir di semua tempat secara disproporsional membentuk sekelompok besar intelektual, dalam pengertian makna yang kita acu di sini, dengan peringkat sebagai penerjemah profesional terhadap gagasan. Hal ini mungkin bakat khusus dan tentunya merupakan peluang utama di negara-negara di mana prasangka mengendala sepak terjang mereka di bidang lain. Barangkali hal ini lebih disebabkan oleh karena mereka membentuk sejumlah proporsi besar intelektual daripada bahwa mereka tampaknya begitu reseptif terhadap gagasan sosialis daripada orang-orang dari ras lain.

Kirim artikel ini:
Share on FacebookTweet about this on TwitterShare on Google+Email this to someoneShare on RedditShare on StumbleUpon

Tulisan lain yang mungkin terkait:

Discussion

Comments are disallowed for this post.

  1. […] (Lanjutan dari Bagian 2) […]

    Posted by F. A. Hayek: Intelektual dan Sosialisme (3) « AKAL & KEHENDAK | 4 May 2007, 3:14 pm

Arsip Bulanan

Rekomendasi

buku_rothbard.jpg
Apa Yang Dilakukan Pemerintah Terhadap Uang Kita?; Oleh: Murray Newton Rothbard; PT. Granit, Yayasan Obor Indonesia; ISBN : 97897916217 -4-8; tersedia di toko-toko buku terdekat. (Intip cuplikannya).
alt text
Membela Kapitalisme Global; Oleh: Johan Norberg; FNS Jakarta; tersedia di toko-toko buku terdekat. (Baca resensinya di sini).
Economic  Activism Blogs - Blog Catalog Blog Directory
%d bloggers like this: