Asides

Catatan Kecil tentang Praksiologi (#1)

Praksiologi sebagai sebuah disiplin ilmu dan metodologi belum banyak dikenal, bahkan nyaris tidak dikenal, oleh pembaca di Indonesia, terutama sebelum konsep dan aplikasinya diperkenalkan di Jurnal ini.

Sesuai info terdahulu di rubrik Catatan Bawah tentang penerjemahan Buku Metodologi Ekonomi Austria oleh Prof. Hoppe, saya sudah mengirimkan naskahnya ke Prof. Hoppe sebagai arsip dan bukti. Versi PDF-nya juga saya kirim kepada Giyanto di Semarang.

Sebenarnya saya agak enggan mengirimkankan naskah itu kepada Giy, sebab saya tahu bahwa ia sedang sibuk merampungkan skripsinya.  Tapi karena ia sering menanyakan perkembangan proyek penerjemahan tersebut, saya tahu pasti ia punya ketertarikan yang besar.

Beberapa hari kemudian, ada beberapa email masuk. Ternyata, Prof. Hoppe meminta agar kelak bukunya dikirimkan, setelah diterbitkan, dikirim kepada beliau ke sebuah alamat di Turki.  Dan beberapa email lainnya ternyata dari Prof., ah belum, Giyanto.

Giy rupanya memutuskan untuk mencicil komentar-komentar awalnya terhadap buku tersebut.  (Sedangkan mengenai seberapa jauh perkembangan skripsinya, hanya ia, pembimbingnya, dan Tuhanlah yang tahu.)

Berikut saya kutipkan kesan-kesannya:

“Setelah saya cek lagi dengan pandangan Mises, [buku tersebut] memang sangat konsisten. Tapi, menurut saya, setelah problem kesahihan filsafat teratasi, ada tugas lain yang lebih sulit.  Kalaupun tidak memerlukan contoh-contoh  penjelasan preferensi-preferensi tindakan serta pendeduksiaannya, minimal diperlukan cara penyampainnya lain agar dapat ditangkap orang “umum”.”

“Sebab tidak semua ekonom itu filsuf; barangkali bisa dihitung dengan jari ekonom yang memahami filsafat ilmu apalagi filsafat.  [Sebagai] tambahan info, kemarin saya tidak sengaja melihat kamus filsafat, dan membaca mengenai pengertian Praksiologi, kelihatannya definisi mereka perlu diluruskan. Masak, Praksiologi termasuk cabang Sosiologi?

Di email selanjutnya Giy mencatat:

” [Saya juga melihat]  adanya dua karakteristik perbedaan praksiologi versi Hoppe dan Rothbard.  Hoppe penganut rasionalis; tulisannya cenderung anilitis logis dengan ciri susunan kalimat argumentatif; sedangkan Rothbard  cenderung realis Aristotelian, cenderung naratif historis.  Kedua ciri khas tersebut memang sangat berbeda dari segi gaya bahasanya, tetapi makna yang ingin disampaikan penulis, serta kesimpulan mereka, identik.”

Dan juga tentang Mises, yang dipakainya sebagai pembanding:  “Mises orisinil. Ia jarang mengutip secara langsung….ia lebih sering mengupas pandangan filasat yang cenderung “aneh” baginya (misalnya tentang Marx) ataupun mengambil hasil penelitian ahli lainnya tapi dengan dengan cara kritis (misalnya penemuan Levy B).   Serta, perbedaan filsafat kedua Prof kontemporer tersebut sebenarnya tidak berpengaruh terhadap kesimpulan atas argumentasinya…karena, ini terkait perbedaan pendapat mengenai darimanakah pengetahuan akal itu didapat. Kalau Rothbard jelas menganggap bahwa pengetahuan akal adalah dari pengalaman, tapi setelah menjadi pengetahuan akal, dia dapat dinyatakan secara apriori, selama proposisi apriori tersebut tidak terbantahkan secara akal ataupun secara empiris maka kesimpulannya sahih….”

“Sedangkan bagi Hoppe, sebagai Kantian, pengetahuan akal itu “sudah dari sananya ada”.  Jadi dia menganalogikan pengetahuan praksiologi seperti aritmatika, phytagoras dan matematika. Proposisi-proposisinya apriori, dan kesimpulannya sahih. Yang sering disebut sebagai proses keputusan apriori sintesis. Seperti dalam teori Phytagoras: bahwa panjang sisi miring sama dengan akar dari jumlah kuadrat kedua sisinya…(ini adalah rumus pasti, yaitu bisa dibuktikan secara empirik ataupun secara deduktif). Pertanyaannya, untuk apa harus susah2 mengukur, kalau akal pun mampu menjawabnya?  Kesimpulan yang sahih akan didapat tanpa mengukur garis-garis segitiga tersebut.”

“Tentang penerapan praksiologi: kalau preposisi pertama/preposisi umum telah didapat secara akal logis dan secara empirik tak terbantahkan, kita kemudian harus menganilisis dan menemukan/mencari proposisi minornya, yang secara akal logis dan secara empirik juga tak terbantahkan. Maka, kita tinggal mendeduksikannya….”

Lebih jauh menurut Giy, “… tugas tersulit praksiolog adalah menemukan proposisi-proposisi minor yang logis dan secara empirik juga tak terbantahkan…(Apalagi kalau ada yang mampu menemukan proposisi umum yang sahih, maka bisa dikatakan dia adalah masternya praksiologi: seperti Hoppe dan Rothbard.)  Maka kesimpulan dari penilitian praksiologis tersebut pasti sahih, asal dia menariknya secara deduktif…..tapi tugas ini memang tidak gampang….”

Jurnal Kebebasan: Akal dan Kehendak
Vol. II, Edisi 37, Tanggal 7 Juli 2008
Oleh: Sukasah Syahdan; Rubrik: Catatan Bawah

Kirim artikel ini:
Share on FacebookTweet about this on TwitterShare on Google+Email this to someoneShare on RedditShare on StumbleUpon

Tulisan lain yang mungkin terkait:

Discussion

No comments for “Catatan Kecil tentang Praksiologi (#1)”

Komentari

Arsip Bulanan

Rekomendasi

buku_rothbard.jpg
Apa Yang Dilakukan Pemerintah Terhadap Uang Kita?; Oleh: Murray Newton Rothbard; PT. Granit, Yayasan Obor Indonesia; ISBN : 97897916217 -4-8; tersedia di toko-toko buku terdekat. (Intip cuplikannya).
alt text
Membela Kapitalisme Global; Oleh: Johan Norberg; FNS Jakarta; tersedia di toko-toko buku terdekat. (Baca resensinya di sini).
Economic  Activism Blogs - Blog Catalog Blog Directory
%d bloggers like this: