Asides

Catatan Kecil tentang Praksiologi #2

Analisis Giyanto amat menarik dan penting.  Dalam banyak hal yang ia tuliskan di sana saya setuju dengannya, terutama tentang butir-butir terakhir  Di sana terdapat ruang terbuka untuk kritik terhadap pemaparan Hoppe juga bagi praksiologi.  Saya rasa suatu saat kritik ini perlu dijabarkan.

Giyanto memang baru mengomentari separuh isi buku. Di paruh kedua buku itu, Prof. Hoppe mencoba memperluas praksiologi Mises.

Kalau Mises mengatakan bahwa manusia adalah makhluk yang bertindak dan kemudian membangun semesta teori ekonomi Austria persis dari sana, Prof. Hoppe berangkat dari proposisinya yang tak kalah orisinilnya, yaitu bahwa manusia adalah makhluk yang berargumen.  Dengan aksioma yang diikembangkannya ini Prof. Hoppe mencoba membangun kerangka etika, yaitu argumentative ethics.

Saya pernah membuat proposisi aksiomatik berikut: man ethicizes.  Hanya manusia makhluk yang beretika. Etika terkait erat dengan tindakan manusia, terutama dengan tindakan pertukaran. Sebelumnya saya harus memberi sedikit konteks sbb.  Pertukaran tidak harus dilakukan oleh dua orang, sebab tingkat pertukaran bahkan terjadi dalam diri satu agen pelaku tindakan.

Ekonomi tidak mempersoalkan darimana atau bagaimana orang menentukan ends/means, atau mengapa ends/means tertentu penting baginya. Ekonomi sekadar mengakui bahwa setiap manusia memiliki ends/means tersebut, dan ilmu ini beranjak dari sana.

Ketika seorang individu mempertimbangkan pemilihan satu end/means dari lainnya, ia melakukan pertukaran dalam dirinya sendiri oleh karena adanya scarcity yang melekat, termasuk sumber daya dan waktu itu sendiri dalam hal ini.  Tindakan semacam ini disebut Mises tindakan autistik.

Menurut saya, persoalan etika baru muncul dengan adanya individu lain, dan sistem etis setiap individu baru “bermain” dalam konteks tersebut. Ketika seseorang tinggal seorang diri di sebuah pulau sebagaimana Robinson Crusoe, persoalan etis-moral tidak akan muncul, paling tidak secara praksiologis. Dengan kata lain, problem etis bukan problem eksistensial, dia problem sosial yang barus muncul dalam relasi antarindividual.

Apakah teori saya ini berhasil?  Apakah tilikan pribadi ini, unik?  Yang pasti, tulisan singkat ini telah melantur.

Kembali ke buku Hopppe, apakah sang Prof. berhasil dengan enterprise-nya dalam membangun teori etika berdasarkan proposisi aksiomatis argumentative-ethics?  Apakah proposisinya dapat diterima sebagai aksioma?  Apa yang dijadikan landasan oleh Hoppe?  Teori property rights-kah? Atau teori natural-rights?  Secara ilmiah, ini penting dikritisi.  Meski mungkin masih terlalu pagi bagi Indonesia, ini juga penting untuk ditindaklanjuti.

Di masa mendatang hal-hal tersebut layak mendapatkan kontribusi terbaik dari para ilmuwan dan filsuf Indonesia-mungkin termasuk pembaca catatan kecil ini: Anda.

Jurnal Kebebasan: Akal dan Kehendak
Vol. II, Edisi 37, Tanggal 7 Juli 2008
Oleh: Sukasah Syahdan; Rubrik: Catatan Bawah

Kirim artikel ini:
Share on FacebookTweet about this on TwitterShare on Google+Email this to someoneShare on RedditShare on StumbleUpon

Tulisan lain yang mungkin terkait:

Discussion

One comment for “Catatan Kecil tentang Praksiologi #2”

  1. Det är ju som Jonas Rönnqvist sade på presskonferensen, att ha kan vara nöjd med spelet, hur knasigt det än kan låta. Bara målen som fattades.

    Posted by csgoroll | 21 April 2017, 1:42 am

Komentari

Arsip Bulanan

Rekomendasi

buku_rothbard.jpg
Apa Yang Dilakukan Pemerintah Terhadap Uang Kita?; Oleh: Murray Newton Rothbard; PT. Granit, Yayasan Obor Indonesia; ISBN : 97897916217 -4-8; tersedia di toko-toko buku terdekat. (Intip cuplikannya).
alt text
Membela Kapitalisme Global; Oleh: Johan Norberg; FNS Jakarta; tersedia di toko-toko buku terdekat. (Baca resensinya di sini).
Economic  Activism Blogs - Blog Catalog Blog Directory