Uncategorized

F. A. Hayek: Intelektual dan Sosialisme (3)

Oleh: Friedrich August von Hayek
Jurnal Kebebasan: Akal dan Kehendak
Vol. I, Edisi 4, 04 Mei 2007

(Lanjutan dari Bagian 2)

Seleksi personel dalam kelompok intelektual juga terkait erat dengan kepentingan yang predominan yang ditunjukkan para intelektual dalam gagasan-gagasan umum dan abstrak mereka. Spekulasi tentang seluruh rekonstruksi yang mungkin dilakukan pada masyarakat memberi kelompok intelektual keleluasaan sesuai selera mereka yang lebih besar daripada sekadar pertimbangan jangka pendek orang-orang yang ingin memperbaiki tatanan yang ada secara sedikit demi sedikit. Secara khusus, pemikiran sosialis memiliki daya tarik bagi kelompok muda karena karakternya yang visioner. Keberanian untuk menggumuli gagasan yang Utopia adalah sumber kekuatan kelompok sosialis yang sayangnya tidak dimiliki liberalisme tradisional. Perbedaan ini menguntungkan sosialisme, tidak saja karena spekulasi tentang prinsip-prinsip umum memberi peluang untuk bermainnya imajinasi mereka yang tidak banyak terbebani oleh pengetahuan tentang fakta-fakta kehidupan sehari-hari, tetapi juga karena hal itu memuaskan hasrat yang sah (legitimate) untuk memahami basis rasional setiap tatanan sosial dan memberi cakupan untuk menjalankan dorongan konstruktif yang oleh liberalisme, setelah memeroleh kemenangan besarnya, tidak diberikan salurannya. Seorang intelektual, atas disposisinya yang bulat, tidak tertarik pada detil-detil teknis atau persoalan-persoalan praktis. Yang menarik baginya adalah visi luas tersebut, pemahaman yang besar terhadap keseluruhan tatanan sosial yang dijanjikan oleh sebuah sistem yang terencana.

Fakta bahwa cita rasa intelektual ini lebih dapat dipuaskan oleh spekulasi kelompok sosialis terbukti fatal bagi pengaruh tradisi liberal. Begitu tuntutan-tuntutan dasar program liberal terpenuhi, para pemikir liberal berpaling ke detil-detil pesoalan dan cenderung mengabaikan perkembangan filsafat liberalismenya secara umum, sehingga tidak lagi menjadi isu hidup yang menawarkan cakupan spekulasi umum. Dengan demikian, selama lebih dari setengah abad hanya kelompok sosialislah yang menawarkan sesuatu, misalnya melalui program eksplisit pengembangan sosial, gambaran masyarakat masa depan yang dituju, serta seperangkat prinsip umum pemandu pengambilan keputusan terhadap isu-isu tertentu. Meskipun ideal-ideal sosialis, jika pandangan saya benar, memiliki banyak kontradiksi yang inheren dan setiap upaya untuk mempraktikkannya pasti akan menghasilkan sesuatu yang lain sama sekali dari yang mereka harapkan, hal ini tidak mengubah kenyataan bahwa program perubahan yang mereka ajukan merupakan satu-satunya yang telah memengaruhi perkembangan institusi-institusi sosial. Karena filsafat umum mereka telah menjadi filsafat umum yang dianut sebuah kelompok yang besar, satu-satunya sistem atau teori yang mengangkat isu-isu baru dan membuka wawasan baru, bahwa mereka telah berhasil menginspirasi imajinasi para intelektual.

Perkembangan aktual masyarakat selama periode ini ditentukan bukan oleh pertarungan ideal-ideal yang saling berkonflik, melainkan oleh kontras antara keadaan dunia yang ada dengan kemungkinan masyarakat ideal yang dijunjung di hadapan publik hanya oleh kelompok sosialis. Sedikit sekali program lain yang menawarkan kepada publik alternatif-alternatif murni. Kebanyakan alternatif tersebut hanyalah sejumlah kompromi atau “rumah-rumah separuh jadi” di antara tipe-tipe ekstrim sosialisme ekstrim dan tatanan yang ada. Hal yang diperlukan orang agar sebuah proposal sosialis terlihat masuk akal bagi pikiran-pikiran yang “bijak” yang secara konstitusional percaya bahwa kebenaran harus selalu berada di tengah dua ekstrim, adalah dengan mengadvokasikan proposal yang sedikit lebih ekstrim. Tampaknya hanya ada satu arah yang dapat kita tuju, dan satu-satunya pertanyaannya sepertinya adalah: seberapa cepat dan seberapa jauh gerakan tersebut harus berlangsung.

Seberapa penting daya tarik yang istimewa ini bagi para intelektual yang diderivasikan oleh sosialisme dari sifat spekulatifnya akan terlihat lebih jelas jika kita mengontraskan lebih jauh posisi seorang teoris sosialis dengan posisi lawannya, yaitu teoris liberal dalam pengertian klasik kata tersebut. Perbandingan ini juga akan membawa kita kepada pelajaran apapun yang dapat ditarik dari apresiasi yang memadai terhadap kekuatan-kekuatan intelektual yang menggoyahkan landasan sebuah masyarakat yang bebas.

Yang terasa cukup paradoksial, salah satu hambatan utama yang menghilangkan pengaruh populer pemikir liberal terkait erat dengan fakta bahwa, hingga munculnya sosialisme, ia lebih berpeluang untuk memengaruhi keputusan secara langsung terhadap kebijakan yang ada dan, sebagai konsekuensinya ia tidak saja tergoda ke dalam spekulasi jangka-panjang itu yang menjadi kekuatan kelompok sosialis, melainkan juga pada kenyataannya menjadi patah-semangat karena setiap upaya semacam ini sangat mungkin akan mengurangi segala manfaat-seketika yang dapat ia berikan. Kekuatan apapun yang dimilikinya untuk memengaruhi keputusan praktis berpulang pada posisinya di mata wakil-wakil tatanan yang ada, dan posisi ini akan berada dalam bahaya jika ia memusatkan dirinya sendiri pada spekulasi yang menarik minat intelektual dan yang melaluinya dapat memengaruhi perkembangan dalam periode lebih panjang. Agar dapat berbagi beban dengan penguasa, ia harus menjadi “praktis”, “sensible” dan “realistis.” Apabila ia menyibukkan diri dengan isu-isu yang sifatnya seketika, ia akan mendapat ganjaran berupa pengaruh, sukses secara materi, dan akan populer di antara mereka yang hingga titik tertentu secara umum memiliki kesamaan pandangan dengannya. Tetapi orang-orang ini memiliki sedikit rasa hormat terhadap spekulasi-spekulasi seputar prinsip-prinsip umum yang membentuk iklim intelektual. Tentu, jika ia mendalami spekulasi jangka panjang secara serius, ia akan memperoleh reputasinya sebagai orang yang “payah” atau bahkan separuh sosialis saja, sebab ia tidak bersedia mengidentifikasi tatanan yang ada sebagai sistem bebas yang ditujunya.[1]

Jika, terlepas dari hal ini, ia terus melanjutkan usahanya ke arah spekulasi umum tersebut, ia akan segera menyadari betapa tidak amannya mengasosiasikan diri terlalu dekat dengan orang-orang yang tampaknya berbagi hampir seluruh keyakinan dengannya, dan ia pun segera akan terdorong ke dalam isolasi. Tentu ada banyak tugas lain yang kurang dihargai saat ini daripada yang sifatnya esensial, seperti mengembangkan landasan filosofis sebagai dasar bagi perkembangan lanjutan masyarakat yang bebas. Karena seseorang yang melakukannya harus menerima sejumlah besar kerangka tatanan yang ada, ia juga akan terlihat bagi banyak intelektual yang berpikiran spekulatif sebagai seorang apologis yang menguatirkan keadaan. Di saat yang sama ia akan diabaikan oleh orang-orang penting sebagai seorang teoris yang tidak praktis. Ia tidak cukup radikal bagi mereka yang hanya mengenal dunia di mana “pemikiran-pemikiran dapat hidup nyaman bersama” dan terlalu radikal bagi mereka yang hanya melihat “ruang di mana segala sesuatu bertabrakan”. Jika ia memanfaatkan dukungan dari orang-orang penting tersebut, ia hampir pasti akan mendiskreditkan dirinya sendiri di hadapan mereka tempatnya bergantung dalam menyebarkan ide-idenya. Di saat yang sama ia akan harus ekstra hati-hati untuk menghindari apapun yang menyerupai ekstravaganza atau pernyataan yang terlalu berlebihan. Sementara tidak ada teoris-sosialis yang pernah mendiskreditkan dirinya sendiri di hadapan sejawatnya bahkan melalui proposal-proposal yang paling bodoh sekalipun, seorang liberal yang kuno akan mengutuk dirinya sendiri jika ia menyampaikan usulan yang tidak dapat dipraktikkan. Namun, bagi para intelektual, ia tetap tidak cukup spekulatif atau berani, dan perubahan serta perbaikan dalam struktur sosial yang akan ditawarkannya akan tampak terbatas jika dibandingkan dengan apa yang ditangkap oleh imajinasi mereka yang tidak terlalu terkekang.

Setidaknya dalam sebuah masyarakat di mana syarat-syarat utama bagi kebebasan telah dimenangkan dan perbaikan-perbaikan lanjutan harus melibatkan butir-butir detil komparatif, program liberal tidak memiliki daya tarik untuk menghasilkan temuan baru. Apresiasi terhadap perbaikan-perbaikan yang harus ditawarkan oleh program liberal memerlukan lebih banyak pengetahuan seputar cara kerja masyarakat yang ada daripada yang dimiliki rata-rata intelektual. Diskusi tentang perbaikan-perbaikan tersebut harus berlanjut di tingkat yang lebih praktis ketimbang di tingkat program-program revolusioner, sehingga memberikan warna yang kurang menarik bagi kelompok intelektual dan cenderung memperkenalkan elemen-elemen yang langsung menimbulkan antagonistik seorang intelektual. Mereka yang paling mengenal cara kerja masyarakat dewasa ini juga biasanya tertarik dengan upaya untuk mempertahankan fitur-fitur tertentu dalam masyarakat tersebut yang mungkin tidak dapat dipertahankan oleh prinsip-prinsip yang umum. Berbeda dari orang yang mencari tatanan masa depan yang sama sekali baru dan yang untuk itu secara alamiah akan memerlukan panduan dari [seorang] teoris, mereka yang percaya pada tananan yang ada biasanya menganggap diri telah memahami secara lebih baik daripada teoris manapun dan sebagai kosekuensinya mungkin akan menolak segala hal yang tidak mereka kenal atau yang sifatnya teoretis

Sulitnya menemukan dukungan tulen yang tidak memihak terhadap kebijakan sistematis yang mendukung kebebasan bukanlah hal baru. Dalam sebuah paragraf dimana penerimaan terhadap buku terbaru saya sering mengingatkan saya, Lord Acton pernah mengatakan bahwa “dalam setiap kurun waktu jarang dapat ditemukan sahabat sejati kebebasan, dan kejayaan kebebasan tercapai atas jasa kelompok minoritas, yang berjaya atas dasar mengasosiasikan diri dengan unsur-unsur pendukung yang obyeknya berbeda dari diri mereka sendiri; dan dalam asosiasi ini, yang selalu berbahaya, kadang-kadang menjadi bencana, ketika pihak lawan mendapat alasan yang adil untuk oposisi…”[2] Belum lama berselang, salah seorang ekonom Amerika yang masih hidup dan paling ternama mengeluhkan dengan cara serupa bahwa tugas bagi mereka yang percaya pada prinsip-prinsip dasar sistem kapitalis seringkali harus melakukan pembelaan bagi sistem tersebut dari para kapitalis sendiri—tentunya para ekonom liberal, dari Adam Smith hingga yang dikenal sekarang, selalu menyadari hal ini.

Hambatan paling serius yang memisahkan orang-orang yang berpikiran praktis yang memperjuangkan kebebasan secara murni dari hati dari kekuatan-kekuatan yang dalam dunia gagasan menentukan arah perkembangan adalah ketidakpercayaan mereka yang mendalam terhadap spekulasi teoritis dan kecenderungan mereka terhadap ortodoksi; ini, lebih dari apapun, menciptakan rintangan yang hampir tak tertembus di antara mereka dan para intelektual yang menmperjuangkan hal yang sama dan yang dukungannya tidak terpisahkan jika perjuangan tersebut ingin berjaya. Meskipun kecenderungan ini mungkin bersifat alamiah di antara orang-orang yang mempertahankan sebuah sistem karena sistem tersebut sudah menjustifikasikan dirinya, dan kepada siapa justifikasi intelektual tampaknya immaterial, maka [hal tersebut akan menjadi] fatal bagi kelangsungan sistem tersebut karena hal tersebut meniadakan dukungan yang amat diperlukannya. Ortodoksi dalam jenis apapun, [atau] pretensi bahwa sistem ide secara keseluruhan merupakan hal yang final dan harus diterima tanpa pertanyaan, merupakan satu pandangan yang niscaya akan mengantogoniskan semua intelektual, apapun pandangan mereka terhadap suatu isu. Setiap sistem yang menghakimi manusia berdasarkan kelengkapan konformitas mereka terhadap seperangkat opini yang sudah dipastikan, melalui “keandalan” atau sejauh mana mereka dapat diandalkan untuk mempertahankan pandangan yang makan terhadap semua hal, meniadakan bagi dirinya sendiri dukungan penting, yang tanpanya gagasan tidak akan mampu mempertahankan pengaruhnya dalam masyarakat modern. Kemampuan untuk mengkritik pandangan yang mapan, untuk mengeksplorasikan vista-vista baru dan untuk memeroleh pengalaman dengan konsepsi baru, menyediakan atmosfer yang diperlukan, yang tanpanya intelektual tidak dapat bernapas. Tujuan yang tidak menawarkan cakupan bagi ciri-ciri tersebut tidak akan mendapat dukungan intelektual dan dengan demikian ditardirkan akan gagal di masyarakat manapun yang, seperti masyarakat kita, tergantung pada jasa-jasanya.

Mungkin saja benar, sebagaimana masyarakat bebas yang kita kenal membawa dalam dirinya sendiri kekuatan-kekuatan bagi kehancuran masyarakat itu sendiri, bahwa begitu kebebasan tercapai dia akan terabaikan dan tidak lagi dihargai, dan bahwa pertumbuhan gagasan secara bebas yang merupakan esensi masyarakat bebas akan menghancurkan fondasi pijakannya. Tidak diragukan lagi, di negara-negara seperti Amerika Serikat ideal kebebasan kini kurang menarik anak muda di bandingkan di negara-negara di mana para pemudanya mempelajari makna dari kebebasan yang hilang. Di sisi lain, ada berbagai macam sinyal yang menandakan bahwa di Jerman dan di tempat lain, bagi orang-orang muda yang tidak pernah mengenal masyarakat bebas, tugas untuk merekonstruksikannya dapat menjadi semenarik dan sememesona sebagaimana skema sosialis yang telah muncul selama seratus tahun terakhir. Adalah fakta yang luar biasa, meski fakta ini telah dialami oleh banyak pengunjung, bahwa ketika berbicara kepada mahasiswa Jerman mengenai prinsip-prinsip masyarakat yang bebas, orang akan mendapati audiensi yang lebih responsif dan antusias daripada yang dapat dibayangkan di negara-negara demokrasi Barat lainnya. Di Inggris juga telah muncul di antara para pemuda minat baru terhadap prinsip-prinsip liberalisme sejati yang tentunya tidak ditemukan beberapa tahun yang lalu.

Apakah ini berarti bahwa kebebasan bernilai hanya ketika dia hilang, bahwa dunia di semua tempat harus melalui fase totalitarianisme sosialis sebelum daya kebebasan dapat mengumpulkan kekuatan barunya? Mungkin begitu, tetapi semoga tidak perlu demikian. Namun, sejauh orang yang pada periode panjang yang menentukan opini publik terus tertarik dengan ideal-ideal sosialisme, kecenderungan seperti ini akan terus berlangsung. Jika kita ingin menghindari perkembangan seperti itu, kita harus mampu menawarkan sebuah program liberal yang menggugah imajinasi. Kita harus membuat bangunan masyarakat bebas menjadi, sekali lagi, sebuah petualangan intelektual, sebuah aksi keberanian. Yang tidak kita miliki adalah sebuah Utopia liberal, sebuah program yang tampak bukan sebagai pertahanan diri terhadap hal-hal sebagaimana adanya, dan bukan pula semacam sosialisme yang tercemar, melainkan sebuah radikalisme liberal sejati yang tidak mengecualikan pihak-pihak penguasa yang rentan (termasuk serikat-serikat pekerja), yang tidak terlalu berpikiran praktis, dan yang tidak membatasi diri sendiri pada apa yang dewasa ini tampak memungkinkan secara politis. Kita memerlukan para pemimpin intelektual yang bersedia bekerja untuk sebuah ideal, betapapun kecilnya prospek realisasi awalnya. Mereka harus orang-orang yang bersedia berpegang pada prinsip dan bertarung untuk merealisasikan diri secara penuh, meskipun kecil peluangnya. Kompromi-kompromi praktis harus mereka serahkan kepada para politisi. Perdagangan bebas dan kebebasan bagi kesempatan adalah ideal-ideal yang masih dapat membangkitkan imajinasi banyak orang, tetapi “perdagangan yang cukup bebas” semata atau “pengenduran kontrak” belaka tidaklah terhormat secara intelektual dan tidak memungkinkan untuk menginspirasikan antusiasme.

Pelajaran utama yang harus dipelajari seorang liberal sejati dari kesuksesan kelompok sosialis adalah keberanian mereka untuk menjadi Utopian sehingga mendapat dukungan dari kelompok intelektual dan, dengan demikian, juga dukungan pengaruh opini publik yang sehari-hari memungkinkan apa yang belum lama berselang masih terlihat seperti sesuatu yang jauh sekali. Mereka yang secara ekslusif berurusan dengan apa yang dulu tampaknya bisa dipraktikkan dalam kondisi opini saat itu senantiasa mendapati bahwa bahkan hal inipun secara politik mustahil tercapai sebagai akibat dari perubahan-perubahan dalam opini publik yang selama ini tidak pernah sedikitpun mereka pandu. Kecuali jika kita berhasil membuat landasan filosofis untuk menghidupkan kembali isu intelektual tentang masyarakat yang bebas, dan mengupayakan agar implementasinya menjadi tugas yang menantang kecerdikan dan imajinasi pikiran-pikiran kita yang paling bergairah. Tetapi jika kita dapat memeroleh kembali keyakinan tersebut dalam kekuatan gagasan yang merupakan tanda liberalisme dalam kondisi terbaiknya, artinya kita tidak kalah dalam pertempuran. Kebangkitan-intelektual liberalisme sudah dimulai di banyak negara di dunia. Masih ada waktukah? (§)

(Diterjemahkan oleh Sukasah Syahdan. Hak cipta versi terjemahan Indonesia © 2007, Jurnal Kebebasan: Akal dan Kehendak dan Sançtuary Publishing.)


[1] Contoh paling jelas baru-baru ini seputar penghujatan tulisan liberal non-ortodoks semacam itu sebagai karya yang “sosialis” dapat dilihat dalam komentar terhadap buku almarhum Henry Simons, Economic Policy for a Free Society (1948). Orang tidak perlu sepenuhnya setuju dengan karya ini dan mungkin bahwkan akan menganggap beberapa usulannya tidak kompatibel dengan masyarakat bebas; namun, karya ini dinilai sebagai salah satu kontribusi terpenting di jaman ini bagi persoalan kita, dan diperlukan untuk memulai diskusi tentang isu-isu fundamental. Bahkan mereka yang murka dan tidak setuju dengan usulan-usulan tersebut menerimanya sebagai kontribusi yang telah berani mengemukakan secara jelas persoalan-persoalan sentral di jaman kita.

[2] Acton, The History of Freedom, I (1922).

Kirim artikel ini:
Share on FacebookTweet about this on TwitterShare on Google+Email this to someoneShare on RedditShare on StumbleUpon

Tulisan lain yang mungkin terkait:

Discussion

Comments are disallowed for this post.

Comments are closed.

Arsip Bulanan

Rekomendasi

buku_rothbard.jpg
Apa Yang Dilakukan Pemerintah Terhadap Uang Kita?; Oleh: Murray Newton Rothbard; PT. Granit, Yayasan Obor Indonesia; ISBN : 97897916217 -4-8; tersedia di toko-toko buku terdekat. (Intip cuplikannya).
alt text
Membela Kapitalisme Global; Oleh: Johan Norberg; FNS Jakarta; tersedia di toko-toko buku terdekat. (Baca resensinya di sini).
Economic  Activism Blogs - Blog Catalog Blog Directory