Featured

Mentalitas Anti-Kapitalistik (Bagian 1)

Pengantar Redaksi

[Dimutakhirkan: Oktober 2008]

Mitos-mitos seputar kapitalisme, khususnya kapitalisme laissez faire, selama ini terlanjur berkembang, diyakini dan disebarkan secara sadar maupun tidak, oleh orang-orang yang sebenarnya praktis tidak tahu apa-apa tentang teori-teori dasar menyangkut  hakikat sejatinya. Merajalelanya kecurigaan moral serta takhayul tentang kapitalisme telah melekat lengket di diri banyak orang kendati (atau justru karena) mereka telah mengenyam pendidikan tinggi.

Jika di balik sosialisme/komunisme terdapat figur Karl Marx, maka di balik kapitalisme ada seorang tokoh penting namun “terlupakan”.  Dialah Ludwig von Mises, seorang ekonom besar, filsuf dan teoris yang pemikirannya patut dibaca jika orang ingin memahami kapitalisme secara benar.  Adalah kenyataan: cuma segelintir dosen dan mahasiswa ilmu sosial saja yang pernah membaca tulisan Mises, “the last knight of capitalism” .

Oleh karena itu, mulai minggu ini Akaldankehendak.com menerbitkan artikel berseri dengan judul “Mentalitas Anti-Kapitalistik”. Penerbitan ini dimaksudkan sekaligus sebagai proses terjemahan atas salah satu karya menarik Mises, The Anti-Capitalistic Mentality.   Kebetulan, minggu lalu Akaldankehendak.com mendapat ijin resmi dari penerbit yang bersangkutan (lih. catatan kaki di bawah).

Keterpaparan dengan pemikiran Mises, mungkin saja, dapat menjadi titik awal agar kita semakin waspada dengan gagasan-gagasan yang sliweran di depan mata, di abad distorsi dan inflasi informasi dewasa ini.

Silakan komentari hasil terjemahan sementara ini, juga kalau ada konstruksi yang masih kurang pas atau lancar, atau jika ada kesalahan ketik.  Dengan cara ini pembaca jurnal bertindak sebagai proof-readernya. Kelak, artikel serial ini akan disatukan dan diterbitkan (juga dalam bentuk PDF).

Versi asli, daftar isi, dan ulasan buku asli dapat dijumpai di sini.

Jurnal Kebebasan: Akal dan Kehendak
Volume II Edisi 39, Tanggal 21 Juli 2008-07-21
Oleh: Ludwig von Mises
Alihbahasa: Nad

Pendahuluan

Tergantikannya metode-metode pengelolaan perekonomian pra-kapitalistik dengan kapitalisme laissez-faire telah berhasil melipat-gandakan angka populasi dan meningkatkan standar kehidupan rata-rata dalam cara yang belum pernah terjadi sebelumnya. Sebuah bangsa dewasa ini akan menjadi semakin makmur ketika bangsa tersebut berupaya menciptakan sesedikit mungkin aral rintangan terhadap semangat kewirausahaan bebas dan inisiatif pihak swasta. Penduduk Amerika Serikat lebih makmur daripada kebanyakan penduduk di negara-negara lain oleh karena pemerintahnya paling akhir dibandingkan pemerintahan di belahan dunia lain dalam hal menerapkan kebijakan-kebijakan penghambat bisnis. Namun demikian, banyak orang, dan terutama para intelektual, dengan penuh gairah membenci kapitalisme. Dalam pandangan mereka, modus organisasi perekonomian yang mengerikan ini tidak menghasilkan apapun selain keburukan dan kesengsaraan. Konon, sebelum Revolusi Industri, dulu manusia hidup makmur dan bahagia; kemudian, di bawah kapitalisme, mayoritas besar masyarakat menjadi kaum miskin yang kelaparan akibat ekspolitasi tak terperi oleh para individualis. Manusia-manusia laknat ini hanya memedulikan kepentingan mereka sendiri atas uang. Mereka tidak memproduksi barang-barang yang baik dan betul-betul bermanfaat, kecuali komoditas yang akan mendatangkan keuntungan paling besar. Mereka meracuni tubuh para konsumen dengan minuman beralkohol dan tembakau, serta jiwa dan pikiran mereka dengan berbagai tabloid, buku, dan film syuur pengundang berahi.  Apa yang disebut sebagai “suprastruktur ideologis” dari kapitalisme adalah literatur tentang kebusukan dan degradasi, aneka pertunjukan banyolan dan seni striptease, film-film Hollywood dan roman-roman detektif.

Manifestasi dari berbagai prasangka dan bigotri [fanatisme/kegilaan] opini publik ini memperlihatkan dirinya secara sendiri secara jelas berupa kenyataan bahwa hal-hal yang bejat biasanya secara ekslusif memeroleh imbuhan “kapitalis”; sedangkan terhadap hal-hal yang disetujui semua orang, istilah tersebut tidak pernah disandingkan. Mana mungkin ada hal bagus yang berasal dari kapitalisme! Segala sesuatu yang bernilai tinggi dianggap terlepas dari kapitalisme; sebaliknya, segala keburukan dianggap ekses kapitalisme.

Adalah tugas esei ini untuk menganalisis bias anti-kapitalistik tersebut, untuk membongkar hingga ke akar-akarnya dan menyingkap berbagai konsekuensinya.

BAB I

KARAKTERISTIK SOSIAL KAPITALISME PENYEBAB PSIKOLOGIS PENGHUJATAN TERHADAP KAPITALISME

1. Konsumen yang Berdaulat

Ciri khas kapitalisme modern adalah produksi massa barang-barang untuk konsumsi massa. Akibat yang ditimbulkannya adalah kecenderungan menuju peningkatan standar hidup rata-rata secara kontinyu, suatu [proses] pengkayaan yang memajukan banyak orang. Kapitalisme membebaskan “orang biasa” dari status proletarnya dan meningkatkan harkatnya ke tingkat “borjuis”.

Di pasar di masyarakat yang kapitalistik, orang-biasa adalah konsumen yang berdaulat, yang keputusannya untuk membeli atau menahan diri pada akhirnya menentukan apa yang harus diproduksi dan dalam kuantitas serta kualitas seperti apa. Toko-toko dan pabrik-pabrik yang mengutamakan layanan ekslusif serta memenuhi permintaan barang-barang mewah dari penduduk yang lebih kaya hanya memainkan peran subordinat saja di dalam latar ekonomi di perekonomian pasar. Mereka tidak pernah menjadi bisnis yang berukuran besar.  Bisnis-bisnis besar senantiasa melayani massa-baik secara langsung maupun tidak.

Peningkatan kepada keberlimpahan inilah wujud perubahan sosial radikal akibat yang ditimbulkan oleh Revolusi Industri. Rakyat jelata yang di abad-abad sejarah sebelumnya tergolong sebagai kelompok budak dan para hamba sahaya, gerombolan fakir dan peminta, berubah menjadi publik-pembeli, dan yang permintaannya dilayani oleh para pengusaha. Mereka menjadi konsumen yang “selalu benar”, patron yang berdaya untuk memperkaya seorang pemasok yang miskin, atau memiskinkan pemasok kaya.

Perekonomian pasar yang tidak tersabotase oleh “obat mujarab” berupa pemerintahan dan politisi tidak mengenal para tuan tanah dan bangsawan yang mengungkung dan menguasai rakyat jelata populasi ke dalam penguasaan mereka, untuk ditarik aneka upeti dan retribusi daripadanya, sementara mereka bermegahan dalam pora pesta yang norak dan korban-korban mereka harus puas dengan remah-remah yang tersisa. Sistem profit memakmurkan siapa saja yang berhasil memenuhi keinginan orang dalam cara terbaik dan termurah. Kekayaan dapat dicapai hanya dengan melayani konsumen. Para kapitalis akan kehilangan uang mereka seketika mereka gagal menanamkan investasi mereka di jalur-jalur yang paling dapat memuaskan tuntutan publik. Dalam pemungutan suara yang berulang sehari-hari di mana setiap sen mata uang memberi hak suara, para konsumen menentukan siapa yang harus memiliki dan menjalankan pabrik-pabrik, toko-toko, dan lahan-lahan pertanian atau peternakan. Pengendalian cara material berupa produksi adalah sebuah fungsi sosial yang konfirmasi dan pembatalannya tergantung pada kedaulatan para konsumen.

Inilah makna konsep kebebasan dalam pengertian modernnya.  Setiap manusia dewasa bebas menjalani hidup sesuai dengan rencananya sendiri. Ia tidak dipaksa untuk hidup sesuai dengan rencana sebuah otoritas perencana yang memaksakan rencananya dengan dukungan kepolisian–aparatus sosial untuk pemaksaan dan koersi. Yang membatasi kebebasan individu bukanlah kekerasan atau ancaman kekerasan dari orang lain, melainkan struktur fisiologis tubuhnya sendiri dan sifat hakiki kelangkaan (scarcity) faktor-faktor produksi, yang tak terhindarkan. Jelas bahwa keleluasaan manusia untuk membentuk nasibnya tidak akan pernah dapat melampaui batas-batas yang ditentukan oleh apa yang disebut sebagai hukum alam.

Dengan menyatakan fakta-fakta tersebut tidak berarti kita menjustifikasikan kebebasan individu berdasarkan pada sudut pandang standar yang absolut atau gagasan metafisik apapun. Melalui pernyataan-pernyataan di atas kita juga tidak menjatuhkan penilaian apapun tentang doktrin-doktrin populer yang dilontarkan para pendukung totalitarianisme, baik yang “kanan” maupun “kiri”.  Pernyataan ini tidak ada kaitannya dengan pernyataan-pernyataan yang mengatakan bahwa massa adalah sekumpulan orang yang terlalu bodoh atau terlampau dungu untuk bisa mengetahui apa yang paling baik memenuhi kebutuhan dan kepentingan “sejati” mereka sehingga memerlukan penjaga, yaitu pemerintah, agar mereka tidak menyakiti diri sendiri. Pernyataan di atas juga tidak menyelidiki keberadaan manusia-manusia super di kantor-kantor penjaga semacam itu.

2. Desakan ke arah Perbaikan Ekonomi

Di bawah kapitalisme orang biasa menikmati kemudahan-kemudahan yang di jaman baheula tidak dikenal dan oleh karenanya tidak dapat dinikmati bahkan oleh penduduk terkaya. Tetapi, tentu, kendaraan-kendaraan bermotor, perangkat televisi dan lemari es tidak seketika membuat orang menjadi bahagia. Begitu seseorang memeroleh benda-benda tersebut, ia mungkin lebih senang daripada sebelumnya. Namun, begitu sejumlah hasratnya terpuaskan, hasrat-hasrat baru pun akan mencuat ke permukaan.  Demikian kodrat manusia.

Tidak banyak penduduk Amerika yang menyadari sepenuhnya fakta bahwa negara mereka menikmati standar hidup yang paling tinggi dan bahwa pandangan hidup rata-rata penduduk Amerika tampak luar biasa, sesungguhnya berada di luar jangkauan sebagian besar masyarakat yang hidup di negara-negara non-kapitalistik. Kebanyakan orang kurang menghargai apa yang mereka miliki dan apa yang dapat mungkin mereka capai, dan malah mendambakan hal-hal yang tidak dapat mereka akses. Sia-sia meratapi hasrat yang tak mungkin terpuaskan untuk mendapatkan barang lain lebih banyak lagi. Tepatnya nafsu akan hal inilah yang mendorong orang untuk memperbaiki ekonomi. Hanya berpuas diri atas apa yang telah dimiliki atau terhada hal yang gampang diperoleh, serta menahan diri secara apatetis dari upaya peningkatan kondisi material bukanlah kebajikan. Sikap demikian justru lebih mirip dengan tingkah laku hewan, ketimbang perilaku manusia yang mampu berpikir. Ciri paling khas kemanusiaan adalah bahwa ia tidak berhenti berupaya memajukan kesejahteraannya melalui aktivitas-aktivitas yang bertujuan.

Namun, usaha semacam itu harus disesuaikan dengan tujuannya. Jerih yang diambil harus sesuai dengan efek yang dituju. Yang salah bagi kebanyakan sejawat kita bukan terletak pada kenyataan bahwa mereka amat mendambakan keberlimpahan persediaan barang, melainkan bahwa mereka memilih cara yang keliru demi mencapai tujuan mereka. Mereka mengikuti ideologi-ideologi palsu. Mereka memilih kebijakan-kebijakan yang kontradiktif bagi kepentingan vital yang sesungguhnya mereka pahami.  Akibat terlalu pandir untuk melihat konsekuensi jangka panjang yang tak-terelakkan dari perilaku mereka, mereka hanya mencari kesenangan dalam efek jangka-pendek kebijakan yang ditempuh. Mereka mendukung banyak upaya yang dapat dipastikan akan berakhir sebagai pemiskinan secara umum, disintegrasi kerjasama sosial di bawah prinsip pembagian kerja, dan kembali kepada barbarisme.

Untuk meningkatkan kondisi-kondisi material kemanusiaan, hanya terdapat satu cara: yakni dengan meningkatkan pertumbuhan alokasi kapital (modal) untuk mengimbangi pertumbuhan populasi. Semakin besar volume kapital yang ditanam per kepala pekerja, semakin banyak dan semakin baik pula barang yang dapat diproduksi dan dikonsumsi. Inilah yang telah dihasilkan dan terus dihasilkan oleh kapitalisme, sebuah sistem keuntungan yang sering dicaci. Kendati demikian, hampir semua pemerintah dan partai politik dewasa ini sangat bersemangat untuk menghancurkan sistem ini.

Mengapa kapitalisme begitu dihujat? Mengapa mereka, seraya menikmati limpahan kesejahteraan berkat kapitalisme, merindukan keindahan “tempo doeloe” dan kondisi-kondisi buruk semacam yang dialami para buruh di Rusia saat ini?

(Ke Bagian 2)

——————————-

© Hak Cipta 1972 oleh Ludwig von Mises. Diterbitkan pertama kali oleh D. Van Nostrand Company, Inc. pada tahun 1956.  Dicetak di Amerika Serikat oleh Libertarian Press, Inc.: 1972, 1978, 1981, 1990, 1994. ISBN: 0-910884-29-3. © Hak Cipta edisi terjemahan bahasa Indonesia, 2008 oleh Sukasah Syahdan. Versi online diterbitkan di Jurnal Kebebasan: Akal dan Kehendak, http://akaldankehendak.com.

Kirim artikel ini:
Share on FacebookTweet about this on TwitterShare on Google+Email this to someoneShare on RedditShare on StumbleUpon

Tulisan lain yang mungkin terkait:

Discussion

2 comments for “Mentalitas Anti-Kapitalistik (Bagian 1)”

  1. Melalui pernyataan-pernyataan di atas kita juga tidak menjatuhkan suatu penjatuhan penilaian apapun tentang doktrin-doktrin populer yang dilontarkan

    Mungkin begini

    … di atas kita juga tidak menjatuhkan penilaian apapun …

    Judulnya sendiri IMHO mentalisme -> mentalitas

    Posted by fade2blac | 1 August 2008, 5:55 pm
  2. Oops! Trims banget, fade2blac! Ttg judul, saya jadi heran, sebab di file asli saya judulnya sudah sama dengan di paragraf pertama: Mentalitas Anti-Kapitalistik. Oke akan saya perbaiki sekalian minggu depan.

    Posted by Nad | 1 August 2008, 8:05 pm

Komentari

Arsip Bulanan

Rekomendasi

buku_rothbard.jpg
Apa Yang Dilakukan Pemerintah Terhadap Uang Kita?; Oleh: Murray Newton Rothbard; PT. Granit, Yayasan Obor Indonesia; ISBN : 97897916217 -4-8; tersedia di toko-toko buku terdekat. (Intip cuplikannya).
alt text
Membela Kapitalisme Global; Oleh: Johan Norberg; FNS Jakarta; tersedia di toko-toko buku terdekat. (Baca resensinya di sini).
Economic  Activism Blogs - Blog Catalog Blog Directory
%d bloggers like this: