Uncategorized

Tentang Kenaikan Harga Minyak Global: Analisis Singkat ‘Tanpa’ Ceteris Paribus

Jurnal Kebebasan: Akal dan Kehendak
Volume II Edisi 39, Tanggal 21 Juli 2008
Oleh: Sukasah Syahdan

Salah satu hukum ekonomi dasar yang dapat menjelaskan banyak peristiwa ekonomi adalah kaidah supply and demand.  Kalau pasokan barang naik, sementara permintaan relatif tetap, maka harga akan turun.  Jika permintaan melonjak di saat pasokan dapat dianggap tetap, harga akan naik.  Agar kaidah ini berlaku diperlukan semacam abrakadabra sakti, yaitu: ceteris paribus. Artinya supaya kaidah tersebut bekerja, variabel-variabel lain di luar unsur-unsur yang perilakunya tengah diamati dianggap tidak berubah atau tidak mengalami perubahan berarti.

Dalam artikel pendeknya, Jeremie Rostan seorang filsuf Perancis belum lama menggunakan kaidah fundamental tersebut untuk menganalisis fenomena kenaikan harga minyak yang terus membubung dewasa ini.  Mungkin ulasannya akan hambar kalau ia berhenti di situ saja.  Untungnya tidak. Yang membuatnya menarik dan penting, sang filsuf mencoba  menyingkap apa yang ada di balik mantra ceteris paribus.  (Kerangka analisisnya saya kira dapat diterapkan untuk menjelaskan distorsi dan anomali “abadi” di negeri ini, khususnya terkait dengan pengelolaan energi dan listrik.)

Mengutip pernyataan CEO British Petroleum Tony Haywards dalam Statistical Review of World Energy, Rostan menggarisbawahi bahwa tingginya harga minyak memang terutama telah disebabkan oleh perimbangan pasokan dan permintaan.  Berbeda dari kebanyakan analisis di banyak media selama ini, faktor-faktor lain semacam ulah spekulan hanyalah faktor minor.

Dari sisi permintaan, data Haywards menunjukkan kenaikan permintaan minyak yang terkonsentrasi di negara-negara berkembang di mana subsidi BBM dilakukan-misalnya Cina, India, dan negara-negara penghasil minyak.  Sementara itu, kajian BP di sejumlah negara lain mencatat bahwa para konsumen Eropa dan Amerika Utara mulai menanggapi harga yang tinggi dengan penurunan permintaan, juga dengan efisiensi energi.

Dari sisi pasokan, data Haywards  menyimpulkan bahwa tren kenaikan harga minyak akhir-akhir ini terutama lebih disebabkan oleh penurunan produksi.  Tren penurunan global mulai terlihat sejak 2005. Produksi OPEC tahun lalu bahkan turun hingga 350.000 barel minyak per hari.

Kita tahu bahwa harga adalah sistem signal. Jika harga minyak $135 per barel pada 2008 telah mencapai hamper dua kali lipat dari harga 2007 $135 per barel pada 2008, mengapa produksi tidak meningkat atau tidak ditingkatkan?

Satu jawaban yang logis dan intuitif terkait dengan ilmu geologi. Sesuai dengan argumen tentang “peak oil”, volume minyak yang bisa diekstraksi dalam setahun kini dikatakan semakin mendekati batas definit tertentu; ini terlihat dari terbatasnya volume cadangan pengaman (cushion) kapasitas surplus produksi.

Jawaban ini dinilai Rostan kurang memuaskan, sebab kapasitas produksi surplus minyak (oil surplus production capacity atau OSPC) cenderung dianggap sebagai stok (stock) bukan flow; dan stok ini dianggap sebagai data yang diketahui atau given.  Ini masuk akal, sebab dalam kenyataannya, kebutuhan minyak global tidak tergantung pada volume tersebut.

“Data tersebut bukan stok obyektif yang menunggu untuk dieksploitasi.  OSPC bukanlah kapasitas kandungan minyak di bumi, melainkan keterbatasan kita dalam mengekstraksikannya lebih banyak minyak.”

Pertanyaan yang harus dikejar selanjutnya adalah: mengapa para penambang tidak mengekstraksi lebih banyak?  Keberadaan cadangan minyak yang memadai sudah dicatat lebih dari separuh abad tahun lalu. Soalnya bukan terletak pada cara produksi baru.  Sumber daya yang ada, sangat cukup.

Soalnya ternyata bukan teknologis, tapi politis.   Eksplorasi dan ekstrasi baru mengimplikasikan biaya tambahan. Meningkatnya kesulitan medan juga mengimplikasikan kenaikan biaya produksi.  Semua ini akhirnya harus diterjemahkan sebagai kenaikan kebutuhan akan investasi.

Di sisi lain, kapasitas produksi surplus minyak dunia juga tergantung kepada seberapa jauh konsumen bersedia menerima kenaikan harga. Ketika harga sudah dipatok lewat “subsidi”, kesempatan konsumen untuk melakukan penyelarasan tidak dimungkinkan.

Namun terlepas dari hal ini, dan ini poin terpenting Rostan, kita hanya bisa bicara tentang harga minyak serta kapasitas produksi minyak optimum jika dan hanya jika para investor diijinkan atau memiliki kebebasan untuk menyesuaikan keseimbangan antara pasokan dengan permintaan. Apakah mereka memiliki kebebasan untuk itu?

Sesuai pengakuan Haywards,  ternyata investor tidak memiliki kemewahan tersebut.  Dengan kata lain, alasan mengapa produksi minyak global tidak merespon secara efisien terhadap kenaikan harga minyak, sama sekali bukan masalah geologis.

Alasannya adalah karena pasar tidak dapat beroperasi secara bebas. Para pemodal tidak bebas menanam modal untuk merealisasikan atau memperbaiki kapasitas produksi surplus; mereka tidak bebas menyesuaikan suplai terhadap permintaan; dan tidak bebas mencoba mendapat keuntungan darinya. Kalau investasi diijinkan berlangsung, maka produksi energi akan merespon secara positif.

Jadi, persoalannya dapat disederhanakan kembali ke pelajaran dasar teori ekonomi.  Persoalan utamanya adalah: akses terhadap sumber daya ini bagi para perusahaan minyak internasional semacam BP tetap sangat dibatasi.  Nasionalisme ekonomi, dalam hal ini nasionalisme sumber daya,  kembali mencuat.

Banyak pemerintahan melarang akses terhadap sumber daya yang mereka kuasai secara politis meski mereka sendiri terbukti amburadul dalam mengelolanya. Rosnan mencatat:

“Yang memilukan, kurang dari 10% cadangan minyak dunia terletak di negara-negara bebas yang mengijinkan operasi perusahaan swasta.  Tapi berkat sejumlah pemerintahan, lebih dari 90% cadangan minyak dunia, tertutup bagi konsumen.  Lebih dari 65% cadangan minyak dunia dikontrol oleh BUMN, misalnya di Saudi Arabia.  Dari 25% cadangan lain yang tersisa, lahan-lahan tersebut terletak di negara-negara seperti Iran, Rusia, Venezuela, dan lainnya, di mana efisiensi perusahaan swasta tidak diperkenankan bekerja.”

Jadi, krisis minyak, anomali atau distorsi harga minyak yang kita alami terutama tidak disebabkan oleh faktor-faktor di dalam bumi, melainkan oleh faktor di atas bumi: tepatnya, faktor politis.

Dan politik adalah sebuah economic violence. [ ]

Referensi:

Jeremie T.A. Rostan, “Let the Market Solve the Energy Crisis“, Mises Institute, 16 July 2007.

Kirim artikel ini:
Share on FacebookTweet about this on TwitterShare on Google+Email this to someoneShare on RedditShare on StumbleUpon

Tulisan lain yang mungkin terkait:

Discussion

5 comments for “Tentang Kenaikan Harga Minyak Global: Analisis Singkat ‘Tanpa’ Ceteris Paribus

  1. Harga minyak sudah turun… he he he he…. target pertama $120/bbl sudah tercapai.

    Target ke-2 $90 – $100. Kalau ini tembus maka $50 punya peluang yang besar.

    Posted by imam semar | 11 August 2008, 10:43 pm
  2. Rasanya kalau hanya karena politik harga minyak ‘melompat’ tinggi mungkin perlu dikaji dari sudut2/segi2 lain supaya analisanya lebih komprehensif dan ruwet (?) dan maaf, lebih ‘keren’  termasuk dari disiplin Ekonomi-politik dan Politik-ekonomi, kalau ada. Keruwetan ditambah lagi ketika Kongres Amerika (atau Senat?) meneliti kemungkinan ulah spekulan (bursa komoditi) sebagai pemicu. Bahkan seorang pelakunya mau bersaksi tentang hal ini. Bingung? Jelas saya bingung. Makin banyak baca di internet makin kita pinter mengapresiasi informasi agar tidak tambah bingung. OPEC juga kemungkinan akan di ‘tuntut’ dengan akan disahkannya UU tentang anti kartel oleh AS. Wah seru kan. Salam

    Posted by Elan Dewatono | 2 September 2008, 9:17 am
  3. Sederhana saja….., Occam's Razor principle…, teori yang bagus adalah teori yang sederhana dan menggunakan asumsi yang pali sedikit. Demand dan Supply, harga minyak turun karena resesi dan konsumsi menurun.

    Ada badai Gustav…., tidak ada pengaruhnya terhadap penurunan harga minyak…. Badai, spekulan dan faktor-faktor seperti ini hanya bisa memperngaruhi harga sejenak. Tetapi demand-supply lebih berpengaruh pada trend harga jangka menengah dan panjang yang disebut secular trend.

    Posted by imam semar | 2 September 2008, 7:45 pm
  4. Sepakat Pak IS! tulisan di media masa sering konyol mengaitkan isu politik dan bencana alam terhadap perubahan2 harga komoditas. Begitu juga otak "konsiparatif" para intelektual yg tidak mau belajar.

    Posted by Giy | 2 September 2008, 7:56 pm
  5. Ya. Saya jadi ingat dosen saya di Connecticut marah2 sambil bilang " ….. guys… just KISS !!…. Keep It Simple Stupid ….

    Tapi BTW, saya akan coba brangkali ada data saya ttg SvsD crude sampai 2007 sekalian diplot dengan price-nya. Terimakasih atas responnya.

    Posted by Elan D | 4 September 2008, 1:43 am

Komentari

Arsip Bulanan

Rekomendasi

buku_rothbard.jpg
Apa Yang Dilakukan Pemerintah Terhadap Uang Kita?; Oleh: Murray Newton Rothbard; PT. Granit, Yayasan Obor Indonesia; ISBN : 97897916217 -4-8; tersedia di toko-toko buku terdekat. (Intip cuplikannya).
alt text
Membela Kapitalisme Global; Oleh: Johan Norberg; FNS Jakarta; tersedia di toko-toko buku terdekat. (Baca resensinya di sini).
Economic  Activism Blogs - Blog Catalog Blog Directory
%d bloggers like this: