buku

Mentalitas Anti-Kapitalistik (Bagian 2)

Pengantar:  Sebagai tambahan pengantar dari bagian pertama, saya perlu mengingatkan sidang pembaca bahwa seluruh artikel serial ini masih berupa draft terjemahan yang belum melalui proses penyuntingan.  Jika ada keraguan terhadap hasil penerjemahan sementara ini, silakan bandingkan dengan versi aslinya .

Jurnal Kebebasan: Akal dan Kehendak
Volume II Edisi 40, Tanggal 28 Juli 2008
Oleh: Ludwig von Mises

3.  Masyarakat Status dan kapitalisme

Sebelum menjawab pertanyaan tersebut, karakteristik kapitalisme penting dibedakan dari ciri-ciri sistem yang berlaku di dalam masyarakat yang berbasis status.

Para wirausahawan dan kapitalis di perekonomian pasar sering diperbandingkan dengan para aristokrat di masyarakat status. Dasar perbandingannya adalah kekayaan relatif kedua kelompok tersebut dengan kondisi-kondisi rakyat jelata yang relatif hidup dalam kekurangan. Namun, saat melakukan pembandingan semacam ini perbedaan fundamental antara kekayaan aritstokrat dan kekayaan “borjuis” yang kapitalistik, kadang gagal disadari.

Kekayaan aristokrat bukan fenomena pasar. Dia tidak berasal dari proses pelayanan terhadap konsumen dan tidak bisa dibatalkan atau bahkan dipengaruhi oleh tindakan apapun oleh publik. Kekayaan aristokrat berasal dari upeti dan jarahan hasil taklukan sang penakluk. Dia hanya bisa berakhir kalau pemberi upeti menghentikan pemberian tersebut, melalui paksaan berupa kekerasan oleh penakluk lain, atau bisa pula akibat kebodohan berupa perilaku boros atau ekstravaganza. Bangsawan feodal tidak melayani konsumen;  dan “kebal” terhadap kegusaran penduduk yang hidup di sekelilingnya.

Sementara itu, para wirausahawan dan kapitalis “berutang harta” kepada mereka yang menjadi patron-patron bisnis mereka.  Tanpa dapat dihindari, kekayaan mereka niscaya akan melayang begitu ada pihak lain yang mampu menyediakan layanan yang lebih baik atau lebih murah kepada para patron.

Esei ini tidak bertujuan mendeskripsikan kondisi-kondisi historis penyebab timbulnya kelembagaan kasta dan status, atau sub-divisi penduduk ke dalam kelompok berdasarkan keturunannya berikut dengan segala peringkat, hak, klaim, dan hak istimewa dan ketidakmampuan mereka yang berbeda-beda. Fakta yang penting bagi kita di sini semata-mata hanyalah bahwa kelangengan institusi feodal semacam itu tidak berkompatibel dengan sistem kapitalisme. Penghapusan lembaga tersebut dan pembentukan prisip kesetaraan hukum akan melenyapkan rintangan yang mencegah kemanusiaan dari upaya penikmatan segala manfaat yang mungkin diperoleh dan diberikan oleh sistem kepemilikan swasta melalui jalan produksi dan kewirausahaan swasta.

Di dalam masyarakat yang berbasis peringkat, status atau kasta, nasib individu di dunia sudah ditetapkan. Ia terlahir untuk posisi tertentu, dan posisi di dalam masyarakat ini secara kaku ditentukan oleh perundangan dan adat istiadat yang menentukan bagi setiap anggota peringkat, hak, dan larangan tertentu. Dalam sedikit kasus, kemujuran atau kemalangan yang luar biasa dapat meningkatkan atau justru menurunkan harkat dan status individu.  Tetapi biasanya, kondisi-kondisi para anggota individual dari sebuah ordo atau tingkatan yang pasti hanya dapat menjadi lebih baik atau lebih buruk jika kondisi-kondisi keanggotaan mengalami perubahan secara menyeluruh. Setiap individu pada dasar utamanya bukanlah merupakan warga dari sebuah bangsa; dia adalah anggota sebuah estat (Stand, état) dan hanya dalam keadaan inilah ia terintegrasi secara tidak langsung ke dalam bangsanya. Ketika berkontak dengan penduduk lain yang senegara dengannya tetapi dalam kelas/tingkatan lain, ia tidak merasakan adanya komunitas. Yang dirasakannya adalah jurang yang memisahkan statusnya dari status orang lain tersebut. Perbedaan ini tercermin dalam pemakaian bahasa dan pakaian mereka. Di masa ancien régime*) para aristokrat Eropa lebih suka bercakap dalam bahasa Prancis. Penduduk kelas tiga memakai bahasa setempat, sementara kelas masyarakat lain yang lebih rendah dalam populasi perkotaan dan kelompok petani, menggunakan dialek, jargon, dan argot lokal yang seringkali tidak dapat dipahami oleh mereka yang terdidik. Aneka ragam kelas ini juga memiliki perbedaan dalam berbusana.  Jika terlihat seorang pendatang baru, masyarakat sekitar tidak akan salah menilai dari golongan mana orang asing tersebut berasal.

Kritik utama yang diarahkan untuk menentang prinsip kesetaraan di depan hukum oleh pemuja aristokrasi di masa lalu adalah bahwa karena sistem pasar telah menghapuskan segala hak istimewa mereka, berupa peringkat dan martabat.

Hal tersebut, dalam pandangan mereka, telah mengatomisasi masyarakat, melenyapkan sub-bagiannya “organik” ke dalam massa yang “tak berbentuk”. [Di bawah kapitalisme] Kelompok orang “kebanyakan” justru diluhurkan bahkan hingga kondisi material mereka secara rata-rata melampaui standar yang dienyam para bangsawan masa lalu.  Uang adalah raja. Orang-orang yang tak-berguna ini [kata mereka] menikmati kekayaan dan keberlimpahan, sementara mereka yang berjasa dan berharga harus melenggang dengan tangan kosong.

Kritik ini diam-diam mengimplikasikan bahwa di bawah ancien régime para aristokrat dikenal atas kebajikan mereka dan bahwa status dan penghasilan mereka peroleh berkat superioritas moral dan kultural mereka. Sebenarnya, dongeng semacam ini hampir tidak perlu lagi dibantah. Tanpa perlu menjatuhkan penilaiannya, sejarawan tidak dapat menahan diri untuk tidak menekankan kenyataan bahwa aristokrasi di negara-negara utama Eropa tempo doeloe adalah para keturunan para tentara, pelayanan kerajaan serta gundik-gundik mereka yang, dalam perjuangan relijius dan konstitusional di abad 16 dan 17, dengan cerdik berpihak kepada partai yang kemudian berjaya di negara-negara masing-masing.

Walaupun para seteru konservatif dan “progresif” kapitalisme tidak sependapat dalam hal evaluasi terhadap standar-standar lama tersebut, mereka sepenuhnya sependapat dalam penghujatan mereka kepada standar-standar [yang berlaku dalam] masyarakat kapitalistik. Dalam pandangan mereka, [kaum kebanyakan] yang mendapatkan kekayaan dan prestis dari sesamanya, tidaklah berhak mendapatkannya; mereka orang-orang yang berpikiran dangkal tidak layak mengecapnya. Kedua kelompok ini berpura-pura ingin menerapkan metode-metode “distribusi” yang lebih adil sebagai sistem pengganti bagi metode yang nyata-nyata tidak adil  di bawah kapitalisme laissez-faire.*)

Namun, tidak seorang pun menentang bahwa di bawah sistem kapitalisme yang tidak terkendala, mereka yang berjaya adalah mereka yang, dari sudut pandang standar nilai abadi, yang dianggap lebih disukai. Apa yang ditimbulkan oleh demokrasi kapitalistik dari pasar bukanlah pelimpahan hadiah kepada seseorang berdasarkan prestasi (merit) “sejati”, nilai inheren ataupun keluhuran moral mereka. Apa yang membuat seseorang menjadi lebih atau kurang makmur bukanlah hasil penilaian terhadap prinsip keadilan “absout” apapun, melainkan hasil evaluasi dari para sesama penduduk yang secara ekslusif menerapkan tolok ukur keinginan, hasrat, dan tujuan pribadi mereka. Inilah makna persis dari sistem pasar yang demokratis. Para konsumen adalah yang tertinggi (supreme)-atau berdaulat.  Mereka ingin dipuaskan.

Jutaan orang gemar mengonsumsi minuman Pinkapinka, sebuah minuman ringan yang diproduksi oleh sebuah perusahaan yang mencoba merangkul dunia, Pinkapinka Company. Jutaan orang menggemari cerita-cerita detektif, gambar-gambar misteri, surat kabar tabloid, adu banteng, tinju, wiski, rokok, permen karet, dan lain-lain. Jutaan  lainnya memberi suara mereka kepada pemerintah yang bersemangat mempersenjatai diri dan mengibarkan peperangan. Dengan demikian, para pengusaha yang menyediakan cara terbaik dan termurah atas semua hal-hal yang dibutuhkan untuk memenuhi keinginan-keinginan tersebut akan berhasil menjadi kaya.  Apa yang penting dalam kerangka perekonomian pasar bukanlah penilaian akademis tentang nilai, melainkan valuasi yang sebenar-benarnya dimanifestasikan oleh penduduk dengan jalan membeli atau tidak membeli.

Kepada mereka yang masih menggerutu terhadap ketidakadilan sistem pasar hanya satu nasihat dapat diberikan: Jika Anda ingin mencapai kekayaan, coba puaskan masyarakat dengan menyediakan sesuatu yang lebih murah bagi mereka, atau yang mereka lebih sukai. Coba kalahkan Pinkapinka dengan ramuan minuman lain. Kesetaraan di muka hukum memberi Anda kekuatan untung menantang setiap jutawan. Di pasar yang tidak tersabotase oleh pembatasan-pembatasan pemerintah, semata-mata kesalahan Anda sendirilah jika Anda tidak dapat mengalahkan si Raja Coklat, bintang film, atau jawara tinju.

Namun, jika ketimbang kekayaan yang mungkin Anda dapatkan lewat bisnis garmen atau tinju profesional ternyata Anda lebih menyukai kepuasan dari penulisan puisi atau filsafat, maka Anda bebas melakukan hal tersebut.  Dengan demikian, tentunya Anda tidak akan menghasilkan uang sebanyak mereka yang melayani mayoritas. Sebab demikianlah hukum demokrasi di ekonomi pasar.  Mereka yang memuaskan keinginan sejumlah kecil orang hanya akan mendapatkan suara-berupa uang–yang lebih sedikit ketimbang mereka yang memuaskan orang lebih banyak. Dalam hal penciptaan uang, bintang film akan mengalahkan filsuf; pembuat Pinkapinka akan melampaui penghasilan komposer simfoni.

Penting disadari bahwa kesempatan berkompetisi demi “hadiah yang diberikan oleh masyarakat” merupakan sebuah institusi sosial. Dia tidak menghilangkan atau mengurangi ketidaksempurnaan yang melekat yang di dalamnya yang dilimpahkan alam kepada banyak orang. Dia tidak dapat mengubah kenyataan bahwa tidak sedikit orang memang terlahir sakit-sakitan atau menjadi cacat di kemudian hari. Peranti biologis manusia memberi batasan ketat terhadap lahan kehidupan di mana ia dapat berkecimpung. Kelas masyarakat yang memiliki kemampuan untuk berpikir mandiri dipisahkan oleh sebuah jurang dari kelas lain yang tidak dapat berpikir demikian.

4.  Kekesalan Akibat Ambisi yang Gagal

Sekarang kita dapat mencoba memahami mengapa orang membenci kapitalisme.

Di masyarakat yang berbasis kasta dan status, setiap individu dapat menyalahkan nasib buruk yang mereka alami kepada kondisi-kondisi di luar kendalinya. Kalau ia menjadi budak, itu disebabkan oleh sebuah kekuatan non-manusiawi yang telah menakdirkan segalanya dan telah memberinya kelas demikian. Oleh karena status tersebut bukan akibat dari perbuatannya sendiri, tidak ada alasan baginya untuk merasa nista atas kepapaannya.  Istrinya tidak bisa menyalahkan dirinya atas statusnya itu. Jika sang istri bertanya: “Mengapa Kang Mas bukan seorang bangsawan? Kan kalau Kang Mas bangsawan, aku jadi permaisurinya,” ia mungkin akan menanggapinya begini: “Seandainya aku terlahir sebagai pangeran, Dik, aku tidak bakal mengawini putri budak, melainkan Tuan Putri dari bangsawan lain; mengapa sampeyan ini bukan putri, itu jelas kesalahan adik semata, sebab adik tidak pintar dalam memilih orang tua!”

Di bawah kapitalisme, halnya berbeda sama sekali. Di sini nasib semua orang tergantung pada apa yang dilakukannya kepada dirinya sendiri. Setiap orang yang ambisinya tidak sepenuhnya tercapai mengetahui dengan baik bahwa ia telah kehilangan kesempatan dan dianggap gagal oleh sesamanya. Jika istrinya mengeluh kepadanya: “Mengapa Kang Mas hanya diupah delapan puluh kepeng per minggu? Kalau saja Kang Mas sepintar temanmu Mas Pailul yang mandor itu, hidupku tentu akan lebih baik,” ia menjadi sadar akan inferioritasnya dan merasa terhina.

Kerasnya kapitalisme sebagaimana sering dipergunjingkan terletak pada kenyataan bahwa sistem ini memang menangani setiap orang sesuai dengan kontribusinya kepada kesejahteraan sesamanya.  Pengaruh dari prinsip dasarnya, yang mengatakan bahwa setiap orang mendapatkan sesuai pencapaiannya, bukanlah alasan bagi kekurangan-kekurangan yang bersifat personal.

Tiap orang merasakan bahwa orang lain, yang sesungguhnya tidak berbeda darinya, berhasil sementara ia sendiri gagal. Tiap orang mengetahui bahwa banyak pihak yang telah membangkitkan rasa irinya adalah orang-orang yang telah menempa dirinya sendiri dari posisi awal yang sama dengan posisinya. Dan, yang lebih buruk lagi, ia mengetahui pula bahwa orang lain juga mengetahui hal ini. Ia membaca di mata anak-anak dan istrinya semacam tuntutan yang tak terkatakan: “Bapak kok tidak lebih pintar dari orang lain?” Ia menyadari bagaimana masyarakat mengagumi orang yang lebih sukses dari dirinya dan bagaimana mereka memandang rendah atau iba akan kegagalannya.

Apa yang membuat banyak orang tidak bahagia dengan kapitalisme adalah fakta bahwa kapitalisme memberi semua orang kesempatan guna mencapai posisi yang paling diinginkan yang, tentu saja, hanya dapat dicapai oleh segelintir orang. Apapun yang telah diperoleh seseorang bagi dirinya, hal tersebut tidak lebih merupakan sebagian dari ambisinya akan kemenangan. Di matanya akan selalu ada orang yang lebih berhasil darinya; orang lain yang lebih hebat darinya, yang terhadapnya ia menumbuhkan, di alam bawah sadarnya, suatu kompleks inferioritas. Seperti itulah sikap tunawisma terhadap orang yang memiliki pekerjaan tetap, atau pekerja pabrik terhadap sang mandor, eksekutif terhadap wakil dirut, wakil dirut terhadap dirut, atau orang yang bergaji tiga ratus ribu dolar terhadap milyuner, dan seterusnya dan selanjutnya. Kemandirian dan ekuilibrium moral setiap orang selalu terusik oleh pemandangan mereka yang telah membuktikan bahwa kemampuan dan kecakapan mereka lebih hebat. Semua orang menyadari kekalahan dan kekurangan diri masing-masing.

Sederet panjang penulis Jerman yang secara radikal menolak gagasan “Barat” tentang Pencerahan dan filsafat sosial rasionalisme, utilitarianisme dan laissez faire serta kebijakan-kebijakan yang dikemukakan oleh aliran pemikiran ini diawali oleh Justus Möser.*)  Salah satu prinsip baru yang membangkitkan amarah Möser adalah tuntutan  bahwa promosi pejabat militer dan pegawai negeri harus berdasarkan pada kecakapan dan kemampuan personal dan bukan pada asal-usul keluarga dan garis bangsawannya, umurnya atau lamanya masa tugas. Hidup di masyarakat di mana kesuksesan tergantung secara ekslusif kepada kecakapan pribadi, menurut Möser, semata-mata tidak dapat diterima. Sebagaimana kodrat manusia, semua orang rentan untuk menilai dirinya lebih tinggi ketimbang nilai atau ganjaran yang sebenarnya. Jika tempat seseorang dalam hidup ini harus dikondisikan oleh faktor-faktor lain selain kecemerlangannya yang inheren, pihak lain yang berada di bawah anak tangga dapat menerima kenyataan ini dan, karena mengetahui nilainya sendiri, masih dapat menjaga martabat dan kehormatan dirinya. Tetapi halnya berbeda jika sistem merit saja yang dijadikan patokan. Dalam sistem demikian, mereka yang tidak sukses akan merasa tersinggung dan terhina. Kebencian dan rasa permusuhan terhadap mereka yang lebih hebat pasti akan muncul.[1]

Sistem harga dan pasar dari kapitalisme membentuk sebuah masyarakat di mana prestasi (merit) dan pencapaian menentukan keberhasilan atau kegagalan seseorang. Apapun yang mungkin dipikirkan orang terhadap bias Möser terhadap prinsip prestasi tersebut, harus diakui bahwa ia benar dalam menggambarkan salah satu konsekuensi psikologisnya. Möser memberi tilikan terhadap perasaan yang dialami mereka yang gagal.

Guna menenangkan diri dan untuk memperbaiki harkatnya dirinya, seseorang yang gagal memerlukan kambing hitam. Ia berusaha meyakinkan dirinya sendiri bahwa kegagalannya bukanlah akibat kesalahannya.  Ia setidaknya sama cemerlang, efisien dan rajinnya seperti mereka yang mengalahkannya. Sayangnya, tatanan sosial yang keji di masyarakat kita tidak menghadiahi orang-orang yang paling telah berjasa; tatanan sosial ini memberi mahkota raja kepada mereka yang culas, pembohong, penipu, ekspoitir, dan individualis kampungan.  Sementara yang membuat dirinya gagal adalah kejujurannya. Ia terlalu baik untuk mencoba trik-trik rendahan yang membawa para pesaingnya ke puncak kesuksesan. Kondisi di bawah kapitalisme memaksa orang untuk memilih antara kebajikan dan kemiskinan di satu sisi, dan kejahatan dan kekayaan di sisi lain.  Ia sendiri, puji Tuhan, telah memilih alternatif pertama dan menampik yang kedua.

Pencarian kambing hitam ini adalah sebuah sikap manusia di bawah tantanan sosial yang memperlakukan setiap manusia berdasarkan kontribusinya kepada kesejahteraan sesamanya dan di mana semua orang dengan demikian merupakan pembentuk nasibnya sendiri. Di dalam masyarakat yang seperti ini setiap anggota masyarakat yang ambisi-ambisinya tidak terpuaskan akan merasa kesal terhadap kekayaan mereka yang lebih berhasil darinya. Mereka yang tergolong bebal akan melampiaskan perasaan ini melalui hujatan dan celaan. Mereka yang lebih canggih tidak menceburkan diri dalam penghujatan personal yang demikian. Mereka menyublimasikan kebencian mereka ke dalam filsafat, yakni filsafat anti-kapitalisme, untuk membebaskan diri dari suara hati mereka yang tak terdengar, yang mengatakan bahwa sebenarnya kegagalan mereka sepenuhnya akibat kesalahan mereka sendiri. Fanatisme mereka dalam mempertahankan kritik mereka ini terhadap kapitalisme justru disebabkan oleh kenyataan bahwa mereka menolak kesadaran mereka sendiri bahwa pandangan mereka keliru.

Penderitaan akibat ambisi frustrasi ini terutama dialami oleh orang-orang yang hidup di masyarakat yang berpedoman pada kesetaraan di muka hukum. Ini tidak disebabkan oleh kesetaraan hukum itu sendiri, melainkan oleh kenyataan bahwa di dalam masyarakat di mana terdapat kesetaraan hukum, ketidaksamaan intelektual, tekad manusia berikut aplikasinya justru menjadi terlihat.  Jurang yang memisahkan manusia sebagaimana adanya dan pencapaian sejatinya dari anggapan pribadi terhadap dirinya serta pencapaiannya sendiri justru akan terungkap tanpa ampun. Impian tentang dunia yang “adil” yang akan memperlakukan dirinya sesuai dengan “nilai sejatinya” adalah pelarian bagi orang-orang yang tidak memiliki pengetahuan tentang diri mereka sendiri.

(Terus ke Bagian 3;  atau kembali ke  Bagian 1)

*) Catatan penerjemah menyusul.


[1] Möser, No Promotion According to Merit, terbit perdana pada 1772. (Justus Möser’s Sämmtliche Werke, peny. B. R. Abeken, Berlin, 1842, Vol. II, hal. 187-191.)

Kirim artikel ini:
Share on FacebookTweet about this on TwitterShare on Google+Email this to someoneShare on RedditShare on StumbleUpon

Tulisan lain yang mungkin terkait:

Discussion

No comments for “Mentalitas Anti-Kapitalistik (Bagian 2)”

Komentari

Arsip Bulanan

Rekomendasi

buku_rothbard.jpg
Apa Yang Dilakukan Pemerintah Terhadap Uang Kita?; Oleh: Murray Newton Rothbard; PT. Granit, Yayasan Obor Indonesia; ISBN : 97897916217 -4-8; tersedia di toko-toko buku terdekat. (Intip cuplikannya).
alt text
Membela Kapitalisme Global; Oleh: Johan Norberg; FNS Jakarta; tersedia di toko-toko buku terdekat. (Baca resensinya di sini).
Economic  Activism Blogs - Blog Catalog Blog Directory
%d bloggers like this: