buku

Mentalitas Anti-Kapitalistik (Bagian 3)

Jurnal Kebebasan: Akal dan Kehendak
Volume II Edisi 41, Tanggal 4 Agustus2008
Oleh: Ludwig von Mises

5. Kekesalan Intelektual

Orang-biasa pada umumnya tidak memiliki kesempatan untuk bergaul dengan mereka yang telah mendulang kesuksesan melebihi dirinya. Ia bergerak dalam lingkaran sesama orang biasa. Ia tidak pernah bertemu dengan bosnya secara sosial.  Ia tidak pernah belajar dari pengalaman pribadi tentang betapa berbedanya seorang pengusaha atau eksekutif dalam hal-hal menyangkut kecakapan dan kemampuan yang diperlukan agar berhasil melayani konsumen. Rasa iri dan kesal yang timbul kemudian ini tidak dapat dilampiaskan kepada orang lain yang sama-sama terdiri atas darah dan daging, kecuali pada pada abstraksi-abstraksi yang samar  seperti “pengelola”, “modal”, dan “Wall Street.”  Kebenciannya kepada bayangan samar tersebut tidak mungkin dapat dilampiaskan dengan kegetiran yang sama seperti yang mungkin dirasakannya terhadap sesamanya, yang ditemuinya sehari-hari.

Lain halnya dengan orang-orang yang oleh sebab kondisi-kondisi khusus dari pekerjaan atau afiliasi keluarga, memiliki kesempatan untuk berhubungan secara pribadi dengan para pemenang “tropi” kompetisi yang–dalam keyakinan mereka–sudah selayaknya mereka peroleh.  Terhadap mereka, rasa frustrasi akibat ambisi yang gagal menjadi kian pahit sebab kebencian yang timbul adalah terhadap makhluk hidup yang konkret. Mereka membenci kapitalisme karena kapitalisme ternyata menyerahkan kedudukan yang mereka dambakan kepada para pemenang tersebut.

Begitulah yang terjadi dengan orang-orang yang umum disebut sebagai kaum intelektual. Mari telaah para dokter. Rutinitas dan pengalaman sehari-hari membuat setiap dokter menyadari kenyataan bahwa ada  hirarki yang memeringkat para praktisi kesehatan berdasarkan prestasi dan tingkat pencapaian. Mereka yang lebih unggul daripada dirinya,  yang metode dan inovasi mereka harus ia pelajari dan praktikkan agar ia tetap mutakhir, dulunya adalah teman-teman sekelas ketika di fakultas kedokteran. Dulu, mereka bekerja bersamanya sebagai internes; bersama-sama mengikuti pertemuan-pertemuan di berbagai asosiasi medis. Ia bertemu dengan mereka di ranjang pasien, juga di saat berlangsung kenduri sosial.  Di antara mereka mungkin teman-teman pribadinya atau pernah terkait dengannya.  Semuanya memperlakukannya dalam tingkat kesopanan tertinggi, bahkan menyebutnya sebagai kolega yang baik. Tetapi mereka menjulang jauh lebih tinggi melampauinya, dalam hal apresiasi masyarakat dan seringkali juga dalam hal penghasilan. Mereka telah mengalahkannya dan kini dapat digolongkan sudah berbeda “kelas”.

Bila ia membandingkan dirinya dengan mereka, ia akan dilanda rasa hina.  Namun, ia harus senantiasa hati-hati dalam menekan kekesalan dan rasa irinya. Sedikit saja tanda tersebut terlihat, itu akan dianggap sebagai perilaku yang amat buruk dan derajatnya akan jatuh di mata semua orang. Ia harus menelan semua hal yang memalukan ini dan membelokkan kesumatnya kepada target pelampiasan. Semuanya ini pada akhirnya ia arahkan pada tata perekonomian masyarakat, yaitu sistem kapitalisme yang keji. Kalau bukan lantaran sistem yang tidak adil ini, ia pasti akan mendapatkan kekayaan yang setimpal dengan segala kemampuan, bakat, semangat dan pencapaiannya.

Hal serupa juga berlaku bagi pengacara, guru, pekerja seni, penulis, wartawan, arsitek, peneliti ilmiah, insinyur, ahli kimia, atau lainnya.  Mereka rentan terhadap rasa frustrasi jika kolega-kolega mereka, yang dulunya merupakan para sahabat dan kroni saat di kampus dulu, mendapat promosi. Kekesalan ini bahkan tertoreh semakin dalam dengan adanya kode etis dan perilaku profesional yang memberi tabir kesetiakawanan dan kemitraan di atas realitas kompetisi.

Untuk dapat memahami kebencian seorang intelektual terhadap kapitalisme, orang harus menyadari bahwa di dalam dirinya sistem ini terinkarnasi dalam diri beberapa rekan sejawat yang telah berhasil, yang keberhasilannya membuat dirinya gusar dan yang ia anggap bertanggungjawab atas rasa frustrasi akibat ambisi yang jauh di luar jangkauannya. Ketidaksenangannya yang mendalam terhadap kapitalisme hanyalah tabir kebencian terhadap kesuksesan beberapa rekan sekerja.

6.  Prasangka Anti-Kapitalistik Intelektuan Amerika

Timbulnya fenomena berupa prasangka anti-kapitalistik di kalangan intelektual tidak saja terbatas pada satu atau beberapa negara saja.  Fenomena ini lebih umum dan lebih mengenaskan terjadi di Amerika Serikat ketimbang di negara-negara Eropa. Guna menjelaskan kenyataan yang agak mengejutkan ini kita perlu menelaah apa yang disebut sebagai “masyarakat”,  atau yang dalam bahasa Prancisnya disebut ‘le monde.’

Di Eropa, pengertian “masyarakat” mencakup semua tokoh ternama yang menonjol di setiap bidang kegiatan. Negarawan, pemimpin parlemen, kepala departemen di institusi pemerintahan, penerbit, penyunting koran atau majalah utama, penulis, ilmuwan, seniman, aktor, musisi, insinyur, pengacara serta dokter dan lainnya, bersama-sama dengan para pengusaha dan para keturunan aristokrat dan bangsawan, membentuk apa yang dianggap sebagai masyarakat yang baik.  Mereka berhubungan dengan satu sama lain di pesta-pesta makan malam, jamuan teh, bazar amal, pasar raya, atau di hari-hari pembersihan (varnishing days*); mereka mengunjungi restoran, hotel dan tempat peristirahatan yang sama. Bila bertemu, mereka membicarakan hal-hal yang intelektual, sebuah modus interaksi sosial yang mulanya berkembang pada abad Pencerahan Italia dan disempurnakan di salon-salon Parisian dan kelak ditiru “masyarakat” di semua kota penting di Eropa Barat dan Tengah. Tanggapan terhadap gagasan dan ideologi baru terjadi lebih dulu di perhelatan-perhelatan sosial, sebelum pengaruhnya merembes ke lingkaran-lingkaran yang lebih luas. Orang tidak dapat berurusan dengan, misalnya, sejarah fine arts atau kesusastraan abad ke-19 tanpa menganalisis peran “masyarakat” tersebut dalam menyokong dan menolak protagonis mereka.

Akses ke masyarakat Eropa terbuka bagi siapa saja yang telah memiliki reputasi di bidang apa saja. Hal ini mungkin lebih mudah bagi mereka yang keturunan bangsawan dan keluarga kaya-raya ketimbang bagi rakyat jelata, yang berpenghasilan rendah. Namun, baik kekayaan maupun gelar para anggota dalam kelompok ini tidak memberi mereka ranking dan gengsi yang hanya diperuntukkan bagi pribadi-pribadi yang telah membuat perbedaan yang hebat. Para bintang di salon-salon Parisian bukanlah para milyuner, melainkan para anggota Académie Française. Kaum intelektual berjaya; yang lain hanya ikut-ikutan, setidaknya dalam hal minat terhadap hal-hal yang berbau intelektual.

Masyarakat dalam pengertian semacam ini asing bagi latar Amerika. Yang disebut “masyarakat” di Amerika Serikat hampir eksklusif terdiri atas keluarga-keluarga terkaya. Jarang terjadi interaksi sosial antara para pebisnis yang sukses dengan para tokoh kenamaan semacam penulis, seniman atau ilmuwan. Orang-orang yang terdaftar di Social Register*) tidak berhubungan sosial dengan para pembentuk opini publik atau mereka yang memperkenalkan gagasan-gagasan yang akan menentukan masa depan bangsa. Kebanyakan dari para “sosialita” tidak tertarik pada buku dan ide.  Saat mereka bertemu dan sedang tidak bermain kartu, mereka lebih senang bergosip tentang orang lain atau lebih membicarakan soal olahraga ketimbang budaya. Bahkan mereka yang tidak sepenuhnya “anti” membaca, masih menganggap bahwa para penulis, ilmuwan dan seniman bukanlah orang-orang yang tepat untuk duduk semeja.  Ada jurang yang nyaris tak terseberangi antara “masyarakat” dan para intelektual.

Munculnya situasi ini mungkin dapat dijelaskan secara historis.  Namun, penjelasannya tetap tidak akan mengubah fakta.  Rasa kesal kaum intelektual dan reaksi mereka akibat dipandang remeh oleh anggota “masyarakat” juga tidak akan lenyap atau berkurang dengannya.  Penulis dan ilmuwan Amerika cenderung rentan menganggap pengusaha kaya sebagai barbar yang maunya hanya mendapatkan uang. Profesor memandang rendah kepada alumi yang lebih condong kepada tim sepakbola kampus ketimbang pencapaian akademis. Profesor ini mungkin akan merasa terhina jika mengetahui bahwa gaji seorang pelatih ternyata lebih besar daripada gaji seorang profesor-filsafat ternama.  Peneliti yang melalui hasil penelitiannya berhasil menciptakan cara produksi baru akan membenci pebisnis yang cuma berminat pada nilai uang atas karyanya tersebut. Kiranya hal ini sangat signifikan sehingga sejumlah fisikawan peneliti Amerika bersimpati pada sosialisme atau komunisme. Oleh karena kurangnya pemahaman ekonomi mereka, sementara mereka menyadari bahwa para dosen ekonomi di universitas mereka toh juga menentang apa yang disebut-sebut sebagai sistem laba, maka tidak ada sikap lain yang bisa diharapkan dari mereka.

Seandainya ada sekelompok orang ingin memisahkan diri dari selebih penduduk bangsa ini, terutama dari para pemimpin intelektualnya, maka tanpa dapat dihindari, sebagaimana yang lumrah  terjadi di “masyarakat” Amerika, kelompok tersebut akan menjadi sasaran kritik yang agak beraroma permusuhan dari mereka yang merasa dijauhkan. Eksklusivisme sebagaimana dipraktikkan oleh penduduk kaya Amerika telah membuat mereka, dalam pengertian tertentu, semacam orang buangan. Mereka mungkin merasa bangga bahwa mereka berbeda. Apa yang gagal mereka pahami adalah bahwa penarikan-diri yang mereka lakukan membuat mereka terisolasi sendiri dan menyulut permusuhan yang membuat para intelektual cenderung memilih kebijakan anti-kapitalistik.

7.  Kegusaran Para Pekerja Kerah-Putih

Selain oleh rasa benci terhadap kapitalisme sebagaimana sering diidap oleh penduduk pada umumnya, pekerja kerah-putih bekerja keras di bawah dua jenis penderitaan lain, yang khas dialami oleh pekerja dalam kategori ini.

Ia, yang sehari-harinya berkutat di balik meja sambil menuliskan kata-kata dan angka-angka pada helaian kertas, rentan untuk cenderung membesar-besarkan nilai pekerjaannya. Serupa bosnya, ia juga menulis dan membaca di kertas tersebut, hal-hal yang dikatakan oleh orang-orang lain, dan berbicara secara langsung atau melalui telepon dengan orang-orang lain. Dengan angkuh ia membayangkan dirinya sendiri sebagai anggota elit pengelola perusahaan dan membandingkan tugasnya dengan tugas majikannya. Sebagai pekerja yang menggunakan “otak”, ia memandang rendah kepada pekerja fisik yang bertangan kasar lagi kotor.  Jika upah pekerja kasar ini ternyata lebih tinggi dan jasanya lebih dihargai ketimbang upah dan jasanya sendiri, hal ini akan membuatnya murka. Betapa memalukannya, pikirnya: kapitalisme bukannya menghargai  nilai sejati tugas “intelektual” malah lebih menghargai pekerjaan rendahan yang dilakukan kaum yang “tidak terdidik.”

Dengan mempertahankan gagasan primordial (atavistik) semacam itu terhadap makna pekerjaan kantoran dan pekerjaan kasar, pekerja kerah-putih menutup mata sehingga tidak mampu mengevaluasi situasi yang sebenarnya. Ia tidak melihat bahwa tugas klerikal yang dilakukannya sebagai pekerjaan tugas rutin semata yang hanya membutuhkan pelatihan sederhana; sementara para pekerja  “fisik” yang membangkitkan rasa irinya sebenarnya adalah pekerja mekanik atau teknisi tingkat tinggi yang memahami dengan baik cara menangani mesin dan peralatan yang serba canggih dalam industri modern. Miskonstruksi terhadap duduknya perkara semacam inilah yang persisnya menjelaskan bagaimana juru tulis kantoran tersebut kurang memiliki tilikan dan akal yang kuat.

Di sisi lain, pekerja klerikal, sebagaimana para profesional lain, dalam kesehariannya sering berhubungan mereka yang telah sukses melebihi dirinya. Ia mendapati bahwa beberapa karyawan yang dulunya setingkat dengannya kini telah meniti karir dalam jenjang hirarki kantor, sementara ia sendiri masih merangkak di bawah. Baru kemarin rasanya si Budi setingkat dengannya; sekarang ia sudah menempati posisi yang lebih penting dan dengan gaji yang lebih besar. Tentu saja, demikian ia simpulkan, keberhasilan si Budi ini berkat kecurangan dan tipu dayanya, yang dapat mendongkrak karir orang di bawah sistem kapitalisme yang tidak adil, yang di banyak buku dan koran telah dihujat oleh semua ilmuwan dan politisi sebagai akar dari aneka kebatilan dan kesengsaraan.

Ekspresi klasik dari kesombongan para pekerja klerikal dan keyakinan khas atas imajinasi mereka bahwa pekerjaan rendahan yang mereka lakukan adalah juga bagian dari kegiatan kewirausahaan yang karakteristiknya serupa sama dengan sifat pekerjaan yang dilakukan para bos mereka, dapat dijumpai pada penggambaran Lenin tentang “kontrol terhadap produksi dan distribusi” dalam sebuah eseinya yang paling populer. Lenin sendiri dan kebanyakan sejawat yang berkonspirasi dengannya tidak pernah mempelajari banyak tentang operasi perekonomian pasar dan tidak pernah tertarik untuk mendalaminya. Semua yang mereka ketahui tentang kapitalisme adalah bahwa Marx telah menggambarkannya sebagai kebatilan yang paling batil. Mereka sendiri adalah para revolusioner profesional.  Sumber penghasilan mereka hanyalah dana partai yang ditarik dari kontribusi dan langganan secara suka rela dan lebih sering non-sukarela, serta dari “penarikan” paksa. Tetapi sebelum 1917, sebagai orang-orang buangan di Eropa Barat dan Tengah, beberapa dari komrad Lenin ini sering bekerja rutin sebagai pekerja sementara di firma-firma bisnis.   Pengalaman merekalah-pengalaman para juru tulis yang bertugas mengisi formulir dan mengisi lembar isian, menulis surat, mencatat angka-angka ke dalam buku catatan dan mengarsip surat-surat, yang memberi Lenin semua informasi tentang aktivitas kewirausahaan.

Lenin dengan tepat menarik perbedaan antara pekerjaan seorang pengusaha di satu sisi dan pekerjaan seorang insinyur, agronomis atau staf yang terdidik secara ilmiah lainnya di sisi lain. Para pakar dan teknolog ini terutama adalah mereka yang menjalani perintah. Di bawah kapitalisme, mereka akan patuh kepada kapitalis; di bawah sosialisme, mereka akan mematuhi “pekerja yang dipersenjatai.” Fungsi kapitalis dan pengusaha, berbeda: yakni, menurut Lenin, “kontrol terhadap produksi dan distribusi, dan kontrol terhadap para pekerja dan produk mereka.” Sedangkan tugas-tugas pengusaha dan kapitalis pada kenyataannya adalah menentukan untuk tujuan apa faktor-faktor produksi dipekerjakan demi melayani sebaik mungkin keinginan konsumen, antara lain: menentukan apa yang harus diproduksi, dalam kuantitas dan kualitas apa.

Akan tetapi, ternyata bukan demikian makna yang diimbuhkan Lenin terhadap istilah “kontrol”.   Sebagai seorang Marxis, ia tidak menyadari masalah-masalah yang harus diatasi dalam proses produksi di bawah sistem organisasi sosial apapun, yaitu: kelangkaan faktor-faktor produksi, ketidakpastian kondisi masa depan yang harus diantisipasi oleh produksi, dan keharusan untuk memetik dari begitu banyak dan begitu membingungkannya metode teknologi yang cocok bagi pencapaian tujuan yang telah dipilih, dan yang paling memberi hambatan terkecil bagi pencapaian tujuan-tujuan lain–misalnya yang menimbulkan ongkos produksi paling rendah.   Acuan terhadap hal-hal ini tidak dapat dijumpai dalam tulisan-tulisan Marx dan Engels. Apa yang dipelajari oleh Lenin tentang bisnis dari cerita para komradnya yang sesekali duduk di firma bisnis perlu ditulis, dicatat dan disingkap maknanya.  Jadi, ia menyatakan bahwa “akuntansi dan kendali” adalah yang paling utama dalam mengorganisir dan memfungsikan masyarakat secara tepat. Tetapi “akuntansi dan kontrol,” menurutnya kemudian, telah “dibuat menjadi paling sederhana oleh kapitalisme, hingga mereka menjadi operasi-operasi yang luar biasa sederhana yaitu pengawasan, pencatatan dan penerbitan tanda terima, yang dapat dikuasai oleh siapa saja yang dapat membaca dan menulis dan mengetahui empat aturan pertama aritmatika.”[1]

Di sini kita berjumpa dengan filsafat pegawai kantoran di puncak kejayaannya.

8.  Kekesalan Para “Sepupu”

Di pasar yang tidak terkendala oleh interferensi kekuatan-kekuatan eksternal, proses yang cenderung menyerahkan kontrol terhadap faktor-faktor produksi ke tangan mereka yang paling efisien, tidak pernah berhenti. Begitu seseorang atau sebuah firma mulai mengendur dalam upayanya memenuhi, dalam cara sebaik mungkin, kebutuhan-konsumen yang paling mendesak namun belum terpenuhi sepenuhnya, maka hilangnya akumulasi kekayaan melalui keberhasilan terdahulu pun mulai memasuki latar. Seringkali tergerusnya peruntungan seorang pengusaha dimulai di jalur kehidupannya ketika segenap keceriaannya, energi serta kepandaiannya mulai mengendur dan memudar seiring dengan lanjutnya usia, datangnya penyakit, dan menurunnya kemampuannya dalam menyesuaikan jalannya roda usaha terhadap struktur pasar yang berubah tanpa henti. Hal ini lebih sering disebabkan oleh kelambanan di pihak para penerus, yang menyia-nyiakan peninggalannya. Jika anak cucu yang bebal dan pasif ini tidak mundur saja dari perusahaan dan bertahan sebagai orang gajian meski tidak melakukan apa-apa, mereka berutang kekayaan kepada institusi dan juga kepada tindakan politis yang didikte oleh kecenderungan mereka yang antikapitalistik. Mereka menarik diri dari pasar, institusi yang tidak mengenal cara lain untuk menjaga kekayaan selain dengan memerolehnya setiap hari melalui kompetisi yang ketat dengan semua orang, baik dengan firma lain yang telah berdiri maupun dengan pemain baru yang dengan modal minim. Mereka membeli obligasi pemerintah, dan dengan begitu bersembunyi di balik ketiak pemerintah yang berjanji akan melindungi mereka dari bahaya pasar di mana kekalahan adalah penalti bagi siapa saja yang tidak efisien.[2]

Namun demikian, ada pula beberapa keluarga yang berhasil menurunkan keterampilan atau kemampuan tinggi yang dibutuhkan bagi keberhasilan wirausaha mereka hingga beberapa generasi.  Satu atau dua anak atau cucu atau bahkan cicit mereka memiliki kemampuan yang setara dengan, atau bahkan melampaui, kemampuan pendahulunya.  Kekayaan yang diperoleh dari nenek moyang ini tidak berkurang, malah justru semakin bertambah.

Kasus-kasus seperti ini tentu jarang terjadi. Mereka menjadi menarik perhatian kita, tidak saja lantaran kelangkaannya, melainkan juga atas dasar kenyataan bahwa orang yang tahu bagaimana membesarkan bisnis hasil warisan akan menikmati prestis yang ganda: yaitu kehormatan yang ditunjukkan orang bagi orangtua mereka, dan yang ditujukan kepada mereka sendiri. Para “patricians” seperti itu, sebagaimana mereka sering disebut oleh orang-orang yang tidak mengenal perbedaan antara masyarakat status dan masyarakat kapitalistik, kebanyakan adalah orang-orang yang mengembangkan kehalusan cita rasa dan perilaku penuh budi pekerti, yang memiliki bekal keterampilan dan kerajinan sebagai pengusaha yang pekerja keras. Sebagian mereka menjadi pengusaha terkaya di negaranya, bahkan di dunia.

Kondisi-kondisi dari segelintir manusia terkaya yang disebut sebagai keluarga “patrician” inilah yang harus kita telaah secara mendalam untuk menjelaskan fenomena yang memainkan peran penting di dalam propaganda dan mesin antikapitalistik.

Bahkan di keluarga-keluarga yang beruntung ini, kualitas yang diperlukan agar dapat berhasil di bisnis tidak turun atau terwariskan kepada semua anak atau cucu. Umumnya, hanya satu, atau paling banyak dua anak saja  dari setiap generasi yang diberkahi dengan kemampuan tersebut. Dengan demikian menjadi amat penting,  demi keberlangsungan kekayaan keluarga, bahwa persoalan bisnis dipercayakan kepada satu atau dua orang tesebut, sementara para anggota lainnya hanya mendapat posisi yang memberi mereka hak atas sejumlah kuota hasil bisnis tersebut. Metode apa yang dipilih untuk mengatur hal tersebut,  berbeda-beda dari satu ke lain negara, sesuai dengan perundangan khusus yang berlaku di tingkat nasional dan lokal. Namun demikian, efeknya selalu sama saja.  Mereka membagi keluarga menjadi dua kategori, yaitu: pelaku bisnis dan non-pelaku bisnis.

Kategori kedua ini biasanya terdiri atas orang-orang terkait dekat dengan kategori pertama, yang di sini kita sebut saja sebagai kelompok para bos.  Mereka [yang termasuk kategori kedua] adalah saudara kandung laki-laki, sepupu, keponakan bos, atau lebih sering lagi saudara perempuan kandung, adik ipar yang sudah menjanda, keponakan perempuan dan lain sebagainya.

Kita sebut saja para anggota kategori kedua ini sebagai kelompok para sepupu.

Para sepupu mendapat penghasilan dari firma. Tetapi mereka sendiri tidak mengetahui apa-apa tentang kehidupan bisnis dan berbagai masalah yang harus dihadapi pengusaha.

Mereka dididik di sekolah dan kampus mentereng, yang atmosfirnya penuh dengan cibiran angkuh terhadap semangat pencarian uang, yang dianggap rendah.  Beberapa dari kelompok ini menghabiskan waktu di klab-klab malam dan tempat-tempat hiburan lainnya, sambil bertaruh dan berjudi, berpesta mabuk-mabukan, dan berfoya-foya dalam berbagai bentuk kecelaan yang mahal. Sementara, anggota lainnya menyibukkan diri secara amatiran di bidang seni lukis, tulis menulis atau seni lainnya.  Dengan kata lain, kebanyakan mereka tidak melakukan apa-apa dan tergolong tidak berguna. Pengecualian tentu ada, dan juga bahwa pencapaian anggota kelompok sepupu yang termasuk dalam pengecualian ini jauh melampaui skandal yang ditimbulkan oleh perilaku provokatif anggota lainnya yang menjadi playboy atau pemboros.  Banyak dari para pengarang, ilmuwan dan pejabat ternama dapat digolongkan sebagai “para gentlemen pengangguran” semacam itu.  Terbebas dari keharusan mencari penghasilan melalui pekerjaan yang bermanfaat dan jarang dimintai bantuan oleh mereka yang menggandrungi fanatisme tertentu, mereka pun menjadi pionir gagasan baru. Sedangkan anggota lainnya, yang tidak memiliki inspirasi, menjadi para Maecena*) bagi para artis yang, tanpa dukungan keuangan dan tepuk tangan dari pengagum mereka, tidak berada dalam posisi untuk mencapai karya kreatif mereka.  Peran dari manusia-manusia berduit di dalam evolusi intelektual dan politis di Inggris Raya telah sering ditekankan oleh banyak sejarawan.   Latar inilah, di mana para pengarang dan artis di Prancis abad ke-19 hidup dan menerima sokongan, yang disebut sebagai le monde, “masyarakat”.

Namun demikian, kita di sini tidak sedang berurusan dengan dosa-dosa para para playboy ataupun kecemerlangan sekelompok orang kaya lainnya.  Tema kita adalah peran yang dimainkan oleh sekelompok khusus para sepupu dalam melakukan diseminasi doktrin yang ditujukan pada pengrusakan perekonomian pasar. Banyak dari para sepupu ini merasa bahwa mereka telah diperlakukan secara salah dengan segala pengaturan perkara keuangan mereka dengan para bos dan perusahaan keluarga.   Terlepas dari apakah pengaturan ini dibuat atas wasiat bapak atau kakek mereka, atau berdasarkan perjanjian yang mereka tandatangani sendiri, mereka merasa apa yang mereka terima terlalu sedikit sedangkan para bos menerima terlalu banyak.

Oleh karena mereka tidak mengenal serba-serbi usaha dan pasar, mereka – bersama Marx – teryakinkan bahwa modal secara otomatis akan “membiakkan laba”.   Mereka tidak melihat alasan apapun mengapa para anggota keluarga yang bertanggungjawab atas jalanannya usaha harus berpenghasilan lebih besar ketimbang mereka.  Mereka terlalu bebal untuk dapat menilai sendiri dengan benar apa arti neraca keuangan atau akuntansi laba-rugi; mereka merasa curiga bahwa setiap tindakan yang dilakukan para bos adalah upaya menyurangi mereka dan melucuti apa yang menjadi hak mereka.

Mereka pun saling bertengkar satu sama lain.

Tidaklah mengherankan jika pada akhirnya para bos kehilangan kesabaran. Mereka bangga akan keberhasilan mereka dalam mengatasi berbagai hambatan yang datang dari pemerintah dan dari serikat pekerja terhadap bisnis besar mereka.  Sepenuhnya mereka sadar akan fakta bahwa, jika tidak karena efisiensi dan kegigihan mereka, perusahaan yang mereka pimpin akan sudah akan runtuh berserakan, dan bisa jadi pula keluarga mereka akan harus menjual seluruh harta kekayaan yang ada. Mereka percaya bahwa para sepupu harus bertindak secara adil sesuai dengan kontribusi mereka. Bagi mereka, keluhan para sepupu ini tidak sopan dan memalukan.

Percekcokan keluarga antara para bos dan sepupu mereka adalah urusan keluarga mereka. Namun, masalah ini menjadi penting ketika para sepupu tersebut, dalam upaya membuat kesal para bos, bergabung dengan kamp antikapitalistik dan mendanai berbagai macam usaha yang “progresif”.  Sebagian para sepupu ini sangat antusias dalam mendanai pemogokan, bahkan pemogokan di dalam kantor di mana penghasilan mereka berasal.[3] Adalah kenyataan yang terkenal bahwa kebanyakan majalah dan surat kabar “progresif” sepenuhnya tergantung pada subsidi yang sangat royal dari mereka. Para sepupu ini membiayai berbagai universitas, kampus dan institut yang progresif untuk berbagai kepentingan “riset sosial” dan menyeponsori berbagai kegiatan pesta komunis. Sebagai para “sosialis parlor” dan “Bolsheviks penthouse,”*)  mereka memainkan peran penting sebagai “laskar proletar” yang memerangi “sistem kapitalisme yang kelam.”

9.  Komunisme di Broadway dan Hollywood

Banyak dari mereka yang menikmati penghasilan dan kehidupan yang nyaman berkat kapitalisme mendambakan hiburan. Teater ramai dikunjungi orang. Uang bergelimang di dunia show business. Para aktor dan penulis lakon populer menikmati penghasilan enam-dijit mereka, dan tinggal di rumah-rumah bak istana, lengkap dengan pelayan berdasi dan kolam renangnya. Tentunya mereka bukan “tawanan rasa lapar.” Namun, Hollywood dan Broadway, pusat industri hiburan paling terkenal di dunia, adalah tempat kelahiran komunisme. Termasuk para pendukung Sovietisme yang paling fanatik adalah para penulis dan seniman.

Berbagai upaya telah digalang untuk menjelaskan fenomena ini.  Dari semua interpretasi yang ada, hampir semuanya mengandungi butir kebenaran. Namun demikian, semua usaha tersebut gagal memperhitungkan motif utama yang telah mendorong para macan panggung dan bintang-layar menapaki tingkat yang revolusioner.

Di bawah kapitalisme, sukses material tergantung pada apresiasi di pihak konsumen yang berdaulat terhadap capaian seseorang.  Dalam hal ini tidak ada bedanya layanan yang diberikan oleh seorang pengusaha dengan yang diberikan produser, aktor ataupun penulis lakon. Namun, kesadaran akan ketergantungan ini memberi pihak-pihak yang menggeluti show business ini lebih banyak kecemasan ketimbang mereka yang melayani konsumen melalui kenyamanan-kenyamanan yang berwujud. Para penghasil barang-barang fisik mengetahui ketika produk mereka dibeli untuk sifat-sifat fisik tertentu dari komoditas tersebut.  Mereka dapat berharap secara wajar bahwa publik akan terus meminta komoditas tersebut sejauh tidak ada tawaran barang serupa yang lebih murah atau lebih baik kepada konsumen tersebut, sebab kebutuhan yang dipenuhi oleh barang-barang tersebut berpeluang kecil untuk berubah dalam jangka waktu singkat. Keadaan pasar bagi barang-baranga ini dapat, dalam tingkat tertentu, diantisipasi oleh setiap wirausahawan yang cerdas.  Mereka dapat, dengan tingkat keyakinan tertentu, menatap ke masa depan.

Namun, halnya berbeda dengan dunia hiburan.  Orang-orang menginginkan hiburan di saat mereka bosan. Bagi mereka, tidak ada yang lebih meletihkan daripada selain hiburan yang sudah mereka kenal. Esensi industri hiburan adalah variasi. Aplus dari para patron paling banyak diberikan bagi sesuatu yang baru dan, dengan demikian,  tidak terduga dan mengejutkan. Mereka tidak terduga dan membingungkan. Mereka memandang rendah hari ini apa yang mereka senangi kemarin. Seorang maestro panggung atau layar lebar senantiasa takut pada kebinalan publik. Ia terbangun kaya dan tenar pada suatu pagi dan mungkin akan dilupakan orang esok hari.  Ia mengetahui betul bahwa ia sepenuhnya bergantung kepada impuls dan imajinasi publik yang haus keriaan. Ia selalu diagitasi kecemasan. Seperti halnya master-builder dalam drama Ibsen*), ia takut kepada pendatang baru yang masih asing–para pemuda-pemudi enerjik yang siap menggasaknya demi disukai publik.

Jelas bahwa tidak ada hal yang membebaskan para insan panggung dari apa yang menimbulkan kecemasan mereka. Jadi, mereka berpegang pada akar jerami yang rapuh. Komunisme, menurut sebagian mereka, akan memberikan mereka wahyu. Bukankah sistem ini yang membuat semua orang bahagia? Bukankah orang-orang penting pernah bilang bahwa semua kebatilan manusia adalah akibat kapitalisme dan bahwa komunisme akan menghapus kebatilan itu? Bukankah mereka sendiri tergolong para pekerja keras, komrad sejati bagi kaum pekerja?

Cukup masuk akal untuk diasumsikan bahwa tidak seorang komunis pun di Hollywood dan Broadway yang pernah mempelajari karya-karya penulis sosialis manapun, apalagi analisis serius tentang perekonomian pasar.  Namun justru fakta inilah, bagi para wanita, penari dan penyanyi, produser komedi, film dan lagu, yang memberi ilusi ganjil bahwa kesedihan khas mereka akan lenyap begitu para “juru sita” [ para kapitalis] tersebut justru disita. Sebagian orang, memang benar adanya, menyalahkan kapitalisme atas dasar kebodohan dan kenorakkan produk-produk yang dihasilkan oleh industri hiburan.

Tidak ada manfaatnya memperdebatkan hal ini. Namun, perlu diingat bahwa tidak ada latar lain di Amerika yang lebih antusias dalam menyodorkan komunisme ketimbang mereka yang berkolaborasi dalam memproduksi karya-karya drama dan film yang bodoh.  Bila kelak sejarawan masa depan mencari fakta-fakta kecil yang penting dan akan sangat dihargai oleh Taine sebagai sumber materi*), maka ia tidak boleh lupa untuk menyebut peran yang dimainkan oleh para striptis ternama di dunia di dalam gerakan radikal Amerika.[4]

(Bersambung  ke Bab II)

*) Catatan penerjemah menyusul.


[1] Lihat Lenin, State and Revolution (Little Lenin Library, No. 14, diterbitkan oleh International Publishers, New York), hal. 83-84.

[2] D Eropa tempo dulu, hingga belum lama berselang, ada peluang lain yang ditawarkan untuk mengamankan kekayaan dari kegamangan atau keborosan pemiliknya. Kekayaan yang diperoleh dari pasar dapat ditanamkan dalam estate berlahan luas yang dilindungi melalui tarif dan perundangan dari kompetisi orang luar. Entails*) di Inggris Raya dan pemukiman serupa sebagaimana lazim dipraktikkan di Eropa Kontinental memungkinkan pemilik sehingga hartanya tidak melayang akibat prasangka di pihak keturunannya.

[3] “Sejumlah limosin lengkap dengan sopir-sopir berseragam formal mengantarkan para wanita earnest*) kepada para serdadu penjaga demonstrasi yang kadang dilakukan untuk menentang bisnis yang telah membantu mereka membayar sewa limosin tersebut.” Eugene Lyons, The Red Decade, New York, 1941, hal. 186.

[4] Lihat  Eugene Lyons, loc cit, hal. 293.

Kirim artikel ini:
Share on FacebookTweet about this on TwitterShare on Google+Email this to someoneShare on RedditShare on StumbleUpon

Tulisan lain yang mungkin terkait:

Discussion

3 comments for “Mentalitas Anti-Kapitalistik (Bagian 3)”

  1. OK bung ..

    saya tunggu sambungannya..

    saya sangat tertarik dengan studi (re-formasi ulang)

    tentang argumen kapitalis ini.

    terima kasih bang..–

    saya banyak belajar

    sincerelly yours,

    http://galeter.wordpress.com

    <abbr>Umar C'yahams last blog post..Relax</abbr>

    Posted by Umar C'yaham | 5 August 2008, 10:52 pm
  2. di tunggu sambungannya bung

    kami tertarik dengan

    argumentasi kapitalis disini

    terima kasih bang

    *cukup tekun juga*

    sincerelly yours,

    http://galeter.wordpress.com

    Posted by Umar C'yaham | 5 August 2008, 10:58 pm
  3. terima kasih, terima kasih.  kalau ada konstrksi terjemahan yang "tidak jalan", mohon beri masukan anda, cy.

    Posted by Nad | 6 August 2008, 6:15 pm

Komentari

Arsip Bulanan

Rekomendasi

buku_rothbard.jpg
Apa Yang Dilakukan Pemerintah Terhadap Uang Kita?; Oleh: Murray Newton Rothbard; PT. Granit, Yayasan Obor Indonesia; ISBN : 97897916217 -4-8; tersedia di toko-toko buku terdekat. (Intip cuplikannya).
alt text
Membela Kapitalisme Global; Oleh: Johan Norberg; FNS Jakarta; tersedia di toko-toko buku terdekat. (Baca resensinya di sini).
Economic  Activism Blogs - Blog Catalog Blog Directory
%d bloggers like this: