buku

Mentalitas Anti-Kapitalistik (Bagian 4)

Jurnal Kebebasan: Akal dan Kehendak
Volume II Edisi 42, Tanggal 11 Agustus2008
Oleh: Ludwig von Mises

BAB II. Filsafat Sosial Orang Biasa

1. KAPITALISME: MAKNA SEJATINYA VS. PANDANGAN MASYARAKAT

Munculnya ekonomi sebagai cabang baru ilmu pengetahuan merupakan satu peristiwa terpenting dalam sejarah kemanusiaan. Dengan membuka jalan bagi berdirinya pengusahaan kapitalistik oleh pihak swasta, ilmu ini dalam beberapa generasi [saja] berhasil mentransformasi semua urusan manusia dalam cara yang lebih radikal daripada yang pernah dialami selama sepuluh ribu tahun sebelumnya. Sejak lahir hingga mati, para penduduk negara yang kapitalistik telah diuntungkan dalam setiap menitnya oleh segala pencapaian luar biasa yang ditimbulkan cara-cara kapitalistik dalam berpikir dan bertindak.

Hal paling mengagumkan sehubungan dengan perubahan akibat kapitalisme yang belum pernah terjadi sebelumnya di muka bumi adalah kenyataan bahwa semua itu dicapai berkat segelintir penulis dan sejumlah kecil negarawan yang telah mengasimilasikan ajaran-ajaran para penulis tersebut. Massa, yang umumnya lamban, tidak mampu memahami fitur-fitur terpenting dari ajaran-ajaran tersebut. Demikian pula halnya dengan para pengusaha. Meskipun mereka, melalui perniagaan, telah mengefektifkan prinsip-prinsip laissez-faires, mereka gagal memahami bagaimana semua itu bekerja. Bahkan di puncak kejayaan liberalisme sekalipun, hanya segelintir orang saja memahami secara utuh bagaimana perekonomian pasar berfungsi. Peradaban Barat mengadopsi kapitalisme atas rekomendasi dari sejumlah kecil élite.

Pada dasawarsa pertama abad ke-19, banyak orang merasa asing akan persoalan-persoalan tersebut, dan keasingan ini dianggap sebagai satu kekurangan serius yang harus mereka atasi. Dalam periode selanjutnya, di tahun-tahun terjadinya peristiwa Waterloo dan Sebastopol*), tidak ada jenis buku lain yang lebih digemari di Inggris Raya selain risalah-risalah ilmu ekonomi. Namun, kecenderungan ini segera menyusut, sebab bidang kajian ekonomi ternyata sulit dicerna oleh publik pembaca.

Ekonomi di satu sisi memiliki begitu berbeda dari ilmu pengetahuan alam dan teknologi; juga berbeda, di sisi lain, dari sejarah ataupun yurisprudensi, bagi kebanyakan pemula, ilmu ini terkesan asing dan menyebalkan. Kajiannya yang heuristik dipandang dengan penuh kecurigaan oleh para peneliti yang berkutat di laboratorium, kantor arsip, ataupun perpustakaan. Singularitasnya yang epistemologis tampak tidak masuk akal bagi para penganut fanatik positivisme.  Yang ingin dicari oleh kebanyakan orang di dalam buku teks ekonomi adalah pengetahuan yang pas dan cocok sempurna, sesuai dengan citra ilmu ekonomi dalam bayangan mereka, misalnya sebagai disiplin yang terstruktur sebagainmana struktur logis fisika atau biologi. [Karena ilmu ini berbeda dari bayangan mereka] Mereka menjadi bingung dan akhirnya berhenti menggumuli secara serius persoalan-persoalan yang analisisnya memerlukan usaha mental yang tidak biasa.

Sebagai akibat dari sikap tersebut, banyak orang menyamaratakan kemajuan dalam kondisi ekonomi dengan kemajuan yang dicapai dalam ilmu-ilmu pengetahuan sosial dan teknologi. Dalam pemahaman mereka, dalam jalannya sejarah kemanusiaan terdapat kecenderungan yang berlangsung secara mandiri ke arah kemajuan perkembangan ilmu-ilmu alam eksperimental dan aplikasi bagi terhadap solusi terhadap persoalan-persoalan teknologis.  Kecenderungan ini tidak tertahankan; dia melekat pada takdir manusia, dan bekerjanya hal ini akan menimbulkan akibatnya, terlepas seperti apa organisasi politis atau ekonomis yang berlaku di dalam masyarakat. Dalam pemahaman mereka, kemajuan teknologis yang tidak pernah terjadi selama dua ratus tahun sebelumnya tersebut tidak disebabkan oleh atau dimungkinkan karena kebijakan ekonomi di jaman itu. [Menurut mereka] Capaian-capaian tersebut bukanlah hasil liberalisme klasik, perdagangan bebas, laissez faire dan kapitalisme. Semua ini dianggap akan terus berlangsung di bawah sistem organisasi ekonomi apapun di masyarakat.

Doktrin-doktrin Marx menjadi diterima semata-mata karena ajaran-ajarannya mengadopsi interpretasi populer tentang bagaimana peristiwa-peristiwa tersebut dan membungkusnya dengan tabir filsafat-palsu yang membuatnya  berterima dengan spiritualisme Hegelian ataupun materialisme rendahan. Dalam skema Marx, apa yang disebut sebagai “daya-daya produktif materiil” adalah entitas supermanusiawi yang terbebas dari kehendak dan tindakan manusia. Kekuatan-kekuatan ini mengikuti arahnya sendiri yang telah diresepkan oleh hukum-hukum yang lebih tinggi, yang mustahil diukur atau dihindari. Daya-daya  tersebut lalu berubah secara misterius dan memaksa kemanusiaan untuk menyelaraskan organisasi sosialnya sesuai dengan perubahan-perubahan ini. Satu hal yang dijauhi oleh daya-daya produktif materiil ini adalah: keterpasungan akibat organisasi sosial manusia.  Kandungan esensial sejarah adalah pergumulan daya-daya produktif materiil tersebut agar dibebaskan dari berbagai ikatan sosial yang membelenggu.

Syahdan pada suatu ketika, ajar Marx, kekuatan-kekuatan produktif materiil tersebut terwujud dalam bentuk mesin penggiling/gerinda manual, dan kemudian peranti ini menyusun urusan manusia sesuai dengan pola feodalisme. Ketika, kelak, hukum-hukum yang tak terselami yang menentukan evolusi kekuatan-kekuatan produktif materiil tersebut menggantikan perkakas manual tadi dengan penggiling berbahan bakar uap, maka feodalisme harus tersisih oleh kapitalisme. Sejak itu kekuatan-kekuatan produktif materiil kian berkembang, dan dalam bentuknya saat ini secara imperatif membutuhkan penggantian kapitalisme dengan sosialisme. Mereka yang mencoba menghalau  laju revolusi para sosialis hanya berkutat pada tugas tanpa-harapan.  Mustahil menahan laju gelombang kemajuan sejarah.

Gagasan-gagasan yang diyakini oleh mereka yang disebut partai-partai kiri ini dalam banyak hal berbeda antara satu sama lain. Namun, dalam satu hal mereka sepakat: semuanya sama-sama menganggap perkembangan peningkatan material sebagai proses yang berlangsung dengan sendirinya. Anggota serikat pekerja Amerika menerima begitu saja standar hidupnya. Nasib telah menentukan bahwa sudah seharusnya ia menikmati segala kenyamanan yang dulu pernah dilarang bahkan bagi mereka yang tergolong paling makmur pada generasi-generasi terdahulu, dan yang bahkan sekarang pun masih terlarang bagi banyak penduduk di negara-negara lain. Tidak pernah terlintas olehnya bahwa “individualisme yang keras” di balik bisnis-bisnis besar telah berperan dalam kemunculan apa yang disebut sebagai “gaya hidup Amerika.” Di matanya, “manajemen” mewakili klaim-klaim yang tidak adil dari para “eksploitir” yang bertujuan melucuti apa yang menjadi haknya.

Menurutnya, di sepanjang evolusi historis ada kecenderungan tak-tertahankan menuju peningkatan produktivitas usaha kerjanya secara terus-menerus. Buah dari perbaikan ini, sesuai haknya, sudah seharusnya menjadi milik eksklusif baginya. Hanya atas kontribusinyalah-di jaman kapitalisme ini-nilai produk yang dihasilkan industri berbanding jumlah tangan yang telah dipekerjakan, cenderung telah meningkat.

Pada kenyataannya, peningkatan produktivitas tenaga kerja disebabkan oleh penggunaan alat dan mesin yang lebih baik. Seratus orang pekerja di satu pabrik modern mampu memproduksi barang berkali-kali lipat per unit waktu, ketimbang hasil produksi seratus pekerja di masa prakapitalistik yang berproduksi di dalam workshop milik seorang pengrajin. Peningkatan ini tidak dikondisikan oleh keterampilan, keahlian atau aplikasi yang lebih tinggi di pihak individu pekerja. (Adalah fakta bahwa tingkat keahlian yang diperlukan oleh para artisan di abad pertengahan jauh melebihi tuntutan kepada pekerja di banyak jenis pabrik di jaman sekarang.) Peningkatan produksi adalah berkat penggunaan alat dan mesin yang lebih efisien, dan ini telah dimungkinkan oleh akumulasi dan investasi kapital yang lebih besar.

Istilah  kapitalisme,  kapital (modal) dan kapitalis dipakai oleh Marx dan sekarang oleh kebanyakan orang-termasuk juga oleh badan-badan propaganda pemerintah Amerika Serikat-dengan konotasi yang penuh cela. Namun, kata-kata ini secara tepat menunjuk kepada faktor utama yang pengoperasiannya telah menghasilkan segala pencapaian luar biasa yang telah terjadi selama dua ratus tahun terakhir: kemajuan yang tidak pernah terjadi dalam tingkat standar kehidupan rata-rata bagi populasi yang secara kontinyu terus bertambah. Apa yang membedakan kondisi-kondisi industrial modern di negara-negara kapitalistik dari kondisi-kondisi di masa pra-kapitalisme atau dibandingkan dengan mereka yang sekarang disebut sebagai negara-negara terbelakang adalah ketersediaan modal. Perbaikan teknologi tidak dapat dilakukan jika kapital yang dibutuhkan tidak terakumulasi terlebih dahulu melalui tabungan.

Tabungan-atau pengakumulasian modal-merupakan agency yang telah mentransformasi selangkah demi selangkah dari pencarian pangan  oleh manusia purba penghuni gua hingga ke cara-cara modern melalui industri. Penentu ritme evolusi ini adalah gagasan yang menciptakan kerangka kelembagaan, yang di dalamnya keamanan akumulasi modal dijaga melalui prinsip kepemilikan alat-alat produksi. Setiap langkah maju menuju kemakmuran adalah efek dari tabungan. Penemuan teknologi yang paling cerdas sekalipun pada praktiknya akan sia-sia jika barang modal yang diperlukan untuk keperluan tersebut tidak terakumulasi sebelumnya lewat tabungan.

Para pengusaha dapat mempekerjakan barang-barang modal yang dihasilkan oleh para penabung demi pemuasan secara paling ekonomis terhadap keinginan-konsumen yang paling mendesak namun belum terpuaskan. Bersama  dengan para teknolog, yang berfokus pada penyempurnaan metode-metode pemrosesan, mereka memainkan peran aktif selanjutnya, setelah didahului oleh para penabung, dalam keberlangsungan peristiwa yang disebut dengan kemajuan ekonomi. Khalayak manusia selebihnya hanya tinggal menangguk keuntungan dari aktivitas ketiga klas pionir tersebut.  Namun, terlepas dari apapun yang dilakukan khalayak tersebut, mereka hanya menerima manfaat dari perubahan yang pemunculannya tidak berasal dari kontribusi mereka.

Ciri khas dari perekonomian pasar adalah fakta bahwa dia mengalokasikan bagian yang lebih besar dari perbaikan-perbaikan yang timbul berkat upaya ketiga kelas progresif tersebut-yakni penabung, penanam modal, dan teknolog yang memperinci metode-metode baru untuk mempekerjakan barang-barang modal-kepada mayoritas orang yang non-progresif. Akumulasi kapital yang melampaui pertumbuhan populasi akan meningkatkan, di satu sisi, produktivitas marjinal tenaga kerja dan, di sisi lain, menurunkan harga produk. Proses pasar menyediakan orang-biasa kesempatan untuk menikmati buah pencapaian orang-orang lain. Dia memaksa ketiga kelas progresif tersebut untuk melayani mayoritas non-progresif dalam cara yang sebaik mungkin.

Semua orang bebas bergabung dalam jajaran ketiga kelas progresif dalam masyarakat kapitalis. Kelas-kelas ini bukanlah kasta tertutup. Keanggotaan bukanlah hak istimewa yang diberikan kepada invididu oleh sebuah otoritas yang lebih tinggi atau melalui warisan nenek moyang. Kelas-kelas tersebut bukan klab, dan mereka yang tergolong sebagai “orang dalam” tidak memiliki kekuatan apapun untuk mencegah kedatangan pendatang baru. Apa yang dibutuhkan untuk menjadi kapitalis, pengusaha, perancang metode teknologi adalah akal dan kekuatan kehendak. Penerima warisan dari seorang yang kaya dapat menikmati keuntungan tertentu, sebab ia dengan demikian dapat memulai dengan kondisi yang lebih menguntungkan ketimbang orang lain. Namun, tugasnya dalam persaingan pasar tidak menjadi lebih mudah, bahkan justru kadang-kadang lebih berat dan kurang remuneratif ketimbang tugas seorang pendatang baru. Ia harus mengatur-ulang harta warisannya sebelum dapat menyesuaikan dengan perubahan-perubahan kondisi pasar. Persoalan-persoalan yang harus dihadapi sebuah “emporium” perkeretaapian dalam beberapa dekade terakhir, misalnya, tentu lebih rumit ketimbang yang dihadapi oleh seorang pemula di bidang jasa transportasi truk atau udara.

Filsafat populer orang-biasa melencengkan pemahaman terhadap segala fakta di atas dalam cara yang patut disesalkan. Sebagaimana dalam pandangan si Badu, semua industri baru yang menyuplainya dengan berbagai kenyamanan yang di masa lalu tidak sempat dienyam oleh bapaknya, dianggap berasal dari institusi mitis bernama kemajuan. Akumulasi modal, kewirausahaan, dan kecerdasan di bidang teknologi tidak memberi kontribusi apapun bagi penciptaan kemakmuran, yang dianggapnya berlangsung spontan. Jika ada pihak yang berjasa telah peningkatan produktivitas tenaga kerja, maka orang tersebut menurut seorang Badu tidak lain adalah pekerja di jalur perakitan. Sayangnya, di dunia yang penuh dosa ini, manusia telah dieksploitasi oleh manusia lain. Bisnis cuma memeras yang terbaik, lalu menyisakan, sebagaimana ditunjukkan dalam Manifesto Komunis, bagi pencipta segala kebaikan–yaitu para pekerja manual, remah-remah yang tidak lebih dari yang “dibutuhkannya untuk mempertahankan diri dan mengembang-biakkan rasnya.” Maka, sebagai konsekuensinya, “pekerja modern, alih-alih bangkit dengan kemajuan industri, tenggelam semakin lama semakin dalam…. Ia akan menjadi miskin, dan kemiskinan akan berkembang lebih cepat ketimbang populasi dan kekayaan.” Para penulis yang melukiskan industri kapitalistik semacam ini dipuja-puji di seluruh universitas sebagai filsuf terbesar dan pecinta kemanusiaan terbesar; ajaran-ajaran mereka diterima dengan penuh kekaguman dan disakralkan oleh jutaan orang yang di rumah-rumah mereka  kini dilengkapi dengan seperangkat radio, televisi dan berbagai peralatan.

Menurut para profesor, pemimpin ‘buruh’ serta politisi, eksploitasi yang paling buruk adalah yang disebabkan oleh bisnis-bisnis besar. Mereka gagal menyadari bahwa ciri khas bisnis besar adalah produksi massal untuk memenuhi kebutuhan yang massal. Di bawah kapitalisme, para karyawan itu sendiri, baik secara langsung maupun tidak langsung, adalah konsumen utama dari semua barang yang dihasilkan di pabrik-pabrik.

Di hari-hari awal kapitalisme, waktu-tunggu yang diperlukan dari kemunculan inovasi hingga hasilnya dapat diakses oleh massa, masih cukup panjang. Sekitar enam puluh tahun lalu Gabriel Tarde dengan tepat menunjukkan bahwa inovasi industri adalah hasil imajinasi segelintir minoritas saja, sebelum hasilnya menjadi kebutuhan bagi semua orang; apa yang awalnya dianggap sebagai ekstravaganza kelak bergeser menjadi kebutuhan normal bagi semua orang. Pernyataan ini masih berlaku dalam kaitannya dengan popularitas otomobil. Namun, produksi berskala besar oleh bisnis besar telah hampir berhasil meniadakan waktu-tunggu tersebut. Inovasi modern hanya dapat diproduksi dengan cara yang menguntungkan sesuai dengan metode produksi massal dan dengan demikian menjadi dapat diakses oleh banyak orang tepat di saat produk tersebut diluncurkan. Tidak pernah terjadi satupun periode, misalnya di Amerika Serikat, di mana penikmatan inovasi-inovasi semacam televisi, stocking nylon atau makanan kalengan bayi hanya diperuntukkan bagi minoritas yang kaya. Bisnis besar, pada kenyataannya, cenderung memungkinkan standarisasi cara-cara konsumsi dan kesenangan masyarakat.

Di perekonomian pasar tidak seorangpun menjadi miskin oleh karena kenyataan adanya sejumlah orang yang berhasil menjadi kaya. Kekayaan milik mereka yang kaya bukanlah sebab dari kemiskinan siapapun. Proses yang memperkaya orang, sebaliknya, adalah sinonim dari proses yang memperbaiki pemuasan keinginan banyak orang. Para pengusaha, kapitalis dan teknolog akan makmur sejauh mereka berhasil menyediakan pasokan barang kepada para konsumen dengan cara yang paling baik.

(Bersambung)

(Kembali ke Bagian 3)

*) Catatan penerjemah menyusul.

Kirim artikel ini:
Share on FacebookTweet about this on TwitterShare on Google+Email this to someoneShare on RedditShare on StumbleUpon

Tulisan lain yang mungkin terkait:

Discussion

2 comments for “Mentalitas Anti-Kapitalistik (Bagian 4)”

  1. Ekonomi di satu sisi <span style="text-decoration: line-through;">memiliki</span> begitu berbeda dari ilmu pengetahuan alam dan teknologi; juga berbeda, di sisi lain, dari sejarah ataupun yurisprudensi, bagi kebanyakan pemula, ilmu ini terkesan asing dan menyebalkan.

    Posted by Admin | 27 August 2008, 7:41 am
  2. […] – Mentalitas Anti-Kapitalistik (Bagian 4) saved by dens2008-08-25 – a long journey ahead saved by ReubonicPlague2008-08-24 – Prangko dan […]

    Posted by Websites tagged "perkakas" on Postsaver | 30 August 2008, 2:15 am

Komentari

Arsip Bulanan

Rekomendasi

buku_rothbard.jpg
Apa Yang Dilakukan Pemerintah Terhadap Uang Kita?; Oleh: Murray Newton Rothbard; PT. Granit, Yayasan Obor Indonesia; ISBN : 97897916217 -4-8; tersedia di toko-toko buku terdekat. (Intip cuplikannya).
alt text
Membela Kapitalisme Global; Oleh: Johan Norberg; FNS Jakarta; tersedia di toko-toko buku terdekat. (Baca resensinya di sini).
Economic  Activism Blogs - Blog Catalog Blog Directory
%d bloggers like this: