Uncategorized

Tentang Pencarian Tuhan Lewat Akal

Jurnal Kebebasan: Akal dan Kehendak
Volume II Edisi 42, Tanggal 11 Agustus 2008
Oleh: Sukasah Syahdan

Semua manusia itu atheis.

Tepatnya, kita semua pernah jadi atheis. Paling tidak, pada dan untuk suatu saat, yaitu di masa-masa pranatal, bayi atau kanak.  Ketika peranti dan daya nalar belum sepenuhnya berkembang, jangankan memikirkan keberadaanNya; memikirkan keberadaan sesuatu yang agak hangat di balik popok yang tiba-tiba lembab saja kita tidak kuasa.

Saat sistem tersebut mematang, barulah sedikit demi sedikit kita bisa mempertanyakan hal-hal mendasar  tentang diri kita, tentang alam raya dan seisinya, tentang penciptaannya sekaligus tentang Sang Pencipta.

Dan pertanyaan ultimatnya adalah: (Ti)adakah Tuhan itu? Bisakah kita membuktikannya dengan akal?

alt textPenciptaan Manusia, Michaelangelo

Pertanyaan semacam ini sepertinya sudah dikekalkan sebagai pertanyaan; dia telah, sedang, dan akan terus dipertanyakan umat manusia di sepanjang jaman dan peradaban.  Sudah sepantasnya Jurnal ini berkepentingan dengan isu yang satu ini, sebab namanya juga Akal dan Kehendak.  Artikel ini saya tulis untuk mengawali pembahasan selanjutnya, kapan-kapan. Tujuan saat ini: memastikan posisi akal dengan setepat-tepatnya, terkait satu persoalan terpenting dalam hidup.  Apakah pertanyaan-pertanyaan di atas akan tetap kekal tulisan ini selesai dibaca?  Kita akan menjawabnya.

Salah satu argumen logis seputar keberadaan Tuhan menyatakan bahwa semua yang ada di alam pasti muncul lewat proses penciptaan. Proses ini dianggap telah terjadi dengan sendirinya, atau sebagai akibat dari rancangan yang disengaja.

Mereka yang percaya pada proses penciptaan mengatakan, semuanya berakhir pada konsep prima causa–atau konsep tentang keberadaan Sang Maha Pencipta dari segala pencipta dan segala penciptaan di seluruh alam raya.  Orang yang dapat menerima konsep ini berpeluang besar untuk menerima keberadaan Tuhan.  Sementara bagi yang tidak menerima, mereka harus terus mencari landasan keyakinan.

Selain itu, ada pula argumentasi yang menyatakan: Tuhan menciptakan alam semesta beserta segala isi dan isunya.  Apa artinya ini?  Artinya Ia tidak termasuk di/ke dalam alam semesta. Sebelum penciptaan dilakukan, Ia mestinya berada di luar alam raya. Lalu di manakah Ia pada saat itu? Dan di manakah Ia berada sekarang?

Kalau Tuhan dikatakan telah menciptakan semesta dari ketiadaan yang absolut, bukankah Tuhan termasuk dalam ketiadaan tersebut, sehingga ketiadaan tersebut tidak bermakna sebagaimana seharusnya?  Jika orang menerima premis-premis minor tersebut, besar kemungkinan ia akan tiba pada premis akhir yang menolak keberadaan Tuhan. Namun, jika ia menolak premis-premis tersebut, tidak ada jalan lain, kecuali bahwa ia harus menunda kesimpulannya untuk sementara sambil mencari premis-premis logis lain yang harus tidak disangkalnya di muka.

Pertanyaannya: apakah theisme dan atheisme kita perlu dipergantungkan pada premis logis?  Dalam hemat saya, ya.  Karena ini tuntutan akal–berkah yang amat berharga dariNya (bagi yang percaya, tentunya).  Asal mula penciptaan akal kita seharusnya, tanpa kontradiksi, berasal dari kekuatan yang menciptakan alam raya.

Mereka yang 1/2 percaya dan separuh tidak percaya mungkin akan bertanya: kalau Tuhan Maha Pengasih dan Penyayang, mengapa Ia yang juga Maha Mengetahui segala plot kejahatan, kebejatan dan kesengsaraan yang telah sedang dan akan dialami manusia, tidak melakukan apa-apa?  Bagaimana menyikapi proposisi-proposisi logis yang provokatif semacam ini?  Di mana tempat doa dalam konstruksi kejadian peristiwa-peristiwa?

Satu hal yang ingin saya tawarkan lewat tulisan ini adalah memahami dengan lebih baik karakteristik dan batas-batas kemampuan akal manusia.  Dengan memahami sampai seberapa jauh akal kita dapat mencerna persoalan teologis ini, kita setidak-tidaknya dapat menghemat sumber daya.

Taruhlah pada titik ini, kita terima dulu tanpa analisis lebih jauh, bahwa akal manusia tidak dapat menjawab tuntas Rahasia Besar dalam hidup.  Tapi tentunya kita punya rasa, punya kemampuan, punya pengalaman, dan punya peluang besar untuk mengetahui secara relatif lebih meyakinkan tentang batas-batas akal kita sendiri.

Sebab, kenapa tidak?  Bukankah akal sesuatu yang ada pada kita?  Jawaban terhadap batas-batasnya seharusnya tidak sesulit mempertahankan karya skripsi; dia seharusnya sesuatu yang amat intuitif.

Jadi, mari kita bahas batas-batas akal.  Sebelumnya, kita perlu membuat batasan atau definisinya.

Apakah akal itu?  Akal di sini saya definisikan sebagai kemampuan (faculty) kita untuk mencerna, mengenali, mengidentifikasi, serta memadukan semua materi (‘informasi’) yang kita peroleh melalui panca indra. Ini definisi obyektivis yang saya kira cukup aman dan dapat kita terima.

Akal mengintegrasikan persepsi kita dengan jalan membentuk abstraksi atau konsepsi, sehingga kita bisa meningkatkan pengetahuan dan pemahaman kita dari tingkat yang tadinya semata perseptual (sebagaimana halnya yang dialami hewan), ke tingkat konseptual, yang hanya dapat dicapai oleh otak manusia. Metode yang dipakai akal kita dalam proses ini adalah logika. Logika adalah semacam seni mengidentifikasi sesuatu dengan cara yang tidak kontradiktif.

Terkait pemanfaatan akal dalam pencarian kebenaran dan pengetahuan, baik yang teologis maupun yang ilmiah, berikut ikhtisar singkat saya dari sudut pandang praksiologis (kajian tentang tindakan manusia):

  • Jika kita merunut semua kejadian di alam raya, maka upaya ini akan membawa kita kepada proses regresi ad infinitum hingga ke titik awal terciptanya waktu.
  • Sejauh akal dipergunakan, konsep kita tentang waktu tidak final. Kita tidak mampu menangkap awal ataupun akhir dari waktu itu sendiri. Dalam konteks ini, boleh dikatakan bahwa cara pandang kita terhadap dunia sudah ditentukan demikian (deterministik).
  • Konsep kita tentang alam semesta hanya mampu memahami sesuatu yang ada, dan merunutnya kepada sesuatu yang telah ada sebelumnya; namun, kita tidak tahu penyebab terakhir yang bekerja di alam, sebab hal tersebut sudah melampaui kisaran akal kita dan berada di luar ranah pengetahuan manusia.
  • Setiap pencarian kebenaran secara ilmiah, cepat atau lambat, pasti akan berakhir pada sesuatu yang harus diterima dianggap sebagai given (sudah dari sananya begitu). Penelitian ilmiah tidak akan mampu sepenuhnya memberi jawaban terhadap teka-teki alam raya. Pencarian pengetahuan pasti akan ‘mentok’. Dalam ilmu pengetahuan ilmiah, kementokan ini hanya bisa diterima dengan kejujuran sebagaimana adanya.
  • Akal kita mampu menangkap hubungan/kondisi negasi; dengan demikian kita dapat memahami ketiadaan sebagai lawan dari keberadaan, atau non-eksistensi sebagai lawan dari eksistensi. Namun, akal tidak mampu menangkap negasi yang sifatnya absolut.  Ini berlaku bagi apapun; hal ini sudah berada di luar pemahaman akal.  Gagasan tentang pemunculan sesuatu dari ketiadaan, misalnya, atau gagasan tentang adanya awal yang absolut, tidak mampu dikonfirmasi atau ditolak oleh akal kita.
  • Akal kita juga tidak mampu memberi makna absolut yang obyektif terhadap terminologi ciptaan akal kita sendiri, semacam: sempurna, absolut, atau Maha.  Sejak semula peristilahan ini adalah problem linguistik akibat keterbatasan sistem konvensi bahasa manusia itu sendiri dan/atau akibat universalisme subyektivitas nilai di dalam manusia. Dengan demikian, akal kita tidak mampu mencerna adanya sesuatu yang berasal dari ketiadaan yang lalu memengaruhi alam semesta dari luar (from without).

Dengan menyingkapkan batas-batas kemampuan akal kita seperti dinyatakan di atas, meskipun serba singkat dan terbatas,  posisi akal kita terkait pertanyaan-pertanyaan ultimat seputar ketuhanan di atas dapat disimpulkan sebagai berikut:

Akal manusia tidak mampu menjawab pertanyaan-pertanyaan ultimat tersebut di atas.  Seandainya kesimpulan ini keliru, yang langsung berarti bahwa akal mampu menjawabnya, maka seluruh penduduk dunia saat ini semuanya akan meyakini keberadaan Tuhan sebagai fakta empiris sebagaimana keberadaan matahari di atas sana; atau justru sebaliknya.  Logika adalah bahasa universal, sebagaimana seluruh manusia di bumi ini menerima bahwa 1+1=2. Atau harus menolak identitas semacam A=non-A.

Dengan kata lain, dapat disimpulkan bahwa logika semata tidak mampu menggugurkan ataupun mengukuhkan inti dari ajaran-ajaran teologis.  Ini bukan serangan terhadap akal ataupun logika.  Pengerahan akal melalui logika bermanfaat untuk telah, sedang dan akan terus menyingkap berbagai kekeliruan dalam perumusan maupun penyimpulan persoalan teologis tersebut, di samping juga membongkar ribuan atau bahkan jutaan mitos, sihir, takhayul, dan berbagai praktik supranatural lainnya.

Keterbatasan atau ketidakmampuan akal dalam menangkap sesuatu tidak dengan sendirinya menegasikan keberadaan sesuatu tersebut. (Selama ribuan tahun manusia tidak mengenal adanya bakteri yang telah menyebabkan begitu banyak kematian manusia. Ketidaktertangkapan bakteri sebagai konsep maupun secara indrawi tidak meniadakannya.)

Keterbatasan akal manusia dalam memahami hal-hal fundamental tersebut jelas meninggalkan wilayah abu-abu yang luas menganga. Mungkin ini ruang yang cocok bagi pemanjatan doa-doa oleh para “Pemilik Teguh” (meminjam bait Bung Chairil Anwar). Yang pasti, atas dasar konsistensi, ruang eksklusif tersebut tidak dapat diakses oleh mereka yang menolak percaya.

Dengan demikian, apakah pertanyaan-pertanyaan ultimat yang sepertinya telah dikekalkan di atas, masih tetap kekal?  Jawabannya adalah nah! (Baca: Saya harap Anda mampu menjawabnya sendiri.)

Nasihat Wittgenstein: Whereof one cannot speak, thereof one must be silent. Nasihat saya: yang masih perlu membuktikan ke(tidak)beradaan Tuhan, mohon cari di toko sebelah. [ ]

(Updated:10:40; 16/08/08 pada 07:38; 20/08/08 pada 10:40.  Artikel ini juga terbit dalam judul berbeda di Super Koran, edisi 21/08/08)

Kirim artikel ini:
Share on FacebookTweet about this on TwitterShare on Google+Email this to someoneShare on RedditShare on StumbleUpon

Tulisan lain yang mungkin terkait:

Discussion

18 comments for “Tentang Pencarian Tuhan Lewat Akal”

  1. Kesalahan utama untuk memahami Tuhan ialah penggunaan metodologi yang salah dalam ilmu logika. Tuhan dapat dimengerti dengan akal dan logika. Tetapi dalam pencarian/analisanya, manusia salah menerapkan kaidah-kaidah logika.

    Contohnya: Tuhan didefinisikan sebagai the Absolut. Artinya Ab = tidak; solut = larut (solusi). Dengan kata lain Tuhan dgn sifatnya yang absolut artinya tidak mempunyai solusi. Kalau ada projek yang bertujuan ingin membuktikan adanya Tuhan berarti projek itu telah “un-doing”, membatalkan definisi Tuhan sebagai the Absolut. Metodologi pembuktian dgn penurunan (prove by derivation) tidak berlaku bagi the Absolut. Dengan kata lain, the absolut tidak punya sufficient condition. Yang ada adalah necessary conditions dan metodologinya adalah dengan prove by exhaustion. 

    Minggu lalu di blog EOWI saya sempat melontarkan beberapa pertanyaan dimana definisi Tuhan salah satunya sebagai the Absolut saya batalkan (secara implisit). Pertanyaannya ialah:

    Sesuatu ada karena ada pembuatnya. Alam semesta ini ada karena ada pembuatnya yaitu Tuhan. Kalau begitu, tentu ada pencipta dari Tuhan?

    Kalau Tuhan maha pengasih, kenapa Dia menciptakan penyakit dan bencana serta kesengsaraan? Apakah Dia tidak mampu melenyapkan bencana dan penderitaan?

    Bisakah Tuhan bunuh diri?

    Bisakah Tuhan membuat batu yang besar sehingga Dia tidak bisa mengangkatnya?

    Bisakah Tuhan berbuat konyol?

    Tuhan harus diperlakukan sebagai axiom. Axiom tidak pernah bisa dibuktikan dengan metode penurunan. Kebenaran axiom diuji dengan metode prove by exhaustion.

    Pada bulan puasa nanti insha Allah saya akan menurunkan artikel bertopik Logika dan Tuhan.

    Posted by imam semar | 11 August 2008, 3:31 pm
  2. Jawabannya tidak bisa. Dan sepertinya saya sudah meyakini itu. Persoalannya sekarang adalah apakah fakultas yang kita miliki selain nalar bisa dibuktikan benar? Bagaimana bila intuisi dan rasa sebenarnya tidak Ada? Bagaimana bila pengalaman spiritual, mistisisme dan apapun yang dialami para sufi tidak lebih dari ilusi yang diciptakan oleh gen-egois dalam tubuh kita?

    Btw, menurut saya, semua manusia agnostik. 😀

    Posted by gentole | 11 August 2008, 9:47 pm
  3. Wah, diskusinya mengerikan!he2

    Posted by Giy | 12 August 2008, 12:05 am
  4. @gentole

    Trims! Pandangan Anda menarik; saya mau dengar/baca lebih lanjut (kalau boleh).

    @IS

    Saya jadi kepingin cepat-cepat bulan puasa! Semoga Oom IS tidak berhalangan dalam merampungkan artikel senilai jutaan dolar tersebut ;-).

    @Giy,

    Gimana perkembangan skripsi? Walah, kok malah nanyain ini….

    Posted by Nad | 12 August 2008, 6:22 am
  5. pertanyaan oleh akal tentang bahasan “tuhan” hampir, bisa dipastikan “tidak berjodoh”.
    secara kami pribadi, walaupun kegandrungan (eagerly) filsafati tentang bahasan ini cukup, kenyataanya lebih sering kami “memutus’ tali temali logika disana dengan ungkapan ;

    <b>premis — tuhan diluar akal — menjadikan bahasan intelektual menjadi tidak relevan.</b>
    dengan segala varian dari ungkapan itu !

    demikian kira kira..

    adakah tanggapan anda ..?
    atau mungkin
    adakah cacat kognitif disana…?

    salam,

    <u>Umar C’yaham</u>
    polandia

    Posted by Umar C'yaham | 12 August 2008, 12:12 pm
  6. Skripsi!

    masih observasi lapangan sambil "rencana" dianalisis. Sebenarnya ada data menarik mengenai persoalan "Pendidikan" yg kelihatannya cocok dgn jurnal ini. Mau saya tulis, tapi ah…otak lagi berat dihadapkan persoalan non-teknis. Coz, STNK motor saya ketuker ama org yg tidak saya dikenal (alias saya baru kehilangan STNK motor)he2…

    Dan sampai sekarang belum ketemu….

    Posted by Giy | 12 August 2008, 2:50 pm
  7. @ Umar C’yaham:

    Ah, di Polsky kah rupanya! 

    "bahasan “tuhan” hampir, bisa dipastikan “tidak berjodoh”."  Itu yang saya simpulkan dan ingin saya pastikan obyektivitasnya. Tapi bung IS masih menyimpan argumen yang pada dasarnya ingin menggugurkan simpulan final tadi.  Kalau ia berhasil melakukannya secara meyakinkan, akan DAHSYAT sekali!  Makanya saya menunggu sambil mendoakan dg sepenuh hati, semoga ia berhasil memberi jawaban bagi pertanyaan ultimat yang nilainya triliunan dolar di atas (pantaslah kalau Giy, yang belum lulus ujian skripsi itu, bergidik ngeri.)  ;-D

    Posted by Nad | 14 August 2008, 5:19 am
  8. Wah saya gak tahu, itukan cuma pertanyaan. Saya kebetulan baca bukunya Dawkin yang The Selfish Gene dan Damasio yang melakukan kritik secara ilmiah terhadap dualisme Cartesian. Intinya di kesadaran. Sains gak perlu ribut-ribut lagi soal DNA, evolusi, dll. Yang perlu diungkap itu misteri kesadaran. Biar selesai semuanya. Apakah kesadaran itu bersifat visual dan mekanis? Ini saya yang gak ngerti.

    Posted by gentole | 21 August 2008, 1:41 am
  9. Judul bukunya Damasio itu "Descartes' Error".

    Posted by gentole | 21 August 2008, 1:41 am
  10. terima kasih atas masukannya, bung gentole. ini semakin menarik! misteri kesadaran…. saya yakin arah pemikiran ini sangat tepat, dan saya duga kalau diteruskan ini akan bermuara ke aksioma tindakan, sebab manusia yang sadar adalah manusia yang bertindak, yang memilih alternatif di tengah keterbatasan dan ketidakpastian. dan ini tidak bisa tidak akan membawa kita, ke atau mempertemukan dengan, praksiologi!

    Posted by Nad | 22 August 2008, 4:06 pm
  11. Hari gini masih percaya agama? Hahahahaha, kasihan banget coy. Masih percaya ajaran-ajaran usang yang sudah ketinggalan jaman, yang tertutup atas kritik dan penuh dengan nuansa-nuansa kekerasan? Hahahahaha, Masih percaya kepada hal-hal yang jauh dari nalar dan membodohi? Hahahahaha, Masih percaya bahwa monopoli kebenaran adalah hal terbaik yang datang dari tuhan? Hahahahahaha, Masih percaya kepada hal2 yang sebenarnya cuma konsensus sekelompok orang yang kebenarannya masih dipertanyakan? Hahahahahahaha, Masih percaya kepada agama yang kebetulan diturunkan dari orang tua, dan terus nurut tanpa cela? Hahahahahaha. Berpikirlah sodara2, jangan hidup dalam dunia fantasi, jangan tercebur dalam sakaw agama yang penuh dengan halusinasi dan delusi belaka? Hahahahaha….Wah gaswat kalo  ada orang fanatik baca tulisan gw bakal ngamuk coy, takuuuuuuut, hahahahahaha………..

    Posted by sepedarodatiga | 15 January 2009, 12:00 am
  12. pala w miring,,
    pala w miring,,
    pucing,,
    pucing,,

    jd kesimpulanny gmn pak,,,,,??

    btw w termasuk orag yang mana yaw,,??
    theis kah? atheis kah? agnostik kah?
    w kga bs ngesimpulin kberadaan tuhan, tapi w jg kga bsa ngesimpulin ketidak beradaan tuhan,,

    tapi kayaknya lbih condong ke agostik yaw?
    pucing,, hew,,hew,,

    hai orang2 yang bayak baca buku,,! salam knl pak,,bu,,? saya adalah org yang sangat tdk familier sama yag namany buku,, saya lebih suka nongkrongin orang2 yang diskusi (cuma nogrong dhuank, hik,,hik,,!)

    so ijinin jg w ikud nogkrong dsni yaw,,
    hew,,hew,,
    btw diskusinya menarik,,

    terbitan bulan puasa di tunggu  pak,,

    Posted by kodok_migren,,,, | 2 April 2009, 7:16 pm
  13. susah tuh,
    bagaimanapin akal manusia punya keterbatasan,
    bagaimanapun, ada ungkapan yang saya kira pas untuk kita jadikan pegangan, yaitu ungkapan Miyamoto Mushasi dalam bukunya yang berjudul Gorin No Sho (udah diterjemahkan dalam bahasa inggris  oleh William Scott Wilson menjadi The Book of Five Rings) yang berbunyi “kita harus menghormati dewa dan buddha, tapi tidak boleh bergantung pada mereka”

    memang wajar untuk menghormati, bahkan menyembah tuhan, tapi toh kita tetap harus mandiri, dan jangan salahkan Tuhan tentang kejahatan, manusia lah yang jahat. lagipula, jika semua diciptakan baik saja, tentu dunia tidak lagi menarik bukan?

    Posted by decky | 6 April 2009, 12:56 pm
  14. Klo mnurut sy, pngetahuan ttg tuhan harus qt miliki, jng smpe qt hnya skedar tw ja tuhan itu ada, tp dalam memahami tuhan harus dilandasi dgn prtanggungjawaban… Krn sy mlhat umat islam skrng dlm brislam kebnyakan karna org tua bkan krna kebnarn islam, bner g???

    Posted by Agus jaelani | 21 June 2009, 5:56 pm
  15. “Manusia diciptakan Tuhan, lalu Tuhan diciptakan oleh siapa?” pertanyaan tersebut tampaknya mengandung kontradiksi. Karena jika Ia diciptakan, ia bukanlah Tuhan melainkan MAKHLUK, dan jika makhluk yang menciptakan semesta ini, pastilah semesta alam ini sudah hancur dari dulu. Tuhan Maha Pencipta, lalu bagaimana mungkin ada yang menciptakanNya?

    “Kejahatan merajalela, penyakit mewabah, orang miskin bejibun padahal Tuhan Maha Pengasih.”

    Ya, memang Tuhan Maha Pengasih, tapi manusia juga punya hati, punya kekuatan, punya akal, punya harta. Jadi, kenapa harus memaki-maki, menyalahkan, mengingkari Tuhan, kalau manusia sanggup mengatasi masalahnya sendiri maupun sesamanya, seraya memanjatkan doa.

    Tapi, maklumlah ego kita untuk menjadi atheis lebih besar ketimbang menjadi hamba-Nya yang taat, sehingga kita lebih senang menyalahkan semua masalah di jagat raya ini kepada Sang Maha Pencipta.

    Posted by Shan | 18 October 2010, 9:20 pm
  16. Saya kira bung admin telah salah menempatkan judul ataukah saya curiga bung admin seperti orang-orang kebanyakan yang ketika berbicara tentang asal-muasal manusia dan Tuhan telah lebih dulu mempunyai kesimpulan (Yg kebanyakan diturunkan dari doktrin agama) atau menentukan secara mandiri aksioma-aksioma untuk memberi sebuah penilaian.

    Sejauh kita hidup dan dilahirkan, manusia selalu memaknai apapun dengan akalnya. Cogito ergo sum.

    Artinya apapun yang sekarang dapat kita pahami dan jabarkan adalah semata-mata asupan yang diterima oleh akal kita serta proses-proses yang menyertainya serta persepsi kita atas kejadian-kejadian yang ditangkap oleh indera kita.

    Dengan demikian menyimpulkan bahwa akal terbatas, berdasarkan kemampuannya sendiri dalam menyimpulkan apapun yang berhubungan dengan Tuhan yang “metafisik” adalah sebuah kekonyolan karena satu-satunya asupan yang pernah masuk ke akal kita tentang Tuhan hanya berasal dari kitab-kitab suci keagamaan (masing-masing agama berbeda).

    Dalam hidup kita sehari-hari, kesimpulan kita tentang apakah ada Tuhan dalam peristiwa sehari-hari hanya dimungkinkan dengan apakah anda percaya kepada satu2nya sumber tentang Tuhan (kitab-kitab suci keagamaan berusia ribuan tahun). Kalau anda percaya maka anda juga akan menyangkutkan semua kejadian dalam hidup dengan Tuhan. Jika tidak, maka anda hanya memandangnya sebagai fenomena.

    Jadi bagiku tulisan ini absurd. Hanya jika Tuhan nampak secara materi atau mewujud secara materi hukum2nya, maka masalah ini selesai. sebelum tidak, akal hanya memahami kehidupan lewat indera dan persepsinya semata.

    Posted by hdw | 17 November 2010, 6:53 pm
  17. bagi saya tulisan ini ringan dan tidak memihak, hanya kolaborasi bahasa ilmiah dan kalimat ekspresifnya yang sedikit mengkaburkan tujuan penulis. Setiap Penulis tentu memiliki kesimpulan dalam tulisan yang telah diturunkan, itu hak penulis.. dan mengkritisi adalah hak pembaca, selama kolom tsb tidak dibatasi..:)
    Saya setuju dengan penulis sesuai dengan persepsi saya setelah membaca tulisan di atas, bahwa: memperdebatkan tuhan ‘dalam’ ada atau tidak, lebih baik cari di toko sebelah! Saya ingin menambahkan,”Kalaupun ada, tanya dulu dijual atau nggak?” pertanyaan selanjutnya,”Asli kagak?”, dan selanjutnya lagi…terserah anda:p
    Hawking merilis buku baru “The Grand Design”, yang dengan pasti (kali ini!) menyatakan bahwa Alam Semesta tercipta dengan sendirinya, Tuhan tidak berperan sama sekali didalamnya. Menanggapi ini, saya berpendapat bahwa Tuhan bukan Analogi, tetapi lebih cenderung ke Dramaturgi. Analogi berhenti pada titik pencarian, sedangkan Dramaturgi, walau memiliki starting dan ending poin, tetapi terus berkembang babak demi babak!
    Bung Sahdan, terus menulis dong, dah gak ada update artikel baru nih…saya adalah penggemar tulisan anda… Peace everybody!:)

    Posted by lone | 1 December 2010, 12:45 pm
  18. bagiku bung admin bahasa dan penulisannya terlalu berat dan berbeli-belit dan banyak kata-kata asing yg aku dan orang awam belum tentu mengerti maksud dan makna dari sebuah cerita/dongeng bung admin.ok mungkin atau barangkali yg jadi pertanyaan bung admin ADAKAH TUHAN ITU SEBENARNYA/APAKAH TUHAN ITU ADA….ok di dalam surat kulhu di katakan tuhan/allah tidak beranak dan tdk diperanakan,dai DIA tidak sama/serupa dengan ciptaanya.(maka akal akan menjawab ksdua ayat itu. manusia mempunyai mata.tuhan pastiallah tidak punya mata,manusia mempunyai keinginan.tuhan/allah pasti tidak punya keinginan,manusia mempunyai dendam.tuhan/allah pasti tidak punya dendam,manusia punya nama.tuhan/allah pasti tidak punya nama. karena tidak sama/serupa terhadap ciptaanya.dan kalau DIA masih sama dengan ciptaanya ….itu pasti bukan YANG MAHA KUASA/MAHA PENCIPTA dan itu(tuhan/allah)pasti ciptan dari YANG MAHA KUASA/MAHA PENCIPTA.setiap ciptaan(bernyawa) apapun di bumi ini pasti akan lenyap di telan oleh jaman temasuk idiologi dan keyakinan.dan kalau akal yang menjawabnya maka akal mengatakan tuhanlah yang di ciptakan oleh manusia. bukan tuhan menciptakan manusia…..yang menciptakan tuhan inilah orang yang sangat jenius/pinta….so pasti PADA JAMANNYA.coba kalau sekarang kalah dia sama aku….dan kalau akal mau bertanya….? kenapa tuhan yang sangat sakti(itu kataku)menciptakan AGAMA sampai 4 kali(4 itu yang populer di umat manusia)apakah tuhan menciptaka pertama kali agama GAGAL dan di ganti dengan produk yang baru. dan terus bargati lagi dengan yang baru….?(kaya lagu aja gagal lagi gagal lagi..)atau kenapa tidak 1 aja agama di turunkan kepada manusia…kenapa mesti 4 atau bahkan lebih….? mana MAHAmu mana KUN PAYAKUNmu. oh ya 1 lagi kutambahkan disini tuhan/allah selalu menguji iman ciptaanya(masa ga tau iman ciptaanya sendiri).Dan DIA punya pesuruh(malaikat) bahkan dia punya kekasih..(kaya ABG aja pake punya pacar)dan DIA juga punya keinginan(tuk di puja dan di puji),bahkan DIA punya dendam(api neraka yang disediakan olehNYA bagi manusia yg tidak menuruti kehendakNYA,ckckckckckck terima kasih sampai sini dulu komentarku

    Posted by tuhan | 27 January 2011, 1:36 am

Komentari

Arsip Bulanan

Rekomendasi

buku_rothbard.jpg
Apa Yang Dilakukan Pemerintah Terhadap Uang Kita?; Oleh: Murray Newton Rothbard; PT. Granit, Yayasan Obor Indonesia; ISBN : 97897916217 -4-8; tersedia di toko-toko buku terdekat. (Intip cuplikannya).
alt text
Membela Kapitalisme Global; Oleh: Johan Norberg; FNS Jakarta; tersedia di toko-toko buku terdekat. (Baca resensinya di sini).
Economic  Activism Blogs - Blog Catalog Blog Directory
%d bloggers like this: