buku

Mentalitas Anti-Kapitalistik (Bagian 5)

Jurnal Kebebasan: Akal dan Kehendak
Volume II Edisi 432, Tanggal 18 Agustus 2008
Oleh: Ludwig von Mises

2.  FRONT ANTI-KAPITALISME

Sejak semula, gerakan-gerakan sosialis dan berbagai usaha untuk membangkitkan kembali kebijakan-kebijakan intervensionis dari era di masa prakapitalistik, baik sosialisme maupun intervensionisme benar-benar telah terdiskreditkan di mata mereka yang memahami teori ekonomi. Namun, gagasan yang diyakini mayoritas mereka yang kurang berpengetahuan digerakkan oleh nafsu-nafsu manusiawi yang terkuat: rasa cemburu dan benci.

Filsafat sosial Pencerahan yang membuka jalan untuk merealisasikan program kebebasan-kebebasan ekonomi, yang menjadi disempurnakan dalam perekonomian pasar (kapitalisme), dan pemerintahan representatif (sebagai korolari konstitusionalnya)-tidak menyiratkan bahwa ketiga kekuasaan lama, yaitu: kerajaan, aristokrasi dan kaum gereja, perlu dilenyapkan. Para liberal Eropa bermaksud menggantikan hak-hak absolut dengan monarki parlementer, bukan mendirikan pemerintahan republikan.

Mereka bermaksud menghapuskan hak-hak kaum aristokrat, tetapi tidak ingin melucuti gelar, simbol kehormatan, dan harta para aristokrat. Mereka antusias memberi kebebasan suara hati kepada semua orang serta mengakhiri eksekusi kepada para pemberontak dan mereka yang menyimpang; namun, mereka tidak ingin memberikan kebebasan total kepada gereja dan denominasi-denominasinya untuk mengejar tujuan-tujuan spiritual mereka. Maka, kekuasaan  besar ancien régime pun dipertahankan. Mungkin sebagian pihak mengharapkan agar para pangeran, aristokrat dan pendeta yang tidak letih-letihnya dalam mengimani konservatisme akan siap menentang serangan kaum sosialis terhadap esensi-esensi peradaban Barat. Lagi pula, para pengusung sosialisme tidak henti-hentinya berdakwah bahwa di bawah totalitarianisme sosialis tidak akan tersisa ruang untuk apa yang mereka sebut sisa-sisa tirani, hak istimewa, dan takhayul.

Akan tetapi, kekesalan dan rasa iri di pihak kelompok-kelompok istimewa tersebut ternyata lebih kuat daripada daya nalar dan kepala dingin. Mereka akhirnya berjabatan tangan dengan para sosialis, dan melupakan fakta bahwa sosialisme akan melucuti kepemilikan mereka dan bahwa kebebasan beragama tidak akan ada di bawah sistem yang totalitarian. The Hohenzollern di Jerman pun meresmikan sebuah kebijakan yang oleh pengamat Amerika disebut sebgai sosialisme monarkis.[1] Para otokrat Romanov di Rusia bermain-main dengan perserikatan buruh dan menjadikannya senjata untuk melawan usaha kaum “borjuis” untuk mendirikan pemerintahan yang representatif.[2] Di tiap negara di Eropa para aristokat pada akhrinya bekerjasama dengan seteru-seteru kapitalisme. Di mana-mana para teolog kenamaan berupaya untuk mendiskreditkan sistem kebebasan usaha yang, dengan demikian, implikasinya adalah memberi dukungan terhadap sosialisme atau intervensionisme radikal. Beberapa pemimpin terbesar Protestanisme dewasa ini-Barth dan Brunner di Swis, Niebuhr dan Tillich di Amerika Serikat, serta almarhum Archbishop Canterbury, William Temple-secara terbuka mengutuk kapitalisme; bahkan menuding kegagalan kapitalisme tidak bertanggungjawab atas ekses-ekses Bolshevisme Rusia.

Orang mungkin bertanya-tanya apakah Sir William Harcourt benar ketika, enam puluh tahun lebih yang silam, memproklamirkan pernyataan ini: Kita semua adalah para sosialis sekarang. Namun, saat ini pemerintahan, partai politik, guru, penulis, anti-theis militan dan juga teolog Kristen juga nyaris serempak menolak perekonomian pasar dan, sebaliknya, memuji manfaat kemahakuasaan negara. Generasi muda tumbuh dalam lingkungan yang terbenam dalam gagasan-gagasan sosialis.

Pengaruh ideologi yang pro-sosialis terlihat, nyaris tanpa pengecualian, dalam cara bagaimana opini publik menjelaskan alasan yang memengaruhi orang untuk bergabung dengan partai-partai sosialis atau komunis. Dalam berurusan dengan politik domestik, orang mengasumsikan bahwa “sudah sewajarnya dan semestinyalah” jika mereka yang tidak kaya akan mendukung program-program radikal-perencanaan, sosialisme, komunisme; hanya mereka yang kaya saja yang memiliki alasan untuk memilih mempertahankan perekonomian pasar. Asumsi ini menerima begitu saja gagasan fundamental sosialis bahwa kepentingan ekonomi massa telah dirugikan oleh beroperasinya kapitalisme yang bekerja demi kepentingan tunggal para “eksploitir” dan bahwa sosialisme akan memperbaiki standar hidup masyarakat biasa.

Namun demikian, rakyat meminta sosialisme bukan karena mereka tahu bahwa sosialisme akan memperbaiki kondisi merekal; dan mereka menolak kapitalisme bukan karena tahu bahwa dia adalah sistem yang bias bagi kepentingan mereka. Mereka menjadi sosialis karena merasa yakin sosialisme akan meningkatkan kondisi mereka, dan mereka membenci kapitalisme karena percaya kapitalisme akan merugikan. Mereka sosialis karena terbutakan oleh rasa iri dan ketidaktahuan. Mereka keukeuh menolak mempelajari ilmu ekonomi dan menolak mentah-mentah kritik hebat para ekonom terhadap rencana-rencana sosialis karena, di mata mereka, ilmu ekonomi sebagai teori abstrak adalah omong kosong belaka. Mereka berpretensi hanya mempercayai pengalaman. Namun, mereka tidak keras-kepalanya dalam menolak untuk mengakui fakta-fakta pengalaman yang tak terbantahkan mis., bahwa standar hidup di Amerika jauh lebih tinggi daripada di surga bangsa Soviet.

Dalam kaitannya dengan kondisi di negara-negara yang masih terbelakang secara ekonomi masyarakat memperlihatkan kekeliruan pikiran yang sama.  Mereka menyangka penduduk di negara-negara ini pasti secara “alamiah” bersimpati  dengan komunisme karena mereka terbelenggu kemiskinan. Bangsa-bangsa yang miskin ini jelas ingin terbebas dari nestapa. Namun, jika yang mereka tuju adalah perbaikan atas kondisi-kondisi yang tidak memuaskan, seharusnya mereka mengadopsi sistem organisasi ekonomi masyarakat yang paling dapat menjamin perolehan tujuan tersebut; mereka seharusnya memilih kapitalisme. Namun, akibat tersesatkan oleh gagasan-gagasan antikapitalistik yang keliru, mereka condong kepada komunisme. Jelas merupakan sebuah paradoks bahwa para pemimpin bangsa-bangsa timur ini, sementara mendambakan kemakmuran sebagaimana mereka saksikan pada bangsa-bangsa Barat, menolak metode yang telah memberikan Barat kemakmuran dan justru terpikat pada komunisme Rusia yang amat instrumental dalam memiskinkan Rusia serta negara-negara satelitnya. Lebih paradoksial lagi bagi penduduk Amerika, yang menikmati produk-produk yang diberikan bisnis besar yang kapitalistik, justru memuji sistem Soviet dan mengangapnya sebagai hal yang “alamiah” dan sudah seharusnya jika bangsa-bangsa Asia dan Afrika lebih menyukai komunisme ketimbang kapitalisme.

Orang boleh saja tidak sepakat terhadap pertanyaan apakah semua orang seharusnya mendalami ilmu ekonomi secara serius. Namun, satu hal yang pasti, orang yang menulis atau berbicara secara publik tentang oposisi antara kapitalisme dan sosialisme tanpa mengenai secara penuh apa yang dikatakan ilmu ekonomi tentang persoalan-persoalan ini adalah pembual yang tak bertanggungjawab.

BAB III

KESUSASTRAAN DI BAWAH KAPITALISME

1. PASAR PRODUK KESUSASTRAAN

Kapitalisme memberi kepada banyak orang kesempatan untuk memperlihatkan inisiatif. Sementara kekakuan di dalam masyarakat status memaksa semua orang untuk berkinerja secara rutin tanpa perbedaan serta tidak mentolerir setiap penyimpangan dari pola perilaku tradisional, kapitalisme justru menganjurkan inovasi. Keuntungan adalah hadiah bagi penyimpangan yang berhasil dilakukan dari jenis-jenis prosedur yang sudah biasa; kerugian adalah hukuman bagi mereka yang terus bertahan menggunakan metode-metode usang. Individu bebas menunjukkan apa yang dapat dilakukannya secara lebih baik daripada orang lain.

Namun demikian, kebebasan individu ini terbatas. Dia merupakan hasil dari demokrasi pasar dan dengan begitu tergantung pada apresiasi terhadap pencapaian individual di pihak para konsumen yang berdaulat. Apa yang berhasil di pasar bukanlah semata kinerja yang baik, tetapi kinerja yang oleh sejumlah konsumen dalam jumlah yang cukup besar, dianggap baik. Jika publik pembeli tidak mampu menghargai nilai suatu produk, betapapun bagusnya produk tersebut, semua kesulitan dan pengeluaran yang telah dikeluarkan untuknya akan sia-sia.

Kapitalisme pada esensinya merupakan sistem produksi massal untuk memuaskan kebutuhan massa. Dia telah melimpahkan begitu banyak barang kepada manusia kebanyakan. Dia telah meningkatkan standar hidup rata-rata ke tingkat yang tidak pernah diimpikan di abad-abad sebelumnya. Dia telah memungkinkan akses ke berbagai hal yang dapat dinikmati bagi jutaan orang, yang beberapa generasi sebelumnya hanya dapat dicapai oleh sekelompok kecil elit saja.

Contoh yang luar biasa diperlihatkan dalam evolusi yang semakin memperluas pasar bagi berbagai macam karya sastra. Kini kesusastraan-dalam pengertian terluas dari istilah tersebut-telah menjadi komoditas yang diinginkan oleh jutaan orang.  Publik membaca suratkabar, majalah dan buku; mereka mendengarkan siaran dan menonton teater. Para penulis, produser dan aktor yang berhasil memuaskan keinginan mereka akan mendapatkan pemasukan yang besar. Di dalam kerangka pembagian kerja sosial sebuah sub-divisi baru pun tercipta, yaitu spesies para literati, semisal orang-orang yang hidup dari tulisan. Para penulis ini menjual jasa mereka atau produk hasil jerih mereka ke pasar sebagaimana para spesialis lain menjual layanan atau produk mereka. Dalam kapasitas sebagai penulis ini, mereka terintegrasi erat di dalam tubuh masyarakat pasar yang kooperatif.

Di masa prakapitalistik bidang tulis-menulis adalah seni yang tidak menjanjikan penghasilan besar.  Para pandai besi atau pembuat sepatu dapat hidup layak, namun tidak demikian dengan para penulis. Menulis adalah seni liberal, semacam hobi belaka, dan bukan profesi. Dia adalah kegiatan ‘mulia’ bagi orang-orang kaya, para raja, baron dan negarawan, aristokrat dan bangsawan lainnya yang berpenghasilan mandiri. Menulis dilakukan di waktu luang oleh para pendeta, biarawan, dosen dan tentara. Orang-biasa yang tidak memiliki uang namun masih tergerak untuk menulis, harus mengamankan terlebih dahulu pemasukannya melalui sumber lain, bukan dari kepenulisannya. Spinoza bekerja sebagai pengasah lensa. Duo Bapak dan anak duo Mills, adalah pegawai kantor Perusahaan East India Company di London. Tetapi kebanyakan penulis miskin bertahan hidup atas kedermawanan para sahabat seni dan sains yang kaya. Para raja dan pangeran juga saling bersaing menjadi patron penyair dan penulis. Pengadilan menjadi asilum  bagi kesusastraan.

Adalah fakta historis bahwa sistem patronase ini memberi para penulis kebebasan penuh dalam berekspresi. Para patron tidak berupaya memaksakan filsafat, standar cita rasa dan etika mereka kepada para protégés mereka. Mereka giat memberi perlindungan dari otoritas gerejani. Setidaknya, penulis yang oleh satu atau beberapa pengadilan telah dilarang mendapatkan suaka dari pengadilan lain, masih bisa diselamatkan.

Namun demikian, visi yang dimiliki filsuf, sejarawan dan penyair yang menggerakan sebagian asisten pengadilan kerajaan dan yang amat tergantung pada kebaikan despot, tidak begitu mencerahkan. Para liberal tua menyambut gembira evolusi pasar bagi produk-produk kesusastraan sebagai bagian esensial dari suatu proses yang dapat mengemansipasi individu sehingga mandiri dari perlindungan raja dan aristokrat.  Oleh karena itu, dalam pandangan mereka, penilaian dari kelompok terdidik akan berperan amat penting. Betapa mengagumkannya prospek ini! Cahaya baru tampaknya mulai disadari.

2.  SUKSES PASAR BUKU

Namun, gambaran semacam ini mengandung beberapa kesalahan.

Kesusastraan bukanlah sebuah konformisme, melainkan pembangkangan. Pengarang yang hanya mengulangi apa yang sudah disetujui semua orang dan menyajikan apa yang ingin mereka dengar bukanlah pengarang besar. Yang terpenting adalah sang inovator, pemberontak, pembawa suara tentang sesuatu yang belum pernah didengar, penolak standar tradisional yang bertujuan mengganti yang usang dengan nilai dan gagasan baru. Dengan demikian, pengaran besar sudah seharusnya anti-otoritarian dan antipemerintahan, berlawanan dari mayoritas besar sejawatnya, dan tidak bisa diakurkan. Tepatnya, ia penulis yang kebanyakan bukunya tidak dibeli oleh publik.

Apapun anggapan orang tentang Marx dan Nietzsche, tidak seorangpun menyangkal kesuksesan mereka yang luar biasa setelah mereka meninggal. Namun, keduanya mungkin akan sudah mati kelaparan jika tidak mendapatkan sumber-sumber lain di samping dari royalti buku mereka. Pembangkang dan pembaharu tidak dapat berharap banyak dari penjulan bukunya di pasar reguler.

Para tycoon di pasar buku adalah pengarang fiksi untuk tujuan massal. Akan kelirulah jika kita asumsikan bahwa para pembeli ini selalu lebih menyukai buku yang buruk ketimbang yang bagus. Mereka tidak memiliki diskriminasi dan, oleh karena itu, siap menyerap apa saja, termasuk juga kadang-kadang buku-buku bagus. Memang benar, kebanyakan novel dan drama yang diterbitkan dewasa ini hanyalah sampah saja. Tidak banyak yang dapat diharapkan dari ribuan volume yang terus ditulis setiap tahun. Jaman kita masih bisa disebut sebagai abad perkembangan kesusastraan seandainya satu dari setiap seribu buku yang diterbitkan, terbukti setara dengan buku-buku hebat di masa lalu.

Banyak kritik gemar menyalahkan kapitalisme atas apa yang mereka sebut sebagai kebusukan sastra. Barangkali mereka harus lebih menyalahkan ketidakmampuan mereka sendiri dalam menyaring jerami dari gandum. Apakah minat mereka lebih tinggi ketimbang minat para pendahulu mereka sekitar seratus tahun yang silam? Sebagai contoh, dewasa ini semua kritikus memuji-muji Stendhal. Padahal ketika Stendhal meninggal dunia pada 1842, ia hanyalah seorang penulis yang tidak dikenal dan disalahpahami banyak orang.

Kapitalisme dapat memakmurkan massa sehingga mereka mampu membeli berbagai buku dan majalah. Tetapi dia tidak mampu memberi masyarakat kemampuan untuk mencerna seperti seorang Maecenas atau Can Grande della Scala. Kesalahannya bukan terletak pada kapitalisme jika masyarakat umum tidak dapat menghargai buku-buku yang tergolong tidak biasa.

(Bersambung)

(Kembali ke Bagian 4 atau Bagian 1)


[1] Bandingkan dengan Elmer Roberts, Monarchical Socialism in Germany, New York, 1913.

[2] Bandingkan dengan Mania Gordon, Workers Before and After Lenin, New York, 1941, hal. 30 dst.

Kirim artikel ini:
Share on FacebookTweet about this on TwitterShare on Google+Email this to someoneShare on RedditShare on StumbleUpon

Tulisan lain yang mungkin terkait:

Discussion

One comment for “Mentalitas Anti-Kapitalistik (Bagian 5)”

  1. Namun, gagasan yang diyakini mayoritas<span style="text-decoration: line-through;"> mereka </span>publik yang kurang berpengetahuan, digerakkan oleh nafsu-nafsu manusiawi yang terkuat, yaitu rasa cemburu dan benci.

    Posted by Admin | 27 August 2008, 7:45 am

Komentari

Arsip Bulanan

Rekomendasi

buku_rothbard.jpg
Apa Yang Dilakukan Pemerintah Terhadap Uang Kita?; Oleh: Murray Newton Rothbard; PT. Granit, Yayasan Obor Indonesia; ISBN : 97897916217 -4-8; tersedia di toko-toko buku terdekat. (Intip cuplikannya).
alt text
Membela Kapitalisme Global; Oleh: Johan Norberg; FNS Jakarta; tersedia di toko-toko buku terdekat. (Baca resensinya di sini).
Economic  Activism Blogs - Blog Catalog Blog Directory
%d bloggers like this: