buku

Mentalitas Anti-Kapitalistik (Bagian 6)

Jurnal Kebebasan: Akal dan Kehendak
Volume II Edisi 44, Tanggal 25 Agustus 2008
Oleh: Ludwig von Mises

(Kembali ke Bagian 5; atau ke Bagian 1)

3.  CATATAN TENTANG ROMAN DETEKTIF

Abad ketika kekuatan gerakan anti-kapitalisme radikal seakan tak tertahankan telah menghasilkan sebuah genre kesusastraan baru, roman detektif. Generasi [Amerika] yang sejaman dengan generasi yang telah membawa Partai Buruh di Inggris ke kursi kekuasaan, mengalami ekstasi oleh karya-karya sejumlah pengarang seperti Edgar Wallace. Salah satu pengarang sosialis ternama di Inggris, G. D. H. Cole, juga tidak kalah terkenalnya sebagai penulis cerita-cerita detektif. Seorang Marxis yang konsisten akan menyebut romandetektif–mungkin juga film Hollywood, komik dan “seni” striptease–sebagai suprastruktur bagi era perserikatan buruh dan proses sosialisme.

Banyak sejarawan, sosiolog dan psikolog telah mencoba menjelaskan popularitas genre yang asing tersebut. Salah satu penyelidikan yang paling mendalam dilakukan oleh Profesor W. O. Aydelotte.  Profesor Aydelotte dengan tepat menyatakan bahwa nilai historis cerita detektif terletak pada kemampuannya dalam menyajikan mimpi dan kemudian memberi penerangan kepada pembacanya. Ia juga dengan tepat menunjukkan bahwa setiap pembaca cerita detektif dapat menemukenali jati dirinya dalam figur sang detektif dan membuat tokoh tersebut secara umum sebagai perpanjangan egonya.[1]

Sementara itu, sebagian pembaca roman ini adalah orang yang merasa frustrasi; orang yang gagal mencapai posisi yang dituju oleh ambisinya. Sebagaimana telah dikatakan sebelumnya, ia siap memberi dirinya ketenangan dengan menyalahkan ketidakadilan sistem kapitalis. Ia telah gagal sebab ia jujur dan taat hukum. Para pesaingnya yang lebih beruntung, telah berhasil karena mereka bejat. Mereka tidak sungkan melakukan trik-trik tercela yang oleh orang semacam dirinya, yang saleh dan nir-noda, tidak akan terpikirkan. Kalau saja orang-orang tahu betapa kotornya mereka yang kaya mendadak serta angkuh tersebut! Sayangnya kejahatan-kejahatan mereka tetap tersembunyi dan mereka menikmati reputasi yang tidak layak mereka peroleh. Namun, hari perhitungan akan datang kelak. Ia sendirilah yang akan mencopot semua topeng dan menyingkapkan aib-aib mereka.

Jalan cerita roman detektif umumnya seperti ini: Seseorang yang oleh kebanyakan orang lain dianggap terhormat dan mustahil melakukan tindakan tercela apapun ternyata telah melakukan kejahatan yang mengerikan. Tidak ada orang yang mencurigainya. Namun, sang detektif yang cerdas,  tidak bisa dibohongi. Ia mengetahui segala hal tentang si munafik yang berperilaku bak orang suci itu. Ia pun mengumpulkan segala bukti untuk membuktikan kejahatannya. Dan berkat jasa sang detektif, kebaikan pun akhirnya menang.

alt textHenrik Ibsen

Topik seputar pencopotan kedok penjahat yang berperilaku layaknya warga terhormat, sekaligus juga kecenderungan anti-borjuisnya yang laten ini bahkan sering diangkat dalam aras (level) kesusastraan yang lebih tinggi, misalnya oleh [Hendrik] Ibsen dalam The Pillars of Society. Roman detektif menurunkan nilai alur cerita dan memperkenalkan ke dalamnya karakter murahan seorang detektif yang merasa dirinya lebih hebat ketimbang orang lain, yang mendapat kesenangan setiap kali ia berhasil mempermalukan seseorang yang oleh masyarakat dipandang sebagai warga tak bercela. Motif detektif adalah kebencian bawah-sadar terhadap para “borjuis” yang sukses.  Mitra-mitra detektif adalah inspektur-inspektur kantor kepolisian pemerintah, yang dikesankan terlalu dungu atau terlalu baik untuk dapat menjawab jalinan teka-teki. Implikasinya, kadang, bahkan begitu gamblang: para inspektur tersebut tanpa disadari memiliki semacam bias tertentu sehingga cenderung membela si pesakitan, sebab posisi sosial warga tersebut sangat mempengaruhi mereka. Sementara itu, sang detektif harus mengatasi berbagai rintangan akibat kelambanan para opsir. Keberhasilannya dalam menunaikan tugas adalah kekalahan otoritas pemerintah borjuis yang telah memilih opsir-opsir semacam mereka. Itu sebabnya roman detektif populer bagi orang-orang yang gagal dalam mengejar ambisi mereka. (Tentu, ada pula pembaca yang memang menggemari genre ini.) Siang-malam mereka memikirkan cara untuk membalas kesumat mereka terhadap rival-rival yang sukses tersebut. Mereka mengimpikan datangnya suatu saat ketika mereka, para rival tersebut, ” berakhir dengan lengan terborgol dan diseret oleh polisi.” Kepuasan ini sepertinya dapat terpenuhi melalui klimaks cerita, di mana mereka mengidentifikasikan diri dengan sang detektif–dan rival-rival yang mengungguli mereka, sebagai sang pembunuh yang akhirnya berhasil diringkus.[2]

4.  KEBEBASAN PERS

Kebebasan pers adalah salah satu ciri fundamental dari bangsa yang warga negaranya bebas. Dia termasuk salah satu hal esensial di dalam program lama liberalisme klasik. Tidak ada seorang pun berhasil mengajukan keberatannya secara masuk akal terhadap pemikiran di dalam dua buah buku klasik ini: Areopagitica karya John Milton, (1644) dan On Liberty, dari John Stuart Mills (1859. Percetakan tanpa-ijin adalah darah bagi kehidupan kesusastraan.

Pers yang bebas hanya dapat tumbuh di mana cara produksi berada dalam kendali swasta. Di persemakmuran sosialis, di mana semua fasilitas publikasi dan percetakan dimiliki dan dijalankan pemerintah, kebebasan pers tidak perlu dipertanyakan lagi. Pemerintah sendirilah yang menentukan siapa yang harus memiliki waktu dan berkesempatan untuk menulis; dan apa yang harus dicetak dan dipublikasikan. Dibandingkan dengan kondisi yang terjadi di Rusia di era Uni Soviet, bahkan Rusia di jaman Tsar secara retrospektif akan tampak seperti negara berpers bebas. Ketika para Nazi menggalakkan program book auto-da-fés mereka yang dikenal luas, mereka persis menjalankan apa yang pernah dirancang oleh salah seorang pengarang terbesar sosialis, yaitu Cabet.[3]

Ketika semua bangsa saat ini tengah berparade ke arah sosialisme, kebebasan para penulis sedikit demi sedikit terkikis. Dari hari ke hari orang semakin sulit menerbitkan buku atau artikel yang isinya tidak menyenangkan pemerintah atau kelompok-kelompok penekan yang kuat. Para pembangkang memang belum “terlikuidasi” sebagaimana di Rusia; buku-buku mereka juga belum dibakar atas perintah sang Inkuisisi.*) Badan sensor gaya-lama juga belum diberlakukan kembali. Orang-orang yang menyebut diri sebagai para progresif kini memiliki senjata efisien yang siap dikerahkan.  Untuk melakukan opresi terhadap para penulis, editor, penerbit, penjual buku, pencetak, pengiklan, dan pembaca, alat utama mereka adalah boikot.

Semua orang bebas untuk abstain–untuk tidak membaca buku, majalah, atau koran apapun yang tidak disukainya; semua orang bebas merekomendasikan kepada orang lain agar menjauhi buku, majalah, dan koran tertentu. Namun, bila seseorang mengancam orang lain dengan niat serius untuk membalas dendam oleh sebab orang yang diancam tersebut tidak mau berhenti melanggani publikasi atau penerbit tertentu, ini adalah perkara lain. Di banyak negara, penerbit-penerbit koran dan majalah merasa ngeri akan kemungkinan terjadinya boikot oleh serikat-serikat pekerja. Mereka menghindari diskusi terbuka tentang isu ini dan lalu diam-diam menyerah kepada apa-apa yang didikte oleh bos-bos serikat pekerja.[4]

Para pemimpin “buruh” ini jauh lebih sensitif ketimbang raja-raja imperial di abad-abad lalu. Mereka tidak bisa menerima guyonan. Tabiat mereka yang sensitif telah mendegradasi kualitas pementasan pertunjukan satir, komedi dan komedi musikal di teater-teater yang sah; karakter mereka telah mengutuki film hingga ke titik steril.

Di jaman ancien régime semua teater bebas memproduksi segala bentuk caci-maki Beaumarchais terhadap aristokrasi dan opera abadi Mozart. Di bawah kekaisaran kedua di Prancis, Grandduchess of Gerolstein karya Offenbach dan Halévy dapat memparodikan absolutisme, militerisme, dan kehidupan istana. Napoleon III sendiri dan beberapa raja Eropa lainnya menikmati drama yang membuat mereka tampak konyol. Di jaman Viktoria, sensor terhadap teater di Inggris, Lord Chamberlain, tidak menghalangi pertunjukan komedi musikal Gilbert and Sullivan yang memperolok semua institusi terhormat dalam sistem pemerintahan Inggris. Tuan-tuan tanah bangsawan tetap memenuhi kotak-kotak tempat duduk mereka sementara di panggung Earl of Montararat menyanyikan: “The House of Peers made no pretence to intellectual eminence.”*)

Di jaman kita sekarang mustahil memparodikan penguasa di pentas pertunjukan. Refleksi yang tidak menghormati serikat buruh, koperasi, BUMN, defisit anggaran, dan fitur-fitur lain dari negara kesejahteraan, tidak bisa ditolerir. Bos-bos perserikatan dan para birokrat adalah “orang-orang suci”. Yang tersisa bagi komedi adalah topik-topik yang menjadikan pertunjukan operetta atau dagelan Hollywood tontonan yang memuakkan.

5. FANATISME KELOMPOK LITERATI

Pengamat yang berpikiran dangkal, dalam pengamatannya terhadap ideologi-ideologi dewasa ini, akan mudah luput dalam mengenali kefanatikan yang meruak di pihak para pencetak opini dan pembangun intrik politik yang siap membungkam siapa saja yang menyuarakan ketidaksetujuannya. Tampaknya ada ketidaksepahaman dalam memandang isu-isu mana yang dianggap penting. Komunis, sosialis dan intervensionis dan berbagai sekte serta aliran partai-partai ini saling bertikai sedemikian hebatnya sehingga pusat perhatian mereka semakin beralih menjauhi dogma-dogma fundamental yang mereka sepakati bersama. Di sisi lain, para pemikir, yang jumlahnya tidak banyak tetapi masih menyandang keberanian untuk mempertanyakan dogma-dogma tersebut, dapat dikatakan diperlakukan sebagai kriminal, sehingga gagasan-gagasan mereka tidak dapat menjangkau publik pembaca. Mesin hebat propaganda dan indoktrinasi “progresif” berhasil dengan baik menegakkan hal-hal yang tabu.

Ortodoksi yang intoleran dari aliran pemikiran yang menyebut diri sebagai “non-ortodoks” tersebut mendominasi latar. Dogmatisme yang konon “non-ortodoks” itu sendiri adalah campuran kontrakdiktif dan kacau dari berbagai doktrin yang tidak berkompatibel. Dia adalah eklektisisme dalam bentuk terburuknya, kumpulan berbagai kerancuan yang dipinjam dari aneka kekeliruan pikiran dan miskonsepsi yang sudah lama dipatahkan. Termasuk di sini adalah serpihan argumentasi dari banyak penulis sosialis, baik yang tergolong “utopian” maupun yang “ilmiah a la Marxis”, dari kelompok-kelompok Historisis Jerman,  Fabian, Institusionalis Amerika, Sindikalis Prancis, hingga Teknokrat. Eklektisisme ini terus mengulangi kekeliruan-kekeliruan pandangan Godwin, Carlyle, Ruskin, Bismarck, Sorel, Veblen dan sejumlah penulis lain yang kurang dikenal.

Dogma fundamental kredo ini dengan lantang menyatakan bahwa kemiskinan adalah hasil dari institusi-institusi sosial yang bengis. Dosa asali penyebab terlemparnya kemanusiaan dari kehidupan yang penuh kenikmatan di Taman Firdaus adalah berkat ditegakkannya hak milik dan perusahaan swasta. Kapitalisme semata melayani kepentingan egois para pemeras yang ganas. Dia merundung nasib manusia-manusia yang luhur sehingga pemiskinan dan degradasi terus meningkat. Apa yang dibutuhkan untuk memakmurkan semua orang adalah menjinakkan para pemeras yang rakus tersebut melalui dewa hebat bernama Pemerintah. Motif “melayani” harus menggantikan motif “keuntungan”.  Untunglah, kata mereka, tidak akan ada satu intrik atau kebrutalan apapun,  di pihak para ekonom yang mengerikan sebagai “pendukung sang raja”, yang mampu merepresi gerakan reformasi. Kedatangan rejim pemerintahan sentral tidak dapat dicegah. Ketika saat tersebut tiba, akan terciptalah keberlimpahan dan kemakmuran bagi semua. Mereka yang bersemangat untuk mempercepat transformasi besar ini menyebut diri sebagai kaum “progresif”, atas pretensi mewujudkan apa yang menjadi hasrat bersama dan sejalan dengan evolusi hukum-hukum historis yang tidak bisa dihentikan. Dalam pandangan mereka, setiap upaya untuk mencegah terjadinya apa yang mereka sebut sebagai kemajuan adalah kesia-siaan. Orang-orang yang berkomitmen menghentikan “kemajuan” tersebut mereka juluki sebagai reaksionaris.

Dari sudut pandang dogma-dogma ini, para progresif mengadvokasikan sejumlah kebijakan yang, dalam pretensi mereka,  dapat dengan seketika menghapuskan penderitaan massa. Mereka merekomendasikan, antara lain, agar ekspansi kredit serta peningkatan jumlah uang-beredar dan tingkat upah minimum dilegislasikan dan diberdayakan melalui pemerintah atau tekanan serikat pekerja; melalui jalan kekerasan, pengendalian harga sewa/barang, dan cara-cara intervensionis lainnya. Namun para ekonom telah menunjukkan bahwa “obat” semacam itu tidak akan membawa perekonomian kepada hasil-hasil sebagaimana yang dijanjikan oleh para pengusul kebijakan-kebijakan tersebut. Justru hasilnya, bahkan jika dilihat dari sudut pandang mereka yang merekomendasikan dan menggantungkan diri pada kebijakan-kebijakan tersebut, akan jauh lebih parah, jauh lebih tidak memuaskan ketimbang kondisi-kondisi awal sebelum kebijakan-kebijakan tersebut ditempuh. Ekspansi kredit akan menimbulkan sejumlah krisis ekonomi dan periode depresi yang berulang. Inflasi akan membuat semua harga barang dan jasa meningkat. Upaya untuk menaikkan tingkat upah di atas tingkat pasar bebas akan menimbulkan pengangguran massal yang berkepanjangan dari tahun ke tahun. Penetapan harga maksimum akan menghasilkan anjloknya suplai produksi dari setiap barang yang terkena kebijakan tersebut. Para ekonom telah membuktikan teorema-teorema tersebut dalam cara yang tidak terbantahkan. Tidak ada seorang ekonom gadungan pun, dari kalangan “progresif”, yang pernah mencoba membantah teorema-teorema tersebut.

Tuduhan esensial yang dilontarkan oleh para progresif kepada kapitalisme adalah bahwa keberulangan krisis, depresi dan penggangguran massal adalah ciri-ciri yang melekat dalam kapitalisme. Namun, demonstrasi yang memperlihatkan bahwa fenomena-fenomena ini, justru sebaliknya, merupakan akibat dari upaya-upaya intervensionis dalam meregulasi kapitalisme dan mencoba meningkatkan kondisi kemanusiaan pada umumnya, memberikan pukulan terakhir kepada ideologi progresif. Mengingat para progresif tidak berada dalam posisi untuk mengemukakan keberatan apapun yang berarti terhadap tilikan-tilikan para ekonom, mereka mencoba menyembunyikan semua ini dari khalayak, dan terutama dari intelektual dan mahasiswa. Menyebut-nyebut hal yang murtad ini dilarang keras. Para penulis yang mencoba menyampaikannya dicaci-maki, dan para siswa dinasehati untuk tidak membaca “hal-hal yang gila”.

Dalam pandangan para dogmatis progresif terhadap duduknya perkara, terdapat dua kelompok manusia yang baku-selisih tentang seberapa besar porsi masing-masing yang pantas mereka peroleh dari “pendapatan nasional”. Kelas pemilik properti, pengusaha dan kapitalis, yang sering mereka sebut sebagai “manajemen”, tidak bersedia menyisakan kepada para “buruh” (penerima upah dan karyawan) kecuali sedikit saja di atas kebutuhan dasar agar mereka dapat bertahan hidup. Para buruh, yang sebagaimana mudah dipahami menjadi kesal atas ketamakan manajemen, cenderung bersedia mendengarkan suara para radikal, yakni para komunis yang ingin sepenuhnya mengambil alih manajemen. Namun demikian, mayoritas kelas pekerja cukup moderat untuk tidak termakan oleh radikalisme yang eksesif. Mereka menolak komunisme dan bersedia menerima bagiannya kendati lebih sedikit daripada total “gaji buta” hasil sitaan. Mereka mengarah kepada solusi jalan-tengah, perencanaan, negara kesejahteraan, dan sosialisme. Dalam kontroversi ini para intelektual yang konon tidak tergolong ke dalam dua kamp yang berselisih tersebut diandalkan sebagai penengah. Mereka-para profesor, wakil dunia  ilmu pengetahuan, wakil dunia kesusastraan, dan penulis-harus menjauhi semua ekstrimis di kedua lini tersebut, yaitu mereka yang merekomendasikan kapitalisme dan mereka yang mengadvokasikan komunisme. Para arbitrer ini harus berpihak kepada yang moderat. Mereka harus mendukung perencanaan, negara kesejahteraan, sosialisme, dan semua cara yang dirancang untuk memangkas ketamakan manajemen untuk mencegahnya agar tidak menyalahgunakan kekuatan ekonomi mereka.

Kita  tidak perlu memasuki kembali analisis yang mendetil tentang semua kekeliruan dan kontradiksi yang terimplikasi di dalam cara berpikir demikian. Kita cukupkan saja dengan mencerna tiga kesalahan fundamental berikut ini.

Pertama: Konflik ideologis yang hebat di jaman kita bukanlah untuk memperjuangkan distribusi “pendapatan nasional”.  Dia bukan pertikaian antara dua kelas yang saling bernafsu merenggut sebesar mungkin porsi masing-masing dari jumlah total yang tersedia untuk didistribusikan. Konfliknya adalah beryoa ketidaksepahaman mengenai pilihan sistem organisasi perekonomian masyarakat yang paling memadai. Pertanyaannya adalah, yang mana dari kedua sistem tersebut-kapitalisme atau sosialisme-yang lebih menjamin tingkat produktivitas yang lebih tinggi dari upaya manusia untuk meningkatkan standar kehidupan. Pertanyaannya, juga, adalah apakah sosialisme dapat dianggap sebagai pengganti kapitalisme; apakah setiap pelaksanaan kegiatan produksi secara rasional, mis. berdasarkan pada kalkulasi ekonomi, dapat dicapai di bawah kondisi-kondisi sosialis.  Kefanatikan dan dogmatisme kaum sosialis mewujud dalam kenyataan bahwa mereka secara keras kepala menolak mengkaji persoalan-persoalan ini. Bagi mereka, harus disimpulkan bahwa kapitalisme adalah hal terburuk dari yang paling buruk dan sosialisme adalah inkarnasi dari segala sesuatu yang baik.  Setiap upaya untuk menganalisis problem-problem ekonomi di negara persemakmuran yang sosialis dianggap sebagai kriminalitas tingkat lèse majesté.*) Sebagaimana kondisi-kondisi yang mengemuka di negara-negara Barat tidak mengijinkan pelikuidasian terhadap para pembangkang dalam cara yang berlaku di Rusia, mereka mencela dan memburuk-burukan kondisi-kondisi tersebut, melontarkan kecurigaan kepada motif-motif mereka serta memboikot mereka.[1]

Kedua: Tidak ada perbedaan ekonomi antara sosialisme dan komunisme.  Kedua istilah ini, sosialisme dan komunisme, menunjuk kepada sistem yang sama bagi sistem pengorganisasian perekonomian masyarakat, mis.  kontrol pemerintah terhadap cara-cara produksi sebagai yang berbeda dari pengendalian cara-cara produksi di tangan swasta, atau cara kapitalisme. Kedua istilah tersebut, sosialisme dan komunisme, bersinonim. Dokumen yang dianggap oleh para sosialis Marxis sebagai pondasi tak-tergoyahkan bagi kredo mereka disebut Manifesto Komunis. Di sisi lain, nama resmi bagi emporium komunis Rusia adalah Republik Sosialis Uni Soviet (Union of Soviet Socialist Republics atau U.S.S.R.).[2]

Antagonisme antara partai-partai komunis dan sosialis dewasa ini tidak berkenaan dengan tujuan akhir dari kebijakan-kebijakan mereka.  Antagonisme ini terutama mengacu kepada sikap para diktator Rusia dalam menaklukkan sebanyak mungkin negara-negara lain, terutama Amerika Serikat. Lebih jauh, dia mengacu pada pertanyaan apakah realisasi kontrol pemerintah terhadap cara-cara produksi harus dicapai melalui metode-metode konstitusional atau melalui pengambilalihan secara paksa dari tangan pemerintah yang berkuasa.

Istilah-istilah “perencanaan” dan “negara kesejahteraan” sebagaimana mereka dipergunakan dalam bahasa ekonom, negarawan, politisi dan orang lain juga tidak menunjuk kepada sesuatuyang ebrbeda dari tujuan final sosialisme dan komunisme. Perencanaan berarti bahwa rencana pemerintah harus menggantikan rencana-rencana setiap penduduk. Dia berarti bahwa keleluasaan dalam mengerahkan modal oleh para entrepreneur dan kapitalis sesuai dengan rancanan mereka sendiri dilucuti dan merek diharuskan untuk mematuhi tanpa syarat segala perintah yang dikeluarkan oleh badan atau kantor perencanaan sentral. Ini sama saja dengan mentransfer kendali dari para enterpreneur dan kapitalis kepada pemerintah.

Oleh karena itu, adalah kesalahan besar jika sosialisme, perencanaan, atau negara kesejahteraraan dianggap sebagai solusi-solusi bagi persoalan pengorganisasian perekonomian masyarakat yang akan berbeda dari cara komunis dan yang harus diperkirakan sebagai “tidak terlalu absolut” atau “tidak terlalu radikal.” Sosialisme dan perencanaan bukanlah antidot bagi komunisme sebagaimana diyakini oleh banyak orang. Seorang sosialis lebih moderat daripada seorang komunis sejauh ia tidak menyerahkan dokumen-dokumen rahasia negaranya kepada agen-agen Rusia dan tidak membuat plot untuk membubuh borjuis anti-komunis. Ini, tentu, perbedaan yang sangat penting.  Namun, hal ini tersebut tidak memiliki referensi apapun kepada tujuan ultimat tindakan politis.

Ketiga: Kapitalisme dan sosialisme adalah dua pola berbeda dari pengorganisasian sosial. Kontrol swasta terhadap cara-cara produksi dan kontrol pemerintah terhadapnya adalah dua gagasan yang kontradiktif dan tidak semata berkontas. Perekonomian campuran itu semata tidak ada, sistem yang terletak di tengah-tengah antara kapitalisme dan sosialisme.  Mereka yang mengadvokasikan apa yang secara salah diyakini sebagai solusi jalan tengah tidak merekomendasikan kompromi antara kapitalisme dan sosialisme, melainkan pola ketiga yang memiliki ciri-ciri tersendiri dan harus dinilai sesuai dengan nilai keunggulan masing-masing. Sistem ketiga ini yang para ekonom sebut sebagai intervensionisme tidak menggabungkan, sebagaimana yang diklaim oleh para champions-nya, beberapa fitur dari kapitalisme dengan dengan beberapa fitur sosialisme. Hal ini amat berbeda dari masing-masing dari mereka [isme-isme tersebut].  Para ekonom yang mendeklarasikan bahwa intervensionisme tidak akan mencapai tujuan-tujuan yang menurut para pendukungnya akan dicapai melainkan justru memperburuk keadaan-bukan dari sudut pandang para ekonom itu sendiri, melainkan dari sudut pandang mereka yang mengadovokasikan intervensionisme-bukanlah orang yang tidak kenal kompromi dan ekstrimis. Mereka semata menggambarkan konsekuensi-konsekuensi yang tak terhindarkan dari intervensionisme.

Ketika Marx dan Engels di dalam Manisfesto Komunis mengadvokasikan tindakan-tindakan intervensionis tertentu, mereka tidak bermaksud merekomendasikan sebuah kompromi antara sosialisme dan kapitalisme.  Mereka menganggap tindakan-tindakan tersebut-secara insidentil, tindakan-tindakan yang sama yang dewasa ini merupakan esensi dari kebijakan-kebijakan New Deal dan Fair Deal policies-sebagai langkah-langkah pertama menuju pendirian komunisme sepenuhnya. Mereka sendiri mendeskripsikan tindakan-tindakan ini sebagai tindakan-tindakan yang “secara ekonomi tidak memadai dan tidak bisa dipertahankan,” dan meminta mereka hanya karena mereka ” di dalam perjalanan pergerakan akan mengelupas dengan sendirinya, yang mengharuskan terpatrinya jalan-jalan di atas tatanan sosial lama, dan unavoidable sebagai cara yang merevolusi modus produksi.”

Dengan demikian filsafat sosial dan ekonomi kelompok progresif adalah permohonan terhadap sosialisme dan komunisme.


[1] Dua kalimat terakhir ini tidak mengacu kepada tiga atau empat pengarang sosialis kontemporer kita yang-dengan amat terlambat dan dalam cara yang sangat tidak memuaskan-mulai menelaah problem-problem ekonomi yang diidap sosialisme. Tetapi mereka secara harfiah berlaku juga bagi semua sosialis lainnya sejak asal mula gagasan sosialis hingga di jaman kita.

[2] Tentang upaya-upaya Stalin untuk meciptakan perbedaan buatan antara sosialisme dan komunisme, bandingkan dengan Mises, Planned Chaos, Irvington-on-Hudson, 1947, hal. 44-46 (dicetak ulang dalam edisi baru Socialism, Yale University Press, 1951, hal. 552-553.)

[3] Lihat P. Martino dalam “Encyclopedia of the Social Science,” Vol. XV, hal. 537.

[4] Lihat J. Freeman, Introduction to Proletarian Literature in the United States, an Anthology, New York, 1935, hal. 9-28.

[5] Lihat W. E. Woodward (A New American History, New York, 1938, h. 608) dalam narasinya tetang bigrafi seorang pebisnis yang mendanai sebuah Seminari Teologisy.

[6] Lihat analisis cemerlang John Chamberlain, The Businessman in Fiction (Fortune, November 1948, hal. 134-148.)

Kirim artikel ini:
Share on FacebookTweet about this on TwitterShare on Google+Email this to someoneShare on RedditShare on StumbleUpon

Tulisan lain yang mungkin terkait:

Discussion

Comments are disallowed for this post.

  1. Dari sudut pandang dogma-dogma ini, para progresif mengadvokasikan sejumlah kebijakan yang, dalam pretensi mereka,  dapat <span style="text-decoration: line-through;">dengan seketika</span> menghapuskan penderitaan massa secara seketika.

    Posted by Admin | 27 August 2008, 7:48 am

Arsip Bulanan

Rekomendasi

buku_rothbard.jpg
Apa Yang Dilakukan Pemerintah Terhadap Uang Kita?; Oleh: Murray Newton Rothbard; PT. Granit, Yayasan Obor Indonesia; ISBN : 97897916217 -4-8; tersedia di toko-toko buku terdekat. (Intip cuplikannya).
alt text
Membela Kapitalisme Global; Oleh: Johan Norberg; FNS Jakarta; tersedia di toko-toko buku terdekat. (Baca resensinya di sini).
Economic  Activism Blogs - Blog Catalog Blog Directory
%d bloggers like this: