Asides

Belajar Teori dari Getuk Goreng Bu Rury

Beberapa waktu lalu STNK motorku “hilang”—alias tertukar. Saya mencarinya di rumah salah seorang teman. Tanpa sengaja saya mendapat pengalaman tentang Getuk Goreng berikut ini.

Singkat cerita, saya disuguhi satu piring getuk goreng. Setelah bergurau mengenai “kasus” STNK-ku yang tertukar dengan STNK milik menantunya, tanpa sengaja beliau (Bu Rury) bercerita mengenai kesehariannya berjualan getuk goreng di pasar.

“To”, seru Bu Rury menyebut namaku, “kalau saya pulang dari pasar dan getuk saya ternyata masih sisa, biasanya saya tukar dengan ikan atau sayur-sayuran. Jadi kalau pulang saya tidak pernah membawa getuk sisa, tapi malah membawa sayur ataupun ikan”, beliau menjelaskan.

Kemudian saya bertanya, “Lho, ikan kan lebih mahal daripada getuk Bu?”. Kemudian beliau menjawab: “Ya, memang. Tapi penjual Ikan biasanya suka membawa oleh-oleh buat pakan ikannya”. ¬†Saya keceplosan, “Wah ikannya berarti makan getuk, ha, ha”.

Lha ini kok mirip dengan teori yang saya pelajari di bukunya Rothbard, dalam hati saya berdiskusi dengan diri sendiri.

Kemudian dengan sok jago teori—seperti biasanya—saya menjelaskan tentang teori subyektivitas nilai dari ilmu ekonomi. Rifky, anaknya yang paling bungsu mengangguk-ngangguk seolah-olah mengiyakan teori yang saya jelaskan.

Begini: setiap pertukaran di dalam pasar, seorang penukar masing-masing pasti mengharap keuntungan. Dalam contoh Bu Rury, ikan pada saat itu bagi Bu Rury lebih bernilai daripada getuk gorengnya sendiri. Begitu sebaliknya; bagi penjual-ikan yang tidak memiliki getuk goreng, getuk Bu Rury lebih bernilai daripada ikan yang dijualnya.

Maka nilai barang bagi masing-masing orang akan dinilai secara subyektif. Katakanlah Bu Rury menukarkan 5 getuk gorengnya dengan 1 ikan. Maka harga ikan bagi Bu Rury adalah seharga 5 getuk gorengnya. Dan rasio ini tidak berlaku mutlak bagi setiap kegiatan pertukaran. Adakalanya 10 getuk bisa dihargai 1 ekor ikan. Atau bisa jadi dua ekor ikan dihargai dengan dua getuk goreng Bu Rury.

(Apa yang menyebabkan perubahan-perubahan nilai masing-masing barang tersebut? Jawabnya ada pada teori tentang faedah marjinal—untuk teori tersebut, ini bukan menjadi pokok bahasan tulisan saat ini. Nanti akan saya tulis kalau ada waktu.)

Setelah saya bercerita panjang lebar mengenai sejarah ekonomi klasik dan hubungannya dengan Getuk goreng, saya beralih bergurau tentang cerita-cerita konyol lainnya.

Termasuk di sini cerita mengenai “eksploitasi buruh” oleh Bu Rury. Pasalnya, anak kedua Bu Rury (Achmad Chunaifi) sering harus susah payah bangun “pagi-pagi buta” untuk “ditindas” Ibunya menggoreng getuk. Ya saya dapat memaklumi, karena si Chun (yang juga teman sekelas saya) juga harus mengajar di sebuah lembaga Bimbingan Belajar ternama di Semarang. Jadi wajarlah kalau dia sering kelelahan dan cenderung malas-malasan untuk “dieksploitasi” oleh hegemoni ibunya. Jadi sangat wajar bila dia dijuluki “buruh” termalas di ¬†keluarga Bu Rury.

Ya, begitulah cerita singkat dari salah satu keluarga yang paling saya kagumi. Dan saya telah belajar banyak hal dari mereka, termasuk teori subyektivitas nilai. Salam.

Jurnal Kebebasan: Akal dan Kehendak
Vol. II, Edisi 44, Tanggal 27 Agustus 2008
Rubrik: Catatan Bawah
Oleh: Giyanto

Kirim artikel ini:
Share on FacebookTweet about this on TwitterShare on Google+Email this to someoneShare on RedditShare on StumbleUpon

Tulisan lain yang mungkin terkait:

Discussion

2 comments for “Belajar Teori dari Getuk Goreng Bu Rury”

  1. gimana bikin getuk goreng yg enak biar banyak pelangganya??? n usahanya gimana..

    Posted by syaarf | 11 September 2010, 9:48 pm
  2. gimana bikin getuk goreng yg enak.biar banyak pelanggan…….. n reaepnya yo… by;nak

    situwangi

    Posted by syaarf | 11 September 2010, 9:51 pm

Komentari

Arsip Bulanan

Rekomendasi

buku_rothbard.jpg
Apa Yang Dilakukan Pemerintah Terhadap Uang Kita?; Oleh: Murray Newton Rothbard; PT. Granit, Yayasan Obor Indonesia; ISBN : 97897916217 -4-8; tersedia di toko-toko buku terdekat. (Intip cuplikannya).
alt text
Membela Kapitalisme Global; Oleh: Johan Norberg; FNS Jakarta; tersedia di toko-toko buku terdekat. (Baca resensinya di sini).
Economic  Activism Blogs - Blog Catalog Blog Directory