Uncategorized

Pemanfaatan Pengetahuan Masyarakat (Bag. 1 dari 2)

Oleh: Friedrich August von Hayek
Jurnal Kebebasan: Akal dan Kehendak
Vol. I, Edisi 6, 30 Mei 2007

Problem apakah sebenarnya yang ingin kita pecahkan ketika kita mencoba membangun tatanan ekonomi yang rasional? Atas dasar sejumlah asumsi tertentu yang tidak asing lagi, jawabannya cukup sederhana. Jika kita memiliki semua informasi terkait, jika kita dapat memulai dari sistem preferensi yang ada, dan jika kita memiliki pengetahuan yang lengkap tentang cara-cara yang ada, maka problem yang tersisa hanyalah problem logis saja. Artinya, jawaban terhadap pertanyaan mengenai pemanfaatan-terbaik atas cara-cara yang tersedia tersebut sudah tersirat di dalam asumsi-asumsi tadi. Syarat-syarat yang mesti dipenuhi jawaban untuk problem-optimum ini sudah sepenuhnya dilakukan dan dapat dinyatakan paling baik dalam bentuk matematis. Syarat-syarat tersebut, dalam pernyataan paling singkat, adalah bahwa tingkat-tingkat marjinal substitusi antara dua komoditas atau dua faktor apapun harus memiliki nilai yang sama dalam semua manfaat mereka yang berbeda-beda.

Namun demikian, hal ini sama sekali bukan problem ekonomi yang dihadapi masyarakat. Dan kalkulus ekonomi yang telah kita kembangkan untuk memecahkan persoalan logis ini, meski memang merupakan langkah penting dalam pemecahan problem ekonomi masyarakat, belum memberikan jawaban untuknya. Alasannya adalah karena ”data” yang diperlukan untuk mengawali perhitungan kalkulus ekonomi tersebut tidak pernah, bagi seluruh masyarakat, ”tersedia” tunggal dalam satu benak seseorang yang dapat melaksanakan implikasi-implikasinya, dan tidak pernah dapat langsung tersedia.

Ciri khas problem dalam penataan perekonomian secara rasional ditentukan persis oleh fakta bahwa pengetahuan tentang lingkungan sekitar yang mesti kita buat tidak pernah tersedia dalam bentuk terpadu atau sudah terkonsentrasi, melainkan hanya berbentuk pecahan-pecahan pengetahuan yang tercecer, tidak lengkap dan seringkali kontradiktif, yang dimiliki masing-masing individu secara terpisah. Dengan demikian problem ekonomi masyarakat bukan hanya seputar cara untuk mengalokasikan sumber-sumber daya yang sudah “tersedia”—jika “tersedia” di sini diartikan sebagai tersedia di benak tunggal seseorang yang dengan sengaja bermaksud memecahkan serangkaian problem tersebut berdasarkan “data” ini. Problemnya adalah bagaimana memastikan penggunaan terbaik atas sumber-sumber daya yang dikenal oleh anggota-anggota masyarakat untuk berbagai tujuan yang nilai pentingnya relatif dan hanya dipahami oleh individu-individu tersebut. Singkatnya, persoalannya adalah seputar pemanfaatan pengetahuan yang tidak tersedia dalam totalitasnya bagi setiap orang.

Ciri dari problem yang fundamental tersebut akhir-akhir ini, alih-alih menjadi lebih jelas, sayangnya justru semakin menjauh dari pemahaman, akibat banyaknya penghalusan dalam teori ekonomi, terutama melalui banyak penelitian yang menggunakan matematika. Meskipun problem utama yang ingin saya soroti dalam makalah ini menyangkut pengelolaan ekonomi secara rasional, dalam prosesnya kelak saya akan terus dibawa untuk menunjukkan kaitannya yang erat dengan sejumlah pertanyaan metodologis tertentu. Banyak dari hal-hal yang ingin saya sampaikan memang merupakan kesimpulan tentang ke arah mana jalan pemikiran yang sebenarnya berbeda-beda menjadi terkorverjensikan secara tidak terduga. Namun, sebagaimana saya melihat problem-problem tersebut sekarang, hal ini bukan suatu kebetulan. Bagi saya, banyaknya perselisihan seputar teori ekonomi dan kebijakan ekonomi sepertinya berasal dari miskonsepsi yang sama tentang sifat-sifat problem ekonomi masyarakat. Miskonsepsi ini pada gilirannya disebabkan oleh kekeliruan kita dalam mentransfer kebiasaaan-kebiasaan pikiran yang telah kita kembangkan melalui pergumulan kita dengan fenomena alam, kepada fenomena sosial.

II

Dalam bahasa sehari-hari kata “perencanaan” kita gunakan untuk mendeskripsikan keputusan-keputusan rumit yang saling terkait seputar pengalokasikan sumber-sumber daya kita yang ada. Semua aktivitas ekonomi dalam pengertian ini adalah perencanaan; dan dalam masyarakat apapun di mana anggota-anggotanya berkolaborasi, perencanaan ini, terlepas dari siapa yang melakukannya, akan dalam banyak tindakan yang diambil akan harus didasari pada pengetahuan yang, sejak awal, tidak tersedia bagi perencana tersebut melainkan pada orang lain, yang pada akhirnya akan harus disampaikan kepada sang perencana tersebut. Berbagai cara penyampaian pengetahuan tersebut kepada perencana adalah problem yang krusial bagi setiap teori yang ingin menjelaskan proses ekonomi, dan problem mengenai cara terbaik dalam memanfaatkan pengetahuan tersebut yang sebelumnya ada tetapi tercecer di benak masing-masing orang, setidaknya merupakan salah satu problem utama dalam kebijakan ekonomi—atau dalam merancang sistem ekonomi yang efisien.

Jawaban atas pertanyaan ini terkait erat dengan pertanyaan lain yang muncul di sini, yaitu siapa pelaksana perencanaan itu. Di seputar pertanyaan inilah segala perselisihan tentang “perencanaan ekonomi” berkisar. Yang diperselisihkan bukan apakah perencanaan ekonomi perlu dilakukan atau tidak, melainkan apakah perencanaan harus dilakukan secara sentral oleh satu otoritas bagi seluruh sistem perekonomian, atau apakah harus tugas [tersebut] diserahkan kepada banyak individu. Makna istilah perencanaan secara khusus, sesuai penggunaannya dalam kontroversi kontemporer, pasti berarti perencanaan oleh pusat—proses pengarahan sistem perekonomian secara keseluruhan melalui satu rencana terpadu. Tandingannya, di sisi lain, adalah perencanaan yang terdesentralisasi secara terpisah dan dilakukan oleh banyak orang. Jalan tengah di antara keduanya, yang sering dibicarakan oleh banyak orang tetapi hanya sedikit sekali yang senang jika melihatnya, adalah pendelegasian urusan perencanaan kepada industri-industri yang terorganisir, atau, dalam perkataan lain, kepada monopoli.

Sistem mana yang mungkin lebih efisien tergantung terutama pada jawaban atas pertanyaan ini: dari pihak manakah manfaat yang lebih penuh tentang pengetahuan yang tersedia, dapat kita harapkan. Dan ini, pada gilirannya, tergantung pada apakah keberhasilan lebih dimungkinkan jika kita menyerahkannya kepada sebuah otoritas yang tunggal semua pengetahuan yang harus dipakai tetapi pada awalnya terdapat pada individu-individu yang berbeda, atau dalam menyampaikan kepada para individual pengetahuan tambahan semacam itu yang dibutuhkan para individu tersebut agar mampu mencocokkan rencana mereka dengan rencana pihak lain.

III

Pada titik ini posisinya akan berbeda dan akan segera terlihat dalam kaitannya dengan berbagai macam pengetahuan; dan dengan demikian jawaban pertanyaan kita akan banyak membangkitkan nilai penting relatif dari macam-macam pengetahuan yang berbeda—pengetahuan yang amat mungkin terdapat pada individu-individu tertentu, dan pengetahuan yang dengan keyakinan besar dapat kita harapkan dimiliki oleh sebuah otoritas yang terdiri dari para pakar yang terpilih secara sesuai. Jika dewasa ini diasumsikan secara luas bahwa pihak terakhir berada dalam posisi yang lebih baik, hal ini karena satu jenis pengetahuan, yaitu pengetahuan ilmiah, menempati tempat utama yang begitu tinggi dalam imajinasi public sehingga kita cenderung melupakan bahwa pengetahuan ilmiah bukanlah satu-satunya jenis pengetahuan yang relevan. Memang boleh diakui bahwa, sejauh menyangkut pengetahuan ilmiah, sejumlah pakar yang dipilih dengan baik mungkin berada dalam posisi terbaik untuk mengerahkan semua pengetahuan terbaik yang tersedia—meskipun hal ini tentunya hanya menggeser persoalannya ke persoalan seputar pemilihan para pakar. Yang hendak saya tunjukkan adalah bahwa, bahkan dengan mengasumsikan bahwa problem ini dapat diatasi, hal ini hanya sebagian kecil saja dari problem yang lebih luas.

Di jaman sekarang, menyatakan bahwa pengetahuan ilmiah bukan jumlah total semua pengetahuan hampir sama artinya dengan melakukan pembangkangan. Tetapi dengan sedikit refleksi saja akan terlihat bahwa tidak terpungkiri adanya sejumlah pengetahuan yang sangat penting yang tidak terorganisir, dan yang tidak memungkinkan disebut sebagai pengetahuan ilmiah dalam artian umum, yaitu: pengetahuan tentang keadaan-keadaan seputar waktu dan tempat. Dalam hal inilah setiap orang praktis memiliki sejumlah keuntungan dari orang lain karena ia memiliki informasi unik yang manfaatnya dapat dibuat/diciptakan, tetapi manfaat ini hanya dapat diperoleh jika keputusan-keputusan yang tergantung padanya diserahkan kepada orang tersebut atau diambil dengan melibatkan kerjasamanya secara aktif. Kita hanya perlu mengingat betapa banya yang harus kita pelajari dalam setiap jenis pekerjaan setelah kita menyelesaikan pelatihan teoritis kita, betapa besar bagian dalam kehidupan pekerjaan harus kita habiskan untuk mempelajari pelajaran-pekerjaan tertentu, dan betapa berharganya dalam semua jenis pekerjaan asset yang berupa pengetahuan manusia, tentang kondisi-kondisi setempat, dan tentang keadaan-keadaan khusus. Untuk mengetahui dan menggunakan sebuah mesin yang belum/tidak dioperasikan secara penuh, atau keterampilan seseorang yang akan lebih berguna jika dimanfaatkan, atau untuk menyadari stok yang surplus yang dapat ditarik selama terjadinya gangguan dalam persediaan, adalah secara social sama bergunanya sebagaimana pengetahuan tentang teknik-teknik alternatif yang lebih baik. Dan seorang pengirim barang lewat laut yang mencari nafkah dengan memanfaatkan rute yang tidak dilalui orang, atau separuh terpakai dengan kapal pukat, atau seorang agen real-estate yang pengetahuannya mengandalkan peluang-peluang yang sifatnya temporer, atau seorang pelaku arbitrase yang memeroleh keuntungan dari perbedaan-perbedaan lokal dari harga-harga komoditas, semuanya melaksanakan fungsi-fungsi yang berguna berdasarkan pengetahuan khusus tentang keadaan sekitar dalam konteks temporal yang berlalu dengan cepat dan tidak diketahui oleh pihak-pihak lain.

Adalah kenyataan yang menarik bahwa pengetahuan semacam kini biasanya dipandang rendah dan remeh, dan bahwa siapa saja yang dengan pengetahuan semacam itu mendapat keuntungan yang lebih besar daripada seseorang yang diperlengkapi secara lebih baik dengan pengetahuan teoritis atau teknis, dianggap telah melakukan tindakan tercela. Memeroleh keuntungan dari pengetahuan yang lebih baik atas fasilitas-fasilitas komunikasi atau transportasi kadang-kadang nyaris dianggap sebagai kecurangan, padahal ini sama pentingnya dengan pandangan bahwa masyarakat harus dapat memanfaatkan peluang terbaik dalam memanfaatkan temuan-temuan ilmiah terkini. Prasangka ini telah cukup banyak memengaruhi sikap terhadap perniagaan secara umum dibandingkan dengan terhadap produksi. Bahkan ekonom-ekonom yang menganggap diri mereka kebal terhadap kesalahan lama yang materialis dan kasar masih terus melakukan kesalahan serupa sejauh menyangkut kegiatan-kegiatan yang mengarah pada perolehan pengetahuan praktis semacam—tampaknya karena dalam skema mereka semua pengetahuan semacam ini dianggap sudah “tersedia”. Dalam pandangan umum dewasa ini, sepertinya semua pengetahuan semacam itu harus sudah tersedia dan dapat dimanfaatkan oleh setiap orang dengan sendirinya, dan bahwa tatanan ekonomi yang ada dituding sebagai hal yang irrasional seringkali didasari pada kenyataan bahwa hal tersebut tidak tersedia seperti itu. Pandangan ini mengabaikan fakta bahwa justru metode di mana pengetahuan tersebut dapat dibuat selebar mungkin adalah permasalahan yang jawabannya harus kita cari.

(Bersambung)

(Sumber: “Use of Knowledge in Society,” American Economic Review, XXXV, No. 4; September, 1945, hal. 519-30. Terjemahan Sukasah Syahdan. Hak cipta versi terjemahan Indonesia © 2007, Jurnal Kebebasan: Akal dan Kehendak dan Sançtuary Publishing.)

Kirim artikel ini:
Share on FacebookTweet about this on TwitterShare on Google+Email this to someoneShare on RedditShare on StumbleUpon

Tulisan lain yang mungkin terkait:

Discussion

Comments are disallowed for this post.

  1. […] A. Hayek dalam salah satu tulisannya yang terkenal, The Use of Knowledge for Society (1945), menyatakan bahwa pengetahuan tercecer di benak seluruh manusia. Tak seorangpun utuh […]

    Posted by Stiglitz dan Intervensionisme « AKAL & KEHENDAK | 24 August 2007, 9:35 pm

Arsip Bulanan

Rekomendasi

buku_rothbard.jpg
Apa Yang Dilakukan Pemerintah Terhadap Uang Kita?; Oleh: Murray Newton Rothbard; PT. Granit, Yayasan Obor Indonesia; ISBN : 97897916217 -4-8; tersedia di toko-toko buku terdekat. (Intip cuplikannya).
alt text
Membela Kapitalisme Global; Oleh: Johan Norberg; FNS Jakarta; tersedia di toko-toko buku terdekat. (Baca resensinya di sini).
Economic  Activism Blogs - Blog Catalog Blog Directory
%d bloggers like this: