buku

Mentalitas Anti-Kapitalistik (Bagian 7)

Jurnal Kebebasan: Akal dan Kehendak
Volume II Edisi 45, Tanggal 1 September 2008
Oleh: Ludwig von Mises

(Bagian 7)

(Kembali ke Bagian 6; atau ke Bagian 1)

6. NOVEL DAN DRAMA “SOSIAL”

Publik, dengan komitmen mereka terhadap gagasan-gagasan sosialis, menginginkan novel-novel dan drama-drama yang bersifat sosialis (“sosial”). Para penulis, yang juga terilhami gagasan-gagasan sosialis, siap menyajikan apa yang dibutuhkan. Mereka menggambarkan kondisi-kondisi yang tidak memuaskan, lalu mereka selundupkan sebagai konsekuensi-kapitalisme yang tak terhindarkan. Mereka menggambarkan kemiskinan, kepapaan, kebodohan, kekotoran serta aneka penyakit yang dialami oleh kelas-kelas yang tertindas di dalam masyarakat, sambil mencerca kemewahan, kebodohan dan korupsi moral dari kelas-kelas penindas. Di mata mereka, segala yang buruk dan konyol adalah borjuis; segala yang baik dan sublim, itu proletarian.

Pengarang-pengarang yang menyoroti kehidupan orang-orang yang didera kemiskinan terbagi atas dua kelas.  Pertama adalah kelas pengarang yang tidak pernah miskin, sebab dilahirkan dan dibesarkan di dalam lingkungan “borjuis” atau di dalam keluarga penerima upah atau petani yang cukup makmur, sehingga bagi mereka lingkungan di mana mereka menempatkan tokoh-tokoh novel dan drama mereka, merupakan lingkungan yang asing. Para penulis ini, sebelum memulai menulis, harus terlebih dulu mengumpulkan informasi tentang kelas-bawah  yang ingin mereka lukiskan.  Mereka memulai riset. Namun, tentu saja, mereka tidak mendekati subyek kajian mereka dengan benak yang terbebas dari bias. Mereka telah mengetahui sebelumnya apa yang bakal mereka temukan.  Mereka merasa yakin bahwa kondisi-kondisi yang dihadapi oleh para penerima upah itu amat rendah dan mengerikan secara tak terbayangkan. Mereka menutup mata bagi hal-hal lain yang tidak ingin mereka lihat; mereka mencari apa yang akan mengonfirmasikan opini-opini mereka yang telah terbentuk sebelumnya. Mereka telah mengenyam ajaran para sosialis bahwa kapitalisme adalah sistem yang memberi penderitaan yang luar biasa kepada masyarakat, dan bahwa semakin lama kapitalisme berlangsung dan mendekati kematangannya, semakin dahsyat pula jumlah mayoritas yang akan dimiskinkan. Novel-novel dan drama-drama mereka dirancang sebagai studi kasus untuk mendemonstrasikan dogma Marxis ini.

Apa yang salah dengan para pengarang ini bukanlah terletak pada kenyataan bahwa mereka telah memilih untuk memotret kenestapaan dan  kemiskinan. Seorang seniman akan dapat memperlihatkan kehebatannya dalam menangani subyek apapun.  Kesalahan besar mereka terletak pada misrepresentasi dan misinterpretasi mereka yang tendensius terhadap kondisi-kondisi sosial. Mereka gagal menyadari bahwa lingkungan yang mengejutkan yang mereka lukiskan adalah justru hasil dari absennya kapitalisme, sisa-sisa masa lampau pra-kapitalistik atau efek dari berbagai kebijakan yang menyabotase berlangsungnya kapitalisme. Mereka tidak memahami bahwa kapitalisme, yang memungkinkan produksi berskala besar untuk konsumsi masyarakat, pada esensinya adalah sistem yang justru dapat menghapuskan sebanyak mungkin kemiskinan. Para penulis tersebut menggambarkan penerima upah hanya dalam kapasitasnya sebagai pekerja pabrik saja, dan tidak pernah mengerahkan pikiran mereka kepada kenyataan, bahwa pekerja tersebut adalah juga konsumen utama dari barang-barang yang dibuatnya sendiri atau dari bahan makanan dan bahan-bahan mentah yang dipertukarkan dengan mereka.

Kegemaran penulis-penulis tersebut dalam menggeluti kenestapaan dan penderitaan lalu berubah menjadi skandal penyimpangan kebenaran saat mereka mengimplikasikan bahwa apa yang mereka laporkan adalah duduknya perkara yang khas akibat, dan representatif dari, kapitalisme. Padahal, data statistik yang menginformasikan produksi dan penjualan dari berbagai komoditas yang diproduksi dalam skala besar dengan jelas memperlihatkan bahwa umumnya para penerima upah tidaklah hidup dalam jurang penderitaan.

Figur ternama dalam aliran kesusastraan “sosial” adalah Émile Zola. Ia menetapkan pola yang kemudian diadopsi oleh sejumlah besar penulis lain yang bertalenta rendah dan menirukannya. Dalam pandangan Zola, seni terkait erat dengan sains. Seni harus didasari pada riset dan harus mengilustrasikan -temuan ilmu pengetahuan. Dan hasil utama ilmu pengetahuan sosial, sebagaimana dilihatnya, adalah dogma bahwa kapitalisme adalah kejahatan terburuk dan bahwa kedatangan sosialisme itu tidak terhindarkan dan justru sangat didambakan. Novel-novelnya “pada efeknya adalah kotbah panjang sosialis.”[1] Akan tetapi Zola, dalam hal prasangka dan semangat pro-sosialisnya, tidak lama kemudian dilampaui oleh kesusastraan “proletar” dengan keahlian serupa.

alt textEmily Zola, Art.com

Dalam pretensi para kritikus sastra yang “proletarian”, apa yang digeluti oleh pengarang-pengarang proletar adalah fakta-fakta murni pengalaman proletar semata.[2] Padahal, mereka tidak semata-mata melaporkan fakta-fakta. Mereka menginterpretasikan fakta-fakta tersebut dari sudut pandang ajaran-ajaran Marx, Veblen dan kelompok Webbs. Penafsiran ini adalah inti dari tulisan-tulisan mereka dan merupakan hal yang paling mengkarakterisasikan mereka sebagai propaganda pro-sosialis. Dalam anggapan para penulis ini, berbagai peristiwa yang didasari pada dogma-dogma tersebut sudah terjelaskan dengan sendirinya dan tak terbantahkan lagi; mereka juga meyakini sepenuhnya bahwa para pembaca juga merasakan keyakinan yang sama. Jadi, para penulis ini tampaknya seringkali merasa tidak perlu lagi mengeksplisitkan doktrin-doktrin tersebut. Mereka kadang hanya mengacu kepada doktrin-doktrin tersebut melalui implikasi. Namun, hal ini tidak mengubah fakta bahwa segala sesuatu yang mereka sampaikan di dalam buku-buku mereka tergantung pada validitas ajaran sosialis dan konstruksi-konstruksi pseudo-ekonomisnya. Fiksi mereka adalah ilustrasi ajaran-ajaran yang disampaikan oleh para fanatik anti-kapitalis dan turut runtuh bersama mereka.

Kelas kedua dari penulis-penulis fiksi proletar adalah mereka yang lahir di lingkungan proletar yang banyak dilukiskan di buku-buku mereka. Orang-orang ini telah melepaskan diri dari lingkungan para pekerja manual dan bergabung dengan manusia-manusia profesional. Mereka tidak seperti para penulis proletar yang berlatarbelakang “borjuis”, yang harus melakukan penelitian khusus untuk mempelajari sesuatu tentang kehidupan para penerima upah.  Mereka dapat melukiskannya berdasarkan  pengalaman mereka sendiri.

Pengalaman pribadi engajarkan mereka hal-hal yang secara gamblang mengontradiksikan dogma-dogma dalam kredo kaum sosialis. Putra-putri berbakat dan pekerja keras dari orang-orangtua yang hidup dalam kondisi sederhana tidak terhalang akses pada posisi-posisi yang lebih memuaskan. Para pengarang berlatarbelakang “proletar” berdiri sendiri sebagai saksi mata atas kenyataan ini. Mereka memahami mengapa mereka sendiri berhasil sementara kebanyakan saudara dan sahabat mereka gagal. Dalam perjalanan meningkatkan kualitas hidup mereka memiliki cukup banyak peluang untuk bertemu dengan pemuda-pemudi lainnya yang, sebagaimana mereka sendiri, bersemangat untuk belajar dan maju. Mereka mengetahui mengapa beberapa dari mereka berhasil menemukan jalan,  sementara lainnya tidak. Dengan menjalani hidup bersama para “borjuis” mereka menemukan bahwa apa yang membedakan orang-orang yang berhasil memeroleh uang banyak ketimbang sebagian lain yang berpenghasilan lebih rendah, bukanlah karena yang pertama disebut tadi itu cecunguk. Orang-orang tersebut tidak akan berhasil masuk ke aras kehidupan yang lebih tinggi ketimbang ketika mereka dilahirkan seandainya mereka sebegitu bodohnya sehingga tidak mampu melihat bahwa banyak pebisnis dan profesional yang telah membentuk diri mereka sendiri, sebagaimana halnya diri mereka, ternyata berawal sebagai orang-orang miskin. Mereka berhasil menyadari bahwa perbedaan dalam penghasilan disebabkan karena faktor-faktor yang lain, yang berbeda dari dugaan yang timbul akibat kekesalan kaum sosialis.

Jika para pengarang tersebut tetap menuliskan apa yang sebenarnya merupakan kotbah pro-sosialis, itu berarti mereka tidak tulus. Novel-novel dan drama-drama mereka tidak jujur dan dengan demikian tidak lain merupakan karya picisan. Karya-karya tersebut jauh di bawah standar buku-buku karangan kolega mereka yang berasal dari kalangan “borjuis”, yang setidaknya meyakini apa yang mereka tuliskan.

Para pengarang sosialis tidak cukup puas hanya dengan menggambarkan kondisi yang dialami para korban kapitalisme. Mereka juga menyoroti kehidupan dan sepak terjang pihak penerima keuntungan darinya, yaitu para pebisnis. Para penulis ini amat gigih dalam menyajikan kepada sidang pembaca bagaimana keuntungan berasal. Oleh karena mereka sendiri sebenarnya-puji Tuhan-tidak mengenal dengan baik perkara yang kotor tersebut, mula-mula mereka mencari informasi melalui buku-buku tulisan para sejarawan yang kompeten. Seperti inilah yang dikatakan kepada mereka oleh para pakar tersebut tentang para “gangster keuangan” atau “bangsawan perampok” serta cara-cara mereka mengumpulkan kekayaan: “Ia memulai karirnya sebagai penjual sapi, yang berarti ia telah membeli dagangannya dari peternak sapi dan membawanya ke pasar untuk ia jual. Ternak tersebut ia jual kepada tukang jagal secara kiloan. Sebelum ia pergi ke pasar, penjual ternak tersebut memberi sapi-sapinya garam dan sejumlah besar air minum.  Segalon air beratnya sekitar empat kilogram. Jadi, masukan saja tiga atau empat galon air ke perut sang sapi, dan Anda akan mendapatkan hasil ekstra begitu menjualnya.”[3] Dalam cara serupa ini berlusin-lusin novel dan drama melaporkan transaksi busuk yang dilakukan tokoh jahat dalam cerita mereka, yaitu pebisnis. Para tikun digambarkan menjadi kaya dengan menjual baja yang rapuh, makanan yang busuk, atau sepatu yang bersol kardus, atau sutra yang terbuat dari katun. Mereka menyuap para senator dan gubernur, hakim dan polisi. Mereka menyurangi para pelanggan dan pekerja mereka. Ceritanya, sungguh sangat sederhana.

Tidak pernah terpikir oleh para pengarang tersebut bahwa narasi mereka secara implisit menggambarkan bahwa selebihnya masyarakat Amerika sebagai orang-orang idiot yang gampang dikelabui. Trik yang disinggung di atas tentang sapi-sapi ternak yang dikembungi adalah metode tipuan tertua yang paling primitif. Hampir tidak bisa dipercaya sama sekali bahwa di belahan dunia ini ternyata masih ada pembeli yang cukup dungu untuk termakan olehnya. Mengasumsikan bahwa di Amerika Serikat masih terdapat tukang jagal seperti itu adalah mengharapkan terlalu banyak dari keluguan pembaca. Demikian pula halnya dengan semua fabel yang serupa itu.

Dalam hal kehidupan pribadi pebisnis, sebagaimana dilukiskan oleh para penulis “progresif”, ia adalah seorang barbar, penjudi dan pemabuk. Di siang hari ia menghabiskan waktu di trek balap atau pacuan; di senja harinya ia bersenang-senang di klub malam, dan di malam hari, dengan gundiknya. Sebagaimana Marx dan Engels tunjukkan dalam Manifesto Komunis, para “borjuis ini”, yang tidak puas dengan hanya mengawini istri-istri dan memiliki anak-anak proletar dengan sekehendak hati mereka, belum lagi kalau melibatkan para pelacur biasa, mendapat kesenangan terbesarnya dengan saling menggoda istri-istri sejawat mereka.” Seperti inilah cerminan bisnis Amerika di banyak bagian kesusastraan Amerika.[4]

(Bersambung)

(Kembali ke Bagian 6; atau ke Bagian 1)


[1] Periksa P. Martino in the “Encyclopedia of the Social Science,” Vol. XV, hal. 537.

[2] Bandingkan J. Freeman, Introduction to Proletarian Literature in the United States, an Anthology, New York, 1935, hal. 9-28.

[3] Lihat W. E. Woodward (A New American History, New York, 1938, hal. 608) dalam menarasikan biografi seorang usahawan penyandang dana Seminari Teologis.

[4] Lihat analisis yang cemerlang oleh John Chamberlain, The Businessman in Fiction (Fortune, November 1948, hal. 134-148.)

Kirim artikel ini:
Share on FacebookTweet about this on TwitterShare on Google+Email this to someoneShare on RedditShare on StumbleUpon

Tulisan lain yang mungkin terkait:

Discussion

No comments for “Mentalitas Anti-Kapitalistik (Bagian 7)”

Komentari

Arsip Bulanan

Rekomendasi

buku_rothbard.jpg
Apa Yang Dilakukan Pemerintah Terhadap Uang Kita?; Oleh: Murray Newton Rothbard; PT. Granit, Yayasan Obor Indonesia; ISBN : 97897916217 -4-8; tersedia di toko-toko buku terdekat. (Intip cuplikannya).
alt text
Membela Kapitalisme Global; Oleh: Johan Norberg; FNS Jakarta; tersedia di toko-toko buku terdekat. (Baca resensinya di sini).
Economic  Activism Blogs - Blog Catalog Blog Directory