buku

STOP PRESS: Penerbitan 2 Buku Penting oleh FNS Jakarta

Jurnal Kebebasan: Akal & Kehendak
Vol. II Edisi no. 45 Tanggal 1 September 2008
Oleh: Sukasah Syahdan

Dari sekian sedikit lembaga non-profit di negeri ini yang aktif mengedepankan gagasan liberalisme dan menjunjung tinggi kebebasan, salah satunya adalah Friedrich Naumann Stiftung fur die Freiheit (FNS), Jakarta.

Baru-baru ini, FNS menerbitkan sekaligus 2 (dua) buah pustaka kecil yang menarik dan penting sbb:

1)      Panduan Transformasi ke Perekonomian Pasar; dan,
2)      Prospek dan Masa Depan IMF: Lebih Kecil, Lebih Baik!

Berikut ulasan singkatnya. Di akhir artikel terdapat link bagi Anda yang tertarik memilikinya.

1. Panduan Transformasi ke Perekonomian Pasar

Penulis : Prof. Bibek Debroy
Penerbit: Liberal verlagh GmbH, Berlin 2007;
Penerjemah: Nad
ISBN 978-3-920590-23-3

Buku kecil tapi berjudul cukup nyaring ini (PANDUAN TRANSFORMASI KE PEREKONOMIAN PASAR) boleh jadi akan mengagetkan banyak orang, terutama mereka yang masih terus menimbang opsi-opsi ideologis tentang cara pengorganisasian terbaik bagi perekonomian.  Ini amat relevan bagi Indonesia, di mana wacana-wacana pasar bebas cenderung masih dipelototi, dicemberuti, atau minimal dicurigai– baiksecara diam-diam ataupun blak-blakan.

alt text

Buku ini berisi sejumlah hasil survei mutakhir yang dilakukan oleh berbagai think tank ternama di dunia, untuk memperlihatkan korelasi positif yang kuat antara hubungan kebebasan ekonomi dan politik dengan capaian perekonomian.

Lebih dari sekadar hasil survei,  penulisnya, Prof. Dr. Bibek Debroy dari Centre for Policy Research, secara ringkas namun meyakinkan menunjukkan mengapa pasar bebas harus dipeluk ketimbang dijauhi.  Bukan itu saja; Prof. Bibek juga coba memperlihatkan prinsip-prinsip praktis agar transformasi menuju perekonomian pasar dapat berlangsung sukses.

Ia menunjukkan contoh-contoh reformasi yang berhasil, seperti di Cili, Selandia Baru dan India.  Kesalahan yang dibuat Zimbabwe, yang menurut peringkat EFW tergolong negara yang paling tidak bebas di dunia, juga diperlihatkan.

Relevansi bagi Indonesia

Bagi Indonesia yang sejak 2000 telah melalui titik tanpa kembali lewat pilihat politiknya yang bernama desentralisasi, pembangunan nasional pada hakekatnya akan semakin bergerak menjauhi pusat. Dengan kata lain, daerah cepat atau lambat akan menjadi pusat-pusat pertumbuhan itu sendiri.  Relevansi buku ini dengan reformasi kepemerintahan yang terus berlangsung, amat tinggi.

Menurut Bibek, reformasi biasanya spesifik terhadap negara dan konteksnya masing-masing.  Jadi selalu tidak gampang menggeneralisasi, terutama dalam hal cara. Kiranya sudah cukup jelas bahwa kekuatan pasar dan kebebasan ekonomi yang lebih besar adalah hal yang baik bagi pembangunan, kemajuan dan kemakmuran.

Persoalan “bagaimana” melakukan reformasilah yang pelik. Untuk itu, berikut beberapa pesan Bibek:

Pertama, pendekatan yang bersifat big-bang, dapat lebih berhasil dalam kondisi tertentu. Inilah yang menyebabkan mengapa reformasi lebih mudah dilakukan ketika krisis ekonomi tengah terjadi.

Kedua, reformasi tidak dapat diasumsikan selalu positive-sum. Efeknya selalu melibatkan dimensi waktu. Dan oleh asebab biaya dan manfaat reformasi sama tak pastinya, akan terdapat perbedaan antara perolehan ex post dan ketakutan ex ante akan kegagalan.

Ketiga, kebutuhan (demand) terhadap reformasi penting diciptakan, alih-alih menunggu hingga reformasi ditempuh secara top-down dari sisi supply. Penyediaan advokasi dan penyebaran informasi merupakan hal yang sangat menentukan, sebagaimana juga penentuan saat yang tepat serta penahapannya  (sequencing).

Keempat, transisi ke perekonomian pasar merupakan suatu paket terpadu, sehingga pendekatan yang bersifat sepotong-demi-sepotong tidak akan berhasil.

Kelima, alih-alih berfokus pada cara yang siap-saji, upaya-upaya reformasi harus bersifat lentur agar dapat diadaptasi dan dimodifikasi dengan segera.

2. Prospek dan Masa Depan IMF: Lebih Kecil, Lebih Baik!

Penulis : Patrick Welter;
Pengantar: Milton Friedman
Penerbit: Berlin 2007;
Penerjemah: Nad
ISBN 978-3-920590-23-3;

Anda yang ingin membutuhkan informasi singkat namun cukup konklusif dari berbagai sudut pandang menyangkut sejarah singkat, peran serta prospek masa depan dari lembaga keuangan global terbesar di dunia, yaitu IMF, serta institusi “kembarannya” berupa Bank Dunia, maka tilikan-tilikan praktis dari buku kecil ini mungkin dapat memuaskan.

alt text

Diawali dengan gambaran historis institusi IMF, buku ini memberi sejumlah analisis “empiris” terhadap tujuan-tujuan awal yang hilang seiring dengan pertumbuhan institusi tersebut. Welter juga menyoroti sejumlah resep yang ditawarkanIMF-seperti cara-cara ekspansif untuk keluar dari krisis, penetapan penggunaan nilai tukar-uang yang fleksibel, serta sejumlah manuver Keynesian lainnya; yang efektivitas masing-masing disorotinya kembali.

Terhadap perkembangan peran dan efektivitas IMF sebagai pemadam kebakaran dewasa ini, apakah institusi ini sebaiknya direformasi atau dibubarkan saja?   Menurut Welter, pilihan yang lebih tepat adalah reformasi. Ia sarankan juga agar IMF semakin menjaga kelangsingan tubuhnya.  Dia tidak usah cari-cari tugas-tugas eksternal baru.

Namun, setelah menganalisis semua proposal reformasi dalam strategi jangka menengah dari institusi tersebut, Patrick menyimpulkan temuannya sbb:

“Secara keseluruhan, penilaian akhir terhadap strategi jangka menengah IMF menjadi jelas. Alih-alih menarik perhatian IMF kepada tugas-tugas intinya semula setelah pengalaman pahit dalam dasarwasa lalu, tugas-tugas baru bagi lembaga ini justru sedang dipersiapkan. Dalam konteks ini, mengingat IMF jelas diharapkan menjadi mediator di antara negara-negara anggotanya, uapaya-upaya untuk semakin mempolitisasi operasinya dapat diduga bakal terjadi. Institusi ini akan semakin menjauhi rasionalitas ekonomi dan semakin terseret ke perselisihan-perselisihan kebijakan ekonomi internasional.”  [Cetak tebal saya.]

Pembaca yang tertarik memiliki kedua buku tersebut, atau ingin mengetahui lebih banyak  lagi tentang penerbitan selanjutnya,  dapat langsung menghubungi Sdr. Muhammad Husni Thamrin di Kedai Kebebasan (Alamat: FNS Jl. Rajasa II no. 7, Kebayoran Baru, Jakarta 12110, Indonesia; tel. 021-7256012/13; atau lewat email juga boleh ke alamat ini ).   Di antara kita semua, Bung Thamrin inilah yang justru paling dulu dibuat “kesengsem” oleh buku-buku di atas.  Melalui penerbitan edisi bahasa Indonesia, ia ingin memastikan bahwa pesan-pesan penting di dalam keduanya dapat menjangkau pembaca Indonesia, termasuk Anda –bahkan Anda yang tinggal cukup jauh dari pusat pemerintahan.

Kirim artikel ini:
Share on FacebookTweet about this on TwitterShare on Google+Email this to someoneShare on RedditShare on StumbleUpon

Tulisan lain yang mungkin terkait:

Discussion

7 comments for “STOP PRESS: Penerbitan 2 Buku Penting oleh FNS Jakarta”

  1. Nad:
    “IMF=Bank Dunia”.

    Saya memang belum mengenal kedua institusi tersebut dengan jelas. Namun kelihatannya kedua institusi tersebut lahir dari sejarah yang “Cacat”. Dan ada permasalahan ketumpang tindihan peran dari keduanya. Sebagai dana pemberi hutang, Apa berbedaan antara Bank Dunia dan IMF?

    Seandainya kesimpulan buku Patrick Welter tersebut mengatakan bahwa IMF akan terseret pada kepentingan-kepentingan politik. Mengapa perannya seolah-olah menjadi penting. Apakah arti pentingnya menjadi ‘organisasi2’ pemaksa kebijakan bagi pemerintah untuk mengambil hutang, kemudian menjadikannya sebagai alat untuk memperluas kekuasaan pemerintah.

    Jadi menurut saya, keberedaan IMF bukannya menjadikan pasar menjadi lebih bebas, tapi keberadaannya akan semakin mengacaukan dalam upaya menciptakan ‘pasr’ yang lebih fair.

    Posted by Giy | 8 September 2008, 11:28 pm
  2. Bagi pembaca yang “paham” betul terhadap ekonomi pasar barangkali mereka akan lebih ‘kritis’ dalam membaca buku tersebut. Tapi, bagi yg sejak awal melihat pasar sebagai “iblis tanpa wajah”, Buku Patrick Welter akan membuat masyarakat semakin ketakutan memandang pasar bebas. Coz perspektif akademisi dan intelektual kita tidak jauh dari kerangka-kerangka politik. Penyakit-penyakit perspektif politik ini sudah berurat akar dari mahasiswa aktivis hingga profesor. Buktinya dari buku2 di toko buku kebanyakan berbau ‘sosialis’ dan juga wacana-wacana ‘sosialis’ di media massa.

    Entahlah…memang susah kalau membaca simpang siur paradigma keilmuwan kita.

    Posted by Giy | 9 September 2008, 12:04 am
  3. Giy: IMF, WB dan bank-bank sentral di seluruh dunia saling terkait satu sama lain.  Di RI, gedung IMF berada di dalam BI; di Washington, gedung pusat IMF dan WB berdiri berhadapan dengan jalan penghubung di bawah tanah. Kaitan program BI dan IMF jelas terlihat pada krisis lalu; program poverty reduction yang dianjurkan WB di mana-mana adalah hasil pengembangan program IMF.  Peran-peran mereka bagi pemerintah, jelas penting.  Kombinasi kiprah semua institusi super ini dipastikan akan merunyamkan konsepsi thd pasar.  Itu salah satu sebabnya pula buku IMF ini diterbitkan bareng dengan buku panduan ke pasar bebas. Salam.

    Posted by Nad | 9 September 2008, 6:43 am
  4. Kemaren buku kiriman dari FNS datang.. Trims untuk linknya..

    Posted by fade2blac | 24 September 2008, 10:08 pm
  5. Fade, trims atas kabarnya. Akhir tahun nanti FNS bakal terbitkan satu buku lagi yang jauh lebih 'dahsyat', dari segi isi dan penyampaiannya. Saya pribadi hampir tidak punya reservations thd sudut-pandang penulisnya. Untuk sementara judulnya belum bisa saya katakan; tapi link dan ulasannya akan saya postingkan.

    Posted by Nad | 26 September 2008, 5:33 am
  6. Nad, setelah saya baca semuanya, saya wajib memberikan apresiasi pada terjemahan Anda. Latar belakang saya bukan ekonomi, tapi hampir di semua terjemahan Anda yang saya baca, mudah dipahami. Tentang dua buku tersebut, saya agak kecewa pada Panduan Transformasi Pasar. Tadinya saya berharap akan menemukan pilar-pilar transformasi di bahas secara cukup, tapi hanya menemukan daftar rating. Memang disebut di sana beberapa parameter penilaian yang bisa dijadikan acuan, tapi hanya daftar saja. Buku tentang IMF lebih baik. Masukan aja ya.

    Posted by fade2blac | 8 October 2008, 8:28 pm
  7. Wah, saya senang banget. Terima kasih atas apresiasinya, fade2blac! Mohon maklum, masih ada typos di sana-sini–biasa, tidak dapat kesempatan proofing sebelum cetak.  Masukan Anda jeli juga; saya sependapat. Judulnya agak terlalu pretensius buat isinya.

    Posted by Nad | 9 October 2008, 9:14 am

Komentari

Arsip Bulanan

Rekomendasi

buku_rothbard.jpg
Apa Yang Dilakukan Pemerintah Terhadap Uang Kita?; Oleh: Murray Newton Rothbard; PT. Granit, Yayasan Obor Indonesia; ISBN : 97897916217 -4-8; tersedia di toko-toko buku terdekat. (Intip cuplikannya).
alt text
Membela Kapitalisme Global; Oleh: Johan Norberg; FNS Jakarta; tersedia di toko-toko buku terdekat. (Baca resensinya di sini).
Economic  Activism Blogs - Blog Catalog Blog Directory