Uncategorized

Pemanfaatan Pengetahuan Masyarakat (Bag. 2 – Tamat)

Oleh: Friedrich August von Hayek
Jurnal Kebebasan: Akal dan Kehendak
Vol. I, Edisi 6, 22 Juni 2007

IV

Jika di jaman sekarang ada kecenderungan untuk meminimkan pentingnya pengetahuan tentang kondisi khusus seputar waktu dan tempat, hal ini terkait erat dengan semakin rendahnya nilai penting yang diberikan kepada perubahan semacam itu. Memang, tidak banyak terjadi keadaan di mana asumsi-asumsi yang dibuat (biasanya secara implisit) oleh “para perencana” berbeda dari yang diambil lawan-lawan mereka sebagaimana terkait dengan signifikansi dan frekuensi perubahan yang akan mengharuskan perubahan substansial terhadap rencana-rencana produksi. Tentu saja, jika rencana-rencana ekonomi yang terperinci untuk periode yang cukup panjang dapat dipaparkan di muka dan kemudian diikuti dengan setia, sehingga keputusan-keputusan penting selanjutnya mengenai ekonomi tidak lagi diperlukan, maka tugas dalam menarik rencana komprehensif untuk mengelola aktivitas perekonomian akan menjadi lebih ringan.

Mungkin penting untuk ditekankan di sini bahwa persoalan ekonomi selalu muncul dan hanya muncul sebagai konsekuensi perubahan. Sejauh segala sesuatunya terus berlangsung sebagaimana sebelumnya, atau setidaknya, sebagaimana yang diharapkan terjadi, maka tidak akan muncul masalah baru yang memerlukan keputusan baru, tidak mengharuskan adanya rencana baru. Keyakinan bahwa perubahan, atau setidaknya penyesuaian harian dianggap kurang penting di jaman modern ini mengimplikasikan pandangan bahwa problem ekonomi telah menjadi kurang penting. Keyakinan tentang kurang-pentingnya nilai perubahan, dengan alasan tersebut, biasanya dipercaya oleh orang-orang yang juga berpandangan bahwa nilai penting pertimbangan ekonomis telah didorong ke latar belakang oleh semakin meningkatnya pengetahuan teknologis.

Apakah benar bahwa, dengan semakin canggihnya alat-alat produksi modern, keputusan ekonomi hanya diperlukan dalam interval-interval yang panjang saja, misalnya ketika pabrik baru akan didirikan atau proses baru diperkenalkan? Benarkah bahwa, ketika sebuah mesin pabrik dibangun, persoalan selanjutnya kurang-lebih hanya bersifat mekanis saja dan, tergantung pada karakter mesin tersebut, sehingga tidak diperlukan banyak perubahan untuk menyesuaikannya dengan lingkungan yang selalu berubah?

Jawaban afirmatif yang diyakini secara cukup luas, sejauh yang dapat saya pastikan, tidaklah berasal dari pengalaman praktis pengusaha. Dalam industri yang kompetitif dalam peringkat apapun—dan industri semacam itu sendiri dapat dijadikan tes—upaya menekan kenaikan biaya adalah tugas yang memerlukan perjuangan konstan, dan hal ini menyedot sebagian besar energi seorang manajer. Seberapa mudah bagi seorang manajer yang inefisien untuk menghalau faktor-faktor diferensial penentu laba, dan seberapa mungkin, dengan fasilitas teknis yang sama, ia dapat memproduksi dengan variasi biaya yang berbeda, hal-hal ini merupakan pengalaman biasa dalam bisnis yang tampaknya tidak dimengerti secara setara dalam kajian ekonom. Kuatnya keinginan untuk dapat meneruskan produksi tanpa terkendala oleh pertimbangan biaya uang, sebagaimana selalu disuarakan oleh para produsen dan para insinyur, adalah testimoni yang fasih tentang sejauh mana faktor-faktor ini memasuki pekerjaan mereka sehari-hari.

Satu alasan mengapa ekonom semakin cenderung melupakan perubahan-perubahan kecil yang secara konstan membentuk keseluruhan gambaran ekonomi barangkali adalah akibat ia semakin disibukkan dengan agregat-agregat statistik, yang memperlihatkan stabilitas yang lebih besar daripada pergerakan-pergerakan detilnya. Namun demikian, stabilitas komparatif dari agregat-agregat tersebut tidak dapat dijelaskan—sebagaimana yang terkadang cenderung dilakukan oleh para juru statistik—oleh “hukum angka besar” atau kompensasi mutual dari perubahan-perubahan yang acak. Jumlah elemen yang harus kita urus tidak cukup banyak bagi kekuatan-kekuatan kebetulan semacam itu untuk dapat menghasilkan stabilitas. Kesinambungan arus barang dan jasa dipertahankan melalui penyesuaian yang disengaja secara terus menerus, akibat adanya kecenderungan atau disposisi baru yang dibuat setiap hari atas dasar lingkungan yang belum diketahui di hari sebelumnya, di mana B akan masuk ketika A menemui kegagalan. Bahkan mesin yang besar dan sangat mekanis dapat terus bekerja karena lingkungan tempat mesin tersebut berada dapat menarik segala kebutuhan yang tak terduga; misalnya: genteng bagi atapnya, peralatan tulis bagi formulir-formulirnya dan seribu satu macam alat lain yang tidak dapat disediakan sendiri dan di mana rencana-rencana pengoperasian mesin tersebut harus tersedia di pasar.

Pada titik ini, barangkali, saya harus menyinggung secara singkat fakta bahwa jenis pengetahuan yang menjadi perhatian saya adalah pengetahuan yang jenisnya, atas dasar sifatnya, tidak dapat dijadikan statistik dan dengan demikian tidak dapat disampaikan kepada otoritas pusat manapun dalam bentuk statistik. Statistik yang dipakai oleh otoritas pusat memang benar harus didekati dengan jalan melakukan abstraksi dari perbedaan-perbedaan minor yang terdapat dalam berbagai hal, dengan menyatukan semuanya secara sekaligus, sebagai sumber-sumber daya yang sejenis, hal-hal yang berbeda dalam hal lokasi, kualitas, dan detil-tetil lainnya, dengan sebuah cara yang mungkin sangat signifikan bagi keputusan tertentu. Dari sini dapat dikatakan bahwa perencanaan sentral berbasis informasi statistik berdasarkan sifatnya tidak dapat secara langsung memperhitungkan kondisi lingkungan waktu dan tempat dan bahwa para perencana pusat akan harus mencari cara di mana keputusan yang mengandalkan hal-hal tersebut dapat diberikan kepada “orang yang tepat”.


V

Jika dapat kita sepakati bahwa problem ekonomi masyarakat terutama adalah beradaptasi secara cepat terhadap perubahan-perubahan yang terjadi dalam lingkup waktu dan tempat tertentu, ini berarti bahwa keputusan pada akhirnya harus diserahkan kepada orang-orang yang mengenal lingkup tersebut, yang mengetahui secara langsung perubahan-perubahan relevan dan sumber-sumber daya yang langsung tersedia untuk mengatasinya. Kita tidak dapat mengharapkan bahwa problem ini akan dipecahkan pertama-tama dengan mengkomunikasikan pengetahuan tersebut kepada badan sentral yang, setelah mengeintegrasikan semua pengetahuan, lalu mengeluarkan instruksi. Kita harus memecahkannya dalam semacam bentuk desentralisasi. Tetapi ini hanya menjawab sebagian dari masalah kita. Kita memerlukan desentralisasi karena hanya dengan demikian kita dapat memastikan bahwa pengetahuan terhadap lingkup waktu dan tempat khusus tersebut akan segera dapat digunakan. Tetapi “orang yang tepat ” tidak dapat memutuskan semata-mata atas dasar pengetahuannya yang terbatas tetapi intim tentang fakta-fakta di lingkungan sekitarnya. Masih tersisa problem bagaimana mengkomunikasikan kepadanya apa-apa yang ia perlukan agar keputusan-keputusannya selaras dengan keseluruhan pola perubahan darlam sistem ekonomi yang lebih besar.

Seberapa banyak pengetahuan diperlukannya agar ia dapat berhasil? Peristiwa mana di luar wawasan pengetahuannya yang relevan dengan keputusan langsung yang diambilnya, dan sebanyak apa ia perlu mengetahuinya?

Hampir tidak ada satupun yang terjadi di manapun di dunia ini yang tidak memiliki efek terhadap keputusan yang harus dibuat orang tersebut. Tetapi ia tidak perlu mengetahui peristiwa-peristiwa ini ataupun segala akibatnya. Tidak masalah baginya mengapa di suatu kesempatan sejumlah baut dalam ukuran tertentu diperlukan dan bukan dalam ukuran lain, mengapa tas yang terbuat dari kertas tersedia lebih banyak daripada yang berbahan kanvas, atau mengapa pekerja yang terampil, atau mesin tertentu, pada saat-saat tertentu lebih sulit diperoleh. Yang signifikan bagi orang tersebut adalah aproksimasi seberapa sulitnya memperoleh benda tersebut jika dibandingkan dengan benda-benda lain yang juga diperlukannya, atau seberapa mendesaknya alternatif benda yang ia hasilkan atau pergunakan. Pertanyaannya selalu berkisar tentang nilai penting relatif benda-benda tertentu yang ia perlukan atau pedulikan, dan sebab-sebab yang mengubah nilai-penting mereka bukanlah urusannya selain efek-efek terhadap benda-benda konkret tersebut dari lingkungan tempat orang tersebut berada.

Dalam kaitan inilah bahwa apa yang telah saya sebut sebagai “kalkulus ekonomi” dapat membantu kita, setidaknya melalui analogi, untuk melihat bagaimana probem ini dapat diatasi, dan dalam kenyataannya tengah diatasi, oleh sistem harga. Bahkan benak-tunggal sang pengontrol, yang memiliki semua data bagi sistem ekonomi yang kecil dan swasembada, tetap tidak akan—setiap kali muncul keharusan untuk melakukan penyesuaian kecil dalam alokasi sumber-sumber daya—memahami secara eksplisit semua hubungan antara tujuan (ends) dan cara (means) yang mungkin terpengaruh. Tentunya logika-murni yang dipilih telah berkontribusi secara hebat sebab hal tesebut telah mendemonstrasikan secara konklusif bahwa bahkan sang benak tunggal tersebut hanya akan dapat memecahkan problem jenis ini dengan mengkonstruksikan dan secara konstran menggunakan tingkat-tingkat persamaan (atau “nilai-nilai,” atau “tingkat marjinal substitusi”), yakni dengan jalan menempelkan bagi setiap jenis sumber daya yang langka satu indeks numerik yang tidak dapat diturunkan dari sifat-sifat apapun yang dimiliki oleh benda tertentu, tetapi yang merefleksikan, atau di mana di dalamnya dikondensasikan, nilai signifikan terhadap seluruh struktur cara-tujuan (means-ends) tersebut. Sekecil apapun perubahan yang terjadi, orang tersebut akan harus mempertimbangkan indeks (atau “nilai”) kuantitatif di mana semua informasi yang relevan terkonsentrasikan; dan, dengan menyesuaikan kuantitas-kuantitas ini secara satu per satu, ia dapat dengan benar menyusun kembali disposisi-disposisinya tanpa harus memecahkan keseluruhan teka-teki ab initio atau tanpa harus pada tingkat apapun mensurveinya sekaligus dalam segenap ramifikasinya.

Secara fundamental, dalam sistem di mana pengetahuan tentang fakta-fakta yang relevan disebarkan ke banyak orang, harga-harga dapat bertindak untuk mengkoordinasikan tindakan-tindakan terpisah dari orang-orang yang berbeda dalam cara yang sama sebagaimana nilai subyektif membantu setiap individu mengkoordinasikan bagian-bagian rencananya. Penting untuk dipikirkan sejenak peristiwa yang amat sederhana dan umum tentang sistem harga untuk dapat memahami dengan persis apa yang dapat dicapainya. Asumsikan bahwa di suatu tempat di dunia sebuah peluang baru untuk penggunaan bahan baku, katakanlah, timah, telah muncul, atau bahwa salah satu dari sumber timah telah habis. Tidak menjadi masalah untuk tujuan kita—dan adalah sangat signifikan bahwa hal ini tidak menjadi soal—yang mana dari dua penyebab ini yang telah menyebabkan kelangkaan timah. Semua yang perlu diketahui oleh para pengguna timah adalah bahwa sejumlah timah yang dulu mereka konsumsikan kini lebih menguntungkan untuk dipekerjakan di suatu tempat lain dan bahwa, sebagai konsekuensinya, mereka harus berhemat dengan timah. Mayoritas anggota masyarakat bahkan tidak perlu mengetahui di mana kebutuhan mendesak terjadi, atau untuk kebutuhan lain apa mereka harus menjaga persediaannya. Jika saja beberapa dari mereka mengetahui secara langsung tentang demand baru ini, dan mengalihkan sumber-sumber daya untuk itu, dan jika orang-orang tersebut menyadari bahwa kesenjangan baru yang tercipta ini pada gilirannya dipenuhi dari sumber-sumber lain, efeknya akan tersebar dengan cepat ke seluruh sistem perekonomian dan mempengaruhi tidak saja semua penggunaan timah tetapi juga semua substitusi timah, dan seterusnya; dan semua ini terjadi meskipun mayoritas mereka yang instrumental sebagai penyebab substitusi-subsitusi ini tidak mengetahui apa-apa tentang penyebab hakiki perubahan-perubahan ini. Semua pihak bertindak sebagai sebuah pasar, bukan karena salah satu anggotanya melakukan survei yang menyeluruh ke seluruh bidang, tetapi karena bidang-bidang terbatas yang menjadi visi mereka saling bertumpang-tindih secara memadai sehingga melalui sejumlah perantara informasi yang relevan dapat terkomunikasikan bagi semua. Fakta adanya satu harga bagi setiap komoditas apapun—atau bahwa harga-harga ditentukan dalam satu hal oleh ongkos transportasi, dll.—menghasilkan solusi yang (ini memungkinkan secara konseptual saja) mungkin diperoleh oleh satu benak pemilik segala informasi yang pada kenyataannya tercecer pada semua orang yang terlibat dalam proses tersebut.


VI

Kita dengan demikian harus melihat sistem harga sebagai mekanisme untuk mengkomunikasikan informasi jika kita ingin memahami fungsi nyatanya—fungsi yang tentu akan bekerja kurang sempurna jika harga-harga menjadi lebih tidak lentur (rigid). (Bahkan ketika harga-harga yang dikutip telah menjadi tidak lentur, daya atau kekuatan yang akan beroperasi melalui perubahan-perubahan harga masih tetap akan bekerja dalam tingkat tertentu melalui perubahan dalam hal-hal lain di dalam kontrak tersebut). Fakta yang paling signifikan tentang sistem ini adalah ekonomi pengetahuan yang dengannya ia beroperasi, atau betapa sedikitnya yang perlu diketahui oleh peserta individual agar dapat mengambil tindakan yang tepat. Dalam bentuk singkatnya, dalam sejenis simbol, hanya informasi yang paling esensial saja yang akan diteruskan hanya kepada pihak-pihak yang peduli. Lebih dari sekadar metafor, sistem harga dapat digambarkan sebagai mesin untuk meregistrasi perubahan, atau sistem telekomunikasi yang memungkinkan produsen individual untuk mengawasi hanya pergerakan beberapa unsur saja, sebagaimana seorang insinyur akan mengawasi sejumlah tungkai tuas saja dalam menyesuaikan aktivitas terhadap perubahan yang mungkin tidak pernah mereka ketahui selain yang tercermin dalam pergerakan harga.

Tentu, penyesuaian-penyesuaian ini mungkin tidak pernah “sesempurna” yang dibayangkan ekonom dalam analisisnya tentang ekuilibrium. Namun, yang saya takutkan adalah bahwa kebiasaan teoritis kita dalam mendekati problem tersebut dengan asumsi [adanya] pengetahuan yang kurang-lebih sempurna dalam hampir semua orang, telah membuat kita agak buta terhadap fungsi sejati mekanisme harga, dan telah membimbing kita untuk menerapkan standar yang keliru dalam menilai efisiensinya. Yang hebat adalah bahwa dalam kasus seperti kelangkaan satu jenis bahan baku, tanpa adanya perintah, tanpa lebih dari barangkali segelintir orang yang mengetahui penyebabnya, puluhan ribu orang lain yang identitasnya tidak dapat dipastikan meskipun melalui berbulan-bulan penyelidikan, akan menggunakan material atau produk tersebut secara lebih hati-hati; maksudnya, mereka bertindak dengan arah yang benar. Hal ini cukup hebat bahkan jika, dalam dunia yang senantiasa berubah, tidak semua akan berjalan dengan begitu sempurnanya sehingga tingkat keuntungan mereka selalu berada dalam tingkat yang konstan sama atau “normal”.

Saya sengaja memakai kata “hebat” di atas untuk mengejutkan pembaca agar mereka tidak berpuas diri dan mengabaikan cara kerja mekanisme [harga] ini. Saya yakin bahwa jika hal ini merupakan hasil dari rancangan yang disengaja oleh manusia, dan jika orang berkat panduan berupa perubahan-perubahan harga memahami bahwa keputusannya memiliki signifikansi yang lebih jauh dari sekadar tujuannya, mekanisme ini harus diklaim sebagai salah satu kejayaan terbesar dari pikiran manusia. Kemalangannya menjadi berganda karena hal tersebut bukanlah produk rancangan manusia dan bahwa orang dengan panduannya biasanya tidak mengetahui mengapa mereka harus melakukan apa yang mereka lakukan. Tetapi mereka yang meneriakkan perlunya “pengarahan sadar”—dan yang tidak dapat mempercayai bahwa sesuatu yang berevolusi tanpa rancangan (dan bahkan tanpa kita pahami) akan dapat memecahkan problem yang tidak dapat kita pecahkan secraa sadar—harus mengingat ini: Problemnya tepatnya adalah bagaimana memperluas cakupan pemanfaatan sumber-sumber daya di luar kendali satu benak siapapun; dan oleh karena itu, bagaimana meniadakan kebutuhan akan pengarahan secara sadar, dan bagaimana meyakinkan para individu-individu agar melakukan hal-hal yang diinginkan tanpa perlu adanya orang lain yang memerintah apa yang harus dilakukan.

Problem yang kita jumpai di sini tentu tidak hanya khusus bagi ilmu ekonomi tetapi juga muncul dalam kaitannya dengan semua fenomena sosial sejati, dengan bahasa dan dengan hampir seluruh warisan budaya kita, dan membentuk benar-benar problem teoritis tentang ilmu pengetahuan sosial. Seperti dikatakan oleh Alfred Whitehead dalam suatu kaitan lain, “Merupakan truisme yang amat keliru, yang diulang-ulang di semua buku dan dalam pidato orang-orang ternama, bahwa kita harus membudidayakan kebiasaan memikirkan apa yang kita lakukan. Justru sebaliknya yang terjadi. Peradaban mengalami kemajuan dengan memperluas jumlah operasi penting yang dapat kita lakukan tanpa memikirkannya.” Ini amat signifikan dalam bidang sosial. Kita secara konstan menggunakan formula, simbol dan aturan yang artinya sendiri tidak kita pahami dan dengan menggunakannya kita membiarkan diri dibantu oleh pengetahuan yang secara individual tidak kita miliki. Kita telah mengembangkan praktik-praktik dan institusi-institusi ini dengan membangun kebiasaan dan institusi yang terbukti berhasil dalam ranah merekamasing-masing dan yang pada gilirannya menjadi landasan peradaban yang telah kita bangun.

Sistem harga hanyalah satu sekian formasi yang telah dipelajari manusia untuk dimanfaatkan (meskipun ia masih amat jauh dari penggunaan terbaiknya) setelah sebelumnya tertatih di atasnya tanpa ia sadari. Melalui sistem ini tidak saja pembagian kerja, melainkan juga penggunaan terkoordinasi dari sumber-sumber daya berdasarkan pengetahuan yang terbagi secara sama, telah dimungkinkan. Orang-orang yang gemar memperolok pandangan bahwa hal ini mungkin benar adanya biasanya mendistorsikan argumen tersebut dengan mensinyalir bahwa [argumen tersebut] menyatakan bahwa atas dasar semacam mukjizat sistem itu telah tumbuh secara spontan dan paling cocok bagi peradaban modern. Justru sebaliknyalah yang terjadi: manusia telah dapat mengembangkan pembagian kerja di mana peradaban kita dibangun di atasnya karena ia kebelutlan terjatuh pada metode yang memungkinkannya terjadi. Seandainya manusia tidak mengalami hal tersebut, ia mungkin masih harus mengembangkan jenis peradaban yang sama sekali baru, sesuatu yang menyerupai keberadaan koloni semut, atau jenis lain yang sama sekali tidak dapat terbayangkan. Yang dapat kita katakan hanyalah bahwa belum pernah ada tak seorangpun yang berhasil merancang sebuah sistem alternatif di mana fitur-fitur tertentu dari sistem yang ada sekarang dapat dipertahankan yang juga disayang oleh mereka yang menyerangnya paling tajam—terutama dalam tingkat tertentu di mana setiap individu dapat memilih untuk mengejar keinginannya dan sebagai konsekuensinya dengan bebas memanfaatkan pengetahuan dan keterampilannya.

VII


Adalah menguntungkan dalam banyak hal bahwa perselisihan tentang ketidakterpisahan sistem harga dari setiap kalkulasi rasional di dalam masyarakart yang kompleks kini tidak lagi dilakukan seluruhnya antara kamp-kamp yang memiliki pandangan-pandangan politis yang berbeda. Tesis bahwa tanpa sistem harga kita tidak dapat mempertahankan masyarakart berdasarkan pembagian kerja yang seekstensif yang kita miliki disambut dengan berbagai ejekan ketika pertama kali disampaikan oleh von Mises duapuluhlima tahun yang lalu. Kini kesulitan serupa yang masih dialami sebagian orang dalam menerima hal tersebut tidak lagi terutama bersifat politis, dan hal ini menghasilkan atmosfir yang jauh lebih kondusif bagi diskusi yang wajar. Ketika kita mendapati Leon Trotsky berargumen bahwa “akunting ekonomi tidak dapat dibayangkan tanpa hubungan-hubungan pasar”; ketika Profesor Oscar Lange menjanjikan Professor von Mises sebuah patung di ruang besar berpualam di Badan Perencanaan Pusat masa depan; dan ketika Profesor Abba P. Lerner menemukan kembali Adam Smith dan menekankan utilitas esensial sistem harga tercipta meyakinkan para individu, sementara mencari keuntungannya sendiri, untuk melakukan apa yang menjadi kepentingan umum, perbedaan-perbedaan tidak dapat lagi dikreditkan kepada bias politis.
Penentangan yang tersisa tampaknya jelas semata-mata murni akibat perbedaan intelektual, terutama dalam hal metodologi.

Pernyataan Professor Joseph Schumpeter belum lama ini dalam bukunya Capitalism, Socialism, and Democracy memberi ilustrasi yang jelas tentang salah satu perbedaan metodologis yang saya maksudkan. Pengarang buku ini adalah salah seorang ekonom paling ternama yang mendekati fenomena ekonomi dalam perangkat cabang tertentu positivisme. Baginya fenomena-fenomena ini oleh karena itu muncul dalam kuantaitas obyektif tertentu komoditas yang menekan secara langsung antara satu sama lainnya, hampir, sepertinya, tanpa adanya intervensi pikiran manusia.

Hanya dengan latar belakang ini dapat saya jelaskan pernyataan berikut (yang bagi saya mengejutkan). Professor Schumpeter berpendapat bahwa kemungkinan kalkulasi rasional dalam keadaan di mana tidak adanya pasar bagi faktor-faktor produksi berasal dari teoris [yang menyatakan] “dari proposisi elementer bahwa konsumer dalam melakukan evaluasi (‘permintaan’) barang konsumen, atas dasar tersebut pula (ipso facto) mengevaluasi cara-cara produksi yang memasuki produksi barang-barang ini.”*[1]

Diartikan secara literal, pernyataan ini semata-mata tidak benar. Konsumen tidak melakukan hal semacam itu. Apa yang Professor Schumpeter mungkin “ipso facto” maksudkan adalah bahwa valuasi faktor-faktor produksi itu dimplikasikan dalam, atau harus mengikuti, valuasi barang-barang konsumsi. Tetapi ini pun tidak benar. Implikasi adalah hubungan logis yang dapat dinyatakan secara bermakna hanya tentang proposisi-proposisi yang secara simultan terdapat dalam satu benak yang sama. Namun, sudah terbukti bahwa, nilai-nilai faktor terbukti tidak tergantung semata-mata pada valuasi barang konsumen tetapi juga pada kondisi penawaran berbagai faktor produksi yang ada. Hanya benak yang mengetahui secara simultan mengenai fakta-fakta ini yang akan dapat mengetahui jawaban yang seharusnya berasal dari fakta-fakta yang diberikan kepadanya. Namun, problem praktisnyajustru muncul karena fakta-fakta ini tidak pernah tersedia sedemikian rupa untuk satu benak yang tunggal, dan, akibatnya, solusi terhadap masalah tersebut harus memanfaatkan pengetahuan yang tercecer di banyak orang.

Persoalan tersebut dengan demikian sama sekali tidak terpecahkan jika kita dapat menunjukkan bahwa semua fakta, jika semuanya diketahui oleh satu benak tunggal (sebagaimana kita asumsikan secara hipotetis sebagai hal yang tersedia bagi ekonom pengamat), akan secara unik menentukan solusinya; alih-alih, kita harus menunjukkan bagaimana sebuah solusi dihasilkan oleh interaksi orang-orang yang masing-masing memiliki sebagian pengetahuan saja. Mengasumsikan bahwas semua pengetahuan berada dalam satu benak tunggal dalam cara yang sama kita mengasumikan ketersediaanya bagi kita selaku ekonom pemberi penjelasan, adalah mengasumsikan problem tersebut menjauh dan tidak ‘memandang’ hal-hal yang penting dan signifikan di dunia nyata.

Bahwa seorang ekonom sekaliber Professor Schumpeter kemudian terperosok ke dalam perangkap yang dipasang oleh ketaksaan istilah “datum” bagi mereka yang tidak hati-hati kiranya tidak dapat dijelaskan sebagai kesalahan yang sederhana. Ini menyiratkan bahwa ada sesuatu yang secara fundamental keliru dalam pendekatan yang terbiasa mengabaikan bagian esensial dari fenomena yang harus kita hadapi: ketidaksempurnaan yang tidak terhindarkan dari pengetahuan manusia dan kebutuhan yang muncul akan sebuah proses di mana pengetahuan secara konstan dikomunikasikan dan diperoleh. Setiap pendekatan yang dipakai, seperti ekonomi matematis dengan persamaan-persamaannya yang simultan, yang pada efeknya dimulai dari asumsi bahwa pengetahuan masyarakat sesuai dengan fakta obyektif tentang situasi yang ada, secara sistematis melupakan apa yang menjadi tugas utama untuk kita jelaskan. Saya sama sekali tidak menyangkal bahwa dalam sistem kita analisis ekuilibrium memiliki fungsinya yang berguna. Tetapi ketika menyangkut titik di mana hal tersebut menyesatkan para pemikir kita hingga mempercayai bahwa situasi yang dideskripsikan ekuilibrium tersebut memiliki relevansi langsung terhadap solusi bagi problem-problem praktis, maka sudah saatnya kita mengingat bahwa hal tersebut tidak berhubungan dengan proses sosialnya sama sekali dan bahwa hal tersebut tidak lebih bermanfaat daripada sekadar sebagai pembukaan yang berguna untuk kajian terhadap persoalan utamanya.

(Sumber: “Use of Knowledge in Society,” American Economic Review, XXXV, No. 4; September, 1945, hal. 519-30. Terjemahan Sukasah Syahdan. Hak cipta versi terjemahan Indonesia © 2007, Jurnal Kebebasan: Akal dan Kehendak dan Sançtuary Publishing.)


[1] J. Schumpeter, Capitalism, Socialism, and Democracy (New York; Harper, 1942), hal. 175. Professor Schumpeter, saya kira, adalah yang pertama menulis mitos bahwa Pareto dan Barone berhasil “memecahkan” problem tentang kalkulasi sosialis. Apa yang mereka lakukan, dan juga banyak tokoh lain, semata-mata hanyalah menyatakan kondisi-kondisi di mana alokasi rasional sumber-sumber daya akan harus terpenuhi dan menunjukkan bahwa hal-hal ini pada esensinya sama dengan kondisi-kondisi ekuilibrium tentang pasar yang kompetitif. Hal ini adalah sesuatu yang sama sekali berbeda dari pengetahuan/mengetahui bagaimana alokasi sumber-sumber daya yang memenuhi kondisi-kondisi ini dapat ditemukan dalam praktik. Pareto sendiri (yang hampir semua pernyataanya ditelan bulat-bulat oleh Barone), jauh dari mengklaim telah memecahkan problem praktis, sebenarnya secara eksplisit menyangkal bahwa hal tersebut dapat dipecahkan tanpa bantuan pasar. Lihat bukunya, Manuel d’économie pure (edisi ke-2, 1927), hal. 233-34. Paragraf yang relevan ini dikutip dalam terjemahan Inggrisnya di awal artikel saya tentang “Socialist Calculation: The Competitive ‘Solution,’ ” dalam jurnal Economica, New Series, Vol. VIII, No. 26 (Mei, 1940), hal. 125.

Kirim artikel ini:
Share on FacebookTweet about this on TwitterShare on Google+Email this to someoneShare on RedditShare on StumbleUpon

Tulisan lain yang mungkin terkait:

Discussion

Comments are disallowed for this post.

  1. […] (Bersambung) […]

    Posted by Pemanfaatan Pengetahuan Masyarakat (Bag. 1 dari 2) « AKAL & KEHENDAK | 22 June 2007, 2:53 pm

Arsip Bulanan

Rekomendasi

buku_rothbard.jpg
Apa Yang Dilakukan Pemerintah Terhadap Uang Kita?; Oleh: Murray Newton Rothbard; PT. Granit, Yayasan Obor Indonesia; ISBN : 97897916217 -4-8; tersedia di toko-toko buku terdekat. (Intip cuplikannya).
alt text
Membela Kapitalisme Global; Oleh: Johan Norberg; FNS Jakarta; tersedia di toko-toko buku terdekat. (Baca resensinya di sini).
Economic  Activism Blogs - Blog Catalog Blog Directory
%d bloggers like this: