Asides

Dari Getuk Goreng Bu Rury ke Lele Pak Mamat & Teori Faedah Marjinal

Diskusi getuk pun berlanjut.

Kebetulan kemarin saya mampir lagi ke rumah Bu Rury. Saya bawakan mereka sedikit oleh-oleh, sebuah labu merah pemberian Bapak saya. Di rumah Bu Rury, saya kembali berdiskusi dengan anak-anaknya.

Saya melontarkan pertanyaan, “Jika permintaan akan getuk Ibumu meningkat, apakah harganya juga akan naik?” Jawab si Chun, “Belum tentu”. Saya bertanya, “Mengapa?” “Karena harga Rp.500 per buah mungkin nilai maksimal dari getuk Ibu saya,” kata si Chun. Lalu si Rifky menyahut, “Ya, masak satu kilo ketela pohong sebagai bahan baku getuk seharga Rp. 1500,-  bisa menjadi 20-an butir”….

“Berarti perubahan nilai dari ketela pohong menjadi getuk sangat tinggi, dari Rp. 1500/kilo ketela pohong bisa menghasilkan 20 getuk seharga Rp. 500,-/butir. Yang berarti 20 x Rp. 500 = Rp. 10.000”.  Dalam hati saya menghitung margin kotor yang dibuat Bu Rury. Wah, lumayan! Bayangkan, dengan bahan baku senilai Rp 1.500 dan dengan ‘hanya’ bermodalkan ketrampilan membuat getuk dan kemampuan kerjasama anak-anaknya, mereka bisa mengubah nilai ketela pohong dari seharga Rp. 1.500,- menjadi Rp. 10.000,-.  Itulah kehebatan produksi kapitalisme getuk!

Kita tinggalkan sejenak penjelasan singkat teori proses perubahan nilai barang di atas. Sekarang kita akan membuat konstruksi imajiner untuk memudahkan pemahaman terhadap teori faedah marjinal. Kita mulai dengan pertanyaan: Mengapa rasio perbandingan harga getuk terhadap ikan bisa berubah-ubah? Atau pertanyaan umumnya: Mengapa nilai barang selalu berubah-ubah pada kuantitas, tempat dan waktu tertentu?

Untuk menelusuri perubahan-perubahan nilai sebuah barang, kita tidak dihadapkan oleh perhitungan-perhitungan obyektif ilmu matematika ataupun faktor-faktor psikologis manusia, tapi kita di sini dibatasi oleh hukum-hukum praksiologis. Yaitu ilmu mengenai logika tindakan manusia.

Ikan Lele Pak Mamat

Katakanlah Pak Mamat si penjual ikan lele sedang panen. Pasokan lele di pasar menjadi berlimpah.  Akibatnya, rasio getuk  Bu Rury dengan ikan lele Pak Mamat juga berubah, yaitu tidak sebagaimana biasanya di hari-hari “normal”. Katakanlah biasanya 5 getuk dihargai 1 ikan lele; karena “keberlimpahan” ikan lele maka rasionya menjadi 1 getuk dihargai senilai 2 lele. Lho kok ekstrem benar perubahannya? Sekali lagi, ini sekedar contoh.

Sampai di sini kita akan mengarah pada apa yang disebut hukum faedah marjinal yang tidak terbantahkan itu: yaitu bahwa “ketika persediaan barang bertambah sebanyak satu unit, sejauh manfaat setiap unit tersebut dinilai setara oleh seseorang, maka nilai yang diberikan orang itu kepada unit tersebut pasti akan menurun“.

Boleh dibaca sekali atau dua kali lagi sambil diresapi kebenaran maknanya.

Alasannya, karena setiap satu unit ikan lele Pak Mamat tersebut hanya dapat dipakai sebagai cara pemenuhan tujuan (hasrat) manusia. Jadi setiap pertambahan unitnya akan dapat mengurangi nilai ikan lele tersebut.

Tidak hanya tambahan unit ikan lele yang dapat mengurangi “utilitas” ikan lele tersebut. Tapi juga terkait waktu dan tempat. Katakanlah hari sudah siang, tapi ikan lele Pak Mamat ternyata masih tersisa banyak, maka bisa jadi nilai rasio Ikan Pak Mamat akan semakin menurun dibandingkan dengan getuk Bu Rury. Karena daripada ikan lele Pak Mamat terbuang sia-sia karena membusuk, maka Pak Mamat memutuskan untuk mengobralnya.

Atau bisa jadi, harga ikan lele Pak Mamat akan lebih tinggi setelah dibawa ke pasar, dibanding harga ikan lele Pak Mamat kalau kita membeli di Rumah Pak Mamat secara langsung. Karena ternyata seluruh penduduk di kampung Pak Mamat semuanya berternak ikan lele. Jadi harga lele di kampung Pak Mamat bisa lebih rendah daripada harga di pasar.

Apabila contoh ikan lele di atas dirasa mengada-ada, kita dapat melihat kebenaran sehari-hari yang ada di hadapan kita. Katakanlah udara! Tanpa adanya udara kita akan mati karena kita tidak dapat bernafas. Tapi mengapa kita tidak menilainya lebih tinggi daripada dengan beras Pak Juri? Jawabnya, karena udara begitu berlimpah hingga kita menilainya dengan sangat rendah, bahkan nol.

Bayangkan pula jika kita sedang berada di padang pasir selama berhari-hari dan kehabisan persediaan air. Jika kita diminta memilih antara emas murni satu kilogram dengan segalon air mineral, maka kemungkinan besar kita akan memilih yang kedua.

Teori Faedah Marjinal

Begitulah konkretnya dan pada hakikatnya kita menilai sesuatu: selalu pada marjin-marjin tertentu (oleh karena itu ini disebut teori faedah “marjinal”).  Jadi, sebenarnya tidak ada itu yang namanya “faedah air” ataupun “faedah emas”.  Orang juga tidak pernah benar-benar membandingkan dengan cara ini: mana yang kamu suka, air atau emas?

Sebaliknya, yang ada hanyalah nilai faedah unit x pada tempat y dan waktu z, yang diperbandingkan dengan nilai faedah unit lain pada konteks tersebut.  Secara riil, orang memperbandingkan sekian unit air dengan sekian unit  emas pada konteks konkret tertentu.

Dengan kata lain, tidak ada “nilai guna jumlah seluruh air di dunia” ataupun tidak ada yang namanya “nilai guna emas di dunia”; yang ada adalah faedah unit suatu barang pada tempat dan waktu tertentu.

Maka dalam konteks ekstrem di padang pasir setelah menempuh perjalanan berhari-hari di terik matahari, bagi kita segalon air akan dapat lebih memenuhi tujuan kita (hasrat) ketimbang sepotong emas murni. Maka kita dapat dipastikan akan menetapkan nilai yang lebih besar atau lebih tinggi kepada air. Yang demikian ini adalah kebenaran yang tidak terbantahkan.  Salam.

Jurnal Kebebasan: Akal dan Kehendak
Vol. II, Edisi 45, Tanggal 1 September 2008
Rubrik: Catatan Bawah
Oleh: Giyanto

Kirim artikel ini:
Share on FacebookTweet about this on TwitterShare on Google+Email this to someoneShare on RedditShare on StumbleUpon

Tulisan lain yang mungkin terkait:

Discussion

One comment for “Dari Getuk Goreng Bu Rury ke Lele Pak Mamat & Teori Faedah Marjinal”

  1. memang dalam suatu kesempatan waktu kita harus di hadapkan pada 2 pilihan yang mungkin saja akan memebuat kita bimbang. tp kita harus pintar2 dalam menentukan apa yang tepat untuk kita pilih dan apa yang kita butuhkan. ya seperti dari cerita di atas, bahwa kita pasti akan memelih air dari pada emas bila dalam keadaan di padang pasir.

    Posted by myt.co.id | 19 September 2008, 7:26 pm

Komentari

Arsip Bulanan

Rekomendasi

buku_rothbard.jpg
Apa Yang Dilakukan Pemerintah Terhadap Uang Kita?; Oleh: Murray Newton Rothbard; PT. Granit, Yayasan Obor Indonesia; ISBN : 97897916217 -4-8; tersedia di toko-toko buku terdekat. (Intip cuplikannya).
alt text
Membela Kapitalisme Global; Oleh: Johan Norberg; FNS Jakarta; tersedia di toko-toko buku terdekat. (Baca resensinya di sini).
Economic  Activism Blogs - Blog Catalog Blog Directory
%d bloggers like this: