buku

Mentalitas Anti-Kapitalistik (Bagian 8)

Jurnal Kebebasan: Akal dan Kehendak
Volume II Edisi 46, Tanggal 8 September 2008
Oleh: Ludwig von Mises

BAB IV

Keberatan-Keberatan Non-Ekonomis terhadap Kapitalisme

1. ARGUMEN TENTANG KEBAHAGIAAN

Para kritikus kelas-dua melontarkan tuduhan-tuduhan mereka terhadap kapitalisme: Pertama, kata mereka, kepemilikan kendaraan bermotor, perangkat televisi, dan lemari es tidak membuat orang menjadi bahagia. Kedua, tambah mereka, masih banyak orang yang tidak memiliki satupun peranti tersebut. Kedua proposisi tersebut memang benar adanya; namun, kesalahannya tidak dapat dilimpahkan kepada sistem kerjasama sosial yang kapitalistik.

Manusia tidak bekerja atau bersusah payah untuk mencapai kebahagiaan sempurna, melainkan untuk menghilangkan sebesar mungkin ketidaknyamanan yang dirasakannya ia menjadi lebih bahagia daripada sebelumnya. Seseorang pembeli televisi pada efeknya memberi bukti bahwa kepemilikan alat tersebut akan meningkatkan kesejahteraannya dan membuatnya lebih puas ketimbang tanpa alat tersebut. Jika tidak demikian halnya, ia tidak akan membeli.  Tugas dokter bukanlah membuat pasiennya bahagia, melainkan menghilangkan penyakitnya dan membuat kondisinya lebih baik untuk mengejar apa yang menjadi kepedulian setiap makhluk yang hidup, bertarung melawan semua faktor yang merugikan dan mengganggu hidupnya.

Mungkin benar bahwa sebagian dari kaum pengemis Budha, yang hidup dari sedekah dalam debu dan nestapa, benar-benar merasakan kebahagiaan dan tidak merasa iri kepada orang kaya dan terpandang manapun. Namun demikian, adalah kenyataan bahwa bagi kebanyakan orang kehidupan yang demikian tampak tidak dapat dijalankan. Bagi mereka dorongan menuju perbaikan-perbaikan tiada henti terhadap kondisi-kondisi eksternal adalah hal yang sudah mendarah-daging. Siapa sudi mengambil pengemis Asia sebagai model bagi penduduk Amerika? Salah satu pencapaian kapitalisme yang paling mengagumkan adalah berhasil diturunkannya angka kematian anak. Siapa yang masih membantah bahwa fenomena ini setidaknya telah menghilangkan salah satu penyebab ketidakbahagiaan banyak orang?

Tuduhan kedua yang dilontarkan kepada kapitalisme, tak kalah musykilnya-yakni bahwa berbagai inovasi yang terjadi di bidang teknologi dan terapi tidak memberi keuntungan kepada semua orang. Berbagai perubahan kondisi kemanusiaan adalah berkat rintisan manusia-manusia yang paling pintar dan enerjik. Mereka memegang kendali dan setindak demi setindak selebihnya umat manusia ikut di belakang. Inovasi mulanya adalah kemewahan bagi segelintir manusia saja, sebelum akhirnya sedikit demi sedikit hal tersebut terjangkau oleh banyak orang. Bukanlah keberatan yang masuk akal terhadap penggunaan sepatu atau sendok-garpu–yang tidak langsung menjadi populer-jika pertimbangannya adalah bahwa di jaman sekarang terdapat jutaan orang masih belum mengenal peralatan tersebut. Para wanita dan pria terhormat yang mengawali penggunaan sabun adalah mereka yang mendukung ide agar sabun diproduksi dalam skala besar bagi masyarakat biasa. Jika mereka yang saat ini mampu membeli TV namun bersikap abstain karena masih banyak orang belum mampu membelinya, maka mereka bukanlah memajukan, melainkan memundurkan, popularisasi alat tersebut.[1]

2. MATERIALISME

Ada pula para penggerutu yang menyalahkan kapitalisme atas apa yang mereka sebut sebagai materialisme murahan. Mereka memang tidak langsung menolak kenyataan bahwa kapitalisme cenderung mampu meningkatkan kondisi-kondisi material kemanusiaan. Namun, lanjut mereka, kapitalisme telah semakin menjauhkan orang dari pengejaran akan hal-hal yang lebih luhung dan agung. Dia memang memberi makan tubuh, tetapi membiarkan jiwa dan pikiran menderita kelaparan. Dia memang penyebab terjadinya kebusukan seni. Lenyap sudah hari-hari di mana terdapat para penyair kondang serta para pelukis, pematung dan arsitek besar. Jaman kita hanya memproduksi sampah.

Penilaian terhadap nilai karya seni adalah perkara yang sepenuhnya subyektif. Ada kalanya sebagian orang memuji apa yang oleh sebagian lain dianggap rendah. Tidak ada tolok ukur bagi nilai estetik secarik puisi atau sebuah bangunan. Mereka yang mengagumi katedral Chartres dan Meninas dari Velasquez mungkin berpandangan bahwa orang-orang yang masih gagal trenyuh oleh kedua hal-hal yang hebat tersebut adalah orang-orang kelas rendah. Banyak siswa merasa begitu bosan ketika dipaksa membaca Hamlet di sekolah. Hanya mereka yang diberkahi dengan secercah mentalitas artistik saja yang dapat mengapresiasi dan menikmati karya seorang seniman.

Di antara orang-orang yang konon dijuluki sebagai manusia-manusia terdidik terdapat banyak kemunafikan. Mereka menunjukkan diri sebagai penilai seni dan memiliki antusiasme palsu kepada seni masa lalu dan seniman yang telah lama mati. Simpati serupa tidak mereka perlihatkan kepada seniman-seniman kontemporer yang masih berjuang agar dikenal.   Pemujaan diam-diam terhadap para Master Tua adalah jalan mereka untuk meremehkan dan memperolok seniman-seniman baru yang menyimpang dari baku tradisional atau mencoba mencipta standar mereka sendiri.

John Ruskin akan dikenang-bersama dengan Carlyle, keluarga Webbs, Bernard Shaw dan sejumlah tokoh lainnya-sebagai penggali kuburan bagi kebebasan, peradaban dan kemakmuran Inggris. Sebagai tokoh nista baik dalam kehidupan pribadinya maupun dalam kehidupan publiknya, ia mengagung-agungkan perang dan persimbahan darah dan dengan fanatik menghujati ajaran-ajaran ilmu ekonomi yang tidak ia mengerti. Ia adalah seorang detraktor fanatik terhadap perekonomian pasar; seorang eulogis romantik bagi kelompok buruh. Ia menjiarahi seni-seni yang berasal dari abad-abad terdahulu. Tetapi ketika berhadapan dengan karya seorang seniman besar yang hidup di jamannya, Whistler, ia mencacinya habis-habisan dengan bahasa yang begitu kasar sehingga ia dituntut atas perbuatan pencemaran nama baik dan dinyatakan bersalah oleh para hakim. Tulisan-tulisan Ruskin-lah yang telah memopulerkan prasangka bahwa kapitalisme, selain dikatatakannya sebagai sistem perekonomian yang buruk, yang telah menggantikan keindahan dengan keburukan, kebesaran dengan kekerdilan, dan seni dengan sampah.

Oleh karena orang dapat berbeda pendapat secara luas dalam apresiasi terhadap capaian artistik, maka tidaklah mungkin meruntuhkan argumentasi tentang inferioritas artistik di jaman kapitalisme dengan cara yang, dan tanpa keraguan sedikitpun, dipakai orang saat mematahkan argumentasi logis atau saat memastikan fakta berdasarkan pengalaman. Namun demikian, tidak satu pun manusia yang waras yang akan merendahkan atau mengecilkan capaian-capaian besar era kapitalisme.

Jenis seni yang mengemuka di jaman ketika “materialisme begitu rendah dan segala sesuatu selalu diukur dengan uang” adalah seni musik. Wagner dan Verdi, Berlioz dan Bizet, Brahms dan Bruckner, Hugo Wolf dan Mahler, Puccini dan Richard Strauss, adalah sebaris nama yang luar biasa! Tidakkah luar biasa hebat era di mana bahkan para maestro semacam Schumann dan Donizetti pun dibayangi oleh para jenius yang superior!

Lalu ada pula novel-novel hebat karya Balzac, Flaubert, Maupassant, Jens Jacobsen, Proust, serta syair-syair Victor Hugo, Walt Whitman, Rilke, Yeats. Betapa miskinnya hidup kita jika jika tidak dapat menikmati karya-karya para raksasa tersebut atau karya-karya besar seniman lain yang tidak kalah sublimnya. Kita juga tidak boleh melupakan para pelukis dan pemahat Prancis yang mengajarkan cara-cara baru dalam memandang dunia dan menikmati cahaya dan warna.

Tidak seorangpun membantah bahwa semua cabang aktivitas ilmiah telah mengalami kemajuan pesat di jaman ini. Tetapi, bagi para penggerutu tadi, hal tersebut terutama hanyalah karya-karya para spesialis tanpa tawaran “sintesis” apa-apa.  Dengan menyalahkonsepsikan ajaran-ajaran matematika, fisika dan biologi modern, mereka tidak bisa lebih absurd lagi. Dan bagaimana halnya dengan buku-buku karya filsuf semacam Croce, Bergson, Husserl dan Whitehead?

Setiap era memiliki karakternya masing-masing dalam hal eksploitasi artistiknya. Imitasi karya-karya para master masa lalu bukanlah seni; itu hanyalah rutinitas. Apa yang memberi nilai pada sebuah karya adalah ciri yang membedakan karya tersebut dari karya yang ada.  Ini yang disebut sebagai gaya bagi sebuah kurun.

Dalam satu hal para eulogis masa lalu tampaknya memang terjustifikasi. Generasi-generasi terakhir memang tidak mewariskan monumen-monumen semacam piramida, kuil Yunani, katedral Gothic serta gereja Renaisans dan istana Barok. Dalam seratus tahun terakhir banyak gereja dan katedral telah didirikan; bahkan gedung-gedung megah pemerintah, sekolah dan perpustakaan, lebih banyak lagi dibangun. Namun, semua gedung tersebut memang tidak memperlihatkan konsepsi yang orisinil; mereka hanya mencerminkan gaya-gaya lama atau menghibridakan berbagai gaya tua.

Hanya pada berbagai apartemen, bangunan perkantoran, dan pemukiman pribadi saja kita dapat melihat perkembangan sesuatu yang mungkin memenuhi syarat untuk disebut sebagai gaya arsitektural a la jaman kita.  Meski mungkin terlalu berlebihan jika kita tidak mengapresiasi kemegahan yang liyan dari pemandangan semacam gedung New York skyline, tetap saja dapat diakui bahwa arsitektur modern memang belum membuat perbedaan dari pencapaian abad-abad lalu.

Ada berbagai macam alasannya. Sejauh menyangkut bangunan keagamaan, aksentuasi konservatisme gereja memang menjauhkan segala inovasi. Dengan berlalunya era dinasti dan aristokrasi, hasrat untuk membangun istana-istana baru melenyap. Kekayaan para usahawan dan kapitalis, terlepas dari celoteh para demagog yang antikapitalistik, masih sangat inferior ketimbang kekayaan para raja dan pangeran, sehingga mereka tidak mampu berfoya-foya dalam aneka bentuk konstruksi mewah semacam mereka.  Tidak seorangpun dewasa ini yang cukup kaya untuk merencanakan pembangunan istana-istana semacam Versailles atau Escorial. Instruksi-instruksi untuk mendirikan gedung pemerintahan saat ini tidak lagi berasal dari para despot yang dulu dapat bebas mengangkangi opini publik, yang dapat memilih dengan leluasa maestro mana saja yang mereka kagumi, untuk menyeponsori proyek mana yang akan menjadi skandal bagi mayoritas masyarakat yang manut saja. Komite dan dewan di jaman ini hampir dapat dipastikan tidak akan mengadopsi gagasan-gagasan pionir. Mereka cenderung akan menempatkan diri mereka di tempat yang aman saja.

Belum pernah terjadi era di mana masyarakat dapat menghargai seni kontemporer sebagaimana adanya. Penghormatan kepada para pengarang dan seniman besar selalu terbatas pada kelompok-kelompok kecil saja. Apa yang mencirikan kapitalisme bukanlah selera buruk kebanyakan orang, melainkan kenyataan bahwa kebanyakan orang tersebut, yang telah menjadi lebih makmur akibat kapitalisme, menjadi “para konsumen” karya kesusastraan-tentunya, sastra yang berbau sampah. Pasar buku dibanjiri oleh fiksi-fiksi  picisan untuk mereka yang tergolong semi-barbar. Tapi hal tersebut tetap tidak mencegah para pengarang besar untuk menciptakan karya-karya mereka yang tak lekang.

Para kritikus meratapi seni industrial yang konon dikatakan telah mengalami kebusukan. Mereka mengontraskan barang-barang produksi; misalnya berbagai perabotan yang tersimpan di kastil-kastil keluarga aristokrat Eropa atau barang-barang koleksi museum, dengan barang-barang murahan hasil produksi berskala massal. Mereka gagal melihat bahwa collectors’ items tersebut memang dulunya diperuntukkan secara eksklusif kepada orang-orang kaya. Kotak-kotal ukiran serta meja-meja intarsia tidak dapat ditemukan di gubuk-gubuk masyarakat lapis bawah yang jelas lebih miskin. Mereka yang mengeluhkan furnitur murahan yang dimiliki rata-rata para warga penerima upah di Amerika perlu sekali-sekali mengunjungi Rio Grande del Norte, agar dapat memeriksa sendiri bagaimana kondisi tempat tinggal para peons Meksiko, yang sama sekali tidak memiliki perabotan satupun. Industri modern bermula dengan menyediakan kepada massa segala tetek-bengek keperluan demi kehidupan yang lebih baik; kepedulian utamanya adalah menghasilkan semurah mungkin, tanpa pertimbangan nilai estetis. Barulah kelak ketika kemajuan kapitalisme telah semakin meningkatkan standar kehidupan masyarakat, proses produksi selangkah demi selangkah mengarah kepada fabrikasi barang-barang yang tidak kurang indahnya, dan tidak kalah halus buatannya. Hanya prasangka romantik saja yang dapat  memengaruhi seorang pengamat untuk mengabaikan kenyataan bahwa semakin banyak penduduk di negara-negara yang kapitalistik kini hidup di dalam lingkungan yang lebih dari sekadar “lumayan”.

(Bersambung)

(Kembali ke Bagian 7; atau ke Bagian 1)


[1] Lihat hal. 42-43 tentang kecenderungan yang melekat pada kapitalisme terhadap pemendekan jangka waktu interval antara perbaikan baru dan momen ketika kebaruan semacam itu menjadi hal umum.

Kirim artikel ini:
Share on FacebookTweet about this on TwitterShare on Google+Email this to someoneShare on RedditShare on StumbleUpon

Tulisan lain yang mungkin terkait:

Discussion

No comments for “Mentalitas Anti-Kapitalistik (Bagian 8)”

Komentari

Arsip Bulanan

Rekomendasi

buku_rothbard.jpg
Apa Yang Dilakukan Pemerintah Terhadap Uang Kita?; Oleh: Murray Newton Rothbard; PT. Granit, Yayasan Obor Indonesia; ISBN : 97897916217 -4-8; tersedia di toko-toko buku terdekat. (Intip cuplikannya).
alt text
Membela Kapitalisme Global; Oleh: Johan Norberg; FNS Jakarta; tersedia di toko-toko buku terdekat. (Baca resensinya di sini).
Economic  Activism Blogs - Blog Catalog Blog Directory