Asides

Hasil Survei A&K Tentang Penggunaan Motor & Ponsel

Dua minggu lalu A&K mengadakan survei kecil tentang maraknya penggunaan motor dan ponsel di negeri ini.  (Sekali lagi tidak lupa saya ucapkan terima kasih banyak atas partisipasi Anda semua.)

Dari sisi kuantitatif survei ini berhasil menjaring “begitu banyak data,” yaitu sekitar 4 ribu jawaban saja.  Meski tidak banyak, kiranya hal ini tidak mengurangi kesahihan survei. Sebagaimana dijanjikan sebelumnya, jawaban-jawaban  yang berhasil terjaring akan saya coba simpulkan dan sarikan lewat tulisan singkat ini.

Sebelumnya, ijinkan saya mengaitkan semua ini dengan nilai penting suatu teori, khususnya teori ilmu alam, dalam perbandingannya dengan teori ilmu-ilmu sosial.

Sekadar contoh, mengapa para politician wannabes, di mana-mana, sibuk berlomba-lomba menjajakan diri lewat iklan-iklan di berbagai media?  Mengapa artis-artis daerah dan ibukota berbondong-bondong mengikuti pilkades?

Ludwig von Mises pernah menekankan bahwa dalam hal politik praktis, legitimasi politisi semata mengandalkan opini.  Opini massa tidak lain adalah gagasan, lepas dari benar atau tidaknya gagasan tersebut.  Pertempuran yang sesungguhnya di sepanjang peradaban selalu terjadi dalam ranah ini: ranah gagasan.  Perang-perang fisik hanyalah aksentuasi atau aktualisasi dari apa yang telah berkecamuk di alam pikiran. Bukankah begitu?

Kalau Anda ijinkan saya menelaah lebih dalam lagi, maka saya akan ajak Anda menjawab pertanyaan ini: ada apa dengan opini?  Mengapa opini menjadi demikian strategisnya?

Pada titik inilah kita perlu kembali kepada hal yang teoritis; yaitu justru tentang signifikansi teori itu sendiri.  Tepatnya teori tentang kajian-kajian sosial vis-à-vis teori ilmu-ilmu alam.

Teori ilmu alam jauh lebih superior dan lebih “mudah” ketimbang teori-teori ilmu sosial dalam satu hal: teori ilmu alam mengandung “keniscayaan” yang tinggi, hampir mutlak bahkan.  “Keniscayaan” di sini tidak lain adalah rangkaian hukum sebab akibat yang pasti.   (Dan kawan, sekitar 40 tahun sebelum perang Diponegoro berakhir, seorang ekonom besar Carl Menger mengatakan dalam bukunya, The Principles of Economics, bahwa pada hakikatnya tidak satu pun hal di bawah matahari yang bisa lepas dari hukum sebab akibat.)

Oleh sebab “rendahnya” kausalitas dalam kebanyakan teori sosial-kecuali hukum-hukum praksiologis, atau hukum-hukum ekonomi–maka nilai teori ilmu sosial mengalami ketergusuran signifikansinya.  Untuk apa Anda percaya pada teori jika tidak ada hal yang diniscayakan terjadi oleh teori tersebut?  Kenyataan sifat teori sebagian besar ilmu sosial inilah, meski katanya ilmiah, yang menyebabkan sebagian dari kita keliru memandang teori, atau bahkan menyepelekan signifikansinya.

Dalam praktik politik, seorang calon politisi akan lebih berpeluang memasuki dunia politik dengan terlebih dahulu menguasai ruang opini publik, antara lain dengan beriklan.  Teorinya, secara sederhana, adalah: semakin dikenal, maka akan semakin baik.  Maka calon-calon politisi lain mau tidak mau harus menempuh cara marketing serupa.   Oleh karena kelenturan teori sosial ini, maka dia dapat dikembangkan lewat akal sehat menjadi sbb: semakin dikenal sebagai orang baik-baik, maka peluang untuk menang akan semakin baik.  Tidak jadi soal, apakah calon politisi tersebut memang betul orang baik-baik, atau sekadar terkesan demikian.  Tidak ada cara lain bagi mayoritas pemilih untuk mengetahui kebenaran tersebut kecuali semata melalui opini pribadi atau opini bentukan.

Dan oleh karena pembuatan opini tidaklah murah, maka niscaya ongkos politis untuk memenangkan opini publik akan semakin membengkak bersama waktu. Dan para selebritis jelas mendapatkan peluang besar untuk mengeksploitasi ketenaran mereka–terlepas dari motivasi mereka.  Keterkenalan mereka tidak membawa keniscayaan profitabilitas di pihak konstituen, kecuali bahwa hal tersebut sedikit banyak dapat memberi kemudahan dalam penentuan pilihan-dan dengan demikian–satu keuntungan psikis, tentunya.

Dalam hal teori ilmu alam, jika seseorang ilmuwan ingin menciptakan sebuah kendaraan yang super aerodinamis sehingga mampu melaju dengan lebih cepat, keniscayaan apakah yang juga bakal terjadi? Kendaraan tersebut, jika berhasil diwujudkan, kelak akan harus diperlengkapi dengan kemampuan untuk berhenti dengan lebih baik pula!   Kendaraan yang meluncur lebih cepat “niscaya” punya kebutuhan untuk juga dapat berhenti dengan lebih baik, lebih cepat.

Dalam kerangka pemikiran yang agak bertele-tele di atas, survei A&K tempo hari secara kualitatif mencoba memotret keniscayaan-keniscayaan di balik maraknya kepemilikan motor dan ponsel.  Meski demikian, saya di sini tidak mencoba menganalisis secara exhaustive.

Seorang responden mengatakan, sebagai reaksi dari buruknya transportasi umum (bus yang suka ngetem, jalannya kadang pelan kadang ngebut dan mengusir penumpang seenaknya), maka dampaknya adalah bahwa jalan raya akan semakin liar dan lalu lintas semakin macet.

Di sisi lain, bagi sebagian orang, mobilitas jelas akan terbantu, sementara bagi sebagian lain, mobilitas justru akan semakin terganggu. Selain itu, layanan ojeg adalah salah satu profesi bentukan yang bersama waktu akan semakin sengit bersaing antarsatu pengojeg dengan lainnya.

Penggunaan ponsel niscaya akan mengurangi pemakaian telepon fixed line, bahkan tidak mustahil hingga ke titik obsolete. Ponsel jelas memudahkan komunikasi; dalam hal ini efisiensi dapat meningkat ketimbang di masa lalu.  Kata responden lain, ponsel juga cenderung membuat orang menjadi semakin individual, namun sekaligus juga semakin sosial.  Responden selanjutnya menambahkan bahwa spam akan semakin merajalela, tetapi “makna” akan semakin susut. IT-based businesses akan makin maju.  Semua ini menggambarkan keniscayaan berubahnya pola perilaku dan konsumsi masyarakat.

Sebagai kesimpulan sederhana, dengan semakin menjamurnya penggunaan motor dan ponsel, maka pengalaman fisik dan mental kita sejauh melibatkan waktu, jarak serta lokasi niscaya telah dan akan terus mengalami perubahan.  Selanjutnya, keniscayaan-keniscayaan apa lagi yang masih tersembunyi di balik fakta telah menciutnya waktu tempuh, jarak tempuh serta lokasi?  Hasil survei kecil yang terbatas minggu lalu memang tidak berhasil menyarikan keniscayaan-keniscayaan tersembunyi lainnya secara konkret; namun jawaban-jawaban kita terhadap pertanyaan terakhir tersebut akan dapat memberi kita gambaran-gambaran persoalan dan sekaligus peluang di masa depan.  Salam!

Jurnal Kebebasan: Akal dan Kehendak
Vol. II Edisi 46, Tanggal 8 September 2008
Rubrik: Catatan Bawah
Oleh: Sukasah Syahdan

Kirim artikel ini:
Share on FacebookTweet about this on TwitterShare on Google+Email this to someoneShare on RedditShare on StumbleUpon

Tulisan lain yang mungkin terkait:

Discussion

2 comments for “Hasil Survei A&K Tentang Penggunaan Motor & Ponsel”

  1. sy ingin tahu mengenai hasil surveinya….. maksudnya secara kuantitatif…. boleh minta data hasil survei via email or saya bisa liat di jurnal yang sudah dipublikasikan dimana??? terima kasih

    Posted by ayu | 20 November 2009, 6:39 pm
  2. […] konteks yang berbeda. (Misalnya dalam: Opini tentang Opini; Tentang Keberpihakan Intelektual; Hasil Survei A&K; dan 5 Alasan Utama… […]

    Posted by Akal & Kehendak | Informasi vs Individu Abad 21 (Bag. 3 – Tamat) | 14 December 2016, 11:30 pm

Komentari

Arsip Bulanan

Rekomendasi

buku_rothbard.jpg
Apa Yang Dilakukan Pemerintah Terhadap Uang Kita?; Oleh: Murray Newton Rothbard; PT. Granit, Yayasan Obor Indonesia; ISBN : 97897916217 -4-8; tersedia di toko-toko buku terdekat. (Intip cuplikannya).
alt text
Membela Kapitalisme Global; Oleh: Johan Norberg; FNS Jakarta; tersedia di toko-toko buku terdekat. (Baca resensinya di sini).
Economic  Activism Blogs - Blog Catalog Blog Directory