Uncategorized

Tentang Keberpihakan Intelektual

Jurnal Kebebasan: Akal dan Kehendak
Volume II, Edisi no. 47, Tanggal 15 September 2008
Oleh: Sukasah Syahdan

Intellectual infancy

Ada satu istilah menyangkut kadar intelektualitas yang denyutnya, saya rasa, cukup mengusik.  Meski agak sedikit kuatir disalahartikan, saya katakan saja di sini sbb.: kemampuan intelektualitas sebagian terbesar kita dapat diibaratkan dengan kemampuan berpikir seorang bayi yang baru belajar bernalar!  Sebagian besar dari kita masih berada dalam tahap intellectual infancy.

Saya tidak sedang mengacu kepada para penduduk kebanyakan yang, oleh sebab berbagai kendala, tidak berkesempatan mengenyam pendidikan tinggi. Yang saya acu saat ini terutama adalah diri sendiri; juga  mereka yang telah menempuh jenjang pendidikan di atas tingkat sarjana; dan sekaligus para doktor lulusan universitas-universitas ternama di luar negeri; yang tentunya telah belajar cukup banyak teori; mampu menghapal teori-teori serta konsep-konsep yang mendasarinya; yang semuanya berisiko mengalami kegagalan dalam menarik gists (inti sari kebenaran ilmiah) dari kandungan teori-teori tersebut.

Ini mengarah kepada pentingnya teori.  Setiap teori pada hakikatnya upaya formal menjelaskan fenomenon atau keterkaitan logis beberapa fenomena/peristiwa secara ilmiah.  Setiap teori adalah pertaruhan: salah atau benar-bukan dalam pengertian right/wrong, melainkan correct/incorrect berdasarkan justifikasi logika.

Kita sama-tahu, sama-sadar  bahwa metode tunggal yang ditahbiskan sebagai satu-satunya pendekatan ilmiah terhadap ilmu pengetahuan telah menarik kita secara sengit kepada kebenaran relatif.  Di satu sisi, dan dalam banyak peristiwa, hal tersebut tidak terhindarkan.

Namun, di sisi lain, satu hal yang cenderung dapat kita terima tentang kebenaran (ilmiah) adalah bahwa dia sebenarnya sederhana.  Kebenaran tidak pernah hadir secara bersamaan untuk dua instan yang, secara fundamental, kontradiktif.  Dalam konteks ini, kalau ada tiga teori yang kontradiktif dan tidak saling komplementer, maka hampir dapat dipastikan bahwa dua teori tersebut salah atau tidak sahih.

alt text

Kejujuran, Keberpihakan dan Wertfrei

Dengan tabiat kebenaran seperti di atas dan konstelasi teori-teori sedemikian supa, maka setiap intelektual pada suatu titik di dalam orbit pengembaraannya mau tidak mau harus berpihak.  Seorang pembelajar ilmu apapun tidak dapat merangkul dua teori ekonomi yang berbenturan secara bersamaan tanpa menghasilkan kontradiksi. Ia harus memilih; ia perlu berpihak.

Sebagai contoh, ada teori ekonomi tentang nilai, sebut saja teori A,  yang menyatakan bahwa nilai suatu setiap barang-ekonomi merupakan agregat dari nilai tenaga kerja yang dikerahkan untuk memproduksi barang tersebut.  Teori lain B mengatakan, nilai barang adalah perkara subyektif yang berpulang kepada masing-masing pihak pelaku transaksi ketika barang tersebut ditransaksikan.

Ada pula C  yang menyatakan bahwa nilai kepuasan yang dialami setiap individu dapat dikuantifikasikan; sementara teori D menyatakan, nilai kepuasan tersebut semata-mata subyektif dan mustahil dapat dikuantifikasikan oleh pihak lain.  Lebih lanjut, ada teori perdagangan D yang menyatakan bahwa trade deficit adalah kondisi yang dengan sendirinya merugikan posisi suatu negara; sementara teori perdagangan E mengatakan bahwa trade deficit bukanlah sesuatu yang an sich merugikan.  Suatu teori F mengatakan bahwa manusia cenderung dapat berproduksi secara lebih efektif jika ada pihak yang berfungsi sebagai perencana tunggal proses produksi; sementara teori G meneguhkan bahwa manusia justru cenderung lebih dapat berproduksi dengan cara demikian jika ia memiliki kebebasan merencanakan sendiri apa yang ingin dilakukannya.

Semua pasangan teori yang dikontraskan barusan datang dari satu disiplin ilmu sosial saja. Semua pasangan tersebut bukan teori-teori yang berkomplementer antarsatu sama lain. Masing-masing tidak saja berbeda, melainkan berbeda secara kontradiktif dari teori pasangannya.

Jika hal ini sering dialami oleh seorang ilmuwan di bidang ilmu social tertentu, bagaimana halnya dengan ilmuwan yang mencoba menggunakan pendekatan multi-disiplin?  Implikasinya, persoalannya dapat menjadi jauh lebih problematik

Dalam banyak hal ilmuwan sosial tidak memiliki kemewahan untuk memilih yang satu dengan meniadakan yang lain tanpa menimbulkan perbedaan hasil yang gamblang dan niscaya.  Oleh karena perbedaan-perbedaan yang hakiki tersebutlah maka setiap intelektual harus memilih; ia tidak pernah dapat sepenuhnya, atau selamanya, mengambil posisi relatif.

Dan hal ini tidak ada sangkut pautnya dengan posisi seorang intelektual yang seyogyanya bebas-nilai (wertfrei); melainkan ia harus mampu berpegang kepada teori yang dianggapnya sahih, dan harus bersedia melepas yang sebaliknya.

*

Ilmu Alam vs. Ilmu Sosial

Sebagian orang menganggap teori-teori ilmu alam,  yang relatif lebih eksak daripada ilmu sosial, jauh lebih unggul ketimbang teori sosial. Dari sini muncul anggapan yang lebih sering mengecoh daripada tidak, bahwa ilmu alam cenderung menuntut kemampuan intelektual yang lebih tinggi ketimbang ilmu sosial.

Dalam hal kebenaran logis, kandungan teori ilmu alam relatif lebih mudah kita pahami dan terima. Keberadaan konstanta, ketiadaan kehendak bebas (free will) pada obyek penelitian, pembuktian terhadap fakta serta berbagai eksperimentasi laboratorium dalam kondisi yang terisolasi, semuanya positif memungkinkan. Keniscayaan yang tinggi dari teori ilmu alam memperlihatkan suatu kesederhanaan tersendiri ilmu ini.

Namun, tidak demikian halnya dengan ilmu sosial.  Ilmu sosial justru lebih rumit dan lebih menuntut rigorositas pengerahan daya intelektual.  Untuk satu fenomenon yang sama, beberapa teori dapat muncul sekaligus. Keniscayaan dalam ilmu sosial relatif lebih rendah daripada dalam ilmu alam.

Beberapa tulisan terdahulu mencoba mengatakan bahwa cabang ilmu sosial ekonomi adalah semacam pengecualian.  Ilmu ini berkemampuan membuat pernyataan-pernyataan teoritis yang kebenarannya mendekati kebenaran teorema ilmu alam. Contoh-contoh teorema ekonomi telah beberapa kali diberikan di jurnal ini.

Ini menghasilkan berbagai macam implikasi-dari keunggulan tilikan ekonomi dalam membantu pemahaman social vis-à-vis keterbatasan ilmu ekonomi itu sendiri; hingga sikap ilmuwan terhadap teori-teori sosial.  Sebagian ilmuwan sosial seringkali mengalami kesulitan dalam menerima kenyataan ini.  Dan hal ini lebih dari cukup sebagai alas an untuk pertikaian.

Di sini juga tersirat pentingnya kejujuran intelektual, yang saya kira harus ada pada setiap intelektual.  Ilmuwan bukannya tidak boleh keliru, Ilmuwan bisa jadi akan terbukti salah; kesalahan bukanlah aib, bahkan justru dapat menjadi titik-balik pencerahan yang luar biasa berharga,  baik bagi ilmu pengetahuan sendiri, maupun bagi sang intelektual selaku individu yang tidak luput dari perkembangan dan perubahan.

Berbekal khasanah intelektualnya, ilmuwan intelektual sosial meneropong fenomena kehidupan sosial dalam konteks keberadaan teori-teori yang saling-saing, atau untuk memperbaiki satu teori tertentu yang selama ini diyakininya bilamana atau jikalau ternyata teori tersebut didapatinya keliru atau kurang mumpuni.

Dalam kaitan ini, mengingat perbedaan khas dalam sifat teorisasi ilmu ekonomi, maka buku-buku bunga rampai ekonomi yang mencoba memberi jalan-pintas dengan merangkum berbagai teori-teori terkait tanpa menyarikan perbedaan-perbedaan yang hakiki antarsatu dengan lainnya, dalam hemat saya, adalah kitab-kitab yang tidak perlu diterbitkan; atau jika terlanjur diterbitkan, tidak perlu dibaca.  Atau jika terlanjur harus dibaca, sang pembaca harus dapat menaburkan cukup banyak “garam” kognisi.

Konsekuensi

Betapapun elusifnya kebenaran dalam ranah ilmu sosial, keberpihakan intelektual tetap perlu.  Tanpa kebersediaan untuk menjadi demikian, maka yang akan berkembang di diri intelektual adalah semacam keterampilan belaka dalam mengoleksi teori dan melabel fenomena yang lalu-lalang di hadapannya.

Tanpa kemauan untuk berpihak, salah satu konsekuensi serius yang akan dihasilkan adalah kebingungan atau kekacauan–kebingungan atau kekacauan intelektual sosial.

Di sisi lain, jika kita menerima bahwa keberpihakan itu perlu, adakah dan apakah bahayanya dari keberpihakan tersebut?  Mungkinkah ilmuwan sosial jatuh ke dalam self-righteousness fallacy; yaitu ketika ia merasa mengetahui secara pasti apa yang tidak diketahui pihak lain?  Mungkinkah ia menjadi pemilik kebenaran? Ketika ini terjadi, mungkinkah ia menjadi seorang bigot?

Pertanyaan-pertanyaan terakhir sah adanya.  Jawaban-jawabannya, saya rasa, dapat saja menjadi positif/afirmatif.  Di sini saya tidak bermaksud menarik kesimpulan apa-apa.  Sebaliknya, saya ingin menyerahkan kesimpulannya kepada sidang pembaca.  Apapun pandangan pembaca di titik henti ini, saya hanya ingin menambahkan sedikit: apakah artinya “memiliki kebenaran” itu?   Apakah ada maknanya?  Adakah orang dapat “memiliki” kebenaran.  Seandainya metafora ini benar adanya, haruskah kita bergidik ngeri kepada kebenaran?

Dengan esei singkat ini saya telah mencoba beberapa hal sekaligus. Saya telah menyinyalir bahwa sebagian besar dari kita masih berada di tahap intellectual infancy, sehingga masih belum mampu memanfaatkan kemampuan intelektual kita secara mandiri. Saya juga menggarisbawahi bahwa seorang intelektual harus menjunjung tinggi kejujuran, dan bahwa ia–mau tidak mau, suka atau tidak suka–amat perlu, dan tidak perlu takut, memperlihatkan keberpihakannya.

[Update: 17 Sept. 2008]

Kirim artikel ini:
Share on FacebookTweet about this on TwitterShare on Google+Email this to someoneShare on RedditShare on StumbleUpon

Tulisan lain yang mungkin terkait:

Discussion

One comment for “Tentang Keberpihakan Intelektual”

  1. […] keterkaitan semua hal tersebut dalam konteks yang berbeda. (Misalnya dalam: Opini tentang Opini; Tentang Keberpihakan Intelektual; Hasil Survei A&K; dan 5 Alasan Utama… […]

    Posted by Akal & Kehendak | Informasi vs Individu Abad 21 (Bag. 3 – Tamat) | 14 December 2016, 11:28 pm

Komentari

Arsip Bulanan

Rekomendasi

buku_rothbard.jpg
Apa Yang Dilakukan Pemerintah Terhadap Uang Kita?; Oleh: Murray Newton Rothbard; PT. Granit, Yayasan Obor Indonesia; ISBN : 97897916217 -4-8; tersedia di toko-toko buku terdekat. (Intip cuplikannya).
alt text
Membela Kapitalisme Global; Oleh: Johan Norberg; FNS Jakarta; tersedia di toko-toko buku terdekat. (Baca resensinya di sini).
Economic  Activism Blogs - Blog Catalog Blog Directory
%d bloggers like this: